Skinpress Rss

Selasa, 14 Disember 2010

DEMI SEPINGGAN BARO'BO

2


13.12.2010

1.00 pm (siang).Bergegas mencapai beg (tas) serta berlari-lari anak menuruni tangga. Hari ini ada undangan makan-makan di rumahnya teman KKN ku, Hatwin. Sebenarnya acara dimulai jam 11 pagi. Tapi berikutan ada hal penting yang harus diri uruskan, terpaksa menunda waktu untuk ke sana. Dalam kekalutan itu diri disapa oleh seseorang yang menanyakan arah tujuanku. “ke rumah teman KKN”.. jawab diri ringkas.

Mimik berubah. Rona terkejut(kaget) menerpa wajah sang pemilik suara yang ramah bertanya tadi. “What, jumpa balik teman-teman KKN? Shut!! bukan ke sudah hampir 4 bulan lebih KKN berakhir? Fuzah, awak (kamu) kalut begini untuk pergi pertemuan yang paling-paling nanti duduk tak sampai 30 minit then balik (sebentar sekali).. what for? Awak (kamu) tu tak berapa sihat.. sibuk lagi.. why don’t you just give an excuse (kasi saja alasan)? For me, what are you going to do is meaningless..crazy thing and un logic.. tak de effect pun kalau awak (kamu) tak pergi.. mereka takkan kesahpun..lagi pula, awak(kamu) dan mereka tu atas jalan yang berbeza..totally different track.. bukan boleh tolong your medical study pun..useless..takkan lah berkawan dengan orang tiada sebab yang kukuh..just sebab 2 bulan bersama.. insane la fuzah..” wah, ceramah free.. diri hanya tersenyum tipis lantas terus mencampakkan tubuh ke dalam Teksi Putra yang sejak tadi menanti..

Menyandarkan tubuh ke kerusi teksi. Suhu tubuh yang agak panas sebelumnya semakin mereda. Namun rasa tidak enak masih menjalar. Untung sakit tekak (sakit tenggorokan) dan batuk-batuk sudah hilang. Penat akibat kesibukan tadi coba-coba untuk memanjat. Ah, entah kenapa tiba-tiba pula kata-kata teman yang tadi seolah berputar dalam minda sedar. Terngiang-ngiang di telinga. Otak ligat berfikir.
1. Berkorban masa dan tenaga untuk suatu pertemuan yang singkat
2. Memberi alasan untuk tidak pergi
3. Teman-teman takkan kesah
4. Teman-teman dari fakultas berbeza (beda2)--> tidak bisa membantu medical studi
5. “Berteman tanpa sebab yang kukuh = insane + unlogic (sesuatu hal yang gila/ tidak masuk akal)”..

Analisis akhir yang di dapatkan adalah seperti itu. Speechless. Diri juga tidak tahu jawabannya. Hanya menurut kata hati untuk pergi…

Tiba di rumahnya Winda. Kelihatan dia sudah menanti di depan pintu dengan senyuman yang paling manis. Ada kerinduan di balik sinar mata yang bening itu. “ kenapa kelamaan di jalan kak?” persoalan pertama Winda menyapu pergi kelelahan dan stress yang menyelimuti diri akhir-akhir ini. Di dalam sudah ada Uul, K.ani, Iyan, Ochy, Irfan, Fitrah, Kiki. Masing-masing kelihatan sibuk menggoreng pagedel dan mantau sambil bergurau senda (ketawa-ketawa). Ada juga yang sibuk menonton sambil berbual (ngobrol).. Suasana yang harmonis.. “Baru sampai fuza?..” “Mana Mahfuzah..?” “lamax kau ee” sambutan dari teman-teman begitu hangat..

Tiba-tiba terilham jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang berlegar di minda sebentar tadi. Ya, diri datang ke sini dengan pilihanku yang penuh sedar. Memang sebenarnya sangat mudah untuk memberi alasan demi alasan untuk tidak menghadirkan diri. Namun kenapa memilih untuk hadir adalah kerna setiap orang yang ada di sini sangat istimewa (special) buat diri. Demi menikmati setiap momen yang ada bersama mereka, selagi diri masih punya kesempatan dan ruang waktu untuk bersama mereka, biar susah bagaimanapun tetap akan mencuba untuk hadir.

“Yah sudah lengkap semua? Ayo kita makan.. laparx” kata-kata seorang teman cukup mengundang haru di jiwa. Mereka sudah lama tiba, tapi tetap menunggu kehadiran diri untuk makan bersama. Ternyata dugaan temanku yang mengatakan “Teman-teman takkan kesah..” meleset sama sekali. Mungkin baginya, kerana tidak merasa sendiri adalah bagian dari teman poskonya (belong to), makanya selalu mengecualikan diri dari sebarang aktiviti (aktivitas) yang dirancang bersama. Kerana merasa sendiri bukan anggota, makanya tegar untuk melukai perasaan orang lain. Makanya ada istilah “teman-teman tak kesah”.. berlainan dengan teman KKN ku yang sanggup menunggu lama untuk makan bersama. Bahagia merasa diri adalah bagian dari keluarga kecil ini, keluarga Tolbar Crew. Makan bubur Manado (baro’bo) berlaukkan pegerdel, ikan asin dan sambal menjadi sangat berarti hari ini.

