Skinpress Rss

Rabu, 31 Oktober 2012

ZUNEIGUNG PART 1

4


“Mai lebaran dirumahnya kakak saja yah. Soalnya kasian ma ibunya kakak gak ada yang temanin. Cuman berdua dirumah kalau ayahnya kakak gak kerja”

Sms dari kak Risma benar-benar membuat Mai serba salah. Bukan tidak mahu, tapi di satu sisi,Mai yang selaku senior tahun akhir dan mantan sekertaris organisasi Kebajikan Persatuan Pelajar Malaysia di Indonesia punya tanggungjawab untuk mengurus adik-adiknya yang semakin ramai dan memerlukan perhatiannya. Sambutan Hari Raya Aidiladha adalah salah satu program andalan PKPMI memandangkan pada sambutan ini, kebanyakan warga Malaysia yang sementara melanjutkan kuliah di bumi Makassar ini tidak pulang ke tanah air disebabkan kekangan libur pendek dan yang harus tetap bertugas di rumah sakit. Jadi biasanya sambutannya akan diadakan besar-besaran.

Disinilah warga PKPMI akan mengambil peluang untuk saling berkenalan dan mengeratkan silaturrahim. Biasanya, persatuan akan mengadakan solat sunat aidiladha bersama-sama dan dilanjutkan dengan khutbah aidiladha oleh salah seorang senior atau dipanggil ustaz yang berkesempatan untuk memberikan khutbah.selesai itu, berbekal dana yang diberikan oleh pihak pemerintah untuk kebajikan mahasiswa disini, persatuan akan membeli seekor sapi untuk dikorbankan dan dilanjut dengan acara masak dan makan bersama. Nah disinilah lahan untuk para mahasiswa saling meluah cerita menambah akrabkan silaturrahim sambil mengusir pergi rasa sunyi dan rindu akan keluarga saat takbir menggema di persada maya. Mahasiswa Malaysia disini sudah seperti saudara kandung. Yang senior dihormati, yang junior disayangi. tidak ada istilah “gap” dan “malu-malu kucing”. Itulah persaudaraan yang lahir hasil dari kebersamaan.

Mai masih berpikir.. di satu sisi yang lain,  Mai sudah terlanjur dekat sama ibu dan ayahnya Kak Risma. Sudah beberapa kali juga Mai ke rumahnya Kak Risma meski Kak Risma jauh di Surabaya. Kalau bicara tentang telponan sama ibunya Kak Risma, sudah terhitung sering..tiap minggu malah. Bahkan ibu Kak Risma sudah mengganggap Mai seperti anak sendiri. Itu yang membuat Mai betah dengan keluarga Kak Risma.Kak Risma hanya 2 bersaudara. Kakak pertamanya yang cowok dan dia sendiri. Kakak pertama kak Risma bekerja di luar negeri. Liburnya tidak tentu. Jarang benar beliau boleh pulang tepat waktu sempena lebaran dan sebagainya. Kak Risma sendiri diterima sebagai pegawai negeri di Surabaya dan beliau sudah bertugas disana hampir 3 tahun. Pulang ke kampung juga tidak menentu. Tinggal ayah dan ibu kakak berdua menghuni istana cinta mereka di Sidrap. Kadang ditemani ponakan Kak Risma yang tinggal tidak jauh dari rumah.

“ InsyaAllah kakak. Tapi jika Mai setelah solat eid baru berangkat ke sana gak apa-apa kan? ^_^” akhirnya Mai mengalah. Tidak ada salahnya menyambung silaturrahmi dengan keluarga Kak Risma.
“Alhamdulillah kalau ghitu sayang. Nanti kakak kabari ibu. Soalnya ibu sudah siap menunggu Mai dirumah”. Kak Risma senang sekali.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar…La Ila Ha Illallahu Wa Allahu Akbar..Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd..

Takbir Kemenangan yang menjadi symbol keagungan pengorbanan menggema penjuru alam. Alhamdulillah akhirnya saat ini tiba. Seperti yang dijanjikan, Mai berangkat ke rumah Kak Risma selesai solat Aidiladha dan makan pagi bersama-sama junior dan teman seperjuangannya. Berfoto-foto yang sepertinya sudah menjadi adat serta menyaksikan penyembelihan haiwan korban. Mai tidak mahu terlalu lambat nanti tiba di Sidrap. Kasihan ibunya Kak Risma yang menunggu.

Jam 10 pagi. Mai sudah tiba diperkarangan rumah Kak Risma bertemankan motor HondaBeat putihnya. Ibu Kak Risma lansung memeluk erat Mai diikuti tante-tantenya Kak Risma yang kebetulan bertandang. Sedang membantu di dapur, tiba-tiba

“Najlaa Rumaisa’!!” namanya diseru.

Tersentak. Belum sempat dia berbalik, tubuhnya sudah dirangkul dari belakang. Mai segera tahu kalau itu adalah Kak Risma.

“MasyaAllah kakak.. Kok nda bilang-bilang kalau pulang.” Mai segera menyalami Kak Risma sebaik rangkulan dilepas. Pipi gebu kakak kesayangan itu dicium sebelum tubuhnya membalas rangkulan Kak Risma.

“Lah kan yang namanya surprise buat Mai, masa’ dibilang.. gak surprise lagi kalau gitu donk” senyum dibalas senyum.rindu yang membeku. Hanya bicara sufi yang mampu mencurah luapan rasa yang semakin mencair bahkan meleleh di suhu kehangatan kasih berpusar arus ini. Mereka tenggelam didalamnya. Bahkan airmata saja tidak mampu keluar untuk mengganggu.

“Balas-balas senyum mulu. Ajak itu Mai minum air es kelapa dulu baru lanjut tatap tatapan..haha.” Teguran Kak Mukrim, suaminya Kak Risma dari belakang menyentak mereka dari tatapan kasih tersebut dan mengembalikan ke dunia nyata.

