Skinpress Rss

Jumaat, 30 September 2011

PILIH YANG PALING BERAT

0


Tak seorangpun tahu bagaimana dan kapan tempoh hidupnya berakhir. Tak ada yang tahu bagaimana dan kapan tubuh menjadi payah oleh sakit. Saat ia tak bisa lagi secara optimal melakukan ketaatan dan amal-amal soleh sebagai tabungan di hari akhir. Seorang Abdullah b Mas’ud, sahabat dekat Rasulullah SAW pun pernah menangis saat menderita suatu penyakit, di detik-detik akhir hayatnya. “Aku menangis karena aku justeru menderita sakit, pada saat amal ibadahku berkurang, bukan pada saat aku semangat.”

Karena itu Umar bin Khattab RA mengatakan “ Hasibu anfusakum qabla tuhasabu,” berhitunglah pada dirimu sendiri, sebelum engkau dihitung di hari akhir. “Kafaa bi syaibin wa’izan”, cukuplah uban di kepala itu menjadi peringatan, begitu filosofi para salafussoleh untuk mengingat dekatnya waktu “panggilan” Allah SWT.

Saudaraku,
Inilah dering peringatan hati yang harus sentiasa ada dalam diri kita. Dering ini yang akan memicu kesadaran diri untuk segera bekerja sungguh-sungguh, meninggalkan kelezatan semu, palsu dan menipu. Jadilah seperti para sahabat yang berjuang dengan diri, harta dan waktu mereka untuk menegakkan agama Allah. Mereka memindahkan pandangan dan pertimbangannya dari amal duniawi kepada amal ukhrawi. Berkah pengenalan Allah yang tinggi, menuntun hati mereka untuk selalu bisa mengenali sesuatu yang lebih utama.

Saudaraku,
Laksanakanlah hak-hak waktu terutama yang tidak dapat diganti pada waktu yang lain. terlalu banyak hak waktu yang harus ditunaikan, sehingga sebanyak apapun orang beramal, sebenarnya hak waktu takkan habis. Ibnu Ataillah menyebutkan, “Usia dan hembusan nafas kita sangat terbatas. Yang sudah pergi berlalu takkan kembali.” Panjang pendek usia manusia memang sepanjang ia bisa bernafas. Hembusan nafas sama dengan detak jantung , dan mengalirkan darah sebagai tanda kita masih hidup. Hidup kitapun berakhir dengan tersumbatnya saluran nafas, berhentinya detak jantung dan aliran darah. Sederhana sekali. Tapi sangat mahal harganya..

Saudaraku,
Salah satu keadaan yang menyebabkan seseorang surut, longlai, dan tidak konsisten dalam ketaatan, dalam perjuangan, dan dalam pengorbanan, adalah ketika ia tidak menyedari sempitnya waktu untuk beramal. Kondisi ini antara lain muncul dalam sikap taswif, yakni menunda-nunda, santai dan berlambat-lambat melakukan amal soleh. Ulama’ islam asal Quwait, Syeikh jasim Muhalhil, menyatakan penyakit taswif tersebut pada akhirnya akan menjadikan seseorang lambat bergerak, dan akhirnya lumpuh. Benarlah sabda Rasulullah SAW,

“Tidaklah suatu kaum berlambat-lambat dalam suatu urusan, sampai Allah menjadikannya benar-benar lambat” [HR Turmidzi]

Kenapa demikian? Karena menunda-nunda pekerjaan menjadi hak waktu, pasti akan menggeser hak waktu lain yang sebenarnya mempunyai hak yang harus ditunaikan juga. Begitu seterusnya. Pergeseran itu, akan berdampak pada menumpuknya hak-hak waktu yang lain hingga akhirnya menjadi sulit dipenuhi.

Sebab itulah, saudaraku, Hasan Al Basri menegaskan: “Jauhi sifat menunda-nunda. Nilai dirimu tergantung pada hari ini, bukan hari besok. Kalau besok engkau beruntung, berarti keuntunganmu akan bertambah bila hari ini engkau telah beramal. Dan kalau besok engkau rugi, engkau takkan menyesal karena telah beramal pada hari ini” [Az-zuhd,4]

Saudaraku,
Ingat, kita hanya memiliki waktu sedikit untuk beramal soleh. Jauhi bisikan syaitan yang mengarahkan kita mengerjakan prioritas pekerjaan nisbi dan semu. Jangan terjerumus pada pertimbangan yang keliru dalam menunaikan hak waktu. Bila suatu waktu kita merasa sulit menimbang amal atau hak waktu apa yang harus lebih dahulu kita tunaikan, camlah nasihat

Ibnu Ataillah berikut ini:
“Jika kabur bagimu dua perkara, maka perhatikanlah salah satu dari keduanya yang paling terasa berat bagi nafsu, lalu ikutilah ia. Karena tidak ada sesuatu yang terasa berat bagi nafsu kecuali sesuatu itu yang benar.”

Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk selalu berada dalam ketaatan kepadaNya..

Rabu, 28 September 2011

JANGAN PERNAH MENGALAH DENGAN UJIAN

0


Saudaraku,
Suatu ketika, mungkin kita pernah berfikir, betapa berat dan kerasnya perjalanan hidup ini. Saat hati kita seolah tak mampu lagi menahan beban masalah. Saat kita merasa longlai, lemah dan berat melangkahkan kaki, merasa tidak kuat dan bingung menghadapi berbagai suasana hidup yang sulit dan berat. Ketika kita tak lagi merasa mampu berdiri menopang beban berat yang harus dipikul.
Tidak. Semua itu bukan tanda-tanda kelemahan yang patut disesali. Sebab manusia memang diciptakan dalam keadaan serba lemah. Tapi Allah berjanji tidak akan menimpakan beban masalah kepada seseorang, di atas batas kemampuan orang tersebut untuk memikulnya.

Hamka pernah mengatakan bahawa tingkat cobaan iman itu tak ubahnya dengan anak tangga yang bertingkat-tingkat. Tiap satu anak tangga dinaiki, datang dari bawah suatu pukulan hebat mengenai tubuh orang yang mendaki. Kalau tangannya kuat bergantung, kalau kakinya kuat berpijak, dan kalau akal fikirannya tetap waspada, pukulan itu malah akan mendorong menaikkannya ke anak tangga yang lebih tinggi. Tapi kalau tangannya lemah, kakinya tidak kuat, akalnya hilan, pikirannya kusut, maka pukulan itu akan dapat menjatuhkan dan merobohkannya. Yang paling disayangkan, kalau robohnya tidak hanya satu dua anak tangga ke bawah, tapi jatuh ke anak demi anak tangga dibawahnya yang sangat banyak. Bahkan kerna lemahnya, seseorang itu bisa sulit bangkit lagi.

Dalam ungkapan yang lain Imam Hasan Al-Basri mengatakan, “ketika badan sehat dan hati senang, semua orang mengaku beriman. Tapi setelah datang cobaan, barulah diketahui benar tidaknya pengakuan itu. Orang yang ingin permintaannya cepat terkabul hari ini, dan tidak sabar menunggu, itulah orang yang lemah iman”.
Iman kepada Allah memang menghendaki perjuangan, pengorbanan sekaligus keteguhan hati. Jangan menuntut kemenangan lahir, kerna kita selalu menang di alam batin. Para nabi, daie dan mujahid mujahidah memikul beban dakwah yang berat, memikul perintah Allahdan kerna itulah mereka tempuh kesulitan. Pertama untuk membuktikan cintanya pada Allah dan kedua untuk menggembleng batinnya agar menjadi semakin kukuh.

Saudaraku,
Di situlah tersimpan kekuatan iman. Tanpa kekuatan iman, sujud dan rukuk menjadi kering. Kerana sesungguhnya ia laksana dahan yang berasal dari batang keimanan. Dahan akan kurus, daun akan kering bila batang tidak memiliki akar yang kuat, kukuh dan tidak mudah goyah diterpa angin dan badai. Dahan dan ranting sangat tergantung oleh suplai makanan dari batang dan akar. Batang dan akar itulah bahan dasar kepada iman.

Saudaraku, sekali lagi,
Jangan pernah kalah oleh beratnya cobaan hidup. Tidak semua permintaan kita harus dikabulkan. Karena Allah lah yang lebih mengenal batin kita daripada diri kita sendiri. Teka teki hidup ini sangat banyak. Jangan menyangka Allah lemah dalam menolong hambaNya.

Saudaraku,

Lalu kapan, dan bagaimana pertolongan serta bantuan Allah itu? Ibnu Atailah memberi pengarahan yang sangat bagus dalam hal ini.

