
Aku ingin menceritakan sebuah kisah padamu.. Mahukah kamu mendengarkannya?
Kisah tentang penolakan dan hari-hari yang penuh dengan ketidakrelaan. Kisah tentang pemberontakan jiwa, penyesuaian hati..kisah tentang Kuliyah Kerja Nyata (KKN). Kenapa aku menceritakannya kepadamu, adikku? Kerana kau juga sedang mengalami proses ini. sama seperti diriku suatu ketika dulu. Jadi aku ingin berbagi denganmu pengalamanku dan pengalaman orang lain..kata orang belajarlah dari pengalamanmu dan pengalaman orang lain, sungguh, ia akan mendewasakanmu.. Semoga ia bermanfaat buatmu..
Angin bertiup sepoi-sepoi bahasa. Mai membiarkan hujung jilbabnya liuk lentok terbuai mengikut rentak sang angin. Telefon genggam putih model Samsung B3410 itu diletakkan ke atas pangkuannya. Barusan dia mengirim pesan buat teman baiknya Angqy mengatakan kalau dia sudah ada di tempat. Iya hari ini hari minggu. Hari libur buat semua pekerja umum pemerintah. Meski dia dan temannya Angqy bukanlah bagian dari pekerja pemerintah, mereka tetap sahaja tertakluk kepada jadual rumah sakit (hospital) tempat mereka menjalankan praktikal (tugas profesi). Untung hari ini dia tidak punya jadual jaga (oncall) dan Angqy juga tidak masuk dinas. Lama benar mereka tidak bertemu sejak masing-masing sibuk dengan praktikal. Dan hari ini, baru mereka bisa meluangkan waktu bersama. Sebenarnya, sebentar siang, mereka akan berkumpul reuni Kuliah Kerja Nyata (KKN-PK) posko Tompobulu. Namun sengaja Mai datang awal. Janjian sama Angqy supaya dapat melepaskan rindu dendam dengan lebih awal.
Sambil menunggu Angqy, Mai duduk di atas batu besar sambil melepaskan pandangannya ke laut luas. Menekan telapak kaki ke pepasir putih yang setia menunggu pantai. Mengenang kembali waktu-waktu awal KKN. Fikirannya merentas waktu.. setahun yang lalu…
_______________xxx________________________________xxx________________________________
1 Julai 2010. Hari pertama pembekalan untuk peserta Kuliah Kerja Nyata Profesi (KKN-PK) Unhas Angkatan 35. Peserta berasak-asak di Baruga Pettarani. Bayangkan saja peserta dari pelbagai bidang kesehatan yang jumlahnya lebih dua ribuan harus bergabung dalam 1 program besar, program wajib kampus sebagai tiket sarjana. Program ini menghendaki para peserta mengabdi kepada masyarakat sebagai bentuk aplikasi dari ilmu teori yang telah diperoleh sepanjang 3-4 tahun perkuliah. Pembekalan ini bertujuan memberikan para peserta gambaran awal dan bentuk-bentuk program kerja yang bisa mereka lakukan sepanjang di posko (pos koordinasi) KKN nanti.
Mai mengerling jam tangannya buat kali ke sepuluh dalam 1 jam ini. 10 menit menuju jam 11. Huh, masih ada 1 jam lebih untuk dia terpaku dikerusi sial itu. Mata dipusatkan kearah pembicara namun fikirannya telah menerewang jauh mengangkasa. Tidak ada sama sekali hatinya untuk menyertai program wajib ini. Kerna ia memberi arti bahawa Mai akan terpisah dari teman-teman baiknya. Terpisah dari rutinitasnya. Terpisah dari budaya kesehariannya. Mai benci itu. Mai benci harus berada di pendesaan dengan kelompok orang yang tidak dikenalinya sama sekali selama dua bulan. Meski dari rumpun yang sama tetap dari kelompok yang berbeda. Jauh dari kemudahan dan fasilitas kota yang menjanjikan semuanya.. Ah, benci!!
Soksek.. soksek..
