Skinpress Rss

Ahad, 31 Oktober 2010

BENCANA ALAM, SUATU TEGURAN DARI ALLAH

0


Baru-baru ini, tanah bertuah Indonesia digemparkan dengan 2 bencana alam yang melanda dalam jangka waktu yang dekat dan menewaskan sejumlah warga. Bencana itu datang menjadi bayang-bayang ketakutan negeri ini. Pada hari Senin tanggal 26 Oktober 2010 kemarin tsunami yang melanda Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat menelan korban kurang lebih 504 jiwa membuat saudara kita di Mentawai harus menanggung pilu dan duka yang mendalam.

Korban tewas akibat gempa 7,2 SR yang berlanjut dengan tsunami di Mentawai, Sumatera Barat, Jumlah korban diprediksi terus bertambah karena masih banyak lokasi yang belum bisa ditembus tim evakuasi.
Saat ini, tim evakuasi menggali kuburan massal untuk memakamkan para korban yang sudah teridentifikasi. Setidaknya, ada tiga titik kuburan massal untuk memakamkan ratusan jenazah. Sampai hari ini, Kamis 28 Oktober 2010, tim evakuasi yang sudah menyisir 15 dusun terus melakukan penguburan massal seiring ditemukannya jenazah demi jenazah. Sampai saat ini juga kita belum mendapatkan daftar nama korban tewas tsunami Mentawai.

Disusul oleh Letusan gunung Merapi di Jawa Tengah menumpahkan debu panas dan awan gas panas ke desa-desa sekitarnya, menyiram warga dan menelan korban sekurangnya 30 orang.

Gunung Merapi, gunung berapi yang paling aktif di Indonesia, mulai meletus Selasa malam, 26 Ogos 2010 setelah berhari-hari bergemuruh dan peringatan para ilmuwan akan kemungkinan adanya letusan besar. Ribuan penduduk desa yang tinggal di lereng-lereng gunung itu melarikan diri ketika debu dan udara panas melanda mereka, namun sebagian terlambat mengungsi. Tim penyelamat mengatakan mereka menemukan sekurangnya 12 mayat yang terbakar hangus. Antaranya adalah seorang bayi berumur dua bulan meninggal karena terkena muntahan gunung berapi ketika ibunya sedang menuju ke rumah sakit dan juga jenazah Mbah Marijan, lelaki tua berusia 84 tahun yang sebelumnya bertugas sebagai pemegang kunci Merapi.

MasyaAllah betapa besarnya ujian yang melanda negeri ini. Mungkin inilah teguran dari Allah SWT. Supaya kita muhasabah kembali. Salah satu faktornya adalah banyaknya di antara kita yang melakukan hal-hal yang jauh dari fitrah kemanusiaan, jauh dari Allah. Apabila manusia tak lagi memiliki rasa takut pada Allah hampir pasti menyukai perbuatan dosa seperti tega untuk membunuh dan sebagainya. Ketamakan duniawi juga mengakibatkan kebengisan dan tindakan tak bermoral pada manusia. Kebanyakan orang khawatir jatuh miskin, atau tidak memiliki jaminan masa depan. Hal-hal tersebut menjelaskan mengapa suap, korupsi, pencurian, persaksian palsu, dan pelacuran menjadi semacam jalan hidup bagi sesetengah orang.

Kedangkalan pemahaman terhadap agama menyebabkan hilangnya suara hati nurani. Contohnya seseorang yang tanpa ragu-ragu melarikan diri setelah menabrak seseorang di jalanan dengan mobilnya. Inilah petunjuk nyata betapa jauhnya dia dari nilai-nilai agama. Dia mungkin berfikir bahawa dia telah berjaya menyelamatkan diri dari polis dan orang-orang tetapi tak pernah berpikir bahwa Allah ada di mana-mana. Melihat dan mendengar apa yang dilakukannya setiap detik. Allah akan membalas semua ketidak adilan, kejahatan dan tindakan tidak berperikemanusiaan pada hari perhitungan kelak. jenayah demi jenayah berlaku saban hari tanpa berjalannya sistem pengadilan yang mampu membenterasnya.

Budaya hedonism atau hiburan yang melampau juga seolah telah menyihir anak negeri ini. Menghanyutkan mereka dalam dunia fantasia yang menipu. Artis menjadi idola yang dicontohi. Dengan itu terhakislah budaya Islam, tenggelamlah peradaban yang menjalankan hukum Allah, tamadun yang mengikut corakan Allah dan pertimbangan yang di buat juga jauh menyimpang dari apa yang Allah kehendaki.. Semoga kita semua mengambil ibrah (ikhtibar) dari bencana yang melanda. Berhenti sejenak untuk kembali beriman kepada Allah..

PANGKEP OH PANGKEP

0


Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan atau sering disingat menjadi Pangkep adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang menyimpan keanekaragaman daya tarik alam dan budaya yang patut dikunjungi, seperti Mattampa, Pulau Kapoposang dan lain sebagainya. Di Pangkep juga terdapat Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.112,29 km². Tetapi setelah diadakan analisa bersama Bakosurtanal, luas wilayah tersebut direvisi menjadi 12.362,73 Km2 dengan luas wilayah daratan 898,29 Km2 dan wilayah laut 11.464,44 Km2. Kabupaten Pangkep berpenduduk sebanyak ±250.000 jiwa.

Kawasan Wisata Mattampa.

Menempati areal seluas kurang lebih 11 hektar tempat ini merupakan obyek wisata yang sangat potensial dan menarik untuk dikunjungi dengan pemandangan alam berupa gua yang menakjubkan. Terdapat di Kelurahan Sama Lewa, Kecamatan Bungoro sekitar 3 Km dari kota Pangkep.

Pulau Kapoposang.

Merupakan salah satu dari gugusan kepulauan Spermonde dimana pulau ini memiliki gugusan terumbu karang yang sangat indah dengan menyimpan beranekaragam biota laut yang menarik. Terletak di Desa Mattiroujung, Kecamatan Liukang Tupabiring, dapat dijangkau dengan menggunakan speed boat sekitar 90 Menit ke arah barat laut Makasar.

Taman Purbakala Sumpang Bita.

Taman Purbakala Sumpang Bita dikenal dengan taman dengan seribu anak tangga karena untuk mencapai gua kita harus melewati ribuan anak tangga. Di dalam gua kita dapat melihat peninggalan zaman pra sejarah seberti lukisan telapak tangan, babi dan perahu yang diperkirakan berusia sekitar 5000 Tahun. Terletak di Kelurahan Boloci, sekitar 17 Km ke arah timur kota Pangkep.

CATATAN PERJALANAN

Alhamdulillah kelmarin, 30 Oktober 2010, diri bersama 2 orang teman telah berpeluang untuk berjalan-jalan ke Pangkep setelah selama ini hanya mendengar cerita tentang keindahan panorama alam yang ada di sana dari teman-teman yang pernah berkunjung juga dari teman yang asli orang sana. Bertolak (berangkat) seawal jam 7.00 pagi membuatkan temanku “pahlawan kesiangan” agak mamai dan masih belum dapat mengkoordinasikan diri. Kami menaiki angkot kota dari rusun ke Daya’ dan dari Daya’ menukar angkot ke Pangkep. Perjalanan memakan masa 2 jam dari Kota Makassar dengan menempuh jarak kurang lebih 60 km.

Udara segar Pangkep yang menyambut kedatangan kami menghapus pergi kegalauan fikiran yang memberat di pundak. Keindahan bukit bukau dan gunung ganang yang melatarbelakangi pemandangan di Pangkep berserta sungai yang merentasi jantung kota itu ibarat sihir agung yang menyihir para pelawat yang datang berkunjung. Pangkep memiliki nilai estetika tersendiri yang mana ia memiliki bangunan-bangunan yang pelbagai bentuk dan warna. Tiba di Mattampa, pusat perlancongan utama (wisata tunjangan) Pangkep jam 9 pagi. Suasana masih sepi. Hanya kami bertiga yang menjadi pengunjung pertama.

