Skinpress Rss

Ahad, 1 September 2013

WARKAH PERPISAHAN

0



Kelibat Faiz muncul dari keramaian lautan manusia di Restoran Nelayan tersebut. Dia selalu terlihat tenang dan manis dalam kemeja biru kota-kotak dan celana hitam polos itu.

“Mai!!”

Seru Faiz sambil melambaikan tangan. Senyuman yang merekah dari bibir menjemput datang sinar kebahagiaan.

Mai melambai balas. Berusaha tersenyum biasa dan menyembunyikan kegalauan ritme jantung yang mulai berdetak dengan melodi yang tidak beraturan. Segera, tangan yang sebelah lagi menarik tangan Riska yang duduk melongo dikerusi tengah ruang menunggu. Dalam beberapa saat, Mai dan Riska sudah berlari-lari anak mengekori langkah Faiz.

        Bayu sudah ada disana. Dengan santai dan tanpa rasa bersalah menyantap makan malam duluan. Mai mengambil tempat paling hujung sementara Riska ditengah. Selalu begitu. Mai senantiasa berusaha mengambil tempat duduk ‘paling selamat’ antara teman-temannya. Adab dan adat menghalang Mai untuk terlalu bebas bergaul terutama dengan lawan jenis, meski dengan teman-teman yang sudah seperti keluarga sendiri. mungkin Mai kedengaran kuno. Namun Mai yakin, setiap aturan syariat yang telah ditetapkan itu pasti demi kebaikan manusia itu sendiri kerna Tuhan mengenali diri kita lebih daripada kita sendiri. Faiz duduk di sisi meja yang bertentangan.

        Hari ini hari yang sangat spesial buat Faiz. Hari graduasinya. Hari dimana dia memperoleh gelar dibidang yang dia impikan selama ini. Sarjana Teknik Sipil, dari Universitas kebanggaan negri, Universitas Hasanuddin. Apalagi, saat namanya dipanggil naik ke podium Baruga Andi Petterani untuk dinobatkan sebagai mahasiswa terbaik fakultas dengan indeks kumulatif di atas rata-rata. Kumlaude,3.98. satu prestasi yang sangat membanggakan. Faiz Ansari benar-benar anak nol satu.. Menurut kebiasaan orang Makassar, sang graduan akan menggelar acara makan-makan sebagai tanda syukuran atas nikmat tak terhingga itu. Faiz mengundang juga teman-teman kelompoknya sewaktu Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk turut berbagi bahagia.

        Entah kenapa, dada Mai berdegup kencang. Mai menempelkan telapak tangannya ke dinding dada. Jantung terasa mengganas menendang-nendang lapisan otot yang membaluti tulang belulang tepatnya diruang intercosta III dan IV, bagai meminta untuk dibebaskan dari ruang sempit mediastinum itu.

“Mati” getus hati Mai tidak percaya.

Mai pantas meraba pergelangan tangan kanannya sambil mata melirik kea rah jam tangan. Menghitung dalam hati. 135x/min. Di atas normal. Harusnya jumlah denyut nadi bagi orang dewasa sepertinya berkisar antara 60-100x/min saja.  Denyut nadi bisa meningkat pada kondisi tubuh yang mengalami stress fisik, emosional atau adanya gejala inflamasi. Mai tahu dia tidak sakit secara fisik.

“Huu..uhh!” menghela napas panang. Diagnosis kerjanya sudah pasti!!

        Mai tertular virus yang paling berbahaya dijagat raya. Mai sudah menduganya. Mai bisa membaca gejala-gejala dari “penyakit” yang dibawa oleh “virus berbahaya” tersebut. Namun Mai enggan untuk akur. Mai takut untuk mengakui bahwa dia juga telah terserang virus maha dahsyat itu. Mai juga tidak tahu sejak kapan virus itu menular di sel-sel hepatositnya. Yang dia tahu, saat ini, virus itu telah bermaharajalela disegenap penjuru urat darahnya. Virus itu sedang berpesta ria menghasilkan protein-protein steroid yang memberi kekuatan, protein euphoria yang membuatkan ‘hal sederhana juga terasa begitu indah’, dan ia telahpun membius akal sekaligus menyingkirkan kalimat ‘mustahil’ dari dalam mindanya. Itulah patofisiologi dari virus berbahaya di jagat raya ini. VIRUS MERAH JAMBU!!