Bunyi berisik dari samping kanannya. Bunyi mengganggu. Mai melirik ke samping. Teman-teman KKN nya sibuk bercerita sesama sendiri sambil ketawa. Dibelakangnya dibarisan mahasiswa laki-laki teman KKN poskonya ,kelihatan ada yang sibuk bermain rubik dan yang lain sibuk menyelesaikan soduku. Tidak ada satupun yang kelihatan tekun mencatat atau mendengarkan perkataan pembicara. Aduh, gawat.. kenapa begitu semua model teman KKN nya? Tidak ada yang kelihatan serius dan “muka buku” seperti yang diharapkan. Same type dengan dirinya. Mai tambah sebal. Segera dia kembali memfokus pandangan ke hadapan. Berusaha menghadam hal-hal yang dinyatakan oleh pembicara..
“Mai..” suatu suara menyapa dari samping sambil gulungan kertas kecil berganti tangan.
Sebentar sore, selesai pembekalan, kita kumpul yah.. Rapat untuk barang yang perlu kita bawa ke posko ..dibawah tangga Baruga.. Semangat anak Tompobulu!!
–Kordes-
Oh, please for a God sake!! Save me!!
Hati Mai berteriak. Dia paling trauma dengan yang namanya “RAPAT” yang dikoordinasikan oleh panitia Indonesia.. sumpah!! Pasti lama dan biasanya tidak penting amat. Cukuplah pengalaman ngerinya menyertai rapat-rapat menyebalkan sewaktu ditahun pertama gara-gara keberuntungannya terpilih sebagai panitia Baksos Kader (Bakti sosial yang dianjur oleh mahasiswa baru sebagai sumbangan pertama diterima menjadi anggota keluarga mahasiswa). Selesai pembekalan Mai lansung pulang. tidak dipedulikan apa kata Kordesnya kerna tidak mengikuti rapat. Ada yang lebih penting harus dia urus. Lagipula dia merasa tidak benar-benar bisa berbaur dengan teman KKN nya mungkin kerna bahasa dan budaya yang meski serumpun tapi tetap tidak sama. Kordesnya tidak berkata apa-apa. Teman-teman poskonya yang lain juga. Mungkin tidak sanggup memarahinya atas kebiadaban tersebut. Mungkin hanya kesal atau mungkin mereka bahkan tidak menganggapnya sama sekali. Dia tidak peduli.
Hari Pelepasan atau hari keberangkatan ke tempat KKN tiba. Mungkin Mai mencatatkan hari itu sebagai hari paling sebal dalam hidupnya. Dia tidak berangkat bersama teman-teman KKN nya yang lain dengan menaiki bis disebabkan dia mengikuti rencana temannya yang dari satu jurusan, Eka untuk pergi dengan menaiki mobil rental. Lebih nyaman katanya. Mai ikut-ikut saja. Tambahan itu satu-satunya teman yang dia punya saat ini. mungkin teman KKN yang lain akan bilang “belagu banget mereka.. anak FK (fakultas kedokteran) tidak mau berbaur sama yang lain!!” atau paling mereka akan bilang “emangnya beda amat yah, ada apa dengan anak FK!!?” biarkan mereka berbicara sepuasnya. Mai tidak mau terlalu menonjolkan diri.. Cukup dia nikmati konfrontasi yang dia ciptakan.
Hari-hari pertama Mai diposko Tompobulu, Kecamatan Rumbia, Kebupaten Jeneponto,benar-benar merupakan hari yang paling payah.. Sepi dalam keriuhan, sendiri dalam keramaian. Tidak ada lagi suara-teman-teman akrab yang mengingatkan dia pada Tuhan, tidak ada juga suara senior yang membisikkan kekuatan. Tidak ada lagi teman curhat (curahan hati) yang bisa diajak cerita.Semua sepi. Tertimbun dek dinginnya hembusan embun pagi yang menutupi kaki pergunungan Tompobulu.
