Skinpress Rss

Isnin, 31 Oktober 2011

1 WEEK OFF

0


It’s October 24. Monday. Extraordinarily, I just laid down on the mattress without any hurry to prepare to work. Last week, I’ve just finished my Medicine Posting examination. And for the first time since I’ve got into practical field, I gave myself a space to be “OFF” the cycle. Took my own holiday before getting into the most “disastrous” department P-E-D-I-A-T-R-I-C.

I ‘m getting so exited to enjoy it as the flights of ideas come across my mind. I want to go to my dream place Bissapu waterfall, I want to visit my KKN village in Jeneponto, or I want to go to the bay, watching the sunset and eating the good stuff or going to the most beautiful island... Wah..i want to chase the rainbow and collect the stars..feel the wind and hear the water to flow.. Heaven!! Just want to go out of here.. being free from my routine. But…

Wrong timing. My friends are all on the hectic mode. Thinking of spending times with my sweet sisters in islam, my juniors 09. But they’ve got an examination to settle at the end of the week. So I have to cancel my plan to go on trip with them. Gratefully, one of my sister, Aqilah invited me to accompany her to our favorite seafood restaurant at Losari Beach, Lae-Lae. Along with her smart circle group of 1st year juniors which means to be 4 years younger then me not really makes me felt weird.. yeah.. we enjoyed the evening by riding a musical boat while waiting the sun to set. Hanging out together create an exclusive dimension to know each other better.. they are all happening. After having our dinner at Lae-Lae, we drop by the ice-cream stalls and eat some ice-cream of various flavor before going home.

Aqilah didn’t talk much. Just observing her juniors and make sure that they’re in comfort and safe condition. She’d grown up fast. I remember the 1st time I met her when she was in her 1st year, she used to be very cute and like to ask those controversial questions. Unlike others, she’s not really used to have the birthday party. She can’t tolerate stupid things or childish games.. However, she’s the most fastest learner, she hold tight the knowledge she’d got and make it to apply them in her daily. time runs. She’s now in her 3rd year and manage to mentor the juniors.. Feeling very proud of Aqilah.

I remember once upon ago, I’d been in smart circle group with my friend. Spending our time to hang out together with our mentor, laughing, exploring new places, eating good foods.. just like them. In other time, we used to sit together and listen to our mentor’s tazkirah or the story of great men from the previous centuries. But now, we ourselves have to take the responsibilities to give the tazkirah, mentoring juniors to solve their problems and to be close to them. Guide them. Teach them. Just like how we’d been thought. Treat them well exactly how our mentor do it for us.. Aqilah too.. going through the process.. life is like a wheel. There’s a time, we’re accepting the knowledge and tarbiyah and in other time, we have to give it out to our juniors. Our sisters in Islam. That’s the bright circle.

We do this because we love our juniors as our seniors back there who love us.

Thanks my sisters for a cozy day ^_^

Ahad, 30 Oktober 2011

APAKAH KITA SEORANG MUKMIN?

0



Sejak pertama melangkahkan kaki disini,setiap kita harus tahu, bahwa kita sedang berada dalam proses hijrah menuju kepada Allah SWT. Kita berjalan dan berlari menujuNya. Hanya Allah sahaja. Kita juga harus mengerti bahawa proses perjalanan itu tidak mudah. Jalan ini ibarat tangga yang menjulang ke atas dan bertingkat-tingkat. Kita menaikinya satu demi satu, setingkat demi setingkat. Hingga ke anak tangga terakhir.

Saudaraku,
Sungguh mulia perjalanan hidup para salafussoleh. Orang-orang yang menemani mereka bertutur kagum tentang perjalanan hidup mereka. Seorang ahli hadith bernama Ibrahim Al-Harabi, mengisahkan pengalamannya selama bertahun-tahun menemani tokoh salafussoleh Imam Ahmad Bin Hambal.
Katanya “aku telah menemaninya selama 20 tahun. Kami melewati musim kemarau dan musim semi, musim panas dan musim dingin. Sementara aku tidak pernah mendapatinya pada suatu hari kecuali ia dalam kondisi lebih baik dari harinya yang kemarin”
(Manaqib Ahmad, Ibnul jauzi,40)

