Skinpress Rss

Jumaat, 30 Disember 2011

NAFAS KEHIDUPAN

0


Ketakutan adalah bagian dari nafas kehidupan yang harus kita miliki selain nafas harapan dan cinta. Takut pada kegagalan setelah memulai perjalanan dan berusaha sepenuh tenaga untuk meraih jaya. Takut pada perpisahan setelah hadirnya pertemuan, serta menjalani persahabatan dalam bingkai kasih sayang. Wajar. Ketakutanlah yang membuat kita waspada..

Mari lanjutkan perjalanan kita. Waspadai segala ketenangan di jalan ini. Berhati-hati dengan kemudahan. Dan hargailah segala hal yang berlaku disekeliling kita.. Fatamorgana dunia sentiasa melalaikan kita dan menjadikan kita tidak siap untuk menghadapi banyak hal dalam hidup ini..^__~

Rabu, 28 Disember 2011

GRADUATION !!

0



Faizal Tahir - Gemuruh

Bila bertalu rentak di kalbu
Hasrat yang tersirat semakin ku buru
Bila bergema laungan gempita
Harapan bernyala nadiku berganda

Gemuruh jiwa semangat membara
Dari puncak ingin ke angkasa
Berkalungkan bintang berkelipan
Menyerlah jauh dari yang biasa

Bila bertalu rentak di kalbu
Hasrat yang tersirat semakin ku buru
Bila bergema laungan gempita
Harapan bernyala nadiku berganda

Gemuruh jiwa semangat membara
Dari puncak ingin ke angkasa
Berkalungkan bintang berkelipan
Menyerlah jauh dari yang biasa

Ungkapan ini bukan sekadar bermimpi
Segalanya pastikan terbukti nanti

Gemuruh jiwa semangat membara
Dari puncak ingin ke angkasa
Berkalungkan bintang berkelipan
Menyerlah jauh dari yang biasa

~traktiran wisuda (graduasi) sekaligus acara perpisahan Fitrah~

Khamis, 22 Disember 2011

MEMBESAR DI BELAKANG BAYANGAN YANG HEBAT

4


Kali ini rasa ingin sekali berkongsi tentang “ Membesar di Belakang Bayangan Yang Hebat”. Pengalaman yang pernah dilalui sewaktu zaman kecilku. Dari kacamata seorang adik lebih tepatnya. Semoga bermanfaat. [mungkin bawaan hujan dan rindukan kakak membuatkan memori semalam berputar di minda sedar hingga memberikan ilham sebuah perkongsian]

Membesar sebagai seorang adik, pasti sosok sang kakak yang paling berperan dalam pembentukan peribadinya. Kerana sebagai anak-anak, pastilah didikan paling efektif itu adalah melalui contoh teladan yang baik ketimbang kata-kata semata. Kadang untuk anak yang berusia 6-7 tahun, mencontohi ibu bapa secara lansung boleh jadi terasa amat berat kerana pada pikiran dangkal kita, ibu dan ayah adalah sosok yang sangat sempurna dan tingga hingga kita tidak mungkin dapat mencapainya. Kita cenderung untuk melihat dan mengambil contoh dari sosok yang berada di depan kita (alias kakak/saudara yang lebih tua). Makanya, menjadi kakak juga sebenarnya tidak mudah. Bak kata teori Survival Of The Fittest, “Chosen by Fate”. Jadi terserah kita untuk membentuk diri kita menjadi teladan yang baik buat adik-adik kita atau sebaliknya menjadi teladan yang jelek untuk mereka contohi.

Meski terlahir bersaudara, tetap kita menjalani proses perkenalan dan kebersamaan yang tersendiri. Kebanyakan kita bisa lihat, hubungan bersaudara itu sangat jarang yang bisa diekspresikan. Kadang, meski sang kakak sangat menyayangi adiknya, namun sebaliknya mereka bersikap cuek (tidak peduli) atau bersikap usil (nakal). Mereka lebih selesa dengan menjadikan adik-adik mereka bahan ketawa, bahan ejekan dan sebagainya. Sang adik jua merespon sedemikian. Saat sang kakak dimarahi, mereka juga akan membalas dendam dengan mengetawai atau mengacungkan jempol sebagai tanda gembira atau “padan muka”!! Tak kurang juga yang acap menggunakan bahasa yang kasar dalam bertutur dan mengeluarkan caci maki dalam perbualan harian. Tanpa disedari, hal-hal ini mendarah daging dalam kehidupan dan menjadi bagian dari peribadi mereka.

Perbedaan usia diri dan kakak tidak jauh beda. 4 tahun. Tambahan diri dan kakak sama-sama perempuan membuat hubungan kami sangat akrab sejak kecil. Kakakku teman terbaikku. Teman bermainku. Teman ceritaku. Sepanjang akal ini masih mampu mengingat, selalu ada kakak yang menemani hari kecil dan hari remajaku.

Meniti-meniti hari remaja, kakak semakin mendewasa. Diri sangat kagum sewaktu melihat kakak mampu berbahas banyak hal dengan ayah dari isu semasa hingga kepada isu dunia. Kakak banyak membaca. Jadi pengetahuannya sangat luas. Diri masih ingat dalam 1 perjalanan pulang kampung ayah di Selangor di suatu musim cuti sekolah, seperti biasa ayah akan bercerita kepada kami tentang kisah sirah nabi dan para sahabat. Kakak banyak merespon. Kemudian dia bercerita kepada ayah tentang rencananya untuk menulis tentang Imam As-Syahid Hasan Al-Banna, pengasas gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, Mujadid yang telah memberi nafas baru dalam perkembangan dunia dakwah. Nilaian pertama yang diri belajar dari kakak. Membaca jembatan ilmu. Seiring dengan ini, ayah dan ummi mengesyorkan (memberi saran) bahan bacaan yang sesuai dengan tahap kami dan berusaha menciptakan suasana yang lebih kondusif untuk membantu proses pembelajaran dan pengetahuan kami.

Sewaktu pertama menjejakkan kaki ke alam sekolah menengah (SMP), diri masih lagi terperangkap dalam dunia kanak-kanak yang tidak begitu mempedulikan soal aurat dsb. Dan kemudian kakaklah yang mengajarkan diri untuk lebih prihatin terhadap pakaian yang menutup aurat. Tapi cara kakak mendidik diri jelas terasa seninya. Diri masih ingat sewaktu kakak meminta ummi membelikan kami jubah (gamis) yang serupa coraknya. Kakak mengajak diri untuk memakai baju yang sama dan menghadiahkan diri sepasang stoking (koas kaki). Beliau tidak lansung memarahi diri yang masih tidak menutup aurat dengan sempurna di usia 13 ku. Namun sebaliknya beliau mengajarkan diri dengan teladan yang baik dan cerita-cerita tentang wanita hebat zaman nabi.

Kakak selalu menggunakan pendekatan psikologis. Walau tampak sederhana namun sebenarnya amat berbekas dihati. Selalu, jika dimarahi, kakak menjadi orang pertama yang akan membela. Pasti al sepele seperti itu, buat anak-anak akan menjadi suatu hal yang sangat berharga. Belum lagi, kebiasaan kakak yang membelikan hadiah buat kami. Meski jika dia hanya ke kota untuk membeli keperluan tanpa kami, pasti dia tetap akan membelikan sesuatu sebagai ole-ole. Diri yang semakin meningkat remaja, dan mulai punya pemikiran tersendiri, pernah bertanya pada kakak kenapa harus dia bazirkan uangnya untuk kami? Padahal uang tersebut bisa digunakan untuk perbelanjaan hariannya. Namun kakak hanya tersenyum dan menjawab tak mengapa. Kemurahan hati dan kasih sayang yang kakak tunjukkan mengajar diri bahawa kemurahan hati itu adalah suatu yang harus mendasar dalam diri dan indahnya kasih sayang jika diterjemahkan dalam perbuatan.

Masih segar diingatan,hari pengumuman keputusan SPM (Sijil Peperiksaan Malaysia/ Ujian Nasional SMA), kakak tidak berada di rumah. Beliau sedang melanjutkan pelajarannya di kampus KUSZA, Terengganu. Sebaik mengetahui keputusan ujian, diri segera menelefon kakak untuk memberitahunya kabar tersebut. Jawaban kakak sewaktu itu “tahniah angah, kakak tau angah boleh..” kata-kata sederhana. Tapi buat seorang adik, ia memberi makna yang sangat mendalam. Kakak punya keyakinan yang tinggi pada kita meski dia terkesan lebih dewasa dan lebih berpengalaman. Ia menanam keyakinan diri dan rasa ingin berusaha dengan lebih keras. Kakak lansung menyuruh diri mengambil hadiah (kado) yan sudah disiapkan dari awal dikamarnya. Segera berlari ke kamar kakak setelah pulang dari sekolah. Kakak telah menghadiahkan sehelai jubah (gamis) berwarna pink muda dengan layer tipis berwarna peach. Baju yang kian lama diri impikan. Menangis terharu. Wah, kakak tau betul apa yang diri mau.. TERIMA KASIH KAKAK..

