Skinpress Rss

Memaparkan catatan dengan label KKN-PK MODE. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label KKN-PK MODE. Papar semua catatan

Isnin, 15 Oktober 2012

LINGKARAN SEMPIT

0



Kelak ketika kamu beranjak usia , hidupmu akan semakin disibukan oleh banyak hal , saat itu kamu akan sadar , bahwa kamu merasa jauh dari teman.

atau , teman-temanmu yang semakin jauh , sibuk dalam dunianya masing-masing.

ketika itu aku paham akan kata seseorang bahwa “teman itu bukan seberapa banyak , tapi seberapa dalam”.

kelak , hanya akan sedikit dari teman-teman mu yang menanyakan kabarmu , mengajakmu jalan-jalan , atau berkumpul. Mungkin pun sekedar reuni sehari di sekolah , setelah itu kembali ke posisi masing-masing.

kelak hanya akan sedikit temanmu yang bisa kamu ajak bicara , berbagi pendapat tentang idealisme dan banyak hal lain dimasa muda , hingga ketika kamu hendak menghubungi mereka dari handphone mu , kamu pun mulai menyeleksi mereka dengan sendirinya.

yang akan kamu hubungi adalah teman yang terdekat , sebuah kedekatan yang dibangun dimasa muda , bukan sekedar tau nama , sapa sekali , kemudian lupa.

kelak hanya akan sedikit dari temanmu yang ingat tanggal lahirmu , itu tidak begitu penting bukan ?

kelak ketika usia mu semakin beranjak , kamu akan tahu dengan sendirinya berapa sebenarnya teman yang kamu miliki.

ketika kamu menyadarinya , kamu akan sangat bersyukur memilikinya , bukankah sesuatu yang sedikit itu justru sangat nikmat dan berkesan ?

kelak lingkaranmu akan semakin sempit , tapi justru semakin dalam.

iya , teman itu bukan seberapa banyak yang kamu miliki , tapi seberapa dalam :)

==================================================

Dan saya menemukan lingkaran sempit itu disini ... :') :) ^_^ :D
#REPOST
[FZM]

~benarlah...~ 
“teman itu bukan seberapa banyak , tapi seberapa dalam” bukan seberapa lama bersama tapi seakrab mana kebersamaan itu..people choose to be with others but come to the one they feel save with..

Selasa, 11 September 2012

OCHY WEDDING DAY

0



“Teman-teman datang nah ke acara nikahanku Selasa, 11 September 2012 pukul 12.30 di Tongkonan Pangloko Mangangape Randan Batu, Toraja. Maaf undangannya lewat SMS soalnya tidak ada waktuku lagi ke Makassar untuk kasi undangan.. Ochy & Dion”

Sms dari Ochy sore Senin itu sangat mengejutkan jagat raya. Memang kami maklum jika Ochy sudah ada pacarnya sejak zaman KKN. Juga kami maklum jika 2 bulan lalu, baru lamaran di Toraja. Tapi majlis nikahan yang mendadak ini benar-benar tidak mengizin kami untuk menghadirkan diri. Untuk mengambil bis ke Tator malam ini tidak menjamin akan sempat untuk menghadiri acaranya besok siang.

Apalagi dinas besok. Tetap meletakkan kami disituasi serba salah. Dulu sewaktu acara wisudanya Ochy juga tiada satu pun dari kami yang hadir. Padahal Ochy dalam setiap acara juga sangat menghargai teman-teman. Biar acara apapun pasti dia akan berusaha untuk menghadirkan diri. Kecuali dia benar-benar berhalangan.

Berbeda dari kami, Ochy adalah satu-satunya perempuan yang beragama Kristian di posko kami. Dia taat dalam beragama namun itu tidak pernah memberi senggang dalam pertemanan kami. Meski terpaksa mengambil lebih banyak waktu untuk mencoba untuk memahami perbedaan itu, tetap saja Ochy orang yang enak di temani. Teman cerita yang baik, pendengar yang setia dan gaul orangnya.. darinya aku banyak belajar untuk menjadi seorang yang lebih baik. Belajar untuk menghormati agama lain dan menanggapi suatu hal dengan lebih rasional.

KKN yang memecah tembok perbedaan dan membina jambatan toleransi itulah…





“Apapun semoga Ochy & Dion Bahagia.. wishing you guys the best marriage..”

Selasa, 4 September 2012

PERNIKAHAN UUL

0




Hari ini digelar acara Resepsi Pernikahan teman KKN ku Ulfah Chaerani Saputri, UuL dan pasangan hidup matinya Kak Ari. Pernikahan kedua antara teman posko kami. Mengurangkan status bujang dalam keluarga kecil ini. UuL dan Kak Ari memang pasangan yang terkenal sangat seru dan sporting. Dari zaman KKN, Kak Ari yang sering bertandang ke posko menjadi mangsa tumpangan anak-anak untuk pulang ke Makassar. Kadang hanya untuk datang berhujung minggu bersama-sama sambil menikmati makanan yang dimasakkan oleh UUl diposko. Biasa juga jika nebeng (tumpang) Kak Ari pulang ke Makassar, ada saja bahan bahasan yang dibawa. Kak Ari yang kebetulan juga sudah terjun ke dunia ko-ass membuat perbualan senang ajha nyambungnya..Pokoknya apa saja aktivitas yang anak KKN kami lakukan, tidak canggung jika ada Kak Ari bersama. Kerna usahanya untuk tetap berbaur dengan teman-temannya UuL..

Balik ke kisah acara resepsi UuL hari ini, dari keluarga Tolbar hanya ada kami berlima yang hadir. Diri, Winda, Kiki, Wawan dan Irfan. Disana ada juga Ayong yang sudah siap berperan sebagai pagar ayunya. Hanya kami berenam. Tidak ada Iyan yang sudah tugas diluar kota. Ochy juga. Fitrah yang lagi sibuk-sibuknya dengan PKPL di Bandung. Kak Annie yang sudah hilang kabar semenjak pindah ke Kalimantan mengikuti suami. Amel yang sedang pusing sebagai chief Obgyn WS, Adit yang tiba-tiba kedatangan tamu di rumah, Rahma yang terpaksa menghadiri acara resepsi nikahan temannya yang lain. sempat winda berkata "aisshh.. kita-kita lagi..makin kurang anak Tolbar.. jangan nanti kalo saya nikah, cuman 1 orangji yang datang, TIDAK TERIMAKA!!" ya, tersimpan sedikit kecewa.

Kalau setahun yang lalu, masih sibuk-sibuknya setiap bulan ada saja pertemuan yang dirancang. Biar bagaimana sibuknya pasti ada saja alasan untuk bertemua. Ada saja ruang. Tapi itu seakan sebuah kisah lama sejak sebagian dari keluarga ini mengepakkan sayap bertebar diluasnya cekerawala..dan mungkin juga suatu hari nanti ia hanya akan menjadi lagenda yang entah masih diingat kisah penuhnya. Masih mengira-ngira perjanjian anak-anak untuk berkumpul lagi 10 tahun akan datang.. baru dua tahun berlalu seperti lama sungguh.. mungkin begini saja pengakhirannya. Untuk apa lagi kembali 10 tahun ke depannya? Mungkin hanya untuk membuka kembali peti kenangan yang pernah tercipta.

Mungkin ini benar-benar PERSAHABATAN BUTUH PENGERTIAN.











“semoga keluarga yang terbina dikurniai mawadah, sakinah wa rahmah..allohumma amin”

Sabtu, 28 Julai 2012

BUKPUS BARENG KKN-PK

0



Lama rasanya tidak berkumpul lagi anak-anak KKN. Kalo setahun yang lalu, boleh dikatakan hampir setiap bulan ada saja ide-ide pertemuannya, namun setahun kedepan ini ternyata sunyi sekali. Mungkin kerna sebagian dari keluarga ini sudah meninggalkan  tanah bertuah ini.. sebagian lagi sibuk berjuang menyelesaikan sisa studi.

Hari ini janjian untuk buka puasa bersama keluarga Tolbar. Sekalian melangsaikan “hutang”ku untuk memasak masakan Malaysia seperti yang pernah kujanjikan pada mereka. Menu hari ini “Tomyam campur” plus tempe goreng. Kerna permintaan khas dari Rahma, maka turut membuat “ayam Paprik”. Sebenarnya sudah lama sekali tidak memasak. Namun Alhamdulillah sepertinya belum hilang ingatan untuk memasak makanan-makanan rutin itu semua..