        Faiz melirik Mai sambil bertanyakan menu yang mahu dipesan sebagai santapan makan malamnyaMai tersentak sontak membalas tatapan Faiz sebelum cepat-cepat menundukkan wajah. Berpura-pura sibuk memilih menu makan malamnya. Astagfirullah..Astagfirullahal adzim..Serta merta ingatan Mai melayang pada kejadian malam tadi.
------------------------x----------------------------------x-------------------------------x----------------
“Datang ke acaraku besok yah. Tunggu saja smsnya” pesan singkat dari Faiz.

Mai mengambil tempat dekat meja kerja. Baru sempat mahu menghela napas setelah penat meresusitasi bayinya yang sempat henti napas dua tiga menit lalu. Dia masih standby di kamar isolasi ruang perawatan intensif bayi baru lahir atau dalam bahasa medisnya Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Seminggu ini Mai diberi tanggungjawab untuk bertugas dibagian ini dengan waktu standby 7 kali 24 jam alias seminggu penuh. Dalam waktu seminggu ini, Mai tidak diperbolehkan keluar atau meninggalkan ruangan meski untuk makan solat dan tidur. Jadi biasanya Mai dan teman-teman sejawatnya akan memesan makanan dari restoran berdekatan rumah sakit yang menyediakan perkhidmatan pesan hantar. Rutinitas mahasiswa praktek atau klinikal. Hidup berantakan.

“Nanti diliat. Misalnya tidak dapat datang, diganti tuh traktirannya?”

 balas Mai setengah bercanda. Meski sebenarnya dia memang tidak pasti bisa hadir apa tidak.

“Tidak serunya.. Masa tidak datang? Tapi memang kalau tidak bisa, jangan dipaksakan. Iya diganti, tapi tidak tahu yah masih punya waktu atau tidak. “ balas Faiz.

Kata-kata terakhir faiz membuat Mai bingung. Penasaran.

“Apa maksudnya masih punya waktu atau tidak?” Mai membalas ulang.

“Saya mahu ke Surabaya Mai, lanjut kuliah”

Membaca jawaban sms Faiz, serta merta mata hangat dan airmata bertakung dipelupuk. Bagai embun yang menanti waktu untuk gugur, akur pada hokum gravitasi. Tak sampai 5 detik. Empangan mutiara luka itu pun pecah menjadi bah yang membanjiri dataran Himalaya yang kering kontang. Diluar, hujan juga turun dengan deras seakan mengerti pertarungan rasa yang bergejolak dalam dada Mai.

Perginya Faiz berarti akan adanya perpisahan buat selamanya. Mai tahu itu. Bahkan dari awal! Kerna dalam 1 tahun lagi Mai pasti akan meninggalkan kota Angging Mammiri ini untuk kembali berkhidmat kepada penaja biasiswanya. Perpisahan pasti terjadi. PASTI!! Namun Mai tidak menyangka akan secepat ini. Faiz akan pergi dalam waktu terdekat. Dan paling singkat satu tahun ke depan. Dan Mai juga Cuma punya satu tahun untuk diabadikan bersama teman-temannya untuk menghidupkan sang waktu. Mai paling benci dengan perpisahan. Apalagi dalam waktu yang tidak siap seperti ini.

“Kapan kamu berangkat?” Mai berusaha waras.

“5 Januari”

Mai mulai menghitung. Hari ini tanggal 31 Disember. . besok 1..2..3..4..5 Januari 2012. Cuma tersisa 5 hari sebelum Faiz berangkat. 5 hari tidak cukup untuk Mai membina tembok kukuh yang akan menahan badai tsunami airmatanya. 5 hari tidak cukup untuk dia mula belajar hidup tanpa kata-kata semangat Faiz. 5 hari tidak cukup untuk dia belajar mandiri tanpa mengganggu hidup Faiz. 5 hari tidak cukup…

“Faiz…sedihku..pasti kita tidak akan bertemu lagi”

Faiz, kenapa perkenalan kita begitu singkat? Kenapa kita terlalu banyak membuang waktu dengan episode-episode ‘berdiam diri’? kenapa aku sama sekali tidak pernah terfikir untuk kemungkinan yang ini? Sekurangnya aku sudah siap saat kamu mengangkat tangan tanda perpisahan. Airmata masih tak terbendung.

