Skinpress Rss

Khamis, 26 Ogos 2010

PENUNGGU

0


14 Ogos 2010. Teman poskoku sepertinya sakit. Tidak enak badan katanya. Kepala sudah panas. Mual muntah melengkapkan lagi penderitaan yang ditanggung tubuh. Teman-teman membantu memicit (memijat) tubuhnya biar lega. Tapi keadaannya seperti semakin tenat. Kasian Uul. Ibu rumah memijat bahagian kaki ketika dia tiba-tiba menjerit kesakitan. Serentak kaki berubah menjadi panas. Ibu meneruskan pijatan seakan-akan tiada apa-apa yang berlaku.

Sungguh tidak tegar melihat situasi begitu. Teman-teman menenangkan temanku yang satu itu. Disuruh dia bersabar dan berdoa. Dipaksa untuk mencicip daun sirih sebelum daun itu dioleskan di ubun-ubunnya. Bau daun yang tidak enak itu pasti akan lebih menyiksanya. Walaupun temanku sudah menjerit dan meronta-ronta supaya tidak diperlakukan begitu, tetap saja ia di paksa. Kasihan sekali. Belum reda penderitaan yang ditanggung, kakinya diolesi pula dengan bawang merah hingga meronta-ronta temanku tak tertahan. Pedis katanya kaki. Air mata sudah berjejeran seakan tiada artinya kecuali meredakan perasaan sendiri yang makin tidak tegar untuk bertahan.
Setelah beberapa ketika, baru sedikit lega. Tapi katanya masih sakit-sakit tubuhnya.

Kata ibu, dia kerasukan. Baru kemudian temanku menceritakan tentang kejadian pagi tadi yang dia melihat bayangan lembaga putih berada disebelahnya saat selesai menunaikan solat subuh. Terus meremang bulu romanya. Itu lah saatnya dia merasa ada yang lain dengan dirinya. Pulak.. Pantaslah ibu mengatakan “jangan kasi begitu anaknya orang”..

Dari kejadian itu barulah terbongkar semua cerita-cerita tentang penunggu rumah, penunggu kebun dan sebagainya. Ibu juga menceritakan tentang bapak rumah yang juga seperti orang-orang kampong yang lain “memelihara”. Pantaslah kamar ditepi kamar tuan rumah tidak dibenarkan untuk ditempati kerana di situlah tempat pemujaannya. Ada padi mati yang diikat dan dipuja. Diberi hidangan makanan yang enak-enak seperti pisang, pudding dll. Penunggu itu dipercayai mampu memanggil rezeki supaya hasil tuaian menjadi dan dapat pula diperdagangkan dengan lumayan. Menurut ibu lagi, memang kebanyakan orang dikampung ini memiliki “benda” itu. Cuma tergantung ada orang memiliki yang “baik” dan ada pula memelihara yang “jahat”.

MasyaAllah.tidak ku sangka, dalam abad moden ini masih banyak hal-hal khurafat yang beredar di masyarakat. Cerita yang pernah dikisahkan oleh arwah nenekku suatu ketika dulu ibarat critera yang menari-nari di benakku.. Sungguh amat mengejutkan apabila aku juga menyaksikan fenomena tersebut di depan mata sendiri. Sedangkan mereka menunaikan solat dan menjalani kehidupan sebagai muslim.

Pergantungan pada Allah masih amat rendah. Sedangkan dalam asma’ Allah saja sudah membuktikan bahawa Allah lah yang mengurniakan rezeki, Allah lah yang mehidupkan tanaman dan tumbuhan. Allah lah yang mengekalkan alam agar terus hidup. Tapi manusia tetap ingkar. Tetap degil dari kembali pada Allah. Tetap bongkak dari meminta pertolongan Allah. Mereka lansung tidak menghiraukan bahawa pertolongan Allah itu amat dekat. Formula yang mudah dan praktikal “dan mohonlah bantuan Allah dengan sabar dan solat..”. ingin meminta.. mintalah pada Allah..

Analoginya seperti kita ingin memetik buah di kebun orang, yang mana yang lebih mudah kita dapatkan, meminta dari penjaga kebun atau lansung memintanya dari tuan kebun? Jika kita meminta dari penjaga kebun, pastilah penjaga kebun akan meminta juga dari tuan empunya kebun. Tapi jika kita lansung meminta dari sang pemilik kebun pastilah lansung diberikannya. Antara Allah dengan hambaNya tidak perlu kepada pengantara kerana Allah mendengar lansung permintaan hambaNya.

“have faith in Allah.. have faith in HIM..”

0 ulasan:

Catat Ulasan