“tampilkanlah dengan sesungguhnya sifat-sifat kekuranganmu, nescaya Allah menolongmu dengan sifat-sifat kesempurnaanNya, bersungguh-sungguhlah dengan kehinaanmu, nescaya Allah menolongmu dengan kemuliaanNya. Bersungguh-sungguhlah dengan ketidakberdayaanmu, nescaya Allah menolongmu dengan kekuasaanNya. Bersungguh-sunggiuhlah dengan kelemahanmu, nescaya Ia menolongmu dengan kekuatanNya”

Pertolongan, bantuan, dukungan, kemenangan dari Allah itu pasti. “adalah hak bagi Kami menolong orang-orang beriman” [QS ArRum : 47]. Sedetikpun Allah tidak pernah tinggalkan hambaNya yang beriman. Dan, jika Ia berkehendak, tak ada yang dapat menghalangi turunnya pertolongan dan bantuanNya. Masalahnya hanya ada pada proses turunnya pertolongan dan bantuan itu. Karenanya sekali lagi, jangan pernah kalah dengan Cobaan..

Isnin, 26 September 2011

MERIT KAK ANHY

0


Event pertama dikalangan anak-anak KKN ku menghadiri majlis pernikahan kakak kesayangan kami semua, Kak Anhy.. meski undangannya agak mendadak, namun Alhamdulillah berjaya mengintai kesempatan dalam kesempitan waktu untuk turut hadir. Kak Anhy katanya akan berpindah ke Kalimantan mengikuti suaminya yang bekerja di sana beberapa hari setelah majlis pernikahannya nanti.. aduh, makin susah dan sempit peluang untuk bertemu dengan kakak yang heboh dan riang itu.. kesedihan melanda sejenak meski kebahagiaan lebih dominan.. andai waktu dapat dibekukan… namun itulah adat kehidupan.. setiap pertemuan akan beriring dengannya perpisahan. Tidak tahu bila peluang untuk sama berkumpul akan kembali menjengah.

Setelah hampir lebih setahun terpisah setelah pulang dari KKN dulu, pertama kalinya pertemuan ini hampir lengkap dihadiri. Walau masih kurang Amel dan Wawan yang terpaksa bertugas di hari bersejarah Kak Anhy ini, namun kehadiran teman-teman yang lain amat bermakna. Menyulam kembali jalinan yang kian terurai dimakan dek sesaknya waktu. Ada Uul dan Ayong yang menyempatkan waktu walau masing-masing sibuk dengan cari penderita dan urusan koasnya, ada Ochy yang masih ceria seperti selalu, Rahma yang tetap semangat biar flu dan demam menjerat diri, Winda, sang bintang Polaris yang menceriakan keadaan. Iyan yang kalem (tenang)dan sedang mengikuti pelatihan dosen (lecturer),Kiki, pramugari yang lincah dan heboh. Adit yang masih bergelut dengan ujian dibagian akhir tingkat 4, Fitrah yang masih ceria seperti selalu meski kesibukan skripsi dan asistensi yang menggunung, Irfan yang baru-baru baik dari sakit.. wah seperti lama sekali tidak bertemu..

Jumaat, 23 September 2011

TRAKTIRAN WINDA

0


And so we talked all night about the rest of our lives,
Where we're gonna be when we turn twenty-five
I keep thinking times will never change
Keep on thinking things will always be the same.
But when we leave this year we won't be coming back
No more hanging out because we’re on a different track
And if you got something that you need to say
You better say it right now because you don't have another day

Because we're moving on and we can't slow down
These memories are playing like a film without sound
And I keep thinking of that night in July
I didn't know much of love but it came too soon
Stay at home talking on the telephone, with me
We'd get so excited and we'd get so scared
Laughing at ourselves thinking life's not fair

And this is how it feels.

As we go on,
We remember,
All the times we,
Had together,
And as our lives change,
Come whatever,
We will still be
Friends Forever.

So if we get the big jobs and we make the big money
When we look back now will our jokes still be funny?
Will we still remember everything we learned in school,
Still be trying to break every single rule?
Will little brainy Bobby be the stockbroker man?
Can Heather find a job that won't interfere with her tan?
I keep, keep thinking that it's not goodbye
Keep on thinking it's our time to fly

And this is how it feels

Will we think about tomorrow like we think about now?
Can we survive it out there?
Can we make it somehow? (somehow)
I guess I thought that this would never end
And suddenly it's like we're women and men
Will the past be a shadow that will follow us 'round
Or will these memories fade when I leave this town?
I keep, keep thinking that it's not goodbye
Keep on thinking it's our time to fly


* Credited to Winda, Iyan, Ochy & Rahma.. congratulation for the graduation.. Win, thanks for the “traktiran” hihi.. eventhough feeling a bit unhealthy, but it’s always really exciting hanging out with you.. thanks for a cozy day..
* The best coconut shake I’ve tasted because having you around and the unforgettable shoot from Canon camera that worth our while.. great moment together ^_^

