Mendapat sebuah sms dari murabbi pagi itu
“Hadiri program Cinta
Keluarga di Lapangan Karebosi Sabtu 08-12-12 jam 8 pagi dilapangan. Bawa mad’u/binaan
anti”
Segera sms itu diteruskan buat adik-adik naqibah. Diri juga
tidak tahu detail program. Namun begitulah. Kadang untuk taat tidak butuh
alasan. Ya, seperti itulah taat.. dan ketsiqahan (keyakinan) terhadap pimpinan.
Apalagi taat pada Allah dalam setiap suruhan dan laranganNya. Namun ketaatan
itu harus diproses. Dibina. Dididik supaya kita siap meski dalam kondisi
apapun. Meski mengorbankan waktu lapang, waktu sibuk. Dalam senang dan susah.
“Dan mereka berkata: Kami dengar dan kami taat. Ampunilah
kami wahai Tuhan kami, dan kepada Mu tempat (kami) kembali” (surah al-Baqarah
2:285)
Ini adalah prinsip umat Islam bila menerima perintah dari
Allah dan Rasul. Ketika menerima perintah untuk berpuasa selama sebulan di bulan
Ramadhan. Maka, tanpa banyak soal, orang muslim taat dan patuh untuk berpuasa.
Prinsip ini tidak sama dengan Yahudi, mereka dengan jelas berpendirian ‘kami
dengar, tapi kami ingkar’. Sebab itu, walaupun ada ayat-ayat di dalam Taurat
yang menceritakan tentang kenabian Rasulullah saw, tetapi mereka tetap menolak
berita kenabian tersebut sedangkan mereka memahami benar ciri-ciri kenabian
yang disebutkan itu.
Sebagai muslim, kita tidak wajar mempersoalkan apa-apa
perintah dan larangan yang datangnya dari Allah. Kalau disuruh puasa, puasalah
kita. Kalau dikatanya halal, maka halallah tapi kalau dah tetap haram, maka biar
diputar terbalik bagamana pun, tetap haram. Puasa yang kita jalani hari ini
adalah latihan pengukuhan ketaatan kita kepada Allah yang bukan sekadar pada
ayat puasa sahaja, tetapi pada seluruh ayat dalam Quran dan Hadith untuk kita
imani dan taati.
Tetapi saudara, keadaan ini agak berbeza bila dilihat kepada
realiti umat pada hari ini. Ada sebahagian mereka secara terang-terangan
mempersoalkan perintah dan hukum Allah. Ada sahaja yang tidak kena. Yang
peliknya, tatkala perintah atau hukum itu datangnya dari manusia yang berkuasa,
tidak berani pula mereka mempersoalkannya. Ketidakjelasan dalam beragama
menyebabkan mereka tidak nampak kesempurnaan hukum dan perintah Allah
berbanding hukum dan perintah manusia yang belum tentu sempurna. Yang
sebenarnya, tiada ketaatan yang mutlak kepada manusia sekalipun manusia itu
bergelar raja, menteri, ustaz dan sebagainya. Ketaatan kepada manusia akan
terpakai tatkala suruhan dan perintah tersebut menepati kerangka syariat yang
begitu luas dimensinya.
Begitu juga untuk taat pada pemimpin/ketua. Sepertimana firman
Allah SWT:
“Wahai orang-orang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah
kepada Rasul, dan ulil Amri di antara kalian..” (QS. An Nisa (4): 59)
Melihat adik-adik yang sanggup bersusah payah meredah hujan,
berkumpul dirusun untuk sama-sama menghadiri program umum ini membuat hati
berbunga mekar. Alhamdulillah Ya Allah, meski “short-note”, tapi mereka-mereka
yang telah Kau pilih untuk menghadiri
program ini adalah antara mereka yang jiddiyah dengan jalanMu ini.. dan
adik-adik yang tidak dapat hadir mungkin kerna kesibukan yang tidak dapat
dielakkan. Sungguh, dari mereka saja, banyak tarbiyah yang Allah sampaikan pada
diri. Bagaimana Allah sungguh telah menguatkan langkah kita dijalan ini dengan
sahabat-sahabat yang mengingatkan kita padaNya. Baik dari generasi manapun. Adik-adikku
ini meski dari angkatan yang berbeda namun matlamatnya hanya satu.. menuju
kepada Allah dan saff yang teratur dan mengajak orang lain untuk sama-sama
dekat kepada Allah insyaAllah.
Sengaja menutuskan untuk menaiki pete-pete bersama. Padahal ada
motor yang boleh memendekkan jarak perjalanan. Namun itulah, seperti kata
pakcik, yang penting itu, kita mentarbawikan perjalanan. Paling dalam
perjalanan bersama ini kita dapat duduk bersama dengan lebih lama, bertukar
cerita dan paling penting menyuburkan kembali syu’ur (rasa hati) untuk thabat
(tetap) dan taat di jalan Allah ini.. tambahan, kesibukan yang melanda
sepanjang satu bulan di Anestesi ini benar-benar mengekang waktu dari banyak
bersama mereka. Sedangkan adik-adik ini masih butuh dukungan.
Sesampai ditempat program, Alhamdulillah kami sama-sama
mendapat pengalaman baru. Ternyata program ini adalah program ibu-ibu bersama
calon gebenur Sulawesi selatan Ilham-Aziz. Judul yang diketengahkan adalah
cinta keluarga memangkin semangat baru. Atau lebih ringkasnya bagaimana
mendidik anak-anak dan bagaimana istri menjadi sumber kekuatan dan tulang
belakang perjuangan suami. Sebelum itu ditampilkan anak-anak usia SD yang sudah
berjaya menghafaz Al-Quran hasil didikan ibu perkasa. Begitu juga anak-anak
yang mampu bersajak, bersyair, berpuisi memuji Allah sedangkan mereka adalah
anak-anak yang lahir dari keluarga kader-kader dakwah yang ibu ayahnya adalah
orang-orang perkasa yang memperjuangkan kalimah Allah di muka bumi. Sungguh luar
biasa. Meski ada berunsur politik, namun kami mengambil setiap pelajaran yang bisa
kami kutip sebagai bahan tarbiyah utk kami hari ini.






0 ulasan:
Catat Ulasan