Skinpress Rss

Sabtu, 7 Ogos 2010

MEMORI PERMATA 2010

2


Berada di Tanjung Bira.. Suasana di Bira masih seperti hari-hari kelmarin. Cantiknya laut yang membiru menggambarkan keagungan penciptanya. Perbedaan kedalaman air menghasilkan warna yang berbeda pula. Menambahkan lagi keunikan pantai Bira yang indah berlantaikan pepasir halus memutih.

Saat-saat di Bira benar membangkitkan memori bersama teman-teman sewaktu menjalani program PERMATA Mei yang lalu.. seperti tahun-tahun sebelumnya, Persatuan Kebangsaan Pelajar Malaysia di Indonesia (PKPMI) telah menganjurkan program motivasi PERMATA yang mana pihak penganjur telah menjemput seorang penceramah dari Malaysia, En. Fazrul Ismail, motivator yang membawa pendekatan dakwah secara simple dan global yang dinamakan sebagai teknik PIES & CASIC. Tujuannya adalah untuk menjadikan dakwah kelihatan ringan di mata masyarakat umum.

Diri bersama Kak Soolihah, Nabilah dan Ana telah mengikuti program tersebut. Ummi yang pada awalnya agak keberatan untuk mengikuti lantaran adanya masalah air yang hampir saban tahun dihadapi di lokasi, turut hadir pada akhirnya, melengkapkan lagi kebersamaan. Turut hadir, sahabatku Rosnani, calon ustazah kelahiran Sabah yang kini sedang menuntut di Sekolah Tinggi Agama Negeri (STAIN) Watanpone, kebupaten Bone. Diri yang menjemput Nani untuk mengikuti program ini usai pertemuan kami dalam ziarah tarbawi Mac lalu ke Bone. Harapanku, di program itu nanti dapat memberi pengalaman pertama pada Nani menyertai acara anak Malaysia setelah setahun terpisah dari komuniti lantaran ketidak tahuan. Di samping ingin memperkenalkannya kepada pimpinan PKPMI tahun ini.

Di Bira, kami menempatkan diri di sebuah kamar (bilik) belakang berenam walaupun sebenarnya harus berlima per kamar. Diri dan Nabilah telah dilantik sebagai panitia (ahli jawatan kuasa, AJK) divisi makanan menyebabkan kami begitu sibuk hingga tidak seluruhnya dapat mengikuti program yang disediakan. Harap maklum, kami terpaksa bersedia di lokasi setengah jam dari waktu program untuk menyediakan kosumsi, keluar dari program juga 15 menit lebih awal. Belum masuk bab cuci gelas, piring, periuk dan sebagainya. Akibatnya, jangankan mahu mengikuti aktiviti lasak seperti explorace, mendengar materi hingga selesai juga tidak sempat.

Agak stress dengan kondisi seperti ini. Bayangkan sejauh 6 hingga 7 jam perjalanan ditempuh untuk datang ke Bira dengan segala bentuk pengorbanan waktu belajar dan jam istirehat, tidak dapat pula memaksimalkan waktu untuk mendapatkan bekal pengisian. Teringat cerita kakakku sewaktu dia menjadi panitia makanan salah satu kem tarbiyyah di Kelantan. Katanya memang susah untuk mengikhlaskan tenaga dan waktu untuk menyediakan makanan untuk program namun itulah hal yang harus kita latih.. latih diri untuk melakukan barang apa kerja sekalipun, dengan ikhlas. Walaupun bekerja di balik tabir tidak dipandang, bahkan tidak dirasakan penting, namun itu sebenarnya adalah suatu tanggungjawab yang maha berat dan krusial. Tanamkan rasa “ Ya Allah, aku ni nak bagi makanan pada orang-orang yang ingin mendalami agamamu..maka ikhlaskanlah ya Allah”..

Mujur ada teman-teman yang tetap setia mendokong. Walaupun tak dapat menghabiskan banyak waktu dengan sahabat-sahabat di program, tetap merasa bersyukur apabila selesai tugasan, pulang ke kamar dapat duduk kembali bersama-sama. Berbincang tentang iman dan membuat konklusi tentang program yang berjalan pada hari tersebut. Jadi setiap hari menghadiri program dengan iman yang ter’cas’. Teringat satu kata-kata :

“ Seorang pejuang berjuang bukan hanya disandarkan oleh kekuatan hatinya tapi disokong oleh kekuatan hati saudara-saudaranya hingga dia berteguh dalam melakukan kebenaran dan bertegas dalam mencegah kebatilan..”

2 ulasan:

Catat Ulasan