
Terkadang langit biru, terkadang hitam. Terkadang bintang, terkadang awan tebal. Mungkin, tatkala awan, ia ingin menurunkan hujan yang menyejukkan dan menggemburkan. Namun terkadang, awan menggumpal pekat dan membawa badai yang memporandakan ikatan. Begitulah manusia ditakdirkan. Ibarat langit dengan segala keadaan.
Maka tidak selamanya hitam itu menakutkan. Bahkan bisa jadi ia keindahan. Hanyalah harapan yang membuatkan kita berbeda dalam menafsirkan hitam. Toh, pada akhirnya ketika ia memang benar-benar badai, kita telah berusaha tegar. Tak terhempas. Tidak terkapar. Ketika kita selalu menisbahkan hitam dengan badai, hanyalah ketakutan-ketakutan yang kita rasakan. Energi kita habis untuk memikirkan segala hal yang akan terjadi dengan badai yang mengancam itu. Padahal segalanya belum tentu berjalan seperti yang ada dalam pikiran kita. Namun kita telah menjustifikasikan keadaan sesuai dengan informasi yang kita terima dari indera.
Juga jika kita sering mengharap kebaikan dari biru sang langit, maka kita tak akan menemukan malam dengan segala bintangnya. Atau kita tak akan mendapatkan hujan dari mendung yang menyelimuti badannya. Bagaimanapun, kita harus sedar bahawa harapan yang kita lekatkan pada sesuatu yang fana tak selamanya sempurna. Kalaupun harapan itu tak sesuai dengan kenyataan, itulah harga yang harus kita terima dari sebuah perbedaan.
Kita tak boleh kecewa! Karena kecewa hanya boleh tumpah, tak boleh menjadi bah. Ketika periuk (panci) jiwa tak mampu menampung kuah harapan, yang bisa kita lakukan hanyalah memperbesar periuknya (pancinya). Agar kuah itu tidak tumpah menjadi bah yang membuat kita tenggelam dan hanyut. Kita boleh mengharap, namun jangan sampai harapan itu membuat kita kecewa (ambruk) ketika kita menemukan kenyataan yang tak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

0 ulasan:
Catat Ulasan