Skinpress Rss

Selasa, 31 Ogos 2010

JUJUR BERANI

0

24 Augustus 2010. Baru selesai program buka puasa perpisahan bersama warga Tolo’ Barat. Malam ini, malam yang ditunggu oleh semua. Aktiviti terakhir anak-anak posko Tolo’ Barat (tolbar)yaitu bertukaran hadiah (tukaran kado).. kado yang dibeli usai pulang liburan awal puasa sudah hampir “basi” dalam kotak-kotak (kardus-kardus) Indomee.

Tapi sebelum acara yang dinantikan itu, ada pembukaannya yaitu aktiviti “Jujur berani”.. pertama kali diri terlibat dalam permainan yang begini. jujur berani ini, cara permainannya, yang pertama: Kordes memutarkan satu botol yang kemudiannya siapa yang bernasib malang terpilih oleh “botol” itu akan diadili di hadapan warga KKN Tolbar. Satu demi satu teman-teman akan menyatakan dan memberikan pendapat tentang dia dengan jujur dan berani tanpa dibolehkan untuk menyembunyikan apapun.. selesai korban pertama, dia diberi waktu untuk membela dirinya dan dipersilakan untuk memilih korban selanjutnya. Begitulah permainan berlansung hingga semua bercakap.

Jadilah terbuka segala yang tersembunyi dan tersingkaplah segala rahsia yang terbina selama 2 bulan bersama di posko. namun bukan semua yang jelek-jelek saja yang di keluarkan bahkan semua yang dikagumi dan yang baik-baik juga. Pendapatku, ada pro dan conts nya permainan sebegini. Pro nya kita dapat mengetahui dan mengenali diri kita lewat kacamata orang lain. Muhasabah diri juga berjalan seiring apa yang diperkata teman-teman. Ibarat kata hikmah : teman adalah cerminan diri kita. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:

“barangsiapa yang berteman dengan penjual minyak wangi maka dia akan terkena tempiasan wanginya sebaliknya barangsiapa yang berteman dengan tukang besi, maka dia juga akan terkena percikan apinya”

Kontra nya mungkin keburukan yang terdedah itu tidak baik untuk diketahui oleh semua orang dan kebaikan yang terlalu dilebih-lebihkan juga tidak baik untuk diperkatakan di depan empunya badan. Tapi secara keseluruhan ok lah. Kerana semua juga tidak mengambil peluang untuk sling menjatuhkan melainkan yang di sampaikan benar-benar adalah teguran yang membantu.

Kesimpulan yang didapatkan adalah, terkadang untuk mengenali orang lain kita harus belajar juga dari orang lain kerana kita tidak akan mampu untuk menilai segalanya dengan benar. Belajar juga untuk menilai dari kacamata orang lain. dari situ kita lebih bisa melihat sesuatu hal dari sisi yang berbeza-beza. Kejujuran lisan mengolah kata terbit dari hati yang telus mengungkapkan.. agar tiada lagi dengki atau dendam yang tersimpan. Aktiviti ini juga menurut penilaian ku mampu meningkatkan rasa kasih sayang dan perkenalan antara kami semua..

Acara tukaran kado dimulai setelah jam menghampiri angka 3.00 pagi. Metode yang dipakai untuk menentukan penerima kado adalah mengikut cabutan undi. Walaupun nampak mudah tapi di sini terdidik sifat sabar dan redha.. Menerima hadiah seadanya dari siapapun. Tidak boleh memilih atau berkompromi.. hadiah yang diberikan ibarat satu kado kenangan yang pasti akan diingat di sampai ke hari tua..

Khamis, 26 Ogos 2010

FITRAH KECELAKAAN

0


Ahad, 22 Augustus 2010.

“Fitrah kecelakaan!!” kata-kata seorang temam posko ibarat halilintar yang menyambar bumi. Ibarat ombak keras yang memukul dermaga. Jantung seakan mau berhenti berdegup. Fikiran gelap..gelap bagai terpuruk ke lubuk yang terdalam. Satu posko berkabung dengan berita yang mengejutkan sekaligus menyedihkan itu. Pertanyaan bertubi-tubi menghujani temanku yang membawa berita. Namun tidak banyak juga informasi yang didapatkannya kerana keadaan masih kacau.

Teman-teman yang laki-laki, Adit dan Wawan sudah berkejar ke rumah sakit (hospital) kata tuan rumah kami, haji Tewa untuk memastikan keadaan Fitrah. Kata teman Fitrah yang berjaya dihubungi sebentar tadi, keadaan Fitrah parah, justeru dilarikan ke rumah sakit (hospital). Kaki dan tangannya dijahit, luka-luka mencalari segenap penjuru tubuhnya. Keadaannya juga antara sedar dengan tidak. Tangisan sendu yang terdengar di hujung talian menambahkan rasa khuatir teman-teman yang sudah sedia melangit tinggi.

Melalui beberapa jam ke depan tanpa sebarang khabar tentang Fitrah benar-benar menyiksa. Tidak tahu kondisi sebenar anak itu. Baikkah dia? Atau terlalu parah? “Ya Allah, selamatkan Fitrah..” hati hanya mampu berdoa. Namanya teman posko yang sudah hampir 2 bulan mengharungi hari-hari bersama, kemalangan yang menimpanya benar-benar terkesan pada kami semua. Kalau adikku, pasti sudah banjir tanah Sulawesi ini dengan air mata khuatir.

Kelibat Fitrah yang tersenyum sambil memakai helm (topi keledar) nya sebelum berangkat sore (petang) kelmarin menari-nari di ruang ingatan. Dosa-dosa ku pada Fitrah yang belum termaafkan datang satu per satu menambah rasa bersalahku pada anak itu. Maklum beberapa hari belakangan, diri yang mengalami depresi dan ketidak stabilan emosi tidak bertegur sapa dengannya, kalau pun ada, cuma sepatah dua kata. Satu yang ditanya satu juga yang di jawab seakan meletakkan teman itu dalam “posisi orang bersalah”.

Kebaikan-kebaikan nya bertamu di layar minda, satu per satu.. bagaikan rekaman layar berputar dalam minda sedar. Fitrah ZM, seorang teman yang baru ku kenali saat di KKN. Anak farmasi. Menurut Fazlina,(temanku di farmasi) Fitrah ini pintar dan cerdas anaknya. Itu saja maklumat awal yang ku terima tentang Fitrah. Pas mengenali Fitrah di posko, ternyata dia sebenarnya tipe (jenis) yang boleh juga bercanda (bergurau). Bahkan gara-gara jenaka nya lah yang menceriakan dan memeriahkan keadaan posko. lucu orangnya dan senang beradaptasi dengan semua lapisan masyarakat.

Fitrah.. sangat perhatian dengan teman-teman. Lelaki atau perempuan, dari semua latar belakang dan usia. Sifat ringan tulang, sedia membantu dan humoris nya membuatkan dia disenangi dan di sayangi semua. Paling ku ingat, setiap pagi di posko, pasti dia menciptakan suasana yang rebut (kecoh) di posko dengan bercanda dan bercerita dengan temanku Rahma dalam bahasa Bugis yang hanya mereka berdua mengerti dan fasih. Keributan itulah yang paling ku rindui saling pulang ke Makassar dan bersendirian di kamar ku.