Rencana yang bisa hadir hari ini, Winda si Tuan rumah sendiri, Rahma, diri, Irfan, Adit, Kiki, Uul dan Amel. Namun setelah jenuh menunggu ternyata hanya kami berempat lagi.. yah, sudahlah!! Ayong ada buka puasa juga dirumahnya, Adit harus menjaga toko, Kiki tiba-tiba tidak enak badan, Uul tidak muncul-muncul, Amel harus jaga di Obgyn.. Wawan juga.. Ochy hilang kabar. Iyan sudah di Buton. Yang lain semua diluar kota. Ya persahabatan butuh pengertian bukan?

Berempat juga tidak apa-apa. Tetap ada kebahagiaan tersendiri. Bahagia itu ternyata sederhana saat kita menikmati apa yang ada di hadapan kita. tidak terlalu berharap dan tidak terlalu kecewa dengan hal yang tidak sesuai dengan harapan. Berempat kami menikmati buka puasa dengan es kelapa dan es buah, serta kek “Rainbow” Kiki yang memang dijual oleh Winda. Solat berjemaah Magrib menyalakan lagi sumbu-sumbu kebahagiaan yang tumbuh mekar dalam jiwa.

Selesai solat Magrib baru menikmati juadah buka puasa. Berdebar juga melihat Tomyam yang tidak tahu seperti apa rasanya. Maklum saja belum dicoba dan di “otter” rasanya. Semoga saja tidak terlalu jelek untuk bertitle “layak dimakan”..haha.. kata Winda berbeda dari yang biasa dimakan di De Cost. Iya memang kalau di De Cost itu sebenarnya asal rasa. Tidak pernah kami yang pernah merasai tomyam itu sendiri mengiktiraf itu sebagai tomyam.. aneh rasanya.. Rahma terlihat bersemangat dengan ayam papriknya. Maklum saja lama benar dia teringin menjamahnya lagi setelah beberapa ketika dulu diri pernah memasakkannya itu.

Selesai buka puasa kami terawih bersama di mesjid didekat rumahnya Winda. Bagus sekali suasananya. Mesjid terbuka itu meski terlihat kecil tapi sebenarnya mampu menanggung jemaah sebanyak 150 orang. Bacaan imamnya juga tertil. Enak didengar. Mungkin itulah ajaibnya saat ayat-ayat langit itu dibumikan.. maka akan terasa dingin dan ringan hati yang mendengarkan.

Bermalam di rumah Winda malam ini. Sudah lama tidak melayani celoteh teman satu itu yang selalu ceria dan banyak cerita. Meski secara fisik kelihatan seperti anak-anak sekali namun hakikatnya ini teman satu ada banyak sisi dewasanya. Meski kepenatan coba juga untuk menggelayut tapi bersama Winda kepenatan itu berbalas baik..

Isnin, 11 Jun 2012

SORE DI WORKSHOP

0




Menginjak tahun ke-5 keberadaan diri di Makassar baru tahu tempat yang namanya Workshop, Bandar Mahasiswa yang letaknya di belakang Kampus Merah Unhas, tempat mahasiswa menyewa kosan alias (rumah sewa)… murah meriah makanan disana.. melewati jalanan kecil itu bersama Rahmah, teman terbaikku membuatkan ia menjadi taman kenangan. Sejak menjalani fase co-assistancy fase kedua, baru diri berpeluang sering bertemu dengan Rahma di Rumah Sakit. Kerna beliau juga stase Bedah. Meski tidak satu bangsal namun hampir sama jadual kerjanya..


-----------------n------a--------r-r---a------------t--------i----------o-------n------------------
Kamu tahu Rahma, kali pertama kamu mengajakku minum es kelapa di Workshop, saat itu sangat canggung kurasa. minum di warung tepi jalan dan tepi parit besar sepertinya kurang hyginis. Namun aku suka suasananya. Suka saat menjalani detik-detik itu bersamamu.. hingga ia menjadi rutinitas kita kapan ada kelapangan waktu setelah jam kerja. Mungkin es kelapa itu hanya alasan supaya kita bisa duduk-duduk sambil bercerita tentang banyak hal. Melepaskan beban dan tekanan yang memberat di pundak. Iya hanya sepenggal waktu disela kesibukan untuk terus menuai sayang dan menghidupkan rasa.

Aku suka saat kita berkongsi sepiring nasi goreng demi membeli sedikit waktu bersama, suka saat kita bolak balik menyusuri jalanan kecil Workshop untuk mencari bengkel gara-gara ban motor yang sempat bocor..saat keringat jantan menuruni jidat dan kita sama-sama tertawa lucu saat akhirnya ketemu bengkel disudut masuk Workshop.. Aku suka saat kita berhujan-hujan ke sana, dan tetap memesan es kelapa dikala hujan keras menyimbah bumi, meminumnya dalam keadaan menggigil gara-gara kamu lagi ingin sekali..  Aku suka saat kita menebalkan muka untuk berfoto-foto disitu meski orang-orang pada hairan, “kok foto di warung begini??”..Workshop ini sepertinya hanya milik kau dan aku.

Saat kamu mengatakan bahawa kamu akan pergi sedikit waktu lagi,menyeberang laut ke tempat kakakmu, ia seperti sayatan-sayatan kecil yang merobek-robek pembungkus hati yang punya selirat saraf terkaya. Menyakitkan. Tidak tahu kapan kamu akan kembali.. saat kamu pergi jauh, akan adakah lagi peluang untuk kita menjalani hal-hal sederhana seperti ini lagi? Minum es kelapa di warung sederhana.. bercerita hal yang sederhana.. Haruskah semua orang yang akrab denganku pergi sejauh itu? Meski tidak menggunakan paspor dan visa untuk merentas wilayah, namun hamparan laut yang luas membuatkan pertemuan itu menjadi hal yang mustahil. Saat hanya diperbolehkan untuk merindu, tapi tidak lagi berharap untuk bertemu..

Rasa begini sudah cukup menua.. kerna merindui itu sangat melelahkan. Saat waktu akan merubah kita masing-masing. Dan nanti, untuk bertanya “gimana kabarmu?” juga sudah kedengaran agak canggung. Paling-paling “baik” dan diam lagi…Aku tahu, kita akan berpisah juga pada akhirnya..namun tidak secepat ini.. sungguh tidak secepat ini. Tidak bisakah perpisahan itu ditangguhkan dulu? Tidak bisakah kita menghidupkan lebih banyak waktu..   Aku sudah cukup lelah untuk merindui Fit.. Kak Anhy.. Iyan.. Ochy dan sekarang kamu lagi..

Seorang pernah berkata “jangan pernah putus untuk berharap. Jangan pernah berkata selamat tinggal tapi berkatalah semoga bertemu lagi..”
Selalu ada harapan untuk sebuah pertemuan..

Sabtu, 14 April 2012

FOBIA

0


Treet.. bunyi telefon genggam putih model Samsung B3410 berdering. Mai sedang menunggu Prof.Akil SpD untuk visite pagi di lobi RS Ibnu Sina. Sudah 3 hari dia menjalani tugas luar Negeri di rumah sakit perifer ini sebagai salah satu dari program belajarnya di bagian interna. Langit agak mendung namun renik hujan belum menampakkan diri untuk turun. Mai menekan butang hijau untuk menjawab panggilan.

“Mai, temanmu kecelakaan!! Dimanako? Di Wahidinji toh? Cepatko ke UGD. Parahmi itu temanmu..” suara cemas Fadhliah diseberang telefon menghantarkan impulse-impulse kekhawatiran juga dihati Mai.
“Temanku, siapa Fad? Bicara yang jelas donk!” Mai gagal mengawal rasa khawatir dan penasaran yang menghujani fikirannya. Teman yang mana? Teman kuliah? Teman komuniti? Teman KKN? Teman liqo’? aduh pusing kepalanya menyenaraikan semua orang yang dikenali dalam satu list panjang yang berjuntai.
“Teman KKNmu, Abhe!”
“HUH?? Kamu pasti?” Mai berpinar. Serta merta rembesan adrenalin berhembur dipembuluh darahnya hasil interpretasi otak tentang kabar yang baru diterima. Masih mengharap agar kabar itu salah dengar atau salah cam orang.
“Iya aku pasti banget! Aku liat orangnya kok! Dia kecelakaan di perbatasan Maros-Pangkep. Kondisinya parah Mai. Fraktur basis cranii (patah tulang dasar otak yang biasanya menandakan kondisi medis yang jelek dan harapan terselamatkan yang sangat tipis) massif bleeding di rongga abdomen. Sebentar mau disorong ke OK Cito(operasi emergensi). Cepat moko ke sini!!” jelas Fadhilah panjang lebar sekaligus mendesak.

