Skinpress Rss

Memaparkan catatan dengan label MY PEN. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label MY PEN. Papar semua catatan

Khamis, 10 Oktober 2013

SE-SEDERHANA MUNGKIN

0



sesederhana mungkin..
bertemu denganmu adalah takdir bagiku
berteman denganmu adalah pilihan bagiku
menjadi bagian dari kisahmu adalah hadiah istimewa bagiku

aku ingin menjadi seorang yang sederhana buatmu

sesederhana matahari dipagi hari yang menyinari bumi
sesederhana rembulan dengan keteduhan sinarnya
sesederhana angin yang berhembus menyejukkan jiwa
sesederhana hujan yang membasahi rerumputan

aku hanya ingin menjadi yang sederhana buatmu

semudah kita dipertemukan dengan caraNya
semudah kita berbicara tentang banyak hal
semudah kita bertatap muka untuk melepas rindu
semudah kita saling memberi kepercayaan dan menjaganya

aku ingin menjadi yang sederhana buatmu

semudah kita diam dan mengalah
semudah kita merajuk dan menikmati bait lagu
semudah kita meneka dan menebak silang kata
semudah kita menyembunyikan sakit hati untuk kebahagiaan
semudah kita membelakangi ego demi sebuah rasa tang melumpuhkan logika

aku hanya ingin menjadi yang sederhana buatmu

seperti pertemuan kita..
seperti perpisahan kita..
seperti goresan kisah yang telah kita lalui bersama
seperti kenangan yang tiada bosan untuk tetap tinggal

aku hanya ingin menjadi yang sederhana buatmu
seperti nasehat yang mengiringi curahan hati
seperti piutang yang menjadi sebuah budi
seperti teladan yang mempengaruhi perubahan diri
seperti tangisan yang menyayat hati ini

kita..
adalah sebuah kisah yang belum sampai pada cerita akhirnya
adalah perjalanan waktu yang dipisahkan oleh jalan kisah-Nya
adalah sebuah pulau yang siap utk dikunjungi namun tidak dikotori
adalah sekuntum bunga yang tidak mekar merekah dengan sendiri

kamu...
adalah bagian dari proses pencarian jati diri
adalah puzzle kehidupanku
jika tanpamu maka tidak akan pernah menjadi lengkap
adalah lukisan yang belum usai dengan segala warnamu di atas kanvas diri
adalah kehangatan dan kenyamanan saat berada disampingmu

aku...
adalah orang yang Allah kirimkan untuk bertemu dan menjalin kisah denganmu
adalah orang yang ingin mengingatmu dalam kesederhanaan
adalah orang yang peduli dan tidak lepas mendoakan kebaikan buatmu
adalah orang yang sederhana untuk menuliskan tulisan sederhana ini..

mahukah kamu berbagi kisah denganku?
mahukah kamu menyebut namaku dalam untaian doamu?
mahukah kamu mengingatku dengan sederhana?

walau..
entah sedalam apa dan bagaimana kamu menyimpan rasa kesal dan sebal padaku?
entah bagaimana kamu dapat memaafkan segala khilaf dan salahku?
entah sejauh dan sedalam apa kamu mengenalku?
entah sebesar apa pengorbanan dan rasa sayang
yang telah kamu lakukan dan berikan untukku..
entah kapan, dimana dan dengan cara apa kita akan dipertemukan-Nya kembali..

_hanin.jaliy_
adaptasi sajak hanya untukmu

Ahad, 1 September 2013

WARKAH PERPISAHAN

0



Kelibat Faiz muncul dari keramaian lautan manusia di Restoran Nelayan tersebut. Dia selalu terlihat tenang dan manis dalam kemeja biru kota-kotak dan celana hitam polos itu.

“Mai!!”

Seru Faiz sambil melambaikan tangan. Senyuman yang merekah dari bibir menjemput datang sinar kebahagiaan.

Mai melambai balas. Berusaha tersenyum biasa dan menyembunyikan kegalauan ritme jantung yang mulai berdetak dengan melodi yang tidak beraturan. Segera, tangan yang sebelah lagi menarik tangan Riska yang duduk melongo dikerusi tengah ruang menunggu. Dalam beberapa saat, Mai dan Riska sudah berlari-lari anak mengekori langkah Faiz.

        Bayu sudah ada disana. Dengan santai dan tanpa rasa bersalah menyantap makan malam duluan. Mai mengambil tempat paling hujung sementara Riska ditengah. Selalu begitu. Mai senantiasa berusaha mengambil tempat duduk ‘paling selamat’ antara teman-temannya. Adab dan adat menghalang Mai untuk terlalu bebas bergaul terutama dengan lawan jenis, meski dengan teman-teman yang sudah seperti keluarga sendiri. mungkin Mai kedengaran kuno. Namun Mai yakin, setiap aturan syariat yang telah ditetapkan itu pasti demi kebaikan manusia itu sendiri kerna Tuhan mengenali diri kita lebih daripada kita sendiri. Faiz duduk di sisi meja yang bertentangan.

