
Kemarin baru menduduki ujian akhir perkuliahan Sistem Hematologi. Sewaktu mengambil tempat, kelihatan sekelompok mehasiswa bersemangat berebut tempat supaya masing-masing mengambil posisi ‘strategik’ berhampiran antara satu sama lain. Seorang berkata “bagi-bagi jawapanmu nah”.. ya, mereka sudah merancang untuk saling menduskusikan jawapan saat ujian nanti. Maka tempat yang strategik memainkan peran yang penting untuk memastikan bahawa mereka tidak akan ketahuan (didapati oleh pengawas). Mereka juga sudah membahagikan topic yang harus dikuasai supaya bila ada soalan yang berkenanan sesuatu topic ada teman yang telah betul menguasainya. Jadi topic yang dipelajari oleh seseorang mahasiswa tidak terlalu banyak dan dapat dikuasai dengan baik.
Di satu sudut yang lain, kelihatan beberapa orang mahasiswa sedang khusyuk menyalin nota-nota ringkas atau klue di tangan, dicebisan kertas yang kemudian di selitkan di bagian bekas pensil dan di celah meja. Tak kurang juga yang menulisnya di sisi tepi meja yang akan digunakan dalam sewaktu ujian nanti.
Ditambah lagi dengan terputusnya bekalan listrik ditengah ujian. Bagaikan tuah yang datang bergolek. Kecoh ruangan dengan suara perbincangan mahasiswa. Penjaga hanya memejamkan mata. Pasrah dengan apa yang berlaku..ada mahasiswa yang duduk di depan berpindah ke belakang semata-mata untuk meniru jawapan temannya yang dikatakan lebih pintar.
Wah usaha-usaha yang kreatif untuk meniru (nyontek) dalam ujian. Dewasa ini, diri sering sekali melihat fenomena ini berlaku dalam masyarakat pelajar. Baik sekolah rendah(SD), sekolah menengah (SMP/SMA), pra-universiti (matrikulasi) bahkan di kalangan mahasiswa yang terpelajar sekalipun. Bukan hanya di university ini bahkan di seluruh dunia. Seperti suatu mahakarya yang membudaya dalam masyarakat yang dikatakan sebagai golongan intelektual ini. Budaya Plagiarisme!
Ide atau pemikiran plagiarisme merupakan sesuatu yang bisa dibilang buruk atau negatif. Karena yang tercermin adalah sifat mencontek atau menjiplak sesuatu hasil orang lain dan mengakui sebagai karya pribadi. Itu secara besarnya. Dan meniru dalam ujian juga adalah salah satu bentuk dari plagiarism.
Mungkin seulas deep learning tentang dari mana plagiarisme muncul, diawali dengan seorang yang tidak tahu, dia menanyakan, melihat hasil orang, atau memperoleh tanpa izin milik orang lain sehingga orang tersebut dapat dibilang telah mengetahui obyek tertentu yang dicarinya. Dengan penekanan sesuatu yang didapatnya itu di cap sebagai hasil dirinya sendiri.
Berbeda dengan sesorang yang berhasil memperoleh sesuatu dari orang lain, namun dengan tetap mengakui bahwa hal itu diketahui dari sebuah sumber tertentu serta tidak mengecam bahwa itu hasil jerih payah penemuan atau penciptaan pribadi.
Plagiat berawal dari keindahan serta kecintaan seseorang akan sesuatu. Semua yang dipresepsikan indah oleh manusia berawal dari rasa cinta. Namun karena ada sesuatu hal dalam tanda kutip keterbatasan untuk memperoleh keindahan, maka manusia senantiasa menyikapi dengan beragam. Dan salah satunya menyikapi dengan plegiarisme.
Jika diberikan contoh, setiap musisi beranggapan pujian penggemar adalah sebuah keindahan, namun keterbatasan wawasan serta pemakaian artikel partitur, mereka cenderung meniru. Dan sebagainya. Bagi mahasiswa seperti kita, keindahan yang sangat mendasar adalah point yang bagus, cepat lulus, dan akhirnya mendapat pujian. Namun atas beberapa keterbatasan, banyak mahasiswa melewati jalan pintas.
Sesungguhnya Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, ruku dan sujudlah kamu serta beribadahlah kepada Rabb kamu dan kerjakanlah segala kebajikan, agar kalian mendapatkan kemenangan.”
Sebagai munthalaq kita ambil nilai-nilai rabbani dalam al Qur’an yang terkait dengan muwashafat (ciri) dan khashaish (karakteristik) seorang mukmin. Disebutkan dalam surat Al Mukmin, bahwa salah satu ciri orang mukmin adalah mushallun (menegakkan shalat). Kemudian yang berkaitan erat dengan komitmen kita berdakwah dan berjihad adalah: “Dan orang-orang yang memenuhi amanat dan janji mereka…”.