“Yuk Mai, minum es kelapa kegemaran Mai..hihi” Kak Risma gesit menarik tangan Mai ke hadapan sambil sebelah tangannya menjenjeng tas besar yang dibawa dari Surabaya.

 Kak Risma baru tiba dari Surabaya setelah berangkat dari sana usai solat eid pagi tadi. Di Surabaya Kak Risma bekerja sebagai ahli gizi di salah satu Puskesmas terpencil yang menjadikan signal telpon genggam suatu barang berharga mahal. Listrik disita 12 jam membuat malam gelap gulita tanpa semburat cahaya. Modem internet seakan putus asa untuk berkhidmat namun tetap harus bertahan demi kebaikan buat orang banyak yang membutuhkan. Dari Bandar Surabaya ke tempat bertugas Kak Risma harus menaiki kapal kecil yang menyusuri sungai kecil yang berkelok-kelok. Hidup terpisah dari suami tercinta hampir tiga tahun tak menjadikan Kak Risma lemah. Bahkan sebaliknya beliau semakin kuat semangat dan tabah menempuh ujian yang mendatang.

Terkenang perkenalan pertama dengan Kak Risma melalui MukaBuku. Waktu itu Mai memang memerlukan sosok seorang sahabat. Entah badai sepi dari mana yang melanda pantai hatinya saat itu. Mai teringat ada seorang teman mensugesti Kak Risma atas alasan kalau Kak Risma satu almamater sama dirinya. Almamater Unhas. Hatinya tergerak untuk mengenali kakak itu dengan lebih dekat. Sudah beberapa waktu sejak Kak Rismayanti Wahab itu bergelar temannya di facebook. Tapi tidak pernah satu kalipun dia berpeluang menegur. Akhirnya, dia menyapa juga. Bertanya itu ini. Pertama kali Kak Risma membalas pesannya, Mai merasa ada aura tersendiri pada diri Kak Risma yang terus menariknya untuk dekat dengannya. Kak Risma punya aura seperti kakaknya, Kak Na’ilah Alfarafisyah..Kakak kandung yang dikagumi dan selalu dirindui saban waktu. Apalagi Kak Risma dan Kak Na’ilah lahir pada tahun yang sama 1985. Pesan demi pesan melayang, telpon demi telpon berganti. Ukhuwah antara Mai dan Kak Risma kian memekar. Pertama kali berpeluang ketemu saat Kak Risma kembali ke kampung dan turun ke Makassar pada ulangtahun Mai tahun lalu. Ya, itu pertemuan pertama mereka yang diisi dengan 2menit malu-malu sebelum semuanya sirna dan seperti sudah lama benar mengenal. Mereka heboh bertukar cerita sambil tertawa sampai hampir lupa akan kehadiran Kak Mukrim disitu.

“Mai tambah lagi, gak usah malu-malu. Kalau malu, kakak yang kasi habis semuanya”.. 
Kak Mukrim mencelah memecahkan lamunan Mai. Mai tersenyum sambil mengangguk-angguk kecil. Kak Mukrim Fawwaz, adalah seniornya dikampus. Tepatnya asisten dosen dibidang mikrobiologi yang digilai ramai dan sering mendampingi laboratorium mikrobiologi  sewaktu dia masih di alam kuliah. Kak Mukrim yang humoris, pintar mengajar, alim dan baik hati itu pasti saja tidak mengenalnya lantaran dia hanyalah salah satu dari ratusan anak kuliah yang dibimbing dalam laboratorium mikrobiologi tersebut. Pertama kali mengetahui Kak Risma adalah istrinya Kak Mukrim, Mai hampir saja syok berat. Speechless. How small world. Mahu pingsan juga ada. Tapi yah sudahlah. Dia terlanjur akrab dengan Kak Risma.

“Mai tidur disinikan bentar malam.. nanti kita sama-sama pergi dirumahnya tante kakak dikota..”
Kak Risma setengah mendesak.
“Errr….” Mai segan sebenarnya. Tidak enak mahu merepotkan. Tapi seakan tertahan untuk mengatakan itu. Apalagi rindunya pada Kak Risma belum tuntas.

“Mai udah janji dulu. Jadi gak ada alasan untuk nolak” separuh tegas. Tersenyum. Merasa kemenangan dipihaknya.

Mai terpaksa akur.

Selesai makan dan solat, Kak Risma membawa Mai ke kamar bujangnya. Kamar yang ditempati sebelum beliau menikah dulu.

“Maaf ya Mai, kamar ini agak kecil dan kotor. Soalnya Kakak disini waktu kakak SMA sampai kuliah dulu..bentar kakak ganti alasnya”kata Kak Risma sambil lincah ke kamarnya mencari alas baru.

Mai memerhati sekeliling. Didinding-dinding tertempel poster F4 dan Barbie Xu yang pernah terkenal gara-gara sinetron, Meteor Garden yang dimainkan ditelevesi dan sempat membudaya dikalangan remaja dimasa itu. Ada juga stiker Doraemon yang menjadi andalannya sampai sekarang.tersenyum. Kak Risma juga pernah mengalami masa-masa remaja yang mencemaskan. Menggilai artis-artis yang menghiasi layar televesi.

“Itulah hasil kreativitas jaman-jaman jahiliyah dulu” kata kak Risma separuh ketawa. Mereka sama-sama ketawa. Kak Risma duduk disamping Mai. Menggapai album jaman kecilnya sambil menunjukkannya kepada Mai. Setiap satu dijelaskan dengan teliti. Memutarkan lagi nilai-nilai memori yang terkandung didalamnya. Mereka ketawa lepas sambil bertukar cerita lucu bersama. Hingga akhirnya mereka sama-sama tertidur dikasur kecil itu. Sama seperti yang sering dijalani Mai bersama Kak Na’ilah saat pulng libur. Mai jadi rindu..