Selesai makan, sempat bercerita-cerita sambil menonton televesi. Teman-teman menanyakan permasalahan yang menjerut urat nadi saat ini. Menceritakan serba sedikit. Diri tahu yang mereka tidak begitu mengerti lantaran perbezaan (perbedaan fakultas) fakulti yang mengamalkan sistem yang berlainan, namun mereka tetap mendengar. Menunjukkan perhatian dan keprihatinan. Ya, bercerita pada mereka ternyata lebih melegakan. Siapa kata(siapa bilang) berteman itu harus yang bisa membantu mengingat pathophysiology atau cara menegakkan diagnosis saja? Terkadang teman-teman yang banyak berbeza(banyak bedanya) ini lebih membantu dari segi kekuatan emosi.. kekuatan psikologi. Bersama mereka, hilang stress tingkat tinggi, surut kesedihan yang membadai di pantai hati. Berbeza bidang pelajaran (Beda fakultas) itu sebenarnya lansung tidak menjadi alasan untuk tetap berteman. Kerna apapun bidang pelajaran itu, hakikatnya kita saling melengkapi. Tidak akan mampu untuk berdiri sendiri..

Berteman tanpa sesab yang kukuh (hanya kerna pernah bersama selama 2 bulan) = insane/unlogic. Adakah persahabatan ini terbatas pada mengenang saat susah bersama lantaran tiada air (pam air rosak/pompa rumah Hj. Tewa rusak), saat stress (mengadakan program kerja,proker & waktu datang dokter yang memeriksa hasil kerja KKN,[Satgas]), saat gembira/ seru/ bahagia (liburan ke Tj. Bira), saat berselisih faham (banyak hal) dan saat berduka (Fitrah kecelakaan)? Nyata sekali tidak..

Sebenarnya mungkin persahabatan ini bermula dengan pertemuan yang dirancang oleh university (universitas), tapi dari situ tersemai benih-benih kasih sayang yang mekar, tanpa mengenal perbedaan.. bidang pengajian, jantina, umur, latar belakang, agama, asal dan sebagainya. Ya, kasih sayang itu luas dan tidak terbatas. Setelah sekian insiden yang dilalui bersama, maka wujudlah nilaian toleransi, berterus terang, saling menghargai, saling percaya dan memahami yang mewarnai tali persahabatan itu. Sekaligus menjadikan ia sesuatu yang sangat berarti.

Jika difikir-fikir, setiap dari teman-teman mempunyai kesibukan masing-masing. Winda..sibuk dengan skripsi dan lawatan sambil belajarnya minggu depan, Uul..sibuk dengan tugasan kliniknya, jadual jaga (on call) nya dan mencari penderita untuk melaksanakan rawatan gigi. Iyan dan Ochy juga sibuk dengan skripsi masing-masing di samping perkuliyahan yang masih menjerat, Kak Ani, lebih sibuk dengan tugasan belajar sambil bekerja di hospital (rumah sakit) sebagai nutritionist (ahli gizi), sebentar di RS sini, sebentar lagi di RS sana pula, Irfan, sibuk dengan kuliyah dan tugasan yang menyesakkan. Fitrah juga sibuk dengan kuliyah di samping menjadi assistant lecturer (asisten dosen) yang memadatkan jadual, menyusun skripsi dan sebagainya.

Kenapa semua sanggup untuk hadir? Mengintip ruang di celahan kesempitan.“Berkorban masa dan tenaga untuk suatu pertemuan yang singkat”. Ya, persahabatan itu menuntut pengorbanan. Persahabatan itu menuntut komitmen. Memang pertemuan itu singkat, hanya datang untuk makan Bubur Manado(baro’bo) bersama, duduk sekejap untuk bercerita, sesi foto.. kemudian pulang. Tampak singkat sekali. Namun di balik kuantiti masa itu terkandung kualiti masa yang diguna secara efektif. Duduk bersama, makan.. bercerita memang ringkas. Tapi dari makan bersama dan bercerita itu yang mendekatkan lagi jarak persahabatan. Memang bisa kalau cuma lewat facebook atau internet tapi yang namanya pertemuan itu walaupun sekejap lebih terkesan di hati semua orang. Ia merekam saat-saat yang indah bersama. Jadi pengorbanan untuk momen-momen yang bermakna ini berbaloi (worth it)..

Terkadang teman-teman berkeluh kenapa sewaktu pertemuan tidak pernah lengkap yang datang (14 orang) dan kenapa Cuma orang-orang yang sama yang datang? Jauh di sudut hati, diri yakin, teman-teman tidak hadir bukan kerna tidak mahu tetapi kerna tidak berkesempatan. Selagi dalam hati kita masih menyimpan sosok mereka, berarti mereka sentiasa hadir di antara kita.. berbaik sangka lah.. boleh jadi, ada saatnya nanti kita juga memerlukan pengertian dari orang lain. Belajar untuk lebih banyak memberi dari berharap kepada orang lain :)

2 ulasan:

Catat Ulasan