Disember tiba…
Diiringi hujan renai yang perlahan-lahan mengguyur bumi. Suasana
yang persis sama sewaktu kau memutuskan untuk pergi. Disember yang memaksaku
untuk menghitung hari-hari yang tersisa. Menyiksa. Seakan menghitung mundur
menuju hari kematian. Jarak antara dua angka di jam dinding seakan menyempit
secara drastic. Cemburu benar akan kebersamaan. Untuk kali itu, benar-benar
berharap waktu akan berhenti.. tolong berhenti saja disitu. Tidak sanggup
melangkah dengan lebih jauh. Kerna langkah kita hanya akan memperbesar jarak.
Namun waktu tidak pernah mahu akur. Ia lebih memilih untuk
melatih hati supaya tegar dari memanjakan diri dengan mimpi yang membuai lena
hari semalam. Ia sepertinya sedang mempermainkan kita. Kenapa sekarang?? Kenapa
di saat kebersamaan baru berjalan segaris? Saat semuanya berlansung baik-baik
saja? Saat aku masih bersandar dibelakangmu saat mahu rebah dijalan? Bersembunyi
dibelakangmu untuk menangis diam-diam.. Disaat kau kau sedang mengajarku bahwa
kekuatan itu harus dibina dari dalam… Di saat kau mengatakan “ambil jeda
sejenak saat kau lelah, tapi jangan lama.. bangkitlah lagi..dan kita sama-sama
berjuang dijalan kita masing-masing!!” Justeru
saat begini, kau akan pergi.. tidak tahu kapan kembalinya. Kenapa tidak dari
dulu? Waktu-waktu menyebalkan yang dipenuhi konfrontasi tidak jelas dan musim
salju yang membekukan itu? Perpisahan ini pasti akan menoreh luka. Mendalam
mungkin. Munafik untuk tidak merasa kehilanganmu dan mengatakan “aku akan
baik-baik saja”..
Tapi itulah.. lagi-lagi aku yang harus akur pada takdir. Belajar
tersenyum pada hakikat. Pasrah dengan permainan waktu.. kerna Tuhan sungguh
mahu mensutradarai kisah ini sendiri. Tuhan yang Maha Pemurah membuktikan sifat
kekuasaanNya dengan memberi kemurahan airmata yang tak reti untuk berhenti
mengalir dari tubir muara. DIA harus melakukan itu!! Demi mengajar hati untuk
kuat. DIA ingin mendidikku sendiri. meski lewat kamu. Membuka mata ini supaya
melihat dengan lebih jelas dan positif. Toh, hujung-hujungnya, hukum jarak,
perbedaan longitude dan latitude bukanlah suatu tantangan yang mustahil kita
lewati. Seperti kisah kupu-kupu yang harus melalui celah yang sempit sebelum berjaya
keluar dari kepompong dan melihat dunia yang indah. Aku juga. Mungkin kesakitan
dan kehilangan itu perlu.. untuk menjadi kuat dan tegar..melihat dunia dari
bingkai yang lebih indah…
Meski Disember tetap saja menghadirkan rasa yang sedih dan
menyiksa, Disember yang mengingatkan pada airmata yang tidak ada harganya, Disember
yang memaksa bahwa harus ada kata “pisah” dalam episode kehidupan yang tidak
mungkin dipungkiri, Namun rasa syukur tetap melangit tinggi. Kerna Disember itu
mengundang Januari, Februari dan bulan-bulan seterusnya yang digilir cahaya
mentari, mendung, hujan serta pelangi yang kita lewati..
Disember memang lambang penghujung bagi sebuah tahun. Pengakhir
bagi sebuah kisah. Namun menjemput tahun yang baru pula. Dengan kisah yang baru…ada
pepatah mengatakan: tak bersama tak berarti renggang, jauh tak berarti
terpisah..
Aku suka kata-kata yang pernah kau lakarkan:
“Aku suka senja,aku suka warna langitnya…suka keindahan mataharinya, berharap aku bisa menjadi
seperti matahari yang akan selalu terbenam, namun tak pernah lupa untuk terbit.”

sukaaaa sekali tulisan ini... ^_^
adikku ini memang pandai merangkai kata yang menyiratkan makna yang mendalam...
haha makna mendalam spt apa itu kk maksudx? cuma coreng2 berbau puitis gak jadi yang dgn pedex tetap dipostingkan.. asal hati senang... asal kata "disember" itu tak lagi berputar2 dalam kepala hingga mengganggu aktivitas..ckck