Skinpress Rss

Khamis, 1 November 2012

ZUNEIGUNG PART 2

0



“Mai mahu solat dhuha sama-sama?” Kak Risma bertanya sambil tangannya lincah mengangkat tempat kopi, cangkir dan piring berisi ibu goreng dan sambal yang baru kami santap sebagai sarapan pagi itu. Wajah Kak Risma sudah basah dengan wudu’. Mai cepat-cepat menghulurkan tangan dan membantu Kak Risma merapikan tempat itu.

“Iya mahu kak..”Mai menjawab ringkas.

“Sudah.. biar kakak yang kerja.. sayang pergi wudu’ dulu sana..” Kak Risma senyum dan mengambil piring yang sedang dicuci Mai..sambil menarik tangan adiknya itu ke dalam aliran air. Mai membalas senyum sambil berlalu ke kamar mandi untuk berwudu’.

“Allahu Akbar!!” 
Takbiratul ihram. Sunyi. Tenang. Pintu-pintu langit pun terbuka memberi laluan buat doa yang dipohon dari hati yang terdalam.

Rakaat demi rakaat berdiri dalam khusyu’ yang mengabdi..seakan waktu terhenti disitu. Oh Tuhan, terimalah ibadah kami sebagai satu bentuk kesyukuran kami atas segala nikmatmu yang melimpah ruah. Mai tenggelam dalam dzikir solatnya. Terasa rahmat dan kasih sayang Allah yang dekat padanya. Merasa cinta Allah sedang mendakapnya dalam jalinan kasih sayang ini. Dada sebak. Mai sungguh menghargai ukhuwah ini. Sangat menghargai saat-saat solat dibelakang Kak Mukrim. Bahunya bersentuh dengan bahu Kak Risma. Hangat. Sehangat ukhuwah yang mengalir diselanya..Mai tak pernah merasai yang namanya solat sunat berjemaah bersama seperti ini dengan siapapun. Biasa, paling-paling dia melakukannya sendirian.sesederhana ilmu yang dia punya. Tapi sepertinya suami istri ini mendisiplinkan solat sunnah ini sebagai amal jama’ie mereka..menitikberatkan ibadah ini sebagai energi tambahan yang memomentumkan kekuatan..sungguh indah..terima kasih Ya Allah!! Terima kasih menghadirkan mereka dalam kehidupanku. Terima kasih meminjamkan sedikit dari sifat kasihmu yang memenuhi cekerawala untuk menjalinkan hati-hati kami. Tiada lain yang bisa kupersembahkan kecuali rasa syukurku..Mata Mai berkaca-kaca. Hatinya berbunga bahagia. Tak henti lafaz syukur itu diulang-ulang.

Usai solat dhuha. Kak Mukrim memperpanjangkan dzikirnya. Menikmati hening pagi dengan alunan asma’ Allah benar-benar menenangkan jiwa yang gundah. Empang tangis Mai pecah jua..tak sanggup lagi menampung hujan yang sudah menjadi bah yang menggenaskan.. dia menangis semahu-mahunya. Kaget Kak Risma dan Kak Mukrim. Segera Kak Risma merangkul bahu Mai..turut menangis entah kenapa. Dia hanya ingin menenangkan perasaan Mai. Tidak sanggup rasanya dia membenarkan airmata itu terus mengalir keluar dari mata bening adik yang disayangi fillah itu.. setelah tangis Mai mereda, dia memeluk Kak Risma seraya berkata

 “kakak, terima kasih…sungguh, kau adalah keajaiban bagiku..”

“dan kau adikku, adalah kado paling berharga dari Tuhan buatku..”

_________xx__________________________xx_________________________xx_______________

“Siap-siap sayang, kita pergi hantarkan undangan di Pare-pare”. Kak Risma menyodorkan gamis coklat yang telah siap diseterika untuk dipakai Mai.

“Undangan?”Mai sememangnya bingung kerna dia hanya mengikuti rentak perjalanannya keluarganya kak Risma. Maklum saja, Mai memang jarang sebenarnya main di daerah sini. Anak rantau yang dibebani kuliah dipundaknya.

