Skinpress Rss

Sabtu, 18 Disember 2010

PUBLIC SPEAKING

0


Segala puji hanya kepada Allah, dzat yang menciptakan alam yang luas terbentang. Dzat yang maha tahu akan setiap yang terlintas di hati ini. Tuhan yang Maha Tahu batas diri.. Selawat dan salam buat Rasul junjungan. Yang telah mewariskan kita risalah suci yang tiada cacatnya.

Mengikuti program yang dianjurkan oleh adik-adik juniorku “Dokter Muda Anggun Bergaya”. Yang menjadi sasaran program adalah adik-adik mahasiswa baru yang baru saja menjejakkan kaki ke bumi Makassar. Permulaan program masih saja lancar hingga tiba-tiba Kak Aza yang seharusnya menyampaikan isi program (pemateri) tiba-tiba berhalangan untuk datang. Secara terpaksa diri telah ditunjuk untuk menyelesaikan tugasan tersebut.

MasyaAllah sewaktu permasalahan itu diutarakan, menggeletar hipotalamus mentafsirkan lantas dihantarkan impuls-impulse saraf ke kelenjar adrenal, maka terembeslah hormone adrenalin, hormone yang meningkatkan tekanan darah, menyempitkan pembuluh darah dan melebarkan saluran pernafasan. Jantung berdegup kencang. Nafas terasa sesak bagai ada bebanan yang menghimpit dada. Lidah kelu hampir tidak mampu untuk berbicara. Astagfirullahal adzim.. betapa tidak mampu dan tidak layaknya diri ini untuk melaksanakan amanah yang maha berat ini Ya Allah..

Sebentar, Kak Aza menelefon. Apa yang amat terkesan di hati ini adalah kata-kata Kakak murrabiku itu bagaikan teguran lansung dari Allah. Yakinlah bahawa setiap apa yang berlaku itu adalah dengan izin Allah. Penyusunan Allah untuk mentarbiyah diri kita. Diri sebenarnya sangat lemah dengan “public speaking”.. terasa bergetar jiwa, buntu idea dan sebagainya. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. kata Kak Aza, memang kita takkan mampu untuk mengatasi kelemahan kita dan takkan mampu melepasi batas kemampuan kita melainkan kita harus menjadikan diri kita “mampu” untuk deen ini. Islam yang kita cintai akan menjadi asbab yang kuat untuk mendorong motivasi kita.

Dalam memberikan ucapan, tidak perlu kepada suara yang lantang, tidak perlu juga kepada ceramah yang berkobar-kobar. Kerana untuk menyentuh hati itu, harus bercakap telus dari hati. Dimensi akal dan hati itu adalah dimensi yang berbeda. Jadi untuk menyentuh hati itu harus melalui sudut yang tepat, “right angle”..lansung menembus tepat ke hati. Dan untuk mencari sudut yang tepat itu tidak mudah kecuali memohon dan memanjatkan doa ke hadrat Allah SWT, Pemilik mutlak hati yang berbolak balik.

Teringat kisah Imam As-Syahid Hasan Al-Banna yang suatu ketika setelah menyampaikan ceramah di suatu kota, beliau ditanya oleh sahabatnya Umar Tilmisani “wahai sahabatku, sewaktu kamu menyampaikan ceramah tadi, aku lihat ramai di kalangan hadirin yang bersembang (ngobrol) sesama mereka di belakang” lantas apa yang dijawab oleh IHAB sewaktu itu, “kalaulah ada satu orang (satu hati) yang tertarik pada Islam lantaran ceramahku, itu sudah lebih dari cukup. Cuma satu orang”.. Subhanallah.. ini buktinya Al-Imam juga tahu betapa yang susahnya untuk menyentuh dimensi hati seseorang dan betapa hidayah itu milik Allah. Tetapi jika Allah memberikan hidayah kepada seseorang melalui tangan kita, itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.

Yang paling penting itu kita jelas dengan matlamat yang kita bawa. Matlamat untuk menuju kepada Allah SWT dalam keadaan apapun. Apabila menjadi mahasiswa, jadilah mahasiswa yang cintakan ilmu dan mengejar ilmu kerana Allah. Apabila menjadi dokter, jadilah dokter yang mengharapkan kesembuhan dari Allah, membantu manusia melanjutkan hayatnya dengan harapan orang tersebut akan mengenali Allah. Menjadi dokter untuk memberikan qudwah hasanah (contoh yang baik) kepada manusia. Itulah tujuan kita. Supaya apa yang kita lakukan akan punya nilai ibadah dan amal soleh di sisi Allah. Sesungguhnya dunia hanyalah mampir sebentar. Kita tidak tahu di mana penghujung hidup kita. Jadikanlah hidup kita ini sentiasa bermakna dan terpandang mulia disisiNya.

Ya setelah mendengar dan kembali memperbetulkan niat, hati lebih tenang. Rembesan hormone adrenalin sepertinya sudah semakin berkurang. Detakan jantung kembali normal. Kepada Allah doa dan pengharapan diharapkan.. “Ya Allah, berikan aku kekuatan untuk menyampaikan agamaMu”.. Bismillahi tawakkal tu alallah..

0 ulasan:

Catat Ulasan