Pernah membaca satu artikel yang ditulis oleh temanku, Fitrah. “Mengapa harus berteriak?” dalam artikel itu ada menyatakan betapa pentingnya hubungan hati yang terbina dalam membangun sebuah binaan yang dipanggil sebagai “persahabatan”.
Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya,
“Mengapa ketika seseorang sedang marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?”
Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab, “Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak.”
”Tapi...” sang guru balik bertanya,”lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tidak dapat berbicara secara halus?”
Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan.
Sang guru lalu berkata :
”Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara dua hati mereka menjadi amat jauh walaupun secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu, mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”
Sang guru masih melanjutkan,
Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban :
”Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya, sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.”
Sang guru masih melanjutkan :
”Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin disaat itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu kita.”
Jagalah cinta dan pupuklah kasih sayang.. Jangan pernah mbiarkan dia berjarak dan pergi..
sMoga ukhuwah kita terus terjaga cika'... ^^,
_FZM_
Benarlah dalam bersahabat juga begitu. Terkadang perasaan kita terlalu halus dan sensitive terhadap sahabat kita. Apa yang dibicarakan, walaupun hanya ucapan yang biasa ada waktunya bisa mengguris rasa atau mencipta makna. Kerna hati kita terlalu dekat. Hampir tidak berjarak. Ada orang kata, apabila sudah lama berteman tidak perlu terlalu menjaga perkataan, sikap dan sebagainya kerna teman terbaik adalah orang yang paling memahami diri kita. Namun sebaliknya, kerna dia adalah teman terbaik maka kita harus ekstra sensitive dalam menjaga perasaannya kerna kita terlalu dekat. Jangan sampai perselisihan yang kecil nantinya akan menciptakan jarak antara kita.
Dalam mengenali hati dan sifat masing-masing, tak lain kita membutuhkan yang namanya proses memerhati dan memahami. Dari situlah terciptanya kedekatan dan keserasian. Asasnya dalam persahabatan adalah saling percaya, telus dan jujur dalam kata dan tingkah, kesetiaan dan saling menghargai. Apa maknanya sebuah persahabatan yang tidak disulami dengan saling percaya dan ketelusan? Dalam setiap lafaz tersimpan curiga dan buruk sangka kerna tidak mampu membangun percaya..Setiap kata yang terungkap adalah kebohongan. Sungguh, kebohongan itu takkan mampu untuk menembusi dimensi hati.Jika tidak ada setia, mana mungkin kita menutupi aib teman kita dihadapan yang lain. Mana mungkin kita menjadi cerminannya. Tidak mustahil, kita tidak teragak-agak untuk berbuat khianat dan sebagainya. Kalaulah persahabatan tidak disertai sifat saling menghargai, maka tidak ada yang istimewa di dalamnya. Saling menyakiti, saling mencari kesalahan. Hasilnya tiada lagi perasaan sayang yang harusnya tumbuh dan memekar di taman hati. Tiada lagi keindahan yang layak untuk dikenangi..

0 ulasan:
Catat Ulasan