“Dokter Puca, ayo foto..” ujar Sartika sambil menarik-narik jas putihku. Tangan masih sibuk memegang statesope, memeriksa keadaan umum Indah yang akan dimasukkan obat kemoterapi jam 8 nanti. Hari masih gelap benar. Jam baru menunjukkan angka 5.30pagi. Embun masih belum kering dari ujung dedaunan. Sartika sudah segar dan lincah berlari ke sana sini.
“kenapa Sartika? Kok ribut sekali pagi-pagi begini” sapaku sambil bibir mengelus senyum.
“Ntar lagi Sartika mau pulang. jadi foto kenang-kenangan dulu”..
kata Sartika sambil tersenyum polos. Hatinya bagai bunga kembang menanti fajar yang akan menyinsing. Mana tidaknya, sudah seminggu terpenjara di Rumah Sakit ini untuk menjalani pelbagai jenis pemeriksaan guna melanjutkan kemoterapi. Dia mau menunggu Prof.Dasril datang dan membenarkannya pulang.
SARTIKA, anak perempuan kecil yang berusia 5 tahun 3 bulan, dia berulang alik masuk ke Rumah Sakit Wahidin sejak berusia 4 tahun kerana menjalani siklus kemoterapi setelah terdiagnosis Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL).
Leukemia limfoblastik akut (ALL) adalah keganasan klonal dari sel-sel prekursor limfoid. Pada lebih dari 80% kasus, sel-sel ganas berasal dari limfosit B dan sisanya merupakan leukemia sel T. Leukemia ini merupakan bentuk leukemia yang paling banyak pada anak-anak. Penyebab pastinya tidak diketahui. Faktor keturunan dan sindrom predisposisi genetik lebih berhubungan dengan onset pada anak. Beberapa faktor lingkungan dan kondisi klinis yang berkaitan adalah radiasi ionik, paparan benzene kadar tinggi, merokok, kemoterapi, infeksi virus Epstein Barr, Down syndrome, dan Wiskott-Aldrich
Manifestasi leukemia limfositik akut merupakan tanda dan gejala dikaitkan dengan penekanan unsur sumsum tulang normal (kegagalan sumsum tulang) atau keterlibatan ekstramedular oleh sel leukemia. Akumulasi sel-sel limfoblas ganas di sumsum tulang menyebabkan berkurangnya sel-sel normal di darah perifer dengan manifestasi utama berupa infeksi, perdarahan, dan anemia.
Pertama didiangnosa, Sartika adalah anak yang manis, lucu dan cerewet, dengan kulit yang kemerahan dan rambut panjang kehitaman, suatu hari dilarikan ke rumah sakit kerana tiba-tiba pingsan sewaktu bermain. Wajahnya berubah pucat. Dia mulai sering berdarah, demam, sakit seluruh tubuh, sesak, lemah dan hilang selera makan. Berat badannya kian menurun saban hari hingga menggetuskan kebimbangan yang besar buat ibunya. Dari Rumah Sakit Daerah di Soppeng, beliau dirujuk ke Rumah Sakit Kelas A di Makassar, RS Wahidin Sudirohusudo.Setelah diperiksa lengkap, diagnosis ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium (CBC, apus darah tepi, pemeriksaan koagulasi, kadar fibrinogen, kimia darah, ABO dan Rh, penentuan HLA), foto toraks atau CT, pungsi lumbal, aspirasi dan biopsi sumsum tulang (pewarnaan sitokimia, analisis sitogenetik, analisis imunofenotip, analisis molekular BCR-ABL). Ternyata.. Limfoblastik Leukemia Akut!! Penyakit darah yang langka.
Di sini dia mulai diterapi dengan terapi induksi remisi dan terapi intensifikasi/konsolidasi yang mana masing-masin bertujuan untuk mencapai remisi komplit hematologik yaitu eradikasi sel leukemia yang dapat dideteksi secara morfologi dalam darah dan sumsum dan kembalinya hematopoiesis normal. Dan yang lainnya terapi yang bertujuan mengeliminasi sel leukemia residual untuk mencegah relaps dan mencegah timbulnya sel yang resisten obat. Terapi juga ini dilakukan 6 bulan kemudian.