Selesai solat asar, mereka bersiap-siap untuk ke rumah tantenya Kak Risma di kot. Kak Risma menyedia dan menyeterika bajunya untuk dipakai Mai. Kerna Mai memangnya tidak membawa persiapan pakaian lantaran tidak berencana untuk menginap. Mai hampir saja meneteskan airmata saat itu. Benar-benar ada bayang Kak Na’ilah dalam diri Kak Risma. Sepertinya Tuhan sedang memujuk dirinya yang sepi di Negara orang demi menimba ilmu. Dia yang tidak berkesempatan untuk bermanja dengan Kak Na’ilah sepanjang usia remaja-dewasanya ini. Dia yang tidak sebebas dulu bercerita itu ini pada Kak Na’ilah kerna khawatir akan membuat kakaknya itu diamuk gelisah. Dia yang harus selalu berpura-pura kuat dan tegar. Ya Tuhan memberikannya keserasian dengan Kak Risma. Meski beda budaya, beda keturunan. Beda latar belakang. Namun Tuhan mengajarnya banyak hal lewat Kak Risma sama seperti waktunya bersama Kak Na’ilah. Tuhan memberinya keluarga baru lewat perkenalannya dengan Kak Risma.

Sepanjang dirumah tante, Mai diperkenalkan kepada saudara-saudara Kak Risma sebagai adiknya. Dan Kak Risma dengan sabar menjelaskan satu-satu salasilah keluarganya itu kepada Mai. Disambut hangat oleh keluarga besarnya Kak Risma membuat Mai merasa berada di keluarga sendiri. Subhanallah, sungguh ini adalah pemberian Tuhan yang sangat bernilai buat Mai. Sampai kapanpun dia tidak bakal lupa dengan momen-momen yang dia lalui hari ini. Dan pasti…pasti dia akan merindui semua ini saat dia pulang ke Malaysia nanti.

Pulang dirumah, mereka mulai sibuk lagi. Bersiap-siap barbiqu. Mahu bakar bebek (itik) katanya. Sama-sama sibuk membakar dan memasak dihalaman rumah. Sambil bersembang-sembang bersama sepupu-sepupu Kak Risma yang ikut nimbrung di situ.


“Kita mahu bikin nasu palekko. Khan Mai mahu coba nasu palekko. Keahliannya Kak Mukrim itu..” Bisik Kak Risma sambil menyentuh bahu Mai yang sedang sibuk membakar bebek. Mai tersentak. Bagi etnis Bugis, “Nasu palekko” atau hidangan bebek cincang sudah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu, Pasalnya, menu yang satu ini terkadang dijadikan sebagai menu wajib jika warga melangsungkan pesta hajatan. Mai pernah bilang sama Kak Risma satu waktu dulu bahwa dia ingin mencoba masakan itu sebelum pulang. Waktu itu hanya bicara ringan. Tidak terlalu penting. Dan dia hanya meluahkan perasaan dengan bebas. Tidak disangkanya Kak Risma masih ingat akan kata-katanya itu. Dan dia mencoba untuk memunaikannya. Mai tambah-tambah lagi terharu. Airmatanya lewat batas empangan. Luruh jua dengan sifat sensitive Kak Risma pada dirinya meski dia bukanlah siapa-siapa.

.............bersambung...........................

Isnin, 29 Oktober 2012

OCTOBER EVE

2



Jadikan semalam untuk dimuhasabah
Hari ini untuk kita usahakan
dan hari esok, Untuk matlamat kerana Allah

~Saranghyeyo Chinguya~

Ahad, 28 Oktober 2012

PUISI BUAT NENEK

0


Bergetar hatiku saat senyummu menyambut hadirku
Mata tuamu mungkin sudah tidak bisa mengidentifikasi dengan baik
Memorimu mungkin sudah tidak sebaik hari kemarin
Namun sentuhanmu tidak pernah dingin dari bayu kasih

Sebak jiwaku saat tangan tuamu menggenggam erat tanganku
Saat daku memimpin tanganmu masuk ke ruang
Memegang payung tuamu adalah satu kehormatan

Aku juga pernah punya nenek
Yang bisa kupimpin tangannya menyusuri jalan kuburan
Untuk menebar ziarah beberapa waktu yang lalu
Aku masih punya peluang untuk mengecup dahinya yang berkedut-kedut
Mencium pipinya yang sudah kendur
Dan menyalami tangannya yang sudah menua dikunyah waktu
Namun kesempatan itu sudah sirna
Saat Tuhan memanggilnya kembali ke sisi Rabbi

Aku tidak punya kesempatan lagi untuk mengulang waktu dengannya
Melewati hari kemarin saat dia masih disisiku
Saat Tuhan masih memberiku ruang untuk berbakti padanya
Bahkan untuk merenung pada redup sinar sepasang mata tua itu
Kesempatan yang sama sekali tidak akan berulang!!

Ya, mungkin Tuhan masih menyanyangiku
Memberiku ruang untuk menyaksikan lagi kasih nenek lewat matamu
Meski Cuma sebentar tapi ia bisa meneduhkan rindu yang takkan pernah kelar
Semoga Kau merahmati ruhnya dan menempatkannya dikalangan orang soleh
Amin.

amni_shamrah
~22.30pm~
28 October 2012



SPASI

2


Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?

Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang jika ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras

dengan jantung yang tidak dipakai dua kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring. Kawan!
copas: dee_lestari

Jumaat, 26 Oktober 2012

EID ADHA ~ARTI SEBUAH PENGORBANAN

0


“Dan ketika Ibrahim diuji Rabbnya dgn beberapa kalimat lalu Ibrahim menunaikannya..” . Allah memerintah Ibrahim as berhijrah ke Mekah. Perintah ini bukan kali pertama bagi Ibrahim. Sebelumnya beliau telah menunaikan hijrah beberapa kali dari Babilon ke Palestina; dari Palestina ke Mesir; dari Mesir ke Palestina lagi. Semua beliau lakukan demi risalah suci. 

