Skinpress Rss

Khamis, 5 Januari 2012

SAAT KAU PERGI

2


5 Januari 2011. Hujan rintik-rintik diluar. Mentari masih segan menampakkan diri. Bersembunyi disebalik awan pekat. Menyembunyikan juga harapan yang cerah untuk menjalani hari. Semenjak belakangan ini, langit Makassar sering sekali menangis. Menumpahkan tetes-tetes bening yang menghangatkan perasaan. Seperti saja hati yang acap kali gundah. Menyelak bait-bait kalimat dalam Galaksi Cinta Kinanti. Kini seakan bisa memahami. Iya.. rasa itu begitu hidup saat dihadapkan dengan perpisahan yang nyata. Saat perpisahan tak lagi jadi barang mainan yang biasa dipersendakan. Perpisahan itu hanya sejengkal lagi. Tidak sampai. Setengah jengkal mungkin. Cukuplah kau menangis. Sudah beberapa hari ini kau menangis terus. Untuk kali ini, tolonglah tersenyum. Iringi dia pergi dengan senyum termanismu. Biar dia bebas menggapai awan..biar dia tak lagi ragu untuk merentas petala langit.. Ya.. langit adalah arenamu..

"Januari yang ditunggu-tunggu. Saat itu para penghuni Galaksi Cinta akan duduk bergerombol di atas bukit yang ditumbuhi ilalang berbulu lembut. Angin memainkan musik yang menabuh sepi dalam kerinduan yang kronis. Mereka lalu saling bercerita tentang kisah yang sama. Diulang-ulang, tapi tak pernah mendatangkan rasa bosan. Ada yang tersenyum sambil membisikkan dendang langka. Lagu yang sudah tidak dikenali generasi kini. Punah dikunyah dek masa. Bibirnya tersenyum tapi matanya melelehkan air mata. Ia teringat tatapan mata pelengkap jiwanya saat ini. Jika engkau cinta, tatapan seperti itu tidak mungkin dusta. Seolah tidak cukup engkau serahkan seluruh hidup. Tatapan yang telah tertinggal oleh waktu, mustahil diulang. Sebab, pelengkap jiwanya terlanjur mengangkasa. Meninggalkan dia di Galaksi Cinta. Membiarkannya menunggu tanpa tenggat waktu. Rasanya, melanjutkan hidup sekadar menghitung mundur menuju hari kematian. Namun dia rela.

Ada yang menyendiri sambil menatap langit. Baginya menarik napas pun membuat nyawanya terampas. Rindu yang menyesakkan. Pada titik tertentu seakan mengosongkan paru-paru. No air…no air.. rasa yang sudah begitu renta, tapi tidak pernah menjadi kata-kata. Baginya tidak pernah ada waktu untuk mengatakan “setelah Tuhan, kaulah yang mampu memadamkan matahari.”

Dahulu, ketika jiwanya belum terbelah, ketika kebersamaan masih begitu mudah, dia menyemai bibit dalam hati. Begitu asyiknya. Saat pelengkap jiwanya pergi, sudah terlambat untuk mematikan tanaman hati ini. Hingga kini baginya, menunggu… tidak berarti harus bertemu. Ia melarikkan bait puisi tanpa berharap, pelengkap jiwanya akan kembali. Tetap menunggu.. tapi tidak berharap untuk bertemu. Dia menyedari, tidak semua cinta itu layak untuk diperjuangkan. Maka yang tertinggal adalah harapan yang memburam. Ia bersihkan setiap debu yang membuat jejak itu tidak gemintang. Mencoba untuk bergembira dengan apa yang pernah terjadi. Menyimpannya sebagai sekotak perhiasan."

Langit adalah arenamu.. terbanglah.. Aku tidak akan berkata apa-apa. Ini bukan sebuah pengorbanan. Kerna aku memang tidak pernah merasa berhak atasmu. Engkau akan selalu menjadi keajaiban bagiku. Bahkan diammu dulu…

Air mata jatuh lagi. Tapi kali ini bukan air mata kesedihan.. air mata kelemahan. Namun sebaliknya air mata kekuatan. Kuat kerna rela untuk melepas pergi.

~dedikasi buat teman terbaikku.. meski pertemuan tak bisa lagi menjengah namun saat kau pergi, tetap dengan harapan akan ada pertemuan semula..katamu pertemuan itu tidak bisa diraba dan diduga-duga~

2 ulasan:

Catat Ulasan