Menginjak tahun ke-5 keberadaan diri di Makassar baru tahu
tempat yang namanya Workshop, Bandar Mahasiswa yang letaknya di belakang Kampus
Merah Unhas, tempat mahasiswa menyewa kosan alias (rumah sewa)… murah meriah
makanan disana.. melewati jalanan kecil itu bersama Rahmah, teman terbaikku
membuatkan ia menjadi taman kenangan. Sejak menjalani fase co-assistancy fase
kedua, baru diri berpeluang sering bertemu dengan Rahma di Rumah Sakit. Kerna beliau
juga stase Bedah. Meski tidak satu bangsal namun hampir sama jadual kerjanya..
-----------------n------a--------r-r---a------------t--------i----------o-------n------------------
Kamu tahu Rahma, kali pertama kamu mengajakku minum es
kelapa di Workshop, saat itu sangat canggung kurasa. minum di warung tepi jalan
dan tepi parit besar sepertinya kurang hyginis. Namun aku suka suasananya. Suka
saat menjalani detik-detik itu bersamamu.. hingga ia menjadi rutinitas kita
kapan ada kelapangan waktu setelah jam kerja. Mungkin es kelapa itu hanya
alasan supaya kita bisa duduk-duduk sambil bercerita tentang banyak hal. Melepaskan
beban dan tekanan yang memberat di pundak. Iya hanya sepenggal waktu disela
kesibukan untuk terus menuai sayang dan menghidupkan rasa.
Aku suka saat kita berkongsi sepiring nasi goreng demi
membeli sedikit waktu bersama, suka saat kita bolak balik menyusuri jalanan
kecil Workshop untuk mencari bengkel gara-gara ban motor yang sempat bocor..saat
keringat jantan menuruni jidat dan kita sama-sama tertawa lucu saat akhirnya
ketemu bengkel disudut masuk Workshop.. Aku suka saat kita berhujan-hujan ke
sana, dan tetap memesan es kelapa dikala hujan keras menyimbah bumi, meminumnya
dalam keadaan menggigil gara-gara kamu lagi ingin sekali.. Aku suka saat kita menebalkan muka untuk
berfoto-foto disitu meski orang-orang pada hairan, “kok foto di warung begini??”..Workshop
ini sepertinya hanya milik kau dan aku.
Saat kamu mengatakan bahawa kamu akan pergi sedikit waktu
lagi,menyeberang laut ke tempat kakakmu, ia seperti sayatan-sayatan kecil yang
merobek-robek pembungkus hati yang punya selirat saraf terkaya. Menyakitkan. Tidak
tahu kapan kamu akan kembali.. saat kamu pergi jauh, akan adakah lagi peluang
untuk kita menjalani hal-hal sederhana seperti ini lagi? Minum es kelapa di
warung sederhana.. bercerita hal yang sederhana.. Haruskah semua orang yang
akrab denganku pergi sejauh itu? Meski tidak menggunakan paspor dan visa untuk
merentas wilayah, namun hamparan laut yang luas membuatkan pertemuan itu
menjadi hal yang mustahil. Saat hanya diperbolehkan untuk merindu, tapi tidak
lagi berharap untuk bertemu..
Rasa begini sudah cukup menua.. kerna merindui itu sangat
melelahkan. Saat waktu akan merubah kita masing-masing. Dan nanti, untuk
bertanya “gimana kabarmu?” juga sudah kedengaran agak canggung. Paling-paling “baik”
dan diam lagi…Aku tahu, kita akan berpisah juga pada akhirnya..namun tidak secepat ini.. sungguh tidak secepat ini. Tidak bisakah perpisahan itu ditangguhkan dulu? Tidak bisakah kita
menghidupkan lebih banyak waktu.. Aku sudah cukup
lelah untuk merindui Fit.. Kak Anhy.. Iyan.. Ochy dan sekarang kamu lagi..
Seorang pernah berkata “jangan pernah putus untuk berharap. Jangan
pernah berkata selamat tinggal tapi berkatalah semoga bertemu lagi..”
Selalu ada harapan untuk sebuah pertemuan..


0 ulasan:
Catat Ulasan