Kelu. Mai tahu kalau Fadhilah tidak mungkin salah lihat kerna Fadhilah kenal sama yang namanya Andi Abadi. Dia pernah ketemu lansung sama orangnya. Kenal dari sebelumnya. Ya Allah.. Hubungan Mai sama Abhe tidak begitu baik akhir-akhir ini. Sejak beberapa bulan terakhir saling tidak berhubung. Kenapa harus seperti ini untuk kedua kalinya. Mai masih belum mahu percaya penuh. Dia lansung mengirim sms kepada Abhe dan menyuruhnya untuk segera membalas andai sms itu diterima.

2menit berlalu. …4menit…. Tidak ada balasan.. mata Mai mulai berkaca-kaca… menguatkan tangan yang semakin kuat gementaran.. nomor ponsel Abhe ditelpon sambil kaki juga mulai melangkah menuju ke tempat parkiran motor. Tut…Tut…Tut… tidak diangkat. Alias menguatkan prediksi bahawa yang terlibat kecelakaan itu benar-benar adalah Abhe. Empangan airmata tidak mampu lagi ditampung. Ia jatuh berderai bersama titisan-titisan hujan yang mulai berjatuhan dari mendungnya langit. Segera motor dihidupkan dan dia memacu laju. Mai tidak peduli. Dia harus pulang ke RSWS secepatnya. Bukan dia mengharap keajaiban dengan kehadirannya akan membuatkan Abhe kembali membuka mata dan kembali ke sediakala seperti di cerita fairy tale Snow White atau Beuty & The Beast. Ini kenyataan yang mana hukum alam masih berlaku. Hukum medis masih mengambil tempat dalam menyempurnakan sunnatullah..Mai hanya berharap dia sempat untuk melihat Abhe paling, untuk terakhir kali sebelum didorong ke kamar operasi.

Sepanjang perjalanan Mai tidak henti berdoa. Semoga Abhe akan baik-baik saja. Semoga Abhe selamat. Semoga…semoga..hanya pada Tuhan Yang Esa pengharapan itu Mai gantung tinggi.

Terbayang kisah gurunya yang meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas 13 tahun lalu. Sewaktu itu Mai masih terlalu kecil untuk mengerti tentang kehilangan. Guru malang yang paling akrab dengannya sewaktu zaman kanak-kanaknya itu baru saja menelpon dirinya sehari sebelum kecelakaan. Dan dia adalah orang pertama yang ditelpon ulang oleh pihak polisi untuk mengkhabarkan bahawa gurunya meninggal dunia ditempat kejadian. Kerna menurut polisi, nomornya adalah yang terakhir yang dihubungi oleh almarhum. Mai pinar waktu itu. Tidak bisa mempercayai namun tetap dia menelefon keluarga gurunya untuk mengkabarkan. Sejak itu Mai trauma dengan yang namanya “sepeda motor”.

Pertama kalinya Mai menaiki motor sewaktu di tempat KKN. Kerna di perkampungan pedalaman itu, kenderaan yang bisa digunakan satu-satunya adalah sepeda motor. Dan Abhe adalah orang pertama yang memboncengnya. Abhe orang yang memberinya ‘bakhkat (semangat)’ untuk mengatasi fobianya pada motor. Ya sesederhana itu. Sampai-sampai dia sekarang berani untuk mengenderai sendiri yang namanya “sepeda motor” mengelilingi kota Makassar. Hal yang paling mustahil untuk dilakukan sepanjang 13 tahun sebelumnya. Namun kejadian yang menimpa Abhe hari ini sepertinya mencabut kembali semangat yang telah diberikannya sewaktu dulu.

Mario Teguh pernah berkata, kalau doa itu akan termakbul saat ada 40 orang yang mengaminkannya. 40 amin terlalu banyak dan panjang waktu yang diperlukan untuk dikumpul. Namun jika terpaksa Mai akan berusaha. Tapi Langit pula pernah berkata, doa itu akan dikabulkan saat pemohonnya meminta dengan penuh ikhlas. Penuh harap. Penuh butuh. Mai berdoa. Namun hatinya masih juga belum mahu untuk percaya. Entah itu instinct atau memang dia yang keras kepala. Abhe, cukuplah kau membuat aku takut. Ini tidak lucu. Sungguh ini tidak lucu. Semoga ini hanya mimpi ngeri. Abhe tolong balas smsku.. hanya untuk kali ini..aku mengerti kalau memang kamu tidak mahu membalas tapi ini penting… tolong..
Masih berharap..

Tiba di UGD RSWS. Fadhilah menerpa kearah Mai. “Untung masih sempat kamu sampai Mai.. sementara didorong pasiennya ke kamar operasi” Map hijau (status pasien) beralih tangan. Abadi…mahasiswa…Pangkep. Aduh hancur lagi hati Mai melihatnya. Kelibat Abhe yang terdampar diatas katil pasien dengan berdarah-darah dan lemas melintasi pandangan Mai. Mai memejamkan mata. Tidak sanggup. Tuhan aku tidak kuat. Sumpah!! Mai merasakan dunianya gelap. Ion-ion kalsium serasanya terblokir dari memasuki sel-sel ototnya hingga menyebabkan tubuhnya lemah tidak tertampung. Tiba-tiba…

“Preet..preet” sms masuk.
Bagai hiperrefleks, tangan menyeluk ke saku dan mengambil ponsel. Gesa-gesa membuka pesan “aku ada dikamar. Memangnya kenapakah?!” sms dari Abhe. Dingin.

HUH? Menyeka airmata. Gusar andai pandangan matanya tidak tajam gara-gara airmata yang bertumpuk. Benar-benar smsnya Abhe. Alhamdulillah.. Alhamdulillah. Hanya itu yang terdetik dihatinya. Antara percaya dengan tidak, Mai tahu kalau orang yang terdampar tadi bukan Abhe. Kadang apa yang kita lihat apa yang kita dengar tidak semestinya benar. Mai yakin itu. Keajaiban. Mahu rasanya dia melonjak kegirangan, atau teriak seperti orang gila yang hilang siumannya. Atau apa saja yang tidak mungkin. Sedetik baru pikirannya bisa mulus lagi. Biar smsnya Abhe masih tampak dingin, tak mengapa. Sms itu cukup membahagiakannya.

Aduh, buang airmata saja menangis. seperti barang murah yang tidak ada nilainya dibuang-buang seperti itu.. malu sendiri. Andai saja Abhe tahu kondisinya saat ini, pasti dia diketawai mati-mati. Cis!! Andai dia bisa menebus dari Abhe harga untuk tiap tetes air matanya, pasti sampai tua Abhe akan berhutang darinya. Itu juga jika dia meletakkan harga Rp2500 untuk satu tetes. Wah berapami itu? Haha..Mai melihat ulang map hijau tadi, diperhatikan baik-baik.. isk, orang lain. Abadi Hikmat Sari,19 tahun, mahasiswa Teknis Unhas.. Cuma kecelakaannya yang dipangkep bukan asli orangnya.. adoila..malu sendiri.. haha.. tadi tidak membaca dengan baik. Emosi duluan. Mungkin kerna fobianya membuat dia terhanyut dalam ketakutannya sendiri untuk melihat hakikat dari kaca mata yang lebih jelas. Ampun..konyol sekali..

Jumaat, 10 Februari 2012

INI CERITAKU.. CERITAMU?

2


Aku ingin menceritakan sebuah kisah padamu.. Mahukah kamu mendengarkannya?

Kisah tentang penolakan dan hari-hari yang penuh dengan ketidakrelaan. Kisah tentang pemberontakan jiwa, penyesuaian hati..kisah tentang Kuliyah Kerja Nyata (KKN). Kenapa aku menceritakannya kepadamu, adikku? Kerana kau juga sedang mengalami proses ini. sama seperti diriku suatu ketika dulu. Jadi aku ingin berbagi denganmu pengalamanku dan pengalaman orang lain..kata orang belajarlah dari pengalamanmu dan pengalaman orang lain, sungguh, ia akan mendewasakanmu.. Semoga ia bermanfaat buatmu..