        Hari ini hari yang sangat spesial buat Faiz. Hari graduasinya. Hari dimana dia memperoleh gelar dibidang yang dia impikan selama ini. Sarjana Teknik Sipil, dari Universitas kebanggaan negri, Universitas Hasanuddin. Apalagi, saat namanya dipanggil naik ke podium Baruga Andi Petterani untuk dinobatkan sebagai mahasiswa terbaik fakultas dengan indeks kumulatif di atas rata-rata. Kumlaude,3.98. satu prestasi yang sangat membanggakan. Faiz Ansari benar-benar anak nol satu.. Menurut kebiasaan orang Makassar, sang graduan akan menggelar acara makan-makan sebagai tanda syukuran atas nikmat tak terhingga itu. Faiz mengundang juga teman-teman kelompoknya sewaktu Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk turut berbagi bahagia.

        Entah kenapa, dada Mai berdegup kencang. Mai menempelkan telapak tangannya ke dinding dada. Jantung terasa mengganas menendang-nendang lapisan otot yang membaluti tulang belulang tepatnya diruang intercosta III dan IV, bagai meminta untuk dibebaskan dari ruang sempit mediastinum itu.

“Mati” getus hati Mai tidak percaya.

Mai pantas meraba pergelangan tangan kanannya sambil mata melirik kea rah jam tangan. Menghitung dalam hati. 135x/min. Di atas normal. Harusnya jumlah denyut nadi bagi orang dewasa sepertinya berkisar antara 60-100x/min saja.  Denyut nadi bisa meningkat pada kondisi tubuh yang mengalami stress fisik, emosional atau adanya gejala inflamasi. Mai tahu dia tidak sakit secara fisik.

“Huu..uhh!” menghela napas panang. Diagnosis kerjanya sudah pasti!!

        Mai tertular virus yang paling berbahaya dijagat raya. Mai sudah menduganya. Mai bisa membaca gejala-gejala dari “penyakit” yang dibawa oleh “virus berbahaya” tersebut. Namun Mai enggan untuk akur. Mai takut untuk mengakui bahwa dia juga telah terserang virus maha dahsyat itu. Mai juga tidak tahu sejak kapan virus itu menular di sel-sel hepatositnya. Yang dia tahu, saat ini, virus itu telah bermaharajalela disegenap penjuru urat darahnya. Virus itu sedang berpesta ria menghasilkan protein-protein steroid yang memberi kekuatan, protein euphoria yang membuatkan ‘hal sederhana juga terasa begitu indah’, dan ia telahpun membius akal sekaligus menyingkirkan kalimat ‘mustahil’ dari dalam mindanya. Itulah patofisiologi dari virus berbahaya di jagat raya ini. VIRUS MERAH JAMBU!!

        Faiz melirik Mai sambil bertanyakan menu yang mahu dipesan sebagai santapan makan malamnyaMai tersentak sontak membalas tatapan Faiz sebelum cepat-cepat menundukkan wajah. Berpura-pura sibuk memilih menu makan malamnya. Astagfirullah..Astagfirullahal adzim..Serta merta ingatan Mai melayang pada kejadian malam tadi.
------------------------x----------------------------------x-------------------------------x----------------
“Datang ke acaraku besok yah. Tunggu saja smsnya” pesan singkat dari Faiz.

Mai mengambil tempat dekat meja kerja. Baru sempat mahu menghela napas setelah penat meresusitasi bayinya yang sempat henti napas dua tiga menit lalu. Dia masih standby di kamar isolasi ruang perawatan intensif bayi baru lahir atau dalam bahasa medisnya Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Seminggu ini Mai diberi tanggungjawab untuk bertugas dibagian ini dengan waktu standby 7 kali 24 jam alias seminggu penuh. Dalam waktu seminggu ini, Mai tidak diperbolehkan keluar atau meninggalkan ruangan meski untuk makan solat dan tidur. Jadi biasanya Mai dan teman-teman sejawatnya akan memesan makanan dari restoran berdekatan rumah sakit yang menyediakan perkhidmatan pesan hantar. Rutinitas mahasiswa praktek atau klinikal. Hidup berantakan.

“Nanti diliat. Misalnya tidak dapat datang, diganti tuh traktirannya?”

 balas Mai setengah bercanda. Meski sebenarnya dia memang tidak pasti bisa hadir apa tidak.

