Skinpress Rss

Khamis, 9 Ogos 2012

TENDANGAN MAUT (LANGIT)

0


so..here you go..

“Lapangannya mahu disegel, Kang,” kata Aziz. Kami semua mendengar kalimat ini dan menoleh. Aku berlari mengejar bola hingga ke pinggir lapangan.menghentikannya, dan membawanya dengan tangan. Semua orang merapat.
“Disegel?” ulang Wolf.
“Disegel!” Aziz, mendongak menatap Wolf, berkata keras. Bangga memakai kosakata baru itu; segel.
“Apa yang disegel?” Jendra, terengah letih mendekat dengan kedua tangan dipinggangnya.
“Kata siapa?” Tanya Wolf, merendahkan suara.
“Kata Pak Winarno!” teriak Aziz, tanpa menyesuaikan intonasi.
Pak Winarno itu sekretaris desa.
“Apa yang disegel?” ulang Jendra.
“Bilang nggak kenapa disegel?” Tanya Wolf pelan—masih dalam tekanan suara khas penuh wibawa lulusan PM gontor dan Universitas Al-Azhar yang dibanggakan semua orang itu.
“Katanya berisik Kang, tiap sore mengganggu aktivitas mesjid dan ketertiban masyarakat. “ saat itu aku belajar bahawa kalimat copy-paste dari ingatan kanak-kanak memang sungguh canggih.
“Apanya yang disegel?” ulang Jendra lagi.
Jawab Aziz “Ini udah mau dipasang papan disitu, Kang…”
“WOI, APANYA YANG DISEGEL?!?” Jendra—stres.
“Lapangan…”jawab Wolf. Namun sebelum ia selesai dengan kalimatnya, semua orang dalam kerumunan tiba-tiba menoleh ke pinggir lapangan. Dari arah mesjid, bapak-bapak itu berdatangan. Pak Sekretaris  Desa berjalan paling depan. Ia membawa sesuatu yang dibungkus kertas Koran. Semacam papan. Di belakangnya, berjalan dua laki-laki gagah dalam seragam hijau dan topi hijau yang tidak lama kemudian menjadi sangat popular dalam sebuah situs komunitas Indonesia di internet. Hansip. Masing-masing membawa sebilah kayu.

Pak Sekdes memandang kami. Jenggot hitam panjangnya bergerak-gerak saat sudut-sudut bibirnya tertarik ke sana sini. Ia meletakkan bungkusannya di tanah. Meletakkan tangan dipinggang. Lalu, menunjuk-nunjuk. Dalam sekejap, kedua lelaki dalam topi hansip itu bekerja.
Kami berjalan ke sana. Wolf paling depan, mendekati Pak Sekdes. Tanyanya, dalam tutur anak PM Gontor featuring Universitas Al-Azhar yang sangat khas, yang amat sopan itu
“Ada apa ini, Pak?”
“NDA BOLEH MAIN DISINI LAGI!” teriaknya—kami terlonjak kaget.
“Ngerti?! Bocah-bocah gak iso diatur! Sudah dikasih tahu, jangan rebut disamping masjid! Masjid itu tempat ibadah, tempat ibadah itu kudune tenang!”
“Soal masjid tempat ibadah semua juga tahu, Pak, salahe lapangannya disamping masjid,” kata Zul—teman dekat Jendra sejak SD. Memusuhi Pak Sekdes sejak mereka dikejar-kejar gara-gara main petesan sehabis sahur pada bulan puasa waktu masih seusia Aziz.
Pak Sekdes melotot. “ini lapangan harus tetap bersih biar bisa dipakai buat acara kampung!”
Jendra baru akan berkata sesuatu—tetapi Wolf menepuk tangannya, dengarkan dia dulu.
“Pokoknya, ndak boleh main bola disini lagi!”
“Terus, kita main bola di mana dong Pak?” Tanya Aziz. Memelas.
“Yo ra urus!”
“Pak” kata Wolf. “gimana kalo kita janji nggak akan main bola setelah Magrib?”
“Kita juga biasa berhenti main kalo sudah Magrib,” tambahku.
“pengajian ba’da Asar minggu lalu disini tidak bis tenang, inget?!” kedua tangannya terpasang lebih kencang pada pinggang. Kemudian, dia membelakangi kami, menyuruh-nyuruh kedua hansipnya. Dua hansip itu kini memakukan papan yang dia bawa pada bilah kayu. Kemudian mendirikannya.
Sekarang, kami tak punya pilihan. Papan itu ditegakkan. Dan kami membubarkan diri. Esok harinya lapangan itu dipasang portal.