Hijrah ke Mekah kemudian menjadi peristiwa yg monumental di dalamnya syarat dgn pelajaran utk sebuah pengorbanan sejati. Sekurang-kurangnya ada tiga aktor yg berperan penting Ibrahim Hajar Isma’il. Ketinganya mewakili tiga unsur keluarga bapak istri dan anak. Adalah Ibrahim as yg sudah berumur mengharapkan keturunan. Allah kemudian memberinya Isma’il. Bukan main girang dan bersyukurnya Ibrahim ia mendapat karunia yg selama ini selalu dimintanya. Sampai akhirnya datang perintah hijrah ke tempat yg kini dikenal dgn Mekah. Ibrahim Hajar dan Isma’il pergi menuju padang gersang yg tak bertuan itu. Tiada penduduk tiada tempat tinggal tiada tanaman tiada air. Di tempat itulah Ibrahim rela meninggalkan istri dan bayinya. Semua ia lakukan demi perintah Allah. Tak banyak bekal yg beliau tinggalkan kecuali seteko air dan sekantong makanan. Ibnu Katsir menceritakan saat Nabi Ibrahim hendak berlalu sang istri menarik tali kekang tunggangannya dan bertanya “Apakah Kanda akan meninggalkanku bersama anakmu di tempat yg tiada tanaman lagi ?” Ibrahim as terdiam. Hajar mengulangi pertanyaannya hingga tiga kali dan tetap saja Ibrahim diam. Sampai akhirnya Hajar mengganti pertanyaan “Apakah Allah yg memerintahkanmu melakukan hal ini?” “Benar” jawab Ibrahim. Hajar menimpali “Jika demikian Allah tidak akan mempersulit kami.” Sungguh sebuah dialog yg menusuk hati. Merefleksikan kedalaman iman. 

Tercermin ketundukan sekaligus pengorbanan yg menakjubkan. Berhijrah meninggalkan kemapanan dan barangkali rumah pekerjaan sanak keluarga serta nilai materi dunia lain menuju tempat yg gersang tak bertuan tak ada jaminan keamanan tidak juga makanan dan minuman apalagi sanak keluarga dan handai taulan. Sebuah sikap dan keputusan yg memancarkan nilai tawakal dan iman yg begitu tinggi bahwa hanya Allah yg Maha Menghidupkan Maha Mematikan Maha Memberi Rezeki. Meyakini dan mewujudkan keyakinan tersebut dalam praktik tentu tidak semudah meyakininya dalam teori. Tidak semudah menghafal lafaz-lafaz asmaul husna. Ibrahim beserta keluarga tidak sedang berteori tetapi tangah mengartikulasikan sebuah teori. Sampai akhirnya terjadilah peristiwa bersejarah. Perbekalan air dan makanan Hajar habis. Isma’il a.s. menagis kehausan krn ibunya tak lagi dapat mengeluarkan ASI. Sang ibu kelabakan ia berlari berusaha mencari air di antara Bukit Shofa dan Marwa. Usahanya tak menuai hasil. Terjadilah mukjizat isma’il menjejakkan kakinya dan terpancarlah air. Hajar berseru “Zummi? zummi? .” Sang air kemudian mengumpul jadilah ia telaga zam-zam. Dalam syariat haji kesabaran dan keyakinan keluarga Ibrahim diabadikan dalam amal sa’i. Selesaikah ujian? ternyata belum. 

Ketika Isma’il menginjak dewasa dan sampai pada umur sanggup berusaha bersama ayahnya Ibrahim mendapat wahyu utk menyembelih sang anak. Ibrahim berkata “Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Sungguh sebuah perintah yg tiada terkira pengorbanannya baik bagi sang bapak maupun sang anak. Keimanan keduanya ditantang. Pernyataan Isma’il sungguh memukau “Ia menjawab ‘Hai Bapakku kerjakan apa yg diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yg sabar’.” . Akhirnya perintah itu ditunaikan. Saat Ibrahim hendak menyembelih anak kesayangannya setan datang mengganggu. Ibrahim sadar akan gangguan maka dilemparlah setan dgn batu. Gangguan terjadi hingga tiga kali. Peristiwa ini diabadikan dalam syariat haji berupa “lempar jumrah”. Ketika mata pisau Ibrahim hendak menyentuh leher Isma’il Allah menahan mata pisau itu dan menggantikannya dgn seekor domba. Kisah ini dikenang dalam syariat penyembelihan hewan kurban pada tiap musim haji. Demikian Ibrahim as sang suri tauladan. Kecintaan yg purna terhadap Allah menghantarkan ia lulus ujian. “Dan ketika Ibrahim diuji Rabnya dgn beberapa kalimat lalu Ibrahim menunaikannya..” .

 Kisah di atas hanya salah satu bentuk ujian baginya. Sebelumnya Ibrahim juga menghadapi ujian-ujian yg luar biasa. Dan Ia selalu lulus. Para Mufassirbanyak menyebutkan bentuk-bentuk ujian Ibrahim dan ia selalu sukses menjalaninya. Bukan hanya Ibrahim yg mencontohkan pengorbanan di atas. Istri dan anaknya demikian juga. Sungguh sebuah komposisi yg ideal ada teladan seorang bapak teladan seorang istri dan teladan seorang anak. Ketiganya adl pilar sebuah keluarga. Baik buruknya sebuah keluarga menjadi kunci utama baik buruknya sebuah masyarakat. Karena masyarakat terbangun atas sekumpulan keluarga demikian seterusnya. Sungguh tak terbayang betapa indah sebuah bangunan masyarakat jika unsur-unsur masyarakatnya adl manusia terdidik seperti terdidiknya keluarga Ibrahim? Manusia-manusia bertauhid yg meletakkan kecintaan terhadap Allah di atas segala-galanya? 