Angin bertiup sepoi-sepoi bahasa. Mai membiarkan hujung jilbabnya liuk lentok terbuai mengikut rentak sang angin. Telefon genggam putih model Samsung B3410 itu diletakkan ke atas pangkuannya. Barusan dia mengirim pesan buat teman baiknya Angqy mengatakan kalau dia sudah ada di tempat. Iya hari ini hari minggu. Hari libur buat semua pekerja umum pemerintah. Meski dia dan temannya Angqy bukanlah bagian dari pekerja pemerintah, mereka tetap sahaja tertakluk kepada jadual rumah sakit (hospital) tempat mereka menjalankan praktikal (tugas profesi). Untung hari ini dia tidak punya jadual jaga (oncall) dan Angqy juga tidak masuk dinas. Lama benar mereka tidak bertemu sejak masing-masing sibuk dengan praktikal. Dan hari ini, baru mereka bisa meluangkan waktu bersama. Sebenarnya, sebentar siang, mereka akan berkumpul reuni Kuliah Kerja Nyata (KKN-PK) posko Tompobulu. Namun sengaja Mai datang awal. Janjian sama Angqy supaya dapat melepaskan rindu dendam dengan lebih awal.

Sambil menunggu Angqy, Mai duduk di atas batu besar sambil melepaskan pandangannya ke laut luas. Menekan telapak kaki ke pepasir putih yang setia menunggu pantai. Mengenang kembali waktu-waktu awal KKN. Fikirannya merentas waktu.. setahun yang lalu…
_______________xxx________________________________xxx________________________________

1 Julai 2010. Hari pertama pembekalan untuk peserta Kuliah Kerja Nyata Profesi (KKN-PK) Unhas Angkatan 35. Peserta berasak-asak di Baruga Pettarani. Bayangkan saja peserta dari pelbagai bidang kesehatan yang jumlahnya lebih dua ribuan harus bergabung dalam 1 program besar, program wajib kampus sebagai tiket sarjana. Program ini menghendaki para peserta mengabdi kepada masyarakat sebagai bentuk aplikasi dari ilmu teori yang telah diperoleh sepanjang 3-4 tahun perkuliah. Pembekalan ini bertujuan memberikan para peserta gambaran awal dan bentuk-bentuk program kerja yang bisa mereka lakukan sepanjang di posko (pos koordinasi) KKN nanti.

Mai mengerling jam tangannya buat kali ke sepuluh dalam 1 jam ini. 10 menit menuju jam 11. Huh, masih ada 1 jam lebih untuk dia terpaku dikerusi sial itu. Mata dipusatkan kearah pembicara namun fikirannya telah menerewang jauh mengangkasa. Tidak ada sama sekali hatinya untuk menyertai program wajib ini. Kerna ia memberi arti bahawa Mai akan terpisah dari teman-teman baiknya. Terpisah dari rutinitasnya. Terpisah dari budaya kesehariannya. Mai benci itu. Mai benci harus berada di pendesaan dengan kelompok orang yang tidak dikenalinya sama sekali selama dua bulan. Meski dari rumpun yang sama tetap dari kelompok yang berbeda. Jauh dari kemudahan dan fasilitas kota yang menjanjikan semuanya.. Ah, benci!!

Soksek.. soksek..

Bunyi berisik dari samping kanannya. Bunyi mengganggu. Mai melirik ke samping. Teman-teman KKN nya sibuk bercerita sesama sendiri sambil ketawa. Dibelakangnya dibarisan mahasiswa laki-laki teman KKN poskonya ,kelihatan ada yang sibuk bermain rubik dan yang lain sibuk menyelesaikan soduku. Tidak ada satupun yang kelihatan tekun mencatat atau mendengarkan perkataan pembicara. Aduh, gawat.. kenapa begitu semua model teman KKN nya? Tidak ada yang kelihatan serius dan “muka buku” seperti yang diharapkan. Same type dengan dirinya. Mai tambah sebal. Segera dia kembali memfokus pandangan ke hadapan. Berusaha menghadam hal-hal yang dinyatakan oleh pembicara..

“Mai..” suatu suara menyapa dari samping sambil gulungan kertas kecil berganti tangan.

Sebentar sore, selesai pembekalan, kita kumpul yah.. Rapat untuk barang yang perlu kita bawa ke posko ..dibawah tangga Baruga.. Semangat anak Tompobulu!!
–Kordes-



Oh, please for a God sake!! Save me!!

Hati Mai berteriak. Dia paling trauma dengan yang namanya “RAPAT” yang dikoordinasikan oleh panitia Indonesia.. sumpah!! Pasti lama dan biasanya tidak penting amat. Cukuplah pengalaman ngerinya menyertai rapat-rapat menyebalkan sewaktu ditahun pertama gara-gara keberuntungannya terpilih sebagai panitia Baksos Kader (Bakti sosial yang dianjur oleh mahasiswa baru sebagai sumbangan pertama diterima menjadi anggota keluarga mahasiswa). Selesai pembekalan Mai lansung pulang. tidak dipedulikan apa kata Kordesnya kerna tidak mengikuti rapat. Ada yang lebih penting harus dia urus. Lagipula dia merasa tidak benar-benar bisa berbaur dengan teman KKN nya mungkin kerna bahasa dan budaya yang meski serumpun tapi tetap tidak sama. Kordesnya tidak berkata apa-apa. Teman-teman poskonya yang lain juga. Mungkin tidak sanggup memarahinya atas kebiadaban tersebut. Mungkin hanya kesal atau mungkin mereka bahkan tidak menganggapnya sama sekali. Dia tidak peduli.

Hari Pelepasan atau hari keberangkatan ke tempat KKN tiba. Mungkin Mai mencatatkan hari itu sebagai hari paling sebal dalam hidupnya. Dia tidak berangkat bersama teman-teman KKN nya yang lain dengan menaiki bis disebabkan dia mengikuti rencana temannya yang dari satu jurusan, Eka untuk pergi dengan menaiki mobil rental. Lebih nyaman katanya. Mai ikut-ikut saja. Tambahan itu satu-satunya teman yang dia punya saat ini. mungkin teman KKN yang lain akan bilang “belagu banget mereka.. anak FK (fakultas kedokteran) tidak mau berbaur sama yang lain!!” atau paling mereka akan bilang “emangnya beda amat yah, ada apa dengan anak FK!!?” biarkan mereka berbicara sepuasnya. Mai tidak mau terlalu menonjolkan diri.. Cukup dia nikmati konfrontasi yang dia ciptakan.

Hari-hari pertama Mai diposko Tompobulu, Kecamatan Rumbia, Kebupaten Jeneponto,benar-benar merupakan hari yang paling payah.. Sepi dalam keriuhan, sendiri dalam keramaian. Tidak ada lagi suara-teman-teman akrab yang mengingatkan dia pada Tuhan, tidak ada juga suara senior yang membisikkan kekuatan. Tidak ada lagi teman curhat (curahan hati) yang bisa diajak cerita.Semua sepi. Tertimbun dek dinginnya hembusan embun pagi yang menutupi kaki pergunungan Tompobulu.

Mai buntu. Banyak hal yang diluar jangkaannya. Banyak hal yang tidak bisa diterima pikiran warasnya. Sukar diterima akalnya saat melihat teman yang diluar posko berjilbab, hanya mengenakan celana pendek didalam rumah sedang didalam tetap ada laki-laki yang bukan mahramnya. Susah percaya saat melihat teman-teman bermain kartu taruhan dan berkelakuan seakan kita bersaudara kandung dengan wajah tanpa dosa. Sulit menerima saat harus makan bersama dalam bulatan besar dan menghadap satu sama lain antara laki-laki dan perempuan, jadual mencuci piring, memasak mahupun membersihkan rumah digabung antara laki-laki dan perempuan diperberat saat teman laki-lakinya yang mengajarkannya cara cuci piring klasik dengan menggunakan beberapa baskom (besin) seperti terakhir kali dia mencuci piring dirumah neneknya belasan tahun lampau. Apalagi saat menjemur pakaian dan besoknya melihat kalau disamping pakaiannya ada kemeja laki-laki yang tergantung disana. Atau lebih parahnya teman laki-laki bahkan yang mengangkat jemurannya. Atau mendapati teman laki-laki berada didekatnya, khusyu’ menonton atau bermain game sebaik membuka mata dari tidur siang dikamar. Tambah jengkel saat dia tidak leluasa keluar kamar waktu malam kerana teman laki-laki tidur diruang tamu sedang dia penghidap insomnia kronik. Yang mampu dia lakukan adalah membuka mata dikegelapan kamarnya dan menghadap dinding sambil mendengarkan iPodnya.

Mai tidak suka situasi-situasi itu. Namun dia lemah tanpa daya. Tidak ada sama sekali yang bisa dia lakukan melainkan melakukan pelarian diri dengan lebih banyak bergaul dengan anak-anak kecil dikampung itu. “teman kecilku” itu gelaran yang Mai berikan. Dia lebih rela berjalan mengelilingi kampong bersama mereka diwaktu sore ketimbang berada dalam posko. dia lebih rela kakinya tercalar dek duri-duri belukar dan batu-batu kasar sewaktu memanjat gunung bersama teman kecilnya. Atau bajunya basah kerna meredah sungai atau juga kotor terpalit lumpur sawah. Dia tidak peduli. Yang penting dia jauh dari suasana posko yang melemaskan.