“Tidak serunya.. Masa tidak datang? Tapi memang kalau tidak bisa, jangan dipaksakan. Iya diganti, tapi tidak tahu yah masih punya waktu atau tidak. “ balas Faiz.

Kata-kata terakhir faiz membuat Mai bingung. Penasaran.

“Apa maksudnya masih punya waktu atau tidak?” Mai membalas ulang.

“Saya mahu ke Surabaya Mai, lanjut kuliah”

Membaca jawaban sms Faiz, serta merta mata hangat dan airmata bertakung dipelupuk. Bagai embun yang menanti waktu untuk gugur, akur pada hokum gravitasi. Tak sampai 5 detik. Empangan mutiara luka itu pun pecah menjadi bah yang membanjiri dataran Himalaya yang kering kontang. Diluar, hujan juga turun dengan deras seakan mengerti pertarungan rasa yang bergejolak dalam dada Mai.

Perginya Faiz berarti akan adanya perpisahan buat selamanya. Mai tahu itu. Bahkan dari awal! Kerna dalam 1 tahun lagi Mai pasti akan meninggalkan kota Angging Mammiri ini untuk kembali berkhidmat kepada penaja biasiswanya. Perpisahan pasti terjadi. PASTI!! Namun Mai tidak menyangka akan secepat ini. Faiz akan pergi dalam waktu terdekat. Dan paling singkat satu tahun ke depan. Dan Mai juga Cuma punya satu tahun untuk diabadikan bersama teman-temannya untuk menghidupkan sang waktu. Mai paling benci dengan perpisahan. Apalagi dalam waktu yang tidak siap seperti ini.

“Kapan kamu berangkat?” Mai berusaha waras.

“5 Januari”

Mai mulai menghitung. Hari ini tanggal 31 Disember. . besok 1..2..3..4..5 Januari 2012. Cuma tersisa 5 hari sebelum Faiz berangkat. 5 hari tidak cukup untuk Mai membina tembok kukuh yang akan menahan badai tsunami airmatanya. 5 hari tidak cukup untuk dia mula belajar hidup tanpa kata-kata semangat Faiz. 5 hari tidak cukup untuk dia belajar mandiri tanpa mengganggu hidup Faiz. 5 hari tidak cukup…

“Faiz…sedihku..pasti kita tidak akan bertemu lagi”

Faiz, kenapa perkenalan kita begitu singkat? Kenapa kita terlalu banyak membuang waktu dengan episode-episode ‘berdiam diri’? kenapa aku sama sekali tidak pernah terfikir untuk kemungkinan yang ini? Sekurangnya aku sudah siap saat kamu mengangkat tangan tanda perpisahan. Airmata masih tak terbendung.

“Pertemuan itu tidak bisa kita duga atau raba. Berdoa saja moga aka nada lagi pertemuan yang selanjutnya. Saya pasti akan rindu sama kamu”

Balasan sms Faiz menyesakkan dada Mai. Menyambung napas cukup membuat jiwa terampas. Menyesakkan. No air. No air. Rasanya meneruskan hidup seakan menghitung mundur menuju hari kematian. Sepertinya dia yang bakal henti napas sebentar lagi. Untung disitu, Mai Cuma berdua dengan bayi mungil 1000 gram yang terkulai lemah, berjuang untuk hidup dibalik dinding tebal incubator.

Mai tidak tahu apa yang bakal terjadi besok. Tapi yang pasti, biar bagaimana caranya dia akan hadir di acara Faiz besok. Harus!! Mungkin ini untuk terakhir kalinya. Semoga Tuhan berpihak padanya.
Selesai visite pagi spesialis perinatologi, dr.Emma SpA, mai cepat-cepat menyelesaikan semua tugasannya. Dibersihkan si kecil Bayi Ati, mengganti popok dan memberinya susu serta memasukkan obat. Jam 11.00 pagi Mai sudah diijinkan untuk keluar. Alhamdulillah. Sepertinya ini hal yang paling gila yang pernah dia lakukan sepanjang hidup prakteknya, ‘Demi seseorang’..

-------------------------x------------------------------x----------------------------------------------x----
“Mai ini Santi..Santi itu Mai” suara Faiz kembali membawa Mai kea lam nyata.

“Oh Santi, salam kenal” Mai menyapa junior kelas Faiz yang kelihatannya masih malu-malu. 

Mereka sebelumnya telah berkenalan lewat Muka Buku. Teman-teman KKN mereka mulai mengeluarkan bunyi-bunyi sumbing, aneh saat Santi Cuma dikenalkan pada Mai. Tambah Mai dan Faiz pernah dijodoh-jodohkan sewaktu mereka praktek KKN dulu. Namun Faiz tidak terlalu peduli. Dia bahkan tidak pernah mengambil serius omelan anak-anak. Hanya dianggap angin lalu. Itu yang Mai suka tentang Faiz. Yang terus bersikap adil pada pertemanan mereka meski diganggui seperti itu.