Menjadi lebih baik dari kemarin. Selama bertahun-tahun. Itulah barangkali makna anak-anak tangga kehidupan menuju Allah SWT. Semakin hari semakin tinggi, semakin mendaki, semakin mendekat ke langit. Betapa indahnya orang yang bisa menerapkan kaedah seperti itu. Ketika tapak-tapak usia membuktikan sebuah perjalanan yang semakin mahal nilainya. Di saat jejak umur semakin lama semakin menambah kemuliaan seseorang. Ketika perguliran hari, bulan dan tahun, menjadi pertambahan kita saat menuai pahala, balasan dari Allah SWT. Di saat perjalanan waktu, terus menerus menambah kedekatan kita kepada kebahagiaan di akhirat.
Tapi, sedikit sekali di antara kita yang bisa menepati prinsip seperti itu.

Saudaraku,
Beramallah dalam hidup ini, tanpa perlu membanding-bandingkan kelebihan amal-amal kita dengan orang lain. membanding-bandingkan dan mengukur-ukur kelebihan kita dengan orang lain, bisa menjerumuskan kita menjadi ujub dan sombong. Padahal Ibnu Harits Al-hafi mendefiniskan kesombongan dan ujub itu dengan ungkapan “Jika engkau merasa amalmu banyak sedangkan amal orang selainmu itu sedikit”

Menyentuh sekali perkataan Fudhail bin Iyadh rahimahumullah saat menyinggung masalah ini. katanya, syaitan akan menang atas Bani Adam, hanya dengan menjadikan manusia memiliki satu dari tiga perilaku. “Jika aku sudah dapat satu saja, aku tidak akan meminta yang lainnya” begitu kata iblis seperti yang diungkapkan oleh Fudhail. Tiga perilaku itu adalah : ujubnya seseorang terhadap dirinya, atau menganggap banyak amal yang telah dilakukannya, atau melupakan dosa-dosanya. Itulah pangkal dosa.

Kata Nabi Allah, Isa AS, “berapa banyak lantera yang cahayanya mati tertiup angin. Berapa banyak ibadah yang pahalanya rusak oleh kesombongan. Amal soleh adalah cahaya. Dan cahaya itu bisa padam oleh angin ujub dan kesombongan”

Saudaraku,
Semoga cahaya amal soleh kita tidak mati oleh perasaan kita sendiri. Semoga keimanan kita tidak redup oleh kebanggaan kita sekadar telah mendapat penilaian dan pandangan orang yang baik tentang kita. Dahulu, Hasan Al-Basri tidak merasa yakin untuk mengatakan bahwa dirinya pasti beriman, lantaran kekhuatiran bila Allah memandang amal-amal yang ia lakukan ternyata tidak sesuai dengan tuntutan keimanannya. Ia pernah ditanya “Ya Hasan, apakah engkau seorang mukmin?” Hasan Al-basri hanya menjawab “InsyaAllah”. Penanya terkejut dengan jawaban beliau “kenapa engkau menjawab seperti itu?” ulama yang terkenal zuhud di zaman generasi Tabi’en itu lalu mengatakan “Aku takut jika aku katakan, ‘Ya aku mukmin’, tapi Allah mengatakan ‘engkau bohong’. Kerna itulah aku katakan InsyaAllah. Aku tidak merasa aman jika suatu ketika Allah mendapatiku melakukan apa yang IA benci, lalu IA murka kepadaku dan mengatakan ‘Pergilah..Aku tidak menerima amal-amalmu..”

Saudaraku...apakah kita seorang mukmin?

“Semoga Allah tidak melihat kita berada dalam larangan-larangaNya dan tidak kehilangan kita dalam suruhan-suruhanNya..”

Khamis, 27 Oktober 2011

DAD'S PRINCESS

2


It was a very hectic day in hospital. I just came out from one of the ward to exchange the branula set of chirrosis hepatic patient. He had a phlebitis on his hand due to the long-term infusion. Suddenly my mobile phone rang. “beep..beep” it’s sms sound. I took a look and found that it was from my dad. As long as I can remember, it was really a rare thing to get the sms from dad. Because he usually calls in or I’ll call him out. It makes me damn curious about the content of the sms.