Program pengobatan menggunakan kombinasi vinkristin, prednison, L-asparaginase, siklofosfamid, dan antrasiklin seperti daunorubisin.
Hari Sartika dimasukkan obat Kemoterapi oleh Prof. Dasril, Malam sebelumnya, dia masih menonton Sponge Bob bersama kami. Setelah itu bermain game Angry Bird. Hari itu giliran diri diberi peluang untuk mengikuti procedure kemoterapi. Mengiringi Sartika masuk ke kamar Kemoterapi. Wajahnya agak tegang. Siapa juga yang tidak tegang jika harus menghadapi saat penderitaan yang menyiksa.. Sartika sudah terbaring di meja tindakan. Diri berada di sampingnya. Tiba-tiba tangan mungilnya memegang tanganku dan tersenyum. Menusuk kalbu. Betapa kuatnya anak ini. rasa haru menyesakkan atma tatkala melihat tulang belakangnya ditusuk spinal needle no.20 didaerah lumbal 3-4, sebelum cairan likuor cerebrospinal ditarik keluar sebanyak dosis obat yang akan dimasukkan. Obat dimasukkan secara intratechal, lansung ke dalam sumsum tulangnya. Sartika Cuma mengerang kesakitan. Tidak menangis. Jejer air mata hanya mengalir lesu ditubir mata, mengikut alur garis pipi yang melengkung. Tidak projektil.
Setelah prosedur selesai, tubuh kecil Sartika layu. Kehabisan energi. Matanya terpejam. Anggotanya sama sekali tidak bisa melakukan gerakan. Bisanya obat kemoterapi hingga meninggalkan kesan lecet (luka) dibelakang anak kecil itu. Selesai dirawat, Sartika diangkat ke kamar perawatan untuk istirehat. 1 hari suntuk Sartika lemas dan tidak bisa terlalu banyak bergerak. Besoknya, sewaktu diri menyuapi Sartika makan bubur, Sartika tiba-tiba berkata “Dokter Puca, bisakah Sartika sembuh? Alvin, Dewi, Zaki, Yoga, semua pergimi (teman-teman yang biasanya bersama Sartika untuk menjalani kemoterapi semua telah meninggal dunia)”.
Air mata bagai mau saja menerjah keluar. Dada sesak menahan sebak yang amat. Jujur, prognosis bagi penyakit ALL tidak begitu bagus. Karena onset biasanya mendadak, maka dapat disertai perkembangan dan kematian yang cepat bila tidak diobati. 60% pasien yang diobati menjadi sembuh dan mengalami harapan hidup yang meningkat dengan kemoterapi agresif yang diarahkan pada sumsum tulang serta SSP. Namun tidak banyak anak yang bisa bertahan dengan kemoterapi agresif itu sendiri. Perlahan diri berkata
“Sartika harus kuat say.. banyakkan berdoa” itu saja.
Tidak bisa untuk berkata-kata lagi. Sartika hanya tersenyum dan menghabiskan sisa bubur yang baru masuk ke mulutnya.
Klik.. klik.. klik..
Bunyi dari kamera telefon genggam Sartika.. tersentak dari lamunan.
“ih, Dokter Pua gak senyum.. jelek. Ulang!!”. Rungut Sartika.
“Yah, maafkan.. sinimi kita ulang” kata diri sambil tersenyum.
Setelah selesai foto, Sartika menggalas tas kecilnya dan memegang tangan ibunya seraya berkata
“ Dadaa dokter.. doakan Sartika..”

setiap manusia diuji dengan berbagai-bagai ujian.semoga iman lebih kuat utk menempuhi ujian ALLAH.Insya'allah~
iya tim.. semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk mhadapi ujian seberat apapun