
Bismillahi alhamdulillah, kesyukuran jua yang di rafa’kan ke hadrat Rabbul Izzah kerana masih mengizinkan mata untuk melihat, membenarkan hidung untuk menghidu, membiarkan lidah untuk merasa, mebuatkan telinga untuk mendengarkan dan mengurniakan hati untuk terus hidup.
Salah satu program KKN yang dijalankan oleh posko kami adalah Program Dokter Cilik (Docil). Program Docil ini dipertanggungjawabkan pada Amel. Sementara diri diberi peluang untuk membantu Amel dalam mengendalikan Docil bersama dengan Wawan memandangkan hanya kami bertiga dari Fakultas Kedokteran yang ada waktu itu (Adit lagi pulang ke Makassar).
Docil adalah suatu program Dokter Cilik yang memberi pelatihan pada anak-anak sekolah dasar kelas 4,5 & 6. Setiap kelas menghantar 4 orang perwakilan. Pelajar yang mempunyai prestasi paling bagus dan tertinggi di kelas masing-masing. Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk memberi kesadaran kepada pelajar-pelajar tentang pentingnya perilaku hidup bersih sihat di samping membina sifat peka terhadap teman sebaya. Melahirkan rasa ingin membantu dan mendisiplinkan diri dengan hal yang menyangkut kesehatan. Dalam pelatihan ini, siswa siswi SD di ajarkan cara untuk menerapkan perilaku hidup sehat pada diri masing-masing dan diharapkan akan turut di aplikasi di rumah dan sekolah mereka. Antaranya adalah menggunakan jamban sehat, mandi 2 kali sehari, menggosok gigi, memakai selipar atau kasut, makan makanan yang seimbang dan mencuci tangan dengan benar.
Pada sesi pelatihan, kami mengajarkan siswa siswi SD cara member pertolongan pada teman yang hidung berdarah (mimisan), teman yang pengsan, luka, diarrhea, tercekik dan keracunan. Di awal pelatihan, diri ditugaskan untuk melontarkan beberapa persoalan untuk memastikan bahawa mereka benar-benar mengerti apa yang akan dilakukan nanti. Setelah itu, diri harus terlebih dahulu memperagakan cara melakukan pertolongan sebelum memberi pengarahan supaya mereka melakukan sendiri tindakan-tindakan tersebut.
Di sekolah pertama, yaitu SD Buanguang Kanunang, diri telah bertanggungjawab terhadap kelompok Docil dari kelas 4. Hendry, Rahman, Kasmah dan juga Sri Wahyuni. Sementara di sekolah kedua yaitu SD Pakborongan, diri telah menjadi fesi yang menuntun kelompok pelajar tahun 4 yang terdiri dari Wawan, Rudy, Asti dan Sumyati sementara di SD Rannayya, diri menjadi fesi bagi kelompok siswa kelas 4 yaitu Sandi, Taufiq, Nisa’ dan Risna.
Setelah menjalankan pelatihan, sempat bersembang-sembang dengan anak-anak ini. kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga petani. Tapi mereka bercita-cita tinggi. Ramai yang ingin menjadi doctor, ada yang ingin menjadi engineer dan guru (dosen). Namun kata mereka, mereka takut untuk membina impian untuk melanjutkan pelajaran di IPT (perguruan tinggi) kerana gusar keluarga tidak akan sanggup untuk membayar biaya pengajian. Diri menasihati mereka bahawa tidak mengapa jika membina impian yang besar kerana impian adalah titik mula kepada kejayaan. Rezeki untuk melanjutkan pelajaran ke peringkat IPT itu datangnya dari Allah dan kita sebagai hambanya harus berdoa memohon padanya.
“Tanamlah impian di bintang kejora walau kakimu berpijak di bumi”

0 ulasan:
Catat Ulasan