Rabu, 21 September 2011

HARI LAHIR AIMI SOLEHAH

0


18 September 2011 lalu,

Hari lahir Aimi Solehah. Junior angkatan 2011 yang baru beberapa bulan menapak di bumi Makassar. Meski usia perkenalan masih terlalu baru, namun ikatan iman seakan memberi rasa perkenalan yang berusia sudah cukup lama. Ruh ukhuwah yang menghubungkan kami. Alhamdulillah berpeluang membawa mereka keluar makan bersama di Piza Ria. Walau tidak jauh namun keluar bersama memberi ruang yang lebih untuk taaruf berjalan. Biar usia jauh berbeza namun mereka, diri rasakan ibarat sahabat yang akan menjadi cerminan diri dan akan membantu kondisi iman yang sifatnya turun naik. Semoga Allah sentiasa memelihara ikatan yang terbina ini semata kerna mencari redhaNya..

Aimi, aikku.. saham akhiratku..

Selamat Hari Lahir yang ke-19.. semoga sentiasa dalam lindungan Allah dan dikurniakan kebahagiaan hidup dunia akhirat.. amin.. semoga Allah memelihara dirimu dari segala karat jahiliyah yang pekat di sekelilingmu dan semoga taman imanmu sentiasa subur dengan bajaan taqwa dan siraman halwa ikhlas..



Selasa, 20 September 2011

TERANGI KEGELAPAN

0


“Jangan melangkah di jalan keputusasaan. Di alam ini terhampar berjuta harapan. Jangan pergi kearah kegelapan. Di alam ini terdapat banyak cahaya…”

Putus asa symbol ketidakberdayaan dan gelap adalah symbol kesesatan. Dalam hidup ini ternyata ada sebagian orang yang lebih cenderung asyik dengan keputusasaan, kekecewaan dan kehilangan harapan. Meskipun kalau mau, dia bisa mendapatkan banyak keadaan yang membuatnya optimis, bersemangat dan penuh harapan. Ternyata, memang ada pula sekelompok orang yang cenderung berada dalam gelap. Meskipun kalau dia mau, dia sebenarnya bisa mengetahui betapa luasnya hidup dan betapa banyak cahaya yang bisa menerangi jalan di hadapannya. Orang yang sudah putus harapan dan lebih suka ada dalam kegelapan adalah kelompok orang yang sama sekali tak merasakan bahagia dan indahnya hidup.

Sederhana sekali Ibnu Qayyim memberi jawaban tentang sumber kebahagiaan hidup, “Allah”. Orang yang telah memiliki rahsia kebahagiaan itu menurut Ibnu Qayyim, akan menjadi raja di dunia dan di akhirat. Di dunia, orang itu disegerakan oleh Allah memperoleh syurga dunia, dan di akhirat, Allah menyediakannya syurga akhirat.

“Hatinya akan memandang, kefakiran adalah kekayaan saat dirinya bersama Allah. Memandang kekayaan itu kefakiran saat dirinya tidak bersama Allah. Kehinaan itu mulia bersama Allah. Kenikmatan itu adzab tanpa Allah. Adzab itu nikmat bersama Allah. Kesimpulannya, dia tidak melihat kehidupan kecuali dengan Allah. Merekalah orang yang mendapatkan dua syurga. Syurga dunia yang disegerakan Allah ketika dia hidup di dunia dan syurga di akhirat yang menantinya..”

[Nafa-5is Al-Fawaidh/202]

Saudaraku,
Tanamkan keyakinan bahawa Allah bersama kita. Ketergantungan hati pada Allah, sebagaimana diuraikan Ibnu Qayyim , hanya bisa dimiliki oleh orang yang sungguh-sungguh membina diri dan mendidik jiwanya. Membina dan mendidik jiwa dengan selalu mengaitkan segala persoalan dari sudut yang benar.

Kebenaran memandang hidup itulah yang menjadikan seseorang memiliki ketenangan jiwa, ketenteraman, kebahagiaan, perasaan lazat dengan iman. Apapun yang terjadi. Seperti ungkapan Ibnu Qayyim, “ orang-orang seperti ini tidak merasa gelisah ketika orang lain gelisah. Tidak takut ketika orang lain takut. Tidak menangis ketika orang lain menangis. Wajah dan hati mereka bersinar kerana cahaya Allah. Lisan mereka tidak terlepas dari dzikir kepada Allah. Mereka sungguh berpacu dengan waktu untuk mengisi catatan amal mereka di hari akhir..” di sanalah inti kebahagiaan.