Quickly I’d press the “OPEN” button and start reading. “Dear daughter and son (me and my brother who studies in Mesir), Now I’m in a Graduation Hall to see your big sister’s graduation event. If you want to give your words to her, better say it right now and I’ll pass it to her..” the tears suddenly drop out my eyes as the warm feeling crawls into my heart. Today is my sister’s big day. A Graduation Day. She had succeeded to become a lawyer as she always dream. A civil law degree and a syariah law degree.. for the first time in my life, I can feel how proud my dad is, having her as a daughter. My mom is also in the same way. To be called a “dad” and a “mom” to a succeeded daughter give a meaning that they are both superb..

To give the same feeling that makes your parents proud of you is that you have to shot a goal to be the best. Studying medicine is literally and factually uneasy. Seriously speaking. (as well as other field). But trying to give out your best effort toward it, is not impossible.. Parents send you off with a kind of hope to see that you can hold the thing you want to do in your whole life. That’s the spirit. Remember it. Catch it. Hold it. And move forward. Genius is a gift. Not everyone born with it. But intellegency can be learned by hardworking, that’s the effort ordinary people can put to be extraordinary. My teacher’s favorites word : “Success is 1% inspiration and 99% perspiration”. That’s how life goes. So just keep positive to move on your road, put your effort and pray.

My sister is a kind of inspiring person. She’d proved it to be the best in her life. Being a good daughter. A good wife. A great mom and a good student. We can make it the way we want as long as we have the hopes and chase for it..

I love you dad.. I love you mom.. I love you sis.. do pray for me to be the best!! For my lovely brother, Keep Fighting!!


“The words are so powerful. The path is too dangerous. Walk slowly. And be patient. Then you’ll know that you can go beyond your limit”

Sabtu, 22 Oktober 2011

CREDIT DARI MUTARABBI KEPADA MUTARABBI

0


Pagi ini membuka halaman muka buku.. terbaca artikel yang baru ditagkan oleh adik kesayanganku.. Miftahul Jamilah.. tentang mutarabbi..
Sebuah puisi indah yang di petik dari : http://muharikah.com/archives/720/

A’uzubillahiminassyaitonirrajim..Bismillahirrahmanirrahim..
Dengan namaNya,Ar-Rahman..Ar-Rahim..
Ar-Rahman atas segalanya..Ar-Rahim atas segalanya..
Adunan rasa yang disimpan,Jauh di sudut yang paling dalam
Buat jiwa-jiwa..yang berjiwa mutarabbi
Meski sudah jauh berjalan,Jiwanya masih jiwa mutarabbi
Mengharap sayang sang murabbi,Mengharap kasih sang murabbi
Wahai ‘ibadurrahman..
Dalam hatimu itu ada rasa sayang,Dalam hatimu itu ada rasa kasih
Sayang bukan sebarang sayang,Kasih bukan sebarang kasih
Cuma..cuma..,Ingin kuingatkan
Diriku dan kalian
Murabbi itu bukan malaikat,Murabbi itu bukan nabi yang maksumCuma..cuma..
Murabbi itu cuma seorang manusia,yang dengan sedayanya mencuba
menjadikan nabi itu qudwah terbaik dalam hidupnya
Dan kenapa, duhai pemilik hati ‘ibadurrahman
Perlu kalian mengeluh, berkeluh kesah
Resah menanti murabbi sepertinya malaikat,Menunggu murabbi sepertinya nabi
Tanpa ada cacat walau sedikit
Benar..benar..
Benar murabbi itu bagaikan ayah, bagaikan ibu,Benar murabbi itu seorang pemimpin
Benar murabbi itu seorang guru,Benar murabbi itu seorang sahabat
Benar, seharusnya begitu
Tapi..
Ingin diingatkan,Diriku dan kalian
Kita merancang,,Allah jua merancang,
dan Dia adalah sebaik-baik perancang
Sabar..sabar..sabar duhai pemilik hati ‘ibadurrahman..
Tarbiyah itu dari Allah..
Ada harinya tarbiyah itu lewat sang murabbi
Ada harinya tarbiyah itu lewat sang mutarabbi
Ada harinya tarbiyah itu, lewat diri kita sendiri
Tapi datangnya sama, dari Allah..
Kenapa harus ada masa berhenti?
Kenapa harus ada masa berhenti dari tarbiyah ini?
Kenapa..?
Yang miliki hatimu itu hatimu sendiri,Yang miliki jiwamu itu jiwamu sendiri
Yang miliki imanmu itu imanmu sendiri
Allah kan ada..,Allah ada..,Allah..
Duhai pemilik hati ‘ibadurrahman..
Ku katakan begini,
untuk kalian yang memiliki jiwa mutarabbi
untuk diriku yang jua seorang mutarabbi
dan murabbi kita..jua seorang mutarabbi
Sampai..Murabbi teragung..Tidak rindukah kita pada baginda?
Murabbi kepada murabbi teragung..?DIA pemilik nyawa kita..
DIA pemilik hati kita..DIA pemilik iman kita..Kembali pada asalnya diri.
Jadi kenapa harus lari?