Sebagai munthalaq kita ambil nilai-nilai rabbani dalam al Qur’an yang terkait dengan muwashafat (ciri) dan khashaish (karakteristik) seorang mukmin. Disebutkan dalam surat Al Mukmin, bahwa salah satu ciri orang mukmin adalah mushallun (menegakkan shalat). Kemudian yang berkaitan erat dengan komitmen kita berdakwah dan berjihad adalah: “Dan orang-orang yang memenuhi amanat dan janji mereka…”.
Hal itu harus menjadi titik tolak kita, bahwa salah satu karakteristik untuk membangun masyarakat muslimin adalah orang-orang yang selalu memelihara amanah yang diberikan Allah kepada manusia, yaitu wazhifah ibadah dan khilafah. Kewajiban itu telah ditawarkan sebelumnya kepada langit dan bumi, tapi mereka semua menolaknya, kemudian manusia yang siap menerima. Semoga kita tidak termasuk apa yang disebut Allah dalam akhir ayat: “Sesungguhnya manusia dalam keadaan zalim dan bodoh”.
Harus kita sadari pula betapa amanah itu akan dipertangungjawabkan, “Sesungguhnya setiap janji akan dimintai pertanggungjawaban”. Karena itu tepatilah janji. Ilmu itu adalah amanah dan apabila kita menuntut ilmu, maka ilmu punya hak ke atas kita. Apabila kita meniru dalam ujian (nyontek) maka kita sebenarnya telah melanggar hak ilmu. Untuk apa kita bersusah payah menuntut ilmu kalau pada akhirnya kita tidak mengaplikasikan atau menggunakan ilmu yang telah kita pelajari? Hingga pernah terbaca satu status temanku
“Aku yakin, nilai yang di takdirkan untukku tidak akan berkurang, meski begitu banyak org yang curang. Aku yakin, IP(PNG)ku telah ditetapkn di Lauhul Mahfudz 50rb thn yg lalu, maka kupilih jalan yg ma'ruf untk meraihnya. Aku yakin, rezkiku dimasa depan tidak akan diambil siapapun,maka aku bersabar dengan pRoses ini. Dan aku singkt smua i2 dgn:aku b'iman pd TAKDIRMU Ya Rabb!”
MasyaAllah, Betapa jujur dan amanah pada ilmu juga memerlukan mujahadah. Di saat suasana sekeliling tidak membantu, teman-teman sibuk berdiskusi dan meniru (nyontek) soalan ujian yang harusnya dikerja sendiri, bagaimana kita meneguhkan pendirian bahawa Allah Maha Melihat, Allah Maha Mendengar dan Allah Menyaksikan. Ilmu menangis saat melihat perbuatan curang kita yang terang-terangan mengkhianatinya. Mungkin bagi sesetengah orang, meniru itu hanyalah hal yang kecil dan tidak memberi kesan namun sebenarnya dampaknya akan kembali kepada diri kita.
Semoga kita tergolong dalam orang mukmin yang jujur, amanah, meyakini bahawa Allah itu Maha Melihat dan perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Sama-samalah mendidik diri menjadi mukmin yang sensitive. Ayuh kita berusaha dengan maksimal dan seterusnya berdoa dan bertawakkal kepada Allah atas semua keputusan. Yakinlah bahawa pertolongan Allah itu dekat. Amat dekat. Raihlah kejayaan dengan jujur dan dengan cara yang diredhai oleh Allah. semoga kejayaan yang kita perolehi adalah kejayaan yang berkat. Hasil titik peluh kita dan melalui jalan yang berkat pula.
ketahuilah bahawa sesungguhnya Allah tidak melihat kepada hasil tetapi Allah menilai usaha kita dan proses meraihnya. Apabila dia menangguhkan kejayaan buat kita, yakinlah bahawa DIA sedang merancang yang terbaik buat kita.

semoga keteguhan selalu di hati, semangat walau tiada dukungan, terus berkarya... karena perjalanan masih panjang...
Wah...tulisannya keren...!
Seharusnya semua penunut ilmu mengambil manfaat dari tulisan ini. Yah, kejujuran memang semakin hari semakin kecil tempatnya, bahkan dalam proses menuntut ilmu sekalipun. Padahal, cara2 tidak benar seperti itu hanyalah suatu cara membohongi diri sendiri, dan org lain yang nantinya akan melihat hasil dari kebohongan itu. Maka, dengan semua gelar dan nilai2 yang didapatkan dengan cara yg tidak jujur, tidak malukah?
Jazakillah 4 share it, ukh!
dimasady: terima kasih atas semangatnya.. semoga Allah terus memberikan diri ini sekelumit ilham untuk terus menulis sesuatu yang bermanfaat untuk semua.
diena:betul itu ukhti.. kejujuran itu susah sekali untuk dipupuk belakangan ini. ana makin heran apabila ada yang tidak semena-mena menuduh ana tidak kompak gara-gara tidak nyontek saat ujian. Masya-Allah, semoga Allah memberikan petunjuk padanya akhir nnti