        Acara hari itu berjalan mulus. Sampai waktu pulang, Faiz masih kelihatan ceria. Tidak menunjukkan kesedihan atas perpisahan yang bakal menjengah. Mungkin dia sama sekali tidak merasakannya. Entah apa yang membuat rasa Mai begitu dalam… meniti 5 hari yang semakin berkurang serasa menghitung sisa semangat hidup yang keluar satu persatu. Faiz hanya sebatas temannya meski dia suka. Cuma T-E-M-A-N.  Namun ia seperti cap permanen yang mampu menyalur semangat dihatinya tanpa padam.

        Mungkin Tuhan ingin mengujinya. Mungkin juga ini adalah ketentuan dari langit. Bahwa Faiz bukanlah ditakdirkan sebagai orang yang akan berada disisinya. Jika saja Faiz Ansari adalah nama yang telah dituliskan Tuhan tercantum dalam lingkaran yang sama dengan Syifa Rumaisa’ di Luh Mahfuz, pasti Tuhan punya caraNya yang tersendiri untuk mempertemukan mereka kembali dalam keadaan yang lebih baik. PASTI!!

        Sekarang bukanlah cinta itu hal yang wajar dimilikinya sedangkan ada yang lebih utama yang harus didahulukannya. Dia tidak boleh berdamai dengan virus-virus yang akan menjeratnya ini. Sebaliknya dialah yang harus menuntun cintanya ke jalan yang diredhai. Melepaskan cintanya ini untuk mendapatkan cinta yang lebih baik atau mendapatkan cintanya kembali dalam keadaan yang lebih baik. Dan satu-satunya antidote untuk membunuh viris-virus merah jambu itu adalah dengan jalan M-U-J-A-H-A-D-A-H. mujahadah itu pahit sewaktu menghadapi tapi manis setelah dilalui.

“Ya Allah seandainya dia ditakdirkan milikku, dekatkanlah hatinya dengan hatiku dan jauhkanlah kami dari perkara yang mungkar. Seandainya dia bukan milikku, jauhkanlah hatinya dari hatiku dan peliharalah kami dari rasa sedih dan dukacita..”
Amin..

Buatmu Faiz, 
Langit adalah arenamu terbanglah..aku tidak akan berkata apa-apa. kerna kamu akan selalu menjadi keajaiban bagiku..bahkan diammu dulu..

amni_shamrah 
1 Januari 2012

Sabtu, 13 April 2013

MERENTASI EPISODE DEMI EPISODE

0



Menghargai saat kebersamaan
Kita merangkai hidup ini dengan cara sederhana
Itu yang menjadikannya “hidup”
Menepati sifat hidup itu sendiri yang terus bergerak..berubah
Ya, hidup itu selalu berubah
Dan kita melewati episode demi episode

Tidak semua episode itu mudah
Ada jalan payah, berliku dan terjal
Ada jalan yang samar berkabut
Adakala kita rebah di perjalanan
Jatuh tersungkur saking kelam dan licinnya
Kadang kita patah semangat
Tak ingin bangkit
Menyerah dengan kondisi yang menjerat
Lewat….berlalu…

Episode baru datang…
Menghadirkan cahaya mentari
Menggilir pelangi untuk menerangi jalan yang kita tempuh
Kadang cahaya itu tidak datang melayang
Ia harus berusaha untuk diraih…digapai
Untuk tetap teguh berdiri..berhenti di titik dasar
Jalan itu tidak akan mengalahkan kita
Tapi kitalah yang harus meraihnya dengan jemari ini…dengan hati ini..

Jauh berlari dalam siklus kehidupan
Kita semakin beradaptasi dengan situasi
Tapi selalu ada kata “kita” dalam tiap episodenya
“Kita” yang tidak akan terpisah oleh jarah waktu
“Kita” yang akan tetap bahu membahu
Memaut saat jatuh berpaut saat butuh

Aku..Kamu…Kita..
Aku tak selamanya kuat sepertimana kamu tak selamanya teguh
Tapi kita saling melengkapi..saling menyempurnakan
Kita sudah melewatinya beberapa waktu.. dan semoga akan tetap seperti itu ke depannya
Alirkan energi itu dalam pembuluh darah dan saraf-saraf agar ia menjadi kekuatan
Kekuatan tak terkalahkan yang akan melindungi konsistensi kita

Meski  dalam kesibukan berbeda namun kita sama-sama yakin
Ada cerminanmu dalam diriku sepertimana ada bayangku dalam dirimu
Tegur aku saat aku salah dan paut tanganku saat aku tersungkur
Jangan menjadikanku asing dalam kehidupanmu
Sepertimana aku tidak ingin cahayamu malap dalam diriku
Kerna, sampai kapanpun,
 Aku tetap ingin melewati jalan berliku ini denganmu disisi..

