Skinpress Rss

Memaparkan catatan dengan label MY STORY. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label MY STORY. Papar semua catatan

Sabtu, 24 November 2012

PENGORBANAN TERINDAH

3



membaca sebuah cerpen yang keren.. hanya perlu 2 saat untuk empangan airmata pecah dan mengguyurkan airmata tanpa henti.. pengorbanan tidak butuh untuk diungkapkan setiap satunya.. ia sebaliknya menjadi sangat indah saat dirahsiakan.. dan waktu tetap saja akan mengungkapkannya dalam garis cerita tersendiri..

(kisah seorang kakak dan adik) ^^,

by Uswatul Hasanah on Friday, October 19, 2012 at 5:21pm ·
~~,Sebuah Kisah untuk kita renungkan dan jadikan motivasi...

  Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil..Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu ditangannya. "Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus-menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.

Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, halmemalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!" Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik... hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?" Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku. " Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini."

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang." Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampaike tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana! "Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?" Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga!

Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..." Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"

Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskansedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.

Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini." Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.

Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?" Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah, "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!""Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sendoknya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

apa bisakah kita memiliki jiwa besar seperti si adik yang seperti dalam cerita, ... tapi bagaimanapun, yang namanya Saudara patut kita jaga dan kita hormati, apakah itu seorang adik atau seorang kakak. Karena apa arti hidup kalau tidak bisa membahagiakan saudara dan keluarga kita..^^, 

Sabtu, 18 Ogos 2012

POHON BULAN

0



by: Ulfa Hidayati on Saturday, December 24,2011 at8.52 am

“Besok penerbangannya pukul 09:00, artinya dia sudah di Bandara sekitar pukul 08:00. Yah, saya harus cepat bangun agar saya bisa tepat tiba di sana tepat waktu”.
Bisikku dalam hati, mencoba menyemangati diri sebelum menggelar selimutku untuk tidur. Denting jam seperti mengerti kalau detak jantungku sangat berharap sejalan seirama dengannya. Mataku mulai letih, tapi saya masih berusaha menatap satu foto yang sengaja ku jepit di pita baju yang ku gantung di samping madingku. Melekat sekali wajah itu seperti ia sedang tersenyum nyata di depanku.
“Tunggu aku besok, tolong jangan pergi sebelum aku datang… please, please, please.. Meski diriku bukanlah sahabat lamamu dan belum menjadi teman karibmu..”

            Kring.. Kring.. Kring… treekkk,,brukkk…pling pling pling..
15 menit kemudian..

“Salsaa, salsa, bangun.. waktu subuh sudah lewat Nak. Cepetan gih”.
 Mama memanggil dari luar kamar berkali-kali.
“Fiuh,, masih juga subuh Ma. Ntar lagi gih.. ??? Apppaaa,, subuuhhh???”.
Saya terperangah. Saya mencari alarm sialku itu yang tidak membangunkanku. Saya nyaris marah saat melihat alarm ku pecah berserakan di lantai. Ku ulang kembali memori, mencari penyebab jatuhnya alarm mungil ini dengan gambar minny mouse nya menambah warna indahnya. Ternyata tadi subuh, saya sendiri yang melemparnya ke lantai. Fiuh,,dengan sangat menyesal.. ku lihat ponselku, menunjukan pukul 05:45. L

            Setelah mandi dan sholat subuh, saya menyiapkan sebuah hadiah kecil. Tak terlalu memang tapi isinya juga berharga seperti dia yang ku anggap saudaraku. Setelah hadiah kecil itu selesai saya beranjak membersihkan diri, menyetrika, lalu kemudian bersiap meretas jalan menuju Bandara. Waktu sudah menunjukkan pukul 07:32, kaki kananku mulai beranjak dari teras rumah setelah pamit sama orang tuaku tercinta. Hmm, mereka tak tahu kalau hari ini saya keluar rumah bukan untuk kepentingan mengajar tapi untuk bersua sahabat ku yang kini benar-benar akan pergi meninggalkan NKRI ini. Kenapa mesti ke Indonesia kalau juga toh kau akan pergi juga nantinya meninggalkan Negara ini? Kenapa kau hanya menyisakan kenangan saja? Kenapa tak kau simpan raga mu bersama kami? Ah, pikiranku memang ngaco terus dari kemarin.

Sebut saja sahabatku ini Vinta. Ia mahasiswa Malaysia yang belajar di Indonesia. Mengambil Fakultas Kedokteran. Cerdas memang dia, ku acungkan jempolku. Memang tidak lama saya mengenalnya. Hanya berawal dari perkenalan kecil dari temannya yang Alhamdulillah masih bisa terjalin hingga detik ini.
Sms masuk:
“Saa,,dimana?? Vinta dah mau tiba di Bandara nihh.. lammaaa kali kau sa..”.
“Dasar Sessy cerewet,sabar aja napa???  Ini juga dah di jalan. Macet tau.”
Balasanku di Sessy ternyata juga membuatku panic. Nyaris jam 08:00 sekarang. Macet, sekitar 2 blok. “Pak, bisa cepetan gak?”.
“Iyya neng, ini juga dah cepetan tapi yah mau gimana lagi. Macet neng”.
Si Bapak taksi ini benar. Mau cepat pun tak bisa. Macet beneran panjang skali. Kalau saya menunggu jalan ini mungkin  pesawat Vinta sudah take off. Hmm,saya harus lari meskipun jarak yang ku tempuh masih sekitar 10 km. minimal sekarang saya meleewati macet ini dulu. Setelah memberi sopir taksinya uang, saya pun berlari di tengah jalan raya.

