Skinpress Rss

Isnin, 24 September 2012

ENT POSTING

0



Alhamdulillah melewati satu lagi bagian kecil ditingkat 6. Ear Nose Throat. Atau dalam bahasa Indonesianya Telinga Hidung Tenggorokan (THT).  Diperuntukkan 4 minggu di bagian ini dengan tambahan 1 minggu ujian.

Pada minggu pertama, kami bertugas di poliklinik THT RSWS. Paginya melapor dengan dokter chief polikliniknya sebelum ketemu gabenur dan melapor ke bagian di RSP. Setelah itu baru kami menjalankan rutinitas kami selaku ko-ass minggu satu dengan penuh tanggungjawab untuk memcuci alat. Ada 6 ruang tindakan yang masing-masing kami dibahagi menjadi kelempok-kelompok kecil dan bertanggungjawab untuk satu bagian tersebut. THT sendiri terbahagi kepada 4 subdivisi yaitu, laring&faring, rhinology, Otology dan Oncology.pada minggu ini, kami dikenalkan dengan alat-alat THT yang superunik seperti cerumen hook, cerumen spoon, applicator, bionet, laring mirror dan juga obat-obat yang biasa dipakai seperti efidrin, larutan kaustik seperti burowi, iodine dan macam-macam lagi.

Selain mengenal dan mencuci alat, kami juga dituntut untuk menyelesaikan setumpuk diskusi bersama dengan dokter residen mengenai 4 cabang ilmu ini. Kami diharapkan untuk mengetahui prinsip dasar dan pemeriksaan dasar untuk melayakkan kami menjadi dokter umum. Kami juga diwajibkan oncall dibangsal (ward) supaya kami juga berpeluang melihat kasus apa saja yang dirawat inap dan apa saja yang penting untuk kami ketahui dari perawatannya. Antara yang sempat diri dapati paling banyak itu kasus Karsinoma Nasofaring (KNF) dari pelbagai stase, tumor hidung, poliposis, hingga kepada tonsillitis kronik dan otitis media supurative kronik.

Pada minggu kedua, kami ditugaskan ke rumah sakit luar, di poliklinik Pelamonia dibawah bimbingan dr. Nani, SpTHT yang super lemah lembut lagi baik hati. Disini kami lebih ditekankan supaya bisa melakukan pemeriksaan fisik, terutama tes pendengaran garpu tala. Mulai tes Rinne, Waber, Scabach hingga pemeriksaan ambang batas atas dan ambang batas bawah. Kami juga diajarkan cara pemeriksaan audiometry dan cara menginterpretasikannya Pure Tone Audiometry (PTA) tersebut.kami diwajibkan menginterpretasi 2 PTA dengan bimbingan dari dokter residen sebagai syarat diberi penguji.

Mingu ketiga. Pindah lagi ke rumah sakit lain di Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji. Masih tetap dipoliklinik. Disini kami lebih ditekankan untuk menguasai pemeriksaan fisis guna persiapan ujian juga. Baik dari rhinoskopi anterior mahupun rhinoskopi posterior harus sering dilakukan. Tapi untuk melakukan sendiri pemeriksaan terhadap pasien kami masih belum dibisakan kecuali pasiennya bersetuju dan mengijinkan. Selain dipoliklinik, kami juga diberi peluang untuk mengikuti operasi tonsilektomi dan OMSK.

Minggu ini juga kami diwajibkan membaca refarat yang ditugaskan untuk dikerjakan berdua. Diri bersama dengan Farah bertungkus lumus menyelesaikannya memandangkan tidak pernah ada yang mendapat judul seperti kami sebelumnya “abses leher dalam”. Abses leher dalam atau Deep Neck Abcess terdiri dari abses peritonsillar, retrofaring, parafaring, submandibula dan angina ludovici (Ludwig). Abses ini Cuma dipisahkan oleh batas-batas tertentu yang ukurannya mungkin sekitar beberapa micromilimeter. Tapi efeknya sangat besar tergantung bagian anatomi yang terkena.

Minggu keempat. Kembali bertugas di rumah sakit wahidin sudirohusudo (RSWS). Bergantian antara poliklinik, PTA dan kamar operasi. Hingga hujung minggunya kami akan diberikan penguji setelah melengkapkan berkas ujian. Minggu ini juga kami disibukkan dengan diskusi dengan supervisor dari 4 subdivisi di THT untuk mempermantapkan ilmu dan citra kepanitraan kami.

Antara penyakit tersering yang ditemui disini pada bagian otology, otitis media supuratif akut dari pelbagai stadium seolah menjadi santapan harian. Tidak kurang juga otitis media supuratif  kronik, otitis externa.dibagian rhinology pula sering ditemukan rhinitis alergi, sinusitis, tidak kurang corpus alineum pada anak-anak sementara pada farin laring banyak ditemukan tonsillofaringitis, tonsillitis kronik dan KNF sendiri.

0 ulasan:

Catat Ulasan