“Mai mahu solat dhuha sama-sama?” Kak Risma bertanya sambil
tangannya lincah mengangkat tempat kopi, cangkir dan piring berisi ibu goreng
dan sambal yang baru kami santap sebagai sarapan pagi itu. Wajah Kak Risma
sudah basah dengan wudu’. Mai cepat-cepat menghulurkan tangan dan membantu Kak
Risma merapikan tempat itu.
“Iya mahu kak..”Mai menjawab ringkas.
“Sudah.. biar kakak yang kerja.. sayang pergi wudu’ dulu sana..”
Kak Risma senyum dan mengambil piring yang sedang dicuci Mai..sambil menarik tangan
adiknya itu ke dalam aliran air. Mai membalas senyum sambil berlalu ke kamar
mandi untuk berwudu’.
“Allahu Akbar!!”
Takbiratul ihram. Sunyi. Tenang. Pintu-pintu
langit pun terbuka memberi laluan buat doa yang dipohon dari hati yang
terdalam.
Rakaat demi rakaat berdiri dalam khusyu’ yang mengabdi..seakan waktu terhenti disitu. Oh
Tuhan, terimalah ibadah kami sebagai satu bentuk kesyukuran kami atas segala
nikmatmu yang melimpah ruah. Mai tenggelam dalam dzikir solatnya. Terasa rahmat
dan kasih sayang Allah yang dekat padanya. Merasa cinta Allah sedang
mendakapnya dalam jalinan kasih sayang ini. Dada sebak. Mai sungguh menghargai
ukhuwah ini. Sangat menghargai saat-saat solat dibelakang Kak Mukrim. Bahunya bersentuh
dengan bahu Kak Risma. Hangat. Sehangat ukhuwah yang mengalir diselanya..Mai
tak pernah merasai yang namanya solat sunat berjemaah bersama seperti ini
dengan siapapun. Biasa, paling-paling dia melakukannya sendirian.sesederhana ilmu
yang dia punya. Tapi sepertinya suami istri ini mendisiplinkan solat sunnah ini
sebagai amal jama’ie mereka..menitikberatkan ibadah ini sebagai energi tambahan yang memomentumkan kekuatan..sungguh indah..terima kasih Ya
Allah!! Terima kasih menghadirkan mereka dalam kehidupanku. Terima kasih
meminjamkan sedikit dari sifat kasihmu yang memenuhi cekerawala untuk
menjalinkan hati-hati kami. Tiada lain yang bisa kupersembahkan kecuali rasa
syukurku..Mata Mai berkaca-kaca. Hatinya berbunga bahagia. Tak henti lafaz
syukur itu diulang-ulang.
Usai solat dhuha. Kak Mukrim memperpanjangkan dzikirnya. Menikmati
hening pagi dengan alunan asma’ Allah benar-benar menenangkan jiwa yang gundah.
Empang tangis Mai pecah jua..tak sanggup lagi menampung hujan yang sudah menjadi bah yang menggenaskan.. dia menangis semahu-mahunya. Kaget
Kak Risma dan Kak Mukrim. Segera Kak Risma merangkul bahu Mai..turut menangis
entah kenapa. Dia hanya ingin menenangkan perasaan Mai. Tidak sanggup rasanya
dia membenarkan airmata itu terus mengalir keluar dari mata bening adik yang
disayangi fillah itu.. setelah tangis Mai mereda, dia memeluk Kak Risma seraya
berkata
“kakak, terima kasih…sungguh, kau adalah keajaiban bagiku..”
“dan kau adikku, adalah kado paling berharga dari
Tuhan buatku..”
_________xx__________________________xx_________________________xx_______________
“Siap-siap sayang, kita pergi hantarkan undangan di
Pare-pare”. Kak Risma menyodorkan gamis coklat yang telah siap diseterika untuk
dipakai Mai.
“Undangan?”Mai sememangnya bingung kerna dia hanya mengikuti
rentak perjalanannya keluarganya kak Risma. Maklum saja, Mai memang jarang
sebenarnya main di daerah sini. Anak rantau yang dibebani kuliah dipundaknya.
“Iya sayang, undangan nikahannya sepupu kakak. Itu Kak Lin
yang kita kerumahnya tadi malam.. Masih ingat? Kan Mai sudah janji tuh mahu
datang pekan depan..Mapaccinya malam jumat. Akad nikahnya Sabtu siangnya..jangan lupa yah..hmm..begitulah
Mai, agak ribet adatnya, kalau memanggil, harus kita sendiri hantarkan
undangannya ke rumah.. sebenarnya sih tujuannya untuk mengeratkan silaturrahmi.