Di balik sifat humoris dan keanak-anakannya, Fitrah adalah seorang dewasa yang matang. Nasihat-nasihatnya menembus atma, fikirannya bernas, kata-katanya sangat inspiratif.. itulah Fitrah..

Berbalik pada kisah Fitrah hari ini, dia keluar berjalan-jalan dengan temannya dari posko lain sebelum asar petang tadi. Sudah lama hajat itu terpendam, baru hari ini bisa terlaksana. Selepas Magrib tadi, kami mendapat berita dia kecelakaan dalam perjalanan menghantar temannya ke posko Rumbia. Kecelakaan itu berlaku di Turatea, tidak berapa jauh dari posko kami.

Jam 8 malam, baru Fitrah di bawa pulang dari Puskesmas Tolo’ oleh Pak Desa Rumbia yang kebetulan datang mengambil teman boncengannya yang turut cedera dalam kecelakaan itu. Bergegas kami seposko keluar dari rumah untuk menyambut kepulangannya sekaligus melihat lansung keadaan sahabat yang satu itu. Temannya yang duluan keluar dari mobil (kereta) menyerahkan jaket, sandal dan obat milik Fitrah kepadaku sambil menerangkan aturan makannya. Melihat keadaan jaketnya yang robek-robek dan berlumuran dengan darah sangat menyayat hati.

Sejurus, Fitrah keluar dari mobil (kereta). Alhamdulillah masih bisa berjalan. Dia hanya menyatakan tiada apa-apa yang harus di khuatirkan. Teman-teman membantu dia merebahkan diri ke kasur (tilam). Kelihatan dia capek (penat) sekali. Pasti trauma dengan kecelakaan tadi. Pasti khuatir dengan teman yang diboncengnya. Boleh jadi juga rasa bersalah menjerat urat nadi.

Menurut cerita Fitrah, motornya hilang kawalan setelah menginjak (melanggar)satu lubang yang dalam di kawasan sawah. Di tambah kelajuan Jupiter MX yang agak tinggi kerana dia sebenarnya mengejar waktu untuk bisa solat isya’ dan terawih di posko kami memperparah keadaan. Dia sama sekali tidak perasan kalau ada lubang di situ lantaran suasana malam yang gelap di tambah lampu motornya yang malap dan penutup helm nya yang terpasang. Kesimpulannya itulah takdir yang tersurat di loh Mahfuz.

Rasa bersalahnya kepada temannya menggunung. Kasihan melihat tubuhnya yang luka-luka dan kesan jahitan di siku kanannya. Tangan kiri lebih parah dengan luka dalam. Begitu juga kaki kirinya. Baju toko biru muda yang dipakai berlumur dengan darah.
Walau dalam keadaan sakit parahnya itu, dia sempat bercanda untuk menenagkan semua orang.

Alhamdulillah, kesyukuran jua yang dipanjatkan ke hadrat Allah kerana masih memulangkan Fitrah dalam keadaan yang selamat. Selesai makan,Fitrah tidak dapat tidur lantaran rasa sakit yang mencengkam dan menjalar ke urat-urat nadi. Walaupun dipaksa mata untuk lelap tetap tidak berjaya. Diri memasangkan ayat-ayat suci Al-Quran bacaan Mashari Rashid Al-fasi yang memang tersedia dalam telefon genggamku (handphone). biar dia tenang terbuai dengan ayat-ayat langit tersebut.. biar damai kalbunya dengan huluran cinta Sang Pencipta..

gambar sekadar hiasanDalam 2-3 hari belakangan, sebelum penarikan (pulang ke Makassar), semua teman-teman berusaha memainkan peranan masing-masing untuk membantu Fitrah.. ada yang berusaha menyiapkan jurnalnya, ada yang membantu memcuci pakaiannya, ada yang memotong kuku dan menemaninya bercerita, ada yang mengemaskan dan menyiapkan tempat tidurnya, mengemaskan tas pakaian, tak lupa juga yang menyiapkan makanan dan obatnya, bahkan yang menyuapinya makan dan membantunya membersihkan luka-luka. Pokoknya semua melakukan dengan ikhlas tanpa mengharapkan balasan apapun kerana semua menyanyangi teman itu tanpa alasan apapun. seronok melihat persahabatan yang terbina dan bisa diandal saat susah dan senang.. gembira dan berduka..
"Tidak ditimpakan kesusahan dan kesakitan ke atas seorang mukmin itu kecuali Allah mahu menghapuskan dosanya dan meningkatkan imannya.."

Ya Allah, sembuhkanlah temanku.. shafakallah..

WANITA SEMPURNA

0


Aku ingin menjadi wanita sempurna
Yang mengagungkan cinta Allah dan RasulNya
Wanita suci yang memelihara diri dan mata
Malam beribadah siang berbakti pada nusa

Aku ingin menjadi wanita sempurna
Yang ilmu pengetahuan sarat di dada
Suruhan Allah terpatri di jiwa
Membina tamadun agama dengan membina keluarga

Namun aku sedari,
Bahawa aku hanyalah wanita biasa
Yang khilaf dan penuh dosa
Menimba ilmu tapi kemudian lupa
Iman belum kukuh dan hati mudah alpa

Aku hanyalah wanita biasa
Yang tidak mungkin akan sempurna
Hanyalah seorang wanita yang bisa berusaha
Dan terus berusaha
Untuk mencontohi sosok wanita yang sempurna
Seperti Khadijah dengan sifat dermawannya
Seperti Aisyah dengan kebijaksanaannya
Seperti Fatimah Az-Zahra dengan ketinggian akhlaqnya.

“wanita hiasan dunia, seindah hiasan adalah wanita solehah..”
21 Agustus 2010
2.30 pm

KENALAN DI PERJALANAN

0


Jumaat, 13 Ogos 2010. Dalam perjalanan pulang ke Jeneponto setelah 1 minggu cuti awal puasa (libur awal puasa). Sepetutnya pulang ke sana kelmarin tapi kerana kesepakatan (kekompakan) teman-teman yang mahu pulang pada hari ini memaksa diri untuk turut serta.

Merancang untuk solat jama’ zohor dan asar di luar, diri dan sahabatku Ummi Kalsom berangkat dari rusun jam 10.30 pagi. Sampai di masjid Telekom, Masjid Nurul Iman yang agak selesa dan besar. Menurut Ummi, dia sering singgah di situ untuk menunaikan solat sebelum meneruskan perjalanan ke Jepot. Sewaktu tiba di masjid, kelihatan beberapa orang Hawa yang sedang menjalankan usrah (tarbiyah) di satu sudut di penjuru masjid,manakala ada satu kumpulan yang lain sedang mempelajari tilawah Al-Quran di penjuru yang lain. Bahagianya melihat satu suasana yang cukup mendidik. Biah yang selari dengan corakan Allah, biah solehah.

