Isteri Umar bin Abdul Aziz pernah bercerita. Mungkin saja,
katanya, ada orang yang lebih banyak melakukan solat dan puasa dari suamiku,
tapi, tambahnya, aku belum pernah mendapatkan orang yang lebih memiliki rasa
takut kepada Allah daripada Umar Bin Abdul Aziz.
“Setelah solat Isya aku pernah melihatnya duduk berdoa dan
menangis. ia menangis sampai tertidur. Lalu tersadar, melanjutkan berdoa dan
menangis hingga ia tertidur kembali. Itulah yang dilakukan sampai waktu subuh”
Saudaraku,
betapa terasa ada kesenjangan sangat jauh antara
kita dengan kehidupan para salafussoleh. Di antara mereka ada yang hidup dengan
ragam kesulitan yang jauh melebihi kesulitan yang kita alami. Tapi mereka tetap
mampu menunaikan ibadah secara proportional dan baik. Mereka, bahkan dengan
tanggungjawab dan tuntutan tugas yang begitu melimpah. Tapi mereka tetap mampu
memilih prestasi ibadah yang jauh lebih padat dan berkualitas. Begitulah gambaran
kemampuan mereka mengimbangi tuntutan duniawi dan ukhrawi.
Bagaimana dengan kita?
Kita, mungkin kerap merasa kekurangan waktu. Atau, lebih
tepatnya sulit membagi-bagi waktu untuk memenuhi semua tugas dan kewajiban. Kita,
seolah ada diantara banyak tarikan kewajiban yang membuat kita kewalahan
mengikutinya. Bahkan, boleh jadi, ada di antara kita yang merasa, untuk
memenuhi suatu kewajiban itu, harus mengorbankan kewajiban yang lain. “kewajiban
lebih banyak dari waktu yang tersedia”motto perjuangan seperti ini menjadi
tidak lebih dari sekadar memahami realitas yang tidak bisa diselesaikan.
Saudaraku,
Mari duduk dan tenangkan hati. Biarkan suasana
hening menguasai hati kita. resapilah betapa banyak dan luar biasanya nikmat
dan kurnia Allah untuk kita. tidak ada nikmat yang mampu kita hitung. Berdzikirlah…
ucapkan kalimah tasbih “Subhanallah”, tahmid “Alhamdulillah” dan takbir “Allahu
Akbar”.. Laa haulaa wa laa quwwata illaa billah.. tidak ada daya upaya kecuali
dari Allah semata..
Dalam suasana dan ucapan zikir itulah sesungguhnya kita
tengah mengalami proses suplai energy yang bisa membuat hati kita menjadi kuat.
Dan disanalah sesungguhnya inti kekuatan kita. Ya, dzikrullah. Tanpa itu, tubuh
kita pasti sulit memikul ragam tanggungjawab hidup yang memang berat ini. Hati yang
hidup menjadi sumber energy yang sangat berarti untuk segala aktivitas jasad. Inilah
sebenarnya yang dimaksudkan dalam sabda Rasulullah SAW:
“Perumpamaan orang yang berzikir kepada Allah dengan orang
yang tidak berzikir adalah seperti orang hidup dan orang yang telah mati”
[HR Bukhari]
Artinya, lalai dari dzikrullah sama dengan kematian jasad. Sebab
orang mati, adalah jasad yang tak memiliki tenaga apapun untuk memiliki
sesuatu. Sepertimana juga Imam Ibnu Taimiyah pernah mengilustrasikan yang mirip
dengan hadith tadi
“Dzikir bagi hati itu ibarat air bagi ikan. Bagaimana kondisi ikan bila ia harus berpisah
dari air?”
[Al Wabil Ash-Shoib,93]
Saudaraku,
Perhatikan firman Allah dalam surah Hud ayat 52:
“Istaghfiruu rabbakum”. Mohon ampunlah pada Tuhanmu..
Pada akhir ayat tersebut Allah mengatakan “Yazidkum quwwatan
ilaa quwwatikum”. Allah akan menambah kekuatan pada kekuatanmu. Itu alasannya
Rasulullah SAW lebih memilih memberi panduan dzikir tasbih 33x, tahmid 33x dan
takbir 34x kepada Ali dan Aisyah RA, ketimbang memberikan pembantu untuk
meringankan pekerjaan rumah tangga mereka. Ini juga yang menjadi latar belakang
mengapa Hasan Al-Banna menekankan fondisi dakwahnya pada factor ihya’ul qulub,
hidupnya hati yang akan menggerakkan kekuatan maha dahsyat dalam tubuh seorang
muslim.
Saudaraku,
Dzikir itu mudah dan sederhana. Tapi betapa besar dan luar
biasa faedahnya. Setidaknya ada 80 faedah dzikrullah yang diuraikan Imam Ibnu
Qayyim dalam kitab Al wabil Ash Shoib. Antara lain, menghidupkan hati, mengusir
syaitan mengalahkan tipu daya syaitan, memohon ridho Allah, menghilangkan resah
gelisah, menjemput kebahagiaan, memberi cahaya dalam hati dan wajah, menjadikan
pengal=malnya dekat pada Allah. Subhanallah…
Dzikir ada 3 jenis, menurut Ibnu Qayyim. Dzikir yang
disertai hati dan lisan, itu tingkatan dzikir paling tinggi. Dzikir yang hanya
dengan hati, derajat yang kedua. Dan dzikir dengan lisan sahaja, itu derajat ketiga.
[Tahzibul Madarij,467]. Menurut Ibnu Hajar, semua bentuk dzikir itu mendapat
pahala yang besar disisi Allah.
Saudaraku,
Jangan lalai. Mari, saling mengingatkan, agar kita tak lupa
dan jauh dari dzikrullah. Kelalaian membawa kelemahan. Kelemahan yang semakin
lama menjadikan kita “mati” secara ruhani, dan akibatnya jasad kita merasa
berat menjalani perjuangan menegakkan kebenaran dalam hidup.sulit rasanya kita
menyaingi prestasi para solafussoleh dalam beribadah mahupun perjuangan mereka.
Tapi yakinlah, dzikir yang rutin kita ucapkan, akan menjadi suplai utama
kekuatan, sebagaimana solafussoleh itu mengambil kekuatan utama mereka dari
dzikir. Semoga kita mampu menangkap hikmah besar dari catatan hidup Sofyan
Ats-Tsauri yang sangat takut bila diakhir hayatnya ia berada dalam kondisi
lalai atau su’ul khotimah. Suatu ketika ia menangis semalam suntuk, hingga
seorang sahabatnya bertanya, “Apakah engkau menangis kerana engkau takut dari
dosa?” Sofyan menjawab “dosa lebih ringin dari apa yang aku rasakan. Saya
menangis kerana takut dari su’ul Khotimah” [Qitarul Mustaghfirin ila Diyari
Taibin]
Semoga Allah mengampuni kesalahan kita.
*Foto-foto Program Pengenalan Usrah 2012





Bismillahir Rohmanir Rohiim..
semoga Alloh berkenan menjadikan kita insan2 yang senantiasa melafazdkn Asma-Nya, aamiin..
dan semoga Alloh berkenan menjauhkan kita dari hal2 yang dapat melalaikan kita dari mengingatnya dan Baginda Rosulullah Shollollohu 'Alaihi Wasallam..aamiin Yaa Alloh... Allohumma aamiin...
Allohumma amin.. Ya Allah kumpulkanlah kami kembali dalam keridhoanMu dan jadikanlah kami dikalangan orang-orang yang selalu ingat padaMU..amin...