~amni_shamrah~
00.00 am
13 April 2013


Sabtu, 23 Februari 2013

MENGURUNG RINDU

0


Kerinduanku,
Bagai ombak yang menghempas pantai
Tahu saatnya untuk pergi
Namun tak pernah lelah untuk kembali

Kerinduanku,
Bagai angin yang bertiup sepoi
Makin lama makin kencang
Hingga akhirnya menjadi puting beliung

Kerinduanku,
Bagai hujan renai
Yang turun mengguyur bumi
Kian menjadi bah yang menghayutkan

Kerinduanku,
Bagai mentari yang bersinar terang
Indah dipandang menebar benderang
Hangatnya memeluk jiwa yang kedinginan

Kerinduanku,
Seperti arus sungai yang mengalir
Makin ditahan makin kuat menghunjam
Mengaliri tiap relung hati yang kontang
Kerinduanku,
Bagai elang rajawali yang ingin bebas
Makin dikurung makin berontak
Maka lepaskanlah..biarkan ia bebas…

Amni_shamrah
02 Februari 2013
12.55 am

Isnin, 18 Februari 2013

METAFORA CINTA

0



Saat rasa mula menyentuh jiwa
Hadirnya halus menyusup atma
Ada bahagia dalam tiap titiannya
Inikah yang mereka terjemahkan dengan metafora cinta?

Rasa itu susah kita mengerti
Semakin ia disembunyi
Semakin ia gencar mencari jalannya sendiri
Memilih bahasanya untuk berbicara

Rasa itu mengalir tenang dalam diri
Tidak luput dek waktu tidak luluh oleh musim yang berganti
Semakin lama ia menghuni di hati
Semakin ia membina kekuatan sendiri
Untuk kemudian menyanggupi apapun kesulitan yang mendatang

Rasa itu tidak ada yang rancu
Tidak ada yang ambigu
Nyata dalam terang
Namun adakalanya kau tetap membutuhkan aksara dan artikulasi
Untuk kemudian menjelaskan

Metafora cinta meski tidak terwakili
Keseluruhan badai kecamuk yang melanda
Ia tetap saja menanam percaya
Bahwa kau benar cinta…

Amni_shamrah
18 Februari 2013
15.15 pm

Selasa, 5 Februari 2013

MENCARI LOCUS STANDI

0



Masih berkutat dititik awal
Mencerna tugas dan ilmu baru
Berperang dengan lelah dan lesu
Bertahan dengan sisa tenaga
Melawan sifat fisiologis tubuh yang menyiksa
Ternyata tidak semudah yang dibayangkan

Terkapai mencari locus standi
Bergelut untuk meminimalisir kesalahan demi kesalahan
Siap mental mengharung badai amarah sang penguasa
Sungguh, menguras habis energy cadangan yang tersedia

Berguru dari pengalaman pahit
Menekuni pembelajaran hidup lewat pengalaman
Mungkin aku sudah sedikit tegar dari semalam
Paling tidak, sedikit pintar untuk mencari pondisi kekuatan

Ingin rasanya menuliskan kata semangatmu
Yang pernah kau coret sewaktu jatuhku
Biar ia memomentumkan energy lewat helaian catatanku
Menggelorakan samudera tika kemarau menyapa
Entah sejak bila, kata-kata itu sudah menjadi
“My own brand of Extra-Joss”

Aku tidak pasti selama mana efeknya bisa bertahan
Aku juga tidak tahu sekuat mana ia bakal menjulang
Aku tidak pasti efek sampingnya ke depan
Yang aku pasti, aku akan mengingatnya disela serebrum yang masih berfungsi

Kau pernah bilang,
Untuk menjadi kuat harus bergantung pada diri
Untuk menjadi tabah ambil jeda sejenak
Untuk tetap semangat kurangkan mengeluh
Katamu, kekuatan itu dibina dari dalam..

Aku ingin menjadi sekuat itu,
Setabah, setangguh dan tetap semangat seperti itu
Mencari locus standi butuh perjuangan
Butuh kerja keras kerja cerdas

Tetaplah menjadi bintang Polaris yang menerangi
Biar saat tersesat
Aku masih bisa merasai benderangmu dan melihat sinarmu
Dari kejauhan yang infiniti..