Semakin menghampiri waktu Zohor, ruangan masjid dipenuhi dengan kaum adam. Kaum Hawa beredar pergi. Hairan (aneh) diri memikirkan seolah-olah masjid itu memang dijadikan untuk kaum itu. Segan-segan pula diri dan Ummi masih duduk-duduk di situ. Sedang ligat otak berputar mencari kesesuaian fakta dengan kondisi, ada seorang wanita tua menegur, “hari ini kan jumaat nak, orang mau solat jumaat..”. Astagfirullahal azim.. betul-betul lupa.. Ya Allah.. bagaimana mau menunaikan solat zohor.

Bertanya pada seorang saudari yang barusan menyelesaikan usrah (tarbiyah), untung dia mengajak diri serta Ummi mengikutinya ke SMK berhampiran kerana dia sebenarnya merupakan penanggungjawab bagi program Pesantren Kilat anak-anak jurusan farmasi. Diri dan Ummi bersetuju lantaran terdesak untuk mengerjakan solat. Tidak mahu menunda solat kerana kita juga tidak tahu apa yang berlaku di depan.

Menaiki kereta (mobil) kenalan baru kami, Nurul, sempat berkenalan sedikit sebanyak. Nurul adalah alumni Unhas dari jurusan teknis angkatan 2006. Kata Nurul dia dulu bercita-cita untuk kuliyah di kedokteran namun pada sesi pengambilannya, dia gagal untuk lulus dalam ujian kemasukan SPMB. Setahun setelahnya dia mencoba lagi namun tidak mengingat nombor peperiksaannya. Akhirnya Nurul pasrah. Mungkin bukan takdirnya untuk menjadi seorang dokter. Senyuman manis gadis yang berusia 22 tahun itu sangat bersahabat. Membawa kami ke tempatnya untuk menunaikan solat dan menghantar kami kembali ke masjid Nurul Iman.

Diri sangat bertuah kerana diberi kesempatan oleh Allah untuk berkenalan dengan Nurul dan melihat suasana program pesantren kilat yang mereka jalankan. Berkenalan dengan siswi-siswi SMK, generasi baru yang diharap untuk mendokong syiar Islam di pundak mereka. Wajah-wajah jernih mengundang rasa kasih yang mendalam di pojok hati walau baru pertama kali mengenali. Teringat suasana sewaktu program-program di Malaysia dulu.. suasana yang penuh dengan biah yang mendokong. Suasana yang mengingatkan pada Allah dan membina iman.

Berpamitan di depan masjid Nurul Iman di tempat kami mula berkenalan, dalam hati mengharapkan supaya aka nada lagi pertemuan. Ya, sahabat kerana iman itu akan saling merindu tika berjauhan dan saling menghargai tika berdekatan..

PENDAKWAH KECIL

0


Sering kita lihat kebiasaan anak-anak yang suka bermain saat solat terawih di masjid, tak kurang juga yang mengganggu temannya saat berjemaah. Tapi hari ini, Allah memberikan peluang pada diri untuk menyaksikan satu fenomena yang cukup mengagumkan.

Seorang anak sekitar usia 10 hingga 11 tahun berusaha menunjukkan qudwah hasanah (contoh yang baik) pada temannya yang tidak mahu mendirikan solat walaupun sudah berada di masjid. Mungkin di benak anak sekecil itu, sejadah adalah suatu syarat wajib yang menyebabkan sahnya solat. Jadi meski imam sudah selesai membaca surah, anak kecil tadi masih belum tergerak untuk mendirikan solat lantaran ketiadaan sejadah sebagai tempat sujud.

Pendakwah kecil tadi datang pada temannya dan menggosok ubun-ubunnya sebelum membersihkan lantai didepan mereka. Perlahan tangan teman yang tidak mau menunaikan solat ditarik. Kemudian mereka berdua menunaikan solat bersama beralaskan lantai yang dingin sebagai tempat sujud.

Usai solat terawih pertama, pendakwah kecil tadi kemudian mendekati seorang anak kecil berusia antara 4-5 tahun yang berada di saff depannya. Anak kecil itu dari tadi hanya menjadi pemerhati setia di tepi gelanggang. Pendakwah kecil itu mengusap ubun-ubun anak kecil itu sambil mengajarkannya cara mengerjakan solat. Sedang abangnya yang hampir sebaya dengan pendakwah kecil itu saja tidak berjaya mengajak adiknya solat. Anak kecil itu pun mengerjakan solat di samping pendakwah kecil. MasyaAllah. Sentuhan kasih sayangnya berjaya melunakkan hati-hati disekitarnya. Mampu mempengaruhi sekelilingnya untuk turut sujud menyembah Al-Khaliq, Pencipta Agung alam semesta yang terbentang tak bertepi.

Subhanallah.. siapa kata harus tunggu besar baru bisa mendakwahi orang lain, siapa kata harus tunggu sempurna baru bisa menyampaikan kebenaran? Dakwah itu tanggung jawab setiap insan sebagai khalifah. Dakwah itu mulai dari lahir hingga ke liang lahad. Tak semestinya dengan ceramah yang berapi-api. Tapi bisa juga hanya dengan teladan yang baik. Bisa dengan senyuman. Dakwah itu adalah saling berpesan pada kebenaran dan kesabaran. Yang penting, kita melihat masyarakat di depan kita sebagai peluang dakwah. Terus dan terus memberikan teladan yang baik untuk menyeru pada kebaikan.

“nahnu du’at qabla kulli syai’in”

UNDANGAN BERBUKA PUASA

0


18 Agustus 2010. Di undang berbuka puasa di rumah koordinator desa (Kordes) kami, saudara Irfan Syahrir di rumahnya yang kebetulan juga di Jeneponto. Tidak begitu jauh dari posko kami. Perjalanan ke sana menaiki angkot kota (pete-pete) mengambil masa lebih kurang 20 menit dengan kos Rp60 000.

Sampai di sana di sambut oleh bunda Irfan yang kelihatannya sangat ramah. Kami dipersilakan duduk di ruang tamu sambil menunggu waktu berbuka. Mendekati jam 6, baru kelihatan kelibat ayah Irfan yang baru pulang dari kerja. Walaupun kepenatan dalam seragam kerjanya, ayah Irfan tetap tersenyum dan menyambut setiap tamu yang datang dengan begitu mesra.

Sempat berkenalan dengan adik ketiga Irfan, Ayu. Secantik namanya, begitulah empunya diri dan pekerti. Ayu sangat peramah dan bersahabat seperti orang tuanya. Walau kali pertama bertemu lansung bisa mesra dan bercerita tentang banyak hal. Gadis yang berusia lebih kurang 16 tahun itu kini menuntut di SMK bagian akutansi (accountancy) dan merencanakan untuk melanjutkan pelajaran di bidang yang sama di peringkat perguruan tinggi (IPT) nanti.

