Skinpress Rss

Ahad, 31 Oktober 2010

PANGKEP OH PANGKEP

0


Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan atau sering disingat menjadi Pangkep adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang menyimpan keanekaragaman daya tarik alam dan budaya yang patut dikunjungi, seperti Mattampa, Pulau Kapoposang dan lain sebagainya. Di Pangkep juga terdapat Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.112,29 km². Tetapi setelah diadakan analisa bersama Bakosurtanal, luas wilayah tersebut direvisi menjadi 12.362,73 Km2 dengan luas wilayah daratan 898,29 Km2 dan wilayah laut 11.464,44 Km2. Kabupaten Pangkep berpenduduk sebanyak ±250.000 jiwa.

Kawasan Wisata Mattampa.

Menempati areal seluas kurang lebih 11 hektar tempat ini merupakan obyek wisata yang sangat potensial dan menarik untuk dikunjungi dengan pemandangan alam berupa gua yang menakjubkan. Terdapat di Kelurahan Sama Lewa, Kecamatan Bungoro sekitar 3 Km dari kota Pangkep.

Pulau Kapoposang.

Merupakan salah satu dari gugusan kepulauan Spermonde dimana pulau ini memiliki gugusan terumbu karang yang sangat indah dengan menyimpan beranekaragam biota laut yang menarik. Terletak di Desa Mattiroujung, Kecamatan Liukang Tupabiring, dapat dijangkau dengan menggunakan speed boat sekitar 90 Menit ke arah barat laut Makasar.

Taman Purbakala Sumpang Bita.

Taman Purbakala Sumpang Bita dikenal dengan taman dengan seribu anak tangga karena untuk mencapai gua kita harus melewati ribuan anak tangga. Di dalam gua kita dapat melihat peninggalan zaman pra sejarah seberti lukisan telapak tangan, babi dan perahu yang diperkirakan berusia sekitar 5000 Tahun. Terletak di Kelurahan Boloci, sekitar 17 Km ke arah timur kota Pangkep.

CATATAN PERJALANAN

Alhamdulillah kelmarin, 30 Oktober 2010, diri bersama 2 orang teman telah berpeluang untuk berjalan-jalan ke Pangkep setelah selama ini hanya mendengar cerita tentang keindahan panorama alam yang ada di sana dari teman-teman yang pernah berkunjung juga dari teman yang asli orang sana. Bertolak (berangkat) seawal jam 7.00 pagi membuatkan temanku “pahlawan kesiangan” agak mamai dan masih belum dapat mengkoordinasikan diri. Kami menaiki angkot kota dari rusun ke Daya’ dan dari Daya’ menukar angkot ke Pangkep. Perjalanan memakan masa 2 jam dari Kota Makassar dengan menempuh jarak kurang lebih 60 km.

Udara segar Pangkep yang menyambut kedatangan kami menghapus pergi kegalauan fikiran yang memberat di pundak. Keindahan bukit bukau dan gunung ganang yang melatarbelakangi pemandangan di Pangkep berserta sungai yang merentasi jantung kota itu ibarat sihir agung yang menyihir para pelawat yang datang berkunjung. Pangkep memiliki nilai estetika tersendiri yang mana ia memiliki bangunan-bangunan yang pelbagai bentuk dan warna. Tiba di Mattampa, pusat perlancongan utama (wisata tunjangan) Pangkep jam 9 pagi. Suasana masih sepi. Hanya kami bertiga yang menjadi pengunjung pertama.

Suasana di Mattampa seperti di taman tema. Ada taman haiwan (hewan) yang didalamnya ada banyak patung hewan. Ada singa, zirafah, kuda belang dan sebagainya. Ada juga tempat mainan untuk anak-anak dan ada juga kereta api mainan. Selain itu, di sana juga ada kolam mandi umum dan kolam renang. Kami menghabiskan waktu di sana dengan berkelah dan mendengarkan sedikit tazkirah ringkas. Alhamdulillah, biar di mana saja kita berada, yang paling penting itu kita sentiasa merasai kehadiran Allah dalam kehidupan kita. Merasai jagaan Allah pada kita. Contohnya melalui perjalanan ke Pangkep yang jauh sebegini benar-benar hanya dapat berharap pada jagaan penuh dari Allah SWT.

Usai solat zohor, kami berkemas untuk pulang dan setelah kami siap berfoto di sekitar situ. Tekak (tenggorokan) yang kering memaksa kita mencari warung yang menjual minuman. Untung ada sebuah warung yang menjual minuman sejuk (dingin) dekat pintu gua. Sambil minum kami sempat bersembang dengan bapak dan ibu empunya warung. Melalui mereka, kami mengetahui sedikit sebanyak budaya warga Pangkep dan sejarah tentang Mattampa sendiri. Bapak juga yang memberikan informasi untuk pulang ke Makassar. Jam 2.15 petang (sore) kami bertolak pulang ke Makassar dengan menggunakan angkot kota.

0 ulasan:

Catat Ulasan