 Kaki ku mulai sakit, apalagi jalan juga banyak yang rusak karena saat ini musim sedang berganti dengan hujan. Bicara tentang hujan, saat ini benar-benar ada tanda-tanda akan turun hujan. Saya sudah melewati pusat kemacetan. Tak ada taksi, angkot pun jadi. Pukul 08:10 saat ini. Ngos-ngosan sudah saya, badan mulai berkeringat berinringan dengan sebuah sms masuk lagi.
“Sa, aku gak tahu apa kamu ke Bandara apa tidak. Tapi, aku benar-benar sedih harus meninggalkan Indonesia tanpa ketemu kamu untuk terakhir kalinya”.
Sekejap, air mataku mengalir. Tak ku pedulikan penumpang mau bilang apa tentangku. Ku pencet tombol panggilan.
“Halo Vin, sekarang aku menuju Bandara. Tolong jangan pergi sebelum aku datang Vin. Aku mohon. Dah deket kok, nyaris nyampe aku ni. Vin, Vinta??”.. hanya isak tangis ku dengar di seberang sana.
“Vin, aku gak peduli. Bagaimana pun keadaan kamu sekarang aku Cuma mau bilang. Tolong jangan pergi sebelum aku datang. Aku janji akan lebih cepat Vin, Oke?!!”.. tut..tut..tut..tut..tut..

            Saya hanya bisa menghela nafas panjang. Angkot hanya bisa berhenti di depan Bandara. Sekitar sekilo lagi perjalananku baru bisa sampai. Tak ku lihat 1 pun Bus Bandara terparkir ria di sana. Terpaksa, lagi dan lagi saya berlari. Rasanya nafasku sudah setengah-setengah. Tenagaku terkuras. Kaki ku sakit. Badanku basah karena keringat, kalau tahu begini kejadiannya tak perlu repot-repot tadi ku setrika sedemikian rapinya Karena toh ujungnya pun akan kusut singset tak karuan begini. Hujan kini menemaniku berlari. Banyak mata yang memandangku. Sedkit lagi Salsa, 10 meter lagi. Ayo lari Sa, lari, lari. Ku bayangkan kini diriku di kejar sebuah buldoser yang akan menghaluskan badanku dengan tanah. Lari ku sangat kuat dan akhirnya sampai juga saya di pintu pemberangkatan. Cepat mataku mencari sosok sahabatku itu.

“Vinta, vinta, kamu dimana Vin?”. Saya belum menemukannya. Saya masih mencari di kerumunan orang. Dann, ku dapat Vinta itu tapi sudah memberikan tiketnya pada petugas.
Segenap tenagaku teriak “Vintaaaaaaa…… Vintaaaaa…. Tungguuuu…!!!!”
Ku lihat teman-temanku yang lain menoleh ke arahku. Air mataku berlinang. “Vintaa..” masih saja ku teriaki anak itu. Dasar anak keras kepala kau Vinta, saya sudah capek-capek ke sini dank au tak menemui sedikitpun sementara kau akan pergi dan entah akan kembali apa tidak???

Vinta menoleh ke arahku. Ia langsung menjatuhkan tasnya dan berlari ke arahku. Ku rasakan dengan sangat badannya menubruk badan kurusku. Benar-benar seperti adegan romantic di film-film india tapi saya masih juga memeluk badannya dengan tak mampu berkata-kata lagi. Saya juga Vinta, menangis sejadi-jadinya. Vinta melepaskan pelukannya, begitupun aku. “Sa, makasih kamu sudah mau datang. Saya menunggu mu dari tadi. Sampai kamu harus basah kuyup begini. Benar-benar kesan terakhir yang jelek yang ku titipkan padamu Sa”. “Vin, gak ada kesan jelek. Semua indah, saya mencintaimu karena Allah. Tolong jangan lupakan kami sahabat-sahabatmu. Ini ada bingkisan manisku untukmu. Buka saat kamu sudah di Malaysia. Maaf, nilainya mungkin tidak semahal kasih sayangmu Vin tapi hanya itu yang bisa ke berikan untukmu. Ku tahu kamu sulit lagi kembali ke Indonesia. Vin, dulu kita pernah mimpi. Kalau harus memilih, maka kamu mau kita jadi pohon agar kita tidak akan terpisah 1 sama lain. Meskipun kita di tebang, layu, dan akhirnya mati tetap akar kita akan tetap menyatu dan berdekatan. Kini, susah untukku menjadi pohonmu lagi karena kini kita benar-benar jauh. Tapi Vin, kalau kamu merindukan kami sahabat-sahabat mu.. keluarlah, tutup matamu dan rasakan angin. Angin akan meringankan beban rindu itu dan membawanya pada kami. Dan, lihatlah bulan di malam hati Vin. Pohon Bulan itu adalah diriku yang akan selalu memandangmu dari jauh hingga Allah lah yang mempertemukan kita”. Ku sebarkan senyumku, tapi Vinta hanya bisa mengangguk dan terisak.

Perlahan, Vinta menghilang di kerumunan orang. Mungkin kini dia sudah tersenyum memandang Bulan Pohon itu.. Miss U, Siztah..!!!

Khamis, 9 Ogos 2012

TENDANGAN MAUT (LANGIT)

0


so..here you go..

“Lapangannya mahu disegel, Kang,” kata Aziz. Kami semua mendengar kalimat ini dan menoleh. Aku berlari mengejar bola hingga ke pinggir lapangan.menghentikannya, dan membawanya dengan tangan. Semua orang merapat.
“Disegel?” ulang Wolf.
“Disegel!” Aziz, mendongak menatap Wolf, berkata keras. Bangga memakai kosakata baru itu; segel.
“Apa yang disegel?” Jendra, terengah letih mendekat dengan kedua tangan dipinggangnya.
“Kata siapa?” Tanya Wolf, merendahkan suara.
“Kata Pak Winarno!” teriak Aziz, tanpa menyesuaikan intonasi.
Pak Winarno itu sekretaris desa.
“Apa yang disegel?” ulang Jendra.
“Bilang nggak kenapa disegel?” Tanya Wolf pelan—masih dalam tekanan suara khas penuh wibawa lulusan PM gontor dan Universitas Al-Azhar yang dibanggakan semua orang itu.
“Katanya berisik Kang, tiap sore mengganggu aktivitas mesjid dan ketertiban masyarakat. “ saat itu aku belajar bahawa kalimat copy-paste dari ingatan kanak-kanak memang sungguh canggih.
“Apanya yang disegel?” ulang Jendra lagi.
Jawab Aziz “Ini udah mau dipasang papan disitu, Kang…”
“WOI, APANYA YANG DISEGEL?!?” Jendra—stres.
“Lapangan…”jawab Wolf. Namun sebelum ia selesai dengan kalimatnya, semua orang dalam kerumunan tiba-tiba menoleh ke pinggir lapangan. Dari arah mesjid, bapak-bapak itu berdatangan. Pak Sekretaris  Desa berjalan paling depan. Ia membawa sesuatu yang dibungkus kertas Koran. Semacam papan. Di belakangnya, berjalan dua laki-laki gagah dalam seragam hijau dan topi hijau yang tidak lama kemudian menjadi sangat popular dalam sebuah situs komunitas Indonesia di internet. Hansip. Masing-masing membawa sebilah kayu.