<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE AR-SA
Setelah membaca puisi tersebut, jiwa bergetar. Benarlah mendidik hati itu adalah suatu hal yang tidak mudah. Menjadi MUTARABBI yang menganggap kebaikan itu datangnya dari langit itu tidak mudah. Kerna seorang mutarabbi itu mendambakan sosok yang bisa dijadikan contoh teladan. Mendewasa dibawah bayangan yang hebat untuk melentur diri menjadi hebat. Ia butuh tsiqqah yang tinggi dan mapan terhadap peribadi murabbinya. Kadang terlupa bahawa murabbinya juga manusia yang masih melalui hari-hari tarbiyah yang penuh dengan mujahadah. Masih bertarung dalam pergelutan antara nafsu dan iman. Antara keanakan dan kematangan. Antara realities dan fantasis.

Menjadi MURABBI lebih tidak mudah. Mendidik orang lain untuk menjadi mapan sedang diri juga masih dalam proses untuk memujuk hati, mendidik diri sendiri. Membina diri untuk menjadi solid dan menangani masalah mutarabbinya dengan penuh kesenian dan pemahaman. Itu sungguh hal yang tidak mudah. Saat perhatian harus difokuskan sepenuhnya. Saat sensitivity harus diasah setingginya. Menaggapi semua permasalahan dengan dewasa dan harus mampu untuk menembus dimensi hati yang dinamik dan kompleks.. Untuk memahami dan mengerti setiap ahli dalam suatu halaqah itu suatu cabaran. Untuk mempersatukan setiap orang dalam satu wadah, menghapuskan perbezaan, dalam masa yang sama menimbulkan toleransi dan saling menerima itu bukan mudah..apatah lagi untuk menjaga keseimbangan dan keserasian.. Sungguh.. hanya Allah lah yang mampu mempersatukan hati manusia..

Kita tidak pernah layak untuk menjadi mutarabbi yang baik. Apalagi menjadi murabbi yang baik. Tapi.. kita harus berusaha dan terus berusaha untuk melayakkan diri kita dengan mendidik dan melenturnya dengan tarbiyah pencipta.

“Kita tidak mungkin mengubah arah angin tapi kita bisa mengubah arah sayap kita..”

Khamis, 20 Oktober 2011

MEDICINE POSTING

0


Setelah lebih 2 bulan bergelut di bagian (depertment) internal medicine (interna), diri akhirnya telahpun menduduki ujian akhir dibagian (department) ini. Menempuh 11 minggu di interna [baca:12minggu gara-gara turun minggu missal (extent) sewaktu lebaran Aidilfitri] benar-benar adalah waktu yang amat singkat untuk mempelajari apatah lagi untuk menguasai bagian ini.
Internal Medicine (interna) mencakupi dari paru (pulmonology), jantung (cardiology), sistem pencernaan (Gastroenterohepatology) dan juga ginjal (urology). Terlalu banyak yang harus dipelajari dalam waktu yang singkat. Namun disitulah cabarannya.

