Alhamdulillah melewati satu lagi bagian kecil ditingkat 6. Ear
Nose Throat. Atau dalam bahasa Indonesianya Telinga Hidung Tenggorokan
(THT). Diperuntukkan 4 minggu di bagian
ini dengan tambahan 1 minggu ujian.
Pada minggu pertama, kami bertugas di poliklinik THT RSWS. Paginya
melapor dengan dokter chief polikliniknya sebelum ketemu gabenur dan melapor ke
bagian di RSP. Setelah itu baru kami menjalankan rutinitas kami selaku ko-ass
minggu satu dengan penuh tanggungjawab untuk memcuci alat. Ada 6 ruang tindakan
yang masing-masing kami dibahagi menjadi kelempok-kelompok kecil dan
bertanggungjawab untuk satu bagian tersebut. THT sendiri terbahagi kepada 4
subdivisi yaitu, laring&faring, rhinology, Otology dan Oncology.pada minggu
ini, kami dikenalkan dengan alat-alat THT yang superunik seperti cerumen hook,
cerumen spoon, applicator, bionet, laring mirror dan juga obat-obat yang biasa
dipakai seperti efidrin, larutan kaustik seperti burowi, iodine dan macam-macam
lagi.
Selain mengenal dan mencuci alat, kami juga dituntut untuk
menyelesaikan setumpuk diskusi bersama dengan dokter residen mengenai 4 cabang
ilmu ini. Kami diharapkan untuk mengetahui prinsip dasar dan pemeriksaan dasar
untuk melayakkan kami menjadi dokter umum. Kami juga diwajibkan oncall
dibangsal (ward) supaya kami juga berpeluang melihat kasus apa saja yang
dirawat inap dan apa saja yang penting untuk kami ketahui dari perawatannya. Antara
yang sempat diri dapati paling banyak itu kasus Karsinoma Nasofaring (KNF) dari
pelbagai stase, tumor hidung, poliposis, hingga kepada tonsillitis kronik dan
otitis media supurative kronik.
Pada minggu kedua, kami ditugaskan ke rumah sakit luar, di
poliklinik Pelamonia dibawah bimbingan dr. Nani, SpTHT yang super lemah lembut
lagi baik hati. Disini kami lebih ditekankan supaya bisa melakukan pemeriksaan
fisik, terutama tes pendengaran garpu tala. Mulai tes Rinne, Waber, Scabach
hingga pemeriksaan ambang batas atas dan ambang batas bawah. Kami juga
diajarkan cara pemeriksaan audiometry dan cara menginterpretasikannya Pure Tone
Audiometry (PTA) tersebut.kami diwajibkan menginterpretasi 2 PTA dengan
bimbingan dari dokter residen sebagai syarat diberi penguji.
Minggu ini juga kami diwajibkan membaca refarat yang
ditugaskan untuk dikerjakan berdua. Diri bersama dengan Farah bertungkus lumus
menyelesaikannya memandangkan tidak pernah ada yang mendapat judul seperti kami
sebelumnya “abses leher dalam”. Abses leher dalam atau Deep Neck Abcess terdiri
dari abses peritonsillar, retrofaring, parafaring, submandibula dan angina
ludovici (Ludwig). Abses ini Cuma dipisahkan oleh batas-batas tertentu yang
ukurannya mungkin sekitar beberapa micromilimeter. Tapi efeknya sangat besar
tergantung bagian anatomi yang terkena.
Antara penyakit tersering yang ditemui disini pada bagian
otology, otitis media supuratif akut dari pelbagai stadium seolah menjadi
santapan harian. Tidak kurang juga otitis media supuratif kronik, otitis externa.dibagian rhinology pula
sering ditemukan rhinitis alergi, sinusitis, tidak kurang corpus alineum pada
anak-anak sementara pada farin laring banyak ditemukan tonsillofaringitis, tonsillitis
kronik dan KNF sendiri.





0 ulasan:
Catat Ulasan