Sering meniti di halwa telinga kita tentang kisah Virus Merah Jambu. Virus yang banyak melanda kawula muda. Virus ini adalah jelmaan cinta yang tak tepat porsinya, bukan pada tempatnya. Sebenarnya sebelum menjadi virus, ia adalah satu fitrah indah yang wajar sekali bergejolak dalam dada seorang pemuda perkasa mahupun gadis belia. Ia adalah sebagai sebuah petanda bahwa kita tetap berada pada kudratNya.Cinta hadir memenuhi hari-hari kita. Tumbuh. Merekah. Indah. Lalu kita merasakan cinta itu semakin menyiksa. Bayangan si Dia selalu ada di setiap detak jantung dan segala aktiviti (aktivitas) kita. Kerinduan untuk bertemu dengannya semakin menjadi. Hati kita telah terbeli oleh cinta. Perasaan bahagia hanya ada ketika kita berada dekat dengannya. Selebihnya, hanya rindu yang menusuk-nusuk relung jiwa. Rasa cinta itu telah meraksasa.
Bahkan dzikir kita terhadap wajahnya telah mengalahkan dzikir harian kita dalam mengagungkan asma-Nya. Makan pun teringatkan si Dia, seakan hambar dan tidak berselera, tidur pun jaga tanpa lena. Bahkan parahnya dalam solat (sholat) kita juga, bayangan sang kekasih hati pengarang jantung tetap menjelma.Sungguh menyiksa. Cinta semula yang adalah sesuatu yang jernih berubah keruh. Kita mengalahkan cinta padaNya terhadap cinta fana. Maka cinta telah menjadi virus berbahaya.
Virus yang membuatkan segala aktivitas kita sia-sia. Kita tidak bisa berkosentrasi dengan apa yang kita lakukan. Hanya si dia yang berada dalam benak kita. semangat kita beribadah semakin lemah seiring semakin menyebar luasnya pengaruh virus itu dalam tubuh kita, ternyata juga berdampak buruk terhadap orang-orang dekat kita. Dan virus itu akan lebih berbahaya lagi ketika ditularkan pada orang lain.
Bisa jadi mereka akan terjangkit (terinfeksi) virus yang sama. Hanya saja masih mengkristal sempurna. Hingga kemudian ketika aktiviti (aktivitas ) mereka lemah, daya tahan iman mereka berkurang, maka virus itu menjadi hidup. Cinta dalam jiwanya berkembang pesat menjadi penyakit. Lalu hari-harinya akan terasa sangat merana. Aduh, betapa berdosanya kita. Menularkan virus maha zalim kepada orang lain pula.Seharusnya cinta menjadi obat jiwa. Peneduh dikala gundah. Seharusnya cinta menjadikan kita semakin dekat denganNya. Bukan menjadikan kita semakin lemah dan lalai dalam mengingatiNya. Inilah yang berbahaya dari cinta jika kita tidak pandai mengelolakannya. Cinta bisa menghancurkan hidup kita menjadi keeping-keping tanpa makna. Tapi cinta juga bisa mendatangkan semangat bergelora untuk menujuNya. Menuju syurga…

0 ulasan:
Catat Ulasan