Kisah pengorbanan Ibrahim sekeluarga menjadi “monumen” sejarah. Ia selalu diperingati tiap tahun dalam syari’at haji dan kurban pada tiap Dzulhijjah. Bukan tanpa maksud melainkan utk ditauladani. Dari sini masing-masing dapat bermuhasabah sudahkah kecintaan kita terhadap Allah berada di atas segala-galanya melebihi cinta kita terhadap pekerjaan tempat tinggal dan harta? melebihi cinta kita terhadap anak istri bahkan kedua orang tua? melebihi cinta kita terhadap yg paling berharga dalam hidup nyawa kita? Semua berpulang pada diri kita. Masing-masing pribadi yg tahu jawabannya. Wallahu a’lam bish shawab. .




Isnin, 15 Oktober 2012

LINGKARAN SEMPIT

0



Kelak ketika kamu beranjak usia , hidupmu akan semakin disibukan oleh banyak hal , saat itu kamu akan sadar , bahwa kamu merasa jauh dari teman.

atau , teman-temanmu yang semakin jauh , sibuk dalam dunianya masing-masing.

ketika itu aku paham akan kata seseorang bahwa “teman itu bukan seberapa banyak , tapi seberapa dalam”.

kelak , hanya akan sedikit dari teman-teman mu yang menanyakan kabarmu , mengajakmu jalan-jalan , atau berkumpul. Mungkin pun sekedar reuni sehari di sekolah , setelah itu kembali ke posisi masing-masing.

kelak hanya akan sedikit temanmu yang bisa kamu ajak bicara , berbagi pendapat tentang idealisme dan banyak hal lain dimasa muda , hingga ketika kamu hendak menghubungi mereka dari handphone mu , kamu pun mulai menyeleksi mereka dengan sendirinya.

yang akan kamu hubungi adalah teman yang terdekat , sebuah kedekatan yang dibangun dimasa muda , bukan sekedar tau nama , sapa sekali , kemudian lupa.

kelak hanya akan sedikit dari temanmu yang ingat tanggal lahirmu , itu tidak begitu penting bukan ?

kelak ketika usia mu semakin beranjak , kamu akan tahu dengan sendirinya berapa sebenarnya teman yang kamu miliki.

ketika kamu menyadarinya , kamu akan sangat bersyukur memilikinya , bukankah sesuatu yang sedikit itu justru sangat nikmat dan berkesan ?

kelak lingkaranmu akan semakin sempit , tapi justru semakin dalam.

iya , teman itu bukan seberapa banyak yang kamu miliki , tapi seberapa dalam :)

==================================================

Dan saya menemukan lingkaran sempit itu disini ... :') :) ^_^ :D
#REPOST
[FZM]

~benarlah...~ 
“teman itu bukan seberapa banyak , tapi seberapa dalam” bukan seberapa lama bersama tapi seakrab mana kebersamaan itu..people choose to be with others but come to the one they feel save with..

Jumaat, 12 Oktober 2012

MAPPENRE BOTTING

2



Menghadiri pernikahan adiknya Winda, Rusdi. Satu lagi pengalaman berharga buat diri. Mungkin biasanya menghadiri pesta pernikahan pas hari H nya. Bedanya kali ini berpeluang menghadiri dari awal proses pernikahan. Dari masak-masak hingga ke resepsinya. Iya mengenal adat bugis dengan lebih mendalam.

Acara mappettu ada (proses menentukan hari dan hal lain menyangkut pernikahan), yakni proses pembicaraan waktu pelaksanaan dan jumlah dui pappenre yang haruskan diserahkan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan akhirnya digelar. Katanya jika mappetu ada sudah digelar, adalah aib jika harus membatalkan keputusan yang telah disepakati. Adannami tau’e na tau, manusia hanya bisa dianggap manusia jika dia menepati kata-kata yang telah diucapkannya.

Orang-orang bugis sangat menjunjung tinggi nilai kekeluargaan. Saat ada sanak saudara yang menikah, mereka meninggalkan rumah beberapa hari. Selain untuk membantu keluarga yang punya hajatan, juga untuk berkumpul dengan keluarga-keluarga lain dari luar kampung. Kerna banyaknya tamu menginap, kecuali tidur melantai dirumah hingga pemandangan menjadi seperti kemah pengungsi. Malam ini kami bergotong royong memasak masakan untuk besoknya. 

Menu bakso untuk pengajian tidak terlalu ribet. Hanya bakso, kuahnya, daun-daun, bawang goreng dan sambal yang perlu dipersiapkan.. serta pasangan abadinya burasa (ketupat yang dibungkus menggunakan daun pisang. Berbentuk lonjong. Harus direbus kurang lebih 2 jam untuk menantinya masak)Turut sibuk ibu-ibu menyiapkan manisan yang selalu muncul di acara pernikahan. Barongko (pisang yang dikisar dan dimasukkan ke dalam acuan daun pisang) turut dibuat. Selain pudding dan kek bolu sebagai santapan. Diri sempat diajar cara membuat barongko tersebut dari mengisar pisangnya hinggalah acuan dibuat dari daun pisang hingga nanti tinggal diisi dan dikukus lagi.

Besoknya pengajian digelar. Seorang ustaz dipanggil untuk memberikan ceramah tentang pernikahan. Malam sebelum hari pernikahan, biasanya diadakan pengajian atau mappaci sebagai majlis doa selamat untuk peristiwa besar yang akan dilalui. Besoknya sebelum berangkat ke rumah pengantin perempuan ada yang namanya acara sungkaman (mempelai meminta maaf dan doa restudari kerabat terdekatnya) dalam hal ini ayah, ibu, nenek, kakak dan saudara terdekat. Kaget juga melihat keluarga atau kerabat terdekatnya tante dan omnya menangis-nangis saat prosesi ini. Susah diartikan makna airmata tersebut. Airmata bahagia atau sedih melepas Rusdi menikah.