Diposko Mai adalah yang paling malas bicara. Sedikit ditanya, sedikit juga jawabannya. Malah banyak yang ditanya,sedikit juga jawabannya. Apatah lagi jika ada masalahnya atau ada kerunsingannya.. tambah tidak terdengar suara Mai diposko. Bahkan hingga beberapa hari. Tiada mood. Itu saja alasannya. Alasan klasik yang tidak bisa diterima akal.

Hingga suatu hari, Mai dilanda kesedihan yang amat. Masalah keluarga. Masalah yang memang tidak mampu atmanya menanggung beban tersebut. Seperti kebiasaannya, dia tetap diam. Masih tidak mahu menceritakannya kepada orang asing. Itu fikirannya. Cuma airmata yang tidak mampu dibendung dari luluh menyembah bumi. Melewati batas empangan. Dan dia tidak bisa menyembunyikannya. Teman-teman poskonya gawat. Semua teman yang cewek membujuknya supaya mahu sharing/curhat. Namun Mai tetap enggan. Tetap bersikeras dengan pendiriannya. Hingga teman-temannya ikut menangis meski tidak tahu asbab kegalauan hatinya. Teman laki-laki juga tidak tinggal diam. Mundar mandir dibalik pintu kamar. Seakan tindakan mereka itu bakalan meredakan atau mengurangkan beban Mai. Kegusaran menghiasi wajah masing-masing. Tidak ada lagi kedengaran gurau senda atau tawa ceria diposko Tompobulu tersebut. Disusuli dengan penjagaan mereka terhadap Mai yang demam besoknya entah gara-gara terlalu banyak menangis atau memang kerna perubahan cuaca yang mendadak.

Kesungguhan teman-teman posko Mai menjaga dan menghiburnya sepanjang masa sakit dan masa galaunya benar-benar memberi kesan mendalam pada Mai. Baik teman yang perempuan mahupun teman yang laki-laki. Baru dia sadari jika selama ini, dia yang menciptakan tembok tinggi antara dirinya dengan teman-temannya itu. Dia yang tidak mengizinkan hatinya dari mengenali insan-insan berhati mulia tersebut. Mai baru tahu, jika dia berarti sesuatu bagi mereka semua. Dia adalah bagian dari keluarga kecil ini. Terharu saat sebuah sms masuk ke kotak inboxnya, dari salah satu temannya “Milikilah sebuah hati yang tak pernah membenci..Senyuman yang tak pernah pudar..Sebuah sentuhan yang tak pernah menyakiti..dan sebuah persahabatan yang tak pernah berakhir..cepat sembuh”.. air matanya menetes.

Baru Mai sedari adanya Kak Dwi yang perhatiannya selangit ibu tapi lucunya seperti anak SMA, Si Asmiranda yang manja dan sok artis terkenal tanah air, ada Felli yang suka pulang-pulang tapi selalu menghibur dengan ole-olenya, ada Sabrina yang matang dan pintar masak, ada Angqy yang meski suaranya tidak bisa kurang dari volume 10 tapi tetap selalu menceriakan keadaan, ada Wandy yang selalu disiplin masalah kerja, tegas terpercaya tapi enak diajak cerita, ada Amalia yang gifo (gila foto) plus narsis abis, kecuali saat menghadap mi bakso, tiada lagi kisah lain saat itu kecuali baksonya. Ada Rosita yang kalem dan tumpuan utama orang curhat, ada juga bendahara Si Eka yang senantiasa berkira-kira dengan uang yang dikeluarkan tapi selalu menjaga kebajikan anggotanya. Ada Abhe yang tenang, dewasa, penyelesai masalah namun usilnya minta ampun. Ada Kordes berwibawa, Udin yang sabar memimpin rapat meski anak-anak semua pada tidur. Ada Bernard yang lebih penyayang dan lembut terhadap binatang hingga kucing-kucing diposko lebih bondeng (gemuk) dari anggota poskonya. Ada Wirawan yang ringan tulang dan senang membantu terutama pekerjaan kasar hingga semua teman posko tertanya-tanya “keagnya kamu tuh salah masuk jurusan deh!!”.. Tuhan, terima kasih kerana memberikan aku kesempatan ini. Tuhan, terima kasih kerana akhirnya membuka ruang hatiku.

Dari peristiwa yang sederhana itu Mai belajar untuk menerima temannya apa adanya. Baik jelek. Kelebihan dan kekurangan. Mengenali mereka sedalamnya. Mai baru tahu apa artinya kebersamaan. Kekompakan. Kepercayaan. Mai sudah jatuh cinta. Cinta pada teman-temannya yang dia butuh perang fikiran dan perang dalaman jiwanya hampir sebulan untuk rela dengan segalanya. Dari komunikasi, mereka saling melengkapi. Meski dari latar belakang yang cukup beda, pendidikan yang lain pula, mereka saling menyempurnakan. Kunci keberhasilan itu letaknya pada keterbukaan kita untuk menerima orang lain. mendengarkan sebelum menghakimi. Beranggap baik sebelum menjeleki orang lain. Dua bulan itu rupanya tidak lama. Dua bulan itu tidak cukup untuk dia menyatakan betapa dia bersyukur dan berterima kasih pada mereka semua. Ya..dua bulan itu ternyata sebentar sekali!!

Saat mereka baru mulai membaur dalam kebersamaan, perpisahan itu akhirnya mengetuk. Menyentakkan mereka dari lamunan panjang. Namun bagi Mai, kebersamaan mereka di Jeneponto selama 2 bulan dengan pelbagai kisah suka duka, pahit getir yang mereka tempuh bersama bukanlah inti kepada persahabatan melainkan awal kepada perkenalan dan permulaan kepada perjalanan persahabatan itu sendiri. dalam perjalanan ini akan memerlukan lebih banyak toleransi dan saling memahami. Chinguya.. Saranghyeyo!!

___________xx________________________________xx_____________________________________

“Mai”.. jerit Angqy sambil merangkul tubuh Mai dari belakang. Rindu benar dia pada sosok itu.

Serentak, memori KKN nya tertutup dan Mai berpaling, membalas pelukan Angqy dan menjerit namanya. Secara tidak sedar airmatanya tumpah lagi. Air mata bahagia akan pertemuan yang hadir. Orang kata, setelah KKN banyak orang yang akan berubah. Mai akui. Dia salah satunya. Manusia memang akan berubah dan terus berubah. KKN mungkin hanya indikatornya. Berubah dengan belajar lebih banyak tidak masalah sama sekali bagi Mai. Dia senang malah. Bisa menghabiskan hujung minggunya dengan bermalam bersama Asmiranda, atau berlibur dikampungnya, melancong ‘backpacking’ bersama Felli, Amalia, Rosita dan Sabrina, jalan ke Pantai dengan Angqy, berbalas komentar di facebook dengan Abhe dan Udin, menonton bola dengan Wirawan bahkan memasuki bagian/department yang sama dengan Eka atau Bernard. Semua itu membahagiakan. Meski waktunya Cuma tinggal sedikit untuk terus bersama mereka, dia tetap mahu menghargai detik-detik kebersamaan itu…


~cerita ini hanya fiksi.. tidak sepenuhnya benar~

THE END

Rabu, 28 Disember 2011

GRADUATION !!

0



Faizal Tahir - Gemuruh

Bila bertalu rentak di kalbu
Hasrat yang tersirat semakin ku buru
Bila bergema laungan gempita
Harapan bernyala nadiku berganda

Gemuruh jiwa semangat membara
Dari puncak ingin ke angkasa
Berkalungkan bintang berkelipan
Menyerlah jauh dari yang biasa

Bila bertalu rentak di kalbu
Hasrat yang tersirat semakin ku buru
Bila bergema laungan gempita
Harapan bernyala nadiku berganda

Gemuruh jiwa semangat membara
Dari puncak ingin ke angkasa
Berkalungkan bintang berkelipan
Menyerlah jauh dari yang biasa

Ungkapan ini bukan sekadar bermimpi
Segalanya pastikan terbukti nanti

Gemuruh jiwa semangat membara
Dari puncak ingin ke angkasa
Berkalungkan bintang berkelipan
Menyerlah jauh dari yang biasa

~traktiran wisuda (graduasi) sekaligus acara perpisahan Fitrah~

Isnin, 26 September 2011

MERIT KAK ANHY

0


Event pertama dikalangan anak-anak KKN ku menghadiri majlis pernikahan kakak kesayangan kami semua, Kak Anhy.. meski undangannya agak mendadak, namun Alhamdulillah berjaya mengintai kesempatan dalam kesempitan waktu untuk turut hadir. Kak Anhy katanya akan berpindah ke Kalimantan mengikuti suaminya yang bekerja di sana beberapa hari setelah majlis pernikahannya nanti.. aduh, makin susah dan sempit peluang untuk bertemu dengan kakak yang heboh dan riang itu.. kesedihan melanda sejenak meski kebahagiaan lebih dominan.. andai waktu dapat dibekukan… namun itulah adat kehidupan.. setiap pertemuan akan beriring dengannya perpisahan. Tidak tahu bila peluang untuk sama berkumpul akan kembali menjengah.