Pak Sekdes memandang kami. Jenggot hitam panjangnya bergerak-gerak saat sudut-sudut bibirnya tertarik ke sana sini. Ia meletakkan bungkusannya di tanah. Meletakkan tangan dipinggang. Lalu, menunjuk-nunjuk. Dalam sekejap, kedua lelaki dalam topi hansip itu bekerja.
Kami berjalan ke sana. Wolf paling depan, mendekati Pak Sekdes. Tanyanya, dalam tutur anak PM Gontor featuring Universitas Al-Azhar yang sangat khas, yang amat sopan itu
“Ada apa ini, Pak?”
“NDA BOLEH MAIN DISINI LAGI!” teriaknya—kami terlonjak kaget.
“Ngerti?! Bocah-bocah gak iso diatur! Sudah dikasih tahu, jangan rebut disamping masjid! Masjid itu tempat ibadah, tempat ibadah itu kudune tenang!”
“Soal masjid tempat ibadah semua juga tahu, Pak, salahe lapangannya disamping masjid,” kata Zul—teman dekat Jendra sejak SD. Memusuhi Pak Sekdes sejak mereka dikejar-kejar gara-gara main petesan sehabis sahur pada bulan puasa waktu masih seusia Aziz.
Pak Sekdes melotot. “ini lapangan harus tetap bersih biar bisa dipakai buat acara kampung!”
Jendra baru akan berkata sesuatu—tetapi Wolf menepuk tangannya, dengarkan dia dulu.
“Pokoknya, ndak boleh main bola disini lagi!”
“Terus, kita main bola di mana dong Pak?” Tanya Aziz. Memelas.
“Yo ra urus!”
“Pak” kata Wolf. “gimana kalo kita janji nggak akan main bola setelah Magrib?”
“Kita juga biasa berhenti main kalo sudah Magrib,” tambahku.
“pengajian ba’da Asar minggu lalu disini tidak bis tenang, inget?!” kedua tangannya terpasang lebih kencang pada pinggang. Kemudian, dia membelakangi kami, menyuruh-nyuruh kedua hansipnya. Dua hansip itu kini memakukan papan yang dia bawa pada bilah kayu. Kemudian mendirikannya.
Sekarang, kami tak punya pilihan. Papan itu ditegakkan. Dan kami membubarkan diri. Esok harinya lapangan itu dipasang portal.

-----------xx----------------------------xx----------------------------------------xx-----------------

Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dengan lapangan itu. Cuma lapangan rumput liar, tak seberapa luas disamping masjid kampung. Sisi utara dibatasi tembok masjid, sisi selatan, rumah Kepala Desa. Sisi Barat dipagari jalinan kawat yang sudah terburai-burai—dibelakangnya belantara liar. Ada banyak lapangan futsal yang lebih bagus dengan rumput sintetis import kalau saja kami mahu sedikit repot untuk jalan ke pusat kota. Namun, disana kami tidak bisa bertelanjang dada, berteriak sekeras-kerasnya dan terutama sekali harus membayar.

Jadi lapangan rumput itu dengan begitu saja menjadi tempat berkumpul anak laki-laki dikampung. Dari segala usia. Semua anak-anak squad, sejak lulus SMP, bereuni disini.  Attar pernah menghabiskan  beberapa tahun SMP di Bangka Belitung, ketika ikut kakek membuka lahan untuk kebun sawit disana—tetapi dia tetap pulang ke lapangan ini. Juga bersama anak-anak seragam putih-biru dan putih-merah yang akan segera bergabung dan melempar tas sekolah mereka bila melihat kami berkumpul.

Hari itu kami berkumpul lagi. Diruang tamu rumahku. Gerimis turun memenuhi kaca jendala dan membeceki lapangan diluar sana. Disiram air hujan, rerumputnya tampak tumbuh subur meninggi.  Jendra dan zul duduk dilantai. Di depan layar playstation, menatap lapangan bola digital mereka sendiri. Attar barbering disofa. Memeluk gitar. Tiba-tiba dia berkata
“Kita bisa singkirin portalnya”. Jreng.  Tidak ada jawaban setelah petikan gitar imaginer itu. Cuma terdengar riuh penonton bola imaginer dari layar PS.
“Ajak Aziz, ajak anak sekampung. Biarin aja papannya disitu.”
Tidak ada suara jreng, dan kali ini kami saling pandang. Wolf duduk di sofa—baru selesai solat—masih dalam baju koko,sarung, peci, dan Al-Quran kecil ditangannya, menoleh. Ia berdiri. “Yuk”. Lalu lenyap ke dalam kamar.
Attar ikut berdiri. Zul mematikan layar PS, aku bergegas mengambil bola. Bunda memanggil Wolf dan berusaha menyusulnya saat ia keluar kamar. Ia sudah melepas koko dan menggantikan sarung dengan sehelai boxer.
“Kan udah ndak boleh main disana?” ujarnya cemas.
“Nggak apa-apa Bunda,” bantah Wolf.
“Rasya, nanti kita mahu ke rumah Rara habis Magrib..!!” Rara itu calon isteri Wolf. Pernikahan mereka kurang dari satu bulan lagi.
“Kan habis Magrib,Bunda.” Wolf memasukkan diri ke dalam kaos merah Liverpool-nya. “I’ll be back then, Bunda gak usah khawatir…”
“Hujan nak. Jendra, Attar, hujan..Zul, Langit…”
“Astaga Bunda, kita kan sudah besar…,” Attar keluar paling akhir. Bunda masih berusaha menyusul, mengangkat abayanya dan melangkah tergesa kedepan. Tetapi kami, tahu tanpa kerudung seperti itu, Bunda tidak akan sampai ke teras.

