Akhir-akhir ini sering terpapar dengan cerita-cerita
pernikahan. Menghadiri pesta pernikahan teman-teman yang sederhana, yang mewah dan
sebagainya. Ada yang menikah kerna saling mencinta. Ada yang menikah tanpa
wali, ada yang menikah kerna terlanjur hamil, ada yang menikah kerna dipaksa
keluarga, tak kurang kerna janji yang terpatri antara orang tua..pokoknya
banyak asbab yang membawa kepada pernikahan dan banyak juga cara pernikahan
yang dilakukan. Membuat diri tergerak untuk membaca dan sedikit memahami
tentang apa yang dikatakan pernikahan, bukan hanya fitrah. Tapi harus bernilai
ibadah…
“Menikah, adalah fitrah, merupakan ibadah tempat menuai
berkah”
Banyak hal yang bisa menjadi motivasi seseorang untuk
menikah, ada yang mengatas namakan cinta, sebagai tempat melabuhkan hatinya,
belahan jiwa untuk berbagi suka dan duka, sebagai sarana meneruskan keturunan,
untuk menyalurkan hasrat manusiawinya, dan lain sebagainya. Semua itu tentu
tidaklah salah, karena memang hanya dengan menikahlah hal itu menjadi halal, legal,
bermartabat dan terhormat.
Namun apakah hanya sampai disitu nilai sebuah pernikahan?
Tentu saja tidak, karena sepasang burung pun melakukannya, mereka bahu membahu
membangun sarangnya, bergantian mengerami telurnya, setiap pagi induknya
mencari makan untuk anak-anaknya hingga mereka bisa terbang dan sanggup mencari
makan sendiri. Subhanallah burung-burung itu telah mengajarkan arti kehidupan
pada kita.
Rasulullah, teladan kita yang mulia telah mengajarkan bahwa
menikah itu adalah ibadah. Kita sering mendengar pernyataan seperti itu, tapi
apakah kita benar-benar memahaminya. Allahu’alam. Sungguh dibalik pernyataan
sederhana itu terdapat banyak hikmah yang harus selalu kita gali, kita renungi,
kita patri dalam hati, dan semoga bisa menjadi penghias diri, sebagai bekal di
hari nanti.
Menikah itu ibadah, tidaklah Allah menciptakan diri ini
melainkan hanya untuk beribadah kepadaNya. Seluruh gerak kita sepatutnya kita
niatkan untuk beribadah kepadaNya. Seluruh khilaf kita sepatutnya kita mohonkan
ampun padaNya. Seluruh nikmat yang kita dapat sepatutnya kita syukuri dengan
memuji namaNya. Setiap ujian yang datang sepatutnya kita hanya memohon
pertolonganNya.
Menikah itu ibadah, karena kecintaan kita pada istri akan
mendorong kita untuk membimbingnya pada kebaikan yang akan menghadirkan
kecintaan Allah pada keluarga kita. Adakah cinta yang lebih patut kita harapkan
dari cintanya Sang Maha Pencinta. Ketika suami istri saling menggenggam tangan,
maka berguguranlah dosa-dosa mereka dari sela-sela jari. Adakah yang lebih beruntung
dari orang-orang yang diampuni dosanya. Ketika istri dapat menyenangkan
suaminya sehingga suaminya ridho, maka dibukalah pintu-pintu surga agar dia
dapat memasukinya dari manapun dia suka. Subhanallah.
Menikah itu ibadah, Allah akan menolong hambaNya yang
menikah karena ingin menjaga diri dari perbuatan zina. Jikalau menikah itu
hanya untuk menyalurkan hasrat seksualnya, bukanlah tidak mungkin jika belum
terpuaskan hasratnya dia akan mencari pelampiasan lain yang tidak halal. Maka
jangan heran kalau kita pernah mendengar seorang aktifis dakwah yang
berselingkuh dengan tetangganya, naudzubillah. Sungguh mulia ketika Rasulullah
mengatakan menikah itu akan menjaga kehormatan kita, beliau tidak mengatakan
bahwa menikah itu akan menjadi tempat menyalurkan hasrat kita. Meskipun
pelaksanaannya sama sungguh nilainya sangat jauh berbeda, Allahu Akbar.
Menikah itu ibadah, insyAllah kita akan diamanahkan
anak-anak yang akan menjadi hiburan bagi orang tuanya, ia nya adalah rizqi dari
Allah sebagai pengikat hati orang tua. Membinanya bukanlah suatu beban
melainkan sebuah amanah indah yang harus kita tunaikan, karena kebaikan dan
doanya akan menjadi deposito pahala yang tak pernah putus hingga kita tiada.
Maka bersyukurlah pada Allah atas segala nikmat yang bahkan kita tidak
mengetahuinya.
Menikah itu ibadah, maka syaitan akan mengerahkan seluruh
bala tentaranya untuk menghalang-halangi setiap usaha anak manusia untuk
melaksanakan dan mempertahankan pernikahan. Pernikahan yang penuh barokah
adalah benteng iman yang paling kokoh, melindungi orang-orang di dalamnya dari
gempuran hizbu syaitan yang kian dahsyat di saat kiamat sudah dekat. Karena
berarti realisasi janji syaitan untuk membawa pengikut sebanyak-banyaknya
semakin mendekati dead line. Selain berharap hanya pada pertolongan Allah,
dituntut kesabaran dan keikhlasan kita dalam mengarungi bahtera yang kadang
bergelombang dan berbadai ini.
Menikah itu ibadah, tapi menikah bukanlah puncak prestasi
yang patut kita bangga-banggakan, janganlah sampai kita merasa diri lebih baik
dari orang lain karena kita sudah menikah. Marilah kita berlindung pada Allah
dari tipu daya syaitan seperti ini. Sepatutnya pernikahan itu menjadi sebuah
madrasah, media dakwah dan tarbiyah. Menjadikan kita semakin merasakan
Kebesaran Allah, menjadikan tumbuhnya cinta dan kasih sayang semakin
menjauhkannya dari hubbud dunya, membuat kita semakin mengerti akan kegelisahan
saudara kita. Sehingga keberkahannya akan beresonansi pada orang-orang di
sekitarnya.
Wallahu alam bish-shawab…
Semoga bermanfaat..









0 ulasan:
Catat Ulasan