Skinpress Rss

Rabu, 30 November 2011

BREAKING A TRUST

0


“Ayah bukan tidak mahu anak ayah belajar di luar negara, tapi ayah cukup takut, jika anak ayah nanti, balik sebagai seorang dokter yang berjaya tapi tidak lagi sebagai seorang manusia yang soleh”

Kata-kata ayah kembali terngiang-ngiang di telinga saat dihadapkan dengan 2 pilihan yang agak payah. Mengikut majority atau berkeras untuk pulang. Hari sudah malam benar. Teman-teman bersetuju sebulat suara untuk menonton wayang/bioskop bersama. Cerita larut malam setelah selesai acara farewell party tadi sebagai “nonton bareng” terakhir sebelum berpisah. Suatu tempat yang tidak pernah kaki ini jejaki sejak dulu. Tidak pernah dibawa ayah mahupun ummi. Serba salah. Menyertai mereka, menjejakkan kaki ke panggung wayang/bioskop berarti melanggar prinsip utama yang terbina, mengkhianati kepercayaan ayah dan ummi yang mengizinkan diri menuntut ilmu sejauh ini. Sementara pulang sendiri dikala jam sudah menginjak angka 11 berarti mengundang bahaya pada keselamatan diri. Buntu. Mana yang lebih aula(utama)?

Saat itu akal seakan berhenti berfungsi. Atma tiba-tiba berbicara: Ya Allah, ayah di tempat, sedang giat buat kerja Islam, takkan anak disini mahu melakukan hal yang maksiat? Dimana selarinya didikan ummi yang membisikkan “Allah Maha Melihat, Allah Maha Mendengar dan Allah Maha Menyaksikan” sejak kecil. MasyaAllah.. malu pada Allah jika Allah lihat kita yang mengaku taat padaNya sedang dalam waktu yang sama menderhaka padaNya dengan memasuki tempat yang lebih mengundang maksiat ketimbang amal soleh. Malu pada Allah jika Allah lihat kita yang melaungkan kalimat tauhid pada masyarakat dalam masa yang sama mengkhianati syiar agungNya dengan melakukan hal yang membelakangi syariat. Allahu Akbar!!

Hati telus dan terus berdoa semoga Allah memberikan jalan keluar. Diri meminta izin teman yang membonceng untuk lansung pulang. Betapapun resikonya setelah memberikan alasan yang tepat dan meluahkan hal yang sebenarnya. Alhamdulillah, sungguh Allah lah yang menggenggam hati-hati manusia. Teman yang kebetulannya anak seorang Ustaz, lansung mengerti dan meminta maaf. Dia lansung menemani diri untuk pulang. Meredah pekatnya malam berdua. Lebih aman. Percaturan Allah lebih indah dari yang kita perkirakan. Kadang kita terlalu takut dan terlalu bimbang akan pendapatnya manusia hingga kita mengabaikan perintah Allah dan mengetepikan apa yang Allah tuntut. Kita lebih menjaga perasaan manusia ketimbang “perasaan Allah” yang telah memberikan segalanya pada kita. Dari situ diri mengambil pelajaran bahawa apa jua masalah yang mendatang, Allah pasti ada solusinya. Hanya saja kita yang memutuskan jalan mana yang ingin kita tempuh. Jalan kefasikan atau jalan ketaqwaan. Pasti Allah akan memudahkan urusan kita, InsyaAllah..

Beberapa hari setelahnya, kakak yang kebetulannya selesai menjalankan liqa dengan adik-adik binaannya, bercerita, betapa pentingnya kita menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh orang tua kita. Ternyata banyak di kalangan adik-adik yang melakukan hal yang sama sekali dilarang oleh orang tua masing-masing. Ada yang berkata “saya disini saja masuk ke bioskop, kalau di Malaysia, parents tak bagi sebenarnya”. Ada anak ustaz, tapi di sini berpakaian seperti orang biasa. Bangga melilitkan pakaian ketat ditubuh, bangga memakai jilbab tapi mendedahkan aurat. Yang sekolah agama, bangga membawa perempuan bukan muhrim keluar berduaan dan melakukan hal yang sebagaimana dipandangan masyarakat sesuatu yang “normal” dan layak. Tanpa pernah diketahui oleh orang tua masing-masing.

