Sebelum pasien dipindahkan ke ruangan setelah dilakukan
operasi terutama yang menggunakan general anestesi, maka kita perlu melakukan
penilaian terlebih dahulu untuk menentukan apakah pasien sudah dapat
dipindahkan ke ruangan atau masih perlu di observasi di ruang Recovery room
(RR) atau High Care Unit (HCU). berikut beberapa skor yang biasa digunakan
untuk menilai kondisi pasien pasca anestesi.
A. Aldrete Score
(dewasa)
Penilaian :
- Nilai Warna
Merah
muda, 2
Pucat, 1
Sianosis, 0
2. Pernapasan
Dapat
bernapas dalam dan batuk, 2
Dangkal
namun pertukaran udara adekuat, 1
Apnoea atau obstruksi, 0
- Sirkulasi
Tekanan
darah menyimpang <20 dari="dari" normal="normal" span="span" style="mso-spacerun: yes;">
20>
2
Tekanan
darah menyimpang 20-50 % dari normal, 1
Tekanan
darah menyimpang >50% dari normal
0
- Kesadaran
Sadar,
siaga dan orientasi, 2
Bangun
namun cepat kembali tertidur, 1
Tidak
berespons, 0
- Aktivitas
Seluruh ekstremitas dapat
digerakkan, 2
Dua
ekstremitas dapat digerakkan, 1
Tidak
bergerak
0
Jika jumlahnya > 8, penderita dapat dipindahkan ke
ruangan
B. Steward Score
(anak-anak)
1. Pergerakan
Gerak bertujuan 2
Gerak tak bertujuan 1
Tidak bergerak 0
2. Pernafasan
Batuk, menangis 2
Pertahankan jalan nafas 1
Perlu bantuan 0
3. Kesadaran
Menangis 2
Bereaksi terhadap rangsangan 1
Tidak bereaksi 0
Jika jumlah > 5, penderita dapat dipindahkan ke ruangan.
C. Bromage Score
(spinal anestesi)
Kriteria Nilai
Gerakan penuh dari tungkai, 0
Tak mampu ekstensi tungkai, 1
Tak mampu fleksi lutut, 2
Tak mampu fleksi pergelangan kaki, 3
Jika Bromage Score 2 dapat pindah ke ruangan.
Minggu ini kami diberi jadual oncall sebanyak 6 kali dalam
satu minggu. Sepertinya tiap hari ada jadual oncall kecuali 1 hari yang bebas
oncall. Berbeda dari bagian-bagian lainnya, anestesi benar-benar menguji
stamina dan pikiran. Banyak yang harus dikerjakan jika jaga. Apalagi hampir
setiap kali jaga, kami tidak mendapat waktu istirehat yang cukup. Standby
terus. Apalagi saat malam minggu yang pasien didorong seperti mendorong barang
belian di mall untuk di operasi. Keempat-empat ruang operasi emergensi dibuka
dan pasien bergilir masuk hingga pagi.
Kami dituntut untuk oncall sebanyak 4 kali dalam minggu ini
dengan ruang lingkup kamar operasi emergensi (OK CITO) dan juga APS (acute pain
service). Di bagian APS kami mendampingi dokter untuk berkeliling rumah sakit
dan memasukkan obat pasien-pasien post-operasi diperawatan yang dipasang
epidural catheter sebagai pain control. Selain itu juga, APS melayani keluhan
dan rujukan tentang acute pain termasuk juga cancer pain. Disini kami diajar
teori dan praktisnya mencampurkan obat pain controller dan berpeluang untuk
merasakan sendiri sensasinya memasukkan obat epidural, melawan tahanan tekanan
negative di epidural space.
Melalui minggu berikutnya, meski supersibuk dan kewalahan
gara-gara terlalu banyak operasi yang dijalankan tiap harinya, tetap saja kami
gembira dan menikmati hari. Setiap dari kami harus mengcover 2 ruang operasi
dan membantu dokter yang hanya berdua tugas disana. Memerlukan kelincahan
tingkat tinggi untuk bergerak ke sana sini apalagi jika semua ruang operasi
dibuka untuk operasi. Kadang kami masing-masing dan dokter harus masing-masing
mengambu ditiap ruang operasi. Juga butuh ingatan yang kuat untuk menghapal
obat yang masuk, tensi dan heart rate setiap pasien kerna kami jarang punya
peluang untuk mencatat sewaktu operasi berlansung. Dokter dan co-ass sama
sibuk. Namun apa yang mengurangi kadar ketensionan kami adalah kerna dokter
yang kami damping sangat bersahabat, seru dan sporting. dr.Ayu dan dr.Iswan.
paling cepat kami pulang sewaktu stase disini adalah jam 7 malam. Itu juga
sebenarnya kami tidak menunggu hingga selesai semua operasi kerna dokter-dokter
yang baik hati itu tidak sanggup menyiksa kami hingga tengah malam.
Minggu tiga kami tituntut oncall sebanyak 4 kali seminggu.
Tempat standby kami pula ditempatkan di ruang ICU. Intensive care unit. Namun
disebabkan diri bertugas dirumah sakit luar, diri diberi kelonggaran dikurangi
jaga menjadi 3. Apalagi kerna diri akan dinas 6 hari seminggu. Baca: hari sabtu
tetap dinas di IBSI sedangkan di RSWS, hari kerja Cuma hingga Jumat. Menjaga
pasien sepanjang malam benar-benar suatu tugas mencabar apalagi jika ada
keluhan pada tengah malam. Tidak seperti di bagian Interna yang biasanya
keluhan ringan, bisa kita sebagai co-ass sendiri yang tindaki. Namun di ruang
ICU, biar keluhan kecil harus kita melapor pada dokter yang bertugas. Kerna setiap
pasien memiliki tingkat sensitivitas mereka lebih tinggi dan mereka terhubung
dengan mesin-mesin anestesi seperti ventilator dsb yang memerlukan tingkat
waspada yang lebih tinggi.
Minggu 4 hanya oncall sebanyak 2 kali. Namun tetap standby
di ICU. Sudah terbiasa dan agak enak juga memandangkan diri juga dinas di sana
hingga diri menghapal betul semua pasien yang ada disana.








ckckckck....makin puyeng nich kk
gelenggeleng.com
knapa puyeng kk sayang? ckck