Suasana di Mattampa seperti di taman tema. Ada taman haiwan (hewan) yang didalamnya ada banyak patung hewan. Ada singa, zirafah, kuda belang dan sebagainya. Ada juga tempat mainan untuk anak-anak dan ada juga kereta api mainan. Selain itu, di sana juga ada kolam mandi umum dan kolam renang. Kami menghabiskan waktu di sana dengan berkelah dan mendengarkan sedikit tazkirah ringkas. Alhamdulillah, biar di mana saja kita berada, yang paling penting itu kita sentiasa merasai kehadiran Allah dalam kehidupan kita. Merasai jagaan Allah pada kita. Contohnya melalui perjalanan ke Pangkep yang jauh sebegini benar-benar hanya dapat berharap pada jagaan penuh dari Allah SWT.

Usai solat zohor, kami berkemas untuk pulang dan setelah kami siap berfoto di sekitar situ. Tekak (tenggorokan) yang kering memaksa kita mencari warung yang menjual minuman. Untung ada sebuah warung yang menjual minuman sejuk (dingin) dekat pintu gua. Sambil minum kami sempat bersembang dengan bapak dan ibu empunya warung. Melalui mereka, kami mengetahui sedikit sebanyak budaya warga Pangkep dan sejarah tentang Mattampa sendiri. Bapak juga yang memberikan informasi untuk pulang ke Makassar. Jam 2.15 petang (sore) kami bertolak pulang ke Makassar dengan menggunakan angkot kota.

Jumaat, 29 Oktober 2010

BON ANNIVERSIRE IZYAN AYUNI

0


Izyan Ayuni.. Izyan Ayuni.. suatu tika dulu, nama itu sangat asing di pendengara. Namun hari ini nama itu bukan sekadar sebati dalam diri bahkan menjadi kerinduan di hati. Mengenalimu adalah suatu keajaiban. Bersahabat denganmu adalah rahmat Allah SWT yang amat bermakna. Hari-hari yang kita lalui, sarat menyimpan seribu satu kenangan terindah yang amat sukar dilupakan. Setiap hari mengenalimu ibarat lakaran seni yang mewarnai kanvas hidupku.

Masihkah kau ingat saat pertama tangan dihulur, menebarkan salam perkenalan. Katamu kau seolah mengenali diriku sebelum ini. bermula dari situ, takdir kian mendekatkan kita untuk bersahabat. Saat pertama aku menyertaimu berjalan meredahi Bandar Nilai untuk membaiki cermin mata, kita amat teruja untuk membeli makanan di kedai mamak As-Salam. Masihkah kau ingat saat kita terdampar kebosanan di hujung minggu, lantaran bebanan pelajaran yang kian galak menekan minda, kita sepakat menyewa kereta (mobil).. keluar bersiar-siar melepas stress.. hingga amal itu menjadi rutin hujung minggu kita buat beberapa ketika. Masihkah kau ingat di saat kita bersama ke pejabat Bendahari mendapatkan cheque biasiswa pelajaran dan menukarkannya sendiri di Bank Islam dekat asrama, disebabkan kesempitan waktu yang menjerut nadi, kau memecut laju kereta membuat hati dilanda bimbang yang teramat.

Sewaktu Ramadhan menjelma, kita sempat membeli pinggan mangkuk berserta rak yang kemudian membuatkan kita bangga lantaran memiliki peralatan rumah. Ibarat sebuah keluarga, kita berkongsi wang membeli makanan berbuka.. terkadang kita turun memilih makanan bersama. Walau sederhana kita tetap gembira ditambah paksaan dictator untuk menghabiskan lauk pauk di akhir waktu. Malamnya teramat indah diserikan dengan solat jemaah bersama di dataran terbuka.

Menjejaki semesta kedua, kita semakin serasi. Kerana kita punya banyak persamaan. Kerana kita punya kegemaran yang serupa. Pengembaraan mengikutimu pulang ke rumah adalah pengembaraan yang paling manis dalam hidupku. Kita membicarakan pelbagai hal untuk menghangatkan suasana. Dalam perjalanan pulang pula sempat singgah menunaikan solat di Masjid Sepang yang tersergam indah dengan panorama yang menggamit jiwa. Menghadiri kem komunikasi Bahasa Arab, itulah satu-satunya program rasmi yang aku sertai bersamamu. Bertapak di bilik yang sama, kita sangat girang menonton televisyen setelah penat mengasak fikiran dengan kemahiran bertutur dalam bahasa Al-Quran tersebut.

Izyan Ayuni..

Masihkah kau ingat sewaktu kita di amuk badai peperiksaan , kau mengajakku ke taman tema. Walau jam telah menganjak ke angka 10, kita tetap meneruskan agenda luar biasa itu. Kita menaiki mesin terbang.. pusingan pertama, dan kedua.. masih boleh bertahan.. masuk pusingan ke 3 dan seterusnya telah melumpuhkan sendi-sendi untuk bertahan. Namun ia tetap menyeronokkan.

Menjelang peperiksaan akhir semesta, kita sering bertapa di masjid menukar angin belajar ke tempat yang lebih tenang. Hari-hari yang meresahkan, hari-hari yang melenyapkan deria rasa mampu aku lalui dengan kehadiranmu disisi. ..

* Catatan ini kutulis saat selesai matrikulasi. Baru kubaca kembali mengenangkan hari ini adalah hari Istimewamu.. semoga sedikit catatan ringkas ini dapat mengingatkan kembali saat-saat bersama yang tak mungkin terulang tapi tetap segar diingatan..

Sahabatku, selamat ulangtahun kelahiran.. semoga Allah mencucurimu rahmat dan kebahagiaan hidup dunia akhirat..uhibbuki fillah..

Isnin, 25 Oktober 2010

TEGURAN KAKAK

0


Sejak kecil perwatakanku(karekter) sangat berbeza (beda) dari kakak. Kalau kakak suka permainan yang lasak, diri lebih suka permainan yang keperempuanan seperti masak-masak. Kalau kakak itu banyak bicara orangnya, diri lebih suka diam tak berkata apa.. Ibarat kata arwah nenekku, kalau kakak pulang dari sekolah, seisi rumah maklum tentang kepulangannya. Kerana kakak pasti akan menyapa semua orang. Bertentangan halnya apabila diri yang pulang dari sekolah, semua orang juga tidak tahu kerana diri lebih senang diam dan berada di bilik (kamar). Awalnya juga hairan kenapa diri bersikap begitu, tapi fikirku mungkin kerana diri anak kedua, makanya miliki sifat yang menyeimbangkan perwatakannya kakak.

Terkenang suatu peristiwa sewaktu diri berada di tingkatan 3 sekolah menengah rendah (kelas 3 SMP). Akan menduduki ujian penting Penilaian Menengah Rendah (PMR) pada penghujung tahunnya. Waktu itu kakakku berada di tingkatan 5 (kelas 2 SMA) dan juga akan menduduki ujian besar Sijil Pelajaran Malaysia (SPM) (Ujian Nasional). Waktu itu, diri lebih banyak menghabiskan waktu belajar di kamar berikutan meja belajar yang terletak di kamar. Maklum belajar untuk mendapatkan keputusan yang cemerlang dalam ujian nanti (buru ranking). Hinggakan hanya keluar dari kamar sewaktu solat dan makan. Tidak peduli apa yang berlaku dalam rumah. Kalau hari cuti sekolah (libur sabtu minggu), diri akan menghadiri kelas tambahan. Kalau kakakku lebih banyak berada diluar kamar. Bermain dengan adik-adik, bersembang dengan ummi dan nenek dan sebagainya. Pokoknya kakak itu masuk ke kamar hanya waktu tidur.