Tidak sedar sama sekali bahawa kita datang dengan membawa maruah dan kepercayaan orang tua kita. Tapi disini kita menginjak-injaknya tanpa menyedari betapa jika mereka mengetahui apa yang telah kita perbuat, pasti mereka akan kecewa. Anak yang mereka didik bagai menatang minyak yang penuh akhirnya melupakan semua didikan mereka dan menjadi orang berbeda.

Bayangkan saudaraku, ibu yang siang malam mendoakan kesejahteraan kita, berkorban tanpa jemu untuk kita, namun kita menderhakainya dengan melakukan hal yang tidak disukainya. Alangkah kecewanya ibu. Ayah yang membanting tulang membesarkan kita dengan peluh keringatnya, ayah yang tak jemu mendidik kita menjadi anak soleh, kita membalasnya dengan menderhakai mereka lewat perbuatan kita yang telah sekian lama ditegahnya. Wajarkah?

Ayuhlah saudaraku, pecahkan tembok keegoan kita. Taatilah Allah.. Taatilah RasulNya dan taatilah ibu bapa yang telah mengasuh kita sejak dari kecil. kasihani mereka saudaraku.. Kita adalah amanah yang telah Allah SWT turunkan kepada mereka untuk dijaga. Sanggupkah kita melihat ibu dan ayah kita diazab di api nereka kerana perbuatan derhaka kita?

Break the siege!! Belajarlah untuk menderhaka pada maksiat!! semoga Allah mengampunkan dosa kita dan

Ahad, 27 November 2011

PERIPHERAL POSTING OF PEADIATRIC : FATIMAH ONCALL

0


Bismillahi Alhamdulillah.. segala puja dan puji dipersembahkan buat Rabb yang Maha Agung, Pemilik mutlak jiwa-jiwa yang masih terus diberi kesempatan menjalani kehidupan di dunia fana ini.

Sedikit perkongsian setelah menjalani fase tugas di hospital Daerah di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Siti Fatimah. Selama 1 minggu bertugas di rumah sakit yang terkenal sebagai rumah sakit yang “paling sibuk” dikota ini, diri belajar banyak hal baik dari segi nilai dan juga dari segi ilmu medisnya. Menurut Kak Hajar, salah seorang perawat senior di Fatimah, rata-rata kelahiran perhari yang diterima oleh rumah sakit ini minimal 10 kelahiran. Baik persalinan normal (partus) mahupun malalui pembedahan, Section Cessarean. Paling maksimal bisa mencapai hingga 20-30 kelahiran. MasyaAllah. Kebanyakan masyarakat memilih Rumah sakit ini lantaran ia dibiaya penuh oleh pemerintah Indonesia. Tidak seperti Rumah sakit lain yang mereka harus membayar lagi jasa dokter dan tenaga medis yang tidak sedikit jumlahnya. Maka di Fatimah, kakitangannya benar-benar bekerja di luar dari keuntungan semata. tiada insentif yang dikenakan atas jasa mereka, tiada uang jaminan tambahan gaji.

Kesibukan bekerja disini benar-benar menguji eksistensi diri dalam menjalani hidup di dunia kedokteran. Apatah lagi saat diri harus bertindak sebagai “lone ranger” lantaran teman yang seharusnya masuk bersama mengundurkan diri kerna jatuh sakit. Diri hanya sempat tidur selama 2 jam paling lama dalam sehari kerna saking sibuknya.

Mana tidaknya Sectio Cessarian paling kurang 5-6 dalam sehari yang mengharuskan diri untuk ikut serta, menyambut bayi yang baru lahir sekaligus memberikan pertolongan pertama, “hangatkan, posisikan, bersihkan jalan napas, keringkan, ransang taktil dan reposisi” serta menilai APGAR SCORE bagi bayi-bayi ini. Banyak bayi yang lahir tidak menangis yang harus ditangani segera, bayi yang lahir dengan kelainan congenital seperti encepahly, meningeocele, dan hidrocephalus, dan banyak lagi kes yang gawat (emergency). Memandangkan dokter residen tidak masuk ke ruang operasi, maka diri sebagai co-ass lah yang bertanggungjawab penuh melakukan first aid tersebut. Nah, disitu terkuras segala ilmu yang telah dipelajari teorinya sewaktu kuliah dulu serta ilmu CSL yang diperuntukkan. Di situ diri dilatih untuk menggalas tanggungjawab yang maha berat untuk menyelamatkan nyawa makhluk kecil yang tidak berdaya itu. Kadang biar perawat dan bidan senior juga mengharapkan diri yang setahun jagung ini untuk mengatasi kerna mungkin difikirannya mereka, masih banyak hal yang belum mereka ketahui.