Kebahagiaan terpancar di wajah mulus itu tatkala menceritakan tentang susur galur keluarganya yang terdiri dari 4 bersaudara. Kakaknya yang sulung kini telah berkerja di Mandala sementara Irfan selaku kakak keduanya sudah hampir selesai kuliyah sedikit waktu lagi. Dia sendiri akan memasuki era perkuliyahan manakala adik perempuan bungsunya sudah di kelas 5 sekolah dasar SD. Turut termasuk dalam pokok bahasannya adalah tentang hubungan kekeluargaannya dengan tantenya (mak cik- mak ciknya) serta topografi rumahnya dan hubungan dengan tetangganya yang sangat akrab ibarat punya pertalian keluarga.

Turut tidak ketinggalan tentang neneknya yang barusan sembuh dari penyakit stroke. Neneknya masih dalam fase pemulihan. Dari anamnesis yang ku lakukan pada nenek Irfan kemudian, ternyata stroke nya berasal dari komplikasi darah tinggi dan penyakit jantung yang telah di alami sejak beberapa tahun belakangan. Namun begitu nenek masih dianugerahkan kesehatan yang baik dan penyembuhan yang mengembalikan anggota geraknya secara fungsional.

Ayu turut petah berbahas tentang isu-isu semasa seperti ramalan mencairnya es di Jawa yang dikhuatiri akan membanjiri kepulauan Indonesia setinggi menara MONAS di Jakarta pada tahun 2050 nanti. Dari cara bicaranya jelas terlihat kecerdasan dan kematangan Ayu dalam menyusun kata dan menyamakan levelnya dengan lawan bicara. Satu kelebihan yang jarang dimiliki oleh anak seusianya.
Keluarga Irfan walaupun tampak sederhana tetap kelihatan amat bahagia. Satu contoh keluarga sakinah yang mampu membentuk peribadi yang teguh dan berkeyakinan. Benarlah asal pembentukan anak-anak yang baik itu bermula dari rumah tangga yang bahagia dan di payungi rahmah dan sakinah.

Sabda rasulullah SAW dalam satu hadith :
“anak-anak itu bersih, ibarat kain putih, ibu bapalah yang mencorakkannya untuk menjadi yahudi, nasrani atau majusi..”

*masakan ibu Irfan sangat enak. Pertama kali merasakan Coto Ayam yang sangat enak dan memenuhi cita rasa hingga menambah dua kali. Penuh cita rasa, penuh juga perut yang di isi hingga hampir terlupa bahawa solat terawih belum dikerja.

AMARAH BISU

0


17 ogos 2010. Entah angin timur laut mana yang menyapa membuat diri tak keruan hari ini. Post dari Mr.H menghentak keras persada atma. Kenapa harus ditulis di Wall FB hal yang telah lama dipertanyakan. Berkenaan foto pimpinan organisasi sesi lepas yang masih terpampang di website organisasi. Jawaban yang diberikan bukan sahaja tidak wajar bahkan kasar sekali seakan-akan sedang melepaskan dendam yang tersimpan. Dia seolah mahu menyalahkan diri kerana tidak prihatin terhadap alamat blog yang sudah ditukar.

Sudahlah ada program kerjaku sebentar siang yang harus ku tuntaskan. Benar-benar memeningkan kepala. Barangkali kerana kondisi tubuh yang kurang sehat di tambah suhu yang agak tinggi merendahkan ambang sabar yang sememangnya masih banyak memerlukan latihan dan didikan hati.

Segera sms dikirim menanyakan apa masalah yang dihadapi hingga tegar menulis post yang demikian. Balasan dari sang H lebih menyakitkan hati. Dengan bahasa yang sangat tidak terjaga, dia membalas dengan sindiran yang keras. Katanya amarah yang menyala dalam dirinya bukan kerana salahku. Dia geram dengan sikap segelintir mahasiswa 07 yang membuat onar hingga dia yang diharus menghadap pihak yang berwajib.

Tak mengerti. Apa sebenarnya masalah anak ini?? kembali membalas sms nya setelah beberapa jam “ntahlah..akak minta maaf kalau akak dah buat salah pada awak tapi akak rasa akak dah cukup support awak selama ini. kalau awak rasa apa yang awak lakukan ini benar, teruskan. Tapi jangan sampai prinsip awak menggugah kepimpinan awak. Wassalam”. Titik. Semoga tiada lagi balasan darinya. Jiwa yang mendidih biarkanlah dingin dengan sendirinya.

Air mata sudah berhemburan tanda protes. Sedih melanda tatkala terganggu dengan hubungan sesama manusia. Diri yang selama ini cuba berbaik sangka dengan Mr.H hari ini teruji hebat. Kepada sahabatku Farhana dimuntahkan segala galau yang membungkam di hati. Ya, saat begini, apa yang diperlukan adalah teman untuk “curhat” (curahan hati). Tempat berbagi perasaan. Ya, berbagi perasaan adalah hal yang sangat melegakan bagi yang namanya perempuan. Untung, teman curhat ku adalah sahabat dunia akhiratku yang akan tetap setia membantu supaya tanaman iman tumbuh subur di jiwa. Ana tak putus-putus menasihati diri supaya sabar…sabar..dan terus sabar..

Jam demi jam terus berlalu dan diri baru bisa lebih rasional berfikir bukan hanya pakai emosi tapi juga pakai akal dan pertimbangan kasih sayang. Difikir kembali, anak ini kasihan juga. Mungkin mulut laser itu salah satu cara dia melepaskan tekanan jiwanya. Siang, mesej masuk. Permintaan maaf dari H andai ada kesilapan bahasa. Ya Allah, kasihan anak ini. untung tidak meneruskan niat jahat untuk menyuruhnya meletak jawatan saja. Kalau tidak,. Itu pasti menjadi penyesalanku di akhir waktu. Benarlah bahawa api tidak boleh di lawan dengan api yang sama panasnya. Tapi harus dipadamkan dengan air. Tapi untuk kekal menjadi air yang dingin dalam kehangatan api yang membakar atau dalam terik mentari yang mencarik tubuh hingga ke tulang amat payah. Memerlukan latihan demi latihan dan harus melalui ujian demi ujian untuk menjadi mantap.

PENUNGGU

0


14 Ogos 2010. Teman poskoku sepertinya sakit. Tidak enak badan katanya. Kepala sudah panas. Mual muntah melengkapkan lagi penderitaan yang ditanggung tubuh. Teman-teman membantu memicit (memijat) tubuhnya biar lega. Tapi keadaannya seperti semakin tenat. Kasian Uul. Ibu rumah memijat bahagian kaki ketika dia tiba-tiba menjerit kesakitan. Serentak kaki berubah menjadi panas. Ibu meneruskan pijatan seakan-akan tiada apa-apa yang berlaku.

