Pallawa.

Tongkonan Pallawa adalah salah satu tongkonan atau rumah adat yang sangat menarik dan berada di antara pohon-pohin banbu di puncak bukit. Tongkonan tersebut didekorasi dengan sejumlah tanduk kerbau yang ditancapkan di bagian depan rumah adat. Terletak sekitar 12 Km ke arah utara dari Rantepau.
Londa.
Londa adalah bebatuan curam di sisi makam khas Tana Toraja. Salah satunya terletak di tempat yang tinggi dari bukit dengan gua yang dalam dimana peti-peti mayat diatur sesuai dengan garis keluarga, di satu sisi bukit lainya dibiarkan terbuka menghadap pemandangan hamparan hijau. Terletak sekitar 5 Km ke arah selatan dari Rantepau.
Ke’te Kesu.
Obyek yang mempesona di desa ini berupa Tongkonan, lumbung padi dan bangunan megalith di sekitarnya. Sekitar 100 meter di belakang perkampungan ini terdapat situs pekuburan tebing dengan kuburan bergantung dan tau-tau dalam bangunan batu yang diberi pagar. Tau-tau ini memperlihatkan penampilan pemiliknya sehari-hari. Perkampungan ini juga dikenal dengan keahlian seni ukir yang dimiliki oleh penduduknya dan sekaligus sebagai tempat yang bagus untuk berbelanja souvenir. Terletak sekitar 4 Km dari tenggara Rantepau.Pada percutian (libur) kali ini berpeluang untuk tinggal bermalam bersama dengan keluarganya moyang temanku(orang tuanya nenek teman). Walaupun berbeza(beda) agama, namun hubungan mesra antara temanku dengan moyangnya tersebut amat mengharukan. Moyangnya yang sudah menghampiri usia 90an kelihatan sangat mesra menyambut tamu dan masih kelihatan aktif menjalani aktiviti (aktivitas). Walaupun moyang lelaki terbatas pergerakannya lantaran menghidap penyakit Parkinson, namun penglihatan dan ingatannya masih kuat. Temanku yang lebih mesra di panggil “Miss” adalah cicit sulung yang penting dan amat diraikan dikeluarga tersebut.
Sempat mengikuti moyang perempuan (nenek) berjalan ke rumah tetangga pada sebelah sore. Ternyata dirumah tetangga tersebut ada 2 jenazah yang masih disimpan. Menurut tante empunya rumah, satunya adalah jenazah nenek (ibunya) yang punya kaitan darah dengan moyang miss. Nenek tersebut sudah meninggal pada bulan Juni tahun lalu sedangkan jenazah yang lagi satu adalah jenazah bapa saudara yang meninggal September tahun lalu. Jenazah-jenazah ini akan dinaikkan ke Tongkonan setelah upacara/ pesta yang akan diadakan pada bulan Juni nanti. MasyaAllah kasihannya mayat-mayat tersebut. Betapa lama ia tersiksa kerana tidak dimakamkan.
Dalam perjalanan pulang, nenek sempat memarahi Miss kerana tidak masuk ke kamar yang
Malamnya menerima kunjungan nenek saudara (adik bungsu nenek yang masih berusia 56 tahun) yang mengetahui kedatangan miss ke situ. Nenek saudara ternyata sangat akrab dengan keluarga miss. Dia yang berperan menjaga ayah miss sewaktu kecilnya memandangkan nenek miss(kakak sulung dari keluarga nenek) sentiasa membawa nenek saudara kemana-mana hingga tiba saat nenek saudara menikah dengan seorang pendeta yang bernama Thomas. Pendeta Thomas juga adalah turunan Toraja asli. Kelihatan sangat bersahabat keluarga nenek saudara tersebut hingga pada awalnya sukar untuk percaya kalau suaminya adalah pendeta.