Minggu pertama dan ke-2, diri telah ditempatkan di Infection (IC) Center RSWS. Di IC ini, hanya seramai 4 orang co-ass yang ditugaskan memandangkan IC sendiri terdiri dari 4 lantai. Setiap orang bertanggungjawab ke atas 1 lantai. Semua kes (kasus) infeksi ditangani di IC. Yang paling banyak itu adalah Tuberculosis baik paru mahupun ekstra paru, ada juga HIV dengan segala macam komplikasinya, serta ada juga infeksi lain yang agak jarang. Minggu pertama diri dipertanggungjawab ke atas ward (bangsal) TB lelaki yang pesakitnya meliputi hampir 16 orang perward (perkamar) dan ada 2 kamar. Ditambah dengan 3 ward (kamar) kelas 2 yang masing-masing memiliki 4 orang pesakit. Jadi untuk memulai follow up pagi di IC, diri harus berangkat seawal jam 4.30 pagi setiap hari dan follow up hanya akan selesai jam 7 pagi. Waktu oncall (jaga), hanya seorang co-ass dan seorang dokter yang ditugaskan disitu. Akan agak kepenatan tapi disitulah diri banyak belajar untuk mengatasi sendiri keluhan yang muncul.

Minggu ke-3 di ward (kamar) perawatan khusus yang menangani kes Asites ec causa Cirrhosis Hepatis. Meski pesakit Cuma dua orang, yang agak meletihkan adalah apabila terpaksa melakukan follow up per jam. Namun di sini, diri berpeluang melakukan pungsi cairan pleura (pleural puncture) dan melihat sendiri control spironolactone diuretic, terapi yang digunakan sebagai first line theraphy terhadap kes ascites seperti ini. Pemilihan spironolactone adalah kerna sifat antialdosterone yang mana diketahui secara umum, pada pesakit dengan diagnosis cirrhosis hepatis, kadar aldosteron (hormone yang meningkatkan retensi/penahanan air di tubulus distalis) sangat tinggi hingga menyebabkan air dalam tubuh tidak dapat keluar melalui urin. Peningkatan kadar aldosteron adalah kerana kerusakan hati yang mana hati berfungsi untuk menginaktivasikan hormone aldosteron tersebut.

Minggu ke-4 paling memberikan pengalaman yang berharga buat diri. Dinas (bekerja) di IRD/Unit Gawat Darurat (UGD/emergency). Di situ diri dan sahabat seperjuangan dilatih dan diasah daya analisis kami untuk melakukan anamnesis lengkap, pemeriksaan fisik (physical examination), hingga pemeriksaan penunjang seperti lab test, radiology dan diagnosis serta pengobatan. Setelah itu baru status yang telah kami lengkapkan, diperiksa oleh dokter residen dan diperbaiki yang salah dan ditambahkan yang kurang. Di sini juga kami dilengkapkan dengan skill/ kemahiran seperti memasang kateter (catheter), nasogastric tube (NGT), infuse (branula) dsb. Walau agak melelahkan namun disini pengetahuan dan pengalamannya amat berharga untuk dibawa sebagai bekalan.

Minggu ke 5-6, kami dihantar untuk bertugas didaerah (hospital peripher). Diri dan seorang lagi teman seperjuangan telah ditugaskan ke Rumah Sakit Ibnu Sina, Rumah sakit dalam Kota yang terletak tidak jauh dari Almamater ku (kampus Hasanuddin). Pengalaman di Ibnu Sina lumayan memperkaya pengalamanku. Walau sibuknya tidak seperti di Rumah Sakit Utama RSWS, namun banyak kes (kasus) yang jarang ditemui didapatkan disini. Seperti hepatoma, tumor colorectal dan beberapa lagi kes (kasus) lainnya. Setiap Senin, Rabu dan Jumat kami akan mengikuti pemeriksaan endoscopy dan colonoscopy yang dijalankan sendiri oleh Prof. H.M. Akil, SpPD KGEH. Selain menjalani rutin untuk follow up pesakit, kami juga berpeluang mengikuti visit supervisor dan meneguk lautan ilmu dari mereka.

