Skinpress Rss

Ahad, 30 Disember 2012

MOUNTAIN HIKE

0



Akhir-akhir ini hiking atau panjat gunung kembali menjadi suatu hal yang fenomenal di kalangan muda mudi. Sukan mendaki gunung adalah salah satu aktiviti rekreasi yang mencabar. Mereka melihat sukan ini sebagai salah satu cabang untuk menyihatkan badan di samping mempunyai beberapa kelebihan tersendiri.
Sedari dulu, diri tidaklah termasuk dalam kalangan orang yang suka mendaki gunung. Namun kerna tiap kali cuti sekolah, ayah dan ummi akan menghantar diri ke kem-kem kerohanian, yang mana salah satu tentative wajibnya adalah “jungle trekking/hiking/dsb” hingga diri terbiasa dengan sukan lasak itu bahkan lama kelamaan menunbuhkan cinta pada aktivitas ini.

Pada mulanya diri tidak mengerti apa gunanya aktivitas ini dijalankan.. bersusah payah mengharung bahaya, mehnah dan tribulasi mendaki, sampai dipuncak, duduk-duduk, foto-foto, mendengarkan sedikit tazkirah dan menikmati sedikit makanan kemudian turun lagi dengan segala susah payah. Aneh rasanya mendaki hanya untuk mengundang sekelumit puas pada rasa. Padahal banyak lagi yang bisa dilakukan untuk menghasilkan euphoria yang sama.

Tapi pada suatu hari tidak lama sewaktu diri berada di bangku Senior High School, diri pernah berjalan-jalan di pantai bersama ayah tercinta. Kerna kebetulannya disitu ada Bukit Keluang yang tersergam indah, kami memutuskan untuk mendaki ke atas. Dalam pendakian kami, ayah bercerita..

“Alhamdulillah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Jika kita mengambil setiap perjalanan tarbawi kita ini sebagai suatu didikan, maka kita akan mendapati bahawa alam juga adalah guru kita. kakak tahu kenapa dalam tiap kem, pakcik-pakcik menyediakan tentative trekking/hiking?kerna trekking/hiking ini adalah padang latihan bagi melatih dan membina kekuatan dari tiga fakulti insane yang utama yaitu jasmani, mental dan rohani bagi membentuk modal insan yang berkualiti tinggi selari dengan apa yang telah digariskan oleh Islam seterusnya melahirkan generasi pewaris yang seimbang.

Kenapa kita memberi anak-anak ruang untuk dekat dengan alam? Supaya anak-anak bisa merasai sendiri kedamaian alam. Melihat fajar saat ia terbit dikaki langit, merasai dinginnya air sungai yang mencucuk tulang belulang. Melihat flora dan fauna yang tersimpan dibalik hutan yang melindungi. Melihat hamparan pantai dari atas laut. Semua itu tanda kebesaran Allah SWT yang menciptakan.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang belayar dilaut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu DIA hidupkan bumi setelah mati (kekeringan) dan DIA sebarkan dibumi itu segala jeneis hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda keEsaan dan kebesaran Allah bagi kaum yang memikirkan”
 [Al-Baqarah:164]

“Bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak?”
(Q.S. An-Nabaa 78:6-7)

Begitu kata ayah sewaktu itu. Membuat diri kembali membaca-baca fungsi gunung sebagai pasak bumi seperti yang ayah katakan. Membuat diri mengerti bahwa kita hiking bukan saja-saja. Tanpa tujuan seperti orang lain pergi hiking. Tapi kita hiking untuk melihat bukti kekuasaan Allah.
Dan sekarang, keinginan untuk pergi hiking itu datang lagi. Setelah 6 tahun meninggalkan aktivitas itu. Maklum, sejak bersekolah di sekolah perubatan ini, jarang benar punya peluang mengikuti aktivitas seumpama itu lagi hingga diri kembali mencari-cari catatatan perjalanan dulu buat dibaca ulang. Tentang Gunung Sebagai Pasak Bumi.

Sepanjang sejarah, manusia selalu terpana oleh tinggi dan besarnya gunung. Mereka menganggap gunung adalah tempat suci, tempat bersemayam Tuhan. Orang Jepang mensakralkan Gunung Fuji. Dewa-dewi orang Yunani tinggal di Gunung Olympus.
Pegunungan Himalaya merupakan tempat dewanya orang India dan Tibet. Gunung Merapi dianggap angker oleh orang Yogyakarta. Gunung Bromo merupakan kahyangan penduduk Tengger. Gunung Agung tempat dewanya orang Bali. Semua mengaiskan gunung pada fungsi mistik supranatural. Hanya Islam yang menempatkan kembali fungsi gunung secara ilmiah.

Dalam Al Quran kita temukan kata gunung sebanyak 49 kali. Di antaranya, 22 ayat menyebutkan fungsi gunung sebagai pasak atau tiang pancang.
Pasak atau paku besar merupakan benda yang menancap ke dalam. Artinya, kepala pasak yang tampak di luar selalu jauh lebih pendek dibanding panjangnya pasak yang terhunjam.

