Serasa lama benar tidak mencoretkan sesuatu di maya pada
ini.. Alhamdulillah atas segala rahmat dan kurnia Allah jualah memberikan
kesempatan buat diri kembali mencoret sesuatu setelah beberapa ketika dorman
dalam kesibukan demi kesibukan yang menjerat.
Dikesempatan ini ingin berkongsi pengalaman sewaktu
menziarahi kakakku Kak Murni di Kalimantan Timur beberapa waktu lalu.
Alhamdulillah kesempatan langka ini Allah permudahkan dan lancarkan hingga kami
dipertemukan lagi di kepulauan yang berbeda. Berangkat siang dari Makassar
lansung ke Balikpapan, sempat ketemu
juga sama Mama Kak Murni yang kebetulan datang menghantar Kak fahmi yang
akan berangkat bersama. Keluarganya Kak Murni memang sudah tidak asing lagi..
merasa seperti berada dalam keluarga sendiri. dari Tante juga diri belajar
banyak hal terutama adab dan cara bergaul dengan orang tua..
kekhawatiran-kekhawatiran dan perhatian seorang ibu yang selalu ditumpahkan
lewat doa-doa yang terangkat ke langit.. betapa besarnya kasih sayang seorang
ibu. Jadi ingat Ummiku sayang yang jauh di kampung halaman,.. meski jarak yang
memisahkan pasti doanya tidak pernah putus mendoakan kesejahteraan anaknya..
Tiba di Balik Papan 1jam perjalanan dari Makassar dengan
menaiki Lion Air. Disana sudah ada kakakku Kak Murni yang sedia menanti. Selesai
solat Asar bersama, kami berangkat menaiki pete-pete. Kami akan ke Samarinda
Kata kakak, ada tantenya yang tinggal di Samarinda sakit. Habis operasi gondok
(thyroidectomy). Sekalian ke sana untuk ziarah. Cek per cek tante ini adalah
tante dari Kak Fahmi, suaminya Kak murni.. -_-“. Perjalanan ke Samarinda dari
Balik Papan memakan masa 4jam dengan menaiki bus. Duduk bertiga di bagian
belakang bus sangat memacu adrenalin dan pemandangan yang cantik sepanjang
perjalanan. Tiba di Samarinda jam 8.30 malam. Sudah ada nenek, Tante Nono dan
anak-anak yang menanti. Nenek adalah saudara kepada nenek Kak Fahmi yang pernah
diri temui di Pangkep sewaktu Aiduladha sebelumnya. Bahagia rasanya bisa
bertemu dengan nenek dan keluarga tante. Setelah makan malam bersama dan
cerite-cerita, tidur bersama anak-anak tante Nono dan nenek di kamar atas. Sambil
menonton televisi sambil mendengar cerita nenek tentang pelbagai hal.

Besoknya dengan menaiki motor, kami pergi menjenguk Tante
Murni yang 2hari post operasi di rumah sakit. RS nya kelihatan sangat bagus
dengan bangunan baru. Ketemu dengan Tante Murni dan Tante Ida yang setia
menjaganya. Ternyata Kak Murni sendiri pertama kali bertemu dengan Tante Murni.
Dari Kak Murni, diri belajar banyak hal. Sifat Kak Murni yang ramah dan ceria
membuat dia senang bergaul dengan keluarga dengan status menantu dari keluarga
tersebut. Benarlah perkahwinan itu berarti mengeratkan dan meluaskan
silaturrahim. Itu yang diri fahami melihat kakakku yang satu ini. Ada juga si
kecil Aulia yang menceriakan keadaan. Aulia berusia 11 tahun. Anak kelas 5 SD
ini sangat lincah dan ceria. Aulia anak Tante Murni satu-satunya. Bertemu dengan
banyak orang meluaskan pandanganku tentang kehidupan.
Teringat sebuah artikel yang pernah kubaca tentang keluarga
sakinah, mawaddah wa rrahmah, Ciri-ciri keluarga skinah mawaddah wa rahmah itu
antara lain:
Menurut hadis Nabi,
pilar keluarga sakinah itu ada empat (idza aradallohu bi ahli baitin khoiran
dst); (a) memiliki kecenderungan kepada agama, (b) yang muda menghormati yang
tua dan yang tua menyayangi yang muda, (c) sederhana dalam belanja, (d) santun
dalam bergaul dan (e) selalu introspeksi. Dalam hadis Nabi juga disebutkan
bahwa: “ empat hal akan menjadi faktor yang mendatangkan kebahagiaan keluarga
(arba`un min sa`adat al mar’i), yakni (a) suami / isteri yang setia
(saleh/salehah), (b) anak-anak yang berbakti, (c) lingkungan sosial yang sehat
, dan (d) dekat rizkinya.”
Selesai menjenguk tante Murni, kami sempat singgah di
mall.bersama Erly , anak kelas 2 SMP dan Aulia kecil.solat berjemaah dengan kak
Murni sangat mengesankan. Serasa terhutang budi
dengan kakakku yang satu ini. Selalu, bukan hanya beliau memberikan
kasih sayang yang besar, bahkan selalu memberiku keluarga baru. Kakak banyak
mengubah sudut pandangku tentang keluarga. Ya, meski kelihatan sederhana namun
itu sangat berbekas.