Minggu ke7 & 8, diri ditukarkan lagi ke rumah sakit daerah yang lain yang merupakan salah satu rumah sakit pendidikan Labuang Baji yang terletak hampir 1 jam perjalanan dari rumah sakit. Di Labuang Baji, suasananya lebih santai dan bersahabat. Namun tidak menafikan keseriusan dokter-dokternya dalam menjalankan tugas. Baik teman-teman sejawat, dokter mahupun perawat lebih heboh di sini. Dalam kesibukan merawat masih sempat juga menyelit waktu untuk sama-sama memasak Baro’bo dan Kapurung. Sama-sama menikmati enaknya makanan asli Palopo dan Manado tersebut. Dinas (jam kerja) di poliklinik, membantu dr.Mely menangani kasus rawat jalan yang membanjir setiap harinya. Banyak yang kami pelajari di sini terutama penyakit Grave Disease, hipertiroid, tyrothoxicosis dan sebagainya.

Minggu 9-10, kami kembali bertugas di Rumah Sakit Utama RSWS di poliklinik. Setiap hari kami akan dirolling dari poliklinik Umum, Rheumatology, Geriatric, Gastrointestinal, Endocrine & Metabolic, Ginjal Hipertensi, hingga kepada Pulmonologi. Setiap hari menjanjikan pengalaman yang berbeza dan cukup berharga dalam diari kehidupan koass ku.. dengan dokter-dokter yang baik hati lagi senang untuk mengajarkan, supervisor yang sedia memberi tunjuk ajar, teman sejawat yang banyak membantu. Tenaga medis yang cukup membantu. Tiap hujung minggu kami diwajibkan menghadiri symposium / pertemuan ilmiah di hotel mahupun diruang-ruang kuliah bagi menambah ilmu semasa. Ditambah dengan olahraga sore untuk mengukuhkan ikatan antara keluarga interna. Setiap hari penuh dengan aktivitas.

Jumaat, 14 Oktober 2011

KELEZATAN TIDAK ADA BANDINGANNYA

0


“ Berusaha sekuat tenaga untuk menekan hawa nafsu itu adalah kelezatan. Kelezatan di atas segala kelezatan”
[Ahli Hikmah]

Saudaraku,
Manusia,tetap manusia. Bukan malaikat. Rasulullah SAW, sebagai hamba Allah teladan, juga manusia. Ia tetap memiliki tabiat kemanusiaan. Kerana andai sosok teladan untuk manusia itu bukan manusia, sudah tentu tidak ada manusia yang bisa mengikutinya. Dan artinya ia tidak mungkin dijadikan teladan. Kerana itulah Rasulullah mengucapkan doa:

“ Ya Allah, sesungguhnya aku adalah manusia. Aku marah sebagaimana manusia marah. Maka siapa saja dari kaum muslimin yang merasa telah aku sakiti, aku caci, dan aku laknat, jadikanlah hal itu sebagai doa dan pembersih yang akan mendekatkannya kepadaMu pada hari kiamat.”
[HR Bukhari & Muslim]

Meski tetap dengan kemanusiaannya, Rasul tetap memiliki predikat Al-Ma’shum –yang terpelihara dari dosa kerana keimanannya yang tinggi dan Allah merahmatinya dengan selalu meluruskannya dari kesalahan. Iman sajalah yang membuat Rasulullah memiliki kemahuan mantap, cita-cita tinggi, dan mampu terhindar dari bisikan syaitan melalui hawa nafsu.

Saudaraku, ketahuilah..
Syaitan adalah pemangsa orang yang lemah semangat, tidak percaya diri, pesimistik, dan tidak kuat kemahuannya. Orang-orang seperti itu mudah terjebak dengan bisikan syaitan. Munurut Ibnu Qayyim rahimahumullah,

“Jika syaitan melihat seseorang memiliki kemahuan yang lemah, cita-cita yang rendah, condong mengikut hawa nafsu, maka syaitan sangat menginginkannya, membantingnya dan mengekangnya dengan kekangan hawa nafsu dan kemudian mengendalikannya kea rah mana yang ia kehendaki. Tapi, jangan juga menganggap kita mampu menaklukkan hawa nafsu kerana kita merasa memiliki semangat tinggi, optimistic, sangat percaya diri serta kuat kemahuan. Kerana sebenarnya perasaan itu akan membuka celah syaitan untuk menyelinap masuk lalu menguasai hati.”

Coba perhatikan perkataan Ali RA. Menurutnya ada 4 momen kebaikan tertentu yang paling berat dilakukan. Yakni memaafkan ketika marah, menderma ketika tidak punya, menjaga diri dari dosa ketika sendirian, dan menyampaikan kebenaran pada orang yang ditakuti atau diharapkan.