Mai buntu. Banyak hal yang diluar jangkaannya. Banyak hal yang tidak bisa diterima pikiran warasnya. Sukar diterima akalnya saat melihat teman yang diluar posko berjilbab, hanya mengenakan celana pendek didalam rumah sedang didalam tetap ada laki-laki yang bukan mahramnya. Susah percaya saat melihat teman-teman bermain kartu taruhan dan berkelakuan seakan kita bersaudara kandung dengan wajah tanpa dosa. Sulit menerima saat harus makan bersama dalam bulatan besar dan menghadap satu sama lain antara laki-laki dan perempuan, jadual mencuci piring, memasak mahupun membersihkan rumah digabung antara laki-laki dan perempuan diperberat saat teman laki-lakinya yang mengajarkannya cara cuci piring klasik dengan menggunakan beberapa baskom (besin) seperti terakhir kali dia mencuci piring dirumah neneknya belasan tahun lampau. Apalagi saat menjemur pakaian dan besoknya melihat kalau disamping pakaiannya ada kemeja laki-laki yang tergantung disana. Atau lebih parahnya teman laki-laki bahkan yang mengangkat jemurannya. Atau mendapati teman laki-laki berada didekatnya, khusyu’ menonton atau bermain game sebaik membuka mata dari tidur siang dikamar. Tambah jengkel saat dia tidak leluasa keluar kamar waktu malam kerana teman laki-laki tidur diruang tamu sedang dia penghidap insomnia kronik. Yang mampu dia lakukan adalah membuka mata dikegelapan kamarnya dan menghadap dinding sambil mendengarkan iPodnya.
Mai tidak suka situasi-situasi itu. Namun dia lemah tanpa daya. Tidak ada sama sekali yang bisa dia lakukan melainkan melakukan pelarian diri dengan lebih banyak bergaul dengan anak-anak kecil dikampung itu. “teman kecilku” itu gelaran yang Mai berikan. Dia lebih rela berjalan mengelilingi kampong bersama mereka diwaktu sore ketimbang berada dalam posko. dia lebih rela kakinya tercalar dek duri-duri belukar dan batu-batu kasar sewaktu memanjat gunung bersama teman kecilnya. Atau bajunya basah kerna meredah sungai atau juga kotor terpalit lumpur sawah. Dia tidak peduli. Yang penting dia jauh dari suasana posko yang melemaskan.
Diposko Mai adalah yang paling malas bicara. Sedikit ditanya, sedikit juga jawabannya. Malah banyak yang ditanya,sedikit juga jawabannya. Apatah lagi jika ada masalahnya atau ada kerunsingannya.. tambah tidak terdengar suara Mai diposko. Bahkan hingga beberapa hari. Tiada mood. Itu saja alasannya. Alasan klasik yang tidak bisa diterima akal.
Hingga suatu hari, Mai dilanda kesedihan yang amat. Masalah keluarga. Masalah yang memang tidak mampu atmanya menanggung beban tersebut. Seperti kebiasaannya, dia tetap diam. Masih tidak mahu menceritakannya kepada orang asing. Itu fikirannya. Cuma airmata yang tidak mampu dibendung dari luluh menyembah bumi. Melewati batas empangan. Dan dia tidak bisa menyembunyikannya. Teman-teman poskonya gawat. Semua teman yang cewek membujuknya supaya mahu sharing/curhat. Namun Mai tetap enggan. Tetap bersikeras dengan pendiriannya. Hingga teman-temannya ikut menangis meski tidak tahu asbab kegalauan hatinya. Teman laki-laki juga tidak tinggal diam. Mundar mandir dibalik pintu kamar. Seakan tindakan mereka itu bakalan meredakan atau mengurangkan beban Mai. Kegusaran menghiasi wajah masing-masing. Tidak ada lagi kedengaran gurau senda atau tawa ceria diposko Tompobulu tersebut. Disusuli dengan penjagaan mereka terhadap Mai yang demam besoknya entah gara-gara terlalu banyak menangis atau memang kerna perubahan cuaca yang mendadak.
Kesungguhan teman-teman posko Mai menjaga dan menghiburnya sepanjang masa sakit dan masa galaunya benar-benar memberi kesan mendalam pada Mai. Baik teman yang perempuan mahupun teman yang laki-laki. Baru dia sadari jika selama ini, dia yang menciptakan tembok tinggi antara dirinya dengan teman-temannya itu. Dia yang tidak mengizinkan hatinya dari mengenali insan-insan berhati mulia tersebut. Mai baru tahu, jika dia berarti sesuatu bagi mereka semua. Dia adalah bagian dari keluarga kecil ini. Terharu saat sebuah sms masuk ke kotak inboxnya, dari salah satu temannya “Milikilah sebuah hati yang tak pernah membenci..Senyuman yang tak pernah pudar..Sebuah sentuhan yang tak pernah menyakiti..dan sebuah persahabatan yang tak pernah berakhir..cepat sembuh”.. air matanya menetes.