“Iya sayang, undangan nikahannya sepupu kakak. Itu Kak Lin yang kita kerumahnya tadi malam.. Masih ingat? Kan Mai sudah janji tuh mahu datang pekan depan..Mapaccinya malam jumat. Akad nikahnya Sabtu siangnya..jangan lupa yah..hmm..begitulah Mai, agak ribet adatnya, kalau memanggil, harus kita sendiri hantarkan undangannya ke rumah.. sebenarnya sih tujuannya untuk mengeratkan silaturrahmi. Tapi Islam tidak menyusahkan.. Adat yang bikin begitu.. tapi yah, yang namanya adat,masih dijunjung tinggi sama orang tua.. selagi tidak bertentangan dengan syariat, kita turuti saja supaya tidak banyak silang dengan mereka kan.. ^_^”jelas kak Risma panjang lebar.

Perjalanan ke Pare-pare dari Sidrap memakan masa tidak sampai 2jam setengah. Pemandangan sawah padi yang hijau membentang, menyihir mata yang memandang. Tidak heran, Sidrap mendapat julukan Negeri penghasil beras.sesekali melewati kaki gunung lebih menyerlahkan kesaktian alam.. Diselang seli dengan lahan-lahan pembuatan garam di daerah tertentu, bagai hipnotis yang menghanyutkan. Negeri yang indah. Detik hati Mai. Ayah Kak Risma sibuk bercerita dengan menantu dan anaknya sementara ibu Kak Risma sudah terbang mengangkasa dalam mimpi indahnya. Kecape’an kerna telat tidur gara-gara menguruskan pembagian daging korban kemarin. Ponakan-ponakan kecil Kak Risma sibuk bercanda sesama sendiri. sesekali terdengar suara riuh dari tempat duduk belakang. Ada saja yang bisa dijadikan bahan mainan. Lucu benar anak-anak ini.

Tiba di rumah Kak Mukrim jam 11 pagi. Baru Mai tahu ternyata Kak Mukrim asli Pare-pare. Selama ini, Mai tidak pernah ambil tahu tentang Kak Mukrim.. hanya sebatas profesionalismenya di kampus. Tapi orang tuanya Kak Mukrim, memang pernah Mai kebetulan ketemu sewaktu pertama kali kerumahnya Kak Risma awal tahun ini. Sewaktu itu, orang tuanya Kak Mukrim singgah di rumah Kak Risma sehabis pulang dari kampung mereka di Bone. Mai maklum memang kalau orang tua Kak Mukrim tersangat baik. Apalagi mereka sungguh-sungguh mengajak Mai ke rumah mereka di Pare-pare jika berkesempatan. Sebaik saja Mai menjejakkan kaki ke rumah, segera dia disambut oleh mamanya Kak Mukrim dengan pelukan dan ciuman dipipi kanannya. MasyaAllah,padahal baru benar dia mengenali tante itu. Baru kali kedua bertemu.

“Akhirnya sampai juga disini yah nak..” kata tante penuh mesra. Mai disuruh duduk dan dihidangkan dengan kuih muih yang memenuhi meja.

Kak Risma hilang dibalik tabir membantu tante menyiapkan makan siang. Mai masih tidak begitu berani bertingkah. Kalau dinegaranya, pasti saja dia sudah turun ke dapur untuk turut membantu. Adat Melayu. Tapi disini sedikit berbeda budayanya. Biasa, biar anak gadis ke rumahnya orang, asal namanya tamu duduknya didepan saja. Tidak ikut membantu. Mai gatal tangan jadinya. Tapi takut juga malah dianggap tidak sopan jika dia ikut sibuk-sibuk didapurnya orang. Untung ada ayah Kak Mukrim yang ramah dan bisa ditemani cerita.

Ayah Kak Mukrim bekerja sebagai Kepala Dinas Perancangan Bandar di Pare-pare namun perwatakannya sangat sederhana. Dengan anak seusia Mai juga bisa ditemani bicara. Tidak lokek menceritakan pengalaman-pengalaman berharganya. Mai teringat kata murabbinya “kita selalu bisa menghirup lautan pengalaman berharga dari generasi yang lebih dulu dari kita. jadi jangan sungkan untuk ramah dan hormat pada yang lebih tua”. Terdetik dihati Mai, oh inilah dia, ayah dan ibu hebat yang melahir dan mendidik sosok sehebat Kak Mukrim sama seperti pikirannya sewaktu bertemu dengan ibu bapa Kak Risma pertama kali dulu. MasyaAllah sekali.