Jadi, satu persatu, kami berlari kecil, keluar ke tengah gerimis. Melewati setapak perkarangan, keluar pagar layaknya kesebelas yang keluar dari ruang ganti di babak kedua pertandingan (dibabak pertama biasanya mereka keluar bersama-sama anak kecil itu). Gerimis turun lebih renggang saat kami mencapai lapangan. Namun baju sudah kadung basah dan menempel di badan, jadi tak urung juga—kembali topless. Kami merunduk melewati portal, menyampirkan baju-baju disana. Aku melakukan kick-off. Dalam sebentar, teriakan kami terdengar ke seluruh penjuru kampung.

Wolf kebobolan gol dalam sepuluh menit. Aku bermain dipihak Ali dan Zul. Dua lawan tiga. Tidak imbang. Bim tidak ada hari ini—mengunjungi saudaranya di Semarang. Tetapi Aziz lewat saat hujan kembali turun deras. Dia berjalan dari warung, membawa paying kembang-kembang yang sudah patah salah satu rusuknya, dan kantong plastic hitam yang didekapnya didada.
Zul berteriak, “Azeeezz!! Woi!!”
Kalau Pak Sekdes sedang tidur, dia pasti sudah terbangun kaget. Aziz menoleh. Zul melambai, aku melambai. Anak itu tersenyum girang dengan gigi-gigi besarnya yang segera saja mencuat off-side.lalu, dia bergegas masuk ke rumah, meninggalkan payung dan kantong plastic berisi belanjaan ibunya untuk kemudian berlari menyusul kami.

There’s always something about football.

Kegembiraan yang tidak bisa didefinisikan saat bola bundar itu bergulir nyaman dikaki, juga misteri-misteri yang terjadi di antaranya. Kejutan-kejutan yang menyenangkan saat berada di area penalty lawan, dan perasaan bahwa ada kawan dalam posisi yang paling kita butuhkan saat-saat ini—semuanya lebih dari sekadar mencetak gol. Lebih dari itu.

Sore merambat turun, hujan semakin deras. Kami sudah tidak ingat berapa gol, berapa off-side, berapa pelanggaran. Yang ada hanya peluh bercampur air hujan. Aziz berteriak paling keras dengan suaranya yang belum akil baligh itu, berlari dari satu pojok ke pojok lain seperti kesetanan.
Pada saat itu Bu Lek Yani keluar. Berdiri di seberang masjid, di bawah paying patah rusuk itu.
“AZIZ!! PULANG!!”

Gemuruh menggelinding di ujung langit. Lalu sunyi. Bola mendarat diam di atas genangan lumpur.
Kukira Aziz akan keluar dengan pembelaan-pembelaan, alasan-alasan, memohon untuk terus bermain. Namun, tidak. Dia berlari ke portal, menarik bajunya yang basah. “pulang dulu, Kang” katanya kepada Wolf. Ia menunduk dibawah portal dan berlari menyonsong ibunya.
Harusnya Bu Lek Yani hanya perlu memayunginya sampai rumah—Aziz telah menurut dengan patuh. Tetapi, ia marah besar. Menarik satu telinga Aziz hingga kepalanya tertarik ke bawah, mencecer dengan kata-kata yang tidak bisa kami dengar. Wolf terpana melihat itu. Aziz berusaha menahan tangis—kerana tidak berani menangis.

Dia bahkan lupa membawa pulang sandal jepitnya. Anak itu usianya baru 10 tahun.
“You don’t do that to a kid,” kata Wolf. Seisi lapangan sunyi.
Bu Lek Yani bukan seorang yang galak. Kami mengenalnya. Suaminya sudah meninggal, dan Aziz anak satu-satunya. Jelas, ada yang tidak beres disini.  Pertanyaan ini terjawab waktu aku dan Jendra datang untuk mengembalikan sandal jepit itu.

Bu Lek Yani berjualan kue, dan menjadi buruh cuci untuk penghasilan tambahan. Ia mencuci dan menyeterika dirumahnya. Aziz kadang-kadang membantu mengantar-jemput cucian. Hari itu, teman kami itu membantu menyeterika. Duduk di lantai, menghadap lipatan selimut dan kain sarung yang dilapis-lapis sebagai landasan seterika. Ia sedang menyeterika sehelai baju seragam kerja. Baju seragam kerja itu milik Pak Sekdes.

[petikan dari novel : Believe, Karena Cinta Aku Percaya.. Tulisan: Morra Quatro]

Rabu, 18 Julai 2012

MELUKIS MATAHARI

0



Pernah kucoba pejamkan mata, membayangkan seperti apa diriku dikemudian hari....

Ah,kenapa aku selalu melihat sosokku dengan segala kesempurnaan....apa karena memang fitrah manusia yang selalu seperti itu???Mungkin kalian bilang "Iya", seperti halnya diriku. Tapi tidak untuk sosok satu ini. 

Perempuan tegar yang telah mengajarkanku arti keikhlasan. Itulah sosok yang aku maksud. Dia tidak pernah terlalu terobsesi untuk melakukan hal sesuai keinginannya. Justru yang selalu terlontar dari mulutnya "Takdirku...". Awalnya aku gregetan setiap kali kata itu terlontar dari mulutnya. Takdir, ya, memang takdir, tapi bukankah selalu menyelimuti diri dengan ketentuan kata "takdir" mencerminkan orang yang pesimis???!!!!Bukankah ada takdir yang dapat diubah????!!!!
Tapi itulah dia,Perempuan tegar yang telah mengajarkanku keikhlasan. Ikhlas????seperti apa implementasi kata yang konon "susah" pembuktiannya ini???!!!! Aku juga tidak tahu. Tapi lagi-lagi, dia kembali muncul sebagai perempuan tegar yang telah mengajarkanku keikhlasan.