Pengalaman menyaksikan SC sangat menginsafkan. Melihat perjuangan sang ibu yang tak kenal lelah berusaha untuk melahirkan anaknya. Bertaruh nyawa di meja operasi. Betapa cinta dan sayang yang lahir dari ketelusan hati meleburkan siksa dan sengsara yang merantai. Melihat kebahagiaan dari sang ayah yang erat menampung tubuh mungil sambil di azankan. Suasana yang sangat harmonis dan bahagia. Seorang anak yang lahir dengan seribu harapan, berjuta kebahagiaan. Banyak kisah yang kusaksikan. Ada juga ykisah yang sebaliknya. Saat sang anak tidak berjaya diselamatkan, sang ibu meraung histeris. Minta nyawanya diganti dengan nyawa sang anak. Dalam kisah lain, ayah yang berwajah dingin menjualkan anaknya yang masih belum sampai 1 jam menghirup udara dunia yang fana dengan tukaran uang Rupiah. Tanpa belas. Tanpa kasihan. Nauzubillahi min dzalik..

Selain SC, diri harus standby di bagian NICU (Neonatal Intensive Care Unit) yang menempatkan bayi-bayi yang bermasalah. Banyak yang didapatkan di sini adalah bayi dengan berat badan lahir rendah (low birth weight), premature, bayi dengan Respiratory distress, icterus neonatorum, sepsis, dan sebagainya. Bayi-bayi ini memerlukan perhatian yang baik dan penjagaan yang teleti untuk melewati fase yang maha berat ini dikehidupan mereka. Di sini diri di ajar untuk menghitung keperluan harian bayi dan mengatur jadual susu mereka. Kasihan melihat tubuh-tubuh kecil yang tidak berdosa, bersusah payah berjuang untuk menyambung kehidupan. Berjuang untuk mengembangkan paru menghirup udara. Ada yang menyerah duluan, tidak sanggup menghadapi kerasnya hidup, ada yang terus berjuang dan ada yang akhirnya berjaya melewati. Semua sesuai dengan aturan Allah, Sang Pengatur segala perancangan.

Diri terlatih untuk peka pada tangisan sang bayi, entah kerna popoknya (pampers basah), entah kerna laparnya (beri susu) atau entah kerna kesakitan (phlebitis etc). sepanjang malam harus berjaga untuk memastikan kondisi bayi tetap baik. Walau sangat memenatkan namun disitulah seninya sabar dan berkorban. Tambah membebankan saat harus menulis status patient yang akan difollow up pada besoknya. “nyanyian langka” patient seramai kurang lebih totalnya 50 orang perhari harus disiapkan dalam satu malam. Benar-benar menguji kekuatan mental fisikal.
Kepercayaan dokter atas diri bernilai segalanya. Dokter yang sibuk dengan ujian akhir memberikan keperayaan kepada diri untuk memeriksa dan meresepkan obat dan konsultasi (inform concern) kepada bayi dengan persalinan normal sekaligus memberi kuasa penuh untuk memulangkan pasien setelah memastikan kondisi bayi baik dan sehat.

Alhamdulillah dengan bantuan dokter bertugas, Dr.fauzin, dan dokter-dokter yang jaga, bidan, perawat dan mahasiswa yang ada disana, diri berjaya mengharungi badai kesibukan tersebut. Mereka semua kasihan melihat diri yang tidak sempat istirehat gara-gara badai kesibukan yang merantai. Namun di situ kita harus menunjukkan betapa kita berbeda sama orang lain kerna kita melakukan pekerjaan ini bukan hanya atas dasar tugas yang terbeban dipundak. Malah lebih dari itu… kita melakukan pekerjaan ini atas dasar kasih sayang dan belas kasihan. Melakukan kebajikan bermaharkan pengorbanan untu meraih cintaNya. Setiap hari diri akan memulakan hari dengan semangat yang baru dan senyuman yang merawat biar suasana harmonis untuk bekerja bisa tercipta. Mereka hairan kenapa diri bisa bertahan, sedang hakikatnya Allah lah yang memberikan kekuatan lewat doa dan pengharapan hanya kepadaNya.

