
“ Di antara ciri-ciri kebahagiaan dan kemenangan seorang hamba adalah : Bila ilmu pengetahuannya bertambah, bertambah pula kerendahan hati dan kasih sayangnya. Setiap bertambah amal-amal soleh yang dilakukan, bertambah pula rasa takut dan kehati-hatiannya dalam menjalankan perintah Allah. Semakin bertambah usianya, semakin berkuranglah cita keduniaannya. Ketika bertambah hartanya, bertambah pula kedermawanan dan pemberiannya kepada sesama. Jika bertambah tinggi kemampuan dan kedudukannya, bertambahlah kedekatannya pada manusia dan semakin rendah hati terhadap mereka. Sebaliknya cirri-ciri kecelakaan adalah: ketika bertambah ilmu pengetahuannya, semakin bertambah kesombongannya. Setiap bertambah amalnya, kian bertambah kebanggaannya pada diri sendiri dan penghinaannya terhadap orang lain. semakin bertambah kemampuan dan kedudukannya, semakin bertambah sikap bongkaknya.” (Al Fawaid, Imam Ibnu Qayyim)
Saudaraku,
Mengenali diri memang penting. Rasulullah SAW juga mengajarkan kita untuk lebih banyak bercermin dan mengevaluasi diri sendiri , ketimbang bercermin dan mengevaluasi orang lain. orang yang sibuk oleh aib dan kekurangannya, kata Rasulullah lebih beruntung , ketimbang orang yang sibuk memperhatikan kekurangan orang lain. Kata Ibnu Qayyim: “ Barangsiapa yang mengenal dirinya, ia akan sibuk memperbaiki diri daripada sibuk mencari-cari aib dan kesalahan orang lain.
Saudaraku,
Genggam erat-erat tali keimanan kita. Kenalilah diri. Fahami kebiasaannya. Rasakan setiap getaran-getarannya. Lalu berhati-hati dan kontrollah kemahuan dan kecenderungannya. Waspadailah kekurangannya dan manfaatkan kelebihannya. Berdoalah pada Allah agar Ia menyingkapkan ilmu tentang diri. Sebagaimana doa yang dilantunkan Yusuf Bin Asbath, murid Sufyan As-Tsauri: “Allahumma arrifni nafsii”, Ya Allah, kenalkan aku dengan diriku.
Jiwa manusia banyak menyimpan rahsia. Misteri hati dan jiwa manusia sulit dikenali dengan baik kecuali dengan bantuan Allah SWT kepada kita. Karena itu ulama terkenal Sahal bin Abdillah mengatakan bahawa mengenali diri sendiri itu adalah lebih sulit dan lebih halus dari mengenali musuh. Artinya, aib dan kekurangan yang terselubung dalam diri sangat sulit dideteksi, dan harus dibuka oleh Allah agar seseorang dapat membersihkan diri dan jiwanya.
Jika seseorang telah berhasil mengenal dan mengetahui bagaimana kondisi jiwanya, maka ia akan mudah mengontrol dan menguasai keinginan-keinginan buruknya . inilah yang dikatakan ulama’ Makkah, Wuhaib bin Wardi.
“Sesungguhnya di antara kebaikan jiwaku adalah pengetahuanku tentang keburukan jiwaku. Cukuplah seorang mukmin memelihara dirinya dari keburukan bila ia mengetahui keburukan jiwanya kemudian ia meluruskannya.” Sebagaimana juga perkataan Hasan Al Basri, “ seorang hamba masih dalam keadaan baik selama ia menyedari dan mengetahui sesuatu yang merusak amal-amalnya.” [Az Zuhd, Imam Ahmad]
Saudaraku,
Semoga Allah mempererat genggaman tangan kita dijalanNya. Itulah pentingnya mengenali diri. Fudhail Bin Iyadh RA mengatakan “ la ya’rifur riya ila mukhlish”, riya tidak mungkin disedari, kecuali oleh orang yang ikhlas. Ya, orang yang merasa manisnya keikhlasan, pasti akan mengetahui pahitnya riya. Sebaliknya orang yang tidak pernah merasakan nikmatnya ikhlas, tidak mungkin bisa mengenali pahitnya riya. Begitulah. Manisnya ikhlas dan pahitnya riya,hanya dirasakan oleh orang-orang yang terbiasa dan mengenali getaran jiwa.
Saudaraku,
Apa yang dikatakan oleh Fudhail itu tadi bertitik tolak karena kondisi dirinya yang sangat mengenal karekter jiwanya sendiri. Orang yang tidak kenal dirinya, bahkan mengingkari keburukan dirinya adalah orang yang tidak akan mampu mengetahui apatah lagi mempengaruhi jiwa orang lain. Apalagi meluruskan kebengkokannya, ia tidak akan bisa. Inilah materi yang disebutkan oleh Al Kailani ketika ia mengatakan:
“bila engkau mampu meluruskan kekurangan yang ada pada dirimu, berarti engkau mampu meluruskan kekurangan yang ada pada selain dirimu.. kemampuanmu menghilangkan kemungkaran tergantung dengan kekuatan imanmu memerangi kemungkaran dalam dirimu. Kelemahanmu tinggal diam di dalam rumah dari merubah kemungkaran adalah kelemahan imanmu dalam memerangi kemungkaran yang ada dalam dirimu. Kekukuhan dan kekuatan imanlah yang mengukuhkan para ulama’ saat mereka berhadapan dengan pasukan syaitan dari jin dan manusia” [Al-Fathur Rabbani,30]

0 ulasan:
Catat Ulasan