Skinpress Rss

Jumaat, 13 Januari 2012

Dr. NICE AND HAPPENING

0


Melewati bagian anak (pediatric) salah satu hal yang paling berkesan terhadap diri adalah berkenalan dengan salah seorang dokter residen anak yang sangat baik hati lagi tidak sombong. Meski banyak dokter anak yang tak kalah baiknya, namun Dr. Ery punya tarikan tersendiri. Wanita berusia 35 tahun ini sudah merangkap Dokter Madia (semester pertengahan) dalam pendidikan spesialisasi anak (pakar).

Pertama mengenali wanita ini, diri biasa-biasa saja. Tapi semakin menjalani hari, yang menarik dari Dr.Ery, beliau sangat cepat menghafal nama koas. Hal yang jarang dilakukan bagi dokter-dokter residen. Biasanya dokter lebih cepat memanggil “adik koas”!! hm.. dan begitu begitu. Biasanya dokter residen yang menghafal nama coassnya adalah dokter ruangan (dokter yang menjaga ward yang sama) atau dokter pembimbing (setiap koass akan diberikan pembimbing disetiap bagian bertujuan memberikan tunjuk ajar dan diskusi dari semasa ke semasa untuk mempertingkatkan ilmu dalam bagian tersebut). Tak kurang juga dokter yang banyak kali bertugas (oncall) bersama dengan coass dan dokter yang bertugas di distreet (LuaR Negeri) memandangkan coass yang bertugas di suatu rumah sakit daerah paling ramai Cuma 2 orang di satu rumah sakit.

Di antara teman mingguku, diri dan Anki adalah yang paling akrab dengan Dr.Ery. Uniknya Dr.Ery, beliau bukan sekadar mengingat nama, bahkan beliau juga senang menghulurkan bantuannya untuk coass. Baik dalam bentuk ilmu (sering diskusi), meminjamkan buku-buku, memberikan bantuan dalam bentuk apapun. Beliau yang menawarkan. Bukan menunggu hingga diminta. Diri masih ingat, antara hal yang menambahkan keakraban diri dengan Dr.Ery adalah sewaktu diri sedang tugas LN di Rumah Sakit Fatimah, waktu itu Dr.Ery jaga (oncall) disitu. Diri yang sibuk mengurus bayi-bayi kasian memang masih belum makan malam. Jam sudah menunjukkan angka 10. Makanan tadi sudah dibeli dari warung depan rumah sakit. Dr.Ery sudah tertidur dimeja perawatan. “Eh doc, tidurki dikamar..nanti saya bangunin kalo ada pasbar (pasien baru)”.. dengan muka bantal (mamai), Dr.Ery berkata “Fuza, ayomi makan, laparka.. dari tadi sa tunggui”.. Ya Allah, ternyata Dr.Ery menunggu diri untuk sama-sama menikmati makan malam kami yang sederhana itu. Terharu sekali. “Ayomi doc”.. menikmati makan malam sambil bercerita, banyak pelajaran yang bisa dari ambil daripadanya. Easy-going orangnya dan mudah diajak bicara.

Malam itu malam terakhirku di Fatimah. Agak tenang. Sudah stabil bayi-bayi yang ada hingga memberikan diri ruang untuk beristirehat. Istirehat pertama dalam minggu ini. “Tidurki Fuza, tidak ada pasien yang gawat tuh.. yuk, samaka tidur” wah, tidur sama dokter dalam kamar residen. Sungguh terlalu!! Besoknya Dr.Ery menawarkan untuk menghantar bagasi (beg besar) pulang ke rusun memandangkan diri memang mengenderai motor ke sana. Kata Dr.Ery, biar lebih nyaman untuk pulang.

Sepanjang mengharungi minggu-minggu atas di WS, menjelang ujian akhir bagian anak, Dr.Ery yang banyak membantu kami untuk memahami pelajaran di anak. Dimana kami berada, disitu ada Dr.Ery meski bukan tempat tugasnya. Waktu kami di subdivisi Hematologi, diruang itulah Dr.Ery nongkrong (duduk-duduk) bersama kami saat luangnya. Kadang hingga malam beliau menemani kami hingga selesai tugas. Waktu kami di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) sewaktu subdivisi Perinatology, beliau juga ke sana diwaktu luangnya untuk duduk-duduk bersama kami meski jarak antara NICU dan bangsal (ward) anak, letaknya lumayan jauh.
Beliau lebih menciptakan suasana “teman-teman” dengan coass berbanding “Dr.Residen-Coass”. Adakalanya beliau memberi kami peluang untuk memberikan ilmu meski sebenarnya beliau lebih pintar, lebih tahu, lebih pengalaman dari kami. Tapi beliau berespon seakan itu hal yang baru dan sangat dihargainya hingga kami jadi percaya diri untuk saling berbagi. Begitu juga halnya, beliau sering meminta kami memberikan komentar dan membantunya menyelesaikan tugasan. Menasehatinya saat beliau salah dan banyak hal lagi. Setiap kami memberikan komentar, pasti beliau akan sangat menghargai dan memberikan suntikan semangat yang lebih pula.

Sewaktu Dr.Ery selesai pembacaan tugas, beliau sempat mengajak diri untuk keluar bersama. Makan-makan. Jalan-jalan. Setelah selesai dari Bagian Anak nanti. Rencana itu terlaksana sewaktu jaga terakhirku di Bagian Anak. Hari minggu waktu itu. Diri jaga (oncall) pagi. Selesainya jam 2. Padahal sebelumnya janji jam 10. Tapi terpaksa diundur. Dr.Eri sudah menunggu diluar sewaktu diri selesai dari jaga. Bersama Zalfa (anak kecilnya) kami pergi makan dan jalan di Mtos. Salah satu mall yang agak tidak jauh dari sini. Meski itu sebenarnya hal yang biasa, namun menjadi luar biasa saat yang mengundang itu adalah dokter residen@ atasan kita. Sebelum pulang, Dr.Ery siap memberikan diri ole2 dari tempat asalnya Gorontalo (Sulawesi Tengah) berupa kue khas Pia, dan kain ela untuk dijadikan baju. Subhanallah. Luar biasa kebaikannya.

Kata orang, dokter itu berkasta-kasta. Tidak ada dokter yang mau berjalan seiring dengan dokter yang lebih dibawahnya. Tapi Dr.ery membuktikan bahawa pernyataan itu tak selalunya benar. Ada dokter gaul(bergaul dengan anak-anak coass)tanpa menghiraukan statusnya. Efeknya biar apa yang mau diminta tolong sama Dr.Ery, kami akan lakukan dengan rela hati dan sebaik mungkin. Tidak seperti sesetengah dokter yang kadang cara menyuruhnya saja sudah membuat orang jengkel(tidak enak). Semoga lebih banyak lagi ada “Dr.Ery” didunia ini yang akan menukarkan persekitaran kerja di rumah sakit menjadi lebih harmonis dan menyamankan.

Dr.Ery, kadang sebagai pembimbing, kadang sebagai dokter, kadang sebagai ibu, kadang sebagai kakak, kadang sebagai teman.

0 ulasan:

Catat Ulasan