Skinpress Rss

Rabu, 31 Oktober 2012

ZUNEIGUNG PART 1

4


“Mai lebaran dirumahnya kakak saja yah. Soalnya kasian ma ibunya kakak gak ada yang temanin. Cuman berdua dirumah kalau ayahnya kakak gak kerja”

Sms dari kak Risma benar-benar membuat Mai serba salah. Bukan tidak mahu, tapi di satu sisi,Mai yang selaku senior tahun akhir dan mantan sekertaris organisasi Kebajikan Persatuan Pelajar Malaysia di Indonesia punya tanggungjawab untuk mengurus adik-adiknya yang semakin ramai dan memerlukan perhatiannya. Sambutan Hari Raya Aidiladha adalah salah satu program andalan PKPMI memandangkan pada sambutan ini, kebanyakan warga Malaysia yang sementara melanjutkan kuliah di bumi Makassar ini tidak pulang ke tanah air disebabkan kekangan libur pendek dan yang harus tetap bertugas di rumah sakit. Jadi biasanya sambutannya akan diadakan besar-besaran.

Disinilah warga PKPMI akan mengambil peluang untuk saling berkenalan dan mengeratkan silaturrahim. Biasanya, persatuan akan mengadakan solat sunat aidiladha bersama-sama dan dilanjutkan dengan khutbah aidiladha oleh salah seorang senior atau dipanggil ustaz yang berkesempatan untuk memberikan khutbah.selesai itu, berbekal dana yang diberikan oleh pihak pemerintah untuk kebajikan mahasiswa disini, persatuan akan membeli seekor sapi untuk dikorbankan dan dilanjut dengan acara masak dan makan bersama. Nah disinilah lahan untuk para mahasiswa saling meluah cerita menambah akrabkan silaturrahim sambil mengusir pergi rasa sunyi dan rindu akan keluarga saat takbir menggema di persada maya. Mahasiswa Malaysia disini sudah seperti saudara kandung. Yang senior dihormati, yang junior disayangi. tidak ada istilah “gap” dan “malu-malu kucing”. Itulah persaudaraan yang lahir hasil dari kebersamaan.

Mai masih berpikir.. di satu sisi yang lain,  Mai sudah terlanjur dekat sama ibu dan ayahnya Kak Risma. Sudah beberapa kali juga Mai ke rumahnya Kak Risma meski Kak Risma jauh di Surabaya. Kalau bicara tentang telponan sama ibunya Kak Risma, sudah terhitung sering..tiap minggu malah. Bahkan ibu Kak Risma sudah mengganggap Mai seperti anak sendiri. Itu yang membuat Mai betah dengan keluarga Kak Risma.Kak Risma hanya 2 bersaudara. Kakak pertamanya yang cowok dan dia sendiri. Kakak pertama kak Risma bekerja di luar negeri. Liburnya tidak tentu. Jarang benar beliau boleh pulang tepat waktu sempena lebaran dan sebagainya. Kak Risma sendiri diterima sebagai pegawai negeri di Surabaya dan beliau sudah bertugas disana hampir 3 tahun. Pulang ke kampung juga tidak menentu. Tinggal ayah dan ibu kakak berdua menghuni istana cinta mereka di Sidrap. Kadang ditemani ponakan Kak Risma yang tinggal tidak jauh dari rumah.

“ InsyaAllah kakak. Tapi jika Mai setelah solat eid baru berangkat ke sana gak apa-apa kan? ^_^” akhirnya Mai mengalah. Tidak ada salahnya menyambung silaturrahmi dengan keluarga Kak Risma.
“Alhamdulillah kalau ghitu sayang. Nanti kakak kabari ibu. Soalnya ibu sudah siap menunggu Mai dirumah”. Kak Risma senang sekali.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar…La Ila Ha Illallahu Wa Allahu Akbar..Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd..

Takbir Kemenangan yang menjadi symbol keagungan pengorbanan menggema penjuru alam. Alhamdulillah akhirnya saat ini tiba. Seperti yang dijanjikan, Mai berangkat ke rumah Kak Risma selesai solat Aidiladha dan makan pagi bersama-sama junior dan teman seperjuangannya. Berfoto-foto yang sepertinya sudah menjadi adat serta menyaksikan penyembelihan haiwan korban. Mai tidak mahu terlalu lambat nanti tiba di Sidrap. Kasihan ibunya Kak Risma yang menunggu.

Jam 10 pagi. Mai sudah tiba diperkarangan rumah Kak Risma bertemankan motor HondaBeat putihnya. Ibu Kak Risma lansung memeluk erat Mai diikuti tante-tantenya Kak Risma yang kebetulan bertandang. Sedang membantu di dapur, tiba-tiba

“Najlaa Rumaisa’!!” namanya diseru.

Tersentak. Belum sempat dia berbalik, tubuhnya sudah dirangkul dari belakang. Mai segera tahu kalau itu adalah Kak Risma.

