Malam ini janjian terawih keliling lagi bersama
Rahma..seperti kebiasaannya, kami akan berangkat sebelum buka puasa supaya
tidak macet dijalan. Ini antara rutinitas kami sejak Ramadhan tahun lalu. Destinasi
malam ini Mesjid Terapung di dekat Pantai Losari. Harusnya kami terawih bareng
tadi malam. Tapi kerna Rahma sudah penat membersih rumah ditunda ke malam ini.
Awalnya Rahma sepertinya agak kecewa kerna dia mahu sekali
terawih di mesjid kesayangannya “Mesjid Raya”.. tapi teruja sekali diri ingin
melihat mesjid terapung yang kononnya “Pertama di Indonesia Timur”.. sampai
disana jam 17.15. masih ada kurang lebih 50 menit dari waktu berbuka. Berubah total
mood Rahma saat melihat keindahan mesjid tersebut. Subhanallah. Meski masih
belum siap sepenuhnya (baca:masih dalam pembinaan). Mesjid itu sudah
difungsikan untuk menunaikan solat 5 waktu serta solat terawih.
Sempat berjalan-jalan menikmati angin senja di Pantai
Kebanggaan rakyat Makassar tersebut sebelum singgah diwarung pisang epe untuk
berbuka.. “huh, banana always suit me the best in any condition..heyhey” bahagia
rasanya masih berpeluang jalan begini dengan Rahma, temanku, orang yang selalu
ada melerai kusutku. Ada-ada saja yang mahu dibahas. Hingga waktu yang berlalu
tidak berasa.
Selesai menunaikan solat Magrib, bertanya pada Rahma “ayo ke
mesjid raya”. Kerna tadi persetujuannya kami solat Magrib disana dan kembali ke
Mesjid Raya untuk solat Terawihnya. Sebaliknya Rahma yang sudah bermata cerah
dan bercahaya itu berkata “disini saja deh.. keagx bagus juga kalo terawih
disini”..tersenyum malu-malu kucing.. diri hanya ketawa.. pulak dah.. yelah
Rahma.. apa-apa jelah. Sela antara Magrib dan Isya itu kami isi dengan tadarus
Al-Quran. Ada saat-saat dia mengantuk dan memperlahankan suara bacaannya. Diri akan
menepuk-nepuk bahunya sambil meneruskan bacaan.
Tiba-tiba Rahma ketawa sendiri.
“Kak, jadi ingat waktu di posko.” Katanya singkat. Diri menghentikan
bacaan dan menoleh
“ingat apa?” susah
menebak kejadian mana satu yang sedang bermain dilayar pikirannya.
“waktu ditegur kerna bacaan tadarusku perlahan. Kata”nya”
kalo tadarus harus kasi perdengarkan suara.. padahal qt juga ada disitu”..kami
sama-sama ketawa mengingat kembali peristiwa satu itu.
Satu malam di bulan Ramadhan 2 tahun lampau, seperti biasa
rutinitas kami selesai solat sunat terawih di mesjid akan tadarus Al-Quran
beramai-ramai di ruang tamu rumah Pak Aji. Diri dan Rahma saling pandang
memandang. Aduh!! bagaimana mahu membaca
mushaf dalam kondisi “ada juga laki-laki” disitu. Serba salah. Tidak tahu
hukumnya bagaimana. Jadi kami berdua membacanya dengan diam-diam. Hinggalah ada
yang tiba-tiba menegur.
“Rahma, kalo tadarus, harus diperdengarkan dan diperjelas
suaranya. Itu adab dalam membaca Al-Quran”. Diam. Alamak, turut terasa. Nasehat
dua mata pedang. Terlibas dua-duanya. Menusuk Qalbu. Benarlah nasehat itu
paling bermakna saat ia datang tika kita khilaf. Dan sejak hari itu, Alhamdulillah,
diri dan Rahma tidak berani lagi untuk tadarus Al-Quran dengan suara
bersembunyi. Sampai sekarang juga kami akan lebih peka dan waspada dengan hal
yang kadang menurut kita sederhana namun punya nilai akhlak dan adab tersendiri
disisi Islam.
Pengalaman solat terawih pertama ditengah kota. Tempat yang
diperuntukkan untuk solat terawih bagi kaum wanita, adanya dikawasan
perkarangan mesjid yang memang telah disucikan untuk solat berikutan lantai dua
mesjid masih dalam pembinaan. Kami mendirikan solat open air dengan
hiasan-hiasan bagunan megah di belakang, gemerlap neon yang menerangi ibu Kota
Makassar serta hiruk pikuk kenderaan bermotor yang kasihan, masih terperangkap
di jalan. Namun Alhamdulillah, kemerduan suara sang Imam membantu kita untuk
tetap focus pada ibadah langka persebut.
Selesai solat terawih orang-orang tidak lansung pulang. Mereka
mengambil peluang bersantai-santai bersama keluarga sambil menikmati panorama
alam. Keindahan kota Makassar yang semakin berseri disimbah cahaya. Bahagia melihat
keluarga sakinah yang orang tua tidak merasa ribet/leceh membawa anak-anak
kecil menikmati suasana yang diredhai Allah InsyaAllah..keluarga sederhana
namun penuh dengan nur iman.
Jam beranjak ke angka 10 saat kami berangkat dari mesjid. Semoga
masih berpeluang untuk menunaikan solat disini. Amin.

0 ulasan:
Catat Ulasan