“Mai lebaran dirumahnya kakak saja yah. Soalnya kasian ma
ibunya kakak gak ada yang temanin. Cuman berdua dirumah kalau ayahnya kakak gak
kerja”
Sms dari kak Risma benar-benar membuat Mai serba salah.
Bukan tidak mahu, tapi di satu sisi,Mai yang selaku senior tahun akhir dan
mantan sekertaris organisasi Kebajikan Persatuan Pelajar Malaysia di Indonesia
punya tanggungjawab untuk mengurus adik-adiknya yang semakin ramai dan
memerlukan perhatiannya. Sambutan Hari Raya Aidiladha adalah salah satu program
andalan PKPMI memandangkan pada sambutan ini, kebanyakan warga Malaysia yang
sementara melanjutkan kuliah di bumi Makassar ini tidak pulang ke tanah air
disebabkan kekangan libur pendek dan yang harus tetap bertugas di rumah sakit. Jadi
biasanya sambutannya akan diadakan besar-besaran.

Disinilah warga PKPMI akan mengambil peluang untuk saling
berkenalan dan mengeratkan silaturrahim. Biasanya, persatuan akan mengadakan
solat sunat aidiladha bersama-sama dan dilanjutkan dengan khutbah aidiladha
oleh salah seorang senior atau dipanggil ustaz yang berkesempatan untuk
memberikan khutbah.selesai itu, berbekal dana yang diberikan oleh pihak
pemerintah untuk kebajikan mahasiswa disini, persatuan akan membeli seekor sapi
untuk dikorbankan dan dilanjut dengan acara masak dan makan bersama. Nah disinilah
lahan untuk para mahasiswa saling meluah cerita menambah akrabkan silaturrahim
sambil mengusir pergi rasa sunyi dan rindu akan keluarga saat takbir menggema
di persada maya. Mahasiswa Malaysia disini sudah seperti saudara kandung. Yang senior
dihormati, yang junior disayangi. tidak ada istilah “gap” dan “malu-malu kucing”.
Itulah persaudaraan yang lahir hasil dari kebersamaan.
Mai masih berpikir.. di satu sisi yang lain, Mai sudah terlanjur dekat sama ibu dan ayahnya
Kak Risma. Sudah beberapa kali juga Mai ke rumahnya Kak Risma meski Kak Risma
jauh di Surabaya. Kalau bicara tentang telponan sama ibunya Kak Risma, sudah
terhitung sering..tiap minggu malah. Bahkan ibu Kak Risma sudah mengganggap Mai
seperti anak sendiri. Itu yang membuat Mai betah dengan keluarga Kak Risma.Kak
Risma hanya 2 bersaudara. Kakak pertamanya yang cowok dan dia sendiri. Kakak
pertama kak Risma bekerja di luar negeri. Liburnya tidak tentu. Jarang benar
beliau boleh pulang tepat waktu sempena lebaran dan sebagainya. Kak Risma
sendiri diterima sebagai pegawai negeri di Surabaya dan beliau sudah bertugas
disana hampir 3 tahun. Pulang ke kampung juga tidak menentu. Tinggal ayah dan
ibu kakak berdua menghuni istana cinta mereka di Sidrap. Kadang ditemani
ponakan Kak Risma yang tinggal tidak jauh dari rumah.
“ InsyaAllah kakak. Tapi jika Mai setelah solat eid baru
berangkat ke sana gak apa-apa kan? ^_^” akhirnya Mai mengalah. Tidak ada
salahnya menyambung silaturrahmi dengan keluarga Kak Risma.
“Alhamdulillah kalau ghitu sayang. Nanti kakak kabari ibu. Soalnya
ibu sudah siap menunggu Mai dirumah”. Kak Risma senang sekali.
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar…La Ila Ha Illallahu
Wa Allahu Akbar..Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd..
Takbir Kemenangan yang menjadi symbol keagungan pengorbanan
menggema penjuru alam. Alhamdulillah akhirnya saat ini tiba. Seperti yang
dijanjikan, Mai berangkat ke rumah Kak Risma selesai solat Aidiladha dan makan
pagi bersama-sama junior dan teman seperjuangannya. Berfoto-foto yang
sepertinya sudah menjadi adat serta menyaksikan penyembelihan haiwan korban. Mai
tidak mahu terlalu lambat nanti tiba di Sidrap. Kasihan ibunya Kak Risma yang
menunggu.
Jam 10 pagi. Mai sudah tiba diperkarangan rumah Kak Risma
bertemankan motor HondaBeat putihnya. Ibu Kak Risma lansung memeluk erat Mai
diikuti tante-tantenya Kak Risma yang kebetulan bertandang. Sedang membantu di
dapur, tiba-tiba
“Najlaa Rumaisa’!!” namanya diseru.
Tersentak. Belum sempat dia berbalik, tubuhnya sudah
dirangkul dari belakang. Mai segera tahu kalau itu adalah Kak Risma.
“MasyaAllah kakak.. Kok nda bilang-bilang kalau pulang.” Mai
segera menyalami Kak Risma sebaik rangkulan dilepas. Pipi gebu kakak kesayangan
itu dicium sebelum tubuhnya membalas rangkulan Kak Risma.