Tapi Islam tidak menyusahkan.. Adat yang bikin begitu.. tapi yah, yang
namanya adat,masih dijunjung tinggi sama orang tua.. selagi tidak bertentangan dengan syariat, kita turuti saja supaya
tidak banyak silang dengan mereka kan.. ^_^”jelas kak Risma panjang lebar.
Perjalanan ke Pare-pare dari Sidrap memakan masa tidak
sampai 2jam setengah. Pemandangan sawah padi yang hijau membentang, menyihir mata yang
memandang. Tidak heran, Sidrap mendapat julukan Negeri penghasil beras.sesekali
melewati kaki gunung lebih menyerlahkan kesaktian alam.. Diselang seli dengan lahan-lahan pembuatan garam di daerah tertentu, bagai hipnotis yang menghanyutkan. Negeri yang indah. Detik
hati Mai. Ayah Kak Risma sibuk bercerita dengan menantu dan anaknya sementara
ibu Kak Risma sudah terbang mengangkasa dalam mimpi indahnya. Kecape’an kerna
telat tidur gara-gara menguruskan pembagian daging korban kemarin. Ponakan-ponakan
kecil Kak Risma sibuk bercanda sesama sendiri. sesekali terdengar suara riuh
dari tempat duduk belakang. Ada saja yang bisa dijadikan bahan mainan. Lucu benar
anak-anak ini.
Tiba di rumah Kak Mukrim jam 11 pagi. Baru Mai tahu ternyata
Kak Mukrim asli Pare-pare. Selama ini, Mai tidak pernah ambil tahu
tentang Kak Mukrim.. hanya sebatas profesionalismenya di kampus. Tapi orang
tuanya Kak Mukrim, memang pernah Mai kebetulan ketemu sewaktu pertama kali
kerumahnya Kak Risma awal tahun ini. Sewaktu itu, orang tuanya Kak Mukrim
singgah di rumah Kak Risma sehabis pulang dari kampung mereka di Bone. Mai maklum
memang kalau orang tua Kak Mukrim tersangat baik. Apalagi mereka
sungguh-sungguh mengajak Mai ke rumah mereka di Pare-pare jika berkesempatan. Sebaik
saja Mai menjejakkan kaki ke rumah, segera dia disambut oleh mamanya Kak Mukrim
dengan pelukan dan ciuman dipipi kanannya. MasyaAllah,padahal baru benar dia
mengenali tante itu. Baru kali kedua bertemu.
“Akhirnya sampai juga disini yah nak..” kata tante penuh
mesra. Mai disuruh duduk dan dihidangkan dengan kuih muih yang memenuhi meja.
Kak Risma hilang dibalik tabir membantu tante menyiapkan
makan siang. Mai masih tidak begitu berani bertingkah. Kalau dinegaranya, pasti
saja dia sudah turun ke dapur untuk turut membantu. Adat Melayu. Tapi disini
sedikit berbeda budayanya. Biasa, biar anak gadis ke rumahnya orang, asal
namanya tamu duduknya didepan saja. Tidak ikut membantu. Mai gatal tangan jadinya. Tapi takut juga malah dianggap tidak sopan jika dia ikut sibuk-sibuk
didapurnya orang. Untung ada ayah Kak Mukrim yang ramah dan bisa ditemani
cerita.
Ayah Kak Mukrim bekerja sebagai Kepala Dinas Perancangan Bandar di Pare-pare namun perwatakannya sangat sederhana. Dengan anak seusia Mai juga bisa ditemani bicara. Tidak lokek menceritakan pengalaman-pengalaman berharganya. Mai teringat kata murabbinya “kita selalu bisa menghirup lautan pengalaman berharga dari generasi yang lebih dulu dari kita. jadi jangan sungkan untuk ramah dan hormat pada yang lebih tua”. Terdetik dihati Mai, oh inilah dia, ayah dan ibu hebat yang melahir dan mendidik sosok sehebat Kak Mukrim sama seperti pikirannya sewaktu bertemu dengan ibu bapa Kak Risma pertama kali dulu. MasyaAllah sekali.