Sarapo (panggung yang didirikan disamping rumah sebagai tempat berkumpul saat pernikahan) telah berdiri. Keluarga dari segala penjuru telah berkumpul. Walasoji (kotak persegi dari bambu untuk mengantarkan seserahan pada mempelai wanita) telah terisi. Kelapa pelambang keutuhan rumah tangga, tebu symbol manisnya cinta, nangka sebagai harap agar kasih sayang itu selalu besar. Semua telah siap! Belasan bunga desa dengan baju bodo siap membawa bosara (tatakan piring dengan pegangan dibawah dan punya penutup khusus). Pemuda pun tidak kalah gagahnya dengan balutan jas tutup dan songkok To Bone (songkok khas orang bugis dari anyaman berhias emas dan sutera) siap mengangkat walisoji.

 Tiba-tiba mama Winda memanggil diri dan meminta untuk membawakan salah satu seserahan berupa Al-Quran dalam kotak baldu yang akan digandingkan dengan walasoji yang akan diserahkan setelah akad nikah nanti. Jadilah diri berada dibarisan depan bersama sepupunya Winda untuk mengetuai gadis desa berbaju bodo membawa seserahan menuju ke rumah mempelai perempuan. I’m a part of the ceremony.. benar-benar beda rasanya.. ^_^ Acara mappenre botting (proses mengantar mempelai pria ke rumah mempelai wanita untuk akad nikah) digelar. Meski terusik dengan denyut jantung yang seolah ditabuh, Rusdi tetaplah tersenyum dengan pakaian pengantin khas bugis-nya. Tenang mengatur langkah dengan mantap menuju ke rumah mempelai perempuannya.

Akad selesai. Pengantin naik ke panggung. Diiringi elekton kelas atas dengan lagu khas Bugis “Alosi Ripolo Dua”.. Bagai Pinang Dibelah Dua.

Kuripancaji ri lino
Engka riwatang kalemu
Mulle purani totoku
To sipa’dua siruntu
[ku tercipta/lahir di dunia
ADA di dalam dirimu
mungkin sudah takdirku
berdua saling bertemu]

Muripancaji ri lino
Tudang riwatang kalemu
Lettu campana rilino
Sipa’dua metteru
[kamu tercipta/lahir di dunia
duduk/bertahta di jasadmu/dirimu
sampai akhir dunia
berdua selamanya..]

Tappamu na tappaku
Sirupa na de na pada

Iyaro tanranna topuri sitoto
[Wajahmu dan wajahku,
serupa tapi tidak sama,
itulah tandanya kita sejodoh]

Matammu na mataku
Alosi si polo dua
Pappada bungae sibawa daunna
[matamu dan mataku
pinang dibelah dua
bagai bunga dan daunnya]

Alemu aleku
Pada muddani
Tori massidi tanranna sitoto
[Dirimu.. Diruku
saling merindu
Slalu menyatu tandax takdir/jodoh]


Sedang rancak lagu berkumandang, tiba-tiba
“Huuuaaaaarrrggghhhhhh!!!!” pengantin perempuan menjerit histeris. 

Apa tuh? Tiba-tiba kondisi menggawat. Seperti saja sinetron yang bermain ditelevisi. Beliau kemudian terus menangis sambil tubuhnya jatuh lunglai ditopang sang pengantin laki-laki dan ibu bapanya. Pengunjung mulai heboh dan berkerumun untuk melihat dengan lebih dekat. Mencoba untuk menghampiri, kerabat pengantin perempuan datang membawa air putih.

Mencoba lagi untuk lebih hampir. Siapa tahu ada yang bisa dibantu. Lewat ibu-ibu yang bilang

“Datangmi kembarnya. Makanya kesurupan. Makanya dibilang harus bikin mapacci atau pengajian sebagai sembahan ke kembarnya”

Bingung. Apa yang yang heboh diperkatakan tentang kembar. Setahuku Putri (pengantin perempuan) tidak punya kembar. Bertanya pada Winda. Baru Winda menceritakannya. Tentang itu. Reptile manusia. Sama persis seperti yang pernah kubaca di novel Lontara Rindu tulisan S. Gegge Mappangewa. Mungkin akan ku jelaskan di antri yang berikutnya..

Tapi dari kejadian ini, baru merasa bahawa benar-benar apa yang diceritakan sang penulis adalah hal yang mendarah daging dalam aliran pembuluh darah orang Bugis. Mengakar dalam keyakinan sesetengah dari mereka..

Malam mendatang. Acara resepsi akan diadakan di gedung. Semua orang sudah sibuk bersiap-siap sorenya. Malam tiba juga akhirnya. Dan keluarga Winda sudah siap-siap dalam seragam merah kuning, baju adat Bugis. Acara berlansung dengan lancar seperti biasanya. Kasian melihat kak Kalla, Titin dan nenek yang kewalahan mempersiapkan dan menambah lauk pauk ke tempat. Namun diri tidak bisa lama. Sebentar harus mengikuti tante Winda yang akan pulang ke Makassar. Maklum saja besok diri akan mulai lagi bekerja di klinik Health And Nutrition.

Khamis, 11 Oktober 2012

KEDOKTERAN KESELAMATAN KERJA (K3)

0



Minggu keda IKM. Kami menjalani satu bidang lagi dalam ilmu kedokteran. Keselamatan Kerja (K3). Untk bidang ini, kami dikirimkan ntk bertgas di rumah sakit Ibnu Sina dibawah bimbingan dr. Sultan Buraena, SpOK. Salah sat dari 3 spesialis Keselamatan Kerja di Indonesia Timur.

Menjalani seminggu dibagian ini. Kami dibahagi dalam beberapa kelompok kecil yang setiap kelompoknya terdiri dari 3 orang. Tiap kelompok diberi tugas ntuk menkaji dengan lebih teliti tentang satu bagian yang terkait dengan keselamatan kerja. Kelompokku ditugaskan untuk mengupas tentang efek sinar UV terhadap kesehatan.

