
Tak seorangpun tahu bagaimana dan kapan tempoh hidupnya berakhir. Tak ada yang tahu bagaimana dan kapan tubuh menjadi payah oleh sakit. Saat ia tak bisa lagi secara optimal melakukan ketaatan dan amal-amal soleh sebagai tabungan di hari akhir. Seorang Abdullah b Mas’ud, sahabat dekat Rasulullah SAW pun pernah menangis saat menderita suatu penyakit, di detik-detik akhir hayatnya. “Aku menangis karena aku justeru menderita sakit, pada saat amal ibadahku berkurang, bukan pada saat aku semangat.”
Karena itu Umar bin Khattab RA mengatakan “ Hasibu anfusakum qabla tuhasabu,” berhitunglah pada dirimu sendiri, sebelum engkau dihitung di hari akhir. “Kafaa bi syaibin wa’izan”, cukuplah uban di kepala itu menjadi peringatan, begitu filosofi para salafussoleh untuk mengingat dekatnya waktu “panggilan” Allah SWT.
Saudaraku,
Inilah dering peringatan hati yang harus sentiasa ada dalam diri kita. Dering ini yang akan memicu kesadaran diri untuk segera bekerja sungguh-sungguh, meninggalkan kelezatan semu, palsu dan menipu. Jadilah seperti para sahabat yang berjuang dengan diri, harta dan waktu mereka untuk menegakkan agama Allah. Mereka memindahkan pandangan dan pertimbangannya dari amal duniawi kepada amal ukhrawi. Berkah pengenalan Allah yang tinggi, menuntun hati mereka untuk selalu bisa mengenali sesuatu yang lebih utama.
Saudaraku,
Laksanakanlah hak-hak waktu terutama yang tidak dapat diganti pada waktu yang lain. terlalu banyak hak waktu yang harus ditunaikan, sehingga sebanyak apapun orang beramal, sebenarnya hak waktu takkan habis. Ibnu Ataillah menyebutkan, “Usia dan hembusan nafas kita sangat terbatas. Yang sudah pergi berlalu takkan kembali.” Panjang pendek usia manusia memang sepanjang ia bisa bernafas. Hembusan nafas sama dengan detak jantung , dan mengalirkan darah sebagai tanda kita masih hidup. Hidup kitapun berakhir dengan tersumbatnya saluran nafas, berhentinya detak jantung dan aliran darah. Sederhana sekali. Tapi sangat mahal harganya..
Saudaraku,
Salah satu keadaan yang menyebabkan seseorang surut, longlai, dan tidak konsisten dalam ketaatan, dalam perjuangan, dan dalam pengorbanan, adalah ketika ia tidak menyedari sempitnya waktu untuk beramal. Kondisi ini antara lain muncul dalam sikap taswif, yakni menunda-nunda, santai dan berlambat-lambat melakukan amal soleh. Ulama’ islam asal Quwait, Syeikh jasim Muhalhil, menyatakan penyakit taswif tersebut pada akhirnya akan menjadikan seseorang lambat bergerak, dan akhirnya lumpuh. Benarlah sabda Rasulullah SAW,
“Tidaklah suatu kaum berlambat-lambat dalam suatu urusan, sampai Allah menjadikannya benar-benar lambat” [HR Turmidzi]
Kenapa demikian? Karena menunda-nunda pekerjaan menjadi hak waktu, pasti akan menggeser hak waktu lain yang sebenarnya mempunyai hak yang harus ditunaikan juga. Begitu seterusnya. Pergeseran itu, akan berdampak pada menumpuknya hak-hak waktu yang lain hingga akhirnya menjadi sulit dipenuhi.
Sebab itulah, saudaraku, Hasan Al Basri menegaskan: “Jauhi sifat menunda-nunda. Nilai dirimu tergantung pada hari ini, bukan hari besok. Kalau besok engkau beruntung, berarti keuntunganmu akan bertambah bila hari ini engkau telah beramal. Dan kalau besok engkau rugi, engkau takkan menyesal karena telah beramal pada hari ini” [Az-zuhd,4]
Saudaraku,
Ingat, kita hanya memiliki waktu sedikit untuk beramal soleh. Jauhi bisikan syaitan yang mengarahkan kita mengerjakan prioritas pekerjaan nisbi dan semu. Jangan terjerumus pada pertimbangan yang keliru dalam menunaikan hak waktu. Bila suatu waktu kita merasa sulit menimbang amal atau hak waktu apa yang harus lebih dahulu kita tunaikan, camlah nasihat
Ibnu Ataillah berikut ini:
“Jika kabur bagimu dua perkara, maka perhatikanlah salah satu dari keduanya yang paling terasa berat bagi nafsu, lalu ikutilah ia. Karena tidak ada sesuatu yang terasa berat bagi nafsu kecuali sesuatu itu yang benar.”
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk selalu berada dalam ketaatan kepadaNya..