-----------xx----------------------------xx----------------------------------------xx-----------------

Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dengan lapangan itu. Cuma lapangan rumput liar, tak seberapa luas disamping masjid kampung. Sisi utara dibatasi tembok masjid, sisi selatan, rumah Kepala Desa. Sisi Barat dipagari jalinan kawat yang sudah terburai-burai—dibelakangnya belantara liar. Ada banyak lapangan futsal yang lebih bagus dengan rumput sintetis import kalau saja kami mahu sedikit repot untuk jalan ke pusat kota. Namun, disana kami tidak bisa bertelanjang dada, berteriak sekeras-kerasnya dan terutama sekali harus membayar.

Jadi lapangan rumput itu dengan begitu saja menjadi tempat berkumpul anak laki-laki dikampung. Dari segala usia. Semua anak-anak squad, sejak lulus SMP, bereuni disini.  Attar pernah menghabiskan  beberapa tahun SMP di Bangka Belitung, ketika ikut kakek membuka lahan untuk kebun sawit disana—tetapi dia tetap pulang ke lapangan ini. Juga bersama anak-anak seragam putih-biru dan putih-merah yang akan segera bergabung dan melempar tas sekolah mereka bila melihat kami berkumpul.

Hari itu kami berkumpul lagi. Diruang tamu rumahku. Gerimis turun memenuhi kaca jendala dan membeceki lapangan diluar sana. Disiram air hujan, rerumputnya tampak tumbuh subur meninggi.  Jendra dan zul duduk dilantai. Di depan layar playstation, menatap lapangan bola digital mereka sendiri. Attar barbering disofa. Memeluk gitar. Tiba-tiba dia berkata
“Kita bisa singkirin portalnya”. Jreng.  Tidak ada jawaban setelah petikan gitar imaginer itu. Cuma terdengar riuh penonton bola imaginer dari layar PS.
“Ajak Aziz, ajak anak sekampung. Biarin aja papannya disitu.”
Tidak ada suara jreng, dan kali ini kami saling pandang. Wolf duduk di sofa—baru selesai solat—masih dalam baju koko,sarung, peci, dan Al-Quran kecil ditangannya, menoleh. Ia berdiri. “Yuk”. Lalu lenyap ke dalam kamar.
Attar ikut berdiri. Zul mematikan layar PS, aku bergegas mengambil bola. Bunda memanggil Wolf dan berusaha menyusulnya saat ia keluar kamar. Ia sudah melepas koko dan menggantikan sarung dengan sehelai boxer.
“Kan udah ndak boleh main disana?” ujarnya cemas.
“Nggak apa-apa Bunda,” bantah Wolf.
“Rasya, nanti kita mahu ke rumah Rara habis Magrib..!!” Rara itu calon isteri Wolf. Pernikahan mereka kurang dari satu bulan lagi.
“Kan habis Magrib,Bunda.” Wolf memasukkan diri ke dalam kaos merah Liverpool-nya. “I’ll be back then, Bunda gak usah khawatir…”
“Hujan nak. Jendra, Attar, hujan..Zul, Langit…”
“Astaga Bunda, kita kan sudah besar…,” Attar keluar paling akhir. Bunda masih berusaha menyusul, mengangkat abayanya dan melangkah tergesa kedepan. Tetapi kami, tahu tanpa kerudung seperti itu, Bunda tidak akan sampai ke teras.

Jadi, satu persatu, kami berlari kecil, keluar ke tengah gerimis. Melewati setapak perkarangan, keluar pagar layaknya kesebelas yang keluar dari ruang ganti di babak kedua pertandingan (dibabak pertama biasanya mereka keluar bersama-sama anak kecil itu). Gerimis turun lebih renggang saat kami mencapai lapangan. Namun baju sudah kadung basah dan menempel di badan, jadi tak urung juga—kembali topless. Kami merunduk melewati portal, menyampirkan baju-baju disana. Aku melakukan kick-off. Dalam sebentar, teriakan kami terdengar ke seluruh penjuru kampung.