Hari pertama kami dites terlebih dahulu tingkat pengetahuan awal dan apa yang harus kami ketahui di bagian ini. Hari keda kami dituntut membentangkan permasalahan, bidang kajian dan juga tinjauan pustaka tentang topic kami. Hari ketiga kami diberi waktu untuk memulai penelitian dilapangan.
Kelompokku memilih menjadikan tukang becak sebagai sasaran penelitian kami. Jadilah disiang hari yang mentarinya bersinar cemerlang, kami ke BTN Antara. Di situ kami melihat sendiri suasana kerjanya para tukang becak yang ada disitu. Sangat tidak bersahabat. Dengan panasnya dan terik mentari yang membahang. Tapi mereka tetap saja sabar.menanti dengan tidak pernah mengeluh.

Kami memutuskan untuk mewawancara salah satu tukang becak disitu. Pak Al. dari sejak kapan beliau bekerja disitu sebagai tukang becak hingga sedetail-detailnya tentang penyakit yang pernah dialami dan ujian yang paling berat yang pernah didepani. Jika Cuma rasa perih dan gatal pada kulit bukanlah apa-apa. Tidak pernah dihiraukan. Pak Al tidak lokek bercerita. Semua dinyatakan dengan jujur dan mata yang berkaca-kaca. Ya Allah ada orang yang hidup semenderita itu ketimbang kami yang engkau beri kecukupan namun masih bermalas-malas untuk bersyukur.

Persetujuan awal tadi yang ingin memberikan sumbangan Rp10 kepada tukang becak itu, ditambah lagi atas dasar kasihan dan simpati. Mungkin jumlah uang yang kami berikan tidak seberapa namun ia sangat dihargai oleh bapak tersebut. Mungkin itulah cara kita untuk mendidik hati dan melatih diri mempertingkat rasa bersyukur atas pemberian Allah yang tak pernah putus. Penelitian kami tuntas setelah beberapa orang tukang becak kami wawancarai.

1 hari diberikan untuk kami menyelesaikan mini skripsi tentang hasil yang kami dapatkan dari penelitian yang telah dilakukan. Besoknya kami dituntut untuk mempresentasikan hasil penelitian dan apa yang kami dapatkan dilapangan sesuai dengan teori yang kami pelajari.

Selasa, 9 Oktober 2012

A WALK TO REMEMBER ~YOGYAKARTA~

0



Aku pernah bilang, hidup ini adalah pilihan. Dan adakalanya kita akan membuat pilihan yang salah. Namun Tuhan tetap menyayangi kita. Lewat pilihan yang salah itu, DIA tetap saja menjaga dan mendidik kita untuk lebih dewasa.

Menyusuri suatu perjalanan yang sangat berharga dalam episode kehidupan ini. Mungkin aku yang terlalu keras kepala. Atau tidak mahu mendengarkan. Mungkin kerna kamu juga tahu, atau kamu juga sudah bingung harus menasehati bagaimana lagi. Satu-satunya pilihan yang tinggal adalah untuk memberikan ruang itu untukku..menjalani saja petualangan ini. Terima kasih. Terima kasih juga telah memberikanku pengalaman dan “keluarga baru”.

Menapaki stasiun Tugu jam 4.30 pagi. Sangat mendebarkan. Tanah ini tanah baru. Pertama kali kujejaki. Masih menunggu. Menunggu Dian yang datang menjemput. Aku harus menghantar sms dulu. Aku sudah di Jogja. Maaf ya dari tadi malam kamu menemaniku. Pertemuan pertama dengan dian, berkesan sangat baik. Diri dihantar ke Asrama Putri Angging Mammiri. Asrama perempuan anak-anak Makassar. Diri akan menginap disana selama berada di Jogja..

Asrama Putri Angging Mammiri adalah sebuah asrama provinsi yang dibiayai oleh pemerintah Makassar sebagai tanda peduli pada anak negeri, menjadi pusat kegiatan anak-anak Makassar yang merantau di Jogja untuk melanjut studi. Asrama ini dihuni oleh 16 orang mahasiswa S1 yang kuliah di pelbagai universitas di sekitar sini. Sementara anak-anak S2 kebanyakannya kost diluar atau dirusun UGM seperti halnya Diba. Merasa tidak pantas. Aku bukan anak Makassar. Bukan asli Makassar juga. Malah tidak ada hubungan sama sekali dengan negeri itu. Namun itulah. Mereka yang bersahabat tetap saja menyambut kedatangan diri dengan penuh welcoming. Sangat hangat. 2 hari bersama anak-anak Makassar cukup mengajarkan banyak hal yang baru pada diri terutama dari segi budaya dan cara hidup mereka. Banyak juga diceritakan prestasi-prestasi anak-anak Makassar yang sering diraih. Turut berbangga. Benarlah kita akan lebih menghargai negeri kita saat jauh darinya.

Melewati hari ini bersam Diba, Febi, Isma, benar-benar seru. Sepertinya telah menngenal mereka dalam waktu yang lama. Diba sangat bersahabat. Setiap ketemu teman-temannya, pasti dikenalkan juga ke aku. Jadinya bisa beradaptasi dengan persekitarannya. Anak S2 Hubungan Internasional, ternyata ilmu sejarah “Malaysia dan Dunia” yang pernah ku pelajari di bangku sekolah menengah itu sangat berharga. Menjadi topic bahasan yang mantap siang ini bersama Diba, Ranti dan yang lain. Sebenarnya tidak susah untuk beradaptasi dengan orang lain, asal kita kuasai apa yang menjadi focus utama kehidupan mereka. Menyusuri Jl. Malioboro dengan Diba. Ya ini akan menjadi permulaan yang baik.  