Terima kasih buat semua warga Fatimah yang menyambut diri dengan penuh hangat..
Dr.Fauzin, Ibu Hasni yang tak kenal jemu menjaga kebajikan makanan dan tempat istirehatku, Kak Hajar,yang mengajarkan tentang keikhlasan (ternyata kita satu tarbiyah kak di’), Kak Marwah yang mempercayakan diri ini untuk menyambut kelahiran bayi abnormal, Kak Mia yang memberi peluang untuk melakukan banyak tindakan, Kak Asdar, diri banyak belajar tentang sifat care dan ketelitian darimu kakak, Kak Adet, Kak Yuyun, terima kasih menjadi teman terbaikku, Kak Vivin dan adik2 mahasiswa yang banyak membantu. Ida, semoga persahabatan akan kekal hingga ke syurga.

Semoga bekal yang telah diri perolehi diri akan menjadi suatu pengalaman bermakna dalam meniti kehidupan sebagai seorang dokter nanti..amin..

Selasa, 15 November 2011

DIAM

0


Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam memberi komen..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam menegur..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam memberi nasihat..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam memprotes..
Kadang-kadang kita hanya perlu DIAM dalam persetujuan..
...
tapi..

Biarlah DIAM kita mereka faham ertinya..
Biarlah DIAM kita mereka terkesan maknanya..
Biarlah DIAM kita mereka maklum maksudnya..
Biarlah DIAM kita mereka terima tujuannya..

kerana..

DIAM kita mungkin disalah tafsir
DIAM kita mungkin mengundang syak wasangka
DIAM kita mungkin disilap terjemah..
DIAM kita mungkin tidak membawa apa-apa maksud..

maka..

jika kita merasakan DIAM itu terbaik..
seharusnya kita DIAM..
namun seandainya DIAM kita bukanlah sesuatu yang bijak..
berkatalah sehingga mereka DIAM…

[creditted to Wan Nor Fazlina]

Jumaat, 11 November 2011

MY BESTFRIEND'S WEDDING

0


Selamat Pengantin BaruAlign Center
Album : Layar Keinsafan
Munsyid : Mestica
http://liriknasyid.com



kami ucapkan selamat pengantin baru
kekal abadi buat selamanya
berbahagialah suri di dalam rumah tangga
kasih yang bersemi mula mekar berbunga

pernikahan adalah diperintahkan
sunnah baginda yang dimuliakan
bahtera dikemudi bersama sehaluan
keimanan di hati dijadikan pedoman

pabila dua hati bercantum menjadi satu
kata disepakati tanda telah setuju
majlis diraikan pengantin tersimpuh malu
santapan dihidangkan buat para tetamu

rasul berbangga dengan ummat yang ramai
kerana itulah kita digalakkannya
tanda agama indah berkembang
ummat islam maju gemilang
terbina ummat yang terbilang
persaudaraan

"SEMOGA MEMBENTUK KELUARGA YANG SAKINAH, MAWADDAH WA RAHMAH"

Rabu, 2 November 2011

SANTAPAN PAGI

0


Setelah melalui hari yang melelahkan, pulang ke rumah untuk isterehat sebentar sebelum menempuh lagi hari baru yang penuh cabaran sebaik 7.00 am nanti. Jam menunjukkan angka 4.30 pagi. Azan subuh sudah berkumandang sebagai penanda bagi hari baru yang penuh dengan sinar cahaya dan harapan. Kepala oleng (pening) sebagai manifestasi kelelahan, tidak cukup tidur dan lapar. Sebaik sahaja menunaikan solat subuh, diri lansung rebah di hamparan tilam.. Tidur pulas. Tidak ada lagi yang bisa difikirkan kecuali mahu sekali istirehat.

Terjaga jam 6.30 am. Kakak sudah menyiapkan makan pagi. Cucur kentang, kentang goreng bersama teh susu yang kelihatannya sangat enak. “Jom makan” ajak kakak. Wah, jarang sebenarnya kami makan pagi bersama di kamar kecuali hari libur (cuti) dan kami sama-sama berada di kamar.

Cucur kentang kakak benar-benar memberikan motivational support pada diri yang semakin lesu menghadapi hari-hari awal di bagian pediatric. Mungkin kerna kakak yang telah terlebih dahulu melalui department ini lebih memahami kesengsaraannya. Stress tingkat tinggi. Penat yang mengasak jasad.