Kehalusan jiwa kakak dan sensitivitinya amat terserlah sejak kecil. Sewaktu adikku Afham masih ditingkatan 1 (SMP kelas 1) , pernah satu kejadian sewaktu adikku yang tinggal di asrama sekolah Tahfiz Sains, pulang bercuti (libur) di rumah. Suatu pagi, sedang diri sedang membersihkan kamar, kakak tiba-tiba masuk sambil matanya merah. Sisa air mata masih mengalir deras ditubir matanya menandakan hati yang gundah masih belum tenang. Hairan. Padahal baru setengah jam yang lalu beliau keluar dari kamarku untuk menggambil minuman dalam keadaan ketawa-ketawa.setelah diri bertanya, kakak mengatakan “sedih lihat adik menangis kerana susah menghafal Al-Quran. Tapi kakak tidak dapat bantu sedikitpun..” sebaik mendengar kata-kata kakak, semerta dada ini sebak. Ingin ikut menangis. Tapi harus dipendam. Memang seperti itu. Sejak kecil diri harus lebih pintar menyembunyikan perasaan kerana kakak sangat ekspresif orangnya. Saat kakak menarik tanganku keluar kamar dan mengintip dikamar adik, air mata ini tidak mampu lagi terbendung. Mengingat kata-kata kakak tadi dan melihat sendiri sosok adik yang sedaya upaya berusaha dengan keras untuk memantapkan hafalannya..kasihan adikku..

Begitu juga adikku Ijah, dari kecil, kerna perempuan bungsu, Ijah selalu adalah yang paling unik. Jadi sebagai yang bungsu, sering dimanjakan oleh kakak. Apapun maunya pasti kakak turuti. Setiap kali pulang dari kampus, kakak pasti akan membahagikan waktunya untuk menemani Ijah menonton kartun meski itu bukanlah kebiasaan kakak, sepertimana kakak mengajar diri untuk menyintai sepak bola gunag menembusi dunia satu-satunya adik lelakiku. Kakak juga sering membelikan sesuatu yang disukai adikku Ijah menjelang hari lahirnya. Kakak mulai suka menonton Barbie gara-gara adikku yang satu. Tiap kali Ijah bercerita tentang Barbie dan cerita tentang zaman kanak-kanaknya disekolah rendah, Kakak pasti menunjukkan perhatian penuh dan merespon cerita tersebut hingga adik semakin senang dan mulai cerewet dengan kakak..

Sepanjang akal ini mampu menyimpan memori, tidak pernah rasanya mendengar kakak mengeluarkan kata-kata yang kasar atau kesat. Sebaliknya kakak sering memberi motivasi dan paling penting, kakak adalah tempat mencurah masalah dan berkongsi pendapat. Kakak sangat rasional dan berfikiran terbuka serta berpandangan jauh. Setiap dia memberi pendapat pasti masuk akal dan bisa dipraktekkan. Bukan sekadar teori semata-mata. Berbicara dengan kakak itu menambah ilmu dan wawasan. Berbincang dengan kakak itu akan membenahi idea yang kreatif.

~kakak, saranghyeyo~

Selasa, 20 Disember 2011

REPLY ME NOT!!

0


Sometime I said those stupid words
And demand you to do silly things
Never reply me!
Cause I’ve just making nonsense that come
Neither from my brain nor my heart
But from my uncontrolled and unorganized emotion

Sometime I ask you the unneeded questions
And urge you to answer
Never reply me!
You’re just building up my ego and cause me to be unbearable person
An arrogant that totally didn’t make sense
Who only know just to demand and not to give

Sometime I ask you “not so important” question
And hoping that you’ll keep up with me
Taking a part of your leisure time that not suppose to be mine
Never reply me!
Teach me to be rational
Teach me to be patious
Teach me to be strong
And teach me to be independend
Lead me to be better than I do before knowing you..

Amni_Shamrah
20 Dec 2011-12-23 8.45pm

Isnin, 12 Disember 2011

DI MANA ALLAH DALAM HATI KITA?

0


Di mana Allah dalam hati kita? Renungkan dan pikirkan kalimat ini, saudaraku. Kerana Ali bin Abi Talib RA pernah menyifatkan keadaan para solihin di zamannya dengan mengatakan “azhumal khaliqu fii qulubihim, fashaghura maa duunahu fii a’yunihim”, sungguh keagungan Allah telah mendominasi dinding hati mereka. Karenanya menjadi kecil dan tidak berartilah di mata mereka, selain Allah. Mereka menjadi besar kerana telah meyakini kebesaran dan keagungan Allah SWT. Kedudukan mereka menjadi tinggi, kerana mereka telah meninggikan Allah SWT. Jiwa mereka telah sibuk dengan hanya mengagungkan Allah hingga mereka menjadi tidak takut kecuali kerana Allah, menjadi tidak tenang kecuali bila dekat kepada Allah, menjadi tidak memiliki tempat bersandar kecuali kepada Allah, menjadi tidak memiliki tempat bergantung kecuali Allah. Keagungan Allah benar-benar telah merajai hati mereka. Selalu begitu hebat dan mengagumkan keadaan hati para solafussoleh dalam tingkat ma’rifah mereka kepada Allah SWT.. Subhanallah.. Maha Suci Allah…

Saudaraku,

Dimana Allah dalam hati kita? Seberapa dominan keagungan Allah SWT dalam hati kita? Allah SWT tak ingin hati kita dipenuhsesaki oleh keinginan nafsu dan ita-cita dunia. Dahulu, ketika Nabi Allah Ibrahim terdominasi oleh kecintaannya kepada sang anak, Allah memerintahkannya untuk menyembelih anaknya. Dahulu, ketika suatu saat Rasulullah SAW dan para sahabat begitu memuliakan Baitul haram dalam hati mereka, Allah lalu memerintahkan mereka melakukan solat menghadap Baitul Maqdis. Agar Allah mengetahui apakah kadar kecintaan mereka kepada Allah lebih kuat, lebih dominan dan lebih besar daripada kecintaan mereka terhadap Baitul Haram? Ketika jawabannya adalah IYA, lalu Allah mengembalikan lagi Baitul Haram kepada mereka dengan perintahNya. Ketika Ibrahim ternyata lebih menyintai Allah, maka Allah kembalikan lagi sang anaknya kepadanya dan menggantikannya dengan menyembelih kambing qibashy.

Dimanakah Allah SWT dalam hati kita? Apakah yang mendominasi hati kita selama ini?

Saudaraku,

Apakah kita merasa gembira dan senang saat berdekatan denganNya? Apakah kita selalu berusaha agar Allah selalu bersama kita? Sejauh mana tingkat kesenangan dan kedamaian kita saat sholat, disaat kita bertemu dan bermunajat kepadaNya? Seberapa sejuk dan teduhnya jiwa kita saat sujud di hadapanNya, kerana saat sujud merupakan saat yang paling dekat denganNya.. Duhai, indahnya bila kita mengetahui firman Allah SWT :

“Aku bersama hambaKU di saat ia mengingatiKU dan dua bibirnya menyebutKU”
[HR Bukhari, Kitab at Tauhid]

Apakah kita menyediakan waktu sejenak, disepertiga malam terakhir untuk menikmati saat-saat kedekatan kita denganNya? Di saat Allah mengatakan:

“Apakah ada orang yang bertaubat yang aku terima taubatnya. Adakah orang yang meminta ampun atas dosanya dan Aku ampuni dosanya. Adakah orang yang meminta dan aku berikan pintanya.”
[HR Muslim]

Sejauh manakah pengorbanan kita untukNya? Apakah kita selalu berupaya melangkah dan bergegas mendekat tempat-tempat yang bisa membuat Allah redha kepada kita? Atau justeru kita mendekati tempat-tempat kemurkaanNya hingga kita semakin jauh dari redhaNya? Tapi lalu kita memohon dan meminta keluasan rahmatNya, mengeluhkan ragam kesempitan, kesedihan dan kelemahan kita kepadaNya. Mengetuk pintu kasih sayangNya dan berharap agar Allah mau membukakannya untuk kita yang penuh dosa, banyak lalai dan berlumur kesalahan?