~amni_shamrah~
05 Februari 2013
08.30pm
Lontara Dua, RSWS


Jumaat, 18 Januari 2013

CERITA KINAN

1



Mahukah kamu mendengarkan kisah Kinan? Kisah cinta yang tidak berakhir bahagia. Kisah saat kau membenarkan dirimu ditenggelamkan oleh ketamakan cinta. Pada akhirnya, kau bahkan hanya mampu hidup dengan separuh jiwamu. Kisah kebenaran. Gengsi. Pengkhianatan. Dan Setia. …

Ayuni menghulur kertas kecil kiriman Kinan kepada Jehan. Kertas bertukar tangan. Jehan membukanya tanpa ekspresi. Selesai membaca, dia membuang pandangan ke laut lepas. Benteng itu membuat mereka bisa melihat Selat Tebrau dengan jelas. Jehan menghela nafas. Terasing dari keriuhan teman-temannya. Sebentar matanya beralih kepada Ayuni. Dia kemudian bertanya:

“Apa yang telah diceritakan padamu Ayuni?”

Yuni membalas tatap.

“Maaf Kang, aku tidak bermaksud untuk ikut campur dalam urusan peribadimu. Hanya saja, aku tidak enak menolak permintaan teman yang banyak membantuku”

Panggilan Kang itu sudah melekat pada nama Jehan kerna rasa hormat teman-temannya dengan peribadi Jehan yang protektif, dewasa dan penuh dengan perhatian terhadap teman-temannya.

“Aku tidak berniat untuk membela diriku Yuni, hanya saja aku mahu kamu lebih jernih untuk menilai diriku. Tunggu aku setelah acara ini selesai. Akanku ceritakan padamu..apa yang perlu kau ketahui”

Jehan:

Bulan purnama menggantung di angkasa. Senyap? Sebenarnya tidak juga. Suara debur ombak menghentam cadas di bawah sana terdengar berirama. Tetapi perbicaraan ini membuat sepi banyak hal. Hatiku. Dan mungkin juga hatinya.

“Ayuni, apa yang diceritakan oleh Kinan tentangku? Jujur saja.”

“Aku tidak tahu banyak Kang. Hanya saja dia menangis tersedu di bahuku dan mengatakan betapa dia merinduimu. Betapa kamu tega untuk menghukumnya seperti ini. Menggantung tak bertali. Itu saja.”

Ayuni benar-benar memilih untuk jujur. Kang sudah layaknya seperti kakaknya sendiri. dia khawatir apa yang keluar dari bibirnya justru nanti membuat kondisi antara Jehan dan Kinan bertambah buruk. Atau sebaliknya akhibat kata-katanya menumbuhkan harapan palsu buat Jehan.

“Apa yang kau pikirkan tentangku setelah mendengarkan itu?”

“Pentingkah apa yang aku fikirkan?” Heran.

“Iya, penting buatku”

“Dia temanku. Kamu juga. Tidak adil aku menghakimi tanpa mengetahuinya darimu. Jadi aku memutuskan untuk tidak berpendapat. Bagiku, bila antara dua hati sedang berkonflik, bukan persoalan siapa yang salah dan siapa yang benar. Tapi hanya persoalan jiwa yang tidak serasi atau memang bukan jodoh.”

“Terima kasih.  Sebenarnya kamu bukan orang pertama yang diceritakan oleh Kinan. Tapi aku benar-benar berharap kamu yang terakhir. Semua yang pernah mengenaliku dan mengenalinya tahu. Kisah itu sepertinya sudah menjadi kisah public. Kau tahu, aku sudah lelah menjelaskannya berulangkali pada orang-orang dan aku sudah lelah juga mengatakan padanya untuk berhenti.”

Diam sejenak.

Sungguh hatiku tidak baik-baik saja. Sehari setelah kau memutuskan untuk mengakhiri semua ini, aku telah memujuk hatiku agar tegar. Tapi percuma. Menyakitkan. Semua itu membuat sesak. Dan untuk apa lagi kau kembali mencariku?

“Ceritaku sepertinya terlalu rumit Yuni. Meski jangka waktunya singkat. Saat di dalamnya ada kesalahpahaman, dan ia mula melibatkan pihak ketiga antara kami, hal ini menjadi lebih celaru. Kekecewaan membengkak. Kebencian terlahir. Biar pangkal semua ini, aku juga sebenarnya tidak mengerti. Aku tidak menyalahkannya. Aku juga mungkin lebih salah. Entahlah”

Jehan mendongak ke langit. Menatap purnama. Berusaha mengusir rasa sesak yang ketat menyelimuti hati saat nama “Kinan” mengudara.