Setelah hampir lebih setahun terpisah setelah pulang dari KKN dulu, pertama kalinya pertemuan ini hampir lengkap dihadiri. Walau masih kurang Amel dan Wawan yang terpaksa bertugas di hari bersejarah Kak Anhy ini, namun kehadiran teman-teman yang lain amat bermakna. Menyulam kembali jalinan yang kian terurai dimakan dek sesaknya waktu. Ada Uul dan Ayong yang menyempatkan waktu walau masing-masing sibuk dengan cari penderita dan urusan koasnya, ada Ochy yang masih ceria seperti selalu, Rahma yang tetap semangat biar flu dan demam menjerat diri, Winda, sang bintang Polaris yang menceriakan keadaan. Iyan yang kalem (tenang)dan sedang mengikuti pelatihan dosen (lecturer),Kiki, pramugari yang lincah dan heboh. Adit yang masih bergelut dengan ujian dibagian akhir tingkat 4, Fitrah yang masih ceria seperti selalu meski kesibukan skripsi dan asistensi yang menggunung, Irfan yang baru-baru baik dari sakit.. wah seperti lama sekali tidak bertemu..

Jumaat, 23 September 2011

TRAKTIRAN WINDA

0


And so we talked all night about the rest of our lives,
Where we're gonna be when we turn twenty-five
I keep thinking times will never change
Keep on thinking things will always be the same.
But when we leave this year we won't be coming back
No more hanging out because we’re on a different track
And if you got something that you need to say
You better say it right now because you don't have another day

Because we're moving on and we can't slow down
These memories are playing like a film without sound
And I keep thinking of that night in July
I didn't know much of love but it came too soon
Stay at home talking on the telephone, with me
We'd get so excited and we'd get so scared
Laughing at ourselves thinking life's not fair

And this is how it feels.

As we go on,
We remember,
All the times we,
Had together,
And as our lives change,
Come whatever,
We will still be
Friends Forever.

So if we get the big jobs and we make the big money
When we look back now will our jokes still be funny?
Will we still remember everything we learned in school,
Still be trying to break every single rule?
Will little brainy Bobby be the stockbroker man?
Can Heather find a job that won't interfere with her tan?
I keep, keep thinking that it's not goodbye
Keep on thinking it's our time to fly

And this is how it feels

Will we think about tomorrow like we think about now?
Can we survive it out there?
Can we make it somehow? (somehow)
I guess I thought that this would never end
And suddenly it's like we're women and men
Will the past be a shadow that will follow us 'round
Or will these memories fade when I leave this town?
I keep, keep thinking that it's not goodbye
Keep on thinking it's our time to fly


* Credited to Winda, Iyan, Ochy & Rahma.. congratulation for the graduation.. Win, thanks for the “traktiran” hihi.. eventhough feeling a bit unhealthy, but it’s always really exciting hanging out with you.. thanks for a cozy day..
* The best coconut shake I’ve tasted because having you around and the unforgettable shoot from Canon camera that worth our while.. great moment together ^_^

Khamis, 8 September 2011

TOLBAR CREW GRADUATION

0


Iyan Wahdaniyah, S.KM
Hatwinda Dwinas Azanny Hatta, S.KM
Nurrahmah, S.Kep
Penni Rosita Sina, S.KM

Wisuda keluarga tolbarku.. Rahma dalam bidang keperawatan, Winda dalam bidang promosi kesehatan, Iyan dalam bidang Kesehatan Lingkungan, dan Ochy dalam bidang kesehatan kerja. Setelah bersusah payah menempuh dunia perkuliahan yang penuh dengan pancaroba yang tersendiri, akhirnya mereka berjaya mengakhirinya dan bersedia untuk menempuh kehidupan sebagai seorang dewasa yang berdiri di atas kaki sendiri dan bertanggungjawab penuh dengan pilihan yang akan mereka buat setelah ini.

Berbeda dengan Winda, Iyan dan Ochy, Rahma akan menempuh alam praktek profesi sepertimana diri yang setelah kita dilengkapi dengan ilmu teori sepanjang 3 tahun masa perkuliahan yang diberikan, harus pula ilmu tersebut diterapkan dan dimantapkan dengan dunia praktek yang sebenar yang membolehkan kita menyatakan ilmu dalam bentuk yang lebih akurat. Yang jelas, kesibukan Rahma pasti sebanding dengan diri setelah hari ini. bagian pertama yang bakal ditempuh oleh beliau adalah bagian anak (department pediatric) yang mana memang super sibuk luar biasa. Rahma yang sebelumnya selalu punya waktu luang untuk bersama pasti akan memerlukan pengertian saat tidak bisa untuk melakukan banyak hal saat diundang. Itulah.. persahabatan butuh pengertian..

Winda yang mengharap untuk keluar dari ruang lingkup dimensi tertutup ini pasti akan pergi jauh saat kesempatan datang mengundang. Gadis manis itu walau luaran tampak manja namun dalamannya cukup tegar dan tabah. Mengharapkan untuk menguji kemampuan sendiri diluar pengaruh kuat keluarga. Mengharap untuk menyinar dari petualangan yang mendewasakan.

Mengimpikan hidup berkelana di tanah orang dan membina identity yang lebih kukuh. Potensi yang dimiliki juga luar biasa laksana sang helang rajawali yang hanya menanti masa untuk mengepakkan sayapnya dan terbang tinggi merentas angkasa raya. Winda, langit adalah arenamu.. terbanglah setinggi yang kau mampu.. Jika hari kemarin, selalu ada Winda yang menemani cerita, pulang liburan ke rumah keluarganya yang baik sekali dan bermalam di rumahnya saat-saat stress melanda perbatasan akal dan hati.. setelah ini, pasti banyak kesibukan yang harus diurusi.. tapi itulah..persahabatan butuh pengertian..

Iyan dan Ochy yang bukan asli dari Makassar (Iyan dari Buton, di Sulawesi Tenggara dan Ochy dari Tana Toraja) pasti pulang ke kampong masing-masing untuk menabur bakti pada tanah kelahiran. Iya.. hal yang tidak dapat disangkal. Dalam arti kata yang lain, pasti kekangan masa dan tugas akan menghalang mereka dari sering ke sini. Dan tanpa kepentingan yang lainnya. Diri yang hanya tersisa setahun lebih di Tanah Makassar ini pasti akan lebih tipis peluang untuk bertemu kembali dengan mereka. Pasti akan merasa rindu untuk menatap wajah-wajah mereka. Walau perkenalan ini singkat, namun masing-masing punya kesan tersendiri di hati ini.. Iyan yang sering mengajarkan bahasa Makassar dan memperkenalkan banyak hal yang baru.. Ochy, si pendengar yang setia dan sangat dewasa saat memberikan pendapat. Walau beda agama tetap banyak menunjukkan contoh teladan yang bisa diikuti.. setelah ini, pasti mereka juga akan sibuk untuk beradaptasi dalam dunia pekerjaan yang lebih mencabar dan memerlukan kosentrasi yang tinggi.. tapi itulah… persahabatan butuh pengertian…

Tiba-tiba terasa ingin kembali ke Jeneponto.. setelah 1 tahun melewati “dimensi khayalan” dunia tidak nyata di Tolo’ Barat, terasa rindu pula pada sapaan burung-burung kecil, angin yang bertiup sepoi-sepoi bahasa membiarkan ilalang menari dengan lenggok bahasa tersendiri, dipadu dengan gesekan jerami padi yang menghijau di ranah bidang gambut yang subur dan gemersik aliran air sungai jernih yang memercikkan mutiara segar untuk kehidupan.. Dalam keindahan itu, “cerita persahabatan” kami terjalin.. persahabatan yang tidak diminta untuk sebarang imbalan. Persahabatan yang tidak tercipta atas dasar kepentingan. Jadi rindu pada saat itu. Walau persetujuannya, 10 tahun kemudian mahu menjejak lagi ke sana. Namun tiada siapa yang bisa menjamin kalau 10 tahun lagi itu pasti kan tiba. Tiada siapa yang bisa menjamin kalau 10 tahun mendatang tetap kan sama. Maka hargailah detik-detik yang ada. Diri hanya ingin menjejak kembali tempat kita bermula. Biar kita bisa bersama menghidupkan kembali sang waktu..