Ayah Kak Mukrim bekerja sebagai Kepala Dinas Perancangan Bandar di Pare-pare namun perwatakannya sangat sederhana. Dengan anak seusia Mai juga bisa ditemani bicara. Tidak lokek menceritakan pengalaman-pengalaman berharganya. Mai teringat kata murabbinya “kita selalu bisa menghirup lautan pengalaman berharga dari generasi yang lebih dulu dari kita. jadi jangan sungkan untuk ramah dan hormat pada yang lebih tua”. Terdetik dihati Mai, oh inilah dia, ayah dan ibu hebat yang melahir dan mendidik sosok sehebat Kak Mukrim sama seperti pikirannya sewaktu bertemu dengan ibu bapa Kak Risma pertama kali dulu. MasyaAllah sekali.
Mereka makan bersama siang itu. Keluarga Kak Risma. Dan keluarga
Kak Mukrim. Dan tantenya Kak Mukrim yang ternyata berteman juga dengan Mai di
alam maya facebook. Oh, lagi lagi dunia yang sempit. Selesai solat dzuhur, keluarga
Kak Mukrim dan keluarga Kak Risma sama-sama berangkat untuk ziarah ke rumah
keluarga Kak Mukrim. Bermula dari rumah neneknya hingga ke rumah tante-tante
Kak Mukrim yang lain. Mama Kak Mukrim tak jemu-jemu memperkenalkan Mai pada
keluarga. Dan sambutan hangat tetap menghiasi wajah yang melihat Mai.
Hati Mai tersentuh lagi saat tangannya menggenggam erat
tangan neneknya Kak Mukrim. Dicium sungguh-sungguh tangan wanita tua itu. Teringat
almarhumah neneknya yang baru 2 pekan kembali ke rahmatullah. Melengkapkan title
“Mai tidak punya nenek lagi!!”fikirannya bahkan sempat lari ke sana sekali.
2 minggu yang lalu….
“Assalamu’alaikum Mai..ayah Cuma mahu kasi tahu, nenekmu
sakit berat. Pak cikmu telpon tadi pagi. Dan ayah bergegas pulang. Sekarang saja
masih dijalan. Mai doakan nenek ye..” nada suara ayah terdengar tenang. Tapi Mai
tahu, gejolak hatinya pasti sudah menggegarkan volcano-volcano yang tidur lama.
“Iya ayah, insyaAllah. Ayah kabari Mai jika sudah lihat
keadaan nenek”perasaan Mai tidak enak. Nenek jarang sakit yang pakai perkataan “berat”
dibelakangnya. Saat ayah Mai yang selaku dokter mengatakan itu, Mai tahu
keadaan neneknya benar-benar parah. Mai berkira-kira sendiri. dia menyiapkan
dokumen imigrasi kilatnya. Persiapan kalau "ada apa-apa". Jadual pesawat
diperiksa. Standby mode.
Jam 12.00 siang
“Mai, nenek sudah kembali ke rahmatullah.. Mai banyakkan
sabar yah sayang. Nda usah pulang dulu. Kerna mahu cepat-cepat disimpan. Mai
juga tahukan kalau jenazah itu harus disegerakan simpannya. Mai kirim doa saja
ya nak.. semoga Allah terima doa anak cucunya yang soleh solehah..” Ayah masih
kelihatan tenang.
‘Iya ayah insyaAllah..” tidak mampu berkata-kata. Airmata
sepertinya sudah menenggelamkan bebola matanya hingga bayangan kamar saja tidak
lagi jelas kelihatan.
Terbayang wajah bersih nenek tersenyum dengan garis-garis
keriput khas orang tua saat menghantar Mai pulang ke bumi Angging Mammiri usai
lebaran Eidul Fitri kemarin. Masih terasa hangatnya pelukan nenek. Tangan lembutnya
yang kukuh berpegang saat Mai pimpin beliau menziarahi kubur kakek (atuk).Mai
tidak punya peluang lagi untuk menggenggam tangan tua itu erat-erat.
_______xx______________________xx_________________________xx______________________
“Mai makan yuk. Itu tante Ida paling pintar bikin konro..
coba rasa” Suara mama Kak Mukrim mengembalikan Mai ke dunia nyata.
“Ih, tante kenyang sekali tante.. soalnya tadi Mai udah 3kali
nambah dirumah tante. Salahnya kari ayam tante tuh.. yang enak buanget hingga full
semua perut Mai sampai bagian cadangannya juga abis terpakai..hihi” Mai berbisik sambil
mengharap pengertian tante dari disuruh makan terus..