Saudaraku,

Dimanakah Allah SWT dalam hati kita? Saat kita harus melewati sebuah peristiwa pahit dan menyakitkan dalam hidup. Mampukah kita meraba kasih sayang Allah SWT dalam setiap peristiwa pahit dan menyakitkan itu? Karena, sesungguhnya apapun yang datang dari Allah itu adalah indah. Meskipun kadang kita tak mampu melihat keindahan dalam musibah yang menimpa. Tapi itu tetap saja indah. Renungkanlah keindahan dalam musibah yang menimpa Nabi Musa AS saat bersama Nabi Khaidir. Bagaimana peristiwa kapal yang diboocrkan, seorang anak yang dibunuh dan rumah hampir roboh yang dibangun kembali. Semua itu musibah yang buruk dalam pandangan Nabi Musa AS. Tapi saksikanlah betapa keindahan itu terbentuk sedemikian rupa dari ketetapan Allah, setelah diketahui hakikat dan hikmah musibah itu semua? [Ibnu Qayyim, Al Fawaid]

Saudaraku,

Mari terus menerus berlatih agar jiwa kita benar-benar dipenuhi oleh cinta kepadaNya, bukan kepada selainNya. Kita sudah lama menjalani hidup. Tapi kita terlalu lama dibuai dunia. Kita harus berhenti sejenak disini. Lalu bertanya kepada diri sendiri

“Dimanakah Allah SWT dalam hati kita?”

Sabtu, 10 Disember 2011

HAYO SEMANGAT!!

0


Jalan ini bukan jalan yang mudah.. harus dilalui dengan susah payah, keringat dan air mata.. ada ketika kita berlari terlalu laju dan kelelahan hingga pada waktu yang lain kita harus berjalan perlahan-lahan. Tapi jangan terlalu lama dan jangan terlalu larut dengan "jalan perlahan" kerna ia hanya sekadar jeda untuk mengisi kembali takungan semangat yang kian berkurang, habis dipakai buat energi diperjalanan.. Tetaplah semangat lagi!! terus berjalan walau bertapakkan kaki yang tempang, sayap yang patah maupun hati yang terluka hingga ke akhirnya..

[Rabbi Yassir Wa Laa Tu'Assir, Ya Kareem..] ^__^

I heard..
The sound of Ur footstep..

The sound of Ur falling tears..

Running doubt..

Flooding feelings..


Now Go...!

Firing with super strength..

To Promise HOUSE!!

Hayo sama sama SEMANGAT!! kerana semangat itu sendiri adalah kehidupan!!

Isnin, 5 Disember 2011

BERWAJAH BIASA

0


Gadisku,
Saat dikau berwajah muram,
Dan mengeluhkan kenapa kau tidak secantik yang lainnya
Kenapa mereka punya penaksir sedang kau tidak
Kenapa mereka sering berganti pasangan sedang kau tak pernah punya

Kau lupa barangkali gadisku,
Kata “cantik” itu sangat subjektif
Kecantikan, nilainya bukan pada lahiriah semata
Tapi ia lebih cenderung pada pekerjaan hati
Yang diperelok dengan kebaikan dan ketaqwaan
Diperindah dengan amal soleh dan keikhlasan
Itulah kecantikan paling sempurna dan terindah

Gadisku,
Bersyukurlah saat Allah menjadikan wajahmu biasa-biasa saja
Kerana Allah sebenarnya menyelamatkanmu dari fitnah dunia
Laki-laki yang menyintaimu kerana parasmu atau fisikmu
Sungguh mereka hanya pendusta yang bertuhankan nafsu
Leki-laki yang naksir padamu lantaran keelokan wajahmu
Tidak mustahil akan berpaling darimu demi seorang yang lebih elok paranya pula

Tetapi laki-laki yang menerima dirimu yang berwajah biasa,
Mereka melihat kepada kecantikan hati dan pekertimu,
Dialah laki-laki yang akan memuliakanmu
Laki-laki yang akan berbuat baik padamu kerana Tuhannya
Laki-laki yang akan melindungimu dan membimbing tanganmu menuju syurgaNya
Apakah yang lebih baik dari itu?

Gadisku,
Pernah kau dengar kisah apel yang bermutu?
Apel dengan kualiti terbaik itu adanya di puncak pohon
Sedang apel kurang berkualiti jatuh berguguran sebelum masa panennya
Diinjak, dilempar, dimakan ulat.. sama sekali tidak dihargai
Sedang apel dipuncak terus menanti
Menanti orang yang benar-benar yakin akan keberadaannya
Walau terlindung dek dedaunan merimbun yang menutupi
Hanya orang terpilih yang akan memanjat pohon itu dan memetiknya dengan hormat
Apel it uterus bersabar dan memperbaiki dirinya
Agar saat dipetik, ia bisa menmberikan rasa yang manis dan bergizi…

“Duhai orang yang menanti, teruslah menanti dengan sedikit kesabaran lagi.. yakinlah bahawa janji Allah itu pasti..”

~amni shamrah~
05 December 2011
11.00pm

credit to: gadis yang bertanya dalam kegalauan.. kerana dirimu begitu berharga ^_^

Ahad, 4 Disember 2011

TUNGGU TEDUH DULU

0


Setelah melalui satu minggu yang penuh stress di Rumah Sakit Labuang Baji, diri akhirnya berjaya menghabiskan jaga (jadwal oncall) pada hari Sabtu. Hingga mengizinkan diri untuk libur (cuti) 1 hari pada Ahad nya. Wah, weekend pertama di bagian pediatric!! Aseekk!!

Mahu sekali istirehat total dirumah. Tirah baring!! Namun jadi ingat pada adik-adik binaanku. Minggu lalu sewaktu liqa’, tidak dapat menumpukan sepenuh perhatian pada mereka gara-gara keletihan yang amat. Pengisian juga tidak seserius biasanya. Kasihan mereka. Walau sepertinya banyak yang mahu mereka ceritakan, namun tertahan dengan kondisi diri yang agak turun. Sejak terjun ke dunia koas, diri agak kurang meluangkan waktu bersama mereka, mendengar keluh kesahnya mereka. Sedangkan sewaktu pre-klinik dulu, setiap hari ulangtahun kami akan makan bersama..

Lansung jemari mengetik sms buat mereka. Biarlah sisa waktu yang tersisa walau kurang dari 24 jam tersebut, dapat diri manfaatkan sebaiknya bersama mereka. Begitulah. Harus korbankan masa lapang untuk persediaan masa yang sibuk nanti. Inilah investasi akhirat kita. Diri mengajak mereka keluar untuk jaulah bersama keesokannya. Seperti biasa, Tim dan Azurin yang sentiasa ceria dan happening membalas girang untuk keluar bersama. Begitu juga yang lain. Ya.. mereka sentiasa positif untuk melakukan apa saja bersama. Rasa tsiqah yang tinggi dan keazaman yang kuat membuatkan mereka sangat antusias untuk berkomitmen dengan apa saja yang diajukan.

Akhirnya kami bersetuju untuk menjadikan Akarena sebagai tujuan destinasi. Pantai pasir hitam, Akarena yang terletak tidak jauh dari Pantai Losari merupakan suatu destinasi wisata (perlancongan) yang menjadi tumpuan untuk warga Makassar menghabiskan sisa hujung minggu mereka bersama keluarga tersayang. Biasanya warga Makassar berdatangan ke sana untuk menyaksikan matahari terbit mahupun tenggelam yang ternyata sangat indah disaksikan dari kawasan pantai ini. namun tidak kurang juga yang menjadikan pantai ini sebagai tempat bermandi manda dan beramah mesra dengan keluarga masing-masing.

Kami tiba di Akarena jam 7.30 pagi. Meskipun hari hujan dan langit masih mendung, menutupi sinar sang mentari pagi yang mengintip celah untuk menebar gemerlap, namun hati kami tetap girang dan bahagia. Tambahan adik-adik juga baru usai ujian akhir bagian Gastroenterohepatologi. Minggu depan mereka akan memasuki sistem baru yaitu Onkologi. Meskipun diri masih dalam mood keletihan namun jaulah seperti ini mampu me recharge kembali energy yang hampir terkuras total di RS Labuang Baji minggu lalu.

Memulakan aktiviti (aktivitas)dengan sepinggan nasi kuning khas Makassar dan segelas akua (air mineral) dari warung yang berdekatan, kami menyantap makan pagi dengan penuh selera. Bahagia melihat mereka berlari-lari di atas jembatan kayu mendekat ke pantai, bergurau senda menghilangkan sungkam dan ketawa ceria, usil mengusik antara satu sama lain. Alhamdulillah inilah rahmat kasih sayang yang tercurah lewat ukhuwah yang semakin matang. Inilah biasan cinta yang tercipta dari yang ESA. Tiba-tiba, rindu mencengkam terhadap adik-adik yang tidak dapat ikut serta hari ini. Natrah yang semakin hilang kelibatnya disapa waktu yang mencengkam(disebabkan suatu kondisi). Ida yang juga jarang kelihatan bayang. Syafini yang lebih sibuk dengan aktiviti kampus.