Saudaraku,
Iman dalam hati kita ibarat pelita. Bila cahayanya meredup berarti kita akan larut dalam gelap dan kehilangan petunjuk dalam menjalani kehidupan. Dan semakin cahayanya menyala, berarti kita semakin bisa melihat segala sesuatu di hadapan kita dengan jelas. Wajar saja bila pelita itu kadang meredup, kerana memang begitulah tabiat iman sebagaimana digambarkan oleh Rasulullah SAW, bahawa iman itu terkadang bertambah dan berkurang. Tapi tentu kita harus berupaya agar ia tidak redup terus menerus bahkan padam. Hanya satu cara untuk menyalakan kembali pelita yang redup itu : Taubat.

Seorang ulama’, bakar Bin Abdillah Al muzani menegaskan:

“Siapa yang bisa menandingimu wahai anak cucu adam dalam hal bertaubat? Engkau bisa datang ke mihrab bilapun yang engkau mahu, untuk menghadap Tuhanmu. Tidak ada apapun yang membatasi antara dirimu dan Tuhanmu. Tidak ada perantara. Tidak ada penterjemah."

Ahad, 18 September 2011

SANAH HELWA JAMEELAH KAKAKKU

0


Selamat Hari Lahir buat kakakku.. semoga Allah melindungimu selalu. memberikanmu usia yang berkah, kebahagiaan hidup dunia akhirat. menjadi anak yang soleh, isteri yang solehah, ibu mithali, penegak hukum yang adil dan semoga terus thabat di atas jalan dakwah dan tarbiyah.. sayang kakak..

Khamis, 8 September 2011

TOLBAR CREW GRADUATION

0


Iyan Wahdaniyah, S.KM
Hatwinda Dwinas Azanny Hatta, S.KM
Nurrahmah, S.Kep
Penni Rosita Sina, S.KM

Wisuda keluarga tolbarku.. Rahma dalam bidang keperawatan, Winda dalam bidang promosi kesehatan, Iyan dalam bidang Kesehatan Lingkungan, dan Ochy dalam bidang kesehatan kerja. Setelah bersusah payah menempuh dunia perkuliahan yang penuh dengan pancaroba yang tersendiri, akhirnya mereka berjaya mengakhirinya dan bersedia untuk menempuh kehidupan sebagai seorang dewasa yang berdiri di atas kaki sendiri dan bertanggungjawab penuh dengan pilihan yang akan mereka buat setelah ini.

Berbeda dengan Winda, Iyan dan Ochy, Rahma akan menempuh alam praktek profesi sepertimana diri yang setelah kita dilengkapi dengan ilmu teori sepanjang 3 tahun masa perkuliahan yang diberikan, harus pula ilmu tersebut diterapkan dan dimantapkan dengan dunia praktek yang sebenar yang membolehkan kita menyatakan ilmu dalam bentuk yang lebih akurat. Yang jelas, kesibukan Rahma pasti sebanding dengan diri setelah hari ini. bagian pertama yang bakal ditempuh oleh beliau adalah bagian anak (department pediatric) yang mana memang super sibuk luar biasa. Rahma yang sebelumnya selalu punya waktu luang untuk bersama pasti akan memerlukan pengertian saat tidak bisa untuk melakukan banyak hal saat diundang. Itulah.. persahabatan butuh pengertian..

Winda yang mengharap untuk keluar dari ruang lingkup dimensi tertutup ini pasti akan pergi jauh saat kesempatan datang mengundang. Gadis manis itu walau luaran tampak manja namun dalamannya cukup tegar dan tabah. Mengharapkan untuk menguji kemampuan sendiri diluar pengaruh kuat keluarga. Mengharap untuk menyinar dari petualangan yang mendewasakan.

Mengimpikan hidup berkelana di tanah orang dan membina identity yang lebih kukuh. Potensi yang dimiliki juga luar biasa laksana sang helang rajawali yang hanya menanti masa untuk mengepakkan sayapnya dan terbang tinggi merentas angkasa raya. Winda, langit adalah arenamu.. terbanglah setinggi yang kau mampu.. Jika hari kemarin, selalu ada Winda yang menemani cerita, pulang liburan ke rumah keluarganya yang baik sekali dan bermalam di rumahnya saat-saat stress melanda perbatasan akal dan hati.. setelah ini, pasti banyak kesibukan yang harus diurusi.. tapi itulah..persahabatan butuh pengertian..