Wolf kebobolan gol dalam sepuluh menit. Aku bermain dipihak Ali dan Zul. Dua lawan tiga. Tidak imbang. Bim tidak ada hari ini—mengunjungi saudaranya di Semarang. Tetapi Aziz lewat saat hujan kembali turun deras. Dia berjalan dari warung, membawa paying kembang-kembang yang sudah patah salah satu rusuknya, dan kantong plastic hitam yang didekapnya didada.
Zul berteriak, “Azeeezz!! Woi!!”
Kalau Pak Sekdes sedang tidur, dia pasti sudah terbangun kaget. Aziz menoleh. Zul melambai, aku melambai. Anak itu tersenyum girang dengan gigi-gigi besarnya yang segera saja mencuat off-side.lalu, dia bergegas masuk ke rumah, meninggalkan payung dan kantong plastic berisi belanjaan ibunya untuk kemudian berlari menyusul kami.

There’s always something about football.

Kegembiraan yang tidak bisa didefinisikan saat bola bundar itu bergulir nyaman dikaki, juga misteri-misteri yang terjadi di antaranya. Kejutan-kejutan yang menyenangkan saat berada di area penalty lawan, dan perasaan bahwa ada kawan dalam posisi yang paling kita butuhkan saat-saat ini—semuanya lebih dari sekadar mencetak gol. Lebih dari itu.

Sore merambat turun, hujan semakin deras. Kami sudah tidak ingat berapa gol, berapa off-side, berapa pelanggaran. Yang ada hanya peluh bercampur air hujan. Aziz berteriak paling keras dengan suaranya yang belum akil baligh itu, berlari dari satu pojok ke pojok lain seperti kesetanan.
Pada saat itu Bu Lek Yani keluar. Berdiri di seberang masjid, di bawah paying patah rusuk itu.
“AZIZ!! PULANG!!”

Gemuruh menggelinding di ujung langit. Lalu sunyi. Bola mendarat diam di atas genangan lumpur.
Kukira Aziz akan keluar dengan pembelaan-pembelaan, alasan-alasan, memohon untuk terus bermain. Namun, tidak. Dia berlari ke portal, menarik bajunya yang basah. “pulang dulu, Kang” katanya kepada Wolf. Ia menunduk dibawah portal dan berlari menyonsong ibunya.
Harusnya Bu Lek Yani hanya perlu memayunginya sampai rumah—Aziz telah menurut dengan patuh. Tetapi, ia marah besar. Menarik satu telinga Aziz hingga kepalanya tertarik ke bawah, mencecer dengan kata-kata yang tidak bisa kami dengar. Wolf terpana melihat itu. Aziz berusaha menahan tangis—kerana tidak berani menangis.

Dia bahkan lupa membawa pulang sandal jepitnya. Anak itu usianya baru 10 tahun.
“You don’t do that to a kid,” kata Wolf. Seisi lapangan sunyi.
Bu Lek Yani bukan seorang yang galak. Kami mengenalnya. Suaminya sudah meninggal, dan Aziz anak satu-satunya. Jelas, ada yang tidak beres disini.  Pertanyaan ini terjawab waktu aku dan Jendra datang untuk mengembalikan sandal jepit itu.

Bu Lek Yani berjualan kue, dan menjadi buruh cuci untuk penghasilan tambahan. Ia mencuci dan menyeterika dirumahnya. Aziz kadang-kadang membantu mengantar-jemput cucian. Hari itu, teman kami itu membantu menyeterika. Duduk di lantai, menghadap lipatan selimut dan kain sarung yang dilapis-lapis sebagai landasan seterika. Ia sedang menyeterika sehelai baju seragam kerja. Baju seragam kerja itu milik Pak Sekdes.

[petikan dari novel : Believe, Karena Cinta Aku Percaya.. Tulisan: Morra Quatro]

0 ulasan:

Catat Ulasan