Skinpress Rss

Rabu, 12 Januari 2011

KOTA PALOPO

0


Berpeluang untuk menjejakkan kaki ke Kota Palopo sesuai memenuhi undangan temanku untuk berkunjung ke rumahnya sekaligus berkenalan dengan keluarganya yang asli dari sana. Kami berangkat ke Palopo menaiki bas dengan tambang RP120,000. Perjalanan memakan masa 8 jam dari Kota Makassar melalui Maros dan Pangkep.

Kota Palopo adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Kota Palopo sebelumnya berstatus kota administratif yang berlaku sejak 1986 berubah menjadi kota otonom sesuai dengan UU Nomor 11 tahun 2002 tanggal 10 April 2002. Kota ini memiliki luass wilayah 155,19 Km2 dan berpenduduk sejumlah 120.748 jiwa dan dengan jumlah Kecamatan: Kecamatan Wara, Kecamatan Wara Utara, Kematan Wara Selatan, Kecamatan Telluwanua, Kecmatan Wara Timur, Kecamatan Wara Barat, Kematan Mungkajang, Kecamaatan Bara dan Kecamatan Sendana.

Terdapat banyak tempat-tempat menarik yang sempat diri dan sahabat-sahabat kunjungi di kota ini. Antara tempat wisata (perlancongan) yang menjadi tumpuan adalah masjid lama, Masjid Jami’ yang dibina menggunakan blok-blok batu yang besar yang dipercayai di ambil dari Tana Toraja dan dilekatkan dengan hanya menggunakan putih telur. Yang menambah keunikan masjid ini adalah tiang tengah yang merupakan tiang penyangga masjid diperbuat dari kayu langka yang sekarang sudah tidak mungkin untuk menemui kayu ssebesar vtiang tersebut. Merupakan mesjid tertua di Sulawesi Selatan juga sebagai bukti bahwa kerajaan Luwu merupakan daerah pertama masuknya agama Islam sekitar abad ke 15 atau abad ke 16. Mesjid ini syarat dengan simbol-simbol keagamaan. Terletak di pusat kota Palopo. Sempat mendirikan solat Magrib berjemaah di masjid bersejarah ini pada malam kedua berada di Palopo.


Selain itu ada juga Perlabuhan Tanjung Ringgit yang menjadi tumpuan jalan santai masyarakat setempat pada sore hari. Di perlabuhan ini terdapat kapal-kapal yang berlabuh memberikan panorama yang indah seperti karya alam yang tidak bisa diungkap oleh pena. Disepanjang perlabuhan terlihat pelbagai aktiviti yang dijalankan oleh para pengunjung. Ada yang memancing ikan, ada yang sekadar berjalan dan berbual (ngobrol) bersama teman-teman, ada yang mengambil peluang berfoto, merakam suasana sore hari yang indah dengan abadi bahkan ada juga yang berenang-renang melepaskan lelah kesibukan kerja yang menggunung. Tak kurang juga yang bersantai sambil menikmati makanan dan minuman yang disediakan di warung sepanjang perlabuhan.

Diri sempat menikmati makanan khas Palopo Kapurung Ikan di salah satu warung di pinggir perlabuhan. Enaknya kapurung ikan memukau rasa. Kuah yang ada kemiripan dengan rasa masak asam pedas itu enak sekali dinikmati dengan sagu dan daun khas ditambah jagung dan campuran lainnya. Didukung pula dengan pisang pepet kegemaran serta pisang goreng coklat plum sugar keju sangat menyaratkan rongga perut. Sempat juga berbual-bual (ngobrol) dengan orang Palopo yang turut makan di situ. Orang-orang Palopo sangat baik dan bersahabat. Sangat mesra dan membuatkan diri merasa tidak canggung.


Ada lagi air terjun Sarambu Alla yang menyegarkan deria. Uniknya air terjun ini,jalan menujunya dipenuhi dusun buah-buahan seperti durian, rambutan dan langsat yang sangat lezat dan manis. Namun sayangnya sewaktu kedatangan kami ke sana, buah-buahan baru memasuki fasa pembungaan hingga buah-buah yang masak ranum belum kelihatan. Setelah mengabadikan beberapa foto disana, kami bergerak ke Sungai Jodoh yang dipercayai warga setempat sebagai tempat paling mustajab untuk mohon dipertemukan jodoh. Setelah melihat kondisi sungai tersebut, terdetik dalam hati, mungkin tempat ini dinamakan sedemikian kerna kondisi sungainya yang berbatu-batu hingga menciptakan suasana yang romantis untuk pasangan yang datang. Setelah itu kami ke kolam renang umum di Hotel Agro. Kolam mandi yang hampir sama dengan waterboom di Dunia Fantasi Pangkep.

Sebelum pulang sempat singgah foto-foto di Masjid Agong Palopo yang terletak di jantung Kota tersebut. Masjid yang sangat megah tersergam indah menunjukkan kebangaan masyarakat Palopo yang beragama Islam..Masjid ini menjadi tumpuan masyarakat baik untuk solat lima waktu, solat Jumaat mahupun solat sunat lebaran Aidilfitri dan Aidiladha. Hingga menurut temanku, warga akan membanjiri masjid itu hingga ke bagian jalan tar (aspal) dan juga padang (lapangan) di depan masjid.

0 ulasan:

Catat Ulasan