Skinpress Rss

Sabtu, 8 Disember 2012

ANESTHESY POSTING

2




Minggu pertama. Ditugaskan di PACU (post-operation anesthesy care unit) atau Recovery Room. Kami dituntut untuk mempelajari bagaimana menentukan stabilitas hemodinamik pasien post-operasi sebelum mereka diizinkan untuk keluar ke perawatan.
Sebelum pasien dipindahkan ke ruangan setelah dilakukan operasi terutama yang menggunakan general anestesi, maka kita perlu melakukan penilaian terlebih dahulu untuk menentukan apakah pasien sudah dapat dipindahkan ke ruangan atau masih perlu di observasi di ruang Recovery room (RR) atau High Care Unit (HCU). berikut beberapa skor yang biasa digunakan untuk menilai kondisi pasien pasca anestesi.

A. Aldrete Score (dewasa)
Penilaian :
  1. Nilai Warna
              Merah muda,          2
              Pucat,                       1
              Sianosis,                  0
       2. Pernapasan
Dapat bernapas dalam dan batuk,                           2
               Dangkal namun pertukaran udara adekuat,           1
               Apnoea atau obstruksi,                                              0
  1. Sirkulasi
              Tekanan darah menyimpang <20 dari="dari" normal="normal" span="span" style="mso-spacerun: yes;">    
 2
              Tekanan darah menyimpang 20-50 % dari normal, 1
              Tekanan darah menyimpang >50% dari normal       0
  1. Kesadaran 
               Sadar, siaga dan orientasi,                                  2
              Bangun namun cepat kembali tertidur,            1
              Tidak berespons,                                                   0
  1. Aktivitas 
                   Seluruh ekstremitas dapat digerakkan,               2
                  Dua ekstremitas dapat digerakkan,                      1
                  Tidak bergerak                                                          0
Jika jumlahnya > 8, penderita dapat dipindahkan ke ruangan

B. Steward Score (anak-anak)
1. Pergerakan
Gerak bertujuan                  2
Gerak tak bertujuan           1
Tidak bergerak                    0
2. Pernafasan
Batuk, menangis                           2
Pertahankan jalan nafas              1
Perlu bantuan                               0
3. Kesadaran
Menangis                                                2
Bereaksi terhadap rangsangan           1
Tidak bereaksi                                        0
Jika jumlah > 5, penderita dapat dipindahkan ke ruangan.

C. Bromage Score (spinal anestesi)
Kriteria Nilai
Gerakan penuh dari tungkai,                    0
Tak mampu ekstensi tungkai,                   1
Tak mampu fleksi lutut,                             2
Tak mampu fleksi pergelangan kaki,      3
Jika Bromage Score 2 dapat pindah ke ruangan.

Minggu ini kami diberi jadual oncall sebanyak 6 kali dalam satu minggu. Sepertinya tiap hari ada jadual oncall kecuali 1 hari yang bebas oncall. Berbeda dari bagian-bagian lainnya, anestesi benar-benar menguji stamina dan pikiran. Banyak yang harus dikerjakan jika jaga. Apalagi hampir setiap kali jaga, kami tidak mendapat waktu istirehat yang cukup. Standby terus. Apalagi saat malam minggu yang pasien didorong seperti mendorong barang belian di mall untuk di operasi. Keempat-empat ruang operasi emergensi dibuka dan pasien bergilir masuk hingga pagi.

Minggu Kedua. Diri ditugaskan untuk bertugas di Ruang Operasi Central (COT) kamar Onkologi. Bersama dengan dokter-dokter yang baik hati lagi tidak sombong, diri diajar banyak hal dalam sela kesibukan mereka. Dari perbedaan penggunaan GETA hingga GA-LMA. Dari penggunaan obat induksi hingga maintainence isofluren, sevofluran dan halotan. Diri juga diajar tentang balance cairan, cara menghitung MABL (manimum tolerable blood lost), kapan saja blood lost akan digantikan dengan whole blood, packed red cell dan kapan untuk menggunakan crystalloid dan kapan digunakan colloid.