"Aku lulus.....," senyumnya padaku dengan wajah yang sumringah. Ekspresiku yang semula deg-degan menanti hasil SNMPTN-nya langsung berubah, luapan haru yang tak terbendung. Bagaimana tidak, dia lulus di Perguruan Tinggi Negeri yang terbaik di Indonesia.
"Selamat,,,,kapan pendaftaran ulangnya, siapa2 saja yang lulus, ini....itu...????," aku sudah tak sabaran mencercanya dengan sejuta pertanyaan.
Wajah itu tetap tersenyum.Hingga akhirnya kata2 itu keluar dari mulutnya.
"Saya rasa cukup sampai disini, bisa lulus itu sudah kesyukuran besar untukku."
"Maksud kamu????"
"Kamu tahu,mendaftar SNMPTN ini hanya karena rasa kasihan mamaku melihatku. Lulus atau tidak, itu bukan persoalan bagiku.....awalnya. Bisa merasakan SNMPTN, lagi-lagi itu cukup bagiku. Kamu tahu, mamaku bukan mama seperti yang kamu punya. Eitzzz,,,,itu bukan salah mamaku.....memang takdirku seperti ini...., tapi ternyata bisa lulus, ya, setidaknya aku bisa membuktikan cerdas belum tentu harus kuliah....."Dia masih tetap dengan senyumnya mengatakan semua itu padaku. Setegar inikah dia???? Aku sendiri hampir frustasi saat tidak lulus SNMPTN beberapa tahun yang lalu.
"Tapi kan sayang......mubazir, banyak yang lain pengen lulus tapi tidak ketiban rejeki....."
"Bukan mubazir,,,,,tapi mencoba memaknai ujian Tuhan yang diberikan padaku....."




Senyum itu diiringi air mata. Perempuan Tegar yang telah mengajarkanku keikhlasan ternyata menangis.Apa yang terjadi?????


_Bersambung........._

[by Mulhaeri AlBanna on Sunday, July 15, 2012 at 1:13pm]

Rabu, 1 Februari 2012

AT LIFE'S CROSSROADS

0


~The path to my future seemed set – then 30 minutes changed everything
By FAISAL WASIM ISMAIL~


In 1989, fresh out of school, I had the intimidating task of choosing a career path before college started in three months. In those days in Pakistan, there were limited options: become a doctor or an engineer, or enter the corporate world after getting a business degree. I wasn’t interested in engineering, so that left medicine or business. I couldn’t decide.

My uncle, one of the elders in the family, suggested that I do a work placement to gain experience for a month in a multinational company followed by a month in a hospital. After that, I could make a decision. It seemed like a brilliant idea.

I was accepted for a month’s observatory placement at a foreign bank in Karachi. I tagged along with the sales and marketing people, and got a feel for how the world of finance functioned. I liked the professionalism, made new friends, and generally enjoyed the mostly easy-going work surroundings.

The month passed rapidly, and soon I began my stint at a leading hospital in Karachi. The experience couldn’t have been more different. The hospital had an intense environment, with the buzz in the wards contrasting with the eerie silence of the intensive care unit. The doctors were in a constant rush.

The days started early (at 7 am, compared to 9 am at the bank), and were filled with attending rounds, watching blood samples being taken, and rushing around with the team to the ward, intensive care and clinics. It seemed that everyone was always busy, that there was always work to do be done.

While I saw a good number of patients getting well and being discharged, I also witnessed a 16-year-old die. The family’s grief was difficult to handle.

And the night duties! Also known as night calls, they were essentially a 36-hour shift. This was insane, working all day, through the night, and again the next day.

I began thinking about my two experiences. The bank had offered a more relaxed atmosphere, better working hours and less stress. The hospital was full of excitement, and unpredictability, but the studying and training was tough. It seemed that the business option was going to win out.

Near the end of my month at the hospital, I was driving home after a particularly hectic night call. In front of me was a public bus, with college students sitting on the roof, clinging to a small metal railing. As the driver weaved through traffic, I could see the boys shaking from side to side.

Suddenly, a boy tumbled off the back of the bus. He hit the road face down, bounced once, and rolled over. He lay motionless in the middle of the road as the bus sped away.

The cars directly behind the bus braked to avoid the boy, but none stopped. Part of me understood – if he died, it would mean police involvement and unnecessary problems. In fact, I felt the same urge to keep going, but the urge to stop and help was stronger. I knew that if the boy was bleeding into his brain, he could die in a matter of minutes. He had to get to hospital quickly.

I stopped my car and carefully examined the boy, who appeared to be about 20. His face was covered in blood – he had a large gash on his forehead and another above his right ear. There didn’t seem to be any other injuries. I tried to apply pressure to the cuts to stem the bleeding but to no avail. With the help of some bystanders, I lifted his unconscious body into the back seat of my car.

I asked a couple of men to accompany me, but they shrank away from further involvement. I jumped in the car and raced back to the hospital. On reaching the emergency entrance, I shouted, “Head injury!” Paramedical staff whisked the boy into the emergency room, while I gave a quick history to the on-call doctor.

After a preliminary examination, the doctors determined that he was most likely bleeding into his brain. His family was contacted, and he was wheeled into emergency surgery. Since I wasn’t allowed into the operating room, I drove home, exhausted and troubled, the blood on my back seat serving as a reminder of my harrowing experience.

The next day, I went to the operating room to find out what had happened. A surgical aide said that a blood vessel had ruptured in the boy’s skull. The clot had been removed, the bleeding stopped, and the boy was recovering in the ward.

After learning that his name was Asif, I went to see him. His head was in a bandage, and there was excessive swelling around his eyes, but he was conscious. Asif’s parents, grandmother, brothers and sisters were sitting around his bed. The doctor introduced me as the “person who saved your son’s life”.

Everyone got up, with grateful smiles on their faces. The mother held my hands to her face and started weeping. “Son, you are an angel,” she repeated over and over in Urdu. After consoling her, I went over to Asif. He managed to smile and squeeze my hand. No words were spoken between us – none were needed.

What a feeling this was, to help save the life of another person! I spent the rest of the day in a state of exhilaration, the most fabulous mood I had ever experienced. Driving home that evening, I knew what I wanted to do for the rest of my life. Two months of placements could not do what 30 minutes helping an accident victim had done for me.

I enrolled in college for my medical studies and am now an assistant professor and practise as a specialist gastroenterologist in Karachi. I never saw Asif again, but I was told that he made a complete recovery.