“Itu tadi kari, ini konro.. pasti masih bisa kompromi dikit
tuh perutnya..tante Ida udah dari tadi panggil-panggil nyuruhin coba.. gak enak
gak disentuh sama sekali tuh” tante meyakinkan..
Mai terpaksa makan lagi. Enak betul konro masakan tante Ida.
Sepertinya biar harus disimpan sebagian di ‘hepar’ juga, Mai tidak menyesal
makan. Enaknya!! Nyum nyum..baru mahu tepar dengan perut kenyangnya, Mai
disodor lagi dengan mangga ranum merah orange yang siap dikupas oleh mama Kak
Mukrim..subhanallah ini tante satu sungguh-sungguh luar biasa layanannya. Sambil
kumpul-kumpul bersama mama Kak Risma, mama Kak Mukrim dan tante-tante yang
lain, mereka berkenalan dengan lebih dekat. Tante Ida selaku tuan rumah, sibuk
bercerita tentang anak-anaknya hingga dikeluarkan album foto. Tidak cukup
dengan itu, sampai foto yang dipajang didinding juga dikasi turun untuk
memperkenalkan anak-anaknya pada Mai.
Keluarganya Kak Mukrim terlalu baik dan ramah. Mai tidak
merasa asing berada ditengah mereka. Mai memang jarang canggung berada
dikalangan orang tua. Mungkin hasil didikan ibunya dari kecil yang sering
mambawanya bersama ke acara-acara pengajian. Tapi juga kadang Mai pasti lebih
banyak mempertahankan kesopanan “gadis melayu”nya dikalangan teman pengajian
ibunya. Tapi berada diantara tante-tante ini benar-benar nyaman. Mendengar tawa
canda mereka dan menyedut pengalaman mereka. Apalagi pengalaman-pengalaman
mendidik anak. Mai yakin pasti akan berguna buat dirinya dihari depan.
Usai kunjungan ke rumah keluarga, mama Kak Mukrim menyiapkan
kari ayam bersama burasa dan tolong-tolong untuk Mai bawa pulang ke Makassar. Dengan
pelukan hangat melepas Mai pulang dengan sinar mata penuh harap akan ada lagi
pertemuan. Mai kembali menyalami nenek. Sambil mencium pipi tuanya. Mai tidak
ngerti bahasa bugis. Tapi Mai ngerti bahasa kasih sayang nenek.
Di perjalanan pulang,
Mai menangis lagi. Entah kenapa hatinya semakin sensitive kerna dia semakin tua
atau memang apa yang berlaku hari ini semuanya mengharukan hatinya. Kak Risma memeluknya lagi. Kali ini dengan
senyuman.
“Kenapa ini adiknya kakak, yang kakak sayang banget padanya,
menangis terus hari ini?” Kak Risma mendekap sambil membelai belakang Mai..
“Gak tau juga kak, udah ketuaan kale, bawaanx emosian
terus..” Mai mencoba menutup malu sambil meneggelamkan wajahnya yang masih bersisa
airmata dibahu Kak Risma.
Seisi mobil ketawa.
Setelah lega, Mai bertanya pada Kak Risma,
“Kakak sama Kak Mukrim keluarga juga kah?”
Biasanya dikeluarga bugis, mereka suka menjodohkan anak-anak
mereka dikalangan keluarganya. Katanya supaya harta tidak lari ke orang luar
disamping mengakrabkan lagi hubungan kekeluargaan.
“Tidak..”
“Tapi sepertinya keluarganya Kak Risma sama keluarganya Kak
Mukrim sangat akrab. Hingga keluarganya kakak juga bisa sama-sama jalan dirumah
keluarganya Kak Mukrim?” Mai penasaran.
“^_^ sayang, pernikahan itu bukan Cuma untuk diri kita dan
dia. Tapi pernikahan itu rahmat Allah untuk menyatukan dua buah keluarga. Ia menyatukan
hati kita hingga kita menganggap keluarganya sama seperti keluarga kita dan
keluarga kita juga menganggap keluarganya sama seperti keluarga kita juga. Pernikahan
itu menjadi ibadah saat kita menjadikannya ladang tanaman akhirat.saat kita
bersama-sama menjadikan rumah sebagai sambungan madrasah. Seninya kerna
solat, indahnya oleh munajat. Tapaknya iman, jalannya syariat. Natijahnya akhlak…ih..kok
jadinya kakak ngasi ceramah pra-pernikahan yah?” hahaha.. sama-sama ketawa..





0 ulasan:
Catat Ulasan