Malamnya kami sibuk membantu anak-anak (Erly, Aulia dan
Faisal) membalut buku-buku sekolah memandangkan besok adalah hari pertama
persekolahan musim baru, diri membantu
membalut buku, sedangkan Kak Murni menuliskan nama mereka di buku-buku itu. Teringat
waktu kecilku dulu. Menjelang musim persekolah baru, diri dan kakak juga
biasanya akan mempersiapkan perlengkapan sekolah dengan ummi. Suasananya kurang
lebih seperti ini juga. Melainkan pada waktu itu diri berada di posisi anak
kecil sedangkan sekarang roda hidup telah berputar dan diri berada di posisi
orang dewasa. Malamnya tidur bersama
Aulia. Kerap kali terjaga gara-gara Aulia mengigil kedinginan dan selimutnya
entah ke mana. Cepat-cepat menyelimuti gadis kecil itu sambil memeluknya supaya
lebih hangat. Lucu sungguh ini anak.
Bangun pagi-pagi membantu Kak Murni mencuci piring sambil
bercerita. Jadi ingat kakakku kak long. Dirumah juga kami sering begini.mencuci
piring sambil cerita. Rindu sungguh suasana seperti ini.
Fikir-fikir kembali,
rasa itu sungguh adalah anugerah. Pernah diri akrab dengan beberapa orang kakak
selain Kak Murni. Namun Kak Murni satu-satunya yang benar-benar memberi rasa
yang sangat akrab. Seperti kakakku. Meski tidak tahu persamaannya di mana tapi
rasanya benar-benar sama. Kasih sayang seorang kakak. Selesai semua perkerjaan
rumah, dan sarapan bersama rasa kantuk mulai bermaharajalela. Apalagi kami
menyantap nasi pecal waktu sarapan tadi. Mempengaruhi perut sekaligus mata yang
tidak terbiasa. Cerita-cerita lagi dengan Kak Murni dalamposisi yang kian lama
kian condong hingga akhirnya kami sama-sama berbaring dan tertidur di bed
single itu. Kebiasaanku dengan kak long sewaktu remaja dulu. Diri sangat
menghargai momen-momen ini. Semakin berat rasanya mahu berpisah dari kakak yang
satu ini. Semoga takdir masih menjodohkan kami untuk saling bertemu.

Bangun dari tidur. Ternyata Tante Murni yang harusnya
dijadwalkan pulang hari ini, tidak jadi pulang. Masih ditahan di rumah sakit. Kami
mengambil peluang kembali menjenguk tante setelah Erly pulang dari sekolah. Drain
tante sudah dilepas namun masih mahu diobservasi kata perawat disana. Tidak sempat
bertemu dengan dokter atau koas yang jaga memandangkan tidak ada yang standby. Sempat
solat zohor asar disana sambil cerita dengan tante. Apa yang diri pelajari dari
tante, tante sangat kuat semangat dan pekerja keras. Meski seorang yang cepat
runsing namun tante sangat tabah menjalani banyak hal yang berlaku dalam hidup.
Malamnya kami agak lambat pulang ke rumah.nenek masih setia
menanti untuk makan malam. MasyaAllah kasihan nenek.harusnya jam begini nenek
sudah tidur tapi gara-gara kami terlambat, nenek juga jadinya lambat makan
malam. Besoknya kami berangkat pulang jam 10 pagi. Setelah foto bersama-sama,
nenek dan tante Nono menghantar kami ke jalan. Sungguh mengharukan melihat
hubungan kekeluargaan mereka. Sebuah keluarga besar yang sangat rukun
menurutku.
Di bus, diri, Kak Murni dan Kak Fahmi duduk sebangku sambil
bergurau senda, makan tauhu Sumedang dan bercerita-cerita. Hingga diri
ketiduran. Kak Murni menahan kepalaku dibahunya membuat posisi yang sangat enak
untuk tidur. Sambil kakak lanjut cerita dengan kak Fahmi.. perasaan bahagia
waktu itu sangat tidak bisa dilupakan. Episode yang sangat indah dalam hidupku.
Terima kasih Ya Allah atas anugerahMu yang tak terhingga.alhamdulillah.. Alhamdulillah..
Makan bersama sebelum pulang adalah momen terakhir kami
untuk pertemuan kali ini. Kakak siap membekalkan pelbagai jenis ole-ole.
masyaAllah sungguh peka kakakku.pelukan terakhir sebelum masuk ke ruang
menunggu sangat berbekas dihati. Erat benar pelukannya membuat airmata hampir
menetes. Kenangan-kenangan yang baru dijalani bersama menghiasi tubir mata
seperti minta untuk tidak dilupa.. Selamat tinggal kakakku.. semoga Allah SWT
masih berkenan mempertemukan kita lagi dalam roda kehidupan yang berputar ini..