Skinpress Rss

Sabtu, 14 April 2012

FOBIA

0


Treet.. bunyi telefon genggam putih model Samsung B3410 berdering. Mai sedang menunggu Prof.Akil SpD untuk visite pagi di lobi RS Ibnu Sina. Sudah 3 hari dia menjalani tugas luar Negeri di rumah sakit perifer ini sebagai salah satu dari program belajarnya di bagian interna. Langit agak mendung namun renik hujan belum menampakkan diri untuk turun. Mai menekan butang hijau untuk menjawab panggilan.

“Mai, temanmu kecelakaan!! Dimanako? Di Wahidinji toh? Cepatko ke UGD. Parahmi itu temanmu..” suara cemas Fadhliah diseberang telefon menghantarkan impulse-impulse kekhawatiran juga dihati Mai.
“Temanku, siapa Fad? Bicara yang jelas donk!” Mai gagal mengawal rasa khawatir dan penasaran yang menghujani fikirannya. Teman yang mana? Teman kuliah? Teman komuniti? Teman KKN? Teman liqo’? aduh pusing kepalanya menyenaraikan semua orang yang dikenali dalam satu list panjang yang berjuntai.
“Teman KKNmu, Abhe!”
“HUH?? Kamu pasti?” Mai berpinar. Serta merta rembesan adrenalin berhembur dipembuluh darahnya hasil interpretasi otak tentang kabar yang baru diterima. Masih mengharap agar kabar itu salah dengar atau salah cam orang.
“Iya aku pasti banget! Aku liat orangnya kok! Dia kecelakaan di perbatasan Maros-Pangkep. Kondisinya parah Mai. Fraktur basis cranii (patah tulang dasar otak yang biasanya menandakan kondisi medis yang jelek dan harapan terselamatkan yang sangat tipis) massif bleeding di rongga abdomen. Sebentar mau disorong ke OK Cito(operasi emergensi). Cepat moko ke sini!!” jelas Fadhilah panjang lebar sekaligus mendesak.

Kelu. Mai tahu kalau Fadhilah tidak mungkin salah lihat kerna Fadhilah kenal sama yang namanya Andi Abadi. Dia pernah ketemu lansung sama orangnya. Kenal dari sebelumnya. Ya Allah.. Hubungan Mai sama Abhe tidak begitu baik akhir-akhir ini. Sejak beberapa bulan terakhir saling tidak berhubung. Kenapa harus seperti ini untuk kedua kalinya. Mai masih belum mahu percaya penuh. Dia lansung mengirim sms kepada Abhe dan menyuruhnya untuk segera membalas andai sms itu diterima.

2menit berlalu. …4menit…. Tidak ada balasan.. mata Mai mulai berkaca-kaca… menguatkan tangan yang semakin kuat gementaran.. nomor ponsel Abhe ditelpon sambil kaki juga mulai melangkah menuju ke tempat parkiran motor. Tut…Tut…Tut… tidak diangkat. Alias menguatkan prediksi bahawa yang terlibat kecelakaan itu benar-benar adalah Abhe. Empangan airmata tidak mampu lagi ditampung. Ia jatuh berderai bersama titisan-titisan hujan yang mulai berjatuhan dari mendungnya langit. Segera motor dihidupkan dan dia memacu laju. Mai tidak peduli. Dia harus pulang ke RSWS secepatnya. Bukan dia mengharap keajaiban dengan kehadirannya akan membuatkan Abhe kembali membuka mata dan kembali ke sediakala seperti di cerita fairy tale Snow White atau Beuty & The Beast. Ini kenyataan yang mana hukum alam masih berlaku. Hukum medis masih mengambil tempat dalam menyempurnakan sunnatullah..Mai hanya berharap dia sempat untuk melihat Abhe paling, untuk terakhir kali sebelum didorong ke kamar operasi.

Sepanjang perjalanan Mai tidak henti berdoa. Semoga Abhe akan baik-baik saja. Semoga Abhe selamat. Semoga…semoga..hanya pada Tuhan Yang Esa pengharapan itu Mai gantung tinggi.

Terbayang kisah gurunya yang meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas 13 tahun lalu. Sewaktu itu Mai masih terlalu kecil untuk mengerti tentang kehilangan. Guru malang yang paling akrab dengannya sewaktu zaman kanak-kanaknya itu baru saja menelpon dirinya sehari sebelum kecelakaan. Dan dia adalah orang pertama yang ditelpon ulang oleh pihak polisi untuk mengkhabarkan bahawa gurunya meninggal dunia ditempat kejadian. Kerna menurut polisi, nomornya adalah yang terakhir yang dihubungi oleh almarhum. Mai pinar waktu itu. Tidak bisa mempercayai namun tetap dia menelefon keluarga gurunya untuk mengkabarkan. Sejak itu Mai trauma dengan yang namanya “sepeda motor”.