Baru Mai sedari adanya Kak Dwi yang perhatiannya selangit ibu tapi lucunya seperti anak SMA, Si Asmiranda yang manja dan sok artis terkenal tanah air, ada Felli yang suka pulang-pulang tapi selalu menghibur dengan ole-olenya, ada Sabrina yang matang dan pintar masak, ada Angqy yang meski suaranya tidak bisa kurang dari volume 10 tapi tetap selalu menceriakan keadaan, ada Wandy yang selalu disiplin masalah kerja, tegas terpercaya tapi enak diajak cerita, ada Amalia yang gifo (gila foto) plus narsis abis, kecuali saat menghadap mi bakso, tiada lagi kisah lain saat itu kecuali baksonya. Ada Rosita yang kalem dan tumpuan utama orang curhat, ada juga bendahara Si Eka yang senantiasa berkira-kira dengan uang yang dikeluarkan tapi selalu menjaga kebajikan anggotanya. Ada Abhe yang tenang, dewasa, penyelesai masalah namun usilnya minta ampun. Ada Kordes berwibawa, Udin yang sabar memimpin rapat meski anak-anak semua pada tidur. Ada Bernard yang lebih penyayang dan lembut terhadap binatang hingga kucing-kucing diposko lebih bondeng (gemuk) dari anggota poskonya. Ada Wirawan yang ringan tulang dan senang membantu terutama pekerjaan kasar hingga semua teman posko tertanya-tanya “keagnya kamu tuh salah masuk jurusan deh!!”.. Tuhan, terima kasih kerana memberikan aku kesempatan ini. Tuhan, terima kasih kerana akhirnya membuka ruang hatiku.
Dari peristiwa yang sederhana itu Mai belajar untuk menerima temannya apa adanya. Baik jelek. Kelebihan dan kekurangan. Mengenali mereka sedalamnya. Mai baru tahu apa artinya kebersamaan. Kekompakan. Kepercayaan. Mai sudah jatuh cinta. Cinta pada teman-temannya yang dia butuh perang fikiran dan perang dalaman jiwanya hampir sebulan untuk rela dengan segalanya. Dari komunikasi, mereka saling melengkapi. Meski dari latar belakang yang cukup beda, pendidikan yang lain pula, mereka saling menyempurnakan. Kunci keberhasilan itu letaknya pada keterbukaan kita untuk menerima orang lain. mendengarkan sebelum menghakimi. Beranggap baik sebelum menjeleki orang lain. Dua bulan itu rupanya tidak lama. Dua bulan itu tidak cukup untuk dia menyatakan betapa dia bersyukur dan berterima kasih pada mereka semua. Ya..dua bulan itu ternyata sebentar sekali!!
Saat mereka baru mulai membaur dalam kebersamaan, perpisahan itu akhirnya mengetuk. Menyentakkan mereka dari lamunan panjang. Namun bagi Mai, kebersamaan mereka di Jeneponto selama 2 bulan dengan pelbagai kisah suka duka, pahit getir yang mereka tempuh bersama bukanlah inti kepada persahabatan melainkan awal kepada perkenalan dan permulaan kepada perjalanan persahabatan itu sendiri. dalam perjalanan ini akan memerlukan lebih banyak toleransi dan saling memahami. Chinguya.. Saranghyeyo!!
___________xx________________________________xx_____________________________________
“Mai”.. jerit Angqy sambil merangkul tubuh Mai dari belakang. Rindu benar dia pada sosok itu.