Sungguh tidak tegar melihat situasi begitu. Teman-teman menenangkan temanku yang satu itu. Disuruh dia bersabar dan berdoa. Dipaksa untuk mencicip daun sirih sebelum daun itu dioleskan di ubun-ubunnya. Bau daun yang tidak enak itu pasti akan lebih menyiksanya. Walaupun temanku sudah menjerit dan meronta-ronta supaya tidak diperlakukan begitu, tetap saja ia di paksa. Kasihan sekali. Belum reda penderitaan yang ditanggung, kakinya diolesi pula dengan bawang merah hingga meronta-ronta temanku tak tertahan. Pedis katanya kaki. Air mata sudah berjejeran seakan tiada artinya kecuali meredakan perasaan sendiri yang makin tidak tegar untuk bertahan.
Setelah beberapa ketika, baru sedikit lega. Tapi katanya masih sakit-sakit tubuhnya.

Kata ibu, dia kerasukan. Baru kemudian temanku menceritakan tentang kejadian pagi tadi yang dia melihat bayangan lembaga putih berada disebelahnya saat selesai menunaikan solat subuh. Terus meremang bulu romanya. Itu lah saatnya dia merasa ada yang lain dengan dirinya. Pulak.. Pantaslah ibu mengatakan “jangan kasi begitu anaknya orang”..

Dari kejadian itu barulah terbongkar semua cerita-cerita tentang penunggu rumah, penunggu kebun dan sebagainya. Ibu juga menceritakan tentang bapak rumah yang juga seperti orang-orang kampong yang lain “memelihara”. Pantaslah kamar ditepi kamar tuan rumah tidak dibenarkan untuk ditempati kerana di situlah tempat pemujaannya. Ada padi mati yang diikat dan dipuja. Diberi hidangan makanan yang enak-enak seperti pisang, pudding dll. Penunggu itu dipercayai mampu memanggil rezeki supaya hasil tuaian menjadi dan dapat pula diperdagangkan dengan lumayan. Menurut ibu lagi, memang kebanyakan orang dikampung ini memiliki “benda” itu. Cuma tergantung ada orang memiliki yang “baik” dan ada pula memelihara yang “jahat”.

MasyaAllah.tidak ku sangka, dalam abad moden ini masih banyak hal-hal khurafat yang beredar di masyarakat. Cerita yang pernah dikisahkan oleh arwah nenekku suatu ketika dulu ibarat critera yang menari-nari di benakku.. Sungguh amat mengejutkan apabila aku juga menyaksikan fenomena tersebut di depan mata sendiri. Sedangkan mereka menunaikan solat dan menjalani kehidupan sebagai muslim.

Pergantungan pada Allah masih amat rendah. Sedangkan dalam asma’ Allah saja sudah membuktikan bahawa Allah lah yang mengurniakan rezeki, Allah lah yang mehidupkan tanaman dan tumbuhan. Allah lah yang mengekalkan alam agar terus hidup. Tapi manusia tetap ingkar. Tetap degil dari kembali pada Allah. Tetap bongkak dari meminta pertolongan Allah. Mereka lansung tidak menghiraukan bahawa pertolongan Allah itu amat dekat. Formula yang mudah dan praktikal “dan mohonlah bantuan Allah dengan sabar dan solat..”. ingin meminta.. mintalah pada Allah..

Analoginya seperti kita ingin memetik buah di kebun orang, yang mana yang lebih mudah kita dapatkan, meminta dari penjaga kebun atau lansung memintanya dari tuan kebun? Jika kita meminta dari penjaga kebun, pastilah penjaga kebun akan meminta juga dari tuan empunya kebun. Tapi jika kita lansung meminta dari sang pemilik kebun pastilah lansung diberikannya. Antara Allah dengan hambaNya tidak perlu kepada pengantara kerana Allah mendengar lansung permintaan hambaNya.

“have faith in Allah.. have faith in HIM..”

TERAWIH MARATHON

0


13 Ogos 2010 = 3 Ramadhan. Baru kembali ke Posko setelah 1 minggu cuti (libur) awal puasa. Bahagia betul melihat teman-teman berkumpul memeriahkan suasana di rumah haji Tewa. Ibu rumah juga kelihatan bahagia menyambut kepulangan kami. Sudah bersusah payah memasakkan juadah (makanan) berbuka dan es buah sejak tengahari (siang).
Saat senja semakin berlabuh, azan berkumandang menandakan waktu berbuka sudah tiba. Alhamdulillah sempurna mengerjakan ibadah puasa untuk hari yang ketiga. Selesai berbuka puasa, kami mengerjakan solat berjemaah.

Ke masjid berdekatan di awal waktu, gusar kalau-kalau saff penuh dengan masyarakat kampung. Setelah mengerjakan solat isya’ berjemaah, ada yang memberikan tazkirah ringkas. Tapi sayang kerana tazkirah tersebut diberikan dalam bahasa daerah hingga tidak semuanya dimengerti oleh diri.

Sewaktu mengerjakan solat terawih berjemaah, agak mengejutkan kerana solat terasa cepat sekali. Mana tidaknya bacaan Al-Fatihah diselesaikan dalam 1 nafas dan bacaan surah lain disempurnakan dalam 1 nafas yang lain. Kesimpulannya 1 rakaat tidak sampai 2 menit. Selesai solat terawih tidak ada wirid-wirid khusus terawih. Lansung saja. Jadilah buat pertama kalinya di Makassar ini, diri menyelesaikan solat terawih 20 rakaat. Kalau tahun-tahun sebelumnya diri hanya berpeluang mengerjakan solat terawih di rusun yang hanya mengerjakan solat terawih 8 rakaat + 3 rakaat witir. Solat sunat terawih yang 20 rakaat ini Berjaya dihabiskan dalam masa lebih kurang 40 menit.

Namun di sudut hati, ada terase macam suatu yang kurang bila solat terlalu cepat. Kerana Islam mengajarkan kita bahawa di dalam solat ada toma’ninah. Bacaan Al-Quran harus tartil. Ya, sebenarnya di situlah seninya solat. Di dalam bacaan ada yang perlu di perhatikan. Ada tajwid. Ada wakaf. Ada makhraj huruf. Dan yang paling penting dan menjadi inti kepada sebuah solat itu ada penghayatan. Syu’ur (rasa hati) untuk menghadap Al-Khaliq.. rasa itu lah yang akan memandu kita untuk merasai kehadiran Allah dalam kehidupan kita. Merasai bahawa Allah memerhatikan kita. Mendengarkan kita dan mengasihi serta melindungi kita di setiap sudut dan penjuru hidup kita.

Kalau disingkap tabir sirah, disitu kita temui bahawa Rasulullah serta sahabat-sahabat sering mengerjakan solat malam dengan membacakan surah-surah yang panjang seperti surah Al-Baqarah dan surah Al-Imran dari awal sehingga akhir. Bahkan mereka-mereka ini,ada yang menyelesaikan berjuzuk-juzuk Al-Quran dalam 1 solat. Saidina Umar contohnya, beliau mengkhatamkan Al-Quran setiap hari dengan membacakannya di dalam solat. Dari ibadah solat dan bacaan Al-Quran inilah sebenarnya yang akan melahirkan jiwa-jiwa yang berhubung lansung dengan Allah SWT. Natijahnya akan lahirlah peribadi-peribadi yang mengikut acuan Allah. Akhlak-akhlak yang mahmudah dan hati-hati yang tegar dalam menghadapi setiap ujian yang melanda serta jiwa yang kuat menangkis segala macam kemaksiatan dan kemungkaran terhadap Yang Esa..