Saudaraku..
Renungkanlah. Momen-momen sepertilah sebenarnya yang sering menjadi celah rawan pencurian oleh syaitan.sulit sekali memberi maaf ketika justeru amarah seseorang meletup dan dalam kondisi mampu melampiaskannya. Sangat sulit sekali memberi sesuatu yang kita sendiri sangat membutuhkannya. Sangat sulit memelihara diri dari dosa bila kesempatan untuk melakukannya datang berulang kali dan terbuka lebar di depan mata kita. Apalagi, kita tahu tidak ada orang lain yang melihat tingkah kita saat itu. Seberapa mampu kita menyampaikan kebenaran kepada orang yang kita takuti? Atau kepada orang yang justeru kita menanam harapan kepadanya? Saudaraku, pada momen-momen itulah kita manusia seringkali tergelincir.

Ada satu kata sangat sederhana untuk mengatasinya. Keikhlasan. Itulah kuncinya. Keikhlasan membawa seseorang mudah memaafkan dikala marah. Ikhlas juga yang menjadikan seseorang ringan memberi meski ia membutuhkan. Ikhlas yang membuat seseorang tidak memandang situasi dalam beramal dan menjauhi maksiat, meski tidak seorangpun melihat. Keikhlasan juga yang membuat seseorang tidak memandang resiko apapun dalam menyampaikan kebenaran. Itulah rahsia-rahsia di sebalik keikhlasan.

Da’ie dan mujahid Islam terkenal, Imam As-Syahid Hassan Al-Banna mengatakan: “ Ikhlas itu kunci keberhasilan”. Menurut Al Banna, para solafussoleh yang mulia, tidak menang kecuali kerana tiga hal, yaitu kekuatan iman, kebersihan hati dan keikhlasan mereka. “bila engkau sudah memiliki tiga karekter tersebut, maka ketika engkau berpikir, Allah akan mengilhamimu petunjuk dan bimbingan. Jika engkau beramal,maka Allah akan mendukungmu dengan kemampuan dan keberhasilan.”

Saudaraku,
Dengan keikhlasan, kita jadi tidak mudah terpedaya oleh nafsu. Dan itulah nikmat yang hanya dirasakan para mukhlisin. Seperti yang tertuang dalam untaian nasehat Ibnu Qayyim, bahawa mengutamakan kelezatan iffah (menjaga diri dari perbuatan durhaka), lebih lezat daripada kelezatan maksiat. Dalam kesempatan lain ia mengatakan, “Rasa sakit yang ditimbulkan oleh mengikuti hawa nafsu, lebih dahsyat daripada kelezatan dirasakan seseorang kerna memperturutkan hawa nafsu”.

Ahad, 2 Oktober 2011

YA ALLAH, KENALKANKU DENGAN DIRIKU

0


“ Di antara ciri-ciri kebahagiaan dan kemenangan seorang hamba adalah : Bila ilmu pengetahuannya bertambah, bertambah pula kerendahan hati dan kasih sayangnya. Setiap bertambah amal-amal soleh yang dilakukan, bertambah pula rasa takut dan kehati-hatiannya dalam menjalankan perintah Allah. Semakin bertambah usianya, semakin berkuranglah cita keduniaannya. Ketika bertambah hartanya, bertambah pula kedermawanan dan pemberiannya kepada sesama. Jika bertambah tinggi kemampuan dan kedudukannya, bertambahlah kedekatannya pada manusia dan semakin rendah hati terhadap mereka. Sebaliknya cirri-ciri kecelakaan adalah: ketika bertambah ilmu pengetahuannya, semakin bertambah kesombongannya. Setiap bertambah amalnya, kian bertambah kebanggaannya pada diri sendiri dan penghinaannya terhadap orang lain. semakin bertambah kemampuan dan kedudukannya, semakin bertambah sikap bongkaknya.” (Al Fawaid, Imam Ibnu Qayyim)

Saudaraku,
Mengenali diri memang penting. Rasulullah SAW juga mengajarkan kita untuk lebih banyak bercermin dan mengevaluasi diri sendiri , ketimbang bercermin dan mengevaluasi orang lain. orang yang sibuk oleh aib dan kekurangannya, kata Rasulullah lebih beruntung , ketimbang orang yang sibuk memperhatikan kekurangan orang lain. Kata Ibnu Qayyim: “ Barangsiapa yang mengenal dirinya, ia akan sibuk memperbaiki diri daripada sibuk mencari-cari aib dan kesalahan orang lain.