Iyan dan Ochy yang bukan asli dari Makassar (Iyan dari Buton, di Sulawesi Tenggara dan Ochy dari Tana Toraja) pasti pulang ke kampong masing-masing untuk menabur bakti pada tanah kelahiran. Iya.. hal yang tidak dapat disangkal. Dalam arti kata yang lain, pasti kekangan masa dan tugas akan menghalang mereka dari sering ke sini. Dan tanpa kepentingan yang lainnya. Diri yang hanya tersisa setahun lebih di Tanah Makassar ini pasti akan lebih tipis peluang untuk bertemu kembali dengan mereka. Pasti akan merasa rindu untuk menatap wajah-wajah mereka. Walau perkenalan ini singkat, namun masing-masing punya kesan tersendiri di hati ini.. Iyan yang sering mengajarkan bahasa Makassar dan memperkenalkan banyak hal yang baru.. Ochy, si pendengar yang setia dan sangat dewasa saat memberikan pendapat. Walau beda agama tetap banyak menunjukkan contoh teladan yang bisa diikuti.. setelah ini, pasti mereka juga akan sibuk untuk beradaptasi dalam dunia pekerjaan yang lebih mencabar dan memerlukan kosentrasi yang tinggi.. tapi itulah… persahabatan butuh pengertian…

Tiba-tiba terasa ingin kembali ke Jeneponto.. setelah 1 tahun melewati “dimensi khayalan” dunia tidak nyata di Tolo’ Barat, terasa rindu pula pada sapaan burung-burung kecil, angin yang bertiup sepoi-sepoi bahasa membiarkan ilalang menari dengan lenggok bahasa tersendiri, dipadu dengan gesekan jerami padi yang menghijau di ranah bidang gambut yang subur dan gemersik aliran air sungai jernih yang memercikkan mutiara segar untuk kehidupan.. Dalam keindahan itu, “cerita persahabatan” kami terjalin.. persahabatan yang tidak diminta untuk sebarang imbalan. Persahabatan yang tidak tercipta atas dasar kepentingan. Jadi rindu pada saat itu. Walau persetujuannya, 10 tahun kemudian mahu menjejak lagi ke sana. Namun tiada siapa yang bisa menjamin kalau 10 tahun lagi itu pasti kan tiba. Tiada siapa yang bisa menjamin kalau 10 tahun mendatang tetap kan sama. Maka hargailah detik-detik yang ada. Diri hanya ingin menjejak kembali tempat kita bermula. Biar kita bisa bersama menghidupkan kembali sang waktu..

tetap.. merasa sangat bangga terhadap kalian.. semoga ilmu yang kalian dapatkan sepanjang menjadi anak didik Unhas akan digunakan untuk membantu masyarakat dan bermanfaat buat diri kalian dan orang lain.. selamat atas sarjananya..^_^

Rabu, 7 September 2011

SAENGI CHUKA HAMNIDA AZURIN

0


Genap usia 21 tahun.. adikku Azurin Syazlina Belkhani sudah semakin menginjak usia dewasa.. serasa seperti baru semalam mengenali gadis yang kecil molek tersebut.. Menyahut salam perkenalan dari hati yang tulus saat acara sambutan junior di Bandar Udara (lapangan terbang) Sultan Hasanuddin 2 tahun silam.

Azurin , seorang adik dan seorang sahabat yang baik banyak mengajarkan diri ini erti kehidupan. Meski bukan teguran lansung, namun akhlak yang menghiasi peribadi dan ungkaian kata yang terbit dari ketelusan hati benar-benar mendidik.. terima kasih Ya Allah kerna memberikan diri ini peluang untuk mengenali insan yang sebaik dia..

Semoga adikku sentiasa dalam lindungan Allah SWT dan dikurniakan usia yang berkah, dimantapkan fikrah, ditetapkan hati atas jalan dakwah dan tarbiyah.. amin.. Uhibbuki fillah ya ukhti.. semoga kita akan beriring meniti tangga taqwa dan menuju syurga yang abadi.. dan semoga kita akan terus istiqamah dan dipayungi nikmat ukhuwah ilallah..amin Ya Rabb..

Langit masih belum cerah...
Tampak kan seri pudar suasana...
Wahai adikku kau tersenyum merawat sengsara berkarat di hati...
Walau kau jauh nun di sana takkan ku lupa kenangan ku bersamamu...
Moga Allah akan memayungi dengan rahmatNya...
Kasih sayang terjalin...

Kekanda jujur nya hatimu tak pernah ku ragukan katamu...
Onak dan duri ditempuh bersama...
Kerana Allah kita bertemu...
Dan keranaNya kita berpisah...

(oh…) kita suka dan duka dalam apa saja,
(oh…) kekanda,
semoga Allah meredhai kita,
Sesungguhnya senyumanmu masih lagi kusimpan,
(oh…)

ku mencari...
ku tercari...
ku menungguku tertunggu … dirimu agar terubat lara...