Suatu hari sedang bersembang dengan kakak, dan kakak berkata “ awak ini bagus, selalu belajar sebab nak dapatkan keputusan yang cemerlang dalam pelajaran. Tapi satu hal yang awak harus ingat, sedang awak berusaha gigih untuk mengejar cita-cita di kamar, adik-adik kita juga sedang membesar diluar. Dan melalui usia-usia mereka sekarang, mereka memerlukan perhatian dari kita untuk membantu mereka, mendengarkan mereka. Janganlah ketekunan itu menghilangkan kepekaan dan sensitivity awak terhadap orang-orang lain. Belajar hingga cemerlang itu memang perlu.. tapi masih banyak hal yang penting harus kita titik beratkan di sekitar kita..”

Teguran yang benar-benar menusuk kalbu. Ya benar, diri terlupa akan hal itu. Terlalu banyak menghadap buku, terobses dengan latihan demi latihan yang memahirkan, diri ibarat tenggelam dalam dunia sendiri hingga tak sedar yang waktu tetap berputar. Banyak hal yang berlaku tapi tidak kuhiraukan. Bukan sahaja di rumah. Bahkan di sekolah. Hanya berbicara dengan teman-teman akrab serta kelompok belajar hingga terlupa masih banyak rakan sekelas yang tidak ku sapa. Hidup dalam komuniti kelas yang kecil namun masih ada yang belum ku kenali. Apatah lagi untuk membantu rakan-rakan yang kurang memahami setiap mata pelajaran yang diajarkan guru.. Seakan terlupa istilah ilmu itu untuk dikongsi bukan untuk di bolot sendiri. patutlah ada rakan yang menyatakan diri sombong.Astagfirullahal adzim..

Nasihat kakak sudah banyak mengubahku. Ya dari ulat buku menjadi makhluk sosial memang tak mudah pada awalnya. Namun seakan ada kebahagiaan yang tersendiri apabila menghabiskan waktu dengan keluarga. Melihat telatah adik-adik yang lucu, mendengar cerita-cerita persekolahan serta kegusaran anak-anak. Mendengar nasihat ibu yang tak pernah habis, imbauan kisah silam nenek yang penuh pengalaman. Di sekolah juga baru membiasakan diri untuk menyapa semua orang setiap pagi. Dan mengambil peduli tentang kegusaran rakan-rakan serta gossip-gosip terbaru yang beredar di sekolah. Kerunsingan tentang ujian PMR yang mendatang tidak lagi membelenggu fikiran. Baru dapat belajar dengan lebih tenang dan gembira. Benarlah kata kakak, jangan terlalu tertekan (stress) memikirkan kegagalan yang masih belum berlaku. Nikmatilah apa yang ada sekarang. Belajar dengan baik dan menghargai apa yang ada disekeling. Berusaha maksimal tanpa mengabaikan orang lain. paling penting itu menjaga hubungan dengan Allah, hubungan sesama manusia dan hubungan dengan alam.

Terima kasih kakakku..

AKU, LIM & ISLAM

0

-gambar sekadar hiasan-

A story from a friend..
Aku punya seorang rakan baik dari zaman kanak-kanak. Lim Wei Choon. Sana-sama bersekolah rendah hingga ke peringkat menengah . Selepas SPM. Aku masuk ke Tingkatan 6, manakala Lim dihantar keluarganya melanjutkan pelajaran ke Amerika Syarikat. Kenangan sewaktu kanak-kanak hingga ke zaman remaja terlalu banyak yang dikongsi bersama.

Setiap kali hariraya menjelang, Lim pasti berkunjung ke rumah ku untuk menikmati dodol arwah ayahku yang amat digemarinya. kadangkala, jika ada kenduri kendara dirumahku, pasti Lim akan turut serta. Aku jarang ke rumahnya kecuali umtuk beberapa sambutan seperti harijadi dan juga Tahun Baru Cina. Aku takut dengan anjing peliharaan keluarga Lim.

Dengan Lim juga aku belajar matematik manakala subjek Bahasa Malaysia sering menjadi rujukannya padaku. Kenangan-kenangan seperti memancing, mandi jeram, ponteng sekolah untuk melihat pertandingan 'breakdance', semuanya kami kongsi bersama-sama. Apa yang ingin kunyatakan ialah, warna kulit dan perbezaan ugama tidak pernah menjadi penghalang persahabatan kami. 20 tahun telah berlalu, Lim telah menetap di Amerika setelah berjaya mendapat Green Card, beliau bekerja disana. Itu yang kuketahui dari kakaknya.

Hubungan ku dengan Lim terputus setelah dia melanjutkan pelajaran. maklumlah, dizaman kami dulu tiada internet, email atau telefon bimbit, yang ada cuma sesekali menghantar poskad bertanya khabar. Untuk menulis surat kepada lelaki amat malas kami rasakan.

Suatu pagi. Aku bertembung dengan kakak Lim di pasar , kakaknya memberitahu Lim akan pulang ke tanahair. Dan aku amat terkejut dengan berita yang kudengar dari kakaknya.

" He's name is no more Lim Wei Choon. He's now Ahmad Zulfikar Lim since 5 years ago. ..Subhanallah!

Syukur Alhamdulillah, rakan baikku telah menemui hidayah dari Allah S.W.T. Memang aku tak sabar untuk berjumpa dengannya lebih-lebih lagi setelah menjadi saudara seagama denganku.

Hari yang kutunggu-tunggu telah tiba, dan petang itu aku berkesempatan bertemu dengan Lim dirumahnya. Ada satu keraian istimewa sempena menyambut kepulangannya. Ketika aku tiba, tetamu sudah semakin berkurangan. ..

Assalamualaikum..Itulah kalimat pertama dari mulutnya, wajahnya sudah jauh berubah, air mukanya amat redup dan tenang.

Aku menjawab salam dan berpelukan dengannya dan kami menangis umpama kekasih yang sudah terlalu lama terpisah.

'Ini dia olang memang sudah manyak lama kawan, dari kecik ini dua olang" Ibu Lim menjelaskan pada beberapa orang tetamu yang melihat peristiwa kami berpelukan dan menangis itu. Tetapi aku bukan menangis kerana apa, tetapi kerana amat sebak dan terharu dan sangat bersyukur melihat keislaman rakanku. Lim mengajak aku duduk dibuaian dihalaman rumahnya untuk berbual-bual. beliau masih fasih berbahasa melayu walau sudah lama berada diperantauan.

Talha, kau kawan baik aku kan? betul tak? .Memanglah..Kenapa kau tanya macam tu?kalau kau kawan baik aku, Kenapa kau biarkan aku diseksa?

Sorry Lim. Aku tak faham..diseksa? What do you mean?

Cuba kau fikir, kita ni kawan dari kecil. Aku ingat lagi, rumah kau tu, is my second house.

Tapi, mengapalah kau tak pernah ceritakan pada aku tentang Islam? Mengapa aku kena pergi ke US baru aku dapat belajar tentang Islam? Mengapa bukan di Malaysia, negara Islam ni?

Dan mengapa aku di Islam kan oleh seorang bekas paderi kristian?

Aku terdiam, kelu tak mampu menjawab. Dan Lim terus berkata-kata.Kalau betullah kau kawan baik aku, Kenapa kau cuma nak baik dengan aku di dunia saja? kau suka tengok kawan baik kau ni diseksa didalam api neraka?

Kau tahu, kalaulah aku ni tak sempat masuk islam hingga aku mati. Aku akan dakwa semua orang melayu Islam dalam kampung kita ni sebab tak sampaikan dakwah dan risalah Islam pada aku, keluarga aku dan non muslim yang lain.Kau sedar tak, kau dah diberikan nikmat besar oleh Allah denagn melahirkan kau didalam keluarga Islam. tapi, nikmat itu bukan untuk kau nikmati seorang diri, atau untuk keluarga kau sendiri, kau dilahirkan dalam Islam adalah kerana ditugaskan untuk sampaikan Islam pada orang-orang yang dilahirkan dalam keluarga bukan Islam macam aku.

Aku masih tunduk dan terkata apa-apa kerana sangat malu.Berdakwah adalah tugas muslim yang paling utama, sebagai pewaris Nabi, penyambung Risalah.