Alhamdulillah puji dan syukur kehadrat Allah kerna dikurniakan sahabat seperjuangan yang mengerti situasi. Terharu. Jadi teringat pada satu tazkirah yang pernah diri baca:

Kita dididik menjadi ummat yang berakhlak. Kita selalu dituntun oleh Allah dan RasulNya menjadi orang-orang yang mahu berkorban dan memberi. Berkorban untuk memberi petunjuk kepada orang lain. Dengan cara apapun. Memberi untuk meringankan beban orang lain. Memberi apapun. Berusaha untuk menyampaikan kebaikan pada orang lain. Kebaikan apapun. Meski harus membebani, menyulitkan diri kita sendiri. Kita selalu diajarkan untuk menebar kebaikan di mana sahaja. Menjadi umat yang laksana lebah. Hinggap ditempat yang baik, menghisap yang paling baik, dan menyebarkan yang baik dan bermanfaat bagi manusia. Itulah akhlak kita. Itulah cirri khas dan jati diri ummat kita, sejarah kita.

Kita tidak diajarkan seperti lalat. Yang hinggap ditempat yang paling kotor, mengambil yang kotor dan menyebarkan kekotoran itu untuk merusak manusia.

Ini memang logika pahala, amal soleh, yang didorong oleh keimanan. Imanlah yang mendorong orang untuk berbuat baik, meski secara kasat, mungkin sia-sia, bahkan bisa berupa beban atau kesulitan. Kebaikan harus diberikan kepada siapa sahaja. Keadilan juga harus diberikan kepada siapa sahaja. Kezaliman harus dijauhkan dari siapa sahaja. Itulah sendi-sendi ajaran Islam yang diberikan kepada kita. Memberi tanpa mengharap balasan. Berkorban tanpa meminta hadiah.

Jangan mundur memberi pengorbanan untuk orang lain. jangan berhenti memberi dan berusaha untuk melahirkan kebahagiaan untuk orang lain. mungkin saja ada yang tidak setuju dengan bentuk pengorbanan yang kita berikan kepada orang lain kerana dianggap menyulitkan diri sendiri. Mungkin juga ada yang menganggap upaya kita untuk kebahagiaan orang lain itu, membebani dan tidak ada gunanya. Bahkan tidak menutup kemungkinan, bila kita jujur dan tulus pada orang lain, orang mungkin akan mempergunakan kita dan menindas kita. Tapi tetaplah jujur dan telus. Jika kita mengalami kebahagiaan dan ketenangan, mungkin ada orang yang iri. Tapi tetaplah syukuri kebahagiaan kita. Kebaikan kita hari ini gampang dan sering dilupakan orang. Tapi jangan berhenti melakukan kebaikan. Kerna inti masalahnya, ada di antara kita dan Allah, bukan antara kita dengan manusia. Siapapun dia.

Terima kasih kakak untuk santapan pagi yang penuh dengan motivasi.. ^_^

Selasa, 1 November 2011

HARI YANG MEMENATKAN

0



Malam tadi diri ditugaskan untuk standby di Neonatal Intensive Care Unit (NICU). NICU adalah ruang ICU yang dikhaskan untuk bayi baru lahir yang bermasalah. Baik berat badan lahir rendah, lahir tidak cukup bulan (premature), lahir dengan New Born Distress Syndrome, atau dengan kelainan-kelainan yang lain seperti hemangioma, sepsis,septal defect, icterus neonatorum, dan pelbagai lagi penyakit lain. jadi tidak hairan apabila di bagian ini kita diharuskan untuk standby 12 jam @ sepanjang malam. Memastikan bayi-bayi kecil ini dalam kondisi aman terkendali.

Pagi ini ditugaskan untuk menjadi Penanggungjawab Laboratorium (PJ Lab). Kerjanya PJ Lab adalah menghantar sampel untuk pemeriksaan lab seperti darah, urine, faces, cairan bilas lambung dan sebagainya di samping harus mencari hasil laboratorium yang telah selesai dip roses. Sebenarnya kerja ini bukan tugas co-assistant seperti kami namun kerna katanya jika mengharapkan petugas laboratorium yang datang secara berkala itu lambat sedangkan hasil mahu dikerjakan secara cepat, maka tugas itu dibebankan ke atas pundak kami, co-assistant bagian pediatric minggu pertama.

