Skinpress Rss

Khamis, 2 Ogos 2012

TERAWIH DI MESJID TERAPUNG

0



Malam ini janjian terawih keliling lagi bersama Rahma..seperti kebiasaannya, kami akan berangkat sebelum buka puasa supaya tidak macet dijalan. Ini antara rutinitas kami sejak Ramadhan tahun lalu. Destinasi malam ini Mesjid Terapung di dekat Pantai Losari. Harusnya kami terawih bareng tadi malam. Tapi kerna Rahma sudah penat membersih rumah ditunda ke malam ini.

Awalnya Rahma sepertinya agak kecewa kerna dia mahu sekali terawih di mesjid kesayangannya “Mesjid Raya”.. tapi teruja sekali diri ingin melihat mesjid terapung yang kononnya “Pertama di Indonesia Timur”.. sampai disana jam 17.15. masih ada kurang lebih 50 menit dari waktu berbuka. Berubah total mood Rahma saat melihat keindahan mesjid tersebut. Subhanallah. Meski masih belum siap sepenuhnya (baca:masih dalam pembinaan). Mesjid itu sudah difungsikan untuk menunaikan solat 5 waktu serta solat terawih.

Sempat berjalan-jalan menikmati angin senja di Pantai Kebanggaan rakyat Makassar tersebut sebelum singgah diwarung pisang epe untuk berbuka.. “huh, banana always suit me the best in any condition..heyhey” bahagia rasanya masih berpeluang jalan begini dengan Rahma, temanku, orang yang selalu ada melerai kusutku. Ada-ada saja yang mahu dibahas. Hingga waktu yang berlalu tidak berasa.

Selesai menunaikan solat Magrib, bertanya pada Rahma “ayo ke mesjid raya”. Kerna tadi persetujuannya kami solat Magrib disana dan kembali ke Mesjid Raya untuk solat Terawihnya. Sebaliknya Rahma yang sudah bermata cerah dan bercahaya itu berkata “disini saja deh.. keagx bagus juga kalo terawih disini”..tersenyum malu-malu kucing.. diri hanya ketawa.. pulak dah.. yelah Rahma.. apa-apa jelah. Sela antara Magrib dan Isya itu kami isi dengan tadarus Al-Quran. Ada saat-saat dia mengantuk dan memperlahankan suara bacaannya. Diri akan menepuk-nepuk bahunya sambil meneruskan bacaan.
Tiba-tiba Rahma ketawa sendiri.

“Kak, jadi ingat waktu di posko.” Katanya singkat. Diri menghentikan bacaan dan menoleh
 “ingat apa?” susah menebak kejadian mana satu yang sedang bermain dilayar pikirannya.
“waktu ditegur kerna bacaan tadarusku perlahan. Kata”nya” kalo tadarus harus kasi perdengarkan suara.. padahal qt juga ada disitu”..kami sama-sama ketawa mengingat kembali peristiwa satu itu.

Satu malam di bulan Ramadhan 2 tahun lampau, seperti biasa rutinitas kami selesai solat sunat terawih di mesjid akan tadarus Al-Quran beramai-ramai di ruang tamu rumah Pak Aji. Diri dan Rahma saling pandang memandang. Aduh!!  bagaimana mahu membaca mushaf dalam kondisi “ada juga laki-laki” disitu. Serba salah. Tidak tahu hukumnya bagaimana. Jadi kami berdua membacanya dengan diam-diam. Hinggalah ada yang tiba-tiba menegur.

“Rahma, kalo tadarus, harus diperdengarkan dan diperjelas suaranya. Itu adab dalam membaca Al-Quran”. Diam. Alamak, turut terasa. Nasehat dua mata pedang. Terlibas dua-duanya. Menusuk Qalbu. Benarlah nasehat itu paling bermakna saat ia datang tika kita khilaf. Dan sejak hari itu, Alhamdulillah, diri dan Rahma tidak berani lagi untuk tadarus Al-Quran dengan suara bersembunyi. Sampai sekarang juga kami akan lebih peka dan waspada dengan hal yang kadang menurut kita sederhana namun punya nilai akhlak dan adab tersendiri disisi Islam.

Pengalaman solat terawih pertama ditengah kota. Tempat yang diperuntukkan untuk solat terawih bagi kaum wanita, adanya dikawasan perkarangan mesjid yang memang telah disucikan untuk solat berikutan lantai dua mesjid masih dalam pembinaan. Kami mendirikan solat open air dengan hiasan-hiasan bagunan megah di belakang, gemerlap neon yang menerangi ibu Kota Makassar serta hiruk pikuk kenderaan bermotor yang kasihan, masih terperangkap di jalan. Namun Alhamdulillah, kemerduan suara sang Imam membantu kita untuk tetap focus pada ibadah langka persebut.

Selesai solat terawih orang-orang tidak lansung pulang. Mereka mengambil peluang bersantai-santai bersama keluarga sambil menikmati panorama alam. Keindahan kota Makassar yang semakin berseri disimbah cahaya. Bahagia melihat keluarga sakinah yang orang tua tidak merasa ribet/leceh membawa anak-anak kecil menikmati suasana yang diredhai Allah InsyaAllah..keluarga sederhana namun penuh dengan nur iman.
Jam beranjak ke angka 10 saat kami berangkat dari mesjid. Semoga masih berpeluang untuk menunaikan solat disini. Amin. 

0 ulasan:

Catat Ulasan