EID ADHA 10 DZULHIJJAH 1434H- BUKTI CINTA DAN KETAATAN
Terbaca satu artikel yang sangat menyentuh. lumayan merefresh kembali ingatan tentang pengorbanan Keluarga Ibrahim..
“Dan ketika Ibrahim diuji Rabbnya dgn beberapa kalimat lalu Ibrahim menunaikannya..”
. Allah memerintah Ibrahim as berhijrah ke Mekah. Perintah ini bukan
kali pertama bagi Ibrahim. Sebelumnya beliau telah menunaikan hijrah
beberapa kali dari Babilon ke Palestina; dari Palestina ke Mesir; dari
Mesir ke Palestina lagi. Semua beliau lakukan demi risalah suci. Hijrah
ke Mekah kemudian menjadi peristiwa yg monumental di dalamnya syarat dgn
pelajaran utk sebuah pengorbanan sejati. Sekurang-kurangnya ada tiga
aktor yg berperan penting Ibrahim Hajar Isma’il. Ketinganya mewakili
tiga unsur keluarga bapak istri dan anak. Adalah Ibrahim as yg sudah
berumur mengharapkan keturunan. Allah kemudian memberinya Isma’il. Bukan
main girang dan bersyukurnya Ibrahim ia mendapat karunia yg selama ini
selalu dimintanya. Sampai akhirnya datang perintah hijrah ke tempat yg
kini dikenal dgn Mekah. Ibrahim Hajar dan Isma’il pergi menuju padang
gersang yg tak bertuan itu. Tiada penduduk tiada tempat tinggal tiada
tanaman tiada air. Di tempat itulah Ibrahim rela meninggalkan istri dan
bayinya. Semua ia lakukan demi perintah Allah. Tak banyak bekal yg
beliau tinggalkan kecuali seteko air dan sekantong makanan.
Ibnu Katsir
menceritakan saat Nabi Ibrahim hendak berlalu sang istri menarik tali
kekang tunggangannya dan bertanya “Apakah Kanda akan meninggalkanku
bersama anakmu di tempat yg tiada tanaman lagi ?” Ibrahim as terdiam.
Hajar mengulangi pertanyaannya hingga tiga kali dan tetap saja Ibrahim
diam. Sampai akhirnya Hajar mengganti pertanyaan “Apakah Allah yg
memerintahkanmu melakukan hal ini?” “Benar” jawab Ibrahim. Hajar
menimpali “Jika demikian Allah tidak akan mempersulit kami.” Sungguh
sebuah dialog yg menusuk hati. Merefleksikan kedalaman iman. Tercermin
ketundukan sekaligus pengorbanan yg menakjubkan. Berhijrah meninggalkan
kemapanan dan barangkali rumah pekerjaan sanak keluarga serta nilai
materi dunia lain menuju tempat yg gersang tak bertuan tak ada jaminan
keamanan tidak juga makanan dan minuman apalagi sanak keluarga dan
handai taulan. Sebuah sikap dan keputusan yg memancarkan nilai tawakal
dan iman yg begitu tinggi bahwa hanya Allah yg Maha Menghidupkan Maha
Mematikan Maha Memberi Rezeki. Meyakini dan mewujudkan keyakinan
tersebut dalam praktik tentu tidak semudah meyakininya dalam teori.
Tidak semudah menghafal lafaz-lafaz asmaul husna. Ibrahim beserta
keluarga tidak sedang berteori tetapi tangah mengartikulasikan sebuah
teori. Sampai akhirnya terjadilah peristiwa bersejarah. Perbekalan air
dan makanan Hajar habis.
Isma’il a.s. menagis kehausan krn ibunya tak
lagi dapat mengeluarkan ASI. Sang ibu kelabakan ia berlari berusaha
mencari air di antara Bukit Shofa dan Marwa. Usahanya tak menuai hasil.
Terjadilah
mukjizat
isma’il menjejakkan kakinya dan terpancarlah air. Hajar berseru “Zummi?
zummi? .” Sang air kemudian mengumpul jadilah ia telaga zam-zam. Dalam
syariat haji kesabaran dan keyakinan keluarga Ibrahim diabadikan dalam
amal sa’i. Selesaikah ujian? ternyata belum. Ketika Isma’il menginjak
dewasa dan sampai pada umur sanggup berusaha bersama ayahnya Ibrahim
mendapat wahyu utk menyembelih sang anak. Ibrahim berkata
“Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu maka pikirkanlah apa pendapatmu!”
Sungguh sebuah perintah yg tiada terkira pengorbanannya baik bagi sang
bapak maupun sang anak. Keimanan keduanya ditantang. Pernyataan Isma’il
sungguh memukau
“Ia menjawab ‘Hai Bapakku kerjakan apa yg
diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk
orang-orang yg sabar’.” .
Akhirnya perintah itu ditunaikan. Saat
Ibrahim hendak menyembelih anak kesayangannya setan datang mengganggu.
Ibrahim sadar akan gangguan maka dilemparlah setan dgn batu. Gangguan
terjadi hingga tiga kali. Peristiwa ini diabadikan dalam syariat haji
berupa “lempar jumrah”. Ketika mata pisau Ibrahim hendak menyentuh leher
Isma’il Allah menahan mata pisau itu dan menggantikannya dgn seekor
domba. Kisah ini dikenang dalam syariat penyembelihan hewan kurban pada
tiap musim haji. Demikian Ibrahim as sang suri tauladan. Kecintaan yg
purna terhadap Allah menghantarkan ia lulus ujian.
“Dan ketika Ibrahim diuji Rabnya dgn beberapa kalimat lalu Ibrahim menunaikannya..”
.
Kisah di atas hanya salah satu bentuk ujian baginya. Sebelumnya
Ibrahim juga menghadapi ujian-ujian yg luar biasa. Dan Ia selalu lulus.
Para
Mufassir banyak menyebutkan bentuk-bentuk ujian Ibrahim dan
ia selalu sukses menjalaninya. Bukan hanya Ibrahim yg mencontohkan
pengorbanan di atas. Istri dan anaknya demikian juga. Sungguh sebuah
komposisi yg ideal ada teladan seorang bapak teladan seorang istri dan
teladan seorang anak. Ketiganya adl pilar sebuah keluarga. Baik buruknya
sebuah keluarga menjadi kunci utama baik buruknya sebuah masyarakat.
Karena masyarakat terbangun atas sekumpulan keluarga demikian
seterusnya. Sungguh tak terbayang betapa indah sebuah bangunan
masyarakat jika unsur-unsur masyarakatnya adl manusia terdidik seperti
terdidiknya keluarga Ibrahim? Manusia-manusia bertauhid yg meletakkan
kecintaan terhadap Allah di atas segala-galanya? Kisah pengorbanan
Ibrahim sekeluarga menjadi “monumen”
sejarah.
Ia selalu diperingati tiap tahun dalam syari’at haji dan kurban pada
tiap Dzulhijjah. Bukan tanpa maksud melainkan utk ditauladani. Dari sini
masing-masing dapat bermuhasabah sudahkah kecintaan kita terhadap Allah
berada di atas segala-galanya melebihi cinta kita terhadap pekerjaan
tempat tinggal dan harta? melebihi cinta kita terhadap anak istri bahkan
kedua
orang tua? melebihi cinta kita terhadap yg paling berharga dalam hidup nyawa kita?
0 ulasan:
Catat Ulasan