
18 Agustus 2010. Di undang berbuka puasa di rumah koordinator desa (Kordes) kami, saudara Irfan Syahrir di rumahnya yang kebetulan juga di Jeneponto. Tidak begitu jauh dari posko kami. Perjalanan ke sana menaiki angkot kota (pete-pete) mengambil masa lebih kurang 20 menit dengan kos Rp60 000.
Sampai di sana di sambut oleh bunda Irfan yang kelihatannya sangat ramah. Kami dipersilakan duduk di ruang tamu sambil menunggu waktu berbuka. Mendekati jam 6, baru kelihatan kelibat ayah Irfan yang baru pulang dari kerja. Walaupun kepenatan dalam seragam kerjanya, ayah Irfan tetap tersenyum dan menyambut setiap tamu yang datang dengan begitu mesra.
Sempat berkenalan dengan adik ketiga Irfan, Ayu. Secantik namanya, begitulah empunya diri dan pekerti. Ayu sangat peramah dan bersahabat seperti orang tuanya. Walau kali pertama bertemu lansung bisa mesra dan bercerita tentang banyak hal. Gadis yang berusia lebih kurang 16 tahun itu kini menuntut di SMK bagian akutansi (accountancy) dan merencanakan untuk melanjutkan pelajaran di bidang yang sama di peringkat perguruan tinggi (IPT) nanti.
Kebahagiaan terpancar di wajah mulus itu tatkala menceritakan tentang susur galur keluarganya yang terdiri dari 4 bersaudara. Kakaknya yang sulung kini telah berkerja di Mandala sementara Irfan selaku kakak keduanya sudah hampir selesai kuliyah sedikit waktu lagi. Dia sendiri akan memasuki era perkuliyahan manakala adik perempuan bungsunya sudah di kelas 5 sekolah dasar SD. Turut termasuk dalam pokok bahasannya adalah tentang hubungan kekeluargaannya dengan tantenya (mak cik- mak ciknya) serta topografi rumahnya dan hubungan dengan tetangganya yang sangat akrab ibarat punya pertalian keluarga. Turut tidak ketinggalan tentang neneknya yang barusan sembuh dari penyakit stroke. Neneknya masih dalam fase pemulihan. Dari anamnesis yang ku lakukan pada nenek Irfan kemudian, ternyata stroke nya berasal dari komplikasi darah tinggi dan penyakit jantung yang telah di alami sejak beberapa tahun belakangan. Namun begitu nenek masih dianugerahkan kesehatan yang baik dan penyembuhan yang mengembalikan anggota geraknya secara fungsional.
Ayu turut petah berbahas tentang isu-isu semasa seperti ramalan mencairnya es di Jawa yang dikhuatiri akan membanjiri kepulauan Indonesia setinggi menara MONAS di Jakarta pada tahun 2050 nanti. Dari cara bicaranya jelas terlihat kecerdasan dan kematangan Ayu dalam menyusun kata dan menyamakan levelnya dengan lawan bicara. Satu kelebihan yang jarang dimiliki oleh anak seusianya.
Keluarga Irfan walaupun tampak sederhana tetap kelihatan amat bahagia. Satu contoh keluarga sakinah yang mampu membentuk peribadi yang teguh dan berkeyakinan. Benarlah asal pembentukan anak-anak yang baik itu bermula dari rumah tangga yang bahagia dan di payungi rahmah dan sakinah.
Sabda rasulullah SAW dalam satu hadith :
“anak-anak itu bersih, ibarat kain putih, ibu bapalah yang mencorakkannya untuk menjadi yahudi, nasrani atau majusi..”
*masakan ibu Irfan sangat enak. Pertama kali merasakan Coto Ayam yang sangat enak dan memenuhi cita rasa hingga menambah dua kali. Penuh cita rasa, penuh juga perut yang di isi hingga hampir terlupa bahawa solat terawih belum dikerja.

0 ulasan:
Catat Ulasan