Isnin, 5 September 2011

MERAWAT TEMAN SEJAWAT

0


Tret..tret..

Ada sms yang masuk.. Daripada sahabat dunia akhiratku Ummi Kalsom.. katanya dia sesak nafas dari semalam.. dan semakin memberat hari ini. Allah izin, diri bertugas satu hospital (rumah sakit) dengannya hari ini membolehkan untuk turun dan melihat kondisi sahabat yang satu itu. Kata Ummi tadi, dia masih didepan poliklinik kulit (tempat beliau bertugas) tapi sesampai diri disana, dia sudah tidak disitu.. rupanya ada diskusi didalam poliklinik.

Usia melihat kondisi Ummi, mata serta merta menghitung pernafasannya. 36.. wah sesak betul-betul sesak. Segera tangan mencapai statoscope dan memeriksa bunyi nafas. Vesikuler. Tidak ada bunyi ronchi (bunyi tambahan) atau wheezing (mengi). Khawatir kalau-kalau penyakit asthma temanku tersebut berulang (kambuh). Kerna teman yang satu ini memang pernah sakit asthma sewaktu masih di sekolah rendah (SD) dahulu. Mamanya juga punya riwayat asma. Degupan jantung yang kencang membuatkan dadanya sakit gara-gara berdebar. Tidak tahu penyebabnya.. Otakku mula berfikir keras. Tapi mungkin kegusaran dan kegelisahan yang melanda menghilangkan focus sekaligus menurunkan kemampuan daya analisa.

Otak yang seakan beku itu memaksa diri menghantar sahabatku ke UGD (unit gawat darurat/ bagian emergency). Gusar andai sesuatu yang buruk berlaku. Patutlah dalam etika kedokteran (perubatan) itu, seorang dokter tidak dibenarkan untuk merawat keluarga/ orang terdekatnya sendiri (baca: terutama untuk procedure yang life-saving/ pembedahan dan hal beresiko tinggi). Kerna dokter juga manusia.. yang pada fitrahnya akan dipengaruhi emosi saat ia melibatkan nyawa orang yang dekat dengannya. Terkadang dokter dengan IQ tinggi sekalipun boleh mengambil keputusan yang salah saat ia berhadapan dengan keluarganya.

Menguruskan administrasi dan obat-obat Ummi, tak kalah ribet (leceh), dengan prosedur rumah sakit yang memang menyusahkan. Namun disitu baru diri belajar menjiwai situasi yang dihadapi oleh keluarga penderita yang dirawat di RS. Tak mudah sebenarnya. Namun kerna sayang pada penderita, ia tetap dijalani. Belum dengan pegawai apotek (farmasist) yang cerewet dan banyak tanya. (baca: tidak semua farmasist). Untung pengetahuanku yang sedikit tentang obat-obat memberikan diri keyakinan untuk membahas kembali. Aduh, tuan apotek.. tolonglah.. pasiennya lagi gawat.. banyakna lagi natanyaka’!!

Ya.. pengalaman.. benar-benar menguji kesabaran. Tapi Alhamdulillah akhirnya semua berjalan mulus. Ummi di nebulizer untuk mengurangkan sesak. Oksigen diberikan 3L lewat canule mengurangkan rasa sesak yang dialami. Alhamdulillah setelah beberapa jam dirawat, keadaan umumnya semakin membaik.

Jumaat, 2 September 2011

MAPACCI

0


Malam ini berpeluang menyaksikan sendiri tradisi Mapacci di kalangan orang Bugis Makassar. Teruja melihat majlis yang agak berlainan dan mempelajari serba sedikit budaya tempatan yang menjadi jati diri bangsa ini. Untung ada tante (mak cik) yang setia melayani dan menjelaskan tentang adat ini hingga diri bisa mengetahui dengan lebih detail.. benarlah setiap suku bangsa itu punya keunikan tersendiri yang tercermin dari budaya yang mereka miliki. Kita akan lebih menghargai bangsa dan suku lain saat kita mempelajari dan memahami mereka.

Upacara yang harus dilakukan dan merupakan rangkaian perayaan pernikahan Bugis Makassar yaitu Upacara adat Mappacci, dengan penggunaan simbol-simbol yang sarat makna akan menjaga keutuhan keluarga dan memelihara kasih sayang dalam rumah tangga.”Mappacci” berasal dari kata “pacci”, yaitu daun yang dihaluskan untuk penghias kuku, mirip bunyinya dengan kata “paccing” artinya bersih atau suci. Melambangkan kesucian hati calon pengantin menghadapi hari esok,khususnya memasuki bahtera rumah tangga meninggalkan masa gadis/pria sekaligus merupakan malam yang berisi doa.