Serentak, memori KKN nya tertutup dan Mai berpaling, membalas pelukan Angqy dan menjerit namanya. Secara tidak sedar airmatanya tumpah lagi. Air mata bahagia akan pertemuan yang hadir. Orang kata, setelah KKN banyak orang yang akan berubah. Mai akui. Dia salah satunya. Manusia memang akan berubah dan terus berubah. KKN mungkin hanya indikatornya. Berubah dengan belajar lebih banyak tidak masalah sama sekali bagi Mai. Dia senang malah. Bisa menghabiskan hujung minggunya dengan bermalam bersama Asmiranda, atau berlibur dikampungnya, melancong ‘backpacking’ bersama Felli, Amalia, Rosita dan Sabrina, jalan ke Pantai dengan Angqy, berbalas komentar di facebook dengan Abhe dan Udin, menonton bola dengan Wirawan bahkan memasuki bagian/department yang sama dengan Eka atau Bernard. Semua itu membahagiakan. Meski waktunya Cuma tinggal sedikit untuk terus bersama mereka, dia tetap mahu menghargai detik-detik kebersamaan itu…

~cerita ini hanya fiksi.. tidak sepenuhnya benar~
THE END
Angin bertiup sepoi-sepoi bahasa. Mai membiarkan hujung jilbabnya liuk lentok terbuai mengikut rentak sang angin. Telefon genggam putih model Samsung B3410 itu diletakkan ke atas pangkuannya. Barusan dia mengirim pesan buat teman baiknya Angqy mengatakan kalau dia sudah ada di tempat. Iya hari ini hari minggu. Hari libur buat semua pekerja umum pemerintah. Meski dia dan temannya Angqy bukanlah bagian dari pekerja pemerintah, mereka tetap sahaja tertakluk kepada jadual rumah sakit (hospital) tempat mereka menjalankan praktikal (tugas profesi). Untung hari ini dia tidak punya jadual jaga (oncall) dan Angqy juga tidak masuk dinas. Lama benar mereka tidak bertemu sejak masing-masing sibuk dengan praktikal. Dan hari ini, baru mereka bisa meluangkan waktu bersama. Sebenarnya, sebentar siang, mereka akan berkumpul reuni Kuliah Kerja Nyata (KKN-PK) posko Tompobulu. Namun sengaja Mai datang awal. Janjian sama Angqy supaya dapat melepaskan rindu dendam dengan lebih awal.
Sambil menunggu Angqy, Mai duduk di atas batu besar sambil melepaskan pandangannya ke laut luas. Menekan telapak kaki ke pepasir putih yang setia menunggu pantai. Mengenang kembali waktu-waktu awal KKN. Fikirannya merentas waktu.. setahun yang lalu…
_______________xxx________________________________xxx________________________________
1 Julai 2010. Hari pertama pembekalan untuk peserta Kuliah Kerja Nyata Profesi (KKN-PK) Unhas Angkatan 35. Peserta berasak-asak di Baruga Pettarani. Bayangkan saja peserta dari pelbagai bidang kesehatan yang jumlahnya lebih dua ribuan harus bergabung dalam 1 program besar, program wajib kampus sebagai tiket sarjana. Program ini menghendaki para peserta mengabdi kepada masyarakat sebagai bentuk aplikasi dari ilmu teori yang telah diperoleh sepanjang 3-4 tahun perkuliah. Pembekalan ini bertujuan memberikan para peserta gambaran awal dan bentuk-bentuk program kerja yang bisa mereka lakukan sepanjang di posko (pos koordinasi) KKN nanti.
Mai mengerling jam tangannya buat kali ke sepuluh dalam 1 jam ini. 10 menit menuju jam 11. Huh, masih ada 1 jam lebih untuk dia terpaku dikerusi sial itu. Mata dipusatkan kearah pembicara namun fikirannya telah menerewang jauh mengangkasa. Tidak ada sama sekali hatinya untuk menyertai program wajib ini. Kerna ia memberi arti bahawa Mai akan terpisah dari teman-teman baiknya. Terpisah dari rutinitasnya. Terpisah dari budaya kesehariannya. Mai benci itu. Mai benci harus berada di pendesaan dengan kelompok orang yang tidak dikenalinya sama sekali selama dua bulan. Meski dari rumpun yang sama tetap dari kelompok yang berbeda. Jauh dari kemudahan dan fasilitas kota yang menjanjikan semuanya.. Ah, benci!!
Soksek.. soksek..
Bunyi berisik dari samping kanannya. Bunyi mengganggu. Mai melirik ke samping. Teman-teman KKN nya sibuk bercerita sesama sendiri sambil ketawa. Dibelakangnya dibarisan mahasiswa laki-laki teman KKN poskonya ,kelihatan ada yang sibuk bermain rubik dan yang lain sibuk menyelesaikan soduku. Tidak ada satupun yang kelihatan tekun mencatat atau mendengarkan perkataan pembicara. Aduh, gawat.. kenapa begitu semua model teman KKN nya? Tidak ada yang kelihatan serius dan “muka buku” seperti yang diharapkan. Same type dengan dirinya. Mai tambah sebal. Segera dia kembali memfokus pandangan ke hadapan. Berusaha menghadam hal-hal yang dinyatakan oleh pembicara..“Mai..” suatu suara menyapa dari samping sambil gulungan kertas kecil berganti tangan.