We spend a lot of our time wondering about what path to take in our lives. This experience taught me that sometimes, you don’t really have to worry about the big decisions. At times, these decisions are made for you – and that whatever happens is always for the best.

Sabtu, 1 Januari 2011

THREE LITTLE WORDS

0


By Vikki Mount

Silly birthday cards were always the norm in my family. Sentimental cards with messages of love were viewed with disdain and a faint sense of embarrassment. Looking back now, I don't ever remember the words "I love you" being spoken.

Then, just before I turned 29, Dad retired and my parents moved from Victoria to Queensland. As I'm an only child, my friends were shocked that my parents could move so far away from me. I just shrugged, not feeling at all fazed by the situation - instead seeing it as an opportunity to have somewhere warm to go on holidays.

But six months into their retirement, my mother phoned to say she had some bad news: Dad had cancer. "But don't worry," she told me. It was lymphoma and the doctors had assured her this was the most treatable kind. With chemotherapy, he would be "right as rain" in a couple of months. However, when I arrived in Queensland for a visit two months later, I was shocked by my father's appearance. He was frail, underweight and had lost all his hair from the chemo. Although he was only 65, he looked as though he had aged 20 years.

It was a sad sight and I felt my emotions welling up inside. Before I knew what was happening, I fell upon my dad with hugs and kisses, and for the ?rst time in my life I said, "I love you, Dad!" He seemed a little taken aback, but awkwardly told me he loved me, too.

But the tidal wave of emotion didn't stop there as I fell upon my mother in the same fashion, expressing my love for her, too. Then I gently pulled away, expecting some kind of reciprocation. But it never came. Instead, she appeared frozen in horror. Hurt and humiliated, I struggled to understand this rejection. What was wrong with me? What was wrong with her?

The holiday was over all too quickly. When I was back at work once again, I overheard a workmate on a personal phone call to her mother. At the end of it she said, "I love you, Mum." As simple as that. Declarations of love were clearly effortless in her family. Why wasn't it like that in mine? Tears welling up, I ran to the toilets, where I cried so hard I thought my heart would break. This wasn't right! Something had to be done about this love situation once and for all.

My opportunity came the next Sunday during my weekly phone call to my mother. After we had dispensed with our usual pleasantries and updates, I took a deep breath and asked, "Do you love me, Mum?" After a short hesitation, she replied brusquely, "You know I love you. Don't be silly."

"Do I? I don't remember ever hearing it from you."

"Well, we never said things like that in my family."

"Well, I want it to be said in ours. From now on I want to end our conversations with 'I love you.' And that goes for Dad, too."

My mother reluctantly agreed, and for the first time our telephone conversation ended with, "I love you, Mum," and she replied, "I love you, too." Within a short time, "I love you" became easy to say, until it was very natural and we couldn't consider saying goodbye without it. Birthday and Christmas cards went from silly to sentimental, and when Mum bought Dad a Christmas card that year with the words "I love you!" spelt out in holly, I almost cried.

In the meantime, Dad had bravely completed his cancer treatments and, 12 months after being diagnosed, thankfully went into remission. A year later the lymphoma ?ared up again, but once more he valiantly fought it off.

Unfortunately, the stress and worry had taken its toll on my mother, and in May 2000 she was diagnosed with pancreatic cancer. I was told that only ?ve per cent of patients survive.

Just five months after being diagnosed, Mum was admitted to hospital. It was a few days before I was due to ?y out for another visit. Her condition was serious but not critical, and I phoned every morning to check on her. One morning when I rang, she sounded in good spirits, but that evening my instincts told me I needed to ring again.

My worst fear was con?rmed when a nurse answered the phone and regretfully informed me that my mother's condition had rapidly deteriorated. She wasn't expected to make it through the night.

Knowing I couldn't get a fight in time, I asked the nurse to put the phone next to my mother's ear so I could talk to her. "She's barely conscious," the nurse replied. "It's unlikely she'll hear you." But I didn't care. I wanted to do it anyway.

Once she'd placed the phone by my mother's ear, I started sobbing and telling Mum over and over again that I loved her, hoping she could hear. At ?rst, all I could hear from the other end was "Hmmmm" - but then, like a miracle, with a deep sigh she said, "Love you . . . love you, darling." It was the last thing she said before drifting into unconsciousness. She never spoke again. My mother died at 4 o'clock the next morning, with my father by her side.

Although I was devastated by her death, the startling part was how well I coped. Of course, losing a parent is excruciatingly painful and I shed many tears, but receiving those lovely last words made it much more bearable. I had closure in the best possible way.

Slowly, Dad has now adapted to living alone for the first time in his life. Now that there's just the two of us, we're closer than ever.

Then last year, Dad was diagnosed with cancer again. This time it's skin cancer, and to date he has been through two courses of radiotherapy. I don't know whether Dad will win this latest battle. At 79, he's not as strong as he once was, but he's still as determined as ever to go down ?ghting. But there is one thing I do know: whatever happens, whatever the future holds - for Dad and for me - our last words to each other will be "I love you." Of that I'm certain.

Isnin, 25 Oktober 2010

AKU, LIM & ISLAM

0

-gambar sekadar hiasan-

A story from a friend..
Aku punya seorang rakan baik dari zaman kanak-kanak. Lim Wei Choon. Sana-sama bersekolah rendah hingga ke peringkat menengah . Selepas SPM. Aku masuk ke Tingkatan 6, manakala Lim dihantar keluarganya melanjutkan pelajaran ke Amerika Syarikat. Kenangan sewaktu kanak-kanak hingga ke zaman remaja terlalu banyak yang dikongsi bersama.

Setiap kali hariraya menjelang, Lim pasti berkunjung ke rumah ku untuk menikmati dodol arwah ayahku yang amat digemarinya. kadangkala, jika ada kenduri kendara dirumahku, pasti Lim akan turut serta. Aku jarang ke rumahnya kecuali umtuk beberapa sambutan seperti harijadi dan juga Tahun Baru Cina. Aku takut dengan anjing peliharaan keluarga Lim.

