Skinpress Rss

Jumaat, 21 Disember 2012

BERTAHAN DI PUNCAK ITU LEBIH SULIT

0



Saudaraku,
Ternyata hanya mengetahui sesuatu kemaksiatan dan mengetahui bahayanya, tidak automatis menjadikan orang menjauhi maksiat dan meninggalkan kemaksiatan itu. Lihatlah, berapa banyak justeru orang berilmu yang melakukan kemaksiatan lebih besar daripada orang tidak berilmu.berapa banyak justeru orang yang mengetahui bahaya kemaksiatan itu, terjerumus di lumpur kemaksiatan yang sama.

Saudaraku,
Merubah diri dari lalai menjadi taat memang tak mudah. Mengangkat kaki dari suatu kekeliruan yang sudah lama dilakukan lalu memindahkannya ke atas jalan yang benar dan baik, itu sulit. Justru masalah inilah yang pertama kali harus kita sadari dalam-dalam. Seperti dikatakan Imam Ibnu Jauzi, “jangan sekali-kali engkau menganggap jalan (merubah diri menjadi baik)itu mudah.” Jalan itu dipenuhi sesuatu yang kita benci, banyak halangan, penuh duri-duri tajam yang akan membuat kita sakit. Hanya saja, jika kita sudah berhasil melewatinya, kita pasti akan melupakan seluruh rasa sakit seluruh keletihan itu. Jika telah melewatinya, kita akan merasakan kelezatan yang tak terbandingkan oleh kelezatan manapun dari kelezatan duniawi yang kita pernah rasakan.

Saudaraku,
Mari kita dengarkan indahnya uraian nasehat Imam Ibnu Jauzi dalam kitab Shaidul Khatir tentang tahapan perjalanan yang harus kita lakukan untuk menjadi lebih baik.
Menurut Ibnu Jauzi, yang harus kita lakukan pertama adalah memperbanyak diam untuk melatih jiwa agar tidak banyak mengeluarkan komentar dan tidak mudah bergolak, sehingga lisan kita juga lebih banyak diam. “sesungguhnya lisan akan cenderung diam jika jiwa tidak bergejolak. Dalam diam itu, engkau akan lebih bisa meraba keburukan. Jika engkau sudah bisa merabanya, maka jiwa akan luluh dan hancur. Lalu menyedari bahwa dirimu berada di jalan yang berlawanan dari kehendak Allah. Setelah itu ingatkanlah jiwa dengan kekeliruan-kekeliruan yang dilakukan, satu persatu. Kenalilah apa akibat dari setiap kekeliruan itu sampai benar-benar disadari.”

Lupakan ketaatan kita saudaraku,
“Jika engkau menyadari diri telah lalai dan melakukan dosa, jadikan dirimu bisa berlama-lama dengan mengingat dosa itu, dan besar-besarkan ingatan tentang akibat kelalaian itu. Munculkanlah anggapan seolah kita tidak melakukan ketaatan apa-apa kecuali kemaksiatan itu. Lupakanlah ketaatan yang pernah engkau lakukan. Sampai engkau yakin akan hancur bila tidak segera bertaubat. Sampai suara hati kita teriak dan menangis”
“Tapi, jika jiwamu tidak bangkit, dan air mata tidak mengacur juga, sampaikanlah pada hati dan jiwa bahwa engkau tetap harus melepaskan diri dari kemaksiatan itu. Dan langkah ini takkan terjadi kecuali jika engkau meninggalkan semua orang, semua teman, semua benda yang menjadikan sebab dan tangga maksiat. Beritakanlah pada jiwa, bahwa engkau tidak akan bisa bertaubat dengan benar kecuali dengan meninggalkan semua itu”

Langkah berikutnya,
Lemahkan jiwa dengan rasa lapar. Ibnul Jauzi mengatakan “Jika jiwamu masih belum bisa melakukan itu dan menolaknya, maka hancurkanlah kekerasan jiwa itu dengan memperbanyakkan puasa. Hinakanlah ia dengan rasa lapar. Kerna sesungguhnya, jiwa jika mengalami sakit kerna lapar, ia akan tunduk. Mahu mendengar dan cenderung pasrah untuk menerima apa saja”.
Perangi sikap menunda-nunda. Ini nasihat Ibnu Jauzi selanjutnya. Bahwa tekad meninggalkan kemaksiatan itu sangat rentan dengan gangguan menunda-nunda, dengan seribu alasa. “jika engkau mendapati jiwa ingin menunda-nunda untuk kembali, dan membayangkan waktu panjang atau pendek, bawalah ia secara paksa untuk mengingat tidak ada ajal yang bisa diperkirakan. Bahwa mungkin saja, ajal itu datang menghampiri sebelum ia menunaikan keinginan kembalinya. Lalu ulangi lagi…katakana pada jiwamu tentang hukuman dan kengeriannya”.

Saudaraku,
Jiwa yang sudah dikosongkan dari kemaksiatan harus  segera diisi dengan kebalikan apa yang telah ditinggalkan. Imam ibnu Jauzi menganjurkan kita untuk mencari teman untuk jiwamu yang bisa memberi petunjuk. Katanya “Ajarkan dia berzikir untuk menggantikan kelalaian dan kelupaan. Paksa dia untuk teliti dan berpikir daripada ceroboh dan terburu-buru. Beri dia kelezatan bermunajat kepada Allah, nikmatnya membaca kitabNya, serta mempelajari ilmu pengetahuan. Kenali dia dengan sirah-sirah orang shalih dan bagaimana akhlak mereka. Lakukan itu untuk mengisi kekosongan kerna ia telah meninggalkan suasana kebatilan,lingkungan orang-orang yang merusak”

Saudaraku,
Jika ini bisa kita lakukan, kelak cahaya ketaatan, pengganti kelalaian itu akan terus merasuki jiwa dan semakin bersinar-sinar mengusir kegelapan hawa nafsu. Kita akan menjadikan ketaatan sebagai tabiat dan hal yang biasa. Sebagaimana juga dahulu, kemaksiatan itu telah menjadi hal yang tabiat dan biasa bagi jiwa kita.

Saudaraku, 
Tapi jangan anggap ini adalah akhir dari jalan perubahan kita. kerna, seperti juga dinasihatkan Ibnu Jauzi, “sesungguhnya mencapai puncak itu sulit, tapi bertahan dipuncak itu lebih sulit”. Dan kita tetap bertahan untuk berada di sini, bersama-sama. Menarik dan mengangkat diri kita bersama-sama hingga keadaan kita semakin tinggi. Lalu saling berpegangan tangan saat dihempas ujian dan fitnah, agar tidak jatuh. 

0 ulasan:

Catat Ulasan