Saudaraku,
Genggam erat-erat tali keimanan kita. Kenalilah diri. Fahami kebiasaannya. Rasakan setiap getaran-getarannya. Lalu berhati-hati dan kontrollah kemahuan dan kecenderungannya. Waspadailah kekurangannya dan manfaatkan kelebihannya. Berdoalah pada Allah agar Ia menyingkapkan ilmu tentang diri. Sebagaimana doa yang dilantunkan Yusuf Bin Asbath, murid Sufyan As-Tsauri: “Allahumma arrifni nafsii”, Ya Allah, kenalkan aku dengan diriku.

Jiwa manusia banyak menyimpan rahsia. Misteri hati dan jiwa manusia sulit dikenali dengan baik kecuali dengan bantuan Allah SWT kepada kita. Karena itu ulama terkenal Sahal bin Abdillah mengatakan bahawa mengenali diri sendiri itu adalah lebih sulit dan lebih halus dari mengenali musuh. Artinya, aib dan kekurangan yang terselubung dalam diri sangat sulit dideteksi, dan harus dibuka oleh Allah agar seseorang dapat membersihkan diri dan jiwanya.
Jika seseorang telah berhasil mengenal dan mengetahui bagaimana kondisi jiwanya, maka ia akan mudah mengontrol dan menguasai keinginan-keinginan buruknya . inilah yang dikatakan ulama’ Makkah, Wuhaib bin Wardi.

“Sesungguhnya di antara kebaikan jiwaku adalah pengetahuanku tentang keburukan jiwaku. Cukuplah seorang mukmin memelihara dirinya dari keburukan bila ia mengetahui keburukan jiwanya kemudian ia meluruskannya.” Sebagaimana juga perkataan Hasan Al Basri, “ seorang hamba masih dalam keadaan baik selama ia menyedari dan mengetahui sesuatu yang merusak amal-amalnya.” [Az Zuhd, Imam Ahmad]

Saudaraku,
Semoga Allah mempererat genggaman tangan kita dijalanNya. Itulah pentingnya mengenali diri. Fudhail Bin Iyadh RA mengatakan “ la ya’rifur riya ila mukhlish”, riya tidak mungkin disedari, kecuali oleh orang yang ikhlas. Ya, orang yang merasa manisnya keikhlasan, pasti akan mengetahui pahitnya riya. Sebaliknya orang yang tidak pernah merasakan nikmatnya ikhlas, tidak mungkin bisa mengenali pahitnya riya. Begitulah. Manisnya ikhlas dan pahitnya riya,hanya dirasakan oleh orang-orang yang terbiasa dan mengenali getaran jiwa.

Saudaraku,
Apa yang dikatakan oleh Fudhail itu tadi bertitik tolak karena kondisi dirinya yang sangat mengenal karekter jiwanya sendiri. Orang yang tidak kenal dirinya, bahkan mengingkari keburukan dirinya adalah orang yang tidak akan mampu mengetahui apatah lagi mempengaruhi jiwa orang lain. Apalagi meluruskan kebengkokannya, ia tidak akan bisa. Inilah materi yang disebutkan oleh Al Kailani ketika ia mengatakan:
“bila engkau mampu meluruskan kekurangan yang ada pada dirimu, berarti engkau mampu meluruskan kekurangan yang ada pada selain dirimu.. kemampuanmu menghilangkan kemungkaran tergantung dengan kekuatan imanmu memerangi kemungkaran dalam dirimu. Kelemahanmu tinggal diam di dalam rumah dari merubah kemungkaran adalah kelemahan imanmu dalam memerangi kemungkaran yang ada dalam dirimu. Kekukuhan dan kekuatan imanlah yang mengukuhkan para ulama’ saat mereka berhadapan dengan pasukan syaitan dari jin dan manusia” [Al-Fathur Rabbani,30]