Tetapi apa yang aku lihat, orang melayu ni tiadak ada roh jihad, tak ada keinginan untuk berdakwah, macamana Allah nak tolong bangsa melayu kalau bangsa tu sendiri tak tolong ugama Allah?Aku bukan nak banggakan diri aku, cuma aku kesal..sepatutnya nikmat ini kau kena gunakan dengan betul dan tepat, kerana selagi kau belum pernah berdakwah, jangan kau fikir kau sudah bersyukur pada Allah.

Dan satu lagi, jangan dengan mudah kau cop orang-orang bukan Islam itu sebagai kafir kerana kafir itu bererti ingkar. Kalau kau dah sampaikan seruan dengan betul, kemudian mereka ingkar dan berpaling, barulah kau boleh panggil kafir.

Aku menjadi amat malu, kerana segala apa yang dikatakan oleh Lim adalah benar! dan aku tak pernah pun terfikir selama ini. Aku hanya sibuk untuk memperbaiki amalan diri sehingga lupa pada tugasku yang sebenar.

Baru aku faham, andainya tugas berdakwah ini telak dilaksanakan, Allah akan memberikan lagi pertolongan, bantuan dan kekuatan serta mempermudahkan segala urusan dunia dan akhirat sesorang itu.Petang itu aku pulang dengan satu semangat baru.
Aku ingin berdakwah!

Lim yang baru memeluk Islam selama 5 tahun itu pun telah mengislamkan lebih 20 orang termasuk adiknya. Mengapa aku yang hampir 40 tahun Islam ini (benarkah aku islam tulen) tidak pernah hatta walau seorang pun orang bukan Islam yang pernah kusampaikan dengan serious tentang kebenaran Islam?

Semoga Allah mengampuni diriku yang tidak faham apa itu erti nikmat dilahirkan sebagai Islam.

P/s : sebagai Tauladan..

Jumaat, 22 Oktober 2010

TERPATRI SEBUAH JANJI

0


Perkara yang sangat dituntut terhadap orang Islam ialah menunaikan janji setelah berjanji sama ada sesama muslim ataupun sebaliknya. Menunai setiap apa yang dijanjikan sangat dituntut dalam Islam sama ada perkara yang dijanjikan itu kecil ataupun besar selagi perkara itu tidak membawa kepada maksiat atau pergaduhan.
Firman Allah dalam al Quran:

‘Dan tunai olehmu akan janji sesungguhnya janji itu sesuatu tanggungjawab’
(Surah: 34)

Dalam ayat di atas Allah s.w.t. menyuruh semua hamba-Nya supaya menepati janji apabila dia berjanji dan hendaklah berpegang dengan janji apabila seseorang itu telah berjanji pada waktu dan tarikh yang dijanjikan. Maka hendaklah dia tunaikan pada waktu dan tarikh yang telah dipersetujui itu, walau apapun halangan mestilah menepatinya. Peningkatan prestasi serta lambang keperibadian muslim yang baik dan disenangi adalah terletak pada ketegasan dalam menepati janji. Andainya terdapat sesuatu yang tidak boleh dielakkan, hendaklah dibatalkan ataupun diubah tarikh dan waktunya secara terbaik seperti isytihar kalau beranji dengan pihak umum atau secara telefon sekiranya dengan individu, supaya pihak lain tidak ternanti nanti.

Menunaikan janji adalah diwajibkan ke atas setiap muslim yang membuat janji tidak terkecuali melainkan apabila terdapat keuzuran, maka ia boleh ditangguhkan ataupun sebagainya sepertimana telah dijelas di atas tadi. Persoalan menepati janji amat dituntut dalam Islam kerna menepati janji ini merupakan penyempurnaan keperibadian seorang muslim dalam agama Islam, sepertimana sabda Rasulullah s.a.w.

‘Tanda orang munafik itu ada tiga perkara apabila bercakap dia berbohong, apabila berjanji dia mungkiri janji dan apabila dia diamanahkan dia mengkhianati’.
(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dalam berjanji amat penting untuk mengingati dan ditunaikan kerana nilai diri seseorang muslim sebahagian daripadanya terletak pada kedudukan dan tanggungjawab menepati janji. Seandainya berjanji dan seringkali tidak ditepati maka kepercayaan orang lain terhadap seseorang itu semakin menurun dan berkurangan. Sebab itulah jangan mudah menerima janji serta berhati-hati terlebih dahulu, sekiranya diterima adakah boleh ditepati atau sebaliknya. Rasulullah s.a.w. amat berpegang dengan janji. Setiap janji Rasulullah tidak pernah mencuaikannya bahkan dia tunggu sehingga pihak yang dijanjikan itu datang menemuinya. Kisah ini sepertimana didwayatkan dalam satu hadis daripada Abdullah bin Abi alHamsa' ra. berkata:

‘Aku telah membuat satu perjanjian dengan Rasulullah sebelum dia dibangkitkan menjadi Rasul, dengan menjual suatu barang, setelah terdapat baki yang tidak dapat diselesaikan ketika itu dan aku berjanji untuk datang menyelesaikannya di suatu tempat, maka aku terlupa perjanjian yang dibuat bersamanya. Kemudian aku teringat selepas tiga hari maka aku datang. Tiba-tiba aku dapati Rasulullah berada di tempat itu, lalu beliau berkata, "Wahai pemuda! Sesungguhnya kamu telah menyusahkan ke atas aku, aku berada di sini semenjak tiga hari menunggu kamu".
(Riwayat Abu Daud)

Dari hadis di atas timbul persoalan mengapa Rasulullah amat berpegang pada janji sehinggakan beliau sanggup tunggu sampai tiga hari berturut-turut? Untuk menjawabnya perlu dijelaskan kedudukan janji pada syariat. Ia merupakan suatu tanggungjawab sebagai satu amanah yang mesti ditunaikan antara dua orang yang berjanji, setelah dipersetujui antara dua belah pihak, maka apabila mengingkari perjanjian yang telah dipersetujui bererti mengabaikan amanah. Oleh itu kedudukan orang yang demikian adalah munafik sepertimana dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadis tersebut di atas yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Sebab itulah umat Islam disuruh menunaikan janji apabila mereka berjanji. Sekiranya diragui tidak dapat menunainya jangan sekali-kali membuat janji, kerana ia adalah berat dan membawa kepada salah satu tanda daripada tanda-tanda munafik. (Rujuk Ibnu Haiar Al-Asqalani. 1978. hlm. 218, juzuk 22) Seorang penyair telah mengambarkan sikap mungkir janji dengan tujuan untuk menghindarkan daripada sikap tidak menepati janji bila seseorang itu berjanji dengan katanya:

‘Jangan kamu merungut apabila suatu masalah tidak dapat diatasi. Sesungguhnya penyempurnaan terhadap satu janji dalam suatu perkara dengan perkataan "Ya". Sebaik baik perkataan “Ya” selepas "Tidak", dan seburuk buruk perkataan "Tidak" selepas pengakuan "Ya". Sesungphnya "tidak” selepas "ya”, suatu yang tidak diingini. maka dengan perkataan "tidak", mulalah meringan meringankan tanggungjawab, dan mulalah hidupmu dipandang ringan yang membawa penyesalan selama lamanya. Dan apabila kamu berkata "Ya", maka sabarlah terhadap kesanggupan itu, dengan tujuan menjayakan perianjian bagi mengelak bersalahan janji untuk menjauhi dari kamu dikeji.

Mengingatkan martabat janji, muhasabah kembali diri. Selama ini tidak terlalu menitik beratkan betapa seriusnya sebuah janji itu hingga terkadang diri dengan senang membuat janji yang sendiri tidak pasti sama ada mampu atau tidak untuk ditepati. Salah satu janji yang paling serius buat masa sekarang, adalah janji untuk berkumpul semula dengan anak-anak KKN Tolbar pada 10 tahun akan datang di rumah Hj. Tewa di Jeneponto. Ya, 10 tahun dari tarikh penarikan (pulang ke Makassar) tempoh hari. 26 Agustus 2020.

