so..here you go..
“Lapangannya mahu disegel, Kang,” kata Aziz. Kami semua
mendengar kalimat ini dan menoleh. Aku berlari mengejar bola hingga ke pinggir
lapangan.menghentikannya, dan membawanya dengan tangan. Semua orang merapat.
“Disegel?” ulang Wolf.
“Disegel!” Aziz, mendongak menatap Wolf, berkata keras. Bangga
memakai kosakata baru itu; segel.
“Apa yang disegel?” Jendra, terengah letih mendekat dengan
kedua tangan dipinggangnya.
“Kata siapa?” Tanya Wolf, merendahkan suara.
“Kata Pak Winarno!” teriak Aziz, tanpa menyesuaikan
intonasi.
Pak Winarno itu sekretaris desa.
“Apa yang disegel?” ulang Jendra.
“Bilang nggak kenapa disegel?” Tanya Wolf pelan—masih dalam
tekanan suara khas penuh wibawa lulusan PM gontor dan Universitas Al-Azhar yang
dibanggakan semua orang itu.
“Katanya berisik Kang, tiap sore mengganggu aktivitas mesjid
dan ketertiban masyarakat. “ saat itu aku belajar bahawa kalimat copy-paste
dari ingatan kanak-kanak memang sungguh canggih.
“Apanya yang disegel?” ulang Jendra lagi.
Jawab Aziz “Ini udah mau dipasang papan disitu, Kang…”
“WOI, APANYA YANG DISEGEL?!?” Jendra—stres.
“Lapangan…”jawab Wolf. Namun sebelum ia selesai dengan
kalimatnya, semua orang dalam kerumunan tiba-tiba menoleh ke pinggir lapangan. Dari
arah mesjid, bapak-bapak itu berdatangan. Pak Sekretaris Desa berjalan paling depan. Ia membawa sesuatu
yang dibungkus kertas Koran. Semacam papan. Di belakangnya, berjalan dua
laki-laki gagah dalam seragam hijau dan topi hijau yang tidak lama kemudian
menjadi sangat popular dalam sebuah situs komunitas Indonesia di internet. Hansip.
Masing-masing membawa sebilah kayu.
Pak Sekdes memandang kami. Jenggot hitam panjangnya
bergerak-gerak saat sudut-sudut bibirnya tertarik ke sana sini. Ia meletakkan
bungkusannya di tanah. Meletakkan tangan dipinggang. Lalu, menunjuk-nunjuk. Dalam
sekejap, kedua lelaki dalam topi hansip itu bekerja.
Kami berjalan ke sana. Wolf paling depan, mendekati Pak
Sekdes. Tanyanya, dalam tutur anak PM Gontor featuring Universitas Al-Azhar
yang sangat khas, yang amat sopan itu
“Ada apa ini, Pak?”
“NDA BOLEH MAIN DISINI LAGI!” teriaknya—kami terlonjak
kaget.
“Ngerti?! Bocah-bocah gak iso diatur! Sudah dikasih tahu,
jangan rebut disamping masjid! Masjid itu tempat ibadah, tempat ibadah itu
kudune tenang!”
“Soal masjid tempat ibadah semua juga tahu, Pak, salahe
lapangannya disamping masjid,” kata Zul—teman dekat Jendra sejak SD. Memusuhi Pak
Sekdes sejak mereka dikejar-kejar gara-gara main petesan sehabis sahur pada
bulan puasa waktu masih seusia Aziz.
Pak Sekdes melotot. “ini lapangan harus tetap bersih biar bisa
dipakai buat acara kampung!”
Jendra baru akan berkata sesuatu—tetapi Wolf menepuk
tangannya, dengarkan dia dulu.
“Pokoknya, ndak boleh main bola disini lagi!”
“Terus, kita main bola di mana dong Pak?” Tanya Aziz. Memelas.
“Yo ra urus!”
“Pak” kata Wolf. “gimana kalo kita janji nggak akan main
bola setelah Magrib?”
“Kita juga biasa berhenti main kalo sudah Magrib,” tambahku.