Kami dituntut untuk oncall sebanyak 4 kali dalam minggu ini dengan ruang lingkup kamar operasi emergensi (OK CITO) dan juga APS (acute pain service). Di bagian APS kami mendampingi dokter untuk berkeliling rumah sakit dan memasukkan obat pasien-pasien post-operasi diperawatan yang dipasang epidural catheter sebagai pain control. Selain itu juga, APS melayani keluhan dan rujukan tentang acute pain termasuk juga cancer pain. Disini kami diajar teori dan praktisnya mencampurkan obat pain controller dan berpeluang untuk merasakan sendiri sensasinya memasukkan obat epidural, melawan tahanan tekanan negative di epidural space.

Minggu Ketiga. Diri ditemptkan di RS Ibnu Sina disebabkan diri bakal ujian dengan salah satu supervisor yang tugas dirumah sakit ini.. dr,Syafri Arief, Sp.An. Diri diharuskan untuk mengikuti adaptasi di rumahsakit tersebut pada hari sabtu yang merupakan hari boss anestesi, dr.Syafruddin Gaus,PHD,SpAn. Hari yang menegangkan. Namun kami harus juga melaluinya. Menerima operan dari minggu sebelumnya dan belajar untuk “lebih lincah” bekerja memandangkan kami pada minggu berikutnya hanya berdua disitu berbanding 4 orang minggu sebelumnya.

Melalui minggu berikutnya, meski supersibuk dan kewalahan gara-gara terlalu banyak operasi yang dijalankan tiap harinya, tetap saja kami gembira dan menikmati hari. Setiap dari kami harus mengcover 2 ruang operasi dan membantu dokter yang hanya berdua tugas disana. Memerlukan kelincahan tingkat tinggi untuk bergerak ke sana sini apalagi jika semua ruang operasi dibuka untuk operasi. Kadang kami masing-masing dan dokter harus masing-masing mengambu ditiap ruang operasi. Juga butuh ingatan yang kuat untuk menghapal obat yang masuk, tensi dan heart rate setiap pasien kerna kami jarang punya peluang untuk mencatat sewaktu operasi berlansung. Dokter dan co-ass sama sibuk. Namun apa yang mengurangi kadar ketensionan kami adalah kerna dokter yang kami damping sangat bersahabat, seru dan sporting. dr.Ayu dan dr.Iswan. paling cepat kami pulang sewaktu stase disini adalah jam 7 malam. Itu juga sebenarnya kami tidak menunggu hingga selesai semua operasi kerna dokter-dokter yang baik hati itu tidak sanggup menyiksa kami hingga tengah malam.

Minggu tiga kami tituntut oncall sebanyak 4 kali seminggu. Tempat standby kami pula ditempatkan di ruang ICU. Intensive care unit. Namun disebabkan diri bertugas dirumah sakit luar, diri diberi kelonggaran dikurangi jaga menjadi 3. Apalagi kerna diri akan dinas 6 hari seminggu. Baca: hari sabtu tetap dinas di IBSI sedangkan di RSWS, hari kerja Cuma hingga Jumat. Menjaga pasien sepanjang malam benar-benar suatu tugas mencabar apalagi jika ada keluhan pada tengah malam. Tidak seperti di bagian Interna yang biasanya keluhan ringan, bisa kita sebagai co-ass sendiri yang tindaki. Namun di ruang ICU, biar keluhan kecil harus kita melapor pada dokter yang bertugas. Kerna setiap pasien memiliki tingkat sensitivitas mereka lebih tinggi dan mereka terhubung dengan mesin-mesin anestesi seperti ventilator dsb yang memerlukan tingkat waspada yang lebih tinggi.

Minggu Keempat.kembali ke RSWS. Diri ditugaskan dinas di ICU. Disini diri belajar tentang terapi cairan, tentang apa yang harus diperhatikan dan difollow up pada pasien-pasien yang ada disitu serta bagaimana menjalankan protap FASTHUG pada pasien yang memerlukan perawatan khusus. Disini diri berpeluang melihat sendiri pelbagai jenis tindakan anestesi dari memasang dan mengatur mesin ventilator, mengambil darah AGD, dan memasang double lumen pada pasien yang akan menjalankan hemodialisa.

Minggu 4 hanya oncall sebanyak 2 kali. Namun tetap standby di ICU. Sudah terbiasa dan agak enak juga memandangkan diri juga dinas di sana hingga diri menghapal betul semua pasien yang ada disana.

2 ulasan:

Catat Ulasan