Skinpress Rss

Jumaat, 15 Oktober 2010

FROM MAKASSAR TO BONE

2


Besok bakalan melawat Bone untuk kedua kalinya. Bercerita tentang Bone, terkenang pula lawatan pertama kami ke sana pada 21 mac lalu. Satu pengalaman yang berharga yang sukar untuk dilupakan.
Dalam kekalutan menelaah pelajaran buat menghadapi ujian final sistem Gastroenterohepatologi, seseorang telah menegur diri lewat salah satu web di dunia maya. Dari situ terbina satu perkenalan yang sangat tak disangka-sangka. Ya, begitulah penyusunan Allah Yang Maha Teliti.. apabila DIA berkehendak.. maka semuanya akan berlaku sesuai dengan kehendakNya.
Dari perkenalan itu diri mengetahui bahawa masih ada anak Malaysia yang belajar di tanah kelahiran Wali Songo selain dari kami yang mengambil jurusan Kedokteran dan farmasi di Universitas Hasanuddin, Makassar. Mereka ini sedang melanjutkan pelajaran dalam bidang agama dan ekonomi di salah satu sekolah tinggi di kebupaten Bone. Walau sudah 3 tahun di Sulawesi, mereka tidak mengetahui akan kewujudan Persatuan Pelajar yang menjadi rujukan kepada Kedutaan Besar Malaysia di Indonesia. Yang menjalankan tanggungjawab untuk menjaga kebajikan warga Malaysia di sini.
Diringkaskan cerita, perkenalan ini ku khabarkan kepada sahabat-sahabat dunia akhiratku sepertimana lazimnya. Hingga persoalan demi persoalan muncul atas dasar prihatin dan peduli pada rakan senegara hingga tercetuslah idea untuk menziarahi mereka di sana usia imtihan kabir.
Dengan izin Allah, kami berlima ditemani seorang wakil dari pihak muslimin atas pertimbangan keselamatan berangkat ke Bone tanggal 21 Mac 2010. Waktu itu minggu kedua perkuliyahan traumatologi. Perjalanan ke Bone mengambil masa 4 jam dengan jalanan lereng bukit yang bersimpang siur. Namun indahnya saujana mata memandang menghilangkan sengal-sengal sendi yang coba memanjat. Diri yang memang dari awal punya “motion sickness” hanya berjaga tak lebih dari 2 jam lantaran mual muntah yang membadai.
Tiba di kota Watanpone kebupaten Bone jam 1 siang. Berjanjian dengan Ros, kenalanku yang baru pertama kali mahu ketemu di hadapan masjid besar Bone. Kelibat tudung polos bidang 60 dengan baju kurung yang menjadi identiti bangsa memudahkan kami mengenali sahabat itu walau tak pernah sekalipun melihat gambarnya di internet. Setelah bersalaman secara jamaie kami saling memperkenalkan diri supaya manik-manik ukhuwwah yang baru terbina tersemai dengan lancar. Kami juga turut berkenalan dengan AAM, pelajar S2 bidang ekonomi yang merupakan lulusan UIAM. AA adalah seorang pelajar aktif yang menerajui persatuan pelajar (MPP/BEM, Badan Eksekutif Mahasiswa) di kampus.

Kami bermalam di rumah kos Ros dan malam itu berpeluang bertaaruf dan menyelami kehidupannya sesuai dengan tujuan utama kami datang. Dari perkenalan itu, terbukalah kitab hidupnya yang penuh onak duri, kerikil batu dan awan mendung yang menyelimuti perjalanannya hingga dia bisa lolos demi melanjutkan pelajaran di peringkat yang lebih tinggi. Ya, Ros telah menjadi mangsa kepada ketidak cekapan sistem imigrasi Sabah yang akhirnya menafikan kewarganegaraannya sebagai anak jati Malaysia. Ini menyebabkan haknya untuk mewarisi tanah, melanjutkan pelajaran dan semuanya terhalang. Usaha kerasnya berjuang untuk mendapatkan keputusan cemerlang dalam pelajaran demi melanjutkan pendidikan ibarat sia-sia.
Akhirnya dia ada di sini, mengadu nasib dan mencoba untung di tanah Sultan Hasanuddin lantaran ada pertolongan dari saudara maranya yang ada di sini. Alhamdulillah Allah masih menyanyanginya dengan memberinya peluang melanjutkan pelajaran dalam bidang syariah. Sempat air mata mengalir mengenangkan liku-liku hidup sahabatku serta melihat kesederhanaan hidupnya yang tidur beralaskan tilam tipis, tidak berkipas, tidak bermeja dan tiada perabot apapun di kamar kecilnya. Memasak juga Cuma menggunakan dapur kompor yang masih menggunakan minyak tanah. Perbelanjaan bulanan juga terpaksa sangat berjimat lantaran uang kiriman dari kakaknya cuma RM200 per bulan. Namun di dalam kesederhanaannya dia tetap gembira dan menikmati hidup apa adanya.
Berbanding kami di Makassar, sudahlah ibu kota SulSel, hidup dalam kondisi yang serba lengkap. Kamar sudah taraf perpustakaan.. buku rujukan serba ada. Jangan dikata almari dan kipas, peti sejuk, mesin cuci pakaian bahkan televisyen juga kami punya. Laptop dan telefon genggam tidak usah di kira. Begitupun masih lagi banyak merungut dan merasa tak cukup. Astagfirullahal adzim..

Sepanjang lebih kurang 2 hari di Bone, Ros dan AA sempat membawa kami melawat kampus kebanggaan mereka di samping tempat-tempat wisata seperti taman bunga, rumah adat bugis, dan Tanjung Pallate. Kami juga di bawa ke pusat membeli belah yang sering mereka kunjungi buat membeli kelengkapan hidup seharian. Walaupun dalam keadaan yang sangat sederhana, layanan yang mereka berikan sangat istimewa.
Hari minggu menjelma. Kami akan berangkat pulang ke Makassar berikutan Isnin sudah mulai kuliyah. Walau masa berada di Bone amat singkat, namun syu’ur yang terbina mengikat kita dalam kasih sayangNya. Benarlah apabila berkasih sayang semata-mata kerana Allah, kita tidak memerlukan sebab atau alasan. Semoga saja kami diberikan lagi kesempatan untuk mengunjingi mereka lagi..

2 ulasan:

Catat Ulasan