tetap.. merasa sangat bangga terhadap kalian.. semoga ilmu yang kalian dapatkan sepanjang menjadi anak didik Unhas akan digunakan untuk membantu masyarakat dan bermanfaat buat diri kalian dan orang lain.. selamat atas sarjananya..^_^

Jumaat, 8 Julai 2011

KAPURUNG & KELUARGA TOLBAR

0


Hari yang benar-benar sibuk. Dari pagi bertugas di RS (hospital) tentera (Wirabuana) Pelamonia. Pasien dermatology datang tidak henti-henti dari jam 6.30 pagi hingga jam 1.30 siang. Kurang lebih jumlah keseluruhan (total) pesakit poliklinik pada pagi itu 25 orang. Selain itu masih ada beberapa pasien (pesakit) yang konsul dari bangsal (pesakit rujukan dari department) lain. Tidak sempat duduk dibuatnya kami pagi ini. Lanjut diskusi (case discussion) dan bedside teaching oleh dokter residen pada jam 2 hingga 4 tapi di RS utama(hospital) Wahidin yang terletak kira-kira 45 minit perjalanan dari RS yang pertama. Benar-benar melelahkan.

Hari ini juga ada undangan syukuran dirumahnya teman KKN ku yang telah tamat sarjana beberapa hari yang lalu. Kak Anie. Walau awalnya agak keberatan untuk menghadirkan diri memandangkan tanggungjawab yang menumpuk harus dituntaskan, namun akhirnya tetap memutuskan untuk pergi setelah beberapa sms dari teman-teman yang sangat setia mengundang sejak dari pagi. Tidak sampai hati mencari alasan untuk tidak pergi tambahan acara hari ini memang sengaja dirancang oleh Kak Anie buat teman-teman KKN.

Jam 4.00 berangkat dari RS (hospital) beriringan dengan teman setia Amel ke rumahnya Kak Anie yang lumayan jauhnya. Hati masih berat memikirkan bebanan tugas. Sampai dirumahnya Kak Anie, sudah ramai yang tiba. “kepala artis”(gelar buat si comel yang selalu heboh) Winda, Iyan, Irfan, Fitrah, Wawan dan Adit. Seperti biasa, walau masih kurang lengkap, tetaplah heboh. Walau suasana agak “berlainan”, tetaplah ceria dengan senda gurau yang masuk akal dan tidak masuk akal.. kepenatan yang menjalar dalam urat saraf dari pagi, beransur pergi.. terobat dengan celoteh dan kemanjaan Winda yang sibuk bercerita tentang pengalamannya mengikuti casting filem di Jakarta, perencanaannya untuk umrah tanggal 27 yang akan datang dan banyak lagi. Iyan walau kalem (tenang) tetap tidak mahu ketinggalan meluah kata dan cerita yang lama terpendam di lubuk hati. Kak Anie yang lucu masih seperti dulu dengan ceria tawanya yang memenuhi ruang tamu. Ada lagi rfan yang masih belum penat mengganggu. Wawan dengan cerita naik tingkatnya (sudah masuk ke bagian Anesthesi) dan Adit yang masih mengimbau hari koas kemarin.

Dihidangkan Kapurung (makanan khas Palopo) yang dimasak dengan penuh kasih sayang oleh Kak Anie. Tiba-tiba rasa rindu pada mereka baru menjalar di hati. Terima kasih Ya Allah, akhirnya memberi diri ruang dan peluang untuk hadir. Banyak hal yang berlaku beberapa bulan terakhir terutama kesibukan keseharian sebagai koas (pelajar clinical) hingga diri agak-agak sebal dan malas untuk hadir di pertemuan KKN dan sengaja mahu melupakan (memadamkan kenangan lalu dalam-dalam). Walau begitu, tetaplah mereka telah menjadi bagian dari diri ini. Bagai keluarga yang biar apa yang berlaku, tetaplah ikatannya akan kukuh (semoga).

Semakin terharu saat membaca komentarnya Winda,”bahagia bertemu keluarga tolbarku” dan sifat back up dan suportif gadis itu untuk mempertahankan keceriaan dan Suasana kekeluargaan antara kami.. Benarlah, keakraban… tetap ada fase ujiannya. Tetaplah ada saat pasang surutnya. Tergantung bagaimana kita menanggapi dan menyikapi suatu permasalahan untuk mencari solusinya (penyelesaiannya). Semoga keluarga tolbarku, tetaplah akrab dan ceria.

Jumaat, 1 Julai 2011

TOLBAR ANNIVERSIRE

0


Di dasar relung jiwaku
Bergema nyanyian tanpa kata
Sebuah lagu yang bernafas dalam benih hatiku
Yang tiada dicairkan oleh tinta di atas lembar kulit
Ia meneguk rasa kasihku dalam jubah yang nipis kainnya
Dan mengalirkan saying
Airmataku menandai sendu
Bagai titik-titik embun syahdu
Yang membongkarkan rahsia mawar layu
Tentang kisah semalam antara kita semua
Lagu itu digubah oleh renungan
Dan dikumandangkan oleh kesunyian
Kemudian disingkiri oleh kebisingan
Dilipat oleh realita yang membentang
Dan diulang-ulang oleh mimpi indah dan bayangan
Kemudian difahami oleh kasih sayang
Disembunyikan oleh kesadaran siang
Didendangkan oleh sukma malam
Lagu itu, sungguh..adalah lagu kerinduan…


Jumaat, 1 July 2011
7.00 am

Selasa, 14 Disember 2010

DEMI SEPINGGAN BARO'BO

2


13.12.2010

1.00 pm (siang).Bergegas mencapai beg (tas) serta berlari-lari anak menuruni tangga. Hari ini ada undangan makan-makan di rumahnya teman KKN ku, Hatwin. Sebenarnya acara dimulai jam 11 pagi. Tapi berikutan ada hal penting yang harus diri uruskan, terpaksa menunda waktu untuk ke sana. Dalam kekalutan itu diri disapa oleh seseorang yang menanyakan arah tujuanku. “ke rumah teman KKN”.. jawab diri ringkas.

Mimik berubah. Rona terkejut(kaget) menerpa wajah sang pemilik suara yang ramah bertanya tadi. “What, jumpa balik teman-teman KKN? Shut!! bukan ke sudah hampir 4 bulan lebih KKN berakhir? Fuzah, awak (kamu) kalut begini untuk pergi pertemuan yang paling-paling nanti duduk tak sampai 30 minit then balik (sebentar sekali).. what for? Awak (kamu) tu tak berapa sihat.. sibuk lagi.. why don’t you just give an excuse (kasi saja alasan)? For me, what are you going to do is meaningless..crazy thing and un logic.. tak de effect pun kalau awak (kamu) tak pergi.. mereka takkan kesahpun..lagi pula, awak(kamu) dan mereka tu atas jalan yang berbeza..totally different track.. bukan boleh tolong your medical study pun..useless..takkan lah berkawan dengan orang tiada sebab yang kukuh..just sebab 2 bulan bersama.. insane la fuzah..” wah, ceramah free.. diri hanya tersenyum tipis lantas terus mencampakkan tubuh ke dalam Teksi Putra yang sejak tadi menanti..

Menyandarkan tubuh ke kerusi teksi. Suhu tubuh yang agak panas sebelumnya semakin mereda. Namun rasa tidak enak masih menjalar. Untung sakit tekak (sakit tenggorokan) dan batuk-batuk sudah hilang. Penat akibat kesibukan tadi coba-coba untuk memanjat. Ah, entah kenapa tiba-tiba pula kata-kata teman yang tadi seolah berputar dalam minda sedar. Terngiang-ngiang di telinga. Otak ligat berfikir.
1. Berkorban masa dan tenaga untuk suatu pertemuan yang singkat
2. Memberi alasan untuk tidak pergi
3. Teman-teman takkan kesah
4. Teman-teman dari fakultas berbeza (beda2)--> tidak bisa membantu medical studi
5. “Berteman tanpa sebab yang kukuh = insane + unlogic (sesuatu hal yang gila/ tidak masuk akal)”..