Aku tahu, selalu ada bagian yang tidak masuk akal dalam perjalanan cinta. Tetapi lebih kerana, lihatlah percakapan ini, hanya lebih membuat perkara menjadi kacau. Kecamuk dalam hatiku. Kau telah membawa pergi bagian “tenang”nya.

“Separuh hatiku sudah pergi. Persis seperti sebuah daun berbentuk hati yang diiris paksa oleh belati tajam. Dipotong dua. Dan aku sama sekali tidak bisa mencegahnya. “

Jehan menahan Kristal yang mula terbentuk dimuara matanya. Takkan dia biarkan Kristal itu jatuh. Untuk orang seperti Kinan, TIDAK AKAN PERNAH!!

“Ketika hati itu terkoyak separuhnya beberapa bulan yang lalu, aku sudah bersumpah untuk menguburnya dalam-dalam. Berjanji untuk berdamai meski takkan pernah kuasa untuk melupakan”

Ayuni menelan ludah- berusaha menjawab bijak-dia tahu itu bohong

“Berdamailah dengan masa lalu. Tidak berdendam apapun. Menerima apa adanya.” Senyum.

“Cinta bukan sekadar soal memaafkan Yuni. Cinta bukan sekadar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna. Jika kau memahami cinta adalah perasaan irrational, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga.”

Aku tahu kau membutuhkan waktu untuk memahaminya Ayuni. Kerna aku juga belajar dari pengalaman yang menyakitkan ini. Semoga kau tidak perlu melaluinya.

Kinan:

“Bagaimana Yuni, Jehan mahu menerimaku kembali? Dia baca suratku? Apa yang dia katakan? Dia pasti mendengarkanmu kerna kamu temannya yang baik. Aku yakin itu.. iya kan??” Wajah penuh harap

Yuni menghela napas. Menggeleng. Negative.

Airmata Kinan berhembur lagi. Entah untuk keberapa kali.

“Aku salah. Aku salah. Aku tidak harusnya mencampakkan dia dulu. Aku tidak harus memaksanya hingga sekarang. Sungguh aku menyesal. Tidak bisakah dia mengerti itu? Tidak bisakah dia memaafkan aku? Aku sudah berusaha meminta maaf melalui semua orang. Tapi kenapa dia masih keras untuk menerimaku.. semua kerna Fardi”

“Fardi??” Yuni yang pertamanya malas ikut campur jadi terpancing.

“Iya. Sebelum aku mengenal Jehan, aku sudah terlanjur menyintai Fardi. Dia satu projek denganku sewaktu program akhir dulu. Aku menyintai Fardi dari pertama aku mengenalinya. Kau tahu, Fardi memang sosok pemuda salih yang baik dan gentlemen. Kami sering diganggu-ganggu dan digosipkan dikalangan teman-teman. Mungkin kerna kedekatan kami. AKu tahu, dia juga menyukaiku. Aku yakin itu. Hingga satu saat, dia membuat pernyataan di depan semua,
'Saya, tidak akan pernah pacaran sama siapapun. Titik!'"

Pernyataanmu itu telah meranapkan dua pertiga dari jiwaku Far. Dan kau mungkin tidak tahu itu. Beberapa waktu aku tenggelam dalam keterpurukanku, kecewa dengan penolakan halusmu hinggalah Arsya dan Santi yang mengerti kegalauanku, memperkenalkan Jehan menggantikan posisimu, dihatiku. Ya, bermula dari pertemuan singkat, sewaktu Jehan diundang ke acara pembukaan tapak projek kita. aku tahu Jehan laki-laki yang baik. Alim. Terpercaya. Kau lihat juga kan, betapa perhatiannya membuat ia sanggup meredah pekatnya malam sewaktu menghantarkanku obat sewaktu maag ku kambuh. Padahal jarak tapak projek kita sangat jauh dari kota. Kau lihat sendiri bukan? Aku yakin, Jehan akan menyayangiku setulus hatinya. Dan aku memutuskan untuk menjalani saja hubungan kami ini. Benar, hubungan ini mulus-mulus saja hingga kau kembali untuk mengatakan itu.

Bahwa aku yang terlalu terburu-buru memutuskan. Bahwa kau tidak ingin berpacaran kerna kau ingin suatu hari nanti, melamar diriku menjadi permaisuri hatimu.

Dan aku segera berlari ke dalam lingkaran cintamu. Tanpa berpikir panjang bagaimana nanti dengan hubunganku dan Jehan? Apa nanti yang akan dikatakan Jehan? Sudahlah, mungkin jehan hanyalah ujian Tuhan buat menguji perasaan kau dan aku.. bukankah??