Mereka makan bersama siang itu. Keluarga Kak Risma. Dan keluarga Kak Mukrim. Dan tantenya Kak Mukrim yang ternyata berteman juga dengan Mai di alam maya facebook. Oh, lagi lagi dunia yang sempit. Selesai solat dzuhur, keluarga Kak Mukrim dan keluarga Kak Risma sama-sama berangkat untuk ziarah ke rumah keluarga Kak Mukrim. Bermula dari rumah neneknya hingga ke rumah tante-tante Kak Mukrim yang lain. Mama Kak Mukrim tak jemu-jemu memperkenalkan Mai pada keluarga. Dan sambutan hangat tetap menghiasi wajah yang melihat Mai.

Hati Mai tersentuh lagi saat tangannya menggenggam erat tangan neneknya Kak Mukrim. Dicium sungguh-sungguh tangan wanita tua itu. Teringat almarhumah neneknya yang baru 2 pekan kembali ke rahmatullah. Melengkapkan title “Mai tidak punya nenek lagi!!”fikirannya bahkan sempat lari ke sana sekali.

2 minggu yang lalu….

“Assalamu’alaikum Mai..ayah Cuma mahu kasi tahu, nenekmu sakit berat. Pak cikmu telpon tadi pagi. Dan ayah bergegas pulang. Sekarang saja masih dijalan. Mai doakan nenek ye..” nada suara ayah terdengar tenang. Tapi Mai tahu, gejolak hatinya pasti sudah menggegarkan volcano-volcano yang tidur lama.

“Iya ayah, insyaAllah. Ayah kabari Mai jika sudah lihat keadaan nenek”perasaan Mai tidak enak. Nenek jarang sakit yang pakai perkataan “berat” dibelakangnya. Saat ayah Mai yang selaku dokter mengatakan itu, Mai tahu keadaan neneknya benar-benar parah. Mai berkira-kira sendiri. dia menyiapkan dokumen imigrasi kilatnya. Persiapan kalau "ada apa-apa". Jadual pesawat diperiksa. Standby mode.

Jam 12.00 siang

“Mai, nenek sudah kembali ke rahmatullah.. Mai banyakkan sabar yah sayang. Nda usah pulang dulu. Kerna mahu cepat-cepat disimpan. Mai juga tahukan kalau jenazah itu harus disegerakan simpannya. Mai kirim doa saja ya nak.. semoga Allah terima doa anak cucunya yang soleh solehah..” Ayah masih kelihatan tenang.

‘Iya ayah insyaAllah..” tidak mampu berkata-kata. Airmata sepertinya sudah menenggelamkan bebola matanya hingga bayangan kamar saja tidak lagi jelas kelihatan.

Terbayang wajah bersih nenek tersenyum dengan garis-garis keriput khas orang tua saat menghantar Mai pulang ke bumi Angging Mammiri usai lebaran Eidul Fitri kemarin. Masih terasa hangatnya pelukan nenek. Tangan lembutnya yang kukuh berpegang saat Mai pimpin beliau menziarahi kubur kakek (atuk).Mai tidak punya peluang lagi untuk menggenggam tangan tua itu erat-erat.

_______xx______________________xx_________________________xx______________________

“Mai makan yuk. Itu tante Ida paling pintar bikin konro.. coba rasa” Suara mama Kak Mukrim mengembalikan Mai ke dunia nyata.

“Ih, tante kenyang sekali tante.. soalnya tadi Mai udah 3kali nambah dirumah tante. Salahnya kari ayam tante tuh.. yang enak buanget hingga full semua perut Mai sampai bagian cadangannya juga abis terpakai..hihi” Mai berbisik sambil mengharap pengertian tante dari disuruh makan terus..

“Itu tadi kari, ini konro.. pasti masih bisa kompromi dikit tuh perutnya..tante Ida udah dari tadi panggil-panggil nyuruhin coba.. gak enak gak disentuh sama sekali tuh” tante meyakinkan..

