Skinpress Rss

Khamis, 8 November 2012

THE POWER OF DZIKIR

2


Isteri Umar bin Abdul Aziz pernah bercerita. Mungkin saja, katanya, ada orang yang lebih banyak melakukan solat dan puasa dari suamiku, tapi, tambahnya, aku belum pernah mendapatkan orang yang lebih memiliki rasa takut kepada Allah daripada Umar Bin Abdul Aziz.
“Setelah solat Isya aku pernah melihatnya duduk berdoa dan menangis. ia menangis sampai tertidur. Lalu tersadar, melanjutkan berdoa dan menangis hingga ia tertidur kembali. Itulah yang dilakukan sampai waktu subuh”

Saudaraku, 
betapa terasa ada kesenjangan sangat jauh antara kita dengan kehidupan para salafussoleh. Di antara mereka ada yang hidup dengan ragam kesulitan yang jauh melebihi kesulitan yang kita alami. Tapi mereka tetap mampu menunaikan ibadah secara proportional dan baik. Mereka, bahkan dengan tanggungjawab dan tuntutan tugas yang begitu melimpah. Tapi mereka tetap mampu memilih prestasi ibadah yang jauh lebih padat dan berkualitas. Begitulah gambaran kemampuan mereka mengimbangi tuntutan duniawi dan ukhrawi.

Bagaimana dengan kita?
Kita, mungkin kerap merasa kekurangan waktu. Atau, lebih tepatnya sulit membagi-bagi waktu untuk memenuhi semua tugas dan kewajiban. Kita, seolah ada diantara banyak tarikan kewajiban yang membuat kita kewalahan mengikutinya. Bahkan, boleh jadi, ada di antara kita yang merasa, untuk memenuhi suatu kewajiban itu, harus mengorbankan kewajiban yang lain. “kewajiban lebih banyak dari waktu yang tersedia”motto perjuangan seperti ini menjadi tidak lebih dari sekadar memahami realitas yang tidak bisa diselesaikan.

Saudaraku, 
Mari duduk dan tenangkan hati. Biarkan suasana hening menguasai hati kita. resapilah betapa banyak dan luar biasanya nikmat dan kurnia Allah untuk kita. tidak ada nikmat yang mampu kita hitung. Berdzikirlah… ucapkan kalimah tasbih “Subhanallah”, tahmid “Alhamdulillah” dan takbir “Allahu Akbar”.. Laa haulaa wa laa quwwata illaa billah.. tidak ada daya upaya kecuali dari Allah semata..

Dalam suasana dan ucapan zikir itulah sesungguhnya kita tengah mengalami proses suplai energy yang bisa membuat hati kita menjadi kuat. Dan disanalah sesungguhnya inti kekuatan kita. Ya, dzikrullah. Tanpa itu, tubuh kita pasti sulit memikul ragam tanggungjawab hidup yang memang berat ini. Hati yang hidup menjadi sumber energy yang sangat berarti untuk segala aktivitas jasad. Inilah sebenarnya yang dimaksudkan dalam sabda Rasulullah SAW:

“Perumpamaan orang yang berzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berzikir adalah seperti orang hidup dan orang yang telah mati”
[HR Bukhari]

Artinya, lalai dari dzikrullah sama dengan kematian jasad. Sebab orang mati, adalah jasad yang tak memiliki tenaga apapun untuk memiliki sesuatu. Sepertimana juga Imam Ibnu Taimiyah pernah mengilustrasikan yang mirip dengan hadith tadi

“Dzikir bagi hati itu ibarat air bagi ikan.  Bagaimana kondisi ikan bila ia harus berpisah dari air?”
[Al Wabil Ash-Shoib,93]

Saudaraku, 
Perhatikan firman Allah dalam surah Hud ayat 52:
“Istaghfiruu rabbakum”. Mohon ampunlah pada Tuhanmu..
Pada akhir ayat tersebut Allah mengatakan “Yazidkum quwwatan ilaa quwwatikum”. Allah akan menambah kekuatan pada kekuatanmu. Itu alasannya Rasulullah SAW lebih memilih memberi panduan dzikir tasbih 33x, tahmid 33x dan takbir 34x kepada Ali dan Aisyah RA, ketimbang memberikan pembantu untuk meringankan pekerjaan rumah tangga mereka. Ini juga yang menjadi latar belakang mengapa Hasan Al-Banna menekankan fondisi dakwahnya pada factor ihya’ul qulub, hidupnya hati yang akan menggerakkan kekuatan maha dahsyat dalam tubuh seorang muslim.

Saudaraku,
Dzikir itu mudah dan sederhana. Tapi betapa besar dan luar biasa faedahnya. Setidaknya ada 80 faedah dzikrullah yang diuraikan Imam Ibnu Qayyim dalam kitab Al wabil Ash Shoib. Antara lain, menghidupkan hati, mengusir syaitan mengalahkan tipu daya syaitan, memohon ridho Allah, menghilangkan resah gelisah, menjemput kebahagiaan, memberi cahaya dalam hati dan wajah, menjadikan pengal=malnya dekat pada Allah. Subhanallah…

Dzikir ada 3 jenis, menurut Ibnu Qayyim. Dzikir yang disertai hati dan lisan, itu tingkatan dzikir paling tinggi. Dzikir yang hanya dengan hati, derajat yang kedua. Dan dzikir dengan lisan sahaja, itu derajat ketiga. [Tahzibul Madarij,467]. Menurut Ibnu Hajar, semua bentuk dzikir itu mendapat pahala yang besar disisi Allah.

Saudaraku,
Jangan lalai. Mari, saling mengingatkan, agar kita tak lupa dan jauh dari dzikrullah. Kelalaian membawa kelemahan. Kelemahan yang semakin lama menjadikan kita “mati” secara ruhani, dan akibatnya jasad kita merasa berat menjalani perjuangan menegakkan kebenaran dalam hidup.sulit rasanya kita menyaingi prestasi para solafussoleh dalam beribadah mahupun perjuangan mereka. Tapi yakinlah, dzikir yang rutin kita ucapkan, akan menjadi suplai utama kekuatan, sebagaimana solafussoleh itu mengambil kekuatan utama mereka dari dzikir. Semoga kita mampu menangkap hikmah besar dari catatan hidup Sofyan Ats-Tsauri yang sangat takut bila diakhir hayatnya ia berada dalam kondisi lalai atau su’ul khotimah. Suatu ketika ia menangis semalam suntuk, hingga seorang sahabatnya bertanya, “Apakah engkau menangis kerana engkau takut dari dosa?” Sofyan menjawab “dosa lebih ringin dari apa yang aku rasakan. Saya menangis kerana takut dari su’ul Khotimah” [Qitarul Mustaghfirin ila Diyari Taibin]

Semoga Allah mengampuni kesalahan kita. 

*Foto-foto Program Pengenalan Usrah 2012

2 ulasan:

Catat Ulasan