Besoknya semua sibuk dengan kuliah. Maklum saja diri bukan datang pada hujung minggu. Untung ada Mbak Muskanah, mahasiswa S2 yang sudi menemani. Kebetulan hari ini beliau tidak ada kuliah. Mba Muskanah orang Jawa Tengah. Sudah menetap di sini sejak SMP. Lagi-lagi, untuk menjalin persahabatan bukan suatu yang sukar. Tapi perhatian Mba amat luar biasa. Bayangkan orang yang baru dikenali sehari, bisa seakrab itu untuk bercerita banyak hal. Dengan mbak, diri dibawa ke Candi Prambanan. Taman Purbakala, Taman permandian putri, Keraton udah tutup. Tapi bolehlah sudah dilihat dari luar. Merasai jajanan  di jalanan seperti es dawet, gudeg, bakpia. Juga diberi pengalaman untuk makan melantai “Nasi Kucing” yang murah meriah dengan harga yang tidak mencecah 1 ribu rupiah. Melantai disamping jalan di warung Kopi Joss kegemaran. Bersama Mba Erin dan suami. Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa.

Malamnya masih sempat bergaul dengan anak-anak dari Ikatan Mahasiswa Pangkep. Bingung juga sebenarnya kenapa harus ada sambutan dari anak-anak Pangkep. Namun dihujungnya baru mengerti sebagai penghargaan kerna temanku “orang Pangkep”.. ok..hihi.. Mereka mengadakan parti perpisahan buatku. Padahal usia perkenalan ini Cuma dua hari. Namun ikatan ini sepertinya cukup kuat. Selalu ada perpisahan dibalik pertemuan. Selalu ada nokhtah sesudah Huruf Capital dipermulaan ayat. Sepertinya belum siap. Namun itulah roda kehidupan.

Difikir-fikir, padahal bisa saja sejak awal dulu menghubungi pihak PKPMI Jogjakarta untuk menjemput. Namun kenapa tidak pernah berpikir ke sana. Hujung-hujungnya inilah teman-temanku yang selalu menjagaku dan mencoba yang terbaik untuk memudahkan jalanku. Asal kamu bahagia.. begitu katanya.. terima kasih semua atas kebaikan dan kekhawatiran kalian.





















Isnin, 8 Oktober 2012

CANDI PRAMBANAN

2



Di Candi Prambanan akhirnya..

Dulu pernah temanku ke Candi ini.. dan dia  menceritakan tentang mitos yang dipercayai masyarakat sekitar berhubung dengan Candi Prambanan. Iya, beberapa waktu dulu. Hari ini saat aku melangkah ke candi ini, jadi ingat lagi akan mitos itu. Meski tidak ada tourist guide yang bisa menjelaskan dengan baik namun kisah itu seperti tercatat dikepalaku..

Ini secara ringkasnya yang pernah dinarasikan:

Dahulukala berdirilah kerajaan di Pengging.Sang Raja mempunyai seorang putera yang bernama Bandung Bondowoso.saat dewasa ia menjadi seorang pemuda yang gagah juga sakti.
Di Prambanan juga berdiri sebuah kerajaan.Rajanya bernama Ratu Boko.Ratu Boko memiliki seorang puteri yang sangat cantik bernama Roro Jongrang.

Kerajaan Pengging dan Prambanan bermusuhan,terjadi peperangan yang hebat waktu itu.

Awalnya kerajaan Pengging kalah.Bandung Bondowoso maju ke medan perang.Pengging dapat mengalahkan Prambanan.Bandung Bondowoso berhasil membunuh Prabu Boko.Saat masuk istana Prambanan,Bandung Bondowoso melihat Roro Jongrang,seketika itu ia langsung jatuh cinta dan hendak memparistrinya namun Roro jongrang menolak karena ia tidak mau di persunting oleh pembunuh ayahnya.Bandung Bondowoso lantas memaksa Roro Jongrang agar mau dinikahi olehnya,Akhirnya Roro Jongrang mau di peristri dengan syarat Bandung Bondowoso harus membuat seribu candi dan dua sumur yang sangat dalam dengan waktu satu malam.

Bandung Bondowoso menyanggupinya.Kemudian Bandung Bondowoso meminta bantuan kepada makhluk-makhluk halus untuk membangun seribu candi,mereka segera bekerja keras setelah matahari terbenam,dengan cepat berdirilah candi-candi yang megah. Pada tengah malam,tinggal satu candi yang belum berdiri.Roro Jongrang terkejut melihat hal itu.Ia mencari akal untuk menggagalkan usaha bandung Bondowoso.Roro Jongrang Membangunkan Gadis-gadis desa.mereka di suruh menumbuk padi sambil memukul-mukul lesung,maka ayam jantanpun berkokok bersahutan.mendengar ayam jantan berkokok,makhluk-makhluk halus segera menghentikan pekerjaannya.mereka menyangka sebentar lagi matahari akan terbit,maka gagalah Bandung Bondowoso untuk mendirikan seribu candi.
Bandung Bondowoso sangat marah karena di tipu oleh Roro Jongrang.di kutuklah Roro Jongrang Menjadi Arca batu.Jadilah Roro jongrang arca besar di candi Prambanan.Maka candi Prambanan sering juga di sebut dengan Candi Roro Jongrang…….

Jadi hingga sekarang masyarakat sekitar mempercayai bahwa jika sepasangan kekasih pergi berjalan bersama-sama ke Candi Prambanan, maka mereka akan "putus" a.k.a break up setelah dari itu, sebaliknya jika sepasang teman ke sana mereka akan pulang dengan hasilnya “jadian” atau pacaran. [Halamak!!]

Moral of the story, setiap lelaki berhak untuk melamar siapapun gadis yang dia sukai dalam dunia ini. Dan setiap gadis pula berhak untuk menerima atau menolak lamaran yang datang padanya. Jadi, jujur saja. Meski kadang akan ada kondisi salah satu pihak tidak dapat menerima dengan lapang dada, namun jangan pernah berhenti untuk jujur. Meski kadang jujur itu menyakitkan, namun ia jauh lebih baik dari dalih atau memberi harapan palsu yang tidak akan kita sanggupi dihujungnya.