10 tahun itu bukanlah suatu jangka masa yang pendek. Banyak hal yang bisa dan akan berlaku dalam 10 tahun ini. Nak melalui dunia klinikal (coas), 2 tahun.. mungkin juga 2 tahun setengah. Graduate (wisuda) tahun akhir, pulang ke tanah air dalam 2012-2013. Masih ada 7 tahun ke depan. Housementship 2 tahun, masih ada 5 tahun ke depan. Bagaimana nanti kalau sudah banyak hal serius yang harus difikirkan hingga terlupa janji yang pernah ku buat? Ataupun tiba-tiba hilang ingatan? Tambahan apabila jarak dan sempadan Negara yang makin jauh memisahkan. Adakah diri mampu untuk mendapatkan cuti (libur), dan tiket pesawat tepat waktu? Astagfirullahal adzim… semoga Allah memeliharaku dari sifat memungkiri janji..
Wahai diri, belajarlah untuk lebih peka dan berhati-hati dalam mematri janji. Jangan sampai janji yang kita sendiri buat menuntut kita di akhirat dan ia menghumban kita ke neraka Jahannam.. Nauzubillahi min dzalik.

*wahai sahabat-sahabatku, teman-teman serta siapa saja yang pernah menerima janji dariku tetapi tidak kupenuhi pada waktu yang lalu, tidak lain yang bisa kuucapkan pada kalian kecuali minta ampun dan mohon maaf yang tidak terhingga atas kekhilafanku.

WARKAH BUAT ADIKKU

0


Adikku,

Masuk hari ini, sudah 1 bulan 5 hari kamu berada jauh dari keluarga. Menjalani kembara ilmu ke bumi Mesir demi mengejar impian. Ya, impian untuk menjadi professional ustaz yang bisa diandalkan oleh agama. Adikku, terkenang saat –saat menghantarmu di lapangan terbang kelmarin. Waktu itu perasaanku berbaur antara suka dan duka. Suka kerana kamu mampu meraih kejora yang kau impikan. Melanjutkan pelajaran ke bumi ambiya’ dan memasuki university yang telah banyak melahirkan para ulama, cendikiawan dan cerdik pandai di dunia. Duka tatkala mengenangkan betapa jauh jarak yang bakal memisahkan kita. Dan mungkin juga kerana aku terlebih dahulu belajar di Negara orang, maka amat memahami betapa tidak mudah untuk beradaptasi dan saking banyaknya pancaroba yang menanti. Bukan aku tidak yakin padamu, tapi kerna kamu adikku, aku merasa tidak sanggup melihat kamu melalui lorong hidupmu sendirian mengharung kepayahan tanpa ada keluarga disisi. Namun aku tahu wahai adikku, lambat atau cepat, saat ini pasti kan tiba. Saat di mana keluarga harus melepaskanmu pergi. Memilih jalanmu sendiri. Mengejar impianmu meski ke penghujung dunia.

Wahai adikku,

Semoga kamu sentiasa tabah walau bagaimana bentuk ujian yang menghadang. Mungkin kamu pergi dengan gembira dan melihat semua tentang timur tengah itu indah, ketahuilah bahawa yang indah itu tak selamanya indah. Akan ada cabaran yang menantimu di depan. Maka persiapkanlah dirimu dengan kecekalan dan kesabaran. Semoga Allah membantumu dan melindungimu di segenap penjuru dirimu.

Adikku, bertemanlah dengan sahabat yang soleh. Kerana sahabat yang soleh itu akan menuntunmu ke syurga. Kamu akan berhadapan dengan pelbagai ragam masyarakat yang aneh lagi tenat. Melihat suasana-suasana jahiliyah yang tidak baik dan akan cuba untuk mempengaruhimu. Waktu itu adikku, hanya sahabat yang soleh yang mampu menyelamatkanmu. Mereka akan tetap menggenggam tanganmu dan menuntunmu untuk terus berada di atas jalan kebenaran. Sahabat-sahabat ini akan merawat cederamu dan akan menguatkan hatimu untuk terus berpegang pada tali Allah.


Adikku,

Bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu kerana ilmu itu pelita yang akan menerangi di kala pekat dan suramnya malam. Mungkin waktu-waktu awal ini masih dalam proses penyesuaian bahasa lantas kamu tidak mampu untuk memahami segala yang diajarkan oleh pensyarah (lecturer). Namun jangan pernah menyerah. Tingkatkan usaha dengan lebih gigih untuk mengulangkaji kembali apa yang telah diajarkan. Dewasa ini adikku, aku melihat budaya negative yang beredar di kalangan mahasiswa termasuklah mahasiswa perubatan iaitu “ponteng kuliah”. Fenomena ini wahai adikku, walaupun tampak simple (sepele), ia member dampak yang besar pada diri individu. Menghadiri kuliah itu, bisa membina sifat tanggungjawab dan berkomitmen di samping harus kita sedari bahawa tak selamanya bergurukan buku itu benar. Adakalanya bergurukan buku juga boleh jadi sesat lagi menyesatkan. Oleh itu harus ada murabbi, pendidik yang ahli yang mampu menjelaskan ilmu tersebut. Oleh itu adikku, berusahalah untuk tidak pernah ponteng walau dengan alasan apapun selagi tidak memudaratkan kesihatanmu.

Adikku, sekali kamu memutuskan untuk masuk ke bidang ini, bererti kamu sudah menandatangani kontrak belajar seumur hidup. Pantang menyerah dan tetap semangat walau apa yang mendatang. Tidak ada lagi istilah pergantian bidang, yang ada adalah menjadi pelajar perubatan yang baik. Bak kata pepatah Melayu “Alang-alang menyeluk pekasam biar sampai ke pangkal lengan”.

Selasa, 19 Oktober 2010

DE SUSHI

0


18 Oktober kemarin, diri telah berpeluang untuk menjejakkan kaki ke salah satu kedai sishi yang telah sekian lama dicari. Itupun dibawa oleh salah seorang teman dari kelas Internasional. Owh, rupanya ada kedai sushi di Makassar ini. Kenapalah tak pernah tahu. Ha lepas ini tak perlulah susah-susah import beras sushi dan seaweed dari Malaysia setiap kali balik. Hm tapi sebenarnya kalau masak sendiri lebih puas hati bila makan.

Toko sushi ini terletak dekat Pantai Losari dengan lokasi yang lebih tepatnya berhampiran dengan pintu masuk pusat cenderamata Makassar. Tak susahpun untuk ke sana. Kami menaiki pete-pete (angkot kota) 05 hingga ke Hotel Singgahsana. Dari sana, kami mengambil taksi ke Restoran Ayam Solo Selatan (kerana Restoran De Sushi terletak berhampiran dengan restoran tersebut). Biaya perjalanan yang kami keluarkan cuma Rp 3000 untuk pete-pete dan Rp5000 untuk taksi.

Bercerita tentang sushi, pertama kali diri mengenali sushi lewat kakakku yang tersayang. Pada mulanya tidak begitu suka dengan Japanese crusine ini tapi lama kelamaan ia menjadi kegemaran kami bersaudara. Lebih terkesan setelah diri melanjutkan pelajaran ke Indonesia, mungkin kerna di sini belum pernah menemui sushi makanya setiap kali pulang pasti kakakku yang menjadi mangsa ajakan ku untuk makan di Sushi King, salah satu restoran sushi yang masyhur di Malaysia.

Pernah ada temanku bertanya, “Apa tu sushi?” what, ada orang tak tahu apa tu sushi? Alamak susahnya nak jawab. Lebih parah bila ditanya, “bagaimana sejarah adanya terwujud makanan yang namanya sushi?”. Tak pernah terfikir pula ada orang yang akan tanya soalan tu. Buat temanku, ini sedikit maklumat tentang sushi yang diri juga baru baca dari internet. Terima kasih kerana bertanya.