“ Sesungguhnya solat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar”

Rabu, 11 Ogos 2010

SAHUR PERTAMA

1


Pulang ke Makassar untuk menjalani ibadah puasa yang pertama bersama yang tersayang. berpeluang berkumpul kembali dengan teman-teman sehalaqah.. Nabilah, Kak Soolihah, Farhana dan Ummi Kalsom.. setelah lebih dari 2 minggu di posko.

4.15 am.. bangun telat disebabkan semalam tidur lambat kerana menguruskan berkas wisuda (urusan graduasi. Jam 1 pagi baru tidur.. jadi jam 4 masih dalam mode tidur REM..tidur nyenyak.. alhamdulillah tersedar jua jam 4 lewat 15. melirik ke telefon genggam.. MasyaAllah 5 mesej masuk dari Ummi kalsom.. Ummi menanyakan samada perancangan yang kelmarin mahu sahur bersama..sebentar telefon berdering menandakan ada panggilan masuk.. farhana yang menelefon.. Rupanya dia sudah ada di depan pintu kamar. Ummi baru saja dikhabarkan supaya datang ke kamar.

Tergesa-gesa memasak telur mata sapi untuk semua.. memandangkan masa yang semakin singkat (mepet, sardin tidak sempat dibuat. jadilah bersahur dengan nasi kecap dan telur goreng. sangat ringkas tapi tetap bahagia kerana masih berpeluang bersahur bersama dengan sahabat-sahabat dunia akhirat.. walaupun hanya makan bersama tetap mengukuhkan ikatan yang terbina antara kita..

Selasa, 10 Ogos 2010

RAMADHAN KAREEM

0

ahlan wa sahlan ya Ramadhan..



Iringilah kehadiran Ramadhan dengan hati yang penuh sedar, jiwa yang teguh jaga, fizikal siap siaga dan juga keazaman yang lebih kental. Ya.. keazaman..apa azamku untuk Ramadhan kali ini? apakah sama dengan Ramadhan yang sebelumnya? azamku..
1)Tadarus 30 juz Al-Quran
2)Meningkatkan qiamulail dan ibadah sunat
3)Gandakan dzikir dan istigfar
4)Membanyakkan sedekah
5)Mempelajari ilmu dengan banyak membaca



semoga diri mampu untuk meniti madrasah Ramadhan kali ini dengan lebih baik agar lahir darinya nanti natijah insan taqwa yang mengikut acuan Allah..
"Ya Allah limpahkanlah rahmat dan kasih sayangmu padaku agar aku mampu untuk menjalani hari-hari dalam Ramadhan ini sarat dengan ibadah dan hal-hal yang membuatMu redha padaku.."

Sabtu, 7 Ogos 2010

SOLAT JEMAAH

0


3 Ogos 2010. Pagi ini agak berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Walaupun hujan yang turun deras dari semalam menyajikan hawa dingin yang menyucuk tulang belulang, namun sedikitpun tidak mencacatkan keindahan pagi yang bersinar dengan kebaikan. Untuk kali pertama kalinya setelah sebulan berada di posko, kami menunaikan solat berjemaah secara “massal” (beramai-ramai : hampir setengah ahli posko) dengan berimamkan Tuan rumah kami Haji Tewa. Bukan selama ini tidak solat berjemaah tapi kali ini lebih meningkatkan syu’ur (rasa) untuk menghidupkan subuh. Tambahan kami bertujuh berpuasa secara jamaie hari ini.

Solat berjemaah.. mungkin bagi sesengah orang hal itu rutin dilakukan dirumah atau sudah menjadi suatu hal yang terlalu biasa hingga terkadang kita tak lagi merasa solat berjemaah itu adalah suatu nikmat yang tak ternilai harganya. Diri ini juga seperti itu. Mungkin sewaktu masih berada di halaman ayah bonda, amalan ini menjadi satu kebiasaan dari kecil (rutinitas yang tidak terubahkan) hingga memasuki era matrikulasi, masih menjalankan solat jamaie di masjid Nilai atau juga di asrama bersama teman-teman serumah : Kak Maryam, Izyan dan lain-lain. Hingga diri terbang ke Makassar, Allah masih memberi kesempatan nikmat dan peluang untuk menjalani ibadah solat secara jamaie dengan teman kamar, Nachia dan Kak Soolihah.

Melalui hari-hari bersama kakak memang sangat membantu iman. Walau masih terkadang jatuh, lagha dan lupa, nikmat Allah masih mengizinkan kami untuk menunaikan rutinitas solat berjemaah, membaca Al-Quran, Mathurat, bahan-bahan fikrah dan melakukan hal-hal lain yang bermanfaat bersama. Namun usai datang ke Jeneponto, iman semakin teruji. Diri terbelenggu dengan sifat jumud (tidak bekerja) yang harus segera dihakis. Solat sendiri-sendiri, mendengar bacaan Al-Quran dirumah pada awalnya jarang sekali. Tapi Allah masih menyayangi diri. Dimakbulkan doa yang dipanjat sehari-hari..

Ya.. doa supaya dikurniakan sahabat yang soleh yang bisa membantu iman.. di penjuru desa Jeneponto ini, Allah mengurniakanku sahabat sebaik Amel dan Rahmah yang bisa diajak berbincang tentang iman dan Islam. Memang sedikit memakan masa untuk perkenalan tapi kini, kekuatan itu ada untuk dikumpulkan. Paling seronok apabila dahulu, diri hanya bangun sendirian untuk solat tahjud hinggakan untuk menyalakan lampu diruang depan juga tidak berani, tapi kini ada temanku Rahmah yang berlumba denganku untuk saling membangunkan tahjud, mengingatkan untuk berjemaah dirumah dan masjid dan berlumba-lumba membaca Al-Quran. Amel juga sekarang sudah kerap menyertai. Hingga kita tak lagi segan untuk saling mengejutkan walau hingga benar-benar bagun segar.

Alhamdulillah pagi ini, kenikmatan berganda-ganda apabila dapat berjemaah dirumah bersama Haji Tewa, teman-teman cowok dan cewek. Selalunya teman poskoku yang laki-laki akan berjemaah di masjid subuh begini namun hari ini mereka berjemaah dirumah memandangkan hujan masih belum menunjukkan tanda-tanda mahu berhenti. Semoga saja hari ini berlalu dengan baik.amin..

LONG DISTANCE RIDE

1


2 Ogos 2010. Pengalaman pertama diri menempuh perjalanan yang panjang dengan menaiki motor. Bersama dengan beberapa orang teman beriringan pulang ke Jeneponto dari Tanjung Bira. Terpaksa menaiki motor berikutan kereta (mobil) yang bertambah penumpangnya (barang hiasan cenderamata) berbanding dengan sewaktu kami datang. Pertama kali juga bergaul dengan teman-teman yang “spesial” yang tidak begitu dikenali dengan akrab sebelumnya. Ya.. sentiasa ada perkataan “pertama kali”.. kerana pertama kali adalah satu nilaian pengalaman yang paling terkesan dan berbekas di memori.