Dalam kesustraan bugis terdapat pantun yang berbunyi: "Duwa Kuala sappo unganna panasaenabelo kanukue”. Penjelasan pada kalimat ini yakni dalam bahasa bugis, nangka dinamakan “lempu” yang berati jujur. Sedangkan penghias kukunya mirip bunyinya “paccing” yang artinya bersih, suci. Jadi kesucian dan kejujuran merupakan benteng dalam kehidupan, karena kesucian adalah pancaran kalbu yang menjelma dalam kejujuran.

Adapun peralatan dan perlengkapan “Mapacci” disini dapat sibagi atas tiga kelompok, yaitu: Benno dan Tai Bani (Patti) dan kelompok II tersiri dari: Bantal, sarung, daun pisang dan dau nangka. Benno yaitu beras yang digoreng kering hingga mekar melambangkan harapan, kiranya calon pengantin ini akan mekar berkembang dengan baik, bersih dan jujur. Dalam bahasa bugis disebut “Mpenno Rialei”. Sedang Tai Bani (Patti) merupakan lilin dari lebah, ini melambangkan suluh (penerang) dan kehidupan lebah artinya tata kehidupan bermasyarakat yang kita lihat dalam kehidupan lebih terlihat rukun, baik, tidak saling mengganggu satu sama lain. Artinya hendaknya menjadi suri tauladan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sementara, Bantal (Pallungang) merupakan simbol kemakmuran. Pengertian khususnya sebagai pengalas kepala yang artinya penghormatan atau martabat, dalam bahasa bugis disebut “Mappakalebbi”. Mengenai Sarung (Lipa) yang disusun 7 lembar, maksudnya ialah debagai penutup tubuh (harga diri) juga karena sarung dibuat dari benang yang di tenun helai deni helai yang melambangkan ketekunan dam keterampilan. Menurut cerita dahulu kala jika mencari calon isteri, si pria tidak perlu melihat secara langsung si gadis tapi cukup dengan melihat hasil tenunannya rapi atau tidak. Bila tenunnannya rapi dan bagus maka pilihan pria akan jatuh pada gadis tersebut. Tujuh lembar melambangkan hasil pekerjaan yang baik. Dalam bahasa bugis “Tujui” yang mirip dengan kata “Mattujui” artinya berguna.

Untuk daun pisang (Leko’ Unti), dilambangkan sebagai kehidupan yang sambung menyambung. Daun yang tua belum kering betul, daun muda telah muncul untuk menggantikan dan melanjutkan hidupnya. Dalam bahasa bugis disebut “Maccolli Maddaung” dan Daun nangka, (bugis = “Dau’ Panasa”), mirip sengan bunyi “Minasa” yang berarti cita-cita yang luhur. Selain kelompok I dan II, masih ada kelompok III yang terdiri atas Bekkeng, yaitu tempat daun pacci yang mengandung arti kesatuan jiwa atau kerukunan hidup dalam suatu keluarga dan daun pacci: itu sendiri yang melambangkan kesucian, diantaranya napacing hati(bersih hati), Napacing Jiwa(bersih jiwa), Napacing Nawa – nawa(bersih pikiran), Napacing panggaukang (bersih tingkah laku), Napaccing ateka’ (bersih itikat).

Secara sederhana, jalannya upacara Mapacci adalah sebagai berikut:

* Calon pengantin sudah duduk di lamming,atau bisa pula dalam kamar pengantin.
* Kelompok pembaca barzanji (pabarazanji) sudah siap di tempat yang disediakan.
* Para tamu telah duduk di ruangan.
* Setelah protokol membuka acara, pembacaan barzanji sudah dapat dilakukan.
* Sampai dibacakan “badrun alaina” (makassar: niallemi syaraka) maka sekaligus acara mapacci dimulai dengan sedikit mengambil daun pacci yang telah dihaluskan dan diletakan ditelapak tangan calon pengantin,sambil seorang ibu mendampingi calon pengantin, sementara itu barzanji tetap di bacakan.
* Setelah semua tamu yang ditetapkan telah melakukan “Mapacci” maka seluruh hadirin bersama-sama mendoakan semoga calon pengantin direstui oleh Yang Maha Kuasa agar menjadi suri tauladan karena martabat dan harga dirinya yang tinggi. ”Cukkong muwa minasae, nakkelo puwangnge naiyya ma’dupa”.