“pengajian ba’da Asar minggu lalu disini tidak bis tenang,
inget?!” kedua tangannya terpasang lebih kencang pada pinggang. Kemudian, dia
membelakangi kami, menyuruh-nyuruh kedua hansipnya. Dua hansip itu kini
memakukan papan yang dia bawa pada bilah kayu. Kemudian mendirikannya.
Sekarang, kami tak punya pilihan. Papan itu ditegakkan. Dan kami
membubarkan diri. Esok harinya lapangan itu dipasang portal.
-----------xx----------------------------xx----------------------------------------xx-----------------
Sebenarnya, tidak ada yang istimewa dengan lapangan itu. Cuma
lapangan rumput liar, tak seberapa luas disamping masjid kampung. Sisi utara
dibatasi tembok masjid, sisi selatan, rumah Kepala Desa. Sisi Barat dipagari
jalinan kawat yang sudah terburai-burai—dibelakangnya belantara liar. Ada banyak
lapangan futsal yang lebih bagus dengan rumput sintetis import kalau saja kami
mahu sedikit repot untuk jalan ke pusat kota. Namun, disana kami tidak bisa
bertelanjang dada, berteriak sekeras-kerasnya dan terutama sekali harus
membayar.
Jadi lapangan rumput itu dengan begitu saja menjadi tempat
berkumpul anak laki-laki dikampung. Dari segala usia. Semua anak-anak squad,
sejak lulus SMP, bereuni disini. Attar
pernah menghabiskan beberapa tahun SMP
di Bangka Belitung, ketika ikut kakek membuka lahan untuk kebun sawit disana—tetapi
dia tetap pulang ke lapangan ini. Juga bersama anak-anak seragam putih-biru dan
putih-merah yang akan segera bergabung dan melempar tas sekolah mereka bila
melihat kami berkumpul.
Hari itu kami berkumpul lagi. Diruang tamu rumahku. Gerimis turun
memenuhi kaca jendala dan membeceki lapangan diluar sana. Disiram air hujan,
rerumputnya tampak tumbuh subur meninggi.
Jendra dan zul duduk dilantai. Di depan layar playstation, menatap
lapangan bola digital mereka sendiri. Attar barbering disofa. Memeluk gitar. Tiba-tiba
dia berkata
“Kita bisa singkirin portalnya”. Jreng. Tidak ada jawaban setelah petikan gitar imaginer
itu. Cuma terdengar riuh penonton bola imaginer dari layar PS.
“Ajak Aziz, ajak anak sekampung. Biarin aja papannya disitu.”
Tidak ada suara jreng, dan kali ini kami saling pandang. Wolf
duduk di sofa—baru selesai solat—masih dalam baju koko,sarung, peci, dan
Al-Quran kecil ditangannya, menoleh. Ia berdiri. “Yuk”. Lalu lenyap ke dalam
kamar.
Attar ikut berdiri. Zul mematikan layar PS, aku bergegas
mengambil bola. Bunda memanggil Wolf dan berusaha menyusulnya saat ia keluar
kamar. Ia sudah melepas koko dan menggantikan sarung dengan sehelai boxer.
“Kan udah ndak boleh main disana?” ujarnya cemas.
“Nggak apa-apa Bunda,” bantah Wolf.
“Rasya, nanti kita mahu ke rumah Rara habis Magrib..!!” Rara
itu calon isteri Wolf. Pernikahan mereka kurang dari satu bulan lagi.
“Kan habis Magrib,Bunda.” Wolf memasukkan diri ke dalam kaos
merah Liverpool-nya. “I’ll be back then, Bunda gak usah khawatir…”
“Hujan nak. Jendra, Attar, hujan..Zul, Langit…”
“Astaga Bunda, kita kan sudah besar…,” Attar keluar paling
akhir. Bunda masih berusaha menyusul, mengangkat abayanya dan melangkah tergesa
kedepan. Tetapi kami, tahu tanpa kerudung seperti itu, Bunda tidak akan sampai
ke teras.
Jadi, satu persatu, kami berlari kecil, keluar ke tengah
gerimis. Melewati setapak perkarangan, keluar pagar layaknya kesebelas yang
keluar dari ruang ganti di babak kedua pertandingan (dibabak pertama biasanya
mereka keluar bersama-sama anak kecil itu). Gerimis turun lebih renggang saat
kami mencapai lapangan. Namun baju sudah kadung basah dan menempel di badan,
jadi tak urung juga—kembali topless. Kami merunduk melewati portal,
menyampirkan baju-baju disana. Aku melakukan kick-off. Dalam sebentar, teriakan
kami terdengar ke seluruh penjuru kampung.