Sepanjang berada di Jeneponto, motor telah menjadi suatu pengangkutan yang paling sering digunakan. Walaupun sebelumnya diri agak-agak fobia dengan motor tapi suka pula bila sudah terbiasa menaiki kenderaan beroda dua ini. Ya.. pastilah diri hanya menjadi pembonceng setia memandangkan diri lansung tidak memiliki pengetahuan tentang motor.. apatah lagi untuk membawanya.

Pemandangan sepanjang perjalanan saujana mata memandang. Kehijauan sawah yang terbentang luas sangat mendamaikan hati yang gundah. Lautan yang membiru membawa pergi resah yang bertandang di jiwa. Subhanallah, lafaz syukur terbit di atma mengenangkan nikmat penglihatan yang terus menerus dikurniakan Allah walau diri cemar bersalut dosa noda.

Lambaian pepohonan menghijau menyapa laluan kami sepanjang perjalanan 4 jam ke posko. Sebelumnya sempat singgah di rumah tante (mak cik) kepada teman yang berada di Bira. Bahagia melihat hubungan baik yang terjalin antara teman dengan keluarga tante nya tersebut. Ya lah anak muda sekarang kebanyakannya susah untuk bergaul dengan orang tua apatah lagi mahu untuk mampir (berkunjung) .. Tante siap memasakkan juadah enak yang menjadi santapan kami siang itu. Usai makan siang, kami tidak dibiar berehat.. lansung dihulurkan pisang goreng kegemaran bersama air teh panas. Alhamdulillah sewaktu makan siang tadi, tidak makan hingga terlalu kenyang.. jadi masih mampu menjamah sedikit teh dan goreng pisang yang terhidang. Sempat singgah di masjid Nurul Aziz di Bantaeng untuk menunaikan solat jama’ qasar zohor asar. Lega rasanya apabila selesai menunaikan solat.

Perjalanan kali ini tidak menyebabkan timbul gejala mual muntah sepertimana kebiasaan. Walaupun dari awal sudah bersedia dengan obat anti muntah, obat itu seakan tidak berjasa pada diri sekarang. Kerana diri sudah terubat dengan kesaktian alam. Sudah terubat dengan lopak-lopak jalan yang bagaikan bulan penuh dengan kawah-kawahnya, terubat dengan gelagat-gelagat manusia yang bermacam-macam ditepi jalanan. Terubat juga dengan rintikan gerimis yang sempat menyapa.

Sampai di posko jam 4.30 sore.. Sesampai di posko sudah ada teman kecilku, Anah dan Kasmah yang setia menanti dipintu. Terukir pengharapan di pesona wajah yang mungil menyebabkan diri tidak tegar untuk menolak ajakan mereka berjalan-jalan ke sawah seperti biasanya walaupun rasa pegal dan lenguh-lenguh sendi mulai terasa menjalar hingga ke tulang belulang. Usai memenuhi ajakan mereka, diri pulang ke posko dan merapikan diri.

Kasihan melihat teman yang memboncengku tidur pulas malam itu. Pasti capek (letih) sekali dia terpaksa memboncengku selama berjam-jam tanpa ada berhenti rehat. Dia yang selalunya jago /juara satu membawa motor hari itu, menjadi yang paling terakhir antara teman-teman yang lain. mungkin kerana pertimbangannya yang macam-macam kerana memboncengku.

*Teman, terima kasih atas perhatian dan kebaikanmu..semoga sahaja Allah membalasmu dengan kebaikan yang berlipat ganda.. amin..

MEMORI PERMATA 2010

2


Berada di Tanjung Bira.. Suasana di Bira masih seperti hari-hari kelmarin. Cantiknya laut yang membiru menggambarkan keagungan penciptanya. Perbedaan kedalaman air menghasilkan warna yang berbeda pula. Menambahkan lagi keunikan pantai Bira yang indah berlantaikan pepasir halus memutih.

Saat-saat di Bira benar membangkitkan memori bersama teman-teman sewaktu menjalani program PERMATA Mei yang lalu.. seperti tahun-tahun sebelumnya, Persatuan Kebangsaan Pelajar Malaysia di Indonesia (PKPMI) telah menganjurkan program motivasi PERMATA yang mana pihak penganjur telah menjemput seorang penceramah dari Malaysia, En. Fazrul Ismail, motivator yang membawa pendekatan dakwah secara simple dan global yang dinamakan sebagai teknik PIES & CASIC. Tujuannya adalah untuk menjadikan dakwah kelihatan ringan di mata masyarakat umum.

Diri bersama Kak Soolihah, Nabilah dan Ana telah mengikuti program tersebut. Ummi yang pada awalnya agak keberatan untuk mengikuti lantaran adanya masalah air yang hampir saban tahun dihadapi di lokasi, turut hadir pada akhirnya, melengkapkan lagi kebersamaan. Turut hadir, sahabatku Rosnani, calon ustazah kelahiran Sabah yang kini sedang menuntut di Sekolah Tinggi Agama Negeri (STAIN) Watanpone, kebupaten Bone. Diri yang menjemput Nani untuk mengikuti program ini usai pertemuan kami dalam ziarah tarbawi Mac lalu ke Bone. Harapanku, di program itu nanti dapat memberi pengalaman pertama pada Nani menyertai acara anak Malaysia setelah setahun terpisah dari komuniti lantaran ketidak tahuan. Di samping ingin memperkenalkannya kepada pimpinan PKPMI tahun ini.

Di Bira, kami menempatkan diri di sebuah kamar (bilik) belakang berenam walaupun sebenarnya harus berlima per kamar. Diri dan Nabilah telah dilantik sebagai panitia (ahli jawatan kuasa, AJK) divisi makanan menyebabkan kami begitu sibuk hingga tidak seluruhnya dapat mengikuti program yang disediakan. Harap maklum, kami terpaksa bersedia di lokasi setengah jam dari waktu program untuk menyediakan kosumsi, keluar dari program juga 15 menit lebih awal. Belum masuk bab cuci gelas, piring, periuk dan sebagainya. Akibatnya, jangankan mahu mengikuti aktiviti lasak seperti explorace, mendengar materi hingga selesai juga tidak sempat.

Agak stress dengan kondisi seperti ini. Bayangkan sejauh 6 hingga 7 jam perjalanan ditempuh untuk datang ke Bira dengan segala bentuk pengorbanan waktu belajar dan jam istirehat, tidak dapat pula memaksimalkan waktu untuk mendapatkan bekal pengisian. Teringat cerita kakakku sewaktu dia menjadi panitia makanan salah satu kem tarbiyyah di Kelantan. Katanya memang susah untuk mengikhlaskan tenaga dan waktu untuk menyediakan makanan untuk program namun itulah hal yang harus kita latih.. latih diri untuk melakukan barang apa kerja sekalipun, dengan ikhlas. Walaupun bekerja di balik tabir tidak dipandang, bahkan tidak dirasakan penting, namun itu sebenarnya adalah suatu tanggungjawab yang maha berat dan krusial. Tanamkan rasa “ Ya Allah, aku ni nak bagi makanan pada orang-orang yang ingin mendalami agamamu..maka ikhlaskanlah ya Allah”..