Itulah.. mungkin khilaf diri yang lambat beradaptasi dengan lingkungan hingga mereka semakin jarang diri perhatikan. Mungkin khilaf diri yang lemah dan tidak cukup stamina untuk menggenggam tangan mereka dan menemani mereka dalam episode perjalanan panjang ini. Sibuk dengan kesibukan sendiri. Selesa dengan waktu istirehat sendiri. Padahal mereka masih memerlukan tangan ini untuk berpaut. Mereka masih butuh bayangan diri ini untuk berlindung dari terik mentari dan memerlukan contoh tapak kaki ini untuk mengatur langkah.

Ampunkan aku Ya Allah!! Ampunkan kekhilafan dan kelemahan diri ini. Jangan dikau hukum diri ini atas kelalaian yang tidak disedari. Maafkan diri ini wahai adik-adikku yang tercinta. Berikanku peluang untuk menjadi lebih baik. Terima kasih, kalian sentiasa disisi dalam perjuangan panjang ini. Terima kasih, kalian telah bersabar untuk sekian waktu yang diri ini tidak bisa menemani…

Sempat singgah di Trans Mall sebelum pulang, menikmati pancake enak,ANGEL DELIGHT di MR.PANCAKE sambil berlindung dari dinginnya hujan yang mencucuk hingga ke tulang belulang. Ini pertama kalinya mereka menikmatinya pancake yang amat dibanggakan TransMall tersebut sejak pembukaannya April lalu. Selain memiliki pancake enak bertaraf dunia, MR.PANCAKE juga memiliki restoran yang didekorasi ala rumah klasik inggeris yang menciptakan suasana romantis dan harmonis buat pengunjungnya. Walau harganya tergolong standard dan agak mahal pada status kehidupan masyarakat umumnya, namun disitu ada rasa yang tersendiri. Paling tidak mereka pernah makan disitu “sekali” sepanjang berada di Makassar..

Apa yang meninggalkan kenangan yang manis adalah apabila kami memesan hidangan pancake dan berkongsi 1 hidangan berdua sebagai penambah rasa.. diri yang berkongsi dengan Tim memesan hidangan Angel Delight yang terdiri dari pancake serta ais krim coklat strawberry serta Banana Split cukup mengocak deria rasa… indahnya kebersamaan letaknya bukan hanya pada pertemuan tapi pada perasaan yang bertemu dalam keakraban dan bersatu dalam tautan kemesraan ^_^

Jam 2. Belum solat Zohor. Pakaian sudah kotor disapa pasir pantai yang basah dan selut yang masih bercecer ditepian jalan. Kami bersetuju meredah lebatnya hunjaman air hujan yang menerjah bumi, pekatnya awan hitam yang membalut langit, dan percikan becak dari kenderaan bermotor yang lewat. Sebenarnya pada awalnya, perancangan hari ini hampir saja tertunda gara-gara hujan Disember yang turun tanpa permisi, namun akhirnya kami sepakat meneruskan agenda jaulah ini memandangkan lama sekali kami tidak keluar bersama. Meredah banjir serta bermain di gigi air ternyata memberi kredit memori tersendiri dalam perjalanan hidup ini. Tidak perlu menunggu teduh dulu untuk melakukan sesuatu hal bersama..

Rabu, 30 November 2011

BREAKING A TRUST

0


“Ayah bukan tidak mahu anak ayah belajar di luar negara, tapi ayah cukup takut, jika anak ayah nanti, balik sebagai seorang dokter yang berjaya tapi tidak lagi sebagai seorang manusia yang soleh”

Kata-kata ayah kembali terngiang-ngiang di telinga saat dihadapkan dengan 2 pilihan yang agak payah. Mengikut majority atau berkeras untuk pulang. Hari sudah malam benar. Teman-teman bersetuju sebulat suara untuk menonton wayang/bioskop bersama. Cerita larut malam setelah selesai acara farewell party tadi sebagai “nonton bareng” terakhir sebelum berpisah. Suatu tempat yang tidak pernah kaki ini jejaki sejak dulu. Tidak pernah dibawa ayah mahupun ummi. Serba salah. Menyertai mereka, menjejakkan kaki ke panggung wayang/bioskop berarti melanggar prinsip utama yang terbina, mengkhianati kepercayaan ayah dan ummi yang mengizinkan diri menuntut ilmu sejauh ini. Sementara pulang sendiri dikala jam sudah menginjak angka 11 berarti mengundang bahaya pada keselamatan diri. Buntu. Mana yang lebih aula(utama)?

Saat itu akal seakan berhenti berfungsi. Atma tiba-tiba berbicara: Ya Allah, ayah di tempat, sedang giat buat kerja Islam, takkan anak disini mahu melakukan hal yang maksiat? Dimana selarinya didikan ummi yang membisikkan “Allah Maha Melihat, Allah Maha Mendengar dan Allah Maha Menyaksikan” sejak kecil. MasyaAllah.. malu pada Allah jika Allah lihat kita yang mengaku taat padaNya sedang dalam waktu yang sama menderhaka padaNya dengan memasuki tempat yang lebih mengundang maksiat ketimbang amal soleh. Malu pada Allah jika Allah lihat kita yang melaungkan kalimat tauhid pada masyarakat dalam masa yang sama mengkhianati syiar agungNya dengan melakukan hal yang membelakangi syariat. Allahu Akbar!!

Hati telus dan terus berdoa semoga Allah memberikan jalan keluar. Diri meminta izin teman yang membonceng untuk lansung pulang. Betapapun resikonya setelah memberikan alasan yang tepat dan meluahkan hal yang sebenarnya. Alhamdulillah, sungguh Allah lah yang menggenggam hati-hati manusia. Teman yang kebetulannya anak seorang Ustaz, lansung mengerti dan meminta maaf. Dia lansung menemani diri untuk pulang. Meredah pekatnya malam berdua. Lebih aman. Percaturan Allah lebih indah dari yang kita perkirakan. Kadang kita terlalu takut dan terlalu bimbang akan pendapatnya manusia hingga kita mengabaikan perintah Allah dan mengetepikan apa yang Allah tuntut. Kita lebih menjaga perasaan manusia ketimbang “perasaan Allah” yang telah memberikan segalanya pada kita. Dari situ diri mengambil pelajaran bahawa apa jua masalah yang mendatang, Allah pasti ada solusinya. Hanya saja kita yang memutuskan jalan mana yang ingin kita tempuh. Jalan kefasikan atau jalan ketaqwaan. Pasti Allah akan memudahkan urusan kita, InsyaAllah..

Beberapa hari setelahnya, kakak yang kebetulannya selesai menjalankan liqa dengan adik-adik binaannya, bercerita, betapa pentingnya kita menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh orang tua kita. Ternyata banyak di kalangan adik-adik yang melakukan hal yang sama sekali dilarang oleh orang tua masing-masing. Ada yang berkata “saya disini saja masuk ke bioskop, kalau di Malaysia, parents tak bagi sebenarnya”. Ada anak ustaz, tapi di sini berpakaian seperti orang biasa. Bangga melilitkan pakaian ketat ditubuh, bangga memakai jilbab tapi mendedahkan aurat. Yang sekolah agama, bangga membawa perempuan bukan muhrim keluar berduaan dan melakukan hal yang sebagaimana dipandangan masyarakat sesuatu yang “normal” dan layak. Tanpa pernah diketahui oleh orang tua masing-masing.

Tidak sedar sama sekali bahawa kita datang dengan membawa maruah dan kepercayaan orang tua kita. Tapi disini kita menginjak-injaknya tanpa menyedari betapa jika mereka mengetahui apa yang telah kita perbuat, pasti mereka akan kecewa. Anak yang mereka didik bagai menatang minyak yang penuh akhirnya melupakan semua didikan mereka dan menjadi orang berbeda.

Bayangkan saudaraku, ibu yang siang malam mendoakan kesejahteraan kita, berkorban tanpa jemu untuk kita, namun kita menderhakainya dengan melakukan hal yang tidak disukainya. Alangkah kecewanya ibu. Ayah yang membanting tulang membesarkan kita dengan peluh keringatnya, ayah yang tak jemu mendidik kita menjadi anak soleh, kita membalasnya dengan menderhakai mereka lewat perbuatan kita yang telah sekian lama ditegahnya. Wajarkah?

Ayuhlah saudaraku, pecahkan tembok keegoan kita. Taatilah Allah.. Taatilah RasulNya dan taatilah ibu bapa yang telah mengasuh kita sejak dari kecil. kasihani mereka saudaraku.. Kita adalah amanah yang telah Allah SWT turunkan kepada mereka untuk dijaga. Sanggupkah kita melihat ibu dan ayah kita diazab di api nereka kerana perbuatan derhaka kita?

Break the siege!! Belajarlah untuk menderhaka pada maksiat!! semoga Allah mengampunkan dosa kita dan

Ahad, 27 November 2011

PERIPHERAL POSTING OF PEADIATRIC : FATIMAH ONCALL

0


Bismillahi Alhamdulillah.. segala puja dan puji dipersembahkan buat Rabb yang Maha Agung, Pemilik mutlak jiwa-jiwa yang masih terus diberi kesempatan menjalani kehidupan di dunia fana ini.

