by: Ulfa Hidayati on Saturday, December 24,2011 at8.52 am
Bisikku dalam hati, mencoba menyemangati diri sebelum menggelar selimutku untuk tidur. Denting jam seperti mengerti kalau detak jantungku sangat berharap sejalan seirama dengannya. Mataku mulai letih, tapi saya masih berusaha menatap satu foto yang sengaja ku jepit di pita baju yang ku gantung di samping madingku. Melekat sekali wajah itu seperti ia sedang tersenyum nyata di depanku.
“Tunggu aku besok, tolong jangan pergi sebelum aku datang… please, please, please.. Meski diriku bukanlah sahabat lamamu dan belum menjadi teman karibmu..”
Kring.. Kring.. Kring… treekkk,,brukkk…pling pling pling..
15 menit kemudian..
“Salsaa, salsa, bangun.. waktu subuh sudah lewat Nak. Cepetan gih”.
Mama memanggil dari luar kamar berkali-kali.
“Fiuh,, masih juga subuh Ma. Ntar lagi gih.. ??? Apppaaa,, subuuhhh???”.
Saya terperangah. Saya mencari alarm sialku itu yang tidak membangunkanku. Saya nyaris marah saat melihat alarm ku pecah berserakan di lantai. Ku ulang kembali memori, mencari penyebab jatuhnya alarm mungil ini dengan gambar minny mouse nya menambah warna indahnya. Ternyata tadi subuh, saya sendiri yang melemparnya ke lantai. Fiuh,,dengan sangat menyesal.. ku lihat ponselku, menunjukan pukul 05:45. L
Setelah mandi dan sholat subuh, saya menyiapkan sebuah hadiah kecil. Tak terlalu memang tapi isinya juga berharga seperti dia yang ku anggap saudaraku. Setelah hadiah kecil itu selesai saya beranjak membersihkan diri, menyetrika, lalu kemudian bersiap meretas jalan menuju Bandara. Waktu sudah menunjukkan pukul 07:32, kaki kananku mulai beranjak dari teras rumah setelah pamit sama orang tuaku tercinta. Hmm, mereka tak tahu kalau hari ini saya keluar rumah bukan untuk kepentingan mengajar tapi untuk bersua sahabat ku yang kini benar-benar akan pergi meninggalkan NKRI ini. Kenapa mesti ke Indonesia kalau juga toh kau akan pergi juga nantinya meninggalkan Negara ini? Kenapa kau hanya menyisakan kenangan saja? Kenapa tak kau simpan raga mu bersama kami? Ah, pikiranku memang ngaco terus dari kemarin.
Sebut saja sahabatku ini Vinta. Ia mahasiswa Malaysia yang belajar di Indonesia. Mengambil Fakultas Kedokteran. Cerdas memang dia, ku acungkan jempolku. Memang tidak lama saya mengenalnya. Hanya berawal dari perkenalan kecil dari temannya yang Alhamdulillah masih bisa terjalin hingga detik ini.
Sms masuk:
“Saa,,dimana?? Vinta dah mau tiba di Bandara nihh.. lammaaa kali kau sa..”.
“Dasar Sessy cerewet,sabar aja napa??? Ini juga dah di jalan. Macet tau.”
Balasanku di Sessy ternyata juga membuatku panic. Nyaris jam 08:00 sekarang. Macet, sekitar 2 blok. “Pak, bisa cepetan gak?”.
“Iyya neng, ini juga dah cepetan tapi yah mau gimana lagi. Macet neng”.
Si Bapak taksi ini benar. Mau cepat pun tak bisa. Macet beneran panjang skali. Kalau saya menunggu jalan ini mungkin pesawat Vinta sudah take off. Hmm,saya harus lari meskipun jarak yang ku tempuh masih sekitar 10 km. minimal sekarang saya meleewati macet ini dulu. Setelah memberi sopir taksinya uang, saya pun berlari di tengah jalan raya.
“Sa, aku gak tahu apa kamu ke Bandara apa tidak. Tapi, aku benar-benar sedih harus meninggalkan Indonesia tanpa ketemu kamu untuk terakhir kalinya”.
Sekejap, air mataku mengalir. Tak ku pedulikan penumpang mau bilang apa tentangku. Ku pencet tombol panggilan.
