Skinpress Rss

Sabtu, 1 Disember 2012

DISEMBER

2



Disember tiba…
Diiringi hujan renai yang perlahan-lahan mengguyur bumi. Suasana yang persis sama sewaktu kau memutuskan untuk pergi. Disember yang memaksaku untuk menghitung hari-hari yang tersisa. Menyiksa. Seakan menghitung mundur menuju hari kematian. Jarak antara dua angka di jam dinding seakan menyempit secara drastic. Cemburu benar akan kebersamaan. Untuk kali itu, benar-benar berharap waktu akan berhenti.. tolong berhenti saja disitu. Tidak sanggup melangkah dengan lebih jauh. Kerna langkah kita hanya akan memperbesar jarak.

Namun waktu tidak pernah mahu akur. Ia lebih memilih untuk melatih hati supaya tegar dari memanjakan diri dengan mimpi yang membuai lena hari semalam. Ia sepertinya sedang mempermainkan kita. Kenapa sekarang?? Kenapa di saat kebersamaan baru berjalan segaris? Saat semuanya berlansung baik-baik saja? Saat aku masih bersandar dibelakangmu saat mahu rebah dijalan? Bersembunyi dibelakangmu untuk menangis diam-diam.. Disaat kau kau sedang mengajarku bahwa kekuatan itu harus dibina dari dalam… Di saat kau mengatakan “ambil jeda sejenak saat kau lelah, tapi jangan lama.. bangkitlah lagi..dan kita sama-sama berjuang dijalan kita masing-masing!!”  Justeru saat begini, kau akan pergi.. tidak tahu kapan kembalinya. Kenapa tidak dari dulu? Waktu-waktu menyebalkan yang dipenuhi konfrontasi tidak jelas dan musim salju yang membekukan itu? Perpisahan ini pasti akan menoreh luka. Mendalam mungkin. Munafik untuk tidak merasa kehilanganmu dan mengatakan “aku akan baik-baik saja”..

Tapi itulah.. lagi-lagi aku yang harus akur pada takdir. Belajar tersenyum pada hakikat. Pasrah dengan permainan waktu.. kerna Tuhan sungguh mahu mensutradarai kisah ini sendiri. Tuhan yang Maha Pemurah membuktikan sifat kekuasaanNya dengan memberi kemurahan airmata yang tak reti untuk berhenti mengalir dari tubir muara. DIA harus melakukan itu!! Demi mengajar hati untuk kuat. DIA ingin mendidikku sendiri. meski lewat kamu. Membuka mata ini supaya melihat dengan lebih jelas dan positif. Toh, hujung-hujungnya, hukum jarak, perbedaan longitude dan latitude bukanlah suatu tantangan yang mustahil kita lewati. Seperti kisah kupu-kupu yang harus melalui celah yang sempit sebelum berjaya keluar dari kepompong dan melihat dunia yang indah. Aku juga. Mungkin kesakitan dan kehilangan itu perlu.. untuk menjadi kuat dan tegar..melihat dunia dari bingkai yang lebih indah…

Meski Disember tetap saja menghadirkan rasa yang sedih dan menyiksa, Disember yang mengingatkan pada airmata yang tidak ada harganya, Disember yang memaksa bahwa harus ada kata “pisah” dalam episode kehidupan yang tidak mungkin dipungkiri, Namun rasa syukur tetap melangit tinggi. Kerna Disember itu mengundang Januari, Februari dan bulan-bulan seterusnya yang digilir cahaya mentari, mendung, hujan serta pelangi yang kita lewati..

Disember memang lambang penghujung bagi sebuah tahun. Pengakhir bagi sebuah kisah. Namun menjemput tahun yang baru pula. Dengan kisah yang baru…ada pepatah mengatakan: tak bersama tak berarti renggang, jauh tak berarti terpisah..

Aku suka kata-kata yang pernah kau lakarkan:
“Aku suka senja,aku suka warna langitnya…suka keindahan  mataharinya, berharap aku bisa menjadi seperti matahari yang akan selalu terbenam, namun tak pernah lupa untuk terbit.”

2 ulasan:

Catat Ulasan