Analisis akhir yang di dapatkan adalah seperti itu. Speechless. Diri juga tidak tahu jawabannya. Hanya menurut kata hati untuk pergi…

Tiba di rumahnya Winda. Kelihatan dia sudah menanti di depan pintu dengan senyuman yang paling manis. Ada kerinduan di balik sinar mata yang bening itu. “ kenapa kelamaan di jalan kak?” persoalan pertama Winda menyapu pergi kelelahan dan stress yang menyelimuti diri akhir-akhir ini. Di dalam sudah ada Uul, K.ani, Iyan, Ochy, Irfan, Fitrah, Kiki. Masing-masing kelihatan sibuk menggoreng pagedel dan mantau sambil bergurau senda (ketawa-ketawa). Ada juga yang sibuk menonton sambil berbual (ngobrol).. Suasana yang harmonis.. “Baru sampai fuza?..” “Mana Mahfuzah..?” “lamax kau ee” sambutan dari teman-teman begitu hangat..

Tiba-tiba terilham jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang berlegar di minda sebentar tadi. Ya, diri datang ke sini dengan pilihanku yang penuh sedar. Memang sebenarnya sangat mudah untuk memberi alasan demi alasan untuk tidak menghadirkan diri. Namun kenapa memilih untuk hadir adalah kerna setiap orang yang ada di sini sangat istimewa (special) buat diri. Demi menikmati setiap momen yang ada bersama mereka, selagi diri masih punya kesempatan dan ruang waktu untuk bersama mereka, biar susah bagaimanapun tetap akan mencuba untuk hadir.

“Yah sudah lengkap semua? Ayo kita makan.. laparx” kata-kata seorang teman cukup mengundang haru di jiwa. Mereka sudah lama tiba, tapi tetap menunggu kehadiran diri untuk makan bersama. Ternyata dugaan temanku yang mengatakan “Teman-teman takkan kesah..” meleset sama sekali. Mungkin baginya, kerana tidak merasa sendiri adalah bagian dari teman poskonya (belong to), makanya selalu mengecualikan diri dari sebarang aktiviti (aktivitas) yang dirancang bersama. Kerana merasa sendiri bukan anggota, makanya tegar untuk melukai perasaan orang lain. Makanya ada istilah “teman-teman tak kesah”.. berlainan dengan teman KKN ku yang sanggup menunggu lama untuk makan bersama. Bahagia merasa diri adalah bagian dari keluarga kecil ini, keluarga Tolbar Crew. Makan bubur Manado (baro’bo) berlaukkan pegerdel, ikan asin dan sambal menjadi sangat berarti hari ini.

Selesai makan, sempat bercerita-cerita sambil menonton televesi. Teman-teman menanyakan permasalahan yang menjerut urat nadi saat ini. Menceritakan serba sedikit. Diri tahu yang mereka tidak begitu mengerti lantaran perbezaan (perbedaan fakultas) fakulti yang mengamalkan sistem yang berlainan, namun mereka tetap mendengar. Menunjukkan perhatian dan keprihatinan. Ya, bercerita pada mereka ternyata lebih melegakan. Siapa kata(siapa bilang) berteman itu harus yang bisa membantu mengingat pathophysiology atau cara menegakkan diagnosis saja? Terkadang teman-teman yang banyak berbeza(banyak bedanya) ini lebih membantu dari segi kekuatan emosi.. kekuatan psikologi. Bersama mereka, hilang stress tingkat tinggi, surut kesedihan yang membadai di pantai hati. Berbeza bidang pelajaran (Beda fakultas) itu sebenarnya lansung tidak menjadi alasan untuk tetap berteman. Kerna apapun bidang pelajaran itu, hakikatnya kita saling melengkapi. Tidak akan mampu untuk berdiri sendiri..

Berteman tanpa sesab yang kukuh (hanya kerna pernah bersama selama 2 bulan) = insane/unlogic. Adakah persahabatan ini terbatas pada mengenang saat susah bersama lantaran tiada air (pam air rosak/pompa rumah Hj. Tewa rusak), saat stress (mengadakan program kerja,proker & waktu datang dokter yang memeriksa hasil kerja KKN,[Satgas]), saat gembira/ seru/ bahagia (liburan ke Tj. Bira), saat berselisih faham (banyak hal) dan saat berduka (Fitrah kecelakaan)? Nyata sekali tidak..

Sebenarnya mungkin persahabatan ini bermula dengan pertemuan yang dirancang oleh university (universitas), tapi dari situ tersemai benih-benih kasih sayang yang mekar, tanpa mengenal perbedaan.. bidang pengajian, jantina, umur, latar belakang, agama, asal dan sebagainya. Ya, kasih sayang itu luas dan tidak terbatas. Setelah sekian insiden yang dilalui bersama, maka wujudlah nilaian toleransi, berterus terang, saling menghargai, saling percaya dan memahami yang mewarnai tali persahabatan itu. Sekaligus menjadikan ia sesuatu yang sangat berarti.

Jika difikir-fikir, setiap dari teman-teman mempunyai kesibukan masing-masing. Winda..sibuk dengan skripsi dan lawatan sambil belajarnya minggu depan, Uul..sibuk dengan tugasan kliniknya, jadual jaga (on call) nya dan mencari penderita untuk melaksanakan rawatan gigi. Iyan dan Ochy juga sibuk dengan skripsi masing-masing di samping perkuliyahan yang masih menjerat, Kak Ani, lebih sibuk dengan tugasan belajar sambil bekerja di hospital (rumah sakit) sebagai nutritionist (ahli gizi), sebentar di RS sini, sebentar lagi di RS sana pula, Irfan, sibuk dengan kuliyah dan tugasan yang menyesakkan. Fitrah juga sibuk dengan kuliyah di samping menjadi assistant lecturer (asisten dosen) yang memadatkan jadual, menyusun skripsi dan sebagainya.

Kenapa semua sanggup untuk hadir? Mengintip ruang di celahan kesempitan.“Berkorban masa dan tenaga untuk suatu pertemuan yang singkat”. Ya, persahabatan itu menuntut pengorbanan. Persahabatan itu menuntut komitmen. Memang pertemuan itu singkat, hanya datang untuk makan Bubur Manado(baro’bo) bersama, duduk sekejap untuk bercerita, sesi foto.. kemudian pulang. Tampak singkat sekali. Namun di balik kuantiti masa itu terkandung kualiti masa yang diguna secara efektif. Duduk bersama, makan.. bercerita memang ringkas. Tapi dari makan bersama dan bercerita itu yang mendekatkan lagi jarak persahabatan. Memang bisa kalau cuma lewat facebook atau internet tapi yang namanya pertemuan itu walaupun sekejap lebih terkesan di hati semua orang. Ia merekam saat-saat yang indah bersama. Jadi pengorbanan untuk momen-momen yang bermakna ini berbaloi (worth it)..

Terkadang teman-teman berkeluh kenapa sewaktu pertemuan tidak pernah lengkap yang datang (14 orang) dan kenapa Cuma orang-orang yang sama yang datang? Jauh di sudut hati, diri yakin, teman-teman tidak hadir bukan kerna tidak mahu tetapi kerna tidak berkesempatan. Selagi dalam hati kita masih menyimpan sosok mereka, berarti mereka sentiasa hadir di antara kita.. berbaik sangka lah.. boleh jadi, ada saatnya nanti kita juga memerlukan pengertian dari orang lain. Belajar untuk lebih banyak memberi dari berharap kepada orang lain :)

Rabu, 10 November 2010

TENTANG KITA

2

-photo by FZM-

Tatkala aksara tak lagi mampu untuk melakar bait kata
Gundah hati makin parah menanggung makna derita
Ombak rindu yang menghempas persada atma kian menggila
Memasang kail untuk mengumpan peti kenangan yang terkubur di minda

Terkenang memori semalam yang kukuh tersemat
Kisah kau dan aku mulai menjadi sahabat
Di pinggir kota di dalam sambutan warga yang hangat
Belajar mematri makna cinta di Kelurahan Tolo’ Barat

Waktu itu usai perkuliyahan yang mengasak fikiran
Kita di sini untuk meraih pengalaman
Saling bantu membantu saling meringankan beban
Katamu kerana kita saling memerlukan

Hidup dalam rukun dan penuh terancang
Terkadang masih wujud perselisihan kerna kita dari pelbagai latar belakang
Namun itu semua hanya rencah dalam persahabatan yang kian matang
Hingga akhirnya kita saling faham dan sayang menyayang

Terima kasih wahai sahabatku
Sungguh, hidupku ceria dengan kehadiranmu
Kau mengajarkan ku erti hidup yang semu
Memberi makna kepada setiap yang ku lalu..


-photo by FZM-

-amni_shamrah-
10.30pm
10 nov 2010