Kecemburuanmu Far, membuat aku perlahan menjauhi Jehan. Aku tahu Jehan merasainya. Menangkap baying hambar yang mula menggelayut. Namun, apalah aku untuk menangkis cinta yang sememangnya milikmu?Jehan, benar adalah orang yang wajar untuk kau cemburui Fardi. Hampir saja aku menyerahkan semua berkas cinta ini padanya. Tapi, kerna kau berjaya merebutnya kembali sebelum ia kuhulurkan, hingga kau membuat aku tegar menolak kedatangan Jehan dalam kuyup guyuran hujan semata bertemu denganku. Mengabaikan telpon-telponnya biar berkali mencoba untuk meraihku. Menghapus smsnya yang memenuhi kotak pesan. Jehan yang sungguh kusia-siakan kerna cintamu. Dan akhirnya, kau pergi… meninggalkanku sendiri.

Ayuni:

Ini kedengarannya tidak adil!

“Jehan tahu alasanmu meninggalkannya demi Fardi?”

“Tidak. Aku bahkan tidak pernah memberi kata putus apapun berkaitan kami. Dia juga. Hilang begitu saja terbawa arus. Dia bahkan tidak pernah tahu soal Fardi.”

“Jika satu hari nanti, Fardi datang padamu dan memintamu kembali padanya, apakah kau akan meninggalkan Jehan lagi?”

“Aku tidak tahu Yuni. Yang aku tahu sekarang, aku membutuhkan Jehan. Dan harus disisiku. Ahhhh, dasar jahat!!pecundang!!”

Ayuni menggenggam botol minuman yang dipegangnya. Tidak menyangka ada cerita begitu sebalik semua kejadian ini. Dari bibir Kinan. Tidak percaya..

Apa salah Jehan hingga semudah itu kau jadikan bahan permainan? Kau menjabarkan kisah sedihmu kepada semua orang dan memposisikan Jehan dalam sangkar orang bersalah, hanya untuk meraih simpati dari orang banyak?

Kau menganggapnya jahat kerna dia tidak kembali padamu saat kau mahu? Kau menggelarnya pecundang kerna dia mencoba untuk melindungi sekeping hatinya yang terluka keranamu? Haruskah dia kembali padamu Kinan, setelah kau cabik-cabik jiwanya menjadi berkeping-keping. Jehan tidak pernah pacaran. Dan saat dia menyayangimu, dia memberikan separuh dari jiwanya untukmu. Maaf Kinan, aku tidak mahu menghakimi kisah cintamu. Aku yakin ada banyak cerita antara kalian yang membuat kondisi berada dipondisi terberat ini. Cerita ini sungguh adalah lelucon yang tidak lucu.

“Kenapa baru sekarang kau mahu kembali kepada Jehan?”

“ Kerna aku baru sadar, aku selama ini salah. Tapi aku terlalu egois untuk mengakuinya. Aku sadar, tidak ada yang mampu memberikan perhatian padaku seperti Jehan, tidak ada yang menyintaiku setulus dia."
Yuni mengetap bibir.

“Aku akhirnya tahu apa sesungguhnya yang membuat kita mampu merindukan sesuatu. Yaitu kepergian. Seperti bahwa bintang hanya terlihat terang kerana langit ditelan gelap malam. Seperti pelangi membutuhkan hujan agar lengkungnya bisa dibentuk awan.”

Ya.. paradox paradox hidup yang mahu tidak mahu harus juga kita hidup dengannya.

“Seperti bahwa kami tahu kami saling sayang justru pada saat kami melepaskan. Kerna adakala diperlukan jarak untuk membuat kita merasa dekat. Kerna adakalanya justru perpisahanlah yang membuat kita menyedari sesungguhnya kita saling cinta”

Kinan, kau terlalu banyak membaca novel. Kau dengan mudah membenarkan apapun yang terjadi dihati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi kerna kau tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut. Tidak lebih. Tidak kurang.

Kinan, aku tidak akan mungkin akan menjabarkan kisah  sadis ini pada Jehan. Kerna aku tidak berharap dia akan tambah membencimu. Kinan, jangan lumpuhkan dia dengan airmatamu hanya untuk melukainya lagi di akhir ceritamu. Kerna dia juga memiliki hati untuk dihargai. Saat kau sudah memilih satu dari cintamu, belajarlah untuk bertahan biar apapun konsekuensinya. Jangan jadikan Jehan persinggahanmu untuk melampiaskan emosi sesaat kerna Jehan juga berhak bahagia.

Buatmu Kang. Sungguh aku salut padamu. Benarlah katamu, kadang, bersifat keras dan tegas itu perlu. Inilah yang dikatakan, patah hati, tapi tetap gengsi!! Patah hati, tapi tetap keren!!

[presenting a random love story for a competition. it just to brought up the effect of different type of writing. 1st trial always bad!!]