Tugas yang benar-benar diri rasakan tidak masuk akal. Meski kami adalah co-assiatant, namun tugas utama kami masih sebagai mahasiswa yang meniti jengjang pendidikan. Yang mana seharusnya setiap tugas yang dibebankan kepada kami adalah tugas yang membantu pendidikan kami sebagai calon dokter. Berulang alik menempuh jarak yang tidak dekat untuk ke laboratorium benar-benar melelahkan. Belum lagi bab mencari hasil laboratorium yang telah diproses di laboratorium sentral atau di laboratorium unit gawat darurat yang jauh dan dimarah-marah tidak jelas oleh petugas laboratorium, hasil yang tidak jelas di laboratorium, hasil yang hilang dan sebagainya, amat menguji kesabaran. Tidak ada sama sekali yang bisa dipelajari kerana keletihan memanjat saat “serangan” sampel yang perlu dihantar tidak pernah berhenti.

Siangnya harus kembali bertugas di NICU selama 8 jam. Berdiri dan menguruskan semuanya tentang bayi kecil. Malamnya masih ditugaskan sebagai PJ Lab dan banyak pula yang harus dihantar segera (CITO). Aduh, kaki sudah pegal, badan benar-benar lelah. Baru teringat bahawa diri belum menjamah makanan dari tadi malam. Aduh, hanya mampu bertahan dengan sisa tenaga yang ada. Mahu sekali tidur. Namun sampel yang perlu dihantar tidak mengenal ampun. Menyebabkan diri tidak sempat tidur sampai jam menunjukkan angka 3.30am.

Kembali dikejutkan oleh teman sejawat kerna dipanggil oleh dokter ke PICU (pediatric intensive care unit. Ada seorang pesakit anak yang harus di periksa gula darah sewaktu (GDS) setiap jam. Diri diarahkan untuk meminjam alat pemeriksa GDS dari laboratorium unit gawat darurat memandangkan lab central hanya beroperasi sesuai waktu kerja. Malangnya, petugas lab tidak bisa meminjamkan alat tersebut untuk sepanjang malam kerna di unit gawat darurat juga ada 2 orang pesakit yang harus diperiksa GDS per jam. Dan kondisi mereka kritis. Diri dibolehkan untuk meminjam alat tersebut dipulangkan kembali setiap jamnya. Kerna hanya 1 alat yang berfungsi. Please deh.. besarnya rumah sakit Wahidin sebagai rumah sakit rujukan hanya memiliki 1 alat pemeriksaan GDS yang harga satunya tidak mencapai 500k. benar-benar mengecewakan.

Menelefon dokter. Dokter tetap berkeras untuk mendapatkan alat tersebut. Marah-marah. dan diri sebagai PJ Lab yang tersepit (terjepit) ditengah masalah. Diri yang bakal menjadi korban keadaan. Terpaksa menempuh jarak jauh berulang alik untuk mengambil dan memulangkan alat GDS untuk kepentingan bersama. Amat sadis. Penat. Lapar. Pegal. Lelah. Kecewa. Semua teradun dalam satu diri. Sistem yang benar-benar kejam ini membuat akal tiba terfikir “benarkah kehidupan seperti ini yang diri impikan? Benarkah pilihan yang telah diri ambil untuk terjun ke bidang kedokteran?” kehidupan yang memenatkan. Pertama kalinya dalam kehidupan co-ass ku mengharungi hari seperti ini. namun diri yakin jika ini hanya sebuah permulaan. Permulaan kepada kehidupan yang lebih penat dan melelahkan. Ya.. lebih banyak lagi yang harus ditempuh. Surgery. O&G. Anesthesi. Forensic. Tiada henti.

Tapi setelah berfikir ulang, this is it. Untuk bisa memilih hal yang ingin kita lakukan dalam hidup adalah suatu anugerah. Tidak semua hal dalam perjalanan ini kita sukai. Termasuk juga dalam hal yang telah kita pilih. Namun disitulah seninya untuk kita bertahan dan terus melangkah. Menuju puncak itu susah dan berat namun saat bertahan di puncak itu sebenarnya jauh lebih berat. Jadi perjalanan berat menuju puncak itu harusnya menjadi suatu persediaan dan motivasi supaya kita menjadi lebih tegar bukan malah menyerah dipertengahan jalan. Kadang, hal yang tidak kita sukai itu justeru, yang mendidik kita untuk menjadi perkasa..
Maka, bertahanlah dan teruskan berjuang.