
Sudah terlalu banyak rasanya mencoret catatan sepanjang berada di Posting Pediatric (Anak). Dari rasa gembira, sedih, sebal (bête) hingga rasa kasihan dan sebagainya. 10 minggu yang memberikan pelbagai citra dalam kehidupan. Suka dan duka dalam menjalani dunia koas. Berapa kali semangat itu naik dan turun. Kemarin semagat, hari ini tidak. Besok semangat lusa tidak lagi. Wajar saja. Namun tiap kali semangat itu turun, Tuhan telah bermurah hati untuk menurunkan pertolongannya lewat sahabat-sahabat dan lewat persekitaran. Hingga berapa kalipun tubuh ini rebah, cepat-cepat akan bangkit kembali.
10 minggu di anak. Boleh terhitung sebagai 10 minggu tersibuk ditingkat ini. meski begitu, masih bisa mencari celah disamping kesempitan untuk berusrah, bersosial dan sebagainya. Kerna jiwa tetap butuh keseimbangan. Rohani meronta untuk dipenuhi.

Teringat saat pertama ingin follow up pesakit anak. Sebanyak 5 bagian yang telah diri lewati, semua pesakitnya terdiri dari orang dewasa. Jadi agak berdebar (dumba) juga saat pertama kali mahu follow up. Kaki mnjejak ke bangsal (wad) anak. Menghampiri tempat tidur (katil) mereka. Tatapan si kecil penuh curiga. Mempersiapkan energi untuk mulai menangis. Mata berkaca. “sudah” detik hati. Mudah sekali membaca pesan permusuhan dari mata kecil bundar tersebut. Diri cepat-cepat menyapa dengan wajah termanis “sayang, belum tidur yach? Eh liat tuh, teddy nya, lucu sekali”.. berbasa basi sambil mencuit teddy bear disampingnya. Kelip-kelip. Mata kecil itu hairan barangkali. “siapa namanya teddy ta’?” mulai membuka perbualan “antri” jawab suara mungil yang mulai reda stressnya. “nama kakak, kk Fuza.. siapa namata?” masih memancing. “Indah Riska” jawab si comel yang agak pucat tersebut. “bisa kakak periksa Riska? Gak sakit kok.. cuman pake ini dan ini (sambil menunjukkan alat tensi dan thermometer monyet yang lucu)” wajah Riska masih ragu. Mamanya tiba-tiba mencelah “periksa ajha doc.. gak apa-apaji itu..” ibu pasien sepertinya agak memaksa. Diri coba memujuk lagi “bisa tidak sayang? Diperiksa disini ama disini ajha (sambil menunjukkan ke lengannya dan ketiaknya)” lama. Berberapa detik, Riska menganggukkan kepala sambil menyerahkan tangannya untuk diperiksa tensinya (blood pressure). Alhamdulillah, Allah mempermudahkan jalanku. Kali kedua diri datang ke tempat Riska untuk memeriksa, Riska sudah tersenyum dan dengan rela menyerahkan tangan kecilnya untuk diperiksa.
Benarlah untuk meraih kepercayaan dari anak-anak ternyata lebih payah dari orang dewasa. Bagi mereka, orang berkot(jas) putih itu jahat, kerana menyuntik mereka, memberikan pengalaman rasa sakit pada mereka. Jadi minda kecil mereka akan mulai membenci dan ketakutan saat melihat jas putih. Untuk menembus masuk ke dunia mereka amat payah. Namun jika kunci yang kita gunakan tepat dengan anak-anak, maka mereka akan korperatif dengan kita. Itu petua yang Nabilah ajarkan pada diri. Bagaimana menemukan kunci keberhasilan tersebut berbalik pada kreativitas dan kebijaksanaan kita sendiri. Diatas adalah salah satu dari beribu pengalaman yang diri alami sepanjang di bagian Anak. Semoga ilmu, skill dan pengalaman yang telah diri rasai sepanjang 10 minggu ini akan mempersiapkan diri untuk melangkah ke depan.

0 ulasan:
Catat Ulasan