Skinpress Rss

Selasa, 19 Oktober 2010

DE SUSHI

0


18 Oktober kemarin, diri telah berpeluang untuk menjejakkan kaki ke salah satu kedai sishi yang telah sekian lama dicari. Itupun dibawa oleh salah seorang teman dari kelas Internasional. Owh, rupanya ada kedai sushi di Makassar ini. Kenapalah tak pernah tahu. Ha lepas ini tak perlulah susah-susah import beras sushi dan seaweed dari Malaysia setiap kali balik. Hm tapi sebenarnya kalau masak sendiri lebih puas hati bila makan.

Toko sushi ini terletak dekat Pantai Losari dengan lokasi yang lebih tepatnya berhampiran dengan pintu masuk pusat cenderamata Makassar. Tak susahpun untuk ke sana. Kami menaiki pete-pete (angkot kota) 05 hingga ke Hotel Singgahsana. Dari sana, kami mengambil taksi ke Restoran Ayam Solo Selatan (kerana Restoran De Sushi terletak berhampiran dengan restoran tersebut). Biaya perjalanan yang kami keluarkan cuma Rp 3000 untuk pete-pete dan Rp5000 untuk taksi.

Bercerita tentang sushi, pertama kali diri mengenali sushi lewat kakakku yang tersayang. Pada mulanya tidak begitu suka dengan Japanese crusine ini tapi lama kelamaan ia menjadi kegemaran kami bersaudara. Lebih terkesan setelah diri melanjutkan pelajaran ke Indonesia, mungkin kerna di sini belum pernah menemui sushi makanya setiap kali pulang pasti kakakku yang menjadi mangsa ajakan ku untuk makan di Sushi King, salah satu restoran sushi yang masyhur di Malaysia.

Pernah ada temanku bertanya, “Apa tu sushi?” what, ada orang tak tahu apa tu sushi? Alamak susahnya nak jawab. Lebih parah bila ditanya, “bagaimana sejarah adanya terwujud makanan yang namanya sushi?”. Tak pernah terfikir pula ada orang yang akan tanya soalan tu. Buat temanku, ini sedikit maklumat tentang sushi yang diri juga baru baca dari internet. Terima kasih kerana bertanya.

Sushi (鮨, 鮓, atau biasanya すし, 寿司?) adalah makanan Jepun (Jepang) yang terdiri dari nasi yang dibentuk bersama lauk (neta) berupa makanan laut, daging, sayuran mentah atau sudah dimasak. Nasi sushi mempunyai rasa masam yang lembut karena dibumbui campuran cuka beras, garam, dan gula.

Konon kebiasaan mengawetkan ikan dengan menggunakan beras dan cuka berasal dari daerah pegunungan di Asia Tenggara. Istilah sushi berasal dari bentuk tata bahasa kuno yang tidak lagi dipergunakan dalam konteks lain; secara harfiah, "sushi" berarti "itu (berasa) masam", suatu gambaran mengenai proses fermentasi dalam sejarah akar katanya. Dasar ilmiah di balik proses fermentasi ikan yang dikemas di dalam nasi ialah bahwa cuka yang dihasilkan dari fermentasi nasi menguraikan asam amino dari daging ikan. Hasilnya ialah salah satu dari lima rasa dasar, yang disebut umami dalam bahasa Jepun (Jepang).

Sebelum zaman Edo, sebagian besar sushi yang dikenal di Jepang adalah jenis oshizushi (sushi yang dibentuk dengan cara ditekan-tekan di dalam wadah kayu persegi). Pada zaman dulu, orang Jepang mungkin kuat makan karena sushi selalu dihidangkan dalam porsi besar. Sushi sebanyak 1 kan (1 porsi) setara dengan 9 kan (9 porsi) sushi zaman sekarang, atau kira-kira sama dengan 18 kepal sushi (360 gram). Satu porsi sushi zaman dulu yang disebut ikkanzushi mempunyai neta yang terdiri dari 9 jenis makanan laut atau lebih.

Pada zaman Edo periode akhir, di Jepang mulai dikenal bentuk awal dari nigirizushi. Namun ukuran porsi nigirizushi sudah dikurangi agar lebih mudah dinikmati. Ahli sushi bernama Hanaya Yohei menciptakan sushi jenis baru yang sekarang disebut edomaezushi. Namun ukuran sushi ciptaannya besar-besar seperti onigiri. Pada masa itu, teknik pendinginan ikan masih belum maju. Akibatnya, ikan yang diambil dari laut sekitar Jepang harus diolah lebih dulu agar tidak rusak bila dijadikan sushi.
Sampai tahun 1970-an sushi masih merupakan makanan mewah. Rakyat biasa di Jepun (Jepang) hanya makan sushi untuk merayakan acara-acara khusus, dan terbatas pada sushi pesan-antar. Dalam manga, sering digambarkan pegawai kantor yang pulang tengah malam ke rumah dalam keadaan mabuk. Oleh-oleh yang dibawa untuk menyogok istri yang menunggu di rumah adalah sushi. Walaupun rumah makan kaitenzushi yang pertama sudah dibuka tahun 1958 di Osaka, penyebarannya ke daerah-daerah lain di Jepun (Jepang) memakan waktu lama. Makan sushi sebagai acara seluruh anggota keluarga terwujud di tahun 1980-an sejalan dengan makin meluasnya kaitenzushi.

Keberhasilan kaitenzushi mendorong perusahaan makanan untuk memperkenalkan berbagai macam bumbu sushi instan yang memudahkan ibu rumah tangga membuat sushi di rumah. chirashizushi atau temakizushi dapat dibuat dengan bumbu instan ditambah nasi, makanan laut, tamagoyaki dan nori.

Istilah khusus

Restoran sushi atau sushi bar di Jepang mempunyai istilah-istilah khusus yang memiliki arti lain dalam bahasa Jepang standar.

• Agari (teh hijau)
• Otesho (kecap asin) atau disebut tamari di daerah Kansai
• Kappa (mentimun)
• Gari (asinan jahe)
• Gyoku (tamagoyaki atau dashimaki)
• Kusa (nori)
• Gunkan (sushi yang dikelilingi oleh nori)
• Shari (nasi untuk sushi)
• Tsume atau nitsume (saus kental rasa manis-asin yang dioleskan pada anago, kerang hamaguri atau neta sejenis yang rasanya hambar)
• Toro (bagian perut ikan tuna), dibagi-bagi lagi menurut kadar lemak: ootoro dan chutoro
• Namida atau sabi (wasabi)
• Haran atau baran (daun hijau penghias sushi, sekarang dipakai daun plastik)
• Murasaki (kecap asin)

Semalam, kami memesan 5 jenis sushi Salmon Smoothies, Rock and Roll, Crunchy Spicy Shrimp, Dragon Roll dan Salmon Skin Roll. Rasanya enak dan harganya juga lumayan.

0 ulasan:

Catat Ulasan