Sushi (鮨, 鮓, atau biasanya すし, 寿司?) adalah makanan Jepun (Jepang) yang terdiri dari nasi yang dibentuk bersama lauk (neta) berupa makanan laut, daging, sayuran mentah atau sudah dimasak. Nasi sushi mempunyai rasa masam yang lembut karena dibumbui campuran cuka beras, garam, dan gula.

Konon kebiasaan mengawetkan ikan dengan menggunakan beras dan cuka berasal dari daerah pegunungan di Asia Tenggara. Istilah sushi berasal dari bentuk tata bahasa kuno yang tidak lagi dipergunakan dalam konteks lain; secara harfiah, "sushi" berarti "itu (berasa) masam", suatu gambaran mengenai proses fermentasi dalam sejarah akar katanya. Dasar ilmiah di balik proses fermentasi ikan yang dikemas di dalam nasi ialah bahwa cuka yang dihasilkan dari fermentasi nasi menguraikan asam amino dari daging ikan. Hasilnya ialah salah satu dari lima rasa dasar, yang disebut umami dalam bahasa Jepun (Jepang).

Sebelum zaman Edo, sebagian besar sushi yang dikenal di Jepang adalah jenis oshizushi (sushi yang dibentuk dengan cara ditekan-tekan di dalam wadah kayu persegi). Pada zaman dulu, orang Jepang mungkin kuat makan karena sushi selalu dihidangkan dalam porsi besar. Sushi sebanyak 1 kan (1 porsi) setara dengan 9 kan (9 porsi) sushi zaman sekarang, atau kira-kira sama dengan 18 kepal sushi (360 gram). Satu porsi sushi zaman dulu yang disebut ikkanzushi mempunyai neta yang terdiri dari 9 jenis makanan laut atau lebih.

Pada zaman Edo periode akhir, di Jepang mulai dikenal bentuk awal dari nigirizushi. Namun ukuran porsi nigirizushi sudah dikurangi agar lebih mudah dinikmati. Ahli sushi bernama Hanaya Yohei menciptakan sushi jenis baru yang sekarang disebut edomaezushi. Namun ukuran sushi ciptaannya besar-besar seperti onigiri. Pada masa itu, teknik pendinginan ikan masih belum maju. Akibatnya, ikan yang diambil dari laut sekitar Jepang harus diolah lebih dulu agar tidak rusak bila dijadikan sushi.
Sampai tahun 1970-an sushi masih merupakan makanan mewah. Rakyat biasa di Jepun (Jepang) hanya makan sushi untuk merayakan acara-acara khusus, dan terbatas pada sushi pesan-antar. Dalam manga, sering digambarkan pegawai kantor yang pulang tengah malam ke rumah dalam keadaan mabuk. Oleh-oleh yang dibawa untuk menyogok istri yang menunggu di rumah adalah sushi. Walaupun rumah makan kaitenzushi yang pertama sudah dibuka tahun 1958 di Osaka, penyebarannya ke daerah-daerah lain di Jepun (Jepang) memakan waktu lama. Makan sushi sebagai acara seluruh anggota keluarga terwujud di tahun 1980-an sejalan dengan makin meluasnya kaitenzushi.

Keberhasilan kaitenzushi mendorong perusahaan makanan untuk memperkenalkan berbagai macam bumbu sushi instan yang memudahkan ibu rumah tangga membuat sushi di rumah. chirashizushi atau temakizushi dapat dibuat dengan bumbu instan ditambah nasi, makanan laut, tamagoyaki dan nori.

Istilah khusus

Restoran sushi atau sushi bar di Jepang mempunyai istilah-istilah khusus yang memiliki arti lain dalam bahasa Jepang standar.

• Agari (teh hijau)
• Otesho (kecap asin) atau disebut tamari di daerah Kansai
• Kappa (mentimun)
• Gari (asinan jahe)
• Gyoku (tamagoyaki atau dashimaki)
• Kusa (nori)
• Gunkan (sushi yang dikelilingi oleh nori)
• Shari (nasi untuk sushi)
• Tsume atau nitsume (saus kental rasa manis-asin yang dioleskan pada anago, kerang hamaguri atau neta sejenis yang rasanya hambar)
• Toro (bagian perut ikan tuna), dibagi-bagi lagi menurut kadar lemak: ootoro dan chutoro
• Namida atau sabi (wasabi)
• Haran atau baran (daun hijau penghias sushi, sekarang dipakai daun plastik)
• Murasaki (kecap asin)

Semalam, kami memesan 5 jenis sushi Salmon Smoothies, Rock and Roll, Crunchy Spicy Shrimp, Dragon Roll dan Salmon Skin Roll. Rasanya enak dan harganya juga lumayan.

BONE TRIP, SHE AND US

0


Bone adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang menyimpan keanekaragaman daya tarik alam dan budaya yang patut untuk dikunjungi, seperti museum lapawawoi, bola soba dan lain sebagainya.

Museum Lapawawoi.
Merupakan bangunan tempat tinggal raja Bone XXXI Andi Mapanyukki. Museum ini berisi benda-benda seni dan budaya tradisional, foto-foto raja Bone beserta keturunan bangsawan Bone, berbagai jenis benda pusaka, pakaian dan aksesoris tradisional serta benda-benda yang biasa digunakan dalam upacara adat Bone. Terletak di pusat kota Watampone.

Bola Soba.
Merupakan rumah adat tempat tinggal panglima kerajaan Bone Andi Abdul Hamid Petta Panggawae yang dibangun pada masa pemerintahan raja Bone XXX sekitar tahun 1890. terletak di pusat kota Watampone.

Gua Mampu.
Gua mampu merupakan sebuah terowongan terpanjang dan terindah di sulawesi selatan yang dihiasi stalaktit dan stalagmit di dalamnya, konon relief stalagmit di dalam gua ini menyerupai sosok manusia. Kelebihan gua ini ialah memiliki ventilasi sehingga cahaya bisa masuk. Terletak sekitar 34 Km dari kota Watampone.


Tanjung Pallete.

Sebuah kawasan wisata yang terletak di sisi timur kab Bone yang berjarak kurang lebih 7 km dari pusat kota watampone. Lokasi yang sangat luas dan memiliki beberapa bagian yang unik dan eksotik. semua viewnya menghadap ke laut lepas teluk Bone. dengan tebing karangnya membuat membuat lokasi wisata ini bertambah menarik. Fasilitas lengkap, mulai dari Villa yang beraneka ragam dengan view menghadap ke laut membuat mata seakan te mampu berkedip, restoran dengan pelayanan yang tidak kalah dengan hotel bisa memanjakan lidah pengunjung. Ada juga kolam renang di atas bibir tebing laut, panggung terpung, perpustakaan dan berbagai fasilitas lainnya.

Perjalanan Kami
Lawatan ke Bone kali ini lebih singkat memandangkan kami berangkat agak siang. Jam 2. Tiba di Bone lebih kurang jam 6. Kasian Ros dan AA sudah lama menunggu di depan rumah kos Ros. Selesai solat Magrib dan Isya’ jama’ kami berenam duduk di beranda masjid besar Bone itu sambil berkelah makan nasi lemak yang sengaja dimasak dari Makassar siang tadi. Indahnya ukhuwwah walau hanya dengan makan bersama bisa merasai nilai kasih sayang yang terjalin. Malam ini kami memang tidak bercadang untuk keluar kemana-mana. Biarlah kami duduk-duduk di rumah meluangkan lebih banyak masa bersama Ros. Menggunakan masa secara efektif.

Terbaru mengenai Ros, dia sekarang sedang bergiat aktif dengan program liqa' yang diadakan oleh P** seperti yang kami ikuti di Makassar. baru saja habis menghadiri sambutan lebaran bersama yang diadakan di salah satu restoran makanan laut dekat sini. Padahal sahabat yang satu ini tidak pernah tahu menahu kalau kami berlima juga mengikuti program yang disusun oleh persatuan tersebut. MasyaAllah betapa peyusunan Allah itu sangat teliti. Kata sahabat yang seorang ini, dia merasa begitu sesuai (cocok) dengan mereka, merasai sentuhan tarbiyah mereka yang halus, menajamkan akal dengan ilmu yang sarat. Walaupun pada awalnya amat terkejut dengan berita tersebut, kami sangat bersyukur dengan nikmat Allah yang demikian besarnya.Subhanallah.