“Halo Vin, sekarang aku menuju Bandara. Tolong jangan pergi sebelum aku datang Vin. Aku mohon. Dah deket kok, nyaris nyampe aku ni. Vin, Vinta??”.. hanya isak tangis ku dengar di seberang sana.
“Vin, aku gak peduli. Bagaimana pun keadaan kamu sekarang aku Cuma mau bilang. Tolong jangan pergi sebelum aku datang. Aku janji akan lebih cepat Vin, Oke?!!”.. tut..tut..tut..tut..tut..
Saya hanya bisa menghela nafas panjang. Angkot hanya bisa berhenti di depan Bandara. Sekitar sekilo lagi perjalananku baru bisa sampai. Tak ku lihat 1 pun Bus Bandara terparkir ria di sana. Terpaksa, lagi dan lagi saya berlari. Rasanya nafasku sudah setengah-setengah. Tenagaku terkuras. Kaki ku sakit. Badanku basah karena keringat, kalau tahu begini kejadiannya tak perlu repot-repot tadi ku setrika sedemikian rapinya Karena toh ujungnya pun akan kusut singset tak karuan begini. Hujan kini menemaniku berlari. Banyak mata yang memandangku. Sedkit lagi Salsa, 10 meter lagi. Ayo lari Sa, lari, lari. Ku bayangkan kini diriku di kejar sebuah buldoser yang akan menghaluskan badanku dengan tanah. Lari ku sangat kuat dan akhirnya sampai juga saya di pintu pemberangkatan. Cepat mataku mencari sosok sahabatku itu.
“Vinta, vinta, kamu dimana Vin?”. Saya belum menemukannya. Saya masih mencari di kerumunan orang. Dann, ku dapat Vinta itu tapi sudah memberikan tiketnya pada petugas.
Segenap tenagaku teriak “Vintaaaaaaa…… Vintaaaaa…. Tungguuuu…!!!!”
Ku lihat teman-temanku yang lain menoleh ke arahku. Air mataku berlinang. “Vintaa..” masih saja ku teriaki anak itu. Dasar anak keras kepala kau Vinta, saya sudah capek-capek ke sini dank au tak menemui sedikitpun sementara kau akan pergi dan entah akan kembali apa tidak???
Vinta menoleh ke arahku. Ia langsung menjatuhkan tasnya dan berlari ke arahku. Ku rasakan dengan sangat badannya menubruk badan kurusku. Benar-benar seperti adegan romantic di film-film india tapi saya masih juga memeluk badannya dengan tak mampu berkata-kata lagi. Saya juga Vinta, menangis sejadi-jadinya. Vinta melepaskan pelukannya, begitupun aku. “Sa, makasih kamu sudah mau datang. Saya menunggu mu dari tadi. Sampai kamu harus basah kuyup begini. Benar-benar kesan terakhir yang jelek yang ku titipkan padamu Sa”. “Vin, gak ada kesan jelek. Semua indah, saya mencintaimu karena Allah. Tolong jangan lupakan kami sahabat-sahabatmu. Ini ada bingkisan manisku untukmu. Buka saat kamu sudah di Malaysia. Maaf, nilainya mungkin tidak semahal kasih sayangmu Vin tapi hanya itu yang bisa ke berikan untukmu. Ku tahu kamu sulit lagi kembali ke Indonesia. Vin, dulu kita pernah mimpi. Kalau harus memilih, maka kamu mau kita jadi pohon agar kita tidak akan terpisah 1 sama lain. Meskipun kita di tebang, layu, dan akhirnya mati tetap akar kita akan tetap menyatu dan berdekatan. Kini, susah untukku menjadi pohonmu lagi karena kini kita benar-benar jauh. Tapi Vin, kalau kamu merindukan kami sahabat-sahabat mu.. keluarlah, tutup matamu dan rasakan angin. Angin akan meringankan beban rindu itu dan membawanya pada kami. Dan, lihatlah bulan di malam hati Vin. Pohon Bulan itu adalah diriku yang akan selalu memandangmu dari jauh hingga Allah lah yang mempertemukan kita”. Ku sebarkan senyumku, tapi Vinta hanya bisa mengangguk dan terisak.
Perlahan, Vinta menghilang di kerumunan orang. Mungkin kini dia sudah tersenyum memandang Bulan Pohon itu.. Miss U, Siztah..!!!



0 ulasan:
Catat Ulasan