Dengan Lim juga aku belajar matematik manakala subjek Bahasa Malaysia sering menjadi rujukannya padaku. Kenangan-kenangan seperti memancing, mandi jeram, ponteng sekolah untuk melihat pertandingan 'breakdance', semuanya kami kongsi bersama-sama. Apa yang ingin kunyatakan ialah, warna kulit dan perbezaan ugama tidak pernah menjadi penghalang persahabatan kami. 20 tahun telah berlalu, Lim telah menetap di Amerika setelah berjaya mendapat Green Card, beliau bekerja disana. Itu yang kuketahui dari kakaknya.

Hubungan ku dengan Lim terputus setelah dia melanjutkan pelajaran. maklumlah, dizaman kami dulu tiada internet, email atau telefon bimbit, yang ada cuma sesekali menghantar poskad bertanya khabar. Untuk menulis surat kepada lelaki amat malas kami rasakan.

Suatu pagi. Aku bertembung dengan kakak Lim di pasar , kakaknya memberitahu Lim akan pulang ke tanahair. Dan aku amat terkejut dengan berita yang kudengar dari kakaknya.

" He's name is no more Lim Wei Choon. He's now Ahmad Zulfikar Lim since 5 years ago. ..Subhanallah!

Syukur Alhamdulillah, rakan baikku telah menemui hidayah dari Allah S.W.T. Memang aku tak sabar untuk berjumpa dengannya lebih-lebih lagi setelah menjadi saudara seagama denganku.

Hari yang kutunggu-tunggu telah tiba, dan petang itu aku berkesempatan bertemu dengan Lim dirumahnya. Ada satu keraian istimewa sempena menyambut kepulangannya. Ketika aku tiba, tetamu sudah semakin berkurangan. ..

Assalamualaikum..Itulah kalimat pertama dari mulutnya, wajahnya sudah jauh berubah, air mukanya amat redup dan tenang.

Aku menjawab salam dan berpelukan dengannya dan kami menangis umpama kekasih yang sudah terlalu lama terpisah.

'Ini dia olang memang sudah manyak lama kawan, dari kecik ini dua olang" Ibu Lim menjelaskan pada beberapa orang tetamu yang melihat peristiwa kami berpelukan dan menangis itu. Tetapi aku bukan menangis kerana apa, tetapi kerana amat sebak dan terharu dan sangat bersyukur melihat keislaman rakanku. Lim mengajak aku duduk dibuaian dihalaman rumahnya untuk berbual-bual. beliau masih fasih berbahasa melayu walau sudah lama berada diperantauan.

Talha, kau kawan baik aku kan? betul tak? .Memanglah..Kenapa kau tanya macam tu?kalau kau kawan baik aku, Kenapa kau biarkan aku diseksa?

Sorry Lim. Aku tak faham..diseksa? What do you mean?

Cuba kau fikir, kita ni kawan dari kecil. Aku ingat lagi, rumah kau tu, is my second house.

Tapi, mengapalah kau tak pernah ceritakan pada aku tentang Islam? Mengapa aku kena pergi ke US baru aku dapat belajar tentang Islam? Mengapa bukan di Malaysia, negara Islam ni?

Dan mengapa aku di Islam kan oleh seorang bekas paderi kristian?

Aku terdiam, kelu tak mampu menjawab. Dan Lim terus berkata-kata.Kalau betullah kau kawan baik aku, Kenapa kau cuma nak baik dengan aku di dunia saja? kau suka tengok kawan baik kau ni diseksa didalam api neraka?

Kau tahu, kalaulah aku ni tak sempat masuk islam hingga aku mati. Aku akan dakwa semua orang melayu Islam dalam kampung kita ni sebab tak sampaikan dakwah dan risalah Islam pada aku, keluarga aku dan non muslim yang lain.Kau sedar tak, kau dah diberikan nikmat besar oleh Allah denagn melahirkan kau didalam keluarga Islam. tapi, nikmat itu bukan untuk kau nikmati seorang diri, atau untuk keluarga kau sendiri, kau dilahirkan dalam Islam adalah kerana ditugaskan untuk sampaikan Islam pada orang-orang yang dilahirkan dalam keluarga bukan Islam macam aku.

Aku masih tunduk dan terkata apa-apa kerana sangat malu.Berdakwah adalah tugas muslim yang paling utama, sebagai pewaris Nabi, penyambung Risalah.

Tetapi apa yang aku lihat, orang melayu ni tiadak ada roh jihad, tak ada keinginan untuk berdakwah, macamana Allah nak tolong bangsa melayu kalau bangsa tu sendiri tak tolong ugama Allah?Aku bukan nak banggakan diri aku, cuma aku kesal..sepatutnya nikmat ini kau kena gunakan dengan betul dan tepat, kerana selagi kau belum pernah berdakwah, jangan kau fikir kau sudah bersyukur pada Allah.

Dan satu lagi, jangan dengan mudah kau cop orang-orang bukan Islam itu sebagai kafir kerana kafir itu bererti ingkar. Kalau kau dah sampaikan seruan dengan betul, kemudian mereka ingkar dan berpaling, barulah kau boleh panggil kafir.

Aku menjadi amat malu, kerana segala apa yang dikatakan oleh Lim adalah benar! dan aku tak pernah pun terfikir selama ini. Aku hanya sibuk untuk memperbaiki amalan diri sehingga lupa pada tugasku yang sebenar.

Baru aku faham, andainya tugas berdakwah ini telak dilaksanakan, Allah akan memberikan lagi pertolongan, bantuan dan kekuatan serta mempermudahkan segala urusan dunia dan akhirat sesorang itu.Petang itu aku pulang dengan satu semangat baru.
Aku ingin berdakwah!

Lim yang baru memeluk Islam selama 5 tahun itu pun telah mengislamkan lebih 20 orang termasuk adiknya. Mengapa aku yang hampir 40 tahun Islam ini (benarkah aku islam tulen) tidak pernah hatta walau seorang pun orang bukan Islam yang pernah kusampaikan dengan serious tentang kebenaran Islam?

Semoga Allah mengampuni diriku yang tidak faham apa itu erti nikmat dilahirkan sebagai Islam.

P/s : sebagai Tauladan..