Pagi menjelma. Sahabatku yang dari kelmarin mau merasai manisnya isi ketam (kepiting) kebanggaan Bone mengusulkan supaya kami ke pasar untuk mencari ketam. Yah, projek besar ke Bone kali ini adalah memakan ketam (kepiting) bukan berwisata seperti kedatangan kami pada waktu lalu. AA membawa kami membeli ketam(kepiting) dari pemborong/ penjual kepiting. Wah ketam (kepiting) nya lumayan besar. Harganya (biaya) juga terjangkau. Rp50,000 per kilo. Dalam perjalanan pulang sempat singgah di pasar untuk membeli bahan masakan seperti bahan tumis (bumbu) dan bahan lain yang diperlukan buat memasak masak lemak cili padi.

Memasak bersama ketam masak lemak cili padi dan sotong masak kunyit membina rasa kasih sayang yang amat mendalam antara kami. Walau tampak simple namun hal-hal sebegini sebenarnya sangat membantu mengukuhkan hubungan persahabatan. Sambil tangan ligat bekerja, sambil mulut riuh bercerita. Selesai masak, kami makan bersama. Ketam masak lemak dengan rencah khas kasih sayang mendalam adalah masakan yang paling enak dari chef(kepala masakan) yang tepat. Ketam tembakau yang besar dengan kulit yang keras tebal memaksa kami untuk menggunakan lesung batu buat memecahkan cengkerangnya. Tapi amat berbaloi rasanya apabila otak mentafsirkan rasa manisnya isi ketam yang berjaya meransang reseptor manis di permukaan lidah terutama papilla-papilla di bagian anterior superior lidah.

Berangkat pulang lebih kurang jam 2 sore. Walau lenguh-lenguh sendi yang kelmarin belum hilang sepenuhnya, kami terpaksa mengharungi perjalanan yang panjang untuk pulang semula ke Kota Makassar. Sebenarnya perjalanan ke Bone agak berbahaya dengan bengkang bengkok jalanan 1750. Namun perjalanan yang begini sanggup kami tempuhi semata-mata menziarahi sahabat kami yang dikasihi kerana Allah. Semoga saja hubungan yang terbina antara kami akan mendapat keberkatan daripada Allah SWT..

Jumaat, 15 Oktober 2010

FROM MAKASSAR TO BONE

2


Besok bakalan melawat Bone untuk kedua kalinya. Bercerita tentang Bone, terkenang pula lawatan pertama kami ke sana pada 21 mac lalu. Satu pengalaman yang berharga yang sukar untuk dilupakan.
Dalam kekalutan menelaah pelajaran buat menghadapi ujian final sistem Gastroenterohepatologi, seseorang telah menegur diri lewat salah satu web di dunia maya. Dari situ terbina satu perkenalan yang sangat tak disangka-sangka. Ya, begitulah penyusunan Allah Yang Maha Teliti.. apabila DIA berkehendak.. maka semuanya akan berlaku sesuai dengan kehendakNya.
Dari perkenalan itu diri mengetahui bahawa masih ada anak Malaysia yang belajar di tanah kelahiran Wali Songo selain dari kami yang mengambil jurusan Kedokteran dan farmasi di Universitas Hasanuddin, Makassar. Mereka ini sedang melanjutkan pelajaran dalam bidang agama dan ekonomi di salah satu sekolah tinggi di kebupaten Bone. Walau sudah 3 tahun di Sulawesi, mereka tidak mengetahui akan kewujudan Persatuan Pelajar yang menjadi rujukan kepada Kedutaan Besar Malaysia di Indonesia. Yang menjalankan tanggungjawab untuk menjaga kebajikan warga Malaysia di sini.
Diringkaskan cerita, perkenalan ini ku khabarkan kepada sahabat-sahabat dunia akhiratku sepertimana lazimnya. Hingga persoalan demi persoalan muncul atas dasar prihatin dan peduli pada rakan senegara hingga tercetuslah idea untuk menziarahi mereka di sana usia imtihan kabir.
Dengan izin Allah, kami berlima ditemani seorang wakil dari pihak muslimin atas pertimbangan keselamatan berangkat ke Bone tanggal 21 Mac 2010. Waktu itu minggu kedua perkuliyahan traumatologi. Perjalanan ke Bone mengambil masa 4 jam dengan jalanan lereng bukit yang bersimpang siur. Namun indahnya saujana mata memandang menghilangkan sengal-sengal sendi yang coba memanjat. Diri yang memang dari awal punya “motion sickness” hanya berjaga tak lebih dari 2 jam lantaran mual muntah yang membadai.
Tiba di kota Watanpone kebupaten Bone jam 1 siang. Berjanjian dengan Ros, kenalanku yang baru pertama kali mahu ketemu di hadapan masjid besar Bone. Kelibat tudung polos bidang 60 dengan baju kurung yang menjadi identiti bangsa memudahkan kami mengenali sahabat itu walau tak pernah sekalipun melihat gambarnya di internet. Setelah bersalaman secara jamaie kami saling memperkenalkan diri supaya manik-manik ukhuwwah yang baru terbina tersemai dengan lancar. Kami juga turut berkenalan dengan AAM, pelajar S2 bidang ekonomi yang merupakan lulusan UIAM. AA adalah seorang pelajar aktif yang menerajui persatuan pelajar (MPP/BEM, Badan Eksekutif Mahasiswa) di kampus.

Kami bermalam di rumah kos Ros dan malam itu berpeluang bertaaruf dan menyelami kehidupannya sesuai dengan tujuan utama kami datang. Dari perkenalan itu, terbukalah kitab hidupnya yang penuh onak duri, kerikil batu dan awan mendung yang menyelimuti perjalanannya hingga dia bisa lolos demi melanjutkan pelajaran di peringkat yang lebih tinggi. Ya, Ros telah menjadi mangsa kepada ketidak cekapan sistem imigrasi Sabah yang akhirnya menafikan kewarganegaraannya sebagai anak jati Malaysia. Ini menyebabkan haknya untuk mewarisi tanah, melanjutkan pelajaran dan semuanya terhalang. Usaha kerasnya berjuang untuk mendapatkan keputusan cemerlang dalam pelajaran demi melanjutkan pendidikan ibarat sia-sia.
Akhirnya dia ada di sini, mengadu nasib dan mencoba untung di tanah Sultan Hasanuddin lantaran ada pertolongan dari saudara maranya yang ada di sini. Alhamdulillah Allah masih menyanyanginya dengan memberinya peluang melanjutkan pelajaran dalam bidang syariah. Sempat air mata mengalir mengenangkan liku-liku hidup sahabatku serta melihat kesederhanaan hidupnya yang tidur beralaskan tilam tipis, tidak berkipas, tidak bermeja dan tiada perabot apapun di kamar kecilnya. Memasak juga Cuma menggunakan dapur kompor yang masih menggunakan minyak tanah. Perbelanjaan bulanan juga terpaksa sangat berjimat lantaran uang kiriman dari kakaknya cuma RM200 per bulan. Namun di dalam kesederhanaannya dia tetap gembira dan menikmati hidup apa adanya.
Berbanding kami di Makassar, sudahlah ibu kota SulSel, hidup dalam kondisi yang serba lengkap. Kamar sudah taraf perpustakaan.. buku rujukan serba ada. Jangan dikata almari dan kipas, peti sejuk, mesin cuci pakaian bahkan televisyen juga kami punya. Laptop dan telefon genggam tidak usah di kira. Begitupun masih lagi banyak merungut dan merasa tak cukup. Astagfirullahal adzim..