Pertama kalinya Mai menaiki motor sewaktu di tempat KKN. Kerna di perkampungan pedalaman itu, kenderaan yang bisa digunakan satu-satunya adalah sepeda motor. Dan Abhe adalah orang pertama yang memboncengnya. Abhe orang yang memberinya ‘bakhkat (semangat)’ untuk mengatasi fobianya pada motor. Ya sesederhana itu. Sampai-sampai dia sekarang berani untuk mengenderai sendiri yang namanya “sepeda motor” mengelilingi kota Makassar. Hal yang paling mustahil untuk dilakukan sepanjang 13 tahun sebelumnya. Namun kejadian yang menimpa Abhe hari ini sepertinya mencabut kembali semangat yang telah diberikannya sewaktu dulu.

Mario Teguh pernah berkata, kalau doa itu akan termakbul saat ada 40 orang yang mengaminkannya. 40 amin terlalu banyak dan panjang waktu yang diperlukan untuk dikumpul. Namun jika terpaksa Mai akan berusaha. Tapi Langit pula pernah berkata, doa itu akan dikabulkan saat pemohonnya meminta dengan penuh ikhlas. Penuh harap. Penuh butuh. Mai berdoa. Namun hatinya masih juga belum mahu untuk percaya. Entah itu instinct atau memang dia yang keras kepala. Abhe, cukuplah kau membuat aku takut. Ini tidak lucu. Sungguh ini tidak lucu. Semoga ini hanya mimpi ngeri. Abhe tolong balas smsku.. hanya untuk kali ini..aku mengerti kalau memang kamu tidak mahu membalas tapi ini penting… tolong..
Masih berharap..

Tiba di UGD RSWS. Fadhilah menerpa kearah Mai. “Untung masih sempat kamu sampai Mai.. sementara didorong pasiennya ke kamar operasi” Map hijau (status pasien) beralih tangan. Abadi…mahasiswa…Pangkep. Aduh hancur lagi hati Mai melihatnya. Kelibat Abhe yang terdampar diatas katil pasien dengan berdarah-darah dan lemas melintasi pandangan Mai. Mai memejamkan mata. Tidak sanggup. Tuhan aku tidak kuat. Sumpah!! Mai merasakan dunianya gelap. Ion-ion kalsium serasanya terblokir dari memasuki sel-sel ototnya hingga menyebabkan tubuhnya lemah tidak tertampung. Tiba-tiba…

“Preet..preet” sms masuk.
Bagai hiperrefleks, tangan menyeluk ke saku dan mengambil ponsel. Gesa-gesa membuka pesan “aku ada dikamar. Memangnya kenapakah?!” sms dari Abhe. Dingin.

HUH? Menyeka airmata. Gusar andai pandangan matanya tidak tajam gara-gara airmata yang bertumpuk. Benar-benar smsnya Abhe. Alhamdulillah.. Alhamdulillah. Hanya itu yang terdetik dihatinya. Antara percaya dengan tidak, Mai tahu kalau orang yang terdampar tadi bukan Abhe. Kadang apa yang kita lihat apa yang kita dengar tidak semestinya benar. Mai yakin itu. Keajaiban. Mahu rasanya dia melonjak kegirangan, atau teriak seperti orang gila yang hilang siumannya. Atau apa saja yang tidak mungkin. Sedetik baru pikirannya bisa mulus lagi. Biar smsnya Abhe masih tampak dingin, tak mengapa. Sms itu cukup membahagiakannya.

Aduh, buang airmata saja menangis. seperti barang murah yang tidak ada nilainya dibuang-buang seperti itu.. malu sendiri. Andai saja Abhe tahu kondisinya saat ini, pasti dia diketawai mati-mati. Cis!! Andai dia bisa menebus dari Abhe harga untuk tiap tetes air matanya, pasti sampai tua Abhe akan berhutang darinya. Itu juga jika dia meletakkan harga Rp2500 untuk satu tetes. Wah berapami itu? Haha..Mai melihat ulang map hijau tadi, diperhatikan baik-baik.. isk, orang lain. Abadi Hikmat Sari,19 tahun, mahasiswa Teknis Unhas.. Cuma kecelakaannya yang dipangkep bukan asli orangnya.. adoila..malu sendiri.. haha.. tadi tidak membaca dengan baik. Emosi duluan. Mungkin kerna fobianya membuat dia terhanyut dalam ketakutannya sendiri untuk melihat hakikat dari kaca mata yang lebih jelas. Ampun..konyol sekali..

0 ulasan:

Catat Ulasan