“MasyaAllah kakak.. Kok nda bilang-bilang kalau pulang.” Mai segera menyalami Kak Risma sebaik rangkulan dilepas. Pipi gebu kakak kesayangan itu dicium sebelum tubuhnya membalas rangkulan Kak Risma.

“Lah kan yang namanya surprise buat Mai, masa’ dibilang.. gak surprise lagi kalau gitu donk” senyum dibalas senyum.rindu yang membeku. Hanya bicara sufi yang mampu mencurah luapan rasa yang semakin mencair bahkan meleleh di suhu kehangatan kasih berpusar arus ini. Mereka tenggelam didalamnya. Bahkan airmata saja tidak mampu keluar untuk mengganggu.

“Balas-balas senyum mulu. Ajak itu Mai minum air es kelapa dulu baru lanjut tatap tatapan..haha.” Teguran Kak Mukrim, suaminya Kak Risma dari belakang menyentak mereka dari tatapan kasih tersebut dan mengembalikan ke dunia nyata.

“Yuk Mai, minum es kelapa kegemaran Mai..hihi” Kak Risma gesit menarik tangan Mai ke hadapan sambil sebelah tangannya menjenjeng tas besar yang dibawa dari Surabaya.

 Kak Risma baru tiba dari Surabaya setelah berangkat dari sana usai solat eid pagi tadi. Di Surabaya Kak Risma bekerja sebagai ahli gizi di salah satu Puskesmas terpencil yang menjadikan signal telpon genggam suatu barang berharga mahal. Listrik disita 12 jam membuat malam gelap gulita tanpa semburat cahaya. Modem internet seakan putus asa untuk berkhidmat namun tetap harus bertahan demi kebaikan buat orang banyak yang membutuhkan. Dari Bandar Surabaya ke tempat bertugas Kak Risma harus menaiki kapal kecil yang menyusuri sungai kecil yang berkelok-kelok. Hidup terpisah dari suami tercinta hampir tiga tahun tak menjadikan Kak Risma lemah. Bahkan sebaliknya beliau semakin kuat semangat dan tabah menempuh ujian yang mendatang.

Terkenang perkenalan pertama dengan Kak Risma melalui MukaBuku. Waktu itu Mai memang memerlukan sosok seorang sahabat. Entah badai sepi dari mana yang melanda pantai hatinya saat itu. Mai teringat ada seorang teman mensugesti Kak Risma atas alasan kalau Kak Risma satu almamater sama dirinya. Almamater Unhas. Hatinya tergerak untuk mengenali kakak itu dengan lebih dekat. Sudah beberapa waktu sejak Kak Rismayanti Wahab itu bergelar temannya di facebook. Tapi tidak pernah satu kalipun dia berpeluang menegur. Akhirnya, dia menyapa juga. Bertanya itu ini. Pertama kali Kak Risma membalas pesannya, Mai merasa ada aura tersendiri pada diri Kak Risma yang terus menariknya untuk dekat dengannya. Kak Risma punya aura seperti kakaknya, Kak Na’ilah Alfarafisyah..Kakak kandung yang dikagumi dan selalu dirindui saban waktu. Apalagi Kak Risma dan Kak Na’ilah lahir pada tahun yang sama 1985. Pesan demi pesan melayang, telpon demi telpon berganti. Ukhuwah antara Mai dan Kak Risma kian memekar. Pertama kali berpeluang ketemu saat Kak Risma kembali ke kampung dan turun ke Makassar pada ulangtahun Mai tahun lalu. Ya, itu pertemuan pertama mereka yang diisi dengan 2menit malu-malu sebelum semuanya sirna dan seperti sudah lama benar mengenal. Mereka heboh bertukar cerita sambil tertawa sampai hampir lupa akan kehadiran Kak Mukrim disitu.

“Mai tambah lagi, gak usah malu-malu. Kalau malu, kakak yang kasi habis semuanya”.. 
Kak Mukrim mencelah memecahkan lamunan Mai. Mai tersenyum sambil mengangguk-angguk kecil. Kak Mukrim Fawwaz, adalah seniornya dikampus. Tepatnya asisten dosen dibidang mikrobiologi yang digilai ramai dan sering mendampingi laboratorium mikrobiologi  sewaktu dia masih di alam kuliah. Kak Mukrim yang humoris, pintar mengajar, alim dan baik hati itu pasti saja tidak mengenalnya lantaran dia hanyalah salah satu dari ratusan anak kuliah yang dibimbing dalam laboratorium mikrobiologi tersebut. Pertama kali mengetahui Kak Risma adalah istrinya Kak Mukrim, Mai hampir saja syok berat. Speechless. How small world. Mahu pingsan juga ada. Tapi yah sudahlah. Dia terlanjur akrab dengan Kak Risma.

“Mai tidur disinikan bentar malam.. nanti kita sama-sama pergi dirumahnya tante kakak dikota..”
Kak Risma setengah mendesak.
“Errr….” Mai segan sebenarnya. Tidak enak mahu merepotkan. Tapi seakan tertahan untuk mengatakan itu. Apalagi rindunya pada Kak Risma belum tuntas.