Jumaat, 25 Jun 2010

Tajdidkan Iman Dalam Tahajjud Cinta

0


“Naufal, bangun Naufal. Jom tahajjud. Dah pukul 4.45 pagi ni.”, Afif mengejutkan Nafik karibnya yang terlena setelah mengulangkaji subjek Bahasa Arab sampai larut malam. Mereka tinggal di asrama sebilik. Naufal sebelah katilnya.

Tak ada Respons. Penat sangat agaknya, Fikir Afif..

“Naufal, bangun Tahajjud,” kejutnya lagi. Terkebil – kebil mata Naufal memandang Afif yang menghadiahkan senyuman manis kepadanya.

Memang niat di hatinya sebelum melelapkan mata tadi untuk bangun bertahajjud bersama Afif. Tapi, agaknya lama sangat study tadi sambil pekena kopi Radix secawan, sampai badannya sekarang rasa letih. Mata pun mengantuk lagi.” Ana masih penat la akhi..”

“Masya-Allah, Naufal. Anta kena ingat, Allah sedang mencari mana hambanya yang rindu untuk bermunajat kepadanya. Allah rindu pada anta. Allah angkat tinggi tau darjat orang yang bertahajjud,” Naufal mengingatkan sahabatnya.

Memang kebiasaan bangun malam ini telah di amalkan oleh mereka berdua sejak mereka baligh lagi. Mereka sedaya upaya mencontohi panglima Solahuddin Al-Ayubi, Usamah bin Zaid dan syeikh Ahmad Al-Fateh(yang mengapalai pejuang Islam dalam Usia muda). Kerana mereka tahu, dalam bangun malam ada kekuatan. Waktu inilah, seorang hamba dekat dengan TuhanNya..

Tersentak Naufal. “Astaghfirullah…Ampuni aku. Aku sanggup bersengkang mata di hadapan buku, tapi aku tak sanggup bersujud di hadapanMu…”

“Terima kasih Afif”

Segera di hapuskannya rasa ngantuk dengan mengucap,“Alhamdulillahillazi ahyaana ba’da ma amaatana wa ilaihin nusyuur”. Lantas ke bilik air mengambil wudhu’. Dia pernah mendengar hadis yang lebih kurang mafhumnya begini, “Syaitan akan mengikat kita dengan 3 rantai supaya kita malas dan tidak mahu bangun subuh, baca Doa bangun Tidur, rantai pertama putus. Rantai kedua pulak, ambil wudhu’ dan rantai ketiga, mendirikan solat”.

Naufal keluar dari bilik air, dilihatnya rafik akrabnya sedang berdiri menghadap Ilahi. Terkumat – kamit mulut sahabatnya mengalun ayat – ayat suci Allah yang di hafaznya. Biasanya, mereka berdua akan membaca satu juzu’ Al-Quran dalam 2 rakaat Tahajjud. Direnung wajah sahabatnya tang sentiasa memancarkan ketenangan yang mendamaikan hati sesiapa sahaja yang memandangnya. Sahabatnya sentiasa menjaga solat Tahajjudnya dan ke mana – mana sahaja dia berada, mesti dia dalam keadaan berwudhu’. Mungkin ini lah rahsia Afif memiliki air muka yang jernih. Sahabatnya ini memang solleh. Aktif dan petah pula..

Tiba – tiba, terlihat air jernih yang mengalir lebat dari tubir mata Afif. Disusuli sedu – sedunya.Masya-Allah Afif. Kau memang beruntung. Jiwamu rapat dengan Allah. Kau sentiasa takut kepada Allah. Malah aku yang memerhatikan mu ini pun engkau tidak perasan sedikit pun. khuyukNya solatMu.

“Afif, kalau kau nak pergi Jannah(Syurga), Jangan tinggalkan aku”, desis hati Naufal..

Bergegas Naufal membuka jendela untuk memandang dada langit yang tidak bertiang untuk berdoa sepertimana Doa Nabi Muhammad sebelum melakukan Qiamulail. Bibirnya fasih membaca doa, “Inna fi khalqis samaawaati wal ardhi wakhtilaafil laili wannahaari la aayaatil li ulul albaab. Allazinayazkuru..(ila aakhiril aayat) “ ayat 190-194 surah Al-Baqarah.

Dihamparkan sejadah di belakang Afif. Dia mahu berimamkan remaja 16 tahun yang solleh di hadapannya itu.

Afif mengalunkan ayat – ayat surah Al-Furqan. Suaranya begitu jernih, fasih, tartil dan Indah. Menyentuh hati sesiapa yang mendengarnya. Ayat demi ayat di baca. Sesekali terdengar esak tangisnya. Naufal pun turut larut dalam penghayatannya. Sampailah ia pada ayat enam puluhdan enam pulu enam :

“Wal ladziina yaquuluuna Rabbanasrif’anna’adzaaba jahannam, Inna ‘adzabaha kaana gharaama, Innaha saa’at mustaqarraw wamuqaama”

Afif membacanya dengan penuh penghayatan dan mengulang – ulang ayat itu dengan penuh perasaan. Ia menangis tersedu – sedu. Naufal di belakangnya turut menangis.

Setelah selesai membacaSurah Al-Furqan, mereka ruku’. Kemudian, sujud dengan air mata yang berderai.

Mereka mengadu kepada Tuhan yang mereka cintai. Mereka terlalu rindu untuk mengecapi kemanisan Iman itu. Bahagia memenuhi ruang jiwa mereka kerana dapat menangis di hadapan Allah yang Esa. Janji mereka berdua. Ingin mentarbiah diri bersama – sama. Kerana, mereka tahu, Syurga tidak mampu di masuki mereka tanpa sahabat fillah(bersahabat kerana Allah, dan sentiasa mengingatkan sahabat lainnya kepada Allah) di sisi.


*mudah - mudahan meningkat amal kita...., Tahajud Cinta, Tajdid Iman kita...


--
"(10)Wahai orang-orang beriman! mahukah kamu Aku(Allah) tunjukkan satu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (11) (iaitu) kamu beriman kepada Allah dan rasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan diri kamu, itulah yang terbaikbagi kamu sekiranya kamu mengetahui"( 61:10-11)


Hafizul amin