Sebentar sore, selesai pembekalan, kita kumpul yah.. Rapat untuk barang yang perlu kita bawa ke posko ..dibawah tangga Baruga.. Semangat anak Tompobulu!!
–Kordes-
Oh, please for a God sake!! Save me!!
Hati Mai berteriak. Dia paling trauma dengan yang namanya “RAPAT” yang dikoordinasikan oleh panitia Indonesia.. sumpah!! Pasti lama dan biasanya tidak penting amat. Cukuplah pengalaman ngerinya menyertai rapat-rapat menyebalkan sewaktu ditahun pertama gara-gara keberuntungannya terpilih sebagai panitia Baksos Kader (Bakti sosial yang dianjur oleh mahasiswa baru sebagai sumbangan pertama diterima menjadi anggota keluarga mahasiswa). Selesai pembekalan Mai lansung pulang. tidak dipedulikan apa kata Kordesnya kerna tidak mengikuti rapat. Ada yang lebih penting harus dia urus. Lagipula dia merasa tidak benar-benar bisa berbaur dengan teman KKN nya mungkin kerna bahasa dan budaya yang meski serumpun tapi tetap tidak sama. Kordesnya tidak berkata apa-apa. Teman-teman poskonya yang lain juga. Mungkin tidak sanggup memarahinya atas kebiadaban tersebut. Mungkin hanya kesal atau mungkin mereka bahkan tidak menganggapnya sama sekali. Dia tidak peduli.
Hari Pelepasan atau hari keberangkatan ke tempat KKN tiba. Mungkin Mai mencatatkan hari itu sebagai hari paling sebal dalam hidupnya. Dia tidak berangkat bersama teman-teman KKN nya yang lain dengan menaiki bis disebabkan dia mengikuti rencana temannya yang dari satu jurusan, Eka untuk pergi dengan menaiki mobil rental. Lebih nyaman katanya. Mai ikut-ikut saja. Tambahan itu satu-satunya teman yang dia punya saat ini. mungkin teman KKN yang lain akan bilang “belagu banget mereka.. anak FK (fakultas kedokteran) tidak mau berbaur sama yang lain!!” atau paling mereka akan bilang “emangnya beda amat yah, ada apa dengan anak FK!!?” biarkan mereka berbicara sepuasnya. Mai tidak mau terlalu menonjolkan diri.. Cukup dia nikmati konfrontasi yang dia ciptakan.
Hari-hari pertama Mai diposko Tompobulu, Kecamatan Rumbia, Kebupaten Jeneponto,benar-benar merupakan hari yang paling payah.. Sepi dalam keriuhan, sendiri dalam keramaian. Tidak ada lagi suara-teman-teman akrab yang mengingatkan dia pada Tuhan, tidak ada juga suara senior yang membisikkan kekuatan. Tidak ada lagi teman curhat (curahan hati) yang bisa diajak cerita.Semua sepi. Tertimbun dek dinginnya hembusan embun pagi yang menutupi kaki pergunungan Tompobulu.
Mai buntu. Banyak hal yang diluar jangkaannya. Banyak hal yang tidak bisa diterima pikiran warasnya. Sukar diterima akalnya saat melihat teman yang diluar posko berjilbab, hanya mengenakan celana pendek didalam rumah sedang didalam tetap ada laki-laki yang bukan mahramnya. Susah percaya saat melihat teman-teman bermain kartu taruhan dan berkelakuan seakan kita bersaudara kandung dengan wajah tanpa dosa. Sulit menerima saat harus makan bersama dalam bulatan besar dan menghadap satu sama lain antara laki-laki dan perempuan, jadual mencuci piring, memasak mahupun membersihkan rumah digabung antara laki-laki dan perempuan diperberat saat teman laki-lakinya yang mengajarkannya cara cuci piring klasik dengan menggunakan beberapa baskom (besin) seperti terakhir kali dia mencuci piring dirumah neneknya belasan tahun lampau. Apalagi saat menjemur pakaian dan besoknya melihat kalau disamping pakaiannya ada kemeja laki-laki yang tergantung disana. Atau lebih parahnya teman laki-laki bahkan yang mengangkat jemurannya. Atau mendapati teman laki-laki berada didekatnya, khusyu’ menonton atau bermain game sebaik membuka mata dari tidur siang dikamar. Tambah jengkel saat dia tidak leluasa keluar kamar waktu malam kerana teman laki-laki tidur diruang tamu sedang dia penghidap insomnia kronik. Yang mampu dia lakukan adalah membuka mata dikegelapan kamarnya dan menghadap dinding sambil mendengarkan iPodnya.