Sepanjang lebih kurang 2 hari di Bone, Ros dan AA sempat membawa kami melawat kampus kebanggaan mereka di samping tempat-tempat wisata seperti taman bunga, rumah adat bugis, dan Tanjung Pallate. Kami juga di bawa ke pusat membeli belah yang sering mereka kunjungi buat membeli kelengkapan hidup seharian. Walaupun dalam keadaan yang sangat sederhana, layanan yang mereka berikan sangat istimewa.
Hari minggu menjelma. Kami akan berangkat pulang ke Makassar berikutan Isnin sudah mulai kuliyah. Walau masa berada di Bone amat singkat, namun syu’ur yang terbina mengikat kita dalam kasih sayangNya. Benarlah apabila berkasih sayang semata-mata kerana Allah, kita tidak memerlukan sebab atau alasan. Semoga saja kami diberikan lagi kesempatan untuk mengunjingi mereka lagi..

Rabu, 13 Oktober 2010

MET ULTAH UMAR..

0

Met ultah buat anak saudaraku (keponakan) yang pertama.. pada 9 October yang lalu. Umar Al-Fateh.. semoga umar membesar dengan sihat di bawah jagaan Allah.. dan semoga Umar menjadi anak soleh, pahlawan agama yang akan menegakkan panji Allah di muka bumi serta pembela nasib keluarga tercinta.

buat kakakku, Mahfuzah Hanisah dan abang iparku Hazimi, tahniah buat kalian kerana telah melahirkan Umar..dan mendidiknya dengan corakan Islam. Semoga rumahtangga kalian sentiasa dirahmati Allah dan diberkahi sentiasa.

Anak Soleh - Rabbani

Kenangi ibu bapa
Doakanlah sejahtera
Kita anak harus membela
Apabila sudah dewasa

Jangan biarkan mereka
Sia-sia di hari tua
Kecewa hidup dan merana
Kerna perbuatan anak derhaka

Bahgiakan mereka
Hingga ke hujung usia
Bila sampai waktu ajalnya
Anak soleh sebagai harta

Hai... Ibu bapa
Kami permata anda
Tidak jemu berdoa
Agar sejahtera terpelihara

Di dunia bahagia
Akhirat pun begitu jua
Inilah harapan kami semua
Moga Allah kabulkan doa


terlambat mengirim post lantaran server internet down dan tidak membolehkan diri untuk mengekses internet tepat waktu. apapun, doa dan ingatan ku pada kalian tetap utuh tanpa sempadan jarak dan waktu..

Selasa, 5 Oktober 2010

REMEMBER ME

0


Remember me when I am gone away,
Gone far away into the silent land;
When you can no more hold me by the hand,
Nor I half turn to go yet turning stay.
Remember me when no more day by day
You tell me of our future that you plann'd:
Only remember me; you understand
It will be late to counsel then or pray.
Yet if you should forget me for a while
And afterwards remember, do not grieve:
For if the darkness and corruption leave
A vestige of the thoughts that once I had,
Better by far you should forget and smile
Than that you should remember and be sad.

by: Christina Rossetti

*This is the first poem I've read when I was in secondary school which then succeed to make me fall in love with this kind of literature art works. it's hard to understand the underlying messages in the very beginning but my great teacher help me with that.

Just want to share a biography of the poet, Christina Rossetti..

Christina Georgina Rossetti (5 December 1830 – 29 December 1894) was an English poet who wrote a variety of romantic, devotional, and children's poems. She is best known for her long poem Goblin Market, her love poem Remember, and for the words of the Christmas carol In the Bleak Midwinter.

EARLY LIFE

Rossetti was born in London and educated at home by her mother. She had two brothers and a sister - Dante Gabriel Rossetti would become an influential artist and poet, William Michael Rossetti, and Maria Francesca Rossetti would both become successful writers. Their father, Gabriele Rossetti, was an Italian poet and a refugee from Naples; their mother, Frances Polidori, was the sister of Lord Byron's friend and physician, John William Polidori, author of The Vampyre.

In the 1840s, her family faced severe financial difficulties due to the deterioration of her father's physical and mental health. When she was 14, Rossetti suffered a nervous breakdown and left school. Bouts of depression and related illness followed. During this period she, her mother, and her sister became deeply interested in the Anglo-Catholic movement that developed in the Church of England. Religious devotion came to play a major role in Rossetti's life. In her late teens, Rossetti became engaged to the painter James Collinson, who was, like her brothers Dante and William, one of the founding members of the avant-garde artistic group, the Pre-Raphaelite Brotherhood. The engagement was broken when he reverted to Catholicism. Later she became involved with the linguist Charles Cayley, but declined to marry him, also for religious reasons. Rossetti sat for several of Dante Rossetti's most famous paintings. In 1848, she was the model for the Virgin Mary in his first completed oil painting, The Girlhood of Mary Virgin, which was the first work to be inscribed with the initials 'PRB', later revealed to signify the Pre-Raphaelite Brotherhood.The following year she modelled again for his depiction of the Annunciation, Ecce Ancilla Domini.

CAREER

Rossetti began writing at the age of 7, and published her first poem, which appeared in the Athenaeum, when she was 18. She contributed to the literary magazine ,The Germ, published by the Pre-Raphaelites from January - April 1850, and it was also edited by her brother William. Her most famous collection, Goblin Market and Other Poems, appeared in 1862, when she was 31. The title poem from this book is one of Rossetti's best known works. Although the poem is ostensibly about two sisters' misadventures with goblins, critics[citation needed] have interpreted the piece in a variety of ways: seeing it as an allegory about temptation and salvation; a commentary on Victorian gender roles and female agency; and a work about erotic desire and social redemption. She was a volunteer worker from 1859 to 1870 at the St. Mary Magdalene "house of charity" in Highgate, a refuge for former prostitutes and it is suggested Goblin Market may have been inspired by the "fallen women" she came to know. There are parallels with Coleridge's The Rime of the Ancient Mariner given both poems' religious themes of temptation, sin and redemption by vicarious suffering.[citation needed] Rossetti's collection received critical praise on publication, and according to biographer Jan Marsh, the death of Elizabeth Barrett Browning's in 1861 "led to Rossetti being hailed as her natural successor as 'female laureate'." She was ambivalent about women's suffrage, but many scholars have identified feminist themes in her poetry.[citation needed] Marsh notes, "she was opposed to war, slavery (in the American South), cruelty to animals (in the prevalent practice of animal experimentation), the exploitation of girls in under-age prostitution and all forms of military aggression."

Rossetti maintained a very large circle of friends and correspondents and continued to write and publish for the rest of her life, primarily focusing on devotional writing and children's poetry. In 1892, Rossetti wrote The Face of the Deep, a book of devotional prose, and oversaw the production of a new and enlarged edition of Sing-Song, published in 1893.

DEATH

In the later decades of her life, Rossetti suffered from Graves Disease, suffering a nearly fatal attack in the early 1870s. In 1893, she developed breast cancer and though the tumour was removed, she suffered a recurrence in September 1894. She died the following year on 29 December 1894 and was buried in Highgate Cemetery.Her Christmas poem "In the Bleak Midwinter" became widely known after her death when set as a much loved Christmas carol first by Gustav Holst, and then by Harold Darke.Her poem "Love Came Down at Christmas" (1885) has also been widely arranged as a carol. In the early 20th century Rossetti's popularity faded in the wake of Modernism. In the 1970s scholars began to rediscover and critique her work again, and it regained admittance to the Victorian literary canon



* What I found interesting about the poet is that the faith tought that she had in her. How the religion took control and runs in her life as a living system. she devote her life with everything she had and satisfied with the sacrifiction that she'd made. she just got through a lot of obstacles and yet still very calm and just let herself flow the fate..

Let us look into muslim's life nowadays.. plenty of them didn't get into Islam.. didn't take it as the way Allah want us to be. Suppose we, as a muslim are more proud & practice Allah's rule because HE choose us to be who we are right now.. be grateful and obey HIM in every angle of our life..INSYAALLAH, HE will always be there for us.