“Mai udah janji dulu. Jadi gak ada alasan untuk nolak” separuh tegas. Tersenyum. Merasa kemenangan dipihaknya.

Mai terpaksa akur.

Selesai makan dan solat, Kak Risma membawa Mai ke kamar bujangnya. Kamar yang ditempati sebelum beliau menikah dulu.

“Maaf ya Mai, kamar ini agak kecil dan kotor. Soalnya Kakak disini waktu kakak SMA sampai kuliah dulu..bentar kakak ganti alasnya”kata Kak Risma sambil lincah ke kamarnya mencari alas baru.

Mai memerhati sekeliling. Didinding-dinding tertempel poster F4 dan Barbie Xu yang pernah terkenal gara-gara sinetron, Meteor Garden yang dimainkan ditelevesi dan sempat membudaya dikalangan remaja dimasa itu. Ada juga stiker Doraemon yang menjadi andalannya sampai sekarang.tersenyum. Kak Risma juga pernah mengalami masa-masa remaja yang mencemaskan. Menggilai artis-artis yang menghiasi layar televesi.

“Itulah hasil kreativitas jaman-jaman jahiliyah dulu” kata kak Risma separuh ketawa. Mereka sama-sama ketawa. Kak Risma duduk disamping Mai. Menggapai album jaman kecilnya sambil menunjukkannya kepada Mai. Setiap satu dijelaskan dengan teliti. Memutarkan lagi nilai-nilai memori yang terkandung didalamnya. Mereka ketawa lepas sambil bertukar cerita lucu bersama. Hingga akhirnya mereka sama-sama tertidur dikasur kecil itu. Sama seperti yang sering dijalani Mai bersama Kak Na’ilah saat pulng libur. Mai jadi rindu..

Selesai solat asar, mereka bersiap-siap untuk ke rumah tantenya Kak Risma di kot. Kak Risma menyedia dan menyeterika bajunya untuk dipakai Mai. Kerna Mai memangnya tidak membawa persiapan pakaian lantaran tidak berencana untuk menginap. Mai hampir saja meneteskan airmata saat itu. Benar-benar ada bayang Kak Na’ilah dalam diri Kak Risma. Sepertinya Tuhan sedang memujuk dirinya yang sepi di Negara orang demi menimba ilmu. Dia yang tidak berkesempatan untuk bermanja dengan Kak Na’ilah sepanjang usia remaja-dewasanya ini. Dia yang tidak sebebas dulu bercerita itu ini pada Kak Na’ilah kerna khawatir akan membuat kakaknya itu diamuk gelisah. Dia yang harus selalu berpura-pura kuat dan tegar. Ya Tuhan memberikannya keserasian dengan Kak Risma. Meski beda budaya, beda keturunan. Beda latar belakang. Namun Tuhan mengajarnya banyak hal lewat Kak Risma sama seperti waktunya bersama Kak Na’ilah. Tuhan memberinya keluarga baru lewat perkenalannya dengan Kak Risma.

Sepanjang dirumah tante, Mai diperkenalkan kepada saudara-saudara Kak Risma sebagai adiknya. Dan Kak Risma dengan sabar menjelaskan satu-satu salasilah keluarganya itu kepada Mai. Disambut hangat oleh keluarga besarnya Kak Risma membuat Mai merasa berada di keluarga sendiri. Subhanallah, sungguh ini adalah pemberian Tuhan yang sangat bernilai buat Mai. Sampai kapanpun dia tidak bakal lupa dengan momen-momen yang dia lalui hari ini. Dan pasti…pasti dia akan merindui semua ini saat dia pulang ke Malaysia nanti.

Pulang dirumah, mereka mulai sibuk lagi. Bersiap-siap barbiqu. Mahu bakar bebek (itik) katanya. Sama-sama sibuk membakar dan memasak dihalaman rumah. Sambil bersembang-sembang bersama sepupu-sepupu Kak Risma yang ikut nimbrung di situ.


“Kita mahu bikin nasu palekko. Khan Mai mahu coba nasu palekko. Keahliannya Kak Mukrim itu..” Bisik Kak Risma sambil menyentuh bahu Mai yang sedang sibuk membakar bebek. Mai tersentak. Bagi etnis Bugis, “Nasu palekko” atau hidangan bebek cincang sudah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu, Pasalnya, menu yang satu ini terkadang dijadikan sebagai menu wajib jika warga melangsungkan pesta hajatan. Mai pernah bilang sama Kak Risma satu waktu dulu bahwa dia ingin mencoba masakan itu sebelum pulang. Waktu itu hanya bicara ringan. Tidak terlalu penting. Dan dia hanya meluahkan perasaan dengan bebas. Tidak disangkanya Kak Risma masih ingat akan kata-katanya itu. Dan dia mencoba untuk memunaikannya. Mai tambah-tambah lagi terharu. Airmatanya lewat batas empangan. Luruh jua dengan sifat sensitive Kak Risma pada dirinya meski dia bukanlah siapa-siapa.

.............bersambung...........................

4 ulasan:

Catat Ulasan