Sedikit perkongsian setelah menjalani fase tugas di hospital Daerah di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Siti Fatimah. Selama 1 minggu bertugas di rumah sakit yang terkenal sebagai rumah sakit yang “paling sibuk” dikota ini, diri belajar banyak hal baik dari segi nilai dan juga dari segi ilmu medisnya. Menurut Kak Hajar, salah seorang perawat senior di Fatimah, rata-rata kelahiran perhari yang diterima oleh rumah sakit ini minimal 10 kelahiran. Baik persalinan normal (partus) mahupun malalui pembedahan, Section Cessarean. Paling maksimal bisa mencapai hingga 20-30 kelahiran. MasyaAllah. Kebanyakan masyarakat memilih Rumah sakit ini lantaran ia dibiaya penuh oleh pemerintah Indonesia. Tidak seperti Rumah sakit lain yang mereka harus membayar lagi jasa dokter dan tenaga medis yang tidak sedikit jumlahnya. Maka di Fatimah, kakitangannya benar-benar bekerja di luar dari keuntungan semata. tiada insentif yang dikenakan atas jasa mereka, tiada uang jaminan tambahan gaji.

Kesibukan bekerja disini benar-benar menguji eksistensi diri dalam menjalani hidup di dunia kedokteran. Apatah lagi saat diri harus bertindak sebagai “lone ranger” lantaran teman yang seharusnya masuk bersama mengundurkan diri kerna jatuh sakit. Diri hanya sempat tidur selama 2 jam paling lama dalam sehari kerna saking sibuknya.

Mana tidaknya Sectio Cessarian paling kurang 5-6 dalam sehari yang mengharuskan diri untuk ikut serta, menyambut bayi yang baru lahir sekaligus memberikan pertolongan pertama, “hangatkan, posisikan, bersihkan jalan napas, keringkan, ransang taktil dan reposisi” serta menilai APGAR SCORE bagi bayi-bayi ini. Banyak bayi yang lahir tidak menangis yang harus ditangani segera, bayi yang lahir dengan kelainan congenital seperti encepahly, meningeocele, dan hidrocephalus, dan banyak lagi kes yang gawat (emergency). Memandangkan dokter residen tidak masuk ke ruang operasi, maka diri sebagai co-ass lah yang bertanggungjawab penuh melakukan first aid tersebut. Nah, disitu terkuras segala ilmu yang telah dipelajari teorinya sewaktu kuliah dulu serta ilmu CSL yang diperuntukkan. Di situ diri dilatih untuk menggalas tanggungjawab yang maha berat untuk menyelamatkan nyawa makhluk kecil yang tidak berdaya itu. Kadang biar perawat dan bidan senior juga mengharapkan diri yang setahun jagung ini untuk mengatasi kerna mungkin difikirannya mereka, masih banyak hal yang belum mereka ketahui.

Pengalaman menyaksikan SC sangat menginsafkan. Melihat perjuangan sang ibu yang tak kenal lelah berusaha untuk melahirkan anaknya. Bertaruh nyawa di meja operasi. Betapa cinta dan sayang yang lahir dari ketelusan hati meleburkan siksa dan sengsara yang merantai. Melihat kebahagiaan dari sang ayah yang erat menampung tubuh mungil sambil di azankan. Suasana yang sangat harmonis dan bahagia. Seorang anak yang lahir dengan seribu harapan, berjuta kebahagiaan. Banyak kisah yang kusaksikan. Ada juga ykisah yang sebaliknya. Saat sang anak tidak berjaya diselamatkan, sang ibu meraung histeris. Minta nyawanya diganti dengan nyawa sang anak. Dalam kisah lain, ayah yang berwajah dingin menjualkan anaknya yang masih belum sampai 1 jam menghirup udara dunia yang fana dengan tukaran uang Rupiah. Tanpa belas. Tanpa kasihan. Nauzubillahi min dzalik..

Selain SC, diri harus standby di bagian NICU (Neonatal Intensive Care Unit) yang menempatkan bayi-bayi yang bermasalah. Banyak yang didapatkan di sini adalah bayi dengan berat badan lahir rendah (low birth weight), premature, bayi dengan Respiratory distress, icterus neonatorum, sepsis, dan sebagainya. Bayi-bayi ini memerlukan perhatian yang baik dan penjagaan yang teleti untuk melewati fase yang maha berat ini dikehidupan mereka. Di sini diri di ajar untuk menghitung keperluan harian bayi dan mengatur jadual susu mereka. Kasihan melihat tubuh-tubuh kecil yang tidak berdosa, bersusah payah berjuang untuk menyambung kehidupan. Berjuang untuk mengembangkan paru menghirup udara. Ada yang menyerah duluan, tidak sanggup menghadapi kerasnya hidup, ada yang terus berjuang dan ada yang akhirnya berjaya melewati. Semua sesuai dengan aturan Allah, Sang Pengatur segala perancangan.

Diri terlatih untuk peka pada tangisan sang bayi, entah kerna popoknya (pampers basah), entah kerna laparnya (beri susu) atau entah kerna kesakitan (phlebitis etc). sepanjang malam harus berjaga untuk memastikan kondisi bayi tetap baik. Walau sangat memenatkan namun disitulah seninya sabar dan berkorban. Tambah membebankan saat harus menulis status patient yang akan difollow up pada besoknya. “nyanyian langka” patient seramai kurang lebih totalnya 50 orang perhari harus disiapkan dalam satu malam. Benar-benar menguji kekuatan mental fisikal.
Kepercayaan dokter atas diri bernilai segalanya. Dokter yang sibuk dengan ujian akhir memberikan keperayaan kepada diri untuk memeriksa dan meresepkan obat dan konsultasi (inform concern) kepada bayi dengan persalinan normal sekaligus memberi kuasa penuh untuk memulangkan pasien setelah memastikan kondisi bayi baik dan sehat.

Alhamdulillah dengan bantuan dokter bertugas, Dr.fauzin, dan dokter-dokter yang jaga, bidan, perawat dan mahasiswa yang ada disana, diri berjaya mengharungi badai kesibukan tersebut. Mereka semua kasihan melihat diri yang tidak sempat istirehat gara-gara badai kesibukan yang merantai. Namun di situ kita harus menunjukkan betapa kita berbeda sama orang lain kerna kita melakukan pekerjaan ini bukan hanya atas dasar tugas yang terbeban dipundak. Malah lebih dari itu… kita melakukan pekerjaan ini atas dasar kasih sayang dan belas kasihan. Melakukan kebajikan bermaharkan pengorbanan untu meraih cintaNya. Setiap hari diri akan memulakan hari dengan semangat yang baru dan senyuman yang merawat biar suasana harmonis untuk bekerja bisa tercipta. Mereka hairan kenapa diri bisa bertahan, sedang hakikatnya Allah lah yang memberikan kekuatan lewat doa dan pengharapan hanya kepadaNya.

Terima kasih buat semua warga Fatimah yang menyambut diri dengan penuh hangat..
Dr.Fauzin, Ibu Hasni yang tak kenal jemu menjaga kebajikan makanan dan tempat istirehatku, Kak Hajar,yang mengajarkan tentang keikhlasan (ternyata kita satu tarbiyah kak di’), Kak Marwah yang mempercayakan diri ini untuk menyambut kelahiran bayi abnormal, Kak Mia yang memberi peluang untuk melakukan banyak tindakan, Kak Asdar, diri banyak belajar tentang sifat care dan ketelitian darimu kakak, Kak Adet, Kak Yuyun, terima kasih menjadi teman terbaikku, Kak Vivin dan adik2 mahasiswa yang banyak membantu. Ida, semoga persahabatan akan kekal hingga ke syurga.

Semoga bekal yang telah diri perolehi diri akan menjadi suatu pengalaman bermakna dalam meniti kehidupan sebagai seorang dokter nanti..amin..

Selasa, 15 November 2011

DIAM

0


Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam memberi komen..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam menegur..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam memberi nasihat..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam memprotes..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam persetujuan..
...
tapi..

Biarlah DIAM kita mereka faham ertinya..
Biarlah DIAM kita mereka terkesan maknanya..
Biarlah DIAM kita mereka maklum maksudnya..
Biarlah DIAM kita mereka terima tujuannya..

kerana..