Mai tidak suka situasi-situasi itu. Namun dia lemah tanpa daya. Tidak ada sama sekali yang bisa dia lakukan melainkan melakukan pelarian diri dengan lebih banyak bergaul dengan anak-anak kecil dikampung itu. “teman kecilku” itu gelaran yang Mai berikan. Dia lebih rela berjalan mengelilingi kampong bersama mereka diwaktu sore ketimbang berada dalam posko. dia lebih rela kakinya tercalar dek duri-duri belukar dan batu-batu kasar sewaktu memanjat gunung bersama teman kecilnya. Atau bajunya basah kerna meredah sungai atau juga kotor terpalit lumpur sawah. Dia tidak peduli. Yang penting dia jauh dari suasana posko yang melemaskan.Diposko Mai adalah yang paling malas bicara. Sedikit ditanya, sedikit juga jawabannya. Malah banyak yang ditanya,sedikit juga jawabannya. Apatah lagi jika ada masalahnya atau ada kerunsingannya.. tambah tidak terdengar suara Mai diposko. Bahkan hingga beberapa hari. Tiada mood. Itu saja alasannya. Alasan klasik yang tidak bisa diterima akal.
Hingga suatu hari, Mai dilanda kesedihan yang amat. Masalah keluarga. Masalah yang memang tidak mampu atmanya menanggung beban tersebut. Seperti kebiasaannya, dia tetap diam. Masih tidak mahu menceritakannya kepada orang asing. Itu fikirannya. Cuma airmata yang tidak mampu dibendung dari luluh menyembah bumi. Melewati batas empangan. Dan dia tidak bisa menyembunyikannya. Teman-teman poskonya gawat. Semua teman yang cewek membujuknya supaya mahu sharing/curhat. Namun Mai tetap enggan. Tetap bersikeras dengan pendiriannya. Hingga teman-temannya ikut menangis meski tidak tahu asbab kegalauan hatinya. Teman laki-laki juga tidak tinggal diam. Mundar mandir dibalik pintu kamar. Seakan tindakan mereka itu bakalan meredakan atau mengurangkan beban Mai. Kegusaran menghiasi wajah masing-masing. Tidak ada lagi kedengaran gurau senda atau tawa ceria diposko Tompobulu tersebut. Disusuli dengan penjagaan mereka terhadap Mai yang demam besoknya entah gara-gara terlalu banyak menangis atau memang kerna perubahan cuaca yang mendadak.
Kesungguhan teman-teman posko Mai menjaga dan menghiburnya sepanjang masa sakit dan masa galaunya benar-benar memberi kesan mendalam pada Mai. Baik teman yang perempuan mahupun teman yang laki-laki. Baru dia sadari jika selama ini, dia yang menciptakan tembok tinggi antara dirinya dengan teman-temannya itu. Dia yang tidak mengizinkan hatinya dari mengenali insan-insan berhati mulia tersebut. Mai baru tahu, jika dia berarti sesuatu bagi mereka semua. Dia adalah bagian dari keluarga kecil ini. Terharu saat sebuah sms masuk ke kotak inboxnya, dari salah satu temannya “Milikilah sebuah hati yang tak pernah membenci..Senyuman yang tak pernah pudar..Sebuah sentuhan yang tak pernah menyakiti..dan sebuah persahabatan yang tak pernah berakhir..cepat sembuh”.. air matanya menetes.