“Lah kan yang namanya surprise buat Mai, masa’ dibilang..
gak surprise lagi kalau gitu donk” senyum dibalas senyum.rindu yang membeku. Hanya
bicara sufi yang mampu mencurah luapan rasa yang semakin mencair bahkan meleleh
di suhu kehangatan kasih berpusar arus ini. Mereka tenggelam didalamnya. Bahkan
airmata saja tidak mampu keluar untuk mengganggu.
“Balas-balas senyum mulu. Ajak itu Mai minum air es kelapa
dulu baru lanjut tatap tatapan..haha.” Teguran Kak Mukrim, suaminya Kak Risma
dari belakang menyentak mereka dari tatapan kasih tersebut dan mengembalikan ke
dunia nyata.
“Yuk Mai, minum es kelapa kegemaran Mai..hihi” Kak Risma
gesit menarik tangan Mai ke hadapan sambil sebelah tangannya menjenjeng tas
besar yang dibawa dari Surabaya.
Kak Risma baru tiba
dari Surabaya setelah berangkat dari sana usai solat eid pagi tadi. Di Surabaya
Kak Risma bekerja sebagai ahli gizi di salah satu Puskesmas terpencil yang
menjadikan signal telpon genggam suatu barang berharga mahal. Listrik disita 12
jam membuat malam gelap gulita tanpa semburat cahaya. Modem internet seakan
putus asa untuk berkhidmat namun tetap harus bertahan demi kebaikan buat orang
banyak yang membutuhkan. Dari Bandar Surabaya ke tempat bertugas Kak Risma
harus menaiki kapal kecil yang menyusuri sungai kecil yang berkelok-kelok. Hidup
terpisah dari suami tercinta hampir tiga tahun tak menjadikan Kak Risma lemah. Bahkan
sebaliknya beliau semakin kuat semangat dan tabah menempuh ujian yang
mendatang.

Terkenang perkenalan pertama dengan Kak Risma melalui
MukaBuku. Waktu itu Mai memang memerlukan sosok seorang sahabat. Entah badai
sepi dari mana yang melanda pantai hatinya saat itu. Mai teringat ada seorang
teman mensugesti Kak Risma atas alasan kalau Kak Risma satu almamater sama
dirinya. Almamater Unhas. Hatinya tergerak untuk mengenali kakak itu dengan
lebih dekat. Sudah beberapa waktu sejak Kak Rismayanti Wahab itu bergelar
temannya di facebook. Tapi tidak pernah satu kalipun dia berpeluang menegur. Akhirnya,
dia menyapa juga. Bertanya itu ini. Pertama kali Kak Risma membalas pesannya,
Mai merasa ada aura tersendiri pada diri Kak Risma yang terus menariknya untuk
dekat dengannya. Kak Risma punya aura seperti kakaknya, Kak Na’ilah
Alfarafisyah..Kakak kandung yang dikagumi dan selalu dirindui saban waktu.
Apalagi Kak Risma dan Kak Na’ilah lahir pada tahun yang sama 1985. Pesan demi
pesan melayang, telpon demi telpon berganti. Ukhuwah antara Mai dan Kak Risma kian
memekar. Pertama kali berpeluang ketemu saat Kak Risma kembali ke kampung dan
turun ke Makassar pada ulangtahun Mai tahun lalu. Ya, itu pertemuan pertama
mereka yang diisi dengan 2menit malu-malu sebelum semuanya sirna dan seperti
sudah lama benar mengenal. Mereka heboh bertukar cerita sambil tertawa sampai
hampir lupa akan kehadiran Kak Mukrim disitu.
“Mai tambah lagi, gak usah malu-malu. Kalau malu, kakak yang
kasi habis semuanya”..
Kak Mukrim mencelah memecahkan lamunan Mai. Mai
tersenyum sambil mengangguk-angguk kecil. Kak Mukrim Fawwaz, adalah seniornya
dikampus. Tepatnya asisten dosen dibidang mikrobiologi yang digilai ramai dan
sering mendampingi laboratorium mikrobiologi sewaktu dia masih di alam kuliah. Kak Mukrim
yang humoris, pintar mengajar, alim dan baik hati itu pasti saja tidak
mengenalnya lantaran dia hanyalah salah satu dari ratusan anak kuliah yang
dibimbing dalam laboratorium mikrobiologi tersebut. Pertama kali mengetahui Kak
Risma adalah istrinya Kak Mukrim, Mai hampir saja syok berat. Speechless. How small
world. Mahu pingsan juga ada. Tapi yah sudahlah. Dia terlanjur akrab dengan Kak
Risma.
“Mai tidur disinikan bentar malam.. nanti kita sama-sama
pergi dirumahnya tante kakak dikota..”
Kak Risma setengah mendesak.
“Errr….” Mai segan sebenarnya. Tidak enak mahu merepotkan. Tapi
seakan tertahan untuk mengatakan itu. Apalagi rindunya pada Kak Risma belum
tuntas.