“Pertemuan itu tidak bisa kita duga atau raba. Berdoa saja moga aka nada lagi pertemuan yang selanjutnya. Saya pasti akan rindu sama kamu”

Balasan sms Faiz menyesakkan dada Mai. Menyambung napas cukup membuat jiwa terampas. Menyesakkan. No air. No air. Rasanya meneruskan hidup seakan menghitung mundur menuju hari kematian. Sepertinya dia yang bakal henti napas sebentar lagi. Untung disitu, Mai Cuma berdua dengan bayi mungil 1000 gram yang terkulai lemah, berjuang untuk hidup dibalik dinding tebal incubator.

Mai tidak tahu apa yang bakal terjadi besok. Tapi yang pasti, biar bagaimana caranya dia akan hadir di acara Faiz besok. Harus!! Mungkin ini untuk terakhir kalinya. Semoga Tuhan berpihak padanya.
Selesai visite pagi spesialis perinatologi, dr.Emma SpA, mai cepat-cepat menyelesaikan semua tugasannya. Dibersihkan si kecil Bayi Ati, mengganti popok dan memberinya susu serta memasukkan obat. Jam 11.00 pagi Mai sudah diijinkan untuk keluar. Alhamdulillah. Sepertinya ini hal yang paling gila yang pernah dia lakukan sepanjang hidup prakteknya, ‘Demi seseorang’..

-------------------------x------------------------------x----------------------------------------------x----
“Mai ini Santi..Santi itu Mai” suara Faiz kembali membawa Mai kea lam nyata.

“Oh Santi, salam kenal” Mai menyapa junior kelas Faiz yang kelihatannya masih malu-malu. 

Mereka sebelumnya telah berkenalan lewat Muka Buku. Teman-teman KKN mereka mulai mengeluarkan bunyi-bunyi sumbing, aneh saat Santi Cuma dikenalkan pada Mai. Tambah Mai dan Faiz pernah dijodoh-jodohkan sewaktu mereka praktek KKN dulu. Namun Faiz tidak terlalu peduli. Dia bahkan tidak pernah mengambil serius omelan anak-anak. Hanya dianggap angin lalu. Itu yang Mai suka tentang Faiz. Yang terus bersikap adil pada pertemanan mereka meski diganggui seperti itu.

        Acara hari itu berjalan mulus. Sampai waktu pulang, Faiz masih kelihatan ceria. Tidak menunjukkan kesedihan atas perpisahan yang bakal menjengah. Mungkin dia sama sekali tidak merasakannya. Entah apa yang membuat rasa Mai begitu dalam… meniti 5 hari yang semakin berkurang serasa menghitung sisa semangat hidup yang keluar satu persatu. Faiz hanya sebatas temannya meski dia suka. Cuma T-E-M-A-N.  Namun ia seperti cap permanen yang mampu menyalur semangat dihatinya tanpa padam.

        Mungkin Tuhan ingin mengujinya. Mungkin juga ini adalah ketentuan dari langit. Bahwa Faiz bukanlah ditakdirkan sebagai orang yang akan berada disisinya. Jika saja Faiz Ansari adalah nama yang telah dituliskan Tuhan tercantum dalam lingkaran yang sama dengan Syifa Rumaisa’ di Luh Mahfuz, pasti Tuhan punya caraNya yang tersendiri untuk mempertemukan mereka kembali dalam keadaan yang lebih baik. PASTI!!

        Sekarang bukanlah cinta itu hal yang wajar dimilikinya sedangkan ada yang lebih utama yang harus didahulukannya. Dia tidak boleh berdamai dengan virus-virus yang akan menjeratnya ini. Sebaliknya dialah yang harus menuntun cintanya ke jalan yang diredhai. Melepaskan cintanya ini untuk mendapatkan cinta yang lebih baik atau mendapatkan cintanya kembali dalam keadaan yang lebih baik. Dan satu-satunya antidote untuk membunuh viris-virus merah jambu itu adalah dengan jalan M-U-J-A-H-A-D-A-H. mujahadah itu pahit sewaktu menghadapi tapi manis setelah dilalui.

“Ya Allah seandainya dia ditakdirkan milikku, dekatkanlah hatinya dengan hatiku dan jauhkanlah kami dari perkara yang mungkar. Seandainya dia bukan milikku, jauhkanlah hatinya dari hatiku dan peliharalah kami dari rasa sedih dan dukacita..”
Amin..

Buatmu Faiz, 
Langit adalah arenamu terbanglah..aku tidak akan berkata apa-apa. kerna kamu akan selalu menjadi keajaiban bagiku..bahkan diammu dulu..

amni_shamrah 
1 Januari 2012

0 ulasan:

Catat Ulasan