Mai terpaksa makan lagi. Enak betul konro masakan tante Ida. Sepertinya biar harus disimpan sebagian di ‘hepar’ juga, Mai tidak menyesal makan. Enaknya!! Nyum nyum..baru mahu tepar dengan perut kenyangnya, Mai disodor lagi dengan mangga ranum merah orange yang siap dikupas oleh mama Kak Mukrim..subhanallah ini tante satu sungguh-sungguh luar biasa layanannya. Sambil kumpul-kumpul bersama mama Kak Risma, mama Kak Mukrim dan tante-tante yang lain, mereka berkenalan dengan lebih dekat. Tante Ida selaku tuan rumah, sibuk bercerita tentang anak-anaknya hingga dikeluarkan album foto. Tidak cukup dengan itu, sampai foto yang dipajang didinding juga dikasi turun untuk memperkenalkan anak-anaknya pada Mai.

Keluarganya Kak Mukrim terlalu baik dan ramah. Mai tidak merasa asing berada ditengah mereka. Mai memang jarang canggung berada dikalangan orang tua. Mungkin hasil didikan ibunya dari kecil yang sering mambawanya bersama ke acara-acara pengajian. Tapi juga kadang Mai pasti lebih banyak mempertahankan kesopanan “gadis melayu”nya dikalangan teman pengajian ibunya. Tapi berada diantara tante-tante ini benar-benar nyaman. Mendengar tawa canda mereka dan menyedut pengalaman mereka. Apalagi pengalaman-pengalaman mendidik anak. Mai yakin pasti akan berguna buat dirinya dihari depan.

Usai kunjungan ke rumah keluarga, mama Kak Mukrim menyiapkan kari ayam bersama burasa dan tolong-tolong untuk Mai bawa pulang ke Makassar. Dengan pelukan hangat melepas Mai pulang dengan sinar mata penuh harap akan ada lagi pertemuan. Mai kembali menyalami nenek. Sambil mencium pipi tuanya. Mai tidak ngerti bahasa bugis. Tapi Mai ngerti bahasa kasih sayang nenek. 

Di perjalanan pulang, Mai menangis lagi. Entah kenapa hatinya semakin sensitive kerna dia semakin tua atau memang apa yang berlaku hari ini semuanya mengharukan hatinya. Kak  Risma memeluknya lagi. Kali ini dengan senyuman.

“Kenapa ini adiknya kakak, yang kakak sayang banget padanya, menangis terus hari ini?” Kak Risma mendekap sambil membelai belakang Mai..

“Gak tau juga kak, udah ketuaan kale, bawaanx emosian terus..” Mai mencoba menutup malu sambil meneggelamkan wajahnya yang masih bersisa airmata dibahu Kak Risma.

Seisi mobil ketawa.

Setelah lega, Mai bertanya pada Kak Risma,

“Kakak sama Kak Mukrim keluarga juga kah?”

Biasanya dikeluarga bugis, mereka suka menjodohkan anak-anak mereka dikalangan keluarganya. Katanya supaya harta tidak lari ke orang luar disamping mengakrabkan lagi hubungan kekeluargaan.

“Tidak..”

“Tapi sepertinya keluarganya Kak Risma sama keluarganya Kak Mukrim sangat akrab. Hingga keluarganya kakak juga bisa sama-sama jalan dirumah keluarganya Kak Mukrim?” Mai penasaran.

“^_^ sayang, pernikahan itu bukan Cuma untuk diri kita dan dia. Tapi pernikahan itu rahmat Allah untuk menyatukan dua buah keluarga. Ia menyatukan hati kita hingga kita menganggap keluarganya sama seperti keluarga kita dan keluarga kita juga menganggap keluarganya sama seperti keluarga kita juga. Pernikahan itu menjadi ibadah saat kita menjadikannya ladang tanaman akhirat.saat kita bersama-sama menjadikan rumah sebagai sambungan madrasah. Seninya kerna solat, indahnya oleh munajat. Tapaknya iman, jalannya syariat. Natijahnya akhlak…ih..kok jadinya kakak ngasi ceramah pra-pernikahan yah?” hahaha.. sama-sama ketawa..


Yang jelas, Mai sudah mendapat terlalu banyak pembelajaran berharga dalam episode kehidupannya hari ini.. …

0 ulasan:

Catat Ulasan