DIAM kita mungkin disalah tafsir
DIAM kita mungkin mengundang syak wasangka
DIAM kita mungkin disilap terjemah..
DIAM kita mungkin tidak membawa apa-apa maksud..

maka..

jika kita merasakan DIAM itu terbaik..
seharusnya kita DIAM..
namun seandainya DIAM kita bukanlah sesuatu yang bijak..
berkatalah sehingga mereka DIAM…

[creditted to Wan Nor Fazlina]

Jumaat, 11 November 2011

MY BESTFRIEND'S WEDDING

0


Selamat Pengantin BaruAlign Center
Album : Layar Keinsafan
Munsyid : Mestica
http://liriknasyid.com



kami ucapkan selamat pengantin baru
kekal abadi buat selamanya
berbahagialah suri di dalam rumah tangga
kasih yang bersemi mula mekar berbunga

pernikahan adalah diperintahkan
sunnah baginda yang dimuliakan
bahtera dikemudi bersama sehaluan
keimanan di hati dijadikan pedoman

pabila dua hati bercantum menjadi satu
kata disepakati tanda telah setuju
majlis diraikan pengantin tersimpuh malu
santapan dihidangkan buat para tetamu

rasul berbangga dengan ummat yang ramai
kerana itulah kita digalakkannya
tanda agama indah berkembang
ummat islam maju gemilang
terbina ummat yang terbilang
persaudaraan

"SEMOGA MEMBENTUK KELUARGA YANG SAKINAH, MAWADDAH WA RAHMAH"

Rabu, 2 November 2011

SANTAPAN PAGI

0


Setelah melalui hari yang melelahkan, pulang ke rumah untuk isterehat sebentar sebelum menempuh lagi hari baru yang penuh cabaran sebaik 7.00 am nanti. Jam menunjukkan angka 4.30 pagi. Azan subuh sudah berkumandang sebagai penanda bagi hari baru yang penuh dengan sinar cahaya dan harapan. Kepala oleng (pening) sebagai manifestasi kelelahan, tidak cukup tidur dan lapar. Sebaik sahaja menunaikan solat subuh, diri lansung rebah di hamparan tilam.. Tidur pulas. Tidak ada lagi yang bisa difikirkan kecuali mahu sekali istirehat.

Terjaga jam 6.30 am. Kakak sudah menyiapkan makan pagi. Cucur kentang, kentang goreng bersama teh susu yang kelihatannya sangat enak. “Jom makan” ajak kakak. Wah, jarang sebenarnya kami makan pagi bersama di kamar kecuali hari libur (cuti) dan kami sama-sama berada di kamar.

Cucur kentang kakak benar-benar memberikan motivational support pada diri yang semakin lesu menghadapi hari-hari awal di bagian pediatric. Mungkin kerna kakak yang telah terlebih dahulu melalui department ini lebih memahami kesengsaraannya. Stress tingkat tinggi. Penat yang mengasak jasad.

Alhamdulillah puji dan syukur kehadrat Allah kerna dikurniakan sahabat seperjuangan yang mengerti situasi. Terharu. Jadi teringat pada satu tazkirah yang pernah diri baca:

Kita dididik menjadi ummat yang berakhlak. Kita selalu dituntun oleh Allah dan RasulNya menjadi orang-orang yang mahu berkorban dan memberi. Berkorban untuk memberi petunjuk kepada orang lain. Dengan cara apapun. Memberi untuk meringankan beban orang lain. Memberi apapun. Berusaha untuk menyampaikan kebaikan pada orang lain. Kebaikan apapun. Meski harus membebani, menyulitkan diri kita sendiri. Kita selalu diajarkan untuk menebar kebaikan di mana sahaja. Menjadi umat yang laksana lebah. Hinggap ditempat yang baik, menghisap yang paling baik, dan menyebarkan yang baik dan bermanfaat bagi manusia. Itulah akhlak kita. Itulah cirri khas dan jati diri ummat kita, sejarah kita.

Kita tidak diajarkan seperti lalat. Yang hinggap ditempat yang paling kotor, mengambil yang kotor dan menyebarkan kekotoran itu untuk merusak manusia.

Ini memang logika pahala, amal soleh, yang didorong oleh keimanan. Imanlah yang mendorong orang untuk berbuat baik, meski secara kasat, mungkin sia-sia, bahkan bisa berupa beban atau kesulitan. Kebaikan harus diberikan kepada siapa sahaja. Keadilan juga harus diberikan kepada siapa sahaja. Kezaliman harus dijauhkan dari siapa sahaja. Itulah sendi-sendi ajaran Islam yang diberikan kepada kita. Memberi tanpa mengharap balasan. Berkorban tanpa meminta hadiah.

Jangan mundur memberi pengorbanan untuk orang lain. jangan berhenti memberi dan berusaha untuk melahirkan kebahagiaan untuk orang lain. mungkin saja ada yang tidak setuju dengan bentuk pengorbanan yang kita berikan kepada orang lain kerana dianggap menyulitkan diri sendiri. Mungkin juga ada yang menganggap upaya kita untuk kebahagiaan orang lain itu, membebani dan tidak ada gunanya. Bahkan tidak menutup kemungkinan, bila kita jujur dan tulus pada orang lain, orang mungkin akan mempergunakan kita dan menindas kita. Tapi tetaplah jujur dan telus. Jika kita mengalami kebahagiaan dan ketenangan, mungkin ada orang yang iri. Tapi tetaplah syukuri kebahagiaan kita. Kebaikan kita hari ini gampang dan sering dilupakan orang. Tapi jangan berhenti melakukan kebaikan. Kerna inti masalahnya, ada di antara kita dan Allah, bukan antara kita dengan manusia. Siapapun dia.

Terima kasih kakak untuk santapan pagi yang penuh dengan motivasi.. ^_^

Selasa, 1 November 2011

HARI YANG MEMENATKAN

0



Malam tadi diri ditugaskan untuk standby di Neonatal Intensive Care Unit (NICU). NICU adalah ruang ICU yang dikhaskan untuk bayi baru lahir yang bermasalah. Baik berat badan lahir rendah, lahir tidak cukup bulan (premature), lahir dengan New Born Distress Syndrome, atau dengan kelainan-kelainan yang lain seperti hemangioma, sepsis,septal defect, icterus neonatorum, dan pelbagai lagi penyakit lain. jadi tidak hairan apabila di bagian ini kita diharuskan untuk standby 12 jam @ sepanjang malam. Memastikan bayi-bayi kecil ini dalam kondisi aman terkendali.

Pagi ini ditugaskan untuk menjadi Penanggungjawab Laboratorium (PJ Lab). Kerjanya PJ Lab adalah menghantar sampel untuk pemeriksaan lab seperti darah, urine, faces, cairan bilas lambung dan sebagainya di samping harus mencari hasil laboratorium yang telah selesai dip roses. Sebenarnya kerja ini bukan tugas co-assistant seperti kami namun kerna katanya jika mengharapkan petugas laboratorium yang datang secara berkala itu lambat sedangkan hasil mahu dikerjakan secara cepat, maka tugas itu dibebankan ke atas pundak kami, co-assistant bagian pediatric minggu pertama.

Tugas yang benar-benar diri rasakan tidak masuk akal. Meski kami adalah co-assiatant, namun tugas utama kami masih sebagai mahasiswa yang meniti jengjang pendidikan. Yang mana seharusnya setiap tugas yang dibebankan kepada kami adalah tugas yang membantu pendidikan kami sebagai calon dokter. Berulang alik menempuh jarak yang tidak dekat untuk ke laboratorium benar-benar melelahkan. Belum lagi bab mencari hasil laboratorium yang telah diproses di laboratorium sentral atau di laboratorium unit gawat darurat yang jauh dan dimarah-marah tidak jelas oleh petugas laboratorium, hasil yang tidak jelas di laboratorium, hasil yang hilang dan sebagainya, amat menguji kesabaran. Tidak ada sama sekali yang bisa dipelajari kerana keletihan memanjat saat “serangan” sampel yang perlu dihantar tidak pernah berhenti.

Siangnya harus kembali bertugas di NICU selama 8 jam. Berdiri dan menguruskan semuanya tentang bayi kecil. Malamnya masih ditugaskan sebagai PJ Lab dan banyak pula yang harus dihantar segera (CITO). Aduh, kaki sudah pegal, badan benar-benar lelah. Baru teringat bahawa diri belum menjamah makanan dari tadi malam. Aduh, hanya mampu bertahan dengan sisa tenaga yang ada. Mahu sekali tidur. Namun sampel yang perlu dihantar tidak mengenal ampun. Menyebabkan diri tidak sempat tidur sampai jam menunjukkan angka 3.30am.

Kembali dikejutkan oleh teman sejawat kerna dipanggil oleh dokter ke PICU (pediatric intensive care unit. Ada seorang pesakit anak yang harus di periksa gula darah sewaktu (GDS) setiap jam. Diri diarahkan untuk meminjam alat pemeriksa GDS dari laboratorium unit gawat darurat memandangkan lab central hanya beroperasi sesuai waktu kerja. Malangnya, petugas lab tidak bisa meminjamkan alat tersebut untuk sepanjang malam kerna di unit gawat darurat juga ada 2 orang pesakit yang harus diperiksa GDS per jam. Dan kondisi mereka kritis. Diri dibolehkan untuk meminjam alat tersebut dipulangkan kembali setiap jamnya. Kerna hanya 1 alat yang berfungsi. Please deh.. besarnya rumah sakit Wahidin sebagai rumah sakit rujukan hanya memiliki 1 alat pemeriksaan GDS yang harga satunya tidak mencapai 500k. benar-benar mengecewakan.