“Mai udah janji dulu. Jadi gak ada alasan untuk nolak”
separuh tegas. Tersenyum. Merasa kemenangan dipihaknya.
Mai terpaksa akur.
Selesai makan dan solat, Kak Risma membawa Mai ke kamar
bujangnya. Kamar yang ditempati sebelum beliau menikah dulu.
“Maaf ya Mai, kamar ini agak kecil dan kotor. Soalnya Kakak
disini waktu kakak SMA sampai kuliah dulu..bentar kakak ganti alasnya”kata Kak
Risma sambil lincah ke kamarnya mencari alas baru.
Mai memerhati sekeliling. Didinding-dinding tertempel poster
F4 dan Barbie Xu yang pernah terkenal gara-gara sinetron, Meteor Garden yang
dimainkan ditelevesi dan sempat membudaya dikalangan remaja dimasa itu. Ada juga
stiker Doraemon yang menjadi andalannya sampai sekarang.tersenyum. Kak Risma
juga pernah mengalami masa-masa remaja yang mencemaskan. Menggilai artis-artis
yang menghiasi layar televesi.
“Itulah hasil kreativitas jaman-jaman jahiliyah dulu” kata
kak Risma separuh ketawa. Mereka sama-sama ketawa. Kak Risma duduk disamping
Mai. Menggapai album jaman kecilnya sambil menunjukkannya kepada Mai. Setiap satu
dijelaskan dengan teliti. Memutarkan lagi nilai-nilai memori yang terkandung
didalamnya. Mereka ketawa lepas sambil bertukar cerita lucu bersama. Hingga akhirnya
mereka sama-sama tertidur dikasur kecil itu. Sama seperti yang sering dijalani
Mai bersama Kak Na’ilah saat pulng libur. Mai jadi rindu..

Selesai solat asar, mereka bersiap-siap untuk ke rumah
tantenya Kak Risma di kot. Kak Risma menyedia dan menyeterika bajunya untuk
dipakai Mai. Kerna Mai memangnya tidak membawa persiapan pakaian lantaran tidak
berencana untuk menginap. Mai hampir saja meneteskan airmata saat itu. Benar-benar
ada bayang Kak Na’ilah dalam diri Kak Risma. Sepertinya Tuhan sedang memujuk
dirinya yang sepi di Negara orang demi menimba ilmu. Dia yang tidak
berkesempatan untuk bermanja dengan Kak Na’ilah sepanjang usia remaja-dewasanya
ini. Dia yang tidak sebebas dulu bercerita itu ini pada Kak Na’ilah kerna
khawatir akan membuat kakaknya itu diamuk gelisah. Dia yang harus selalu berpura-pura
kuat dan tegar. Ya Tuhan memberikannya keserasian dengan Kak Risma. Meski beda
budaya, beda keturunan. Beda latar belakang. Namun Tuhan mengajarnya banyak hal
lewat Kak Risma sama seperti waktunya bersama Kak Na’ilah. Tuhan memberinya
keluarga baru lewat perkenalannya dengan Kak Risma.
Sepanjang dirumah tante, Mai diperkenalkan kepada
saudara-saudara Kak Risma sebagai adiknya. Dan Kak Risma dengan sabar
menjelaskan satu-satu salasilah keluarganya itu kepada Mai. Disambut hangat
oleh keluarga besarnya Kak Risma membuat Mai merasa berada di keluarga sendiri.
Subhanallah, sungguh ini adalah pemberian Tuhan yang sangat bernilai buat Mai. Sampai
kapanpun dia tidak bakal lupa dengan momen-momen yang dia lalui hari ini. Dan pasti…pasti
dia akan merindui semua ini saat dia pulang ke Malaysia nanti.
Pulang dirumah, mereka mulai sibuk lagi. Bersiap-siap
barbiqu. Mahu bakar bebek (itik) katanya. Sama-sama sibuk membakar dan memasak
dihalaman rumah. Sambil bersembang-sembang bersama sepupu-sepupu Kak Risma yang
ikut nimbrung di situ.

“Kita mahu bikin nasu palekko. Khan Mai mahu coba nasu palekko.
Keahliannya Kak Mukrim itu..” Bisik Kak Risma sambil menyentuh bahu Mai yang
sedang sibuk membakar bebek. Mai tersentak. Bagi etnis Bugis, “Nasu palekko”
atau hidangan bebek cincang sudah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu,
Pasalnya, menu yang satu ini terkadang dijadikan sebagai menu wajib jika warga
melangsungkan pesta hajatan. Mai pernah bilang sama Kak Risma satu waktu dulu
bahwa dia ingin mencoba masakan itu sebelum pulang. Waktu itu hanya bicara
ringan. Tidak terlalu penting. Dan dia hanya meluahkan perasaan dengan bebas. Tidak
disangkanya Kak Risma masih ingat akan kata-katanya itu. Dan dia mencoba untuk
memunaikannya. Mai tambah-tambah lagi terharu. Airmatanya lewat batas empangan.
Luruh jua dengan sifat sensitive Kak Risma pada dirinya meski dia bukanlah
siapa-siapa.
.............bersambung...........................