Baru Mai sedari adanya Kak Dwi yang perhatiannya selangit ibu tapi lucunya seperti anak SMA, Si Asmiranda yang manja dan sok artis terkenal tanah air, ada Felli yang suka pulang-pulang tapi selalu menghibur dengan ole-olenya, ada Sabrina yang matang dan pintar masak, ada Angqy yang meski suaranya tidak bisa kurang dari volume 10 tapi tetap selalu menceriakan keadaan, ada Wandy yang selalu disiplin masalah kerja, tegas terpercaya tapi enak diajak cerita, ada Amalia yang gifo (gila foto) plus narsis abis, kecuali saat menghadap mi bakso, tiada lagi kisah lain saat itu kecuali baksonya. Ada Rosita yang kalem dan tumpuan utama orang curhat, ada juga bendahara Si Eka yang senantiasa berkira-kira dengan uang yang dikeluarkan tapi selalu menjaga kebajikan anggotanya. Ada Abhe yang tenang, dewasa, penyelesai masalah namun usilnya minta ampun. Ada Kordes berwibawa, Udin yang sabar memimpin rapat meski anak-anak semua pada tidur. Ada Bernard yang lebih penyayang dan lembut terhadap binatang hingga kucing-kucing diposko lebih bondeng (gemuk) dari anggota poskonya. Ada Wirawan yang ringan tulang dan senang membantu terutama pekerjaan kasar hingga semua teman posko tertanya-tanya “keagnya kamu tuh salah masuk jurusan deh!!”.. Tuhan, terima kasih kerana memberikan aku kesempatan ini. Tuhan, terima kasih kerana akhirnya membuka ruang hatiku.
Dari peristiwa yang sederhana itu Mai belajar untuk menerima temannya apa adanya. Baik jelek. Kelebihan dan kekurangan. Mengenali mereka sedalamnya. Mai baru tahu apa artinya kebersamaan. Kekompakan. Kepercayaan. Mai sudah jatuh cinta. Cinta pada teman-temannya yang dia butuh perang fikiran dan perang dalaman jiwanya hampir sebulan untuk rela dengan segalanya. Dari komunikasi, mereka saling melengkapi. Meski dari latar belakang yang cukup beda, pendidikan yang lain pula, mereka saling menyempurnakan. Kunci keberhasilan itu letaknya pada keterbukaan kita untuk menerima orang lain. mendengarkan sebelum menghakimi. Beranggap baik sebelum menjeleki orang lain. Dua bulan itu rupanya tidak lama. Dua bulan itu tidak cukup untuk dia menyatakan betapa dia bersyukur dan berterima kasih pada mereka semua. Ya..dua bulan itu ternyata sebentar sekali!!Saat mereka baru mulai membaur dalam kebersamaan, perpisahan itu akhirnya mengetuk. Menyentakkan mereka dari lamunan panjang. Namun bagi Mai, kebersamaan mereka di Jeneponto selama 2 bulan dengan pelbagai kisah suka duka, pahit getir yang mereka tempuh bersama bukanlah inti kepada persahabatan melainkan awal kepada perkenalan dan permulaan kepada perjalanan persahabatan itu sendiri. dalam perjalanan ini akan memerlukan lebih banyak toleransi dan saling memahami. Chinguya.. Saranghyeyo!!
___________xx________________________________xx_____________________________________
“Mai”.. jerit Angqy sambil merangkul tubuh Mai dari belakang. Rindu benar dia pada sosok itu.
Serentak, memori KKN nya tertutup dan Mai berpaling, membalas pelukan Angqy dan menjerit namanya. Secara tidak sedar airmatanya tumpah lagi. Air mata bahagia akan pertemuan yang hadir. Orang kata, setelah KKN banyak orang yang akan berubah. Mai akui. Dia salah satunya. Manusia memang akan berubah dan terus berubah. KKN mungkin hanya indikatornya. Berubah dengan belajar lebih banyak tidak masalah sama sekali bagi Mai. Dia senang malah. Bisa menghabiskan hujung minggunya dengan bermalam bersama Asmiranda, atau berlibur dikampungnya, melancong ‘backpacking’ bersama Felli, Amalia, Rosita dan Sabrina, jalan ke Pantai dengan Angqy, berbalas komentar di facebook dengan Abhe dan Udin, menonton bola dengan Wirawan bahkan memasuki bagian/department yang sama dengan Eka atau Bernard. Semua itu membahagiakan. Meski waktunya Cuma tinggal sedikit untuk terus bersama mereka, dia tetap mahu menghargai detik-detik kebersamaan itu…

~cerita ini hanya fiksi.. tidak sepenuhnya benar~
THE END

tapi ada yang benarnya khan?..
^_^
banyak yang benarx kk.. cuman biasa, ada yg dari pengalaman teman yg lain dicampur juga ke dalam sini..haha.. betul2 itu kkn.. byk mengajar ttg kehidupan..