Mujur ada teman-teman yang tetap setia mendokong. Walaupun tak dapat menghabiskan banyak waktu dengan sahabat-sahabat di program, tetap merasa bersyukur apabila selesai tugasan, pulang ke kamar dapat duduk kembali bersama-sama. Berbincang tentang iman dan membuat konklusi tentang program yang berjalan pada hari tersebut. Jadi setiap hari menghadiri program dengan iman yang ter’cas’. Teringat satu kata-kata :

“ Seorang pejuang berjuang bukan hanya disandarkan oleh kekuatan hatinya tapi disokong oleh kekuatan hati saudara-saudaranya hingga dia berteguh dalam melakukan kebenaran dan bertegas dalam mencegah kebatilan..”

TANJUNG BIRA HANG OUT.. POSKO MODE

0


2 August 2010, hari ini, diri akan berkunjung ke salah satu tempat wisata tunjangan (tempat perlancongan utama) Sulawesi Selatan yang telah sering dikunjungi sebelumnya yaitu Tanjung Bira bersama dengan teman-teman seposko. Bertolak dari posko Tolo’ Barat jam 9 pagi. Cuaca yang cerah ibarat mendokong perjalanan kami.

Perjalanan ke Bulukumba mengambil masa 4 jam dari Jeneponto. Harus melalui Bantaeng Ayong yang memandu kereta yang disewa khas (mobil rental) untuk ke sana. Dalam perjalanan sempat singgah di satu warong bakso untuk mengalas perut. Berada dalam kereta bersama menempuh perjalanan yang panjang benar-benar memberi kami waktu untuk lebih saling memahami antara satu sama lain via komunikasi. Di situ kami berkenalan dan bercerita tentang apa sahaja yang bisa menghangatkan suasana. Bergurau (bercanda) mengeratkan lagi hubungan yang terbina.. ya..inilah proses.. proses untuk membina rasa sayang antara satu sama lain.

Sampai di Bira menginap di rumah tumpangan yang telah ditempah oleh temanku Kiki dari hari sebelumnya.. walaupun kamarnya tidaklah terlalu besar namun masih selesa untuk ditempati oleh 10 orang cewek. Teman-teman cowok menempati kamar yang berbeda namun berdekatan atas pertimbangan keselamatan. Kasihan cowok.. setelah hampir sebulan di posko mereka tidak pernah tidur di atas katil berikutan keterbatasan ruang. Hari ini baru merasa enaknya tidur di tilam (kasur) empuk yang tersedia..

Menikmati hari yang tidak terlalu panjang di Bira tetap menjanjikan pengalaman baru. Bersama teman-teman menikmati dinginnya air laut, menyusuri pantai yang indah dihiasi pelangi, menaiki boat mengharung ombak yang agak deras..memori yang takkan terlupakan..

Pasti.. semua orang punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Begitu juga dalam perjalanan ke Bira kali ini.. kesalahfahaman dan perselisihan pendapat bagai tidak dapat di elakkan. Namun itu rencah dan asam garam persahabatan. Justeru itulah intipati dari keakraban. Akhirnya akan terlahir ikatan kasih sayang yang utuh dan akan membuatkan kita menghormati antara satu sama lain..menerima baik buruk seseorang apa adanya dan saling menampungi kelemahan sesama sendiri.. kerana persahabatan itu adalah apabila kita bisa saling menghargai, saling mengambil berat dan mementingkan orang lain sepertimana mengambil berat tentang kepentingan kita sendiri..

Jumaat, 6 Ogos 2010

AFTER 10 DAYS

0


Pejam celik pejam cilik, sudah 10 hari berada di Jeneponto. Hari ini terpaksa pulang ke Makassar berikutan notis pendek yang diperoleh 2 hari yang lepas. Harus menghantar softcopy flipchart bagi membantu proses pengeluaran nilai IKAKOM.

Selesai seminar awal, terus pulang dengan menaiki panter (kereta/mobil sewa yang membawa penumpang ke Makassar) bersama Wawan dan Winda. Pertama kali menimba pengalaman yang begini.. menaiki kereta dengan orang yang sama sekali tidak di kenali. Dan susah sekali mahu meminta untuk berhenti solat. Sesampai di Makassar Winda menghantar diri lansung pulang ke Rusun.

Kakak Soolihah sudah terlebih dahulu sampai. Gembira sekali pulang untuk bertemu sahabat-sahabat. Farhana juga pulang. Sebentar lagi mungkin dia juga akan sampai. Ummi besok baru akan pulang. Nabilah tidak dapat pulang lantaran dia baru pulang baru-baru ini disebabkan kekangan kesihatan yang tidak begitu bagus. Kebetulan hari ini hari lahir Ain. Kami keluar makan bersama untuk pertama kalinya setelah lebih seminggu tidak ketemu.

Setelah ummi sampai ke Makassar besoknya, rasa terubat rindu yang bersarang di hati. Masing-masing sibuk bercerita tentang pengalaman di tempat masing-masing. Inti kepada kepulanganj kali ini, kami sempat mengambil peluang untuk menjalankan usrah. Walaupun ianya tak lah seformal biasanya namun ia cukup untuk menjadi bekal menghadapi hari-hari yang mendatang.

Memandangkan semua orang juga tidak bersedia penuh, jadi usrah kali ini Cuma membacakan buku karangan Ummu Anas dengan tajuk tazkirah “Binalah Iman dan Taqwa”. Tajuk ini sangat sesuai dengan kebutuhan semasa kami yang ketika berada di Posko, tiada orang lain yang bisa membantu. Tiada teman yang selalu mengingatkan. Tiada murabbi yang bisa dirujuk. Semua berbalik pada iman di dada. Iman yang menjadi benteng dari kebatilan. Iman yang membolehkan kita berfikir dengan waras, membuat keputusan selari dengan syariat.

Hanyalah keimanan yang dapat memancarkan ke dalam hati, benih-benih kebahagiaan yang dirindui setiap diri. Dengan iman akan tercipta ketenangan, ketenteraman dan kepuasan. Dengan iman juga setiap diri akan terdorong melakukan amal soleh yang diperintahkan dalam Islam. Hanya diri yang beriman dan beramal soleh yang mampu mengajak insan lain melaksanakan sebarang bentuk kebaikan. Justeru itu, kita harus mengawal diri kita dengan iman dan memperindahkan akhlak kita dengan taqwa. Tanpa kawalan iman, nescaya runtuhlah segala kekuatan dan hancurlah segala kebaikan. Hati-hatilah dalam berfikir dan bertindak. Batasi segala keinginan dengan rasa takut kepada Allah. Itulah dia taqwa yang sentiasa menjurus diri dalam ketaatan dan kepatuhan.