Wolf kebobolan gol dalam sepuluh menit. Aku bermain dipihak
Ali dan Zul. Dua lawan tiga. Tidak imbang. Bim tidak ada hari ini—mengunjungi saudaranya
di Semarang. Tetapi Aziz lewat saat hujan kembali turun deras. Dia berjalan
dari warung, membawa paying kembang-kembang yang sudah patah salah satu
rusuknya, dan kantong plastic hitam yang didekapnya didada.
Zul berteriak, “Azeeezz!! Woi!!”
Kalau Pak Sekdes sedang tidur, dia pasti sudah terbangun
kaget. Aziz menoleh. Zul melambai, aku melambai. Anak itu tersenyum girang
dengan gigi-gigi besarnya yang segera saja mencuat off-side.lalu, dia bergegas
masuk ke rumah, meninggalkan payung dan kantong plastic berisi belanjaan ibunya
untuk kemudian berlari menyusul kami.
There’s always something about football.
Kegembiraan yang tidak bisa didefinisikan saat bola bundar
itu bergulir nyaman dikaki, juga misteri-misteri yang terjadi di antaranya. Kejutan-kejutan
yang menyenangkan saat berada di area penalty lawan, dan perasaan bahwa ada
kawan dalam posisi yang paling kita butuhkan saat-saat ini—semuanya lebih dari
sekadar mencetak gol. Lebih dari itu.
Sore merambat turun, hujan semakin deras. Kami sudah tidak
ingat berapa gol, berapa off-side, berapa pelanggaran. Yang ada hanya peluh
bercampur air hujan. Aziz berteriak paling keras dengan suaranya yang belum
akil baligh itu, berlari dari satu pojok ke pojok lain seperti kesetanan.
Pada saat itu Bu Lek Yani keluar. Berdiri di seberang
masjid, di bawah paying patah rusuk itu.
“AZIZ!! PULANG!!”
Gemuruh menggelinding di ujung langit. Lalu sunyi. Bola mendarat
diam di atas genangan lumpur.
Kukira Aziz akan keluar dengan pembelaan-pembelaan, alasan-alasan,
memohon untuk terus bermain. Namun, tidak. Dia berlari ke portal, menarik
bajunya yang basah. “pulang dulu, Kang” katanya kepada Wolf. Ia menunduk
dibawah portal dan berlari menyonsong ibunya.
Harusnya Bu Lek Yani hanya perlu memayunginya sampai rumah—Aziz
telah menurut dengan patuh. Tetapi, ia marah besar. Menarik satu telinga Aziz
hingga kepalanya tertarik ke bawah, mencecer dengan kata-kata yang tidak bisa
kami dengar. Wolf terpana melihat itu. Aziz berusaha menahan tangis—kerana tidak
berani menangis.
Dia bahkan lupa membawa pulang sandal jepitnya. Anak itu
usianya baru 10 tahun.
“You don’t do that to a kid,” kata Wolf. Seisi lapangan
sunyi.
Bu Lek Yani bukan seorang yang galak. Kami mengenalnya. Suaminya
sudah meninggal, dan Aziz anak satu-satunya. Jelas, ada yang tidak beres
disini. Pertanyaan ini terjawab waktu
aku dan Jendra datang untuk mengembalikan sandal jepit itu.
Bu Lek Yani berjualan kue, dan menjadi buruh cuci untuk
penghasilan tambahan. Ia mencuci dan menyeterika dirumahnya. Aziz kadang-kadang
membantu mengantar-jemput cucian. Hari itu, teman kami itu membantu
menyeterika. Duduk di lantai, menghadap lipatan selimut dan kain sarung yang
dilapis-lapis sebagai landasan seterika. Ia sedang menyeterika sehelai baju
seragam kerja. Baju seragam kerja itu milik Pak Sekdes.
[petikan dari novel : Believe, Karena Cinta Aku Percaya.. Tulisan: Morra Quatro]





0 ulasan:
Catat Ulasan