Lama rasanya tidak berkumpul lagi anak-anak KKN. Kalo
setahun yang lalu, boleh dikatakan hampir setiap bulan ada saja ide-ide
pertemuannya, namun setahun kedepan ini ternyata sunyi sekali. Mungkin kerna
sebagian dari keluarga ini sudah meninggalkan
tanah bertuah ini.. sebagian lagi sibuk berjuang menyelesaikan sisa
studi.
Hari ini janjian untuk buka puasa bersama keluarga Tolbar. Sekalian
melangsaikan “hutang”ku untuk memasak masakan Malaysia seperti yang pernah
kujanjikan pada mereka. Menu hari ini “Tomyam campur” plus tempe goreng. Kerna permintaan
khas dari Rahma, maka turut membuat “ayam Paprik”. Sebenarnya sudah lama sekali
tidak memasak. Namun Alhamdulillah sepertinya belum hilang ingatan untuk
memasak makanan-makanan rutin itu semua..
Rencana yang bisa hadir hari ini, Winda si Tuan rumah
sendiri, Rahma, diri, Irfan, Adit, Kiki, Uul dan Amel. Namun setelah jenuh
menunggu ternyata hanya kami berempat lagi.. yah, sudahlah!! Ayong ada buka
puasa juga dirumahnya, Adit harus menjaga toko, Kiki tiba-tiba tidak enak
badan, Uul tidak muncul-muncul, Amel harus jaga di Obgyn.. Wawan juga.. Ochy
hilang kabar. Iyan sudah di Buton. Yang lain semua diluar kota. Ya persahabatan
butuh pengertian bukan?
Berempat juga tidak apa-apa. Tetap ada kebahagiaan
tersendiri. Bahagia itu ternyata sederhana saat kita menikmati apa yang ada di
hadapan kita. tidak terlalu berharap dan tidak terlalu kecewa dengan hal yang
tidak sesuai dengan harapan. Berempat kami menikmati buka puasa dengan es
kelapa dan es buah, serta kek “Rainbow” Kiki yang memang dijual oleh Winda. Solat
berjemaah Magrib menyalakan lagi sumbu-sumbu kebahagiaan yang tumbuh mekar
dalam jiwa.
Selesai solat Magrib baru menikmati juadah buka puasa. Berdebar
juga melihat Tomyam yang tidak tahu seperti apa rasanya. Maklum saja belum
dicoba dan di “otter” rasanya. Semoga saja tidak terlalu jelek untuk bertitle “layak
dimakan”..haha.. kata Winda berbeda dari yang biasa dimakan di De Cost. Iya memang
kalau di De Cost itu sebenarnya asal rasa. Tidak pernah kami yang pernah
merasai tomyam itu sendiri mengiktiraf itu sebagai tomyam.. aneh rasanya.. Rahma
terlihat bersemangat dengan ayam papriknya. Maklum saja lama benar dia teringin
menjamahnya lagi setelah beberapa ketika dulu diri pernah memasakkannya itu.
Selesai buka puasa kami terawih bersama di mesjid didekat
rumahnya Winda. Bagus sekali suasananya. Mesjid terbuka itu meski terlihat
kecil tapi sebenarnya mampu menanggung jemaah sebanyak 150 orang. Bacaan imamnya
juga tertil. Enak didengar. Mungkin itulah ajaibnya saat ayat-ayat langit itu
dibumikan.. maka akan terasa dingin dan ringan hati yang mendengarkan.
Bermalam di rumah Winda malam ini. Sudah lama tidak melayani
celoteh teman satu itu yang selalu ceria dan banyak cerita. Meski secara fisik
kelihatan seperti anak-anak sekali namun hakikatnya ini teman satu ada banyak
sisi dewasanya. Meski kepenatan coba juga untuk menggelayut tapi bersama Winda
kepenatan itu berbalas baik..


0 ulasan:
Catat Ulasan