Apa yang diri paling ingati saat berbicara dengan nenek saudara dan Pendeta Thomas adalah tentang upacara pemakaman yang diadakan di situ pada setiap Juni dan Disember. Pada pendapat nenek saudara, agamanya sangat adil hingga setiap kali upacara akan dikorbankan 20-30 ekor kerbau dan berates ekor babi yang mana dagingnya akan diberikan sama rata kepada setiap rumah yang ada di desa tersebut tanpa satupun terkecuali. Berbeza (beda) dengan Islam yang hanya memperuntukkan daging korban kepada fakir miskin dan orang yang tidak mampu. Itulah bukti kasih sayang yang tidak berbelah bagi tanpa membedakan darjat. Tapi setiap mahu mengadakan upacara, pasti terkuras habis wang yang dikumpul bertahun-tahun untuk membeli beratus ekor kerbau yang setiap satunya berharga antara 12-14 juta. Belum lagi kerbau albino yang berwarna putih pink yang setiap satunya berharga mencecah puluhan juta. Itulah demi kebanggan dan penghormatan.
MasyaAllah, lagi satu ajaran yang menyusahkan dan membebankan ummat. Itu sangat bertentangan dengan ajaran Islam, agama fitrah yang mengikut acuan Pencipta setiap perkara di alam buana ini. Islam tidak pernah membebankan ummatnya untuk melakukan sesuatu hal yang berada di luar kemampuannya. Kenapa Islam mensyariatkan supaya daging korban diberikan kepada fakir miskin kerna fakir miskin adalah orang yang memerlukan dan akan menghargai setiap yang ia dapatkan. Bayangkan jika daging korban diberikan kepada golongan yang kaya, tidak semestinya mereka akan menghargai daging tersebut dan memakannya kerna masih banyak menu lain yang sesuai dengan selera mereka. Daging korban tadi paling-paling akan menjadi simpanan beku di peti hingga tidak layak lagi di makan. MasyaAllah berlaku pembaziran di situ. Orang yang memberi juga.. dipertimbangkan dalam Islam supaya tidak membebankannya kerna jika memberikan daging korban pada semua orang pasti akan membebankan orang yang membuat acara. Betapa Islam itu menimbang banyak aspek.
Islam juga mengajarkan kita tentang kesederhanaan. Dalam mengadakan sesebuah acara tidak perlu hingga kita menguras semua harta yang kita ada. Sedangkan kita masih harus menjalani hari-hari ke depan yang lebih memerlukan harta-harta tersebut. Makanya sebaiknya kita mengadakan majlis, sesuai dengan kemampuan kita dan sederhana. Kerna yang paling penting menurut Islam itu adalah keberkatan. Itulah kesenian dan keadilan Islam. Adil itu bukan 50%-50% atau sama rata sebaliknya adil itu adalah meletakkan sesuatu kena pada tempatnya.Pertama kali melalui pengalaman hidup didalam keluarga Kristien yang menganut kepercayaan/aqidah yang jelas sekali berbeza (beda) dengan kita dan bagaimana bermuamalat dengan mereka sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Islam. Memerhatikan cara hidup dan budaya masyarakat yang sama sekali lain dan memahami betapa dibalik tali kekeluargaan yang erat masih ada perhubungan aqidah yang lebih kukuh mengikat kasih sayang kami dengan miss. Merasai bahang kasih sayang dari untaian ukhuwah atas dasar aqidah kerana Allah SWT.
Sebagai kesimpulan dari tarbiyah perjalanan kali ini adalah:
- Kematian bukan hanya persoalan perjalanan jasad tak bernyawa menuju kepada perkuburan sebaliknya adalah perjalanan roh/spiritual menuju kepada pembalasan Allah
- Perkara yang dihitung oleh Allah bukan material sebaliknya amal soleh yang dikerjakan sepanjang hidup di dunia
- Islam itu tidak menyusahkan dan sesuai dengan fitrah manusia
- Islam itu tidak membebankan dan menganjurkan kesederhanaan
- Keadilan itu bukan 50-50 tapi adalah meletakkan sesuatu kena pada tempatnya.

0 ulasan:
Catat Ulasan