Ketika agama-agama primitif selama ribuan tahun hanya takjub pada ketinggian gunung, Al-Quran mementahkan kekaguman sesat mereka itu. Ternyata bukan tingginya, tetapi kedalaman akar gunung yang menghunjam sampai 15 kali lipat dari tinggi di atas permukaan bumi, itulah yang lebih dahsyat.
Al-Quran menegaskan bahwa fungsi gunung adalah pasak bumi yang memancang ke bawah tanah dengan kokoh. Itu adalah sebuah konsep tentang gunung yang sangat mutakhir dan baru dikenal. Baru 20 tahun yang lalu para ahli geofisika menemukan bukti bahwa kerak bumi berubah terus. Ketika itu baru ditemukan teori lempeng tektonik (plate tectonics) yang menyebabkan asumsi bahwa gunung mempunyai akar yang berperan menghentikan gerakan horisontal lithosfer.

"Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi tidak goncang bersama kamu,..."
 (QS. An-Nahl (161: 15)

Rasulullah SAW. bersabda, "Tatkala Allah menciptakan bumi, bumi bergoyang dan menyentak, lalu Allah menenangkannya dengan gunung." Bagaimana mungkin Nabi SAW. yang buta huruf dan hidupnya di abad ke-6 di tengah masyarakat padang pasir, bisa mengetahui tentang gerakan horisontal lithosfer humi yang berfungsi menstabilkan goncangan? Subhanallaah.

Memang, sejak tahun 1620-an, para ilmuwan seperti Francis Bacon dan RPF Placer dari Prancis mengamati kemungkinan bahwa dahulu benua Amerika, Eropa, dan Afrika pernah menyatu. Pada 1858, Antonio Snider mengemukakan konsep Continental Drift, mengambangnya benua-henua. Kemudian menurut ahli geologi Austria, Eduard Suess, semua benua dulunya memang menjadi satu, diberi nama Godwanaland. Sedangkan ilmuwan Jerman, Alfred Wegener menamakannya Pangea.

Pada awal abad ke-20 seorang ilmuwan Jerman Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi. Namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.

Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915 menyatakan sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea, terletak di kutub selatan. Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara, dan Asia kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.

Benua-benua yang terbentuk setelah terbelahnya Pangaea bergerak di permukaan bumi secara terus menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di bumi.

Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980 yakni setelah 50 tahun kematiannya. Pergerakan kerak bumi ini ditemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di abad ke-20. Namun, teori-teori itu belum mendapatkan pengesahan, sampai tahun 1960-an saat ditemukannya bukti-bukti meyakinkan hahwa benua-benua memang bergerak.

Kecepatan pergerakan itu 1 cm per tahun di Laut Arktik, 6 cm per tahun di khatulistiwa, sampai 9 cm per tahun di jalur pegunungan. Dan itu adalah 1400 tahun setelah Al-Quran memberitahukan tentang konsep gunung kepada manusia! Allaahu Akbar

Teori lempeng tektonik menyebutkan bahwa kulit bumi herupa 12 lempeng lithosfer setebal 5 sampai 100 km mengapung di atas substratum plastis (astenosfer), yang tebalnya sampai 3000 km. Lempengan itu bergerak secara horisontal dan saling bertabrakan dari waktu ke waktu dan terlipat ke atas dan ke bawah, melahirkan gunung-gunung.

Misalnya, tabrakan lempeng India dan lempeng Eurasia menghasilkan formasi rantai pegunungan Himalaya dengan puncak tertingginya Gunung Everest dgn ketinggian 8,848 km, terbentuk mulai 45 juta tahun yang lalu. Pose akhir terbentuknya glinting ditandai dengan akar yang jauh menancap ke dalam bumi. Hal ini menyebabkan melambatnya pergerakan lempeng lithosfer.

ltulah fungsi gunung. Tanpa gunung, gerakan lithosfer akan lebih cepat dan tabrakan antar lempeng akan lebih drastis dan mungkin membahayakan kehidupan.
Terdapat fakta yang menakjubkan bahwa ternyata gunung-gunung tersebut adalah laksana pasak yang menjaga stabilitas daratan dari pergerakan lempeng bumi yang massif. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip dibawah lempengan yang satunya, sementara yang diatas melipat dan membentuk dataran tinggi. Lapisan bawah bergerak dibawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah.

Gunung adalah lapisan yang melipat dan membentuk dataran tinggi. Dan gunung selalu mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi. Dengan kata lain, gunung-gunung menggengam lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan ini. Dengan cara ini, gunung memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing diatas lapisan magma atau diantara lempengan-lempengannya. Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu. Fungsi pemancangan dari gunung disebut dengan istilah "isostasi".

0 ulasan:

Catat Ulasan