Menelefon dokter. Dokter tetap berkeras untuk mendapatkan alat tersebut. Marah-marah. dan diri sebagai PJ Lab yang tersepit (terjepit) ditengah masalah. Diri yang bakal menjadi korban keadaan. Terpaksa menempuh jarak jauh berulang alik untuk mengambil dan memulangkan alat GDS untuk kepentingan bersama. Amat sadis. Penat. Lapar. Pegal. Lelah. Kecewa. Semua teradun dalam satu diri. Sistem yang benar-benar kejam ini membuat akal tiba terfikir “benarkah kehidupan seperti ini yang diri impikan? Benarkah pilihan yang telah diri ambil untuk terjun ke bidang kedokteran?” kehidupan yang memenatkan. Pertama kalinya dalam kehidupan co-ass ku mengharungi hari seperti ini. namun diri yakin jika ini hanya sebuah permulaan. Permulaan kepada kehidupan yang lebih penat dan melelahkan. Ya.. lebih banyak lagi yang harus ditempuh. Surgery. O&G. Anesthesi. Forensic. Tiada henti.

Tapi setelah berfikir ulang, this is it. Untuk bisa memilih hal yang ingin kita lakukan dalam hidup adalah suatu anugerah. Tidak semua hal dalam perjalanan ini kita sukai. Termasuk juga dalam hal yang telah kita pilih. Namun disitulah seninya untuk kita bertahan dan terus melangkah. Menuju puncak itu susah dan berat namun saat bertahan di puncak itu sebenarnya jauh lebih berat. Jadi perjalanan berat menuju puncak itu harusnya menjadi suatu persediaan dan motivasi supaya kita menjadi lebih tegar bukan malah menyerah dipertengahan jalan. Kadang, hal yang tidak kita sukai itu justeru, yang mendidik kita untuk menjadi perkasa..
Maka, bertahanlah dan teruskan berjuang.

Isnin, 31 Oktober 2011

1 WEEK OFF

0


It’s October 24. Monday. Extraordinarily, I just laid down on the mattress without any hurry to prepare to work. Last week, I’ve just finished my Medicine Posting examination. And for the first time since I’ve got into practical field, I gave myself a space to be “OFF” the cycle. Took my own holiday before getting into the most “disastrous” department P-E-D-I-A-T-R-I-C.

I ‘m getting so exited to enjoy it as the flights of ideas come across my mind. I want to go to my dream place Bissapu waterfall, I want to visit my KKN village in Jeneponto, or I want to go to the bay, watching the sunset and eating the good stuff or going to the most beautiful island... Wah..i want to chase the rainbow and collect the stars..feel the wind and hear the water to flow.. Heaven!! Just want to go out of here.. being free from my routine. But…

Wrong timing. My friends are all on the hectic mode. Thinking of spending times with my sweet sisters in islam, my juniors 09. But they’ve got an examination to settle at the end of the week. So I have to cancel my plan to go on trip with them. Gratefully, one of my sister, Aqilah invited me to accompany her to our favorite seafood restaurant at Losari Beach, Lae-Lae. Along with her smart circle group of 1st year juniors which means to be 4 years younger then me not really makes me felt weird.. yeah.. we enjoyed the evening by riding a musical boat while waiting the sun to set. Hanging out together create an exclusive dimension to know each other better.. they are all happening. After having our dinner at Lae-Lae, we drop by the ice-cream stalls and eat some ice-cream of various flavor before going home.

Aqilah didn’t talk much. Just observing her juniors and make sure that they’re in comfort and safe condition. She’d grown up fast. I remember the 1st time I met her when she was in her 1st year, she used to be very cute and like to ask those controversial questions. Unlike others, she’s not really used to have the birthday party. She can’t tolerate stupid things or childish games.. However, she’s the most fastest learner, she hold tight the knowledge she’d got and make it to apply them in her daily. time runs. She’s now in her 3rd year and manage to mentor the juniors.. Feeling very proud of Aqilah.

I remember once upon ago, I’d been in smart circle group with my friend. Spending our time to hang out together with our mentor, laughing, exploring new places, eating good foods.. just like them. In other time, we used to sit together and listen to our mentor’s tazkirah or the story of great men from the previous centuries. But now, we ourselves have to take the responsibilities to give the tazkirah, mentoring juniors to solve their problems and to be close to them. Guide them. Teach them. Just like how we’d been thought. Treat them well exactly how our mentor do it for us.. Aqilah too.. going through the process.. life is like a wheel. There’s a time, we’re accepting the knowledge and tarbiyah and in other time, we have to give it out to our juniors. Our sisters in Islam. That’s the bright circle.

We do this because we love our juniors as our seniors back there who love us.

Thanks my sisters for a cozy day ^_^

Ahad, 30 Oktober 2011

APAKAH KITA SEORANG MUKMIN?

0



Sejak pertama melangkahkan kaki disini,setiap kita harus tahu, bahwa kita sedang berada dalam proses hijrah menuju kepada Allah SWT. Kita berjalan dan berlari menujuNya. Hanya Allah sahaja. Kita juga harus mengerti bahawa proses perjalanan itu tidak mudah. Jalan ini ibarat tangga yang menjulang ke atas dan bertingkat-tingkat. Kita menaikinya satu demi satu, setingkat demi setingkat. Hingga ke anak tangga terakhir.

Saudaraku,
Sungguh mulia perjalanan hidup para salafussoleh. Orang-orang yang menemani mereka bertutur kagum tentang perjalanan hidup mereka. Seorang ahli hadith bernama Ibrahim Al-Harabi, mengisahkan pengalamannya selama bertahun-tahun menemani tokoh salafussoleh Imam Ahmad Bin Hambal.
Katanya “aku telah menemaninya selama 20 tahun. Kami melewati musim kemarau dan musim semi, musim panas dan musim dingin. Sementara aku tidak pernah mendapatinya pada suatu hari kecuali ia dalam kondisi lebih baik dari harinya yang kemarin”
(Manaqib Ahmad, Ibnul jauzi,40)

Menjadi lebih baik dari kemarin. Selama bertahun-tahun. Itulah barangkali makna anak-anak tangga kehidupan menuju Allah SWT. Semakin hari semakin tinggi, semakin mendaki, semakin mendekat ke langit. Betapa indahnya orang yang bisa menerapkan kaedah seperti itu. Ketika tapak-tapak usia membuktikan sebuah perjalanan yang semakin mahal nilainya. Di saat jejak umur semakin lama semakin menambah kemuliaan seseorang. Ketika perguliran hari, bulan dan tahun, menjadi pertambahan kita saat menuai pahala, balasan dari Allah SWT. Di saat perjalanan waktu, terus menerus menambah kedekatan kita kepada kebahagiaan di akhirat.
Tapi, sedikit sekali di antara kita yang bisa menepati prinsip seperti itu.

Saudaraku,
Beramallah dalam hidup ini, tanpa perlu membanding-bandingkan kelebihan amal-amal kita dengan orang lain. membanding-bandingkan dan mengukur-ukur kelebihan kita dengan orang lain, bisa menjerumuskan kita menjadi ujub dan sombong. Padahal Ibnu Harits Al-hafi mendefiniskan kesombongan dan ujub itu dengan ungkapan “Jika engkau merasa amalmu banyak sedangkan amal orang selainmu itu sedikit”

Menyentuh sekali perkataan Fudhail bin Iyadh rahimahumullah saat menyinggung masalah ini. katanya, syaitan akan menang atas Bani Adam, hanya dengan menjadikan manusia memiliki satu dari tiga perilaku. “Jika aku sudah dapat satu saja, aku tidak akan meminta yang lainnya” begitu kata iblis seperti yang diungkapkan oleh Fudhail. Tiga perilaku itu adalah : ujubnya seseorang terhadap dirinya, atau menganggap banyak amal yang telah dilakukannya, atau melupakan dosa-dosanya. Itulah pangkal dosa.

Kata Nabi Allah, Isa AS, “berapa banyak lantera yang cahayanya mati tertiup angin. Berapa banyak ibadah yang pahalanya rusak oleh kesombongan. Amal soleh adalah cahaya. Dan cahaya itu bisa padam oleh angin ujub dan kesombongan”

Saudaraku,
Semoga cahaya amal soleh kita tidak mati oleh perasaan kita sendiri. Semoga keimanan kita tidak redup oleh kebanggaan kita sekadar telah mendapat penilaian dan pandangan orang yang baik tentang kita. Dahulu, Hasan Al-Basri tidak merasa yakin untuk mengatakan bahwa dirinya pasti beriman, lantaran kekhuatiran bila Allah memandang amal-amal yang ia lakukan ternyata tidak sesuai dengan tuntutan keimanannya. Ia pernah ditanya “Ya Hasan, apakah engkau seorang mukmin?” Hasan Al-basri hanya menjawab “InsyaAllah”. Penanya terkejut dengan jawaban beliau “kenapa engkau menjawab seperti itu?” ulama yang terkenal zuhud di zaman generasi Tabi’en itu lalu mengatakan “Aku takut jika aku katakan, ‘Ya aku mukmin’, tapi Allah mengatakan ‘engkau bohong’. Kerna itulah aku katakan InsyaAllah. Aku tidak merasa aman jika suatu ketika Allah mendapatiku melakukan apa yang IA benci, lalu IA murka kepadaku dan mengatakan ‘Pergilah..Aku tidak menerima amal-amalmu..”

Saudaraku...apakah kita seorang mukmin?

“Semoga Allah tidak melihat kita berada dalam larangan-larangaNya dan tidak kehilangan kita dalam suruhan-suruhanNya..”

Khamis, 27 Oktober 2011

DAD'S PRINCESS

2


It was a very hectic day in hospital. I just came out from one of the ward to exchange the branula set of chirrosis hepatic patient. He had a phlebitis on his hand due to the long-term infusion. Suddenly my mobile phone rang. “beep..beep” it’s sms sound. I took a look and found that it was from my dad. As long as I can remember, it was really a rare thing to get the sms from dad. Because he usually calls in or I’ll call him out. It makes me damn curious about the content of the sms.

Quickly I’d press the “OPEN” button and start reading. “Dear daughter and son (me and my brother who studies in Mesir), Now I’m in a Graduation Hall to see your big sister’s graduation event. If you want to give your words to her, better say it right now and I’ll pass it to her..” the tears suddenly drop out my eyes as the warm feeling crawls into my heart. Today is my sister’s big day. A Graduation Day. She had succeeded to become a lawyer as she always dream. A civil law degree and a syariah law degree.. for the first time in my life, I can feel how proud my dad is, having her as a daughter. My mom is also in the same way. To be called a “dad” and a “mom” to a succeeded daughter give a meaning that they are both superb..

To give the same feeling that makes your parents proud of you is that you have to shot a goal to be the best. Studying medicine is literally and factually uneasy. Seriously speaking. (as well as other field). But trying to give out your best effort toward it, is not impossible.. Parents send you off with a kind of hope to see that you can hold the thing you want to do in your whole life. That’s the spirit. Remember it. Catch it. Hold it. And move forward. Genius is a gift. Not everyone born with it. But intellegency can be learned by hardworking, that’s the effort ordinary people can put to be extraordinary. My teacher’s favorites word : “Success is 1% inspiration and 99% perspiration”. That’s how life goes. So just keep positive to move on your road, put your effort and pray.

My sister is a kind of inspiring person. She’d proved it to be the best in her life. Being a good daughter. A good wife. A great mom and a good student. We can make it the way we want as long as we have the hopes and chase for it..

I love you dad.. I love you mom.. I love you sis.. do pray for me to be the best!! For my lovely brother, Keep Fighting!!


“The words are so powerful. The path is too dangerous. Walk slowly. And be patient. Then you’ll know that you can go beyond your limit”

Sabtu, 22 Oktober 2011

CREDIT DARI MUTARABBI KEPADA MUTARABBI

0


Pagi ini membuka halaman muka buku.. terbaca artikel yang baru ditagkan oleh adik kesayanganku.. Miftahul Jamilah.. tentang mutarabbi..
Sebuah puisi indah yang di petik dari : http://muharikah.com/archives/720/

A’uzubillahiminassyaitonirrajim..Bismillahirrahmanirrahim..
Dengan namaNya,Ar-Rahman..Ar-Rahim..
Ar-Rahman atas segalanya..Ar-Rahim atas segalanya..
Adunan rasa yang disimpan,Jauh di sudut yang paling dalam
Buat jiwa-jiwa..yang berjiwa mutarabbi
Meski sudah jauh berjalan,Jiwanya masih jiwa mutarabbi
Mengharap sayang sang murabbi,Mengharap kasih sang murabbi
Wahai ‘ibadurrahman..
Dalam hatimu itu ada rasa sayang,Dalam hatimu itu ada rasa kasih
Sayang bukan sebarang sayang,Kasih bukan sebarang kasih
Cuma..cuma..,Ingin kuingatkan
Diriku dan kalian
Murabbi itu bukan malaikat,Murabbi itu bukan nabi yang maksumCuma..cuma..
Murabbi itu cuma seorang manusia,yang dengan sedayanya mencuba
menjadikan nabi itu qudwah terbaik dalam hidupnya
Dan kenapa, duhai pemilik hati ‘ibadurrahman
Perlu kalian mengeluh, berkeluh kesah
Resah menanti murabbi sepertinya malaikat,Menunggu murabbi sepertinya nabi
Tanpa ada cacat walau sedikit
Benar..benar..
Benar murabbi itu bagaikan ayah, bagaikan ibu,Benar murabbi itu seorang pemimpin
Benar murabbi itu seorang guru,Benar murabbi itu seorang sahabat
Benar, seharusnya begitu
Tapi..
Ingin diingatkan,Diriku dan kalian
Kita merancang,,Allah jua merancang,
dan Dia adalah sebaik-baik perancang
Sabar..sabar..sabar duhai pemilik hati ‘ibadurrahman..
Tarbiyah itu dari Allah..
Ada harinya tarbiyah itu lewat sang murabbi
Ada harinya tarbiyah itu lewat sang mutarabbi
Ada harinya tarbiyah itu, lewat diri kita sendiri
Tapi datangnya sama, dari Allah..
Kenapa harus ada masa berhenti?
Kenapa harus ada masa berhenti dari tarbiyah ini?
Kenapa..?
Yang miliki hatimu itu hatimu sendiri,Yang miliki jiwamu itu jiwamu sendiri
Yang miliki imanmu itu imanmu sendiri
Allah kan ada..,Allah ada..,Allah..
Duhai pemilik hati ‘ibadurrahman..
Ku katakan begini,
untuk kalian yang memiliki jiwa mutarabbi
untuk diriku yang jua seorang mutarabbi
dan murabbi kita..jua seorang mutarabbi
Sampai..Murabbi teragung..Tidak rindukah kita pada baginda?
Murabbi kepada murabbi teragung..?DIA pemilik nyawa kita..
DIA pemilik hati kita..DIA pemilik iman kita..Kembali pada asalnya diri.
Jadi kenapa harus lari?

<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE AR-SA
Setelah membaca puisi tersebut, jiwa bergetar. Benarlah mendidik hati itu adalah suatu hal yang tidak mudah. Menjadi MUTARABBI yang menganggap kebaikan itu datangnya dari langit itu tidak mudah. Kerna seorang mutarabbi itu mendambakan sosok yang bisa dijadikan contoh teladan. Mendewasa dibawah bayangan yang hebat untuk melentur diri menjadi hebat. Ia butuh tsiqqah yang tinggi dan mapan terhadap peribadi murabbinya. Kadang terlupa bahawa murabbinya juga manusia yang masih melalui hari-hari tarbiyah yang penuh dengan mujahadah. Masih bertarung dalam pergelutan antara nafsu dan iman. Antara keanakan dan kematangan. Antara realities dan fantasis.

Menjadi MURABBI lebih tidak mudah. Mendidik orang lain untuk menjadi mapan sedang diri juga masih dalam proses untuk memujuk hati, mendidik diri sendiri. Membina diri untuk menjadi solid dan menangani masalah mutarabbinya dengan penuh kesenian dan pemahaman. Itu sungguh hal yang tidak mudah. Saat perhatian harus difokuskan sepenuhnya. Saat sensitivity harus diasah setingginya. Menaggapi semua permasalahan dengan dewasa dan harus mampu untuk menembus dimensi hati yang dinamik dan kompleks.. Untuk memahami dan mengerti setiap ahli dalam suatu halaqah itu suatu cabaran. Untuk mempersatukan setiap orang dalam satu wadah, menghapuskan perbezaan, dalam masa yang sama menimbulkan toleransi dan saling menerima itu bukan mudah..apatah lagi untuk menjaga keseimbangan dan keserasian.. Sungguh.. hanya Allah lah yang mampu mempersatukan hati manusia..

Kita tidak pernah layak untuk menjadi mutarabbi yang baik. Apalagi menjadi murabbi yang baik. Tapi.. kita harus berusaha dan terus berusaha untuk melayakkan diri kita dengan mendidik dan melenturnya dengan tarbiyah pencipta.

“Kita tidak